trust issues

“look, I trusted you. now I don’t. but I’m willing to see to change my mind. I’m not holding my breath anyway. thanks.”

… it’s a little sad when you know it’s your heart you can’t trust.

deja vu

/ 14:00 (FRI)

 

“intinya sih, dia tidak senang. dan cukup keras, kalau bukan keras banget.”

demikian seorang manager departemen tetangga mengatakannya kepadaku —seorang laki-laki muda, usianya tiga-empat tahun di atasku dan sudah berkeluarga— pada siang hari di lantai sekian-puluh dari salah satu gedung tinggi di daerah sibuk perkantoran tengah kota.

pada saat itu aku kira-kira sudah mendapatkan gambarannya: seorang direksi pada manajemen puncak perusahaan menyatakan ketidaksenangannya secara blak-blakan dalam sebuah rapat yang tidak kuketahui keberadaan waktu dan tempatnya. secara singkat pada dasarnya sebagai berikut: ada keputusan-keputusan yang kuambil, ada keinginan-keinginan yang beliau harapkan, dan perbedaan antara keduanya pada akhirnya menghasilkan ketidakpuasan yang diungkapkan secara keras dan tidak ditahan-tahan.

masalah kecilnya, yah, cuma bahwa ada nama, keputusan, dan tindakanku disebut-sebut berada di pusat ketidaksenangan beliau yang disampaikan secara terang-terangan pada salah satu sesi forum direksi dan manajemen di perusahaan.

aku mengedikkan bahu. “terus dia bilang apa?”

“dia marah-marah. konteksnya waktu itu kami sedang membicarakan inisiatif-inisiatif buat dilakukan masing-masing departemen. dia tanya tempatku. aku bilang, sudah diskusi sama kamu dan akan ada proyek …” dia menyebutkan tentang inisiatif yang pernah kami diskusikan beberapa waktu lalu. ” … dan kemudian dia meledak. sampai sebut-sebut namamu segala, sampai dia bilang sudah tidak ada gunanya juga ngomong ke kamu atau ke atasanmu juga.”

“wow.”

“waktu itu aku pikir, gila, ini sudah keras sekali. kupikir-pikir, ini sudah ad hoc dari beliau. makanya aku ngomong sekarang ini. lebih baik kamu coba pikirkan deh.”

aku menarik nafas, dua-tiga detik, mempertimbangkan apa-apa yang sebaiknya kukatakan dan apa-apa yang mungkin baiknya tidak kukatakan.

“begini,” aku memulai pada akhirnya. “bahwa ada ketidakpuasan dari beliau, itu sesuatu yang aku paham. tapi selama ini, kita —aku dan teman-teman di tempatku— selalu bertindak berdasarkan keputusan yang sifatnya value-based. berdasarkan nilai. dan jujur saja, menurutku memang hal yang beliau minta value-nya rendah. with due respect [1], ya, banyak hal-hal lain yang lebih strategis daripada proyek seperti itu.”

dia tampak menungguku melanjutkan.

“misalnya inisiatif yang baru selesai kemarin, value-nya signifikan.” aku melanjutkan. “dari sisi control and compliance, setidaknya kalian sekarang punya data yang valid buat perbandingan silang lintas departemen. bandingkan sendiri dengan, misalnya, memang karyawan di sini berapa kali ganti mobil sih sampai perlu otomatisasi request kartu parkir?”

hening sejenak. aku melempar pandangan sekilas ke meja di sudut yang sekarang ini kosong. rasanya seperti deja vu, topik obrolan ini. sambil lalu kuperhatikan di antara selasar dan kubikel tampak beberapa orang berlalu-lalang.

bedanya cuma waktu itu… ah, sudahlah.

 

tidak terlalu lama sampai aku mendengar suara seseorang mengembalikan pikiranku dari pengembaraannya.

“omonganmu nggak salah,” dia menukas. “tapi kadang, kamu juga perlu memikirkan banyak hal. siapa yang ngomong, soal ego, hal lain-lain juga. intinya aku mengerti sih. aku setuju. tapi pikirkanlah. sementara kupikir, rencana kita baiknya tidak dilanjutkan dulu.”

aku tahu, aku juga bukan tak sependapat. aku mengangguk pelan, menyatakan persetujuan singkat, dan kukatakan bahwa aku mempertimbangkan saran-sarannya.

“anyway. thanks for telling me.” [2]

“sip,” aku mendengar jawabannya. “good luck, ya.” [3]

aku melemparkan pandangan ke meja di sudut yang kosong untuk terakhir kali, kemudian berjalan pergi.

 

 

/ 19:10 (FRI)

 

“tuh, kan. aku tahu suatu saat beliau akan ngomong seperti itu.”

barusan itu bukan kata-katanya, tentu saja, tapi kurasa aku bisa membayangkan seorang gadis akan mengatakan seperti demikian. seperti yang lalu-lalu, seperti yang sudah-sudah.

saat itu sudah malam, lewat pukul tujuh, dan aku sedang makan malam sendirian di sebuah restoran bento cepat saji yang kupilih sekenanya searah jalan pulang sebelum halte bus.

deja vu.

mengingat-ingat diskusi siang tadi rasanya aneh. aku ingat pernah membicarakan hal serupa dengan seseorang lain, dulu. seseorang yang, kurasa, kalau aku menemuinya saat ini, akan mengatakan hal serupa yang kusebutkan barusan di atas.

“dia bilang, suruh aku coba ngomong sama kamu. mungkin kalau aku yang ngomong kamu akan lebih mendengarkan, katanya.”

aku kembali teringat kata-katanya dulu. topik serupa tentang hal yang sama. tentang kemungkinan-kemungkinan yang sama. dan dengan semuanya itu, pada akhirnya kurasa hal-hal pada siang tadi bukan hal yang sepenuhnya mengejutkan benar.

walaupun tetap saja bukan sesuatu yang sepenuhnya terduga buatku.

aku menyeruput kuah bening berisi gulungan bakso udang dan membiarkan pikiranku berkelana. seorang gadis, seusia denganku. seorang partner. mungkin terbaik yang pernah kutemui. promosi dan transfernya sudah disetujui dan dilengkapi beberapa pekan lalu, dan efektif per bulan ini dia akan menangani departemen baru.

kami dulu cukup dekat. kira-kira. yah, kalau bisa dibilang seperti itu sih.

 

sisa makan malam kuhabiskan dengan perkiraan kasar rencana-rencana untuk dijalankan dan kemungkinan-kemungkinan yang bisa jadi tak terduga dari keadaan-keadaan pada saat ini. kira-kiranya aku sudah tahu apa yang akan kulakukan dan bagaimana harus melakukannya, walaupun detailnya kurasa masih akan perlu dirapikan lagi setelahnya.

“an angel. this is for you. and good luck!” [4]

sekilas kata-kata yang familiar, dulu, dan aku kembali teringat dia dan apa yang dikatakannya sekali waktu jauh sebelumnya. waktu itu kami masih sama-sama baru mulai. saat itu dia mencoret-coret gambar malaikat kecil di kertas dan memberikannya kepadaku.

kemudian aku tersadar bahwa kurasa aku melamun lagi. aku menghabiskan teh dan beranjak pergi.

 

 

/ 0:17 (SAT)

 

lewat tengah malam. aku sudah berada di kamar. garis besar rencana eksekusi sudah kuselesaikan, hal-hal yang kuperlukan sudah aman pada sore hari kerja sebelum pulang, dan setelah makan malam tadi sisanya akan kuteruskan pada Senin pagi.

aku menyandarkan kepala ke bantal. gelap. lampu sudah kumatikan sejak beberapa belas menit lalu.

aku tak bilang hal-hal seperti semuanya ini bukan sesuatu yang seharusnya sulit atau tidak perlu membuat tertekan —maksudku, semua hal yang ada dari awal tadi itu memang sesuatu yang pantas jadi bahan pikiran— tapi entah kenapa aku tidak merasa sepenuhnya kuatir atau bermasalah benar. setidaknya untuk sekarang ini. entah kalau dulu, kurasa bisa jadi aku akan sudah panik dan susah tidur selama setidaknya beberapa hari.

tapi anehnya, bukan itu yang kupikirkan. yang kupikirkan adalah bahwa dengan segala tekanan dan resiko dan kemungkinan buruk dan semuanya yang mungkin terjadi, aku malah menyalakan aplikasi pesan singkat di ponsel, menelusuri daftar kontak, dan ketika tersadar aku sedang memperhatikan sebuah nama dengan sejarah kiriman pesan yang kini kosong.

kupikir-pikir lagi, entahlah.

aku memandangi layar. kemudian memejamkan mata. rasanya berat. di satu sisi ada sisa-sisa amarah, kekecewaan, ketidakpercayaan, sementara entah bagaimanapun itu, kurasa untukku akan selalu ada relung kecil untuk hal-hal yang tidak bisa kupahami benar; seperti saat ini, ketika dengan segala beban dan tekanan dan kemungkinan, ada sesuatu entah apa mengantarkan ke menu pesan pendek dan papan sentuh yang menunggu diketikkan, dan aku hanya diam memandangi layar dari sisi tempat tidur.

 

aku menekan tombol ‘cancel’ beberapa kali. setelahnya aku menutup ponsel dan beranjak tidur.

___

[1] “dengan hormat”
[2] “terima kasih sudah memberi tahu”
[3] “semoga sukses”
[4] “ini malaikat. buat kamu. semoga berhasil!”

tentang kehilangan

“sudah tahu nggak bisa, kenapa masih diterusin?”

kamu; seorang pemuda, duapuluh-sekian,
dia; seorang gadis kira-kira seusia denganmu.

.

kehilangan itu, kadang terasa sebagai paradoks yang aneh. seperti sesuatu yang baru kamu rasakan karena ada yang alpa, yang tak terasa; seperti gula yang ketinggalan pada teh seduhan di sisi meja, atau kunci kamar kos yang ketinggalan di tempat kerja.

seperti ketika kamu membaca Harvard Business Review, menemukan tulisan yang menarik dan kemudian kamu ingin membicarakannya, kadang lama…

kemudian kamu teringat: iya, ya. sudah tidak bisa.

seperti ketika kamu beranjak ke dispenser, dan tiba-tiba kamu memperhatikan mug besar Starbucks yang dia berikan sekali waktu ulangtahunmu dulu.

kemudian kamu teringat: iya, ya. sudah tidak bisa.

seperti ketika kamu lewat di BreadTalk, memilih-milih roti untuk makan siang dan kalau lebih bisa buat sore hari. tanpa sadar kamu mengambil tuna cheese puff kesukaannya dulu.

kemudian kamu teringat: iya, ya. sudah tidak bisa.

seperti ketika kamu lewat dekat tempatnya dulu. satu-dua rekan menyapa dan mengatakan, ‘kamu sabar, ya…’  kata-kata yang sekilas kamu tak paham, tak bisa paham.

kemudian kamu teringat: iya, ya…

.

maksudku begini. kehilangan itu bukan selalunya sesuatu yang selesai pada sebuah eulogi, atau berakhir pada suatu titik, dan setelahnya berhenti.

bahwa kadang, mungkin lama setelahnya, dalam pekan-pekan dan bulan, dalam lembar-lembar Harvard Business Review atau pada antrian halte Transjakarta, kamu akan kembali menemui kehilangan itu menyapa; sekali, dua kali, tiga kali…

tapi di sana, ada sesuatu yang final. sesuatu yang sudah.

dengan atau tanpa kekecewaan atau amarah atau apapun yang lain yang menyertainya.

.

“tapi kita baik-baik, kan?”

“…”

kamu ingat kamu tidak menjawab. kamu tidak ingin menjawab. dengan semua amarahmu, semua kekecewaanmu, semua ketidakpercayaanmu.

sementara di sisi sebagian dirimu aku tahu;
karena kamu, sungguh benar-benar benci dianggap penuh melankoli.

wejangan sifu Toph

metal is just a part of earth that's been purified and refined. but how does it become like that? by getting heated, melted, and pounded. by going through *pressure* and *pain*
 

dikutip dari Avatar: The Last Airbender — The Promise.

saya dan jalan kaki

saya suka jalan kaki. sendirian. kalau orang-orang senang pergi dan berkumpul untuk ngobrol-ngobrol dengan teman-teman dan keluarga —piknik di taman atau kebun raya, misalnya— seringnya saya lebih suka jalan kaki, ditemani ransel di punggung dan sepatu kets yang kebetulan masih ada sisa umurnya.

iya, jalan kaki. sendirian saja. kalau memungkinkan bisa juga berdua, tapi seringnya tidak lebih.

skechers

 

baiklah, jalan kaki. terus, tujuannya ke mana?

nah, ini mungkin bagian yang kedengarannya aneh. kalau ditanya seperti itu, jawaban saya sederhana: tidak tahu. lihat saja nanti. eh mau ke mana ya?

karena, jujur, seringnya malah saya tidak tahu mau ke mana. lah, kok?

iya. karena buat saya, justru proses berjalan dan melangkahkan kaki itu yang penting. perkara mau ke mana, urusan nanti di mana sampainya. pokoknya, yang penting saya mulai melangkah dulu. sisanya nanti. sambil jalan.

pernah sekali waktu saya iseng turun dari bus pada sebuah halte busway di ibukota. kemudian saya mulai melangkah. beberapa lama kemudian, tahu-tahu saya sudah sampai di sisi luar sebuah pusat perbelanjaan. entah berapa lama tadinya saya berjalan, entah berapa banyak hal yang saya pikirkan, pokoknya tahu-tahu saya sudah sampai di tempat yang berbeda.

mungkin kedengarannya aneh sekali bagi pembaca yang kebetulan mengenal saya, baik secara personal maupun profesional, dan pada umumnya bisa mengatakan bahwa saya adalah seseorang yang cenderung terukur dan terencana.

tapi ya mau bagaimana lagi, karena sungguh memang demikian adanya! :lol:

.

buat saya, berjalan kaki adalah juga sesuatu yang sifatnya kontemplatif. ketika ada hal-hal yang harus saya pikirkan dan keputusan-keputusan yang harus saya ambil —personal, kalau profesional sih repot— seringnya saya memikirkannya sambil berjalan-jalan dan menyendiri.

kadang di tengah kota, kadang sambil iseng masuk mal, kadang di jalur trekking kampus, pernah juga di pantai pasir yang jauh dari mana-mana. saat-saat tersebut di mana saya… sendirian, second-guessing, berdialog dengan diri sendiri. pada saat-saat seperti itu pula biasanya saya bisa memandang diri saya dari sisi yang berbeda.

kalau dibilang seperti itu dan kesannya kok seolah jalan kaki itu seperti semacam proses meditasi buat saya, dipikir-pikir lagi mungkin ada benarnya juga. mungkin pada dasarnya saya cuma membiarkan pikiran sekunder saya mengambil alih, di luar pertimbangan-pertimbangan dan keputusan-keputusan taktis yang biasanya memenuhi hari-hari yang sibuk.

mungkin, pada dasarnya buat saya kegiatan jalan kaki itu semacam bagian dari proses berdiskusi dengan diri sendiri. jadi kalau Jacques Derrida bilang, ‘I’m constantly at war with myself’, mungkin saya bisa bilang, ‘no, no, I’m constantly negotiating with myself!’ :mrgreen:

.

ngomong-ngomong, entah apakah ada unsur fisiologis atau psikologis yang diperoleh dari kegiatan berjalan kaki, ya, saya juga kurang paham. mungkin pembaca yang mempelajari psikologi secara khusus akan lebih bisa menjelaskan soal ini. buat saya sih sederhana saja, berhubung pada dasarnya ini sesuatu yang membuat saya nyaman, jadi ya kenapa tidak?

walaupun dengan demikian saya kira sepatu kets saya jadi tidak pernah bisa berumur panjang. yah, kalau itu sih sepertinya memang sudah resiko.

ouch

“eh… nggak marah, kan?” :|

“…”

silence is a girl’s deadliest weapon. ouch.

kamu, bintang jatuhku. sekali dulu.

“masa lalu itu ada buat jadi cermin. kamu bisa memandang ke baliknya, tapi tidak melangkah ke dalamnya.”

___

 

/prolog
. . . sepotong kertas berbentuk persegi

sore ini, aku sedang mengeluarkan dan mensortir isi ransel dan hal-hal yang berada di dalamnya —kartu asuransi dari tempat kerja, berkas penilaian, amplop dan tagihan lama— ketika sebuah potongan kecil tampak menarik perhatian.

ah, ini… sebuah potongan kecil kertas berbentuk persegi. bicara sesuatu yang sempat sedikit istimewa, dulu, tapi kurasa aku akan sedikit cerita saja soal ini.

bukan apa-apa. cuma sepotong tiket nonton film di bioskop, suatu saat sekali dulu.

nah, sekarang anda tahu akan ke arah mana cerita ini…

 

/1

kalau dibilang ‘kencan pertama’, mungkin bisa dibilang seperti itu. kalau dibilang ‘cuma ketemu makan bareng’, ya mungkin bisa dibilang seperti itu juga. maksudku, tergantung definisi, sih. kalau ‘pergi berdua di hari Sabtu’ itu bisa dianggap ‘kencan’, ya barangkali ada benarnya.

tapi, ya, terserahlah. klasifikasi dan penggolongan itu agak bikin pusing kadang-kadang.

“sushi bar itu, ada filosofinya.”

“apa itu?”

“hidup itu kayak makan di sushi bar. nah, kalau ada piring lewat yang kita mau, langsung ambil deh. kalau kebanyakan mikir, ya lewat.”

“kesempatan nggak datang dua kali, begitu?”

kami sedang berada di restoran dan menghadap ke ban berjalan yang menyajikan berbagai jenis sushi —salah satu jenis makanan Jepang— dalam piring-piring kecil. di tempat seperti ini, pengunjung mengambil sesuai kebutuhan dari ban berjalan, sementara pesanan khusus bisa dimintakan ke pelayan lewat menu yang disediakan.

“nah itu. enggak juga. protip-nya sih kalau udah kelewat, ya udah. tapi kalau masih mau, tungguin aja. nanti juga lewat lagi kok. kalau masih lewat sih. makanya, jangan kebanyakan mikir, ya begitulah.”

“bukannya itu kamu, ya?” dia tertawa. “kamu tuh kebanyakan mikir, makanya jadinya nggak jalan-jalan!”

aku ikut tertawa. dipikir-pikir lagi, mungkin iya juga, ya?

 

/2

waktu itu akhir pekan, dan kami sedang saling berkirim pesan pendek lewat telepon genggam.

“kalau secara probabilitas sih, santai saja. di sana ada tiga studio, dua buat 3D. sekarang kan masih siang, ada jadwal sebelumnya. distribusi kursi kosong akan masih banyak buat nanti sore.”

seseorang —atau lebih tepatnya seorang gadis yang kurasa anda sudah bisa mengira-ngiranya— di ujung lain telepon cuma mengirimkan sebuah emoticon tertawa. yang kemudian langsung kutanggapi balik;

I’m counting on you, kak!”

“kamu panggil ‘kak’ sekali lagi, aku nggak beliin tiket!”

aku cuma senyum-senyum sebelum akhirnya meletakkan ponsel dan siap-siap berangkat.

.

“aku nggak tahu kamu suka nonton film kayak begini,” kataku sambil menunggu di depan pintu teater kira-kira satu jam kemudian. “habis secara demografi kayaknya rada kurang cocok sih.”

“maksudnya?”

“memangnya sejak kapan kamu suka nonton film robot-robotan berantem segede gunung?”

“aku sih sekalian nonton film sebelumnya tadi. penasaran juga, katanya seru sih. lah terus kamu sendiri kenapa?”

“sudah jelas, kan,” aku menukas. “robot-robotan gedeeee! segede gunuuuung!”

dia cuma tertawa, dan kami masih menunggu beberapa saat lagi sampai pintu teater akhirnya dibuka.

tapi serius, memangnya apa yang aneh, sih. maksudku, robot-robot sebesar gunung di layar itu alasan bagus untuk nonton film, kan?

iya, kan?

 

/3

“aku suka tempat ini,” kataku. “kalau duduk di sini, kita bisa memikirkan apa saja yang kita mau, bengong, dan tidak akan ada yang menganggap aneh.”

saat itu kami sedang berada di gerai kopi. aku mengambil tempat di sisi tembok dekat jendela, dia mengambil tempat di sebelahku sambil melihat-lihat penasaran.

“aku tahu, buatmu mungkin hal seperti ini aneh. tapi dasarnya kan kita memang berbeda sih,” kataku sambil tertawa, “tapi mungkin kita memang perlu lebih banyak ngobrol.”

kurasa aku belum mengatakan bahwa kami… sangat berkebalikan. kalau bisa dibilang seperti itu sih. ‘antitesis’, mungkin kata yang tepat, ya.

maksudku, kalau aku mengatakan bahwa aku ini cenderung pendiam dan tidak banyak bicara barangkali agak sedikit dingin dan kurang ramah (baiklah, baiklah), maka gadis di sebelahku ini… cantik ramah menarik, hangat cerah ceria dan bersahabat. tipe yang mudah disukai banyak orang, kira-kiranya sih.

apa, bumi dan langit? mungkin lebih tepatnya bulan dan matahari, tapi apapun itu terserahlah.

 

/4

mungkin aneh, pikirku. tapi pada akhirnya, kurasa aku paham bahwa baiknya kami memang sendiri-sendiri.

tentu saja kalau aku mengatakan seperti ini sekarang, kesannya jadi mengejutkan sekali untuk anda yang membaca sejauh ini. tapi pada akhirnya memang seperti itulah kenyataannya.

ada hal-hal terjadi… yang mungkin cukup banyak, atau tidak cukup banyak, dan pada akhirnya seperti halnya banyak hal lain dalam kehidupan, kita harus membuat keputusan. entah sederhana atau tidaknya.

karena, ya, ada hal-hal yang tidak bisa. ada hal-hal yang… karena satu dan lain hal, kurasa tidak perlu dituliskan di sini, dan sekalipun demikian dengan sadar dan paham aku bisa mengatakan bahwa keputusanku kali ini sama sekali bukan tentang logika, atau untung-rugi, atau berhitung kemungkinan-kemungkinan. sama sekali bukan tentang itu.

karena ini bukan tentang keputusan-keputusan logis. ini tentang sesuatu yang lain.

“thank you…. for everything.”

terima kasih untuk semuanya, pikirku. aku tidak bilang ini mudah, tapi ini keputusanku.

 

/epilog
. . . back to December

malam ini aku kembali mendengarkan ‘Back to December’ dari Taylor Swift. aku ingat, ini juga lagu kesukaannya dulu.

turned out freedom ain’t nothing but missing you,
wishing I’d realized what I had when you were mine

I’d go back to December,
turn around and make it all right…

tidak ada yang kusesali. tidak sekarang ini, tidak juga nanti.

tapi…

Desember, sekali dulu. sekilas senyum, selintas rindu, dan aku yang dulu bertanya pelan ragu-ragu: ‘kamu, bintang jatuhku?’

iya. kamu, bintang jatuhku. sekali dulu. dan sekarang ini, aku percaya. bahwa pada saatnya kamu akan menemukan kebahagiaan kamu, dengan jalan kamu…

selalu. karena kamu pantas untuk itu.

dear partner

I’ll be frank about this:
you are annoying.

it was just another once;
you got on my nerves, I did the same
God knows whatever else

you’re telling me not to judge others,
I’m telling you to listen to people,
and suddenly we seem better off without each other

okay, fine!
I have only one problem with that;
I told you once, and I still mean it now:

if I were to pilot a Jaeger,
I’d choose you as my partner

great. I always wonder
if we could ever be
a little
more
normal.

yeah, just a little more, if it’s okay
then again

you left me hanging, you got me baffled,
you don’t want to listen and I don’t want to talk

fine. whatever.
but did it ever come to you to remember?

that I told you once

that I could never, ever, ever
hate you.

not even one bit.

tentang debat, dan sedikit teknik

saya tidak suka berdebat. sungguh. mungkin karena dasarnya saya orang teknik, jalan pikiran saya kurang-lebihnya jelas: ada premis yang jadi pijakan, ada proses berpikir yang runut, dan ada tujuan akhir yang diperoleh dari penalaran dan analisis. jadi pada dasarnya, saya tidak terlalu suka konsep ‘debat’ di mana dua pihak saling mempertentangkan ide dan saling mengalahkan di arena debat.

walaupun ya bukan berarti hal-hal seperti ini jadi tidak perlu. untuk beberapa hal, kadang ada juga ide-ide yang terpolarisasi dan mau tidak mau jadinya diperlukan debat. dan pada dasarnya, itu juga tidak masalah: debat yang dilakukan dengan sehat itu kan makanan yang bagus buat pikiran?

sisi lain dari tulisan ini sebenarnya juga terinspirasi dari rangkaian acara debat kandidat calon presiden untuk pemilihan yang akan segera berlangsung di Indonesia. tentu saja untuk menjaga tulisan ini tetap nonpartisan, perlu diperhatikan bahwa kemiripan terhadap contoh yang ada pada tulisan ini tidak serta-merta menyatakan sikap saya sebagai penulis untuk mendukung atau tidak mendukung salah satu pihak.

after all, it’s for the science!  \o/

 

1. kenapa debat?

pertama-tama, mari kita berangkat dari tujuan utama sebuah acara debat kandidat yang dihadiri pemirsa. anda sebagai peserta, memiliki dua tujuan utama:

a. menunjukkan bahwa visi, misi, dan pendapat anda lebih unggul daripada visi, misi, dan pendapat lawan
b. mengambil hati sebanyak mungkin pemirsa untuk setuju dengan anda

kedengarannya seperti hal yang serupa, padahal sebenarnya tidak sepenuhnya sama. pada bagian pertama, anda harus menunjukkan pendapat anda lebih unggul daripada pendapat lawan. masalahnya, kalau anda unggul terus kenapa? masalahnya adalah, sekalipun argumen anda solid dan hebat, belum tentu pemirsa akan suka dengan cara anda memenangkan debat!

sebentar, ini jadi membingungkan, jadi mari kita telusuri pelan-pelan.

di sini, debat adalah media komunikasi dengan dimensi yang unik: pertama, komunikasi personal —anda sebagai seorang kandidat terhadap kandidat lawan (lawan, ‘opponent’, bukan musuh, ‘enemy’ lho ya). kedua, komunikasi massa —anda sebagai kandidat terhadap banyak pemirsa yang menyaksikan anda.

jadi, ada dua dimensi komunikasi, dengan dua tujuan yang berbeda. dari kedua hal ini, beberapa pendekatan praktis bisa diturunkan.

 

2. offense: kapasitas lawan, kekuatan lawan

ada contoh yang menarik dari debat calon presiden kemarin, ketika salah satu kandidat menanyakan hal kira-kira sebagai berikut:

“bagaimana pendapat anda tentang [...] dalam kapasitas anda sebagai menteri koordinator perekonomian dan ketua himpunan tani?”

ini contoh bagus dalam melakukan dua hal: pertama, dengan menggunakan kapasitas lawan sebagai kerangka referensi, anda menempatkan lawan dalam posisi yang harus membela diri dalam konteks yang sudah anda tetapkan. pada saat yang sama, anda mengingatkan —atau mengedukasi— pemirsa tentang atribut lawan yang menjadi dasar serangan anda. demikian juga anda bisa membangun follow up dan counterargument dari sana.

contoh, sekiranya lawan sudah menjawab pertanyaan dengan cukup baik, follow up bisa sebagai berikut:

“tapi kita melihat bahwa di sini [peran organisasi yang anda pimpin] terjadi kesenjangan… bahwa terdapat laporan terjadi… [masukkan data]“

perlu diperhatikan bahwa teknik seperti ini rawan sesat logika tu quoque, kalau keterusan bisa jadi straw man argument atau malah ad hominem, jadi gunakanlah dengan hati-hati.

 

3. defense: tentang keterlepasan emosi

ini hal yang berlaku umum, entah apakah anda sedang berdiskusi, atau rapat di tempat kerja, atau negosiasi. jadi bukan cuma soal debat. hal ‘berbahaya’ yang bisa anda lakukan adalah ketika anda menerima pernyataan atau pertanyaan tidak terduga, anda kemudian blank. secara psikologis, ini hal yang normal. tapi dalam konteks anda sedang berada di arena debat, hal tersebut sungguh tidak menguntungkan.

contoh bagus kemarin, kira-kira berikut, tentang silang-selisih penghargaan terkait pengelolaan tatakota:

“penghargaan Kalpataru itu memang bukan buat kota. yang buat kota itu Adipura!”

ketika pernyataan atau pertanyaan anda dipatahkan secara tidak terduga, reaksi yang normal adalah blank. kemudian panik mulai merayap. kemudian anda akan cenderung menanggapi secara agresif mengarah emosional. dan itu hal yang normal, bentukan evolusi kita memang seperti itu kok.

… atau kalau menggunakan istilah pemirsa awam, ‘yah, kepancing deh’ :|

periode kritis di sini biasanya 3-5 detik setelah serangan tidak terduga dan anda harus merespon. tapi keadaan seperti ini bukannya tidak recoverable juga. salah satu teknik yang umum digunakan adalah dengan mengakui kesalahan, namun dengan tetap menekankan fokus, pressing the point.

kira-kira follow up yang mungkin:

“maaf, ada selisih salah ucap di sini. betul, secara konteks memang seharusnya Adipura. kesalahan kami, terima kasih. (senyum)

tapi kembali kita review, ternyata ibukota di bawah anda tidak juga memenangkan penghargaan… [tambahkan detail lebih lanjut]“

lebih gampang dibicarakan daripada dikerjakan, sih. dan berhubung ini efeknya psikologis benar, jadi memang sama sekali bukan hal yang sederhana.

 

4. humor! dan emosi negatif itu tidak baik buat anda

sedikit berhubungan dengan poin sebelumnya. dalam keadaan terdesak —baik itu konteksnya debat, adu argumen, maupun negosiasi— manusia cenderung merespon secara agresif. masalahnya, emosi negatif itu sungguh punya dampak yang buruk: pertama, anda jadi jauh lebih rawan terjebak sesat logika (ad hominem, misalnya), dan kedua, anda mempertaruhkan kesan yang dipersepsikan pemirsa yang menyaksikan penampilan anda.

di sisi lain, humor adalah teman anda. tentu saja bukan berarti anda jadi melawak di arena debat, salah-salah anda terlihat tidak kompeten. fokus pada komentar cerdas-singkat-humoris, witty remarks, kemudian kembali ke topik serius.

contoh berikut, dikembangkan dari contoh di poin sebelumnya:

“ya bagaimana, ya. pertanyaannya salah, bagaimana saya bisa jawabnya? (nyengir)

tapi baiklah, dengan konteks yang sudah diperbaiki tadi. ada banyak dimensi dalam tata kelola kota, di mana penghargaan itu meliputi penilaian pada satu waktu. kita perlu melihat juga bahwa di kota-kota lain … [teruskan dengan argumen lebih lanjut]“

ingat kembali bahwa komunikasi anda memiliki dua dimensi: komunikasi personal, antara anda dan lawan debat, dan komunikasi massa, anda dengan pemirsa.

ngomong-ngomong, penggunaan humor yang tidak cerdas bisa jadi menyeret anda ke sesat logika model non sequitur, jadi kembali seperti sebelumnya, gunakan dengan hati-hati.

 

5. appeal to emotion

ini bukan tentang sesat logika yang itu, walaupun nantinya sedikit terkait. tapi kembali kepada tujuan anda di awal debat, penampilan anda dinilai oleh pemirsa… yang juga manusia. dan tidak ada seorangpun manusia yang selalu kebal dari sesat logika tanpa pertimbangan emosional, termasuk saya.

baiklah, andaikan anda punya argumen yang solid dan anda bisa menghajar pendapat lawan habis-habisan. katakanlah, anda menang debat. mungkin benar begitu, baguslah. tapi, bagaimana pemirsa akan menanggapi penampilan anda?

‘ah, saya sih nggak suka, orangnya arogan banget. pinter sih pinter…’

jangan jadi orang seperti itu. hargai lawan anda, hargai diri anda. anda ini kan cuma sedang debat, bukan pergi perang! perhatikan perasaan orang-orang lain yang bukan anda, ingat kembali dua tujuan awal anda berada di arena debat.

perlu dibedakan antara menjaga penilaian emosional terhadap anda dengan berargumen memanfaatkan keterikatan emosional. teknik ini membuat anda rawan terjebak sesat logika appeal to emotion, khususnya ketika anda jadi terlalu memikirkan bagaimana kemungkinan penerimaan pemirsa terhadap argumen anda.

 

6. ‘saya setuju dengan pendapat anda…’

salah satu hal yang agak saya sayangkan dari salah satu kandidat debat calon presiden yang baru lalu adalah, bahwa agaknya beliau terlalu mudah setuju terhadap kandidat yang jadi lawan debatnya. argumennya, ‘kalau memang benar, ya kita harus dukung!’

saya tidak mengatakan itu salah. secara keilmuan, kalau sesuatu itu benar, ya sesuatu itu benar. tapi yang seringnya agak kurang dipahami, adalah bahwa tidak selalu menyatakan kesetujuan itu berakibat kita menjadi kehilangan pesan yang kita bawa. tidak harus seperti itu.

salah satu teknik yang bisa digunakan meliputi pernyataan kesetujuan, conceding the point, kemudian kembangkan dari ide dasar yang disetujui bersama. contoh berikut, diadaptasi dari topik tentang ekonomi kreatif:

“ide dan pendekatan dari bapak tentang ekonomi kreatif— sejujurnya orisinil, dan untuk poin tersebut, memang keunggulan tersendiri dari sudut pandang bapak. tetapi perlu diperhatikan, ekonomi kreatif adalah… ekonomi baru, new kind of economy. yang tidak bisa didekati dengan cara tradisional. saya melihat ada yang bisa … [elaborasi lebih lanjut]“

ide dasarnya di sini adalah, tidak apa-apa setuju dengan lawan debat anda. itu bukan hal yang buruk kok. tapi jangan sampai jadi seolah kita tidak memiliki pesan yang kita sampaikan. it’s okay to agree —but you have to own the message.

 

penutup: saya tidak suka berdebat. tapi…

sebenarnya, masih banyak pendekatan dan teknik lain yang bisa digunakan untuk hal-hal seperti ini. pun sebagaimana saya sebutkan di awal tulisan, saya tidak suka berdebat, dan dengan demikian tulisan ini tidak membuat saya jadi kredibel soal menjadi pendebat yang unggul.

tapi ada hal menarik yang bisa ditarik dari sini, bahwa pada dasarnya kegiatan ‘debat’ itu sendiri, apabila dilaksanakan secara sehat, bisa menjadi makanan yang baik untuk pikiran banyak orang, baik yang menjalani debat maupun pemirsa yang menyaksikan debat tersebut. juga bahwa konteks debat di sini pada dasarnya adalah komunikasi dengan dimensi yang unik: ada komunikasi personal, ada komunikasi massa, dengan berbagai teknik yang bisa diturunkan dari dalamnya.

dari saya sih, tulisan ini cuma soal teknik dan cara komunikasi yang saya observasi. tidak lebih dan tidak kurang. ;)

buku-buku (nonfiksi) yang mempengaruhi saya

ada saatnya kita tidak selalu membicarakan ‘buku’ sebagai bagian dari hiburan. tidak dalam kapasitas ‘novel’ atau ‘komik’, maksudnya. dan sehubungan dengan semangat tersebut, seringnya kalau kita cukup punya ketertarikan membaca, kita akan menemukan beberapa buku yang mempengaruhi sudut pandang kita, dalam beberapa hal mungkin turut membentuk sudut pandang dan cara berpikir.

beberapa orang mungkin berpendapat bahwa buku-buku seperti tersebut harus ‘berkelas’ —Marx, Dostoyevsky, Tan Malaka, siapapunlah— tapi berhubung hal seperti ini sifatnya personal, menurut saya tidak selalu harus selalu seperti itu juga. tentu saja kalau mau patronistik, nanti bisa-bisa ada pembaca yang komplain: loh, harusnya yang pertama itu Quran dong, memangnya kamu bukan muslim apa?!  :mrgreen:

 

books

 

baiklah, baiklah. jadi dengan demikian, berikut adalah beberapa buku nonfiksi yang, dengan caranya masing-masing, memberikan pengaruh tersendiri kepada pikiran dan sudut pandang saya.

6. The Black Swan – Nassim Taleb

buku yang agak susah dipahami: filosofi, epistemologi, dan probabilitas. sedikit banyak mengubah cara pandang saya bahwa tidak semua hal dan ketidakpastian perlu sepenuhnya diketahui untuk bisa dihadapi —yang anda ketahui, sungguh tidak berbahaya buat anda!

olahraga otak yang menyenangkan untuk saya, tapi beberapa pembaca mungkin menemukannya agak terlalu berat.

5. The Toyota Leaders – Masaaki Sato

nonfiksi bergaya novel tentang keluarga Toyota dan bagaimana Toyota dimulai dari pembuatan mobil Jepang pertama sampai langkah ekspansi menjadi bisnis otomotif dunia. tentang beberapa generasi pemimpin Toyota dan pendekatan masing-masing terhadap Toyota sebagai identitas personal, keluarga, dan bisnis mereka.

ide bercerita dan semangat khas Jepang tersampaikan dengan baik, sayang terjemahan bahasa Indonesianya kurang bagus.

4. Onward – Howard Schultz

memoar dari perjalanan Howard Schultz sejak kembali menangani Starbucks pada periode krisis ekonomi global pada 2008. merangkum berbagai hal dari pengambilan keputusan bisnis dan perusahaan, serta kehidupan sehari-hari di jajaran manajemen puncak gerai kopi yang mendunia.

cerita yang mengalir dan enak dibaca, dengan berbagai pendekatan bisnis dalam bahasa yang membumi.

3. A History of God – Karen Armstrong

tentang Tuhan dan sejarahnya dari tiga sisi agama Abrahamik: Yahudi, Kristen, dan Islam. pembahasan yang bernas dan mencerahkan dari penulisnya, dengan penyajian yang unik dalam menjelaskan aspek ketuhanan dan religiusitas secara sederhana tanpa jatuh menjadi oversimplifikasi.

pertama kali membaca buku ini di masa sekolah dulu, termasuk buku yang membentuk sudut pandang saya soal Tuhan dan agama.

2. Outliers – Malcolm Gladwell

buku yang  sedikit banyak mempengaruhi perspektif saya tentang orang-orang dengan keberhasilan mereka mengubah dunia: The Beatles dan Bill Gates, di antara yang lain, serta peran besar lingkungan dan kesempatan selain kerja keras dalam proses yang dijalani masing-masing individu.

khas Gladwell, diskusi dan penjelasan dalam bahasa yang runut dengan penyajian berbagai anekdot yang mudah diikuti.

.

.

1. HBR 10: On Leadership – Harvard Business Review

definitely distant first. bukan untuk semua orang, tapi untuk mereka yang membutuhkannya, buku ini adalah harta karun. tentang berbagai aspek kepemimpinan dan manajemen, didukung oleh berbagai kajian dan riset lintas bidang yang didalami oleh masing-masing kontributornya.

sangat direkomendasikan, khususnya untuk anda yang berkarir sebagai profesional pada pada first line, mid-level, maupun top-level management.

ngomong-ngomong, ternyata saya belum sempat menulis tentang buku ini. mungkin setelah ini.

 

kira-kira demikian daftar dari saya. anda pembaca, buku nonfiksi apa yang berkesan untuk anda? ;)