sampul belakang

“cinta sejati adalah kenyamanan, kepercayaan, dan dukungan. kalau kamu tidak setuju, aku tidak peduli.”

(Milea, 1990)

dari sampul belakang novel di toko buku, siang ini. aku cuma geleng-geleng —bukan karena itu tak tepat, sungguh.

mei

aku menuliskan ini pada tanggal 14 Mei, dan untuk orang-orang yang paham tentang atau kebetulan tinggal di Indonesia, kurasa tanggal tersebut seharusnya tidak terlalu asing. untuk alasan yang tidak selalu baik, kukira.

atau lebih persisnya: 13 dan 14 Mei.

kalau kuingat-ingat lagi, setahun sebelumnya pada 1997 Persemakmuran Inggris mengembalikan Hong Kong ke Republik Rakyat Cina, dan dengan kebingungan yang meliputinya beberapa golongan warga negara memutuskan untuk pindah —setidaknya sementara— ke negara-negara tetangga termasuk Indonesia.

setahun kemudian, demonstrasi dan kerusuhan massa memanas di Jakarta, diikuti beberapa kota di tanah air. lewat bulan Mei 1998, arus perpindahan sebaliknya terjadi: sebagian golongan warga negara Indonesia memutuskan untuk pindah, setidaknya sementara, ke beberapa negara. dalam salah satu perputaran peran yang unik, Hong Kong —selain Singapura— menjadi salah satu dari sedikit tempat tujuan yang bisa dicapai oleh sebagian mereka yang memutuskan pergi.

salah satunya gadis ini.

 

 

“orangtuaku tetap tinggal di sini —di Indonesia— jadi cuma aku yang disuruh berangkat ke sana. jadi aku pindah sekolah.”

“memangnya bisa langsung paham bahasanya?”

aku ingat aku bertanya sedikit penasaran. maksudku, aku paham bahwa beda bahasa dalam proses belajar-mengajar itu sesuatu yang bisa menghambat benar. kuperkirakan waktu itu baru lewat beberapa pekan dari ulang tahunnya di awal usia belasan tahun, dan dengan semuanya itu kurasa itu bukan hal yang mudah atau pula sederhana.

“enggak sih. sempat sulit. sekolah juga bukan tidak mau kasih dispensasi, tapi ya mau sampai berapa lama. sekali waktu aku ke ruang guru, diberitahu kira-kira seperti itu.”

ada saudaraku tinggal di sana, katanya. tapi kan harus sekolah juga. juga harus kerja sambil bantu-bantu. sambil lalu dia menyebutkan tentang kerja sambilan mengantar pesanan nasi dan makanan Indonesia. tidak banyak, tapi lumayan untuk ditabung, demikian kira-kira ceritanya.

“wah,” komentarku. “jadi gadis desa berangkat jadi TKW—”

“HEH!”

aku tahu dia tahu aku cuma bercanda, tapi ya tetap saja dia jadi mengomel panjang-pendek. tidak apa-apa juga sih. sudah marahi saja aku, kak! marahi saja! eh…

“tapi aku jadi bisa bahasa Kanton sama Mandarin,” katanya. “kalau di Hong Kong kan utamanya pakai Kanton, tapi kalau jalan sedikit ke Shenzen, banyak pakai Mandarin.”

aku ingat sekali waktu kukatakan sambil bercanda bahwa kalau aku pergi bareng dia ke Kowloon atau Shenzen, kurasa aku tinggal tenang-tenang saja sudah punya penerjemah. bukan apa-apa, dari pengalaman aku tahu bahwa bahasa Inggris orang-orang di sana memang agak… kurang bisa diandalkan, kalau mau dibilang dengan sopan sih.

dia hanya menanggapi dengan tertawa.

 

 

“ada contohnya tuh, baca sendiri deh.” kataku. pada waktu yang lain kami sedang membicarakan artikel dari Harvard Business Review, topiknya terkait hasil studi di mana pengalaman dan tempaan keras cenderung berkorelasi dengan kualitas kepemimpinan secara profesional.

“yah kira-kira kayak kamu dilempar ke HK begitulah,” aku melanjutkan. “kurasa kamu bisa bertahan dari sana, dikasih apa juga sudah tahan banting sih.”

“aku juga heran, lho. kalau sekarang ini dipikir, gila ya, dulu bisa kayak begitu. kalau disuruh lagi sih nggak janji deh.”

saat itu di Jakarta, beberapa belas tahun kemudian. kalau kita memandangnya kembali, katanya, hidup di sana juga bukan senang-senang. semua ya kerja keras juga. tapi di tempat yang jauh semua jadi seperti keluarga. kurasa itu hal yang wajar dan bisa dipahami.

tapi kupikir, apa harus sebagian orang-orang pergi seperti itu lagi? bukankah pada dasarnya itu semacam eksil, terasingkan dari rumah atau kampung halaman, meskipun pada dasarnya hal tersebut dilakukan atas dasar pilihan sendiri.

… walaupun entah seberapa ‘pilihan sendiri’-nya keputusan yang diambil dari keadaan-keadaan tersebut.

karena rumahmu sebenarnya di sini, kan.

aku memikirkannya sekilas, tapi kuputuskan untuk tidak mengangkatnya jadi topik pembicaraan.

 

 

“tapi, itu sesuatu yang aku bersyukur. walaupun waktu menjalani memang rasanya nggak enak banget.”

demikian katanya pada akhir hari yang sibuk, pada suatu waktu yang lain lagi. aku berpikir sekilas sebelum menanggapi kata-katanya.

“kalau bisa mengulang lagi, balik ke tahun dulu, akan tetap melakukan hal yang sama?”

“iya.”

“oh begitu,” aku berusaha menjawab dengan muka datar. “jadi kalau habis ini dilempar disuruh serba sendiri lagi, masih mau?”

“eh jangan dong!”

aku ingat aku tertawa melihat tampangnya sedikit kaget seperti itu. siapa juga yang mau meninggalkan kamu sendirian sih, pikirku. tapi toh tidak kukatakan, tidak untuk saat itu.

yang akhirnya kukatakan hanya ‘pulang yuk’ singkat, dan beberapa belas menit kemudian kami berpisah di halte Transjakarta.

 

 

Mei, 2015. kalau diperhitungkan dari saat ini, kira-kira sudah hampir dua puluh tahun berlalu dari dekade sembilanpuluh-akhir. waktu berlalu dan kita juga berubah, tempat kita tinggal tumbuh dan berkembang juga. dan dengan segala kekurangan dan perbaikan-perbaikan yang menyertainya —walaupun kadang bisa jadi terasa tidak cukup cepat— pada akhirnya kupikir tempat ini masih jadi rumahku. kurasa sama buat dia juga. kurasa sama buat cukup banyak orang lain juga.

mungkin aku cuma berharap bahwa tidak perlu ada orang-orang terpaksa pergi dari sini sendirian lagi.

lewat petang menuju malam ketika aku menuliskan ini, sambil lalu aku mengambil teh tarik instan dari lemari dan samar-samar aku teringat obrolan lama sekali dulu.

“itu nama panggilan kecilku,” katanya. “kok tahu sih?”

aku ingat waktu itu aku cuma senyum-senyum. mungkin suatu saat kamu akan tahu sendiri jawabannya, demikian pikirku. mungkin sih.

aku menyelesaikan beberapa kalimat pada papan ketik di komputer, setelahnya aku menyeruput teh tarik di sisi meja. pada akhirnya, kurasa, tulisan ini memang menjadi tentang sedikit tentang Mei.

kalaupun seperti itu kukira tidak masalah. barangkali bukan hal yang sepenuhnya buruk juga.

janji dan harga diri

“kadang takut ketemu orang kayak kamu. kamu nggak pernah kompromi kalau kamu sudah bilang janji. bikin takut. takut kalau suatu saat malah aku yang lupa atau ingkar janji.”

“yah. kalau aku sudah nggak bisa percaya sama omonganku sendiri, aku mau percaya sama siapa lagi?”

maaf, kelas dan didikan saya beda. tolong jangan dibandingkan dengan rata-rata di sekitar anda.

di dapur rumah ibu

/1

kalau ada saatnya di mana hal-hal kecil sederhana membuat kekacauan yang tidak seharusnya, inilah saatnya.

pagi hari libur pada akhir pekan panjang, aku sedang menuangkan adonan telur ke dalam lubang-lubang kecil di loyang yang sudah tertutup lembaran daging asap. kelebihan; campuran telur garam merica dan kecap inggris merembes, menyisakan tambahan pekerjaan lengkap dengan ekstra bau amis pada keramik dapur.

aku mengumpat pelan. ceroboh, pikirku. benar-benar tidak seperti biasanya.


 

“kamu kenapa?”

aku mendengar suara beliau —ibuku sudah berada di sisi pintu dapur— sementara aku masih setengah konsentrasi menjaga rembesan yang sudah semakin melebar.

“kok lesu begitu… haaah, ini telur ya? amis ini!”

demikian aku mendengar serunya. setelahnya aku mendengar beliau mengambil beberapa lembar tisu dan lembaran koran lama, menyiramnya dengan air, kemudian memberikannya kepadaku untuk membersihkan kekacauan yang pada dasarnya tidak sewajarnya tersebut. jangan lupa nanti cairan pembersih, katanya, lengkap dengan beberapa tambahan lain yang tidak terlalu bisa kudengarkan benar.

aku hanya mengangguk sambil membersihkan sisa-sisa adonan kuning encer dan lengket yang sekarang ini sudah mengalir jatuh ke lantai dapur.

 

/2

siangnya aku keluar sebentar, dan setelah sampai kembali di rumah aku menemukan bahwa panggangan tadi pagi ternyata sudah dikeluarkan dari oven. dua mangkok kaca tampak rapi di meja makan, ibu dan saudara-saudaraku sudah duduk berada di sana mengajak makan siang.

“ini aku bikin salad tadi,” kata beliau. “pas kamu keluar tadi. pakai brokoli sama bit yang kemarin. buat sayurnya, ya. lauknya kan sudah tadi sama kamu.”

aku tersenyum sebisaku, duduk di meja dan memperhatikan mangkok kaca besar yang —kalau kata adik perempuanku— tidak pernah diketahui ada mangkok seperti itu di rumah. tentu saja, kataku. kamu nggak pernah ke dapur sih. kami semua tertawa, kemudian menuangkan makanan ke piring masing-masing.

makanan hari itu omelet campur dalam mangkok daging asap (demikian yang membuat kerusuhan kecil di dapur pagi tadi), dengan tambahan berupa salad berisi campuran bit, brokoli, dan kentang buatan ibu yang tidak kuketahui bagaimana proses pembuatannya.

 

“kamu kok lesu begitu sih?” kali ini giliran adik perempuanku menanyakan hal serupa tadi pagi. aku mendengar ibu mengiyakan, sambil kembali beliau menanyakan hal yang sama.

“iya, kamu tuh sebenarnya kenapa sih? kayaknya kemarin masih baik-baik, kenapa sekarang begini…”

kayaknya ada sesuatu terjadi, katanya. entah apakah aku ada mendapatkan kabar atau telepon atau pesan pendek sehingga jadi seperti ini, atau barangkali apa sejenisnya, demikian kata beliau setengah bercanda setengah berspekulasi.

aku paham sekali, bahwa dari sekian banyak hal yang bisa dipelajari manusia, salah satunya adalah jangan pernah meremehkan intuisi ibunda.

tentu saja aku juga bukan terbiasa untuk langsung mengiyakan atau menyangkal seperti demikian juga. aku mencoba tersenyum, mengangkat bahu sekilas, mengatakan ‘ah, tidak apa-apa’. walaupun barangkali sia-sia juga; kurasa kita semua paham bahwa tidak akan ada seorangpun ibu di muka bumi yang akan dengan mudah mempercayai kata-kata semacam tersebut keluar dari mulut anaknya sendiri.

sekalipun apakah anaknya itu berusia dua tahun lewat sekian bulan atau dua puluh lewat sekian tahun, kurasa tetap; untuk seorang ibu, tidak banyak bedanya.

aku melihat adikku mengeluarkan senyuman pemberi-semangat —atau setidaknya katanya begitu— sambil mengatakan, “semangat kakaaaakk,” dan sambil nyengir kutanggapi sebisa dan sebaik mungkin bahwa aku baik-baik saja. tapi terima kasih, kataku.

ibu tampak mencoba cuek, tapi entah apakah dia semacam kepikiran juga tentang jawabanku atas pertanyaannya tadi.

 

/3

malamnya aku sudah menyelesaikan masakan untuk makan malam dan sedang membersihkan perabotan sisa kegiatan sebelumnya. tak lama kemudian aku melihat beliau main ke dapur, menyapa dan mengobrol sekilas sambil mencicipi hasil masakan yang sudah kutuangkan ke piring.

“…kamu tadi masak wortelnya bareng sama brokoli ya?”

aduh. iya benar. aku tahu itu kesalahan, walaupun kecil; wortel lebih lambat matang, seharusnya masuk duluan. baru brokoli, setelahnya kalau ada tambahan lain seperti pokcoy atau kapri baru ditambahkan belakangan ke wajan.

“hmm. kayaknya agak kurang bumbu deh. kutambah garam sama merica, ya?”

kesalahan kedua: proporsi bumbu terhadap sayur terlalu rendah. kalau sayurnya banyak, garam dan merica juga harus lebih banyak. jangan terpaku ukuran sendok, tapi juga jangan sembarang pakai perasaan. aku tahu itu. aku paham semuanya itu. berat, aku mengiyakan sarannya.

seperti sebelum-sebelumnya hari ini, itu juga sesuatu yang tidak biasanya dan tidak seharusnya terjadi.

aku menunduk. kemudian aku kembali mendengar suara yang kukenal baik.

“kamu itu kalau masak, nggak boleh sambil kemrungsung, punya beban seperti itu. rasanya bisa ke barat ke timur. padahal biasanya juga bagus. kamu lagi ada pikiran ya?”

aku merasakan bibirku berat, antara tak bisa atau tak ingin menjawab. atau mungkin cuma tak biasa, entahlah. pada akhirnya aku hanya mengeluarkan gumaman pelan, entah apa ada artinya yang bisa dipahami.

 

“eh, bu…” kataku pada akhirnya.

sedikit berat, aku terdiam sejenak. lalu melanjutkan;

“besok pagi, aku nggak masak ya? buat makan siang aku titip ibu dulu.”

beliau melirikku sekilas, kemudian —seperti biasanya— bersikap seolah cuek walaupun kurasa ada sekilas bahwa sedikit banyaknya beliau tampak paham.

“ya sudah, nggak apa-apa,” demikian aku mendengar jawabannya. “tapi besok kalau kamu mau belanja, aku titip ayam, ya. dada fillet dua lembar. sama daging giling, kalau ada.”

aku mengangguk, mengiyakan permintaannya. kemudian menyelesaikan sisa cucian di wastafel, lantas meletakkan wajan yang sudah dibersihkan di rak dan mengembalikan spatula ke sisi tempat masak.

setidaknya besok masih libur, pikirku. mungkin aku akan bangun lebih siang daripada biasanya.

bisa sendiri

kesalahanmu adalah kamu ingin dimengerti. yang sebenarnya, mana bisa begitu? bodoh.

kamu dikutuk peduli, tapi tak boleh punya melankoli. ceritamu jadi beban. keraguanmu jadi penghakiman.
beban buat mereka. penghakiman buat kamu.

makanya, diam.

kamu akan selalu punya kutukan. entah itu dari sisi meja kopi dan coklat panas, atau dari cerita-cerita tak penting yang kamu keluarkan untuk setidaknya cukup melepas seiris beban.

dan kamu mencoba tertawa, ha ha! ha ha ha!
dan mereka memandangmu; tidak wajar.

 

kamu dianggap:
(a) aneh, (b) melankolis, (c) manja, (d) high maintenance.
(e) semua atau kombinasi mana saja

 

omong kosong, pikirmu. tapi kamu juga tahu:
siapa suruh kamu ngomong hal-hal nggak perlu? siapa suruh kamu kelepasan omong nggak berguna begitu?

karena kamu bodoh.

sekarang dengar ini. dengar, karena kamu bodoh dan bebal dan entah kenapa masih saja berharap tidak disalahpahami.

karena kamu bodoh.

dan untuk semuanya itu; masalah kamu sendiri, tantangan kamu sendiri, selesaikan sendiri dengan cara kamu sendiri.

 

jangan. berharap. akan. dibantu.

… karena kamu laki-laki. harus bisa semua sendiri.

 

bangun, bocah!

trust issues

“…dulu juga seperti itu. nggak ada bedanya.” aku menjawab asal. “cuma agak lebih terbiasa sekarang.”

aku tidak mau memandangnya. aku tidak mau menemui siapa-siapa. tapi beberapa hal —beberapa sesuatu— memang tidak pernah, tidak akan pernah bisa dihindari.

kurasakan tekanan darahku merayap pelan-pelan naik ke titik didih.

“kamu goblok.”

aku merasakan pikiranku mendadak kosong. tadi… apa?

“kamu dikuasai amarah. dan itu bikin kamu lemah. dan bodoh!”

kalau tadi itu baru pelan-pelan naik ke titik didih, sekarang ini kurasa sudah meloncat jebol keluar batas.

“apa? APA?!”

aku berdiri dan menentang pandangannya, siap perang. dia masih berdiri, tidak selangkahpun berpindah dari tempatnya, memandangku balik.

“kukatakan lagi: kamu dikuasai amarah. itu bikin kamu lemah, bego!”

sebelum sadar aku sudah mencengkeram kerah bajunya, dia memasukkan sebelah lengan di antara kedua tanganku. dan sejurus kemudian —brak— aku sudah terhempas di tembok; lengan dan leher terkunci bahu dan tangan kanannya.

satu sesaat kemudian kurasakan kunciannya lepas, kemudian satu pukulan setengah tenaga tepat ke dada; tidak sakit, tapi memang bukan untuk itu. cukup itu sudah untuk menghilangkan semua sisa keinginanku untuk melanjutkan.

kakiku lemas. aku menjatuhkan diri terduduk di sisi tembok.

 

“ada bedanya. itu semuanya beda. kamu saja yang bego.” aku mendengar umpatannya. “tapi kalau kamu nggak mau membuka mata, nggak akan ada yang kelihatan.”

dia masih berdiri sementara aku terduduk di sisi tembok. kepalaku kosong. kurasakan ada kata-kata yang tak mau keluar dari mulutku; pahit, berat, sepat; seperti tar yang ada di sisi perbaikan jalan atau arang dan abu sisa bakaran di perapian. ada sesuatu, yang keras dan berat mencoba untuk mengalir keluar menjadi kata-kata… kalau, tapi tidak, aku tidak ingin mengatakannya. tidak mau!

entah apakah dia memandang atau memperhatikan kata-kata yang tidak bisa —tidak mau— kukeluarkan dari mulutku. tapi kemudian dia berjongkok dan memandang mataku, kini sejajar;

“kalau kamu dikuasai amarah seperti itu, kamu nggak akan bisa jadi kuat. kamu nggak akan bisa melihat hal-hal yang seharusnya bisa kamu lihat. kamu akan menyakiti orang-orang yang nggak pantas untuk itu.”

aku menunduk, merasakan bahuku berguncang, kehilangan kata-kata untuk bisa menjawab balik. tapi untuk apa, pikirku. aku membuang pandang ke lantai yang kini terasa dingin.

“dari dulu seperti itu, kan. kamu selalu punya isu soal itu. amarah, ya, ketidakpercayaan, ya.”

sunyi. kata-kata yang lain kini mengetuk-ngetuk pelan menunggu untuk bisa kukeluarkan dalam suara. aku mendeham, terbatuk, berkata susah payah.

“. . . pernah terpikir mungkin —cuma mungkin— aku punya alasan bagus soal itu?”

dia hanya memandangku dan tersenyum sabar.

“aku tahu kamu tahu kamu ngomong sama siapa.”

aku tersenyum hambar. pada saat-saat seperti ini hidupku kadang terasa aneh benar; saat-saat seperti ini berbagai hal campur aduk, baik atau buruknya, enak atau tidak enaknya, dan rasa-rasanya aku malah ingin tertawa. mungkin kering, entahlah, dengan atau tanpa sedikit seka di ujung-ujung mata.

aku memejamkan mata. membiarkan hal-hal meresap. pelajaran dan pengalaman, sakit dan tidak enak. membiarkan diri menghilang sejenak, dua jenak…

 

entah berapa lama ketika aku membuka mata dan masih mendengar suara yang akrab berada di sana.

“pada saatnya nanti kamu akan jadi kuat. cerdas. dan kaya. kalaupun bukan sekarang, pada saatnya akan.” dia berhenti sejenak. lalu; “lagipula mungkin dia juga makan hati melihat kamu seperti ini, bego.”

aku mencoba tertawa. masih jauh, pikirku. tapi terima kasih. sekarang ini biarkan aku tertawa dulu. entah kering atau tidaknya. tapi setidaknya…

aku mengangkat tangan kanan, membentuk kepalan, menaikkannya lurus setinggi bahu ke arahnya. dia tampak paham, walaupun dengan geleng-geleng dan sedikit umpatan ‘dasar bocah’ yang bisa kudengar tapi toh tidak kupedulikan.

aku tersenyum sebisaku. dia nyengir. dan kepalan kami bersambut; akan ada saat berikutnya kami ketemu lagi.

21 April

ah, kamu sih nggak usah masak. itu aku juga bisa. kamu pergilah sana, kejar karir dan taklukkan dunia.

… tapi cuci piringnya nanti gantian, ya.

 

p.s.: eh, selamat hari Kartini?

obat galau dan macam-macamnya

beberapa waktu yang lalu, seorang rekan tiba-tiba menyatakan pendapat —atau barangkali tepatnya melabeli dengan predikat— bahwa kelihatannya saya ini ‘mungkin sedang galau’.

hah. galau? GALAU? kalau ‘galak’ sih saya masih bisa terima. tapi kalau ada orang mengatakan seperti itu, kan mungkin ada benarnya. jadi baiklah karena saya ini orangnya sebisa mungkin terbuka untuk introspeksi diri, saya pun jadi memikirkannya dan dengan demikian jadilah bahan tulisan ini.

disclaimer: contoh bukan berdasarkan pengalaman pribadi!
… eh, mungkin.  anggap saja demikian.

 

[Batman: The Dark Knight]

di atas: contoh penyaluran kegalauan paling paripurna di seantero jagat raya. tidak ada sanggahan.

 

baiklah, jadi tulisan ini adalah kira-kira hasil kompilasi terkait berbagai opsi penyaluran kegalauan —wih lagaknya— yang bisa saya rangkum dari pengalaman dan perjalanan sejauh ini. tulisan ini adalah opini, dengan kemiripan terhadap dunia nyata… HEH, DIBILANGIN INI BUKAN PENGALAMAN PRIBADI!

 

1. ibadah/doa/meditasi (whatever applies)

ini cara paling basi —dalam arti sering disebutkan— tapi secara mengejutkan cukup efektif. terserah anda ini mau religius atau tidak, terserah anda mau ibadah atau doa harian atau meditasi sederhana. bebas.

jadi ketika …

(misal) kata mbaknya:
“kamu jangan aneh-aneh ah.”

maka kita berdoa! karena ada saatnya kan kita perlu mengambil jarak dari segala sesuatu dan rutinitas. jadi saat-saat seperti ini sebisa mungkin menjadi momen pribadi yang tidak boleh diganggu-gugat. anggap saja ini dialog. dengan Tuhan, kalau percaya sih. atau dengan diri sendiri, kalau anda kebetulan sedang merasa hebat.

doanya apa sih terserah konteks anda galaunya kenapa. contoh gampang misalnya begini: ya Allah, kalau dia memang jodohku, dekatkanlah. kalau dia bukan jodohku, jodohkanlah. eh…

yah pokoknya begitulah!

 

2. kerja, kerja, kerja!

kerja adalah cinta yang mewujud. katanya pak Kahlil Gibran. atau painkiller yang tidak kelihatan. katanya saya. tentunya akan baik kalau kita bisa mengambil kesenangan dari proses dan hasil karya kita, karena kalau tidak ya susah.

jadi ketika …

(misal) kata mbaknya:
“aku nggak nyaman kalau kamu seperti itu.”

mending kita kerja. ada deadline dua minggu lagi? selesaikan minggu ini! rencana kerja dibatalkan oleh pak bos? perbaiki dan buat sampai berhasil! pokoknya lempar diri anda sampai ke batas, dan buktikan bahwa anda lebih hebat daripada yang orang lain dan anda sendiri kira. kalau berhasil menyenangkan loh.

kalau sibuk kerja, kan jadi tak sempat juga memikirkan yang lain. lagipula kalau hasil kerja kita baik, kita juga senang. jadi untungnya banyak! kalau beruntung, mungkin juga gaji bisa bertambah. hehe.

 

3. latihan fisik

mungkin kedengaran aneh, tapi memang ada korelasi antara emosi positif dengan kebiasaan berolahraga. lagipula, endorfin! termasuk kenapa mereka yang berolahraga cenderung lebih cerah ceria menghadapi dunia.

jadi ketika …

(misal) kata mbaknya:
“… you are not that special.”

tengah malam, nggak bisa tidur, teringat kenangan suram? turun! push up dua seri! masih nggak enak? sit up satu seri! sampai antara anda sudah lebih tenang atau anda capek sendiri terus ketiduran. aktivitas fisik memicu produksi hormon endorfin dalam tubuh. yang pada gilirannya membuat kita cenderung lebih tenang dan santai.

jadi memang benar peribahasa jaman dulu; mens sana in corpore sano, di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat! bonusnya, mungkin massa otot anda akan bertambah seiring juga kegalauan berkurang.

 

kira-kira demikian. pada dasarnya saya ini orangnya praktis. daripada duduk termangu dan merutuk meratapi nasib, mending melakukan sesuatu. kalau bisa sambil menyelam minum air, kenapa tidak? asal nggak malah jadi tenggelam lalu mati sih. lalu sekiranya selepas ini saya jadi pemuda yang high quality taat dan tenang serta kaya dan pekerja keras demikian pula sehat dan kuat… yah anggap saja itu bonus.

yah, barangkali setelahnya saya bisa menjadi pahlawan bertopeng macam pakcik Batman yang keren itu. atau setidaknya menjadi pemuda kuat cerdas tampan dan kaya macam pakcik Bruce Wayne. atau setidaknya… eh yah pokoknya begitulah!

 

___

image credits:

  • hak cipta karakter Batman oleh DC Comics
  • Batman: The Dark Knight (2008), produksi dan distribusi oleh Warner Bros.

cerita kemarin

— beberapa bulan sudah berlalu, cukup banyak hal sudah berubah. [→]

 

pagi hari yang sedikit kurang tidur kurasa bukanlah waktu yang tepat untuk berada dalam rapat yang kurasa tidak tepat guna benar. baiklah pada dasarnya aku tidak perlu menuliskannya detail benar, tapi cukup kurasa kalau kukatakan bahwa pada akhirnya, pembicaraan beralih kepada tugas yang sedang dilakukan departemen di tempatku.

“saya mau kamu ketemu saya sore ini.”

demikian kata seorang direksi yang hadir dalam pertemuan; direksi utama yang, kalau bisa dibilang seperti itu, lebih dari cukup terkenal dengan sikap keras dan tanpa ampunnya di seluruh penjuru perusahaan induk berikut anak-anaknya. beliau sendiri tergolong senior; kira-kira limapuluh-sekian tahun, secara hirarki di tempat kerja posisinya berada dua-tiga tingkat dari tempatku sekarang.

aku meletakkan pena di atas buku catatan elektronik, menganggukkan kepala, berkata singkat.

“siap pak.”

rapat dibubarkan, agenda dan rencana kerja untuk tim yang bersesuaian sudah diselesaikan.

 

sore harinya, aku sudah berada di ruang rapat direksi. tempat dengan banyak kenangan dengan banyak orang di sini. setidaknya buatku, kalau mau disebut dengan agak sedikit dramatis sih.

“secara singkat, release plan[1] kita seperti ini,” kataku mengawali pembicaraan. “ini data yang diminta, untuk tahap pertama kita akan memprioritaskan untuk rilis perangkat lunak . . . pada dasarnya proses yang paling banyak digunakan di sini akan kita prioritaskan.”

“coba daftar yang saya minta tadi pagi. saya mau lihat daftar seluruh proses kita yang sudah diotomatisasi.”

aku menampilkan daftar seluruh proses yang dimintanya dan saat ini sudah berjalan di seluruh perusahaan, menjelaskan sekilas bahwa prioritas saat ini hanya pada bagian-bagian tertentu dari daftar. dia mulai berbicara dan menunjuk-nunjuk beberapa poin di layar.

“nggak, nggak. saya mau kamu fokus dulu ke yang gampang-gampang. yang sudah ada seperti yang di sini…” dia menyebutkan beberapa poin di layar, “…supaya kamu dan tim kamu juga mudah. kalau sukses, dan stabil, nama kamu juga yang bagus.”

“saya dan teman-teman, pak.” aku mengoreksi sambil lalu. “lagipula untuk batch pertama ini juga sudah siap untuk rilis. saat ini sedang kita persiapkan untuk QA[2]…”

“kamu, ikuti cara saya.”

hening.

“saya tahu kamu nggak mau dengar saya. kalau seperti itu, mending saya keluar dari sini, meeting ini selesai!”

demikian katanya. kalau ada orang lain yang memperhatikan kami mungkin akan sudah dianggap cukup keras, walaupun entah, aku sendiri malah tidak terlalu kepikiran soal itu.

atau mungkin cuma aku yang ndableg[3], tapi kalaupun benar seperti itu juga aku tak terlalu ambil pusing.

kami saling pandang. mungkin satu atau dua detik. aku sendiri tidak merasa takut atau marah atau apa —kalaupun ada mungkin sedikit bertanya-tanya— tapi tidak lebih.

… eh. tunggu. ini nggak salah. maksudku, ini ruang rapat direksi, beliau adalah direksi utama, dan dengan semuanya itu seharusnya dia punya hak untuk menyuruhku keluar dari ruangan.

tapi kok ini terbalik?

 

aku tak ingat apa aku terlihat terkesima atau sejenisnya, tapi kurasa masih ada sesaat kemudian aku mendengar suaranya sedikit melembut.

“saya paham kamu ingin selalu membuat sesuatu yang high impact. kamu cari yang paling banyak berdampak ke orang, kamu kerjakan, kamu sempurnakan. dari dulu seperti itu.”

aku memutuskan untuk menunggu.

“saya tahu buat kamu hal yang kecil-kecil seperti ini nggak menantang. kamu orang teknik, kamu senang tantangan. yang hasilnya besar. dari dulu, sudut pandang kita selalu beda.”

aku tidak ingat apakah aku terlihat setengah tertegun atau takjub atau sejenisnya.

“saya mau kamu mulai dari hal-hal kecil dulu. yang mudah. kamu boleh bermimpi besar, berdampak besar, tapi mulailah dengan yang sederhana dan mudah dulu. nanti kalau kamu sudah siap, proses yang berat sekalipun kamu juga gampang.”

bukan seperti itu, pikirku. aku ingat aku ingin mengatakan bahwa kami —aku dan teman-teman di tempatku— sudah lebih dari cukup memiliki kemampuan untuk menangani komplikasi dan kerumitan yang dikuatirkannya. bahwa sebenarnya tidak banyak yang perlu dikuatirkan, bahwa aku percaya tim kami lebih dari cukup tangguh untuk itu.

tapi meskipun demikian… pada saat itu, pada akhirnya aku juga semacam paham;

“siap, pak. bisa dimengerti.”

demikian kataku pada akhirnya. setelah itu kami membicarakan detail-detail dari arahannya.

 

sudah petang ketika akhirnya aku kembali berada di meja. aku tak bisa mengatakan bahwa aku tidak kecewa —kenyataannya, ini juga bukan hal yang mudah diterima buatku— tapi aku juga paham bahwa apa yang beliau sarankan bukan sama sekali tidak ada benarnya. pun ini juga sesuatu yang kuterima dengan sadar, jadi aku juga bukannya marah atau sebal atau sejenisnya.

setidaknya, kami berpisah dengan sedikit lebih bisa memahami keinginan satu sama lain.

aku membuka layar; sedikit menguap, mempersiapkan kiriman singkat pada aplikasi surat elektronik di komputer, kemudian mengetikkan beberapa hal untuk rekan-rekan di tempatku terkait hasil diskusi barusan.

“. . . anyway there is some team news, besok pagi kita diskusi dulu sebentar, ya. thanks.”

mendorong kursi sedikit menjauh dari meja, aku menarik nafas dan melepaskan pandangan dari layar. papan tulis dan kertas tempel warna-warni menyapa dalam diam dari sisi meja, setelahnya kurasa aku akan perlu membuat catatan-catatan baru untuk dipasang di sana.

kurasa setelah ini aku akan mengirimkan pesan pendek ke seseorang. [→]

 

___

[1] rencana rilis perangkat lunak, meliputi proses dan jadwal ujicoba dan serta pengumuman terkait
[2] Quality Assurance; proses penjaminan mutu perangkat lunak
[3] dari bahasa Jawa: artinya kira-kira semacam kombinasi dari sikap bebal dan cuek serta cenderung semaunya sendiri

#qotd

“argh uah bledug jger duarrr”

“arrgghh duarrrr kletuk kletuk”

two people after two different meetings. just another adorably chaotic not-so-average day at work.