bicara di depan, bicara di belakang

pada hari dalam pekan yang baru lalu, saya dan rekan-rekan di tempat kerja sedang mendiskusikan penugasan yang melibatkan cukup banyak komunikasi dengan pihak-pihak eksternal di luar tim. bukan hal yang aneh, seperti halnya penugasan lain yang biasa. masalahnya adalah bahwa kali ini dari tempat kami perlu berkomunikasi dengan pihak-pihak yang… apa ya, mungkin cenderung dianggap beberapa rekan sebagai ‘tidak selalu nyaman dalam komunikasi secara profesional’.

bukan hal yang luar biasa aneh juga. saya kira pada umumnya kita semua pernah mengalami keadaan seperti demikian di tempat kerja.

 


dana-scully-xfiles

(c) 20th Century Fox

“harusnya departemen kamu sudah komunikasi dengan tempat saya. kenapa baru sekarang?”
“eh…  siap bu… eh, mbak… Dana.” #plok

 

secara singkat, kira-kiranya diskusi waktu itu di departemen tempat saya sebagai berikut.

“aku suka takut sama mbak itu, kalau salah ngomong begini salah ngomong begitu gimana. kalau di sini kan enak, bisa santai ngomongnya…” demikian kata seorang gadis rekan kerja dalam diskusi. rekan yang lain, seorang pemuda sepantarannya, menyatakan persetujuan singkat.

saya berpikir sejenak. saya juga bukannya tidak paham, situasi seperti ini kadang seperti menavigasi ladang ranjau… eh itu agak berlebihan juga sih perumpamaannya, tapi kira-kira begitulah. akhirnya disepakati bahwa keadaan seperti ini tidak bisa terlalu sembarangan sehingga komunikasi antar departemen akan menjadi tanggung jawab saya.

“eh, hidup itu jangan dibikin susah lagi,” kata saya, menanggapi santai pertanyaan sekilas setelahnya. “hidup itu jadi lebih gampang kalau kita bisa ngomong di depan sama dengan di belakang orangnya.”

entah ada angin apa; kayaknya waktu itu saya sedang kesambet setan jadi sok bijaksana.

saya sering mengatakan bahwa sebagian besar konflik yang terjadi di sekitar kita seringnya berawal dari masalah komunikasi. misalnya ketika kita merasa tidak senang dengan sikap seorang teman atau sahabat, lantas kita diam saja. itu awal dari masalah. demikian juga ketika kita tidak setuju dengan atasan di tempat kerja, tapi kita sendiri juga tidak bicara apa-apa. itu juga awal dari masalah.

faktanya adalah, manusia tidak bisa membaca pikiran satu sama lain. sekarang ini saja Google Translate masih jauh sekali levelnya dari Konyaku Penerjemah punya Doraemon, bagaimana pula anda mau mengharapkan orang lain bisa paham tanpa anda sendiri yang mengungkapkan?

buruknya lagi, sering pula pada akhirnya kita malah menyampaikan ketidaknyamanan kita ke pihak lain. dengan segala keterbatasan sudut pandang kita, juga dengan keterlepasan konteks mereka yang mendengarkan dari keadaan yang sebenarnya kita alami.

pada akhirnya apa yang kita katakan di belakang seseorang menjadi berbeda dengan apa yang kita katakan di depan seseorang tersebut. keadaan seperti ini jarang berakhir baik.

 


karate-girl-istock

(c) iStock

“oh, jadi kamu malah curhat sama mantan kamu. oh… kebetulan aku lagi perlu ngelurusin kaki nih.”

 

saya tidak bilang bahwa kita harus selalu jujur keras-kerasan mengatakan segala sesuatu sesuai seenak perasaan kita. tidak harus seperti itu. kalau kita usahakan, seringnya ada cara untuk menyatakan ketidaknyamanan dan ketidaksetujuan tanpa harus kehilangan hubungan baik. sekalipun kadang konflik tidak terelakkan, masing-masing dengan resikonya.

secara pribadi, saya sendiri punya prinsip sederhana. kalau saya berani mengatakan sesuatu di belakang seseorang, maka saya juga punya kewajiban bahwa saya tidak takut mengakui hal yang sama di depan seseorang tersebut. harus adil, dong. di sisi lain saya juga harus berhati-hati karena saya punya tanggung jawab untuk mengatakan hal yang jujur, sebaik yang saya bisa, secukupnya saja. dengan atau tanpa kehadiran seseorang lain yang menjadi bagian dari pembicaraan saya.

saya sendiri lebih suka memandangnya seperti demikian. saya kira seharusnya cukup adil juga.

tentang tidak takut(-takut amat)

beberapa hari lalu, terjadi insiden terorisme di Jakarta. kota tempat saya bekerja, maksudnya. bagusnya tidak sampai banyak korban, demikian juga dalam beberapa jam situasi sudah kembali normal.

tentunya keadaan tersebut juga tidak bisa dibilang normal dalam beberapa jam sebelumnya. pesan-pesan pendek dan berita tidak jelas berseliweran, dan kalau ada orang mendengarkan kesannya seolah keadaannya semacam sudah gawat sekali dan kepanikan di mana-mana. padahal kenyataannya sendiri… ya memang rada gawat sih, tapi sungguh tidak separah kedengarannya.

ngomong-ngomong. cerita berlanjut bahwa, belakangan ini, akhirnya saya malah dengan bodohnya mengunjungi kembali laman media sosial, yang mana pada saat ini notabene sedang marak dengan tema ‘kami tidak takut’. eh salah ya. harusnya kan pakai tagar biar lebih seru dan kekinian. baiklah. #KamiTidakTakut.

. . . dan tertawalah saya.

serius, anda semua harus berhenti menggunakan media sosial. setidaknya sejenak. kemudian coba jalan-jalan di Jakarta. gunakan transportasi publik, atau jalan kaki juga boleh.

Jakarta tidak takut, karena sudah terbiasa untuk tidak takut menghadapi kekerasan.


theraid-iko2

tak lupa tagar #KamiNaksir buat kak Iko. polisi baik ramah rendah hati, rajin sholat jago berantem pula.

(c) Merantau Films

 

dulu, waktu masih kecil-baru-mulai-remaja, saya pernah berurusan dengan tukang palak. kira-kira mungkin setahun di atas saya. kena pukul tiga-empat kali, memasukkan balasan satu-dua kali. uang dan bawaan saya aman, tapi ya kena memar dan lebam juga. demikian di lain waktu, dulu masa sekolah saya pergi naik metro mini, eh kena juga digaplok preman. rasanya darah sudah panas betul… di sisi lain tidak sampai ada kerugian materi, sehingga, yah, daripada cari perkara di tempat orang malah bikin tambah masalah.

belum lagi masalah kecil lain-lain seperti melihat rombongan tiga-empat copet melompat keluar dari bus lantas terbirit-birit menyeberangi jalur cepat jalan searah (hebat, kok bisa ya), atau ketika jalan kaki sendirian melewati lokasi biasa tawuran antarkampung (yang bagusnya belakangan sudah lebih jarang). mau tidak mau hal-hal seperti ini memberikan perspektif tersendiri.

maksud saya begini: mengatakan bahwa ‘kami tidak takut’ terhadap teror dan kekerasan adalah satu hal. dan itu sungguh tidak susah. tapi jujur sih, kalau sudah terbiasa dengan hal-hal di atas, ketika melihat ada teror bom dan jumlah korban tewas malah lebih banyak teroris, anda mau takut apa lagi?

saya sendiri tidak terlalu antusias mengikuti pendapat orang-orang. pendapat sih tidak ada yang salah, walaupun seringnya banyak yang tidak berguna. dalam arti tidak ada rencana atau solusi, maksudnya. ampun deh. kalau cuma berkomentar saja sih (apalagi sambil marah-marah, asyik deh), saya kira semua orang juga bisa.

sehingga untuk pertanyaan pada beberapa hari lalu seperti ‘loh, memangnya kamu enggak takut’ atau ‘kenapa kamu kok bisa kayak cuek banget begitu’… saya hanya mengingatkan diri dua potong kalimat saja.

i. bukankah kami telah melapangkan untukmu dadamu dan mengangkat beban yang memberatkan punggungmu

ii. (maka) siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja jalan hidupnya.

Q.S. 94:1-3, feat. Mat 6:27.

berani hidup, tidak takut mati. walaupun sungguh tidak semudah kedengarannya, apalagi kalau anda sudah punya terlalu banyak keterikatan dengan dunia.

2015 (in pictures)

#1 /

awal tahun dan semangat tinggi: kira-kira setahun lalu. plus-minus 2-3 hari. bagaimana bisa bilang tidak ke makhluk ini?

 

#2 /

ide gila di tempat kerja? baiknya ditanggapi santai saja. dalam momen kira-kira mewakili rekan sesama profesional.

11020835_10206914798692291_5510674550099686516_n

 

#3 /

karena tidak ada menang atau kalah… sekalipun kadang saling marah, tetap tak bisa saling benci. eh apa gimana itu tadi?

lovecfea

 

#4 /

akhir pekan seperti biasa. seringnya disuruh ibu versi original, tidak keberatan juga kalau disuruh ibu versi lebih-seumuran.

mem-copy

 

#5 /

I’m getting (physically) stronger… I guess. setidaknya dibandingkan tahun lalu. peralatan? terutama lantai dan tembok.

training

 

#6 /

belakangan ini, saya cenderung malas menggunakan media sosial. demikian salah satu alasannya…

wikipedian_protester

 

#7 /

mbaknya lagi sariawan. ceritanya sih begitu . . . okay. much better.

tumblr_lq9ivqlHIu1qfk6vyo1_400

 

#8 /

terakhir: sepanjang tahun ini, banyak hal-hal baik dari banyak orang, entah seberapa banyaknya saya yang begini ini bisa menyadari semuanya itu. demikian ini untuk anda semua: terima kasih!

thanksmom

 

_

2015: I think I’ve been a little bit happier… sort of.
2016: looking forward to it. right off the bat! 

on social media

we live in a world where people don’t always like us telling when we are a little happy and people don’t always like us saying when we are feeling sad.

but we sure don’t mind voicing our ‘anger’ and ‘wrath’, whatever, acting like self-proclaimed social justice warriors.

how complicated. =P

(un)surprisingly I don’t miss it all that much.

ku

“we all do what we can. protecting little shards of innocence, in a grey grey world.”

_

. . . anak itu selalu bersikap seolah dia tidak punya banyak waktu.

dia menuntut tempat. dia menggedor-gedor. dia berlari sekencang yang dia bisa. dia tahu dia akan cepat habis. dia tidak peduli.

“masalahku adalah aku tak bisa terlalu sabar,” katanya, dengan pandangan muram sambil mengikat tali sepatu. “mungkin bakat keluarga. umur ayah dan kakek-kakekku tak pernah panjang.”

bukan berarti kau akan cepat mati juga kan itu, kataku.

“mungkin akan. aku tak peduli-peduli amat juga. aku cuma perlu melakukan semua yang aku bisa, semua yang aku perlu. semuanya sebelum itu.”

kalau waktunya tak cukup?

“itu masalahnya. sekarang kau paham, kan.”

.

kau tahu hal yang menyebalkan, katanya. kalau kita sadar tidak punya banyak waktu sementara orang-orang kelihatan seperti membuang-buangnya, rasanya menyebalkan betul.

“aku pernah punya sejarah buruk soalnya.” dia berkata. “paru-paruku. anggap saja mesinnya pernah rusak. rasanya tidak terlalu enak.”

kukatakan bahwa itu sepertinya bukan hal yang bisa mudah dipahami banyak orang. dia hanya angkat bahu.

aku menunggu dia melanjutkan.

“waktu itu aku masih kuliah. jadi anak kos. malam-malam, sendirian, mungkin dini hari. waktu itu aku terbangun, rasanya seperti setiap tarikan nafas itu sia-sia. kemudian kepala pusing. pandangan berkunang-kunang. kemudian aku terpikir: ya Tuhan, sepertinya aku kekurangan oksigen. ya sudahlah.”

“kurasa aku sedikit takut. waktu itu yang terpikir, ‘oh iya, sudah mau minggu UTS’. bodoh benar. waktu itu dini hari, dan aku sampai tertawa sendiri saking ironisnya.”

dua pekan dirawat, katanya, setelah menyeret diri (dan ternyata masih hidup) keesokan harinya. dua per tiga paru-paru ditemukan sudah terendam oleh produksi cairan berlebih atau apapun itu yang akhirnya harus dialirkan keluar lewat punggung.

ditusuk, katanya. dengan muka datar.

.

dia merapikan kacamatanya. belakangan ini dia beberapa kali mengatakan sisi kanannya agak buram. banyak tergurat, sepertinya. mungkin sudah waktunya diganti.

“sepatuku juga sudah mulai jebol lagi. kurasa aku juga belum ingin menggantinya. hal-hal seperti itu membuatku terpaksa berhenti, jadi memikirkan banyak hal. aku tak terlalu suka itu.”

sepatunya cuma sepasang, demikian juga kacamata hanya satu yang dipakainya. mungkin terkait kecenderungan untuk setia soal banyak hal, katanya. muram. entah itu hal yang baik atau buruk.

termasuk untuk hal-hal yang sedang dan akan dilakukannya.

“kalau aku bisa melakukan sesuatu yang sedikit bagus, mungkin meninggalkan sedikit sesuatu yang akan bertahan buat beberapa lama. buatku cukup.”

sebagian sudah. masih belum selesai. masih ada yang harus dilakukan. masih ada yang harus diselesaikan. entah seberapa banyaknya yang tersisa, dengan atau tanpa orang-orang lain di sisinya.

“kata mereka aku ini bocah idealis. kurasa aku cuma menemukan itu sebagai sarana untuk memberontak. mungkin bagus juga seperti itu.”

dia tak suka kalau tak melakukan sesuatu. dia ingin melakukan semua yang dia bisa selagi masih ada waktu. hal-hal yang, meskipun demikian, tidak selalu orang lain melihatnya seperti itu.

buat dia seperti itulah kenyataannya.

“dari dulu juga aku sering disalahpahami,” katanya sambil sekilas angkat bahu. “cuma sudah agak lebih terbiasa sekarang.”

.

kalau waktumu tak banyak, kau jadi tidak mau sembarangan. kalau bisa… kau ingin melakukan hal-hal yang berguna dan perlu. menyisihkan waktu untuk mereka yang berharga. menemukan cara untuk bisa bersama seseorang yang penting buatmu. kau tidak ingin lagi memikirkan batasan-batasan.

“setiap kali aku melihat orang-orang membuang waktu, menumpuk sesal sambil pelan-pelan kehilangan diri sendiri, rasanya sedikit sedih. aku tahu umurku tak akan panjang. aku tak mau seperti itu.”

“dengar. sekarang ini, untuk hidupku sendiri, aku bisa semuanya sendiri. dari dulu juga seperti itu. kalau tidak seperti itu, aku tidak akan bisa melakukan apa-apa.”

sekalipun harus semuanya sendiri. sekalipun mungkin akan kehabisan waktu.

“ada hal-hal yang harus kulakukan. ada tugas yang masih belum selesai. ada keinginan, tujuan… idealisme atau apapun itu kata mereka, yang masih harus kuselesaikan. kalau aku cuma diam saja, tak akan jadi apa-apa juga.”

dia terdiam sejenak, sebelum akhirnya mengakhiri dengan dua kalimat;

“batas itu, seperti teman lama. aku cuma harus melakukan semua yang aku bisa sebelum itu.”

kemudian hening, lama. sudah waktunya berangkat lagi.

dia tidak akan berlama-lama berhenti. dia akan harus pergi lagi, berlari lagi, entah ke mana nanti semua itu akan membawanya kembali.

seperti meteor jatuh, barangkali. kuat, pijar, barangkali brilian, tapi tak akan lama. lalu habis terbakar. mati.

mungkin buat dia memang lebih baik seperti itu.

patriot (2015)

“negara sudah memanggil kita! lebih baik pulang nama daripada gagal di medan tugas!”

_

sekitar Agustus lalu, saya melihat trailer serial ini di NET. kesan pertama saya adalah, ‘ini serius, bikinan Indonesia?’. ada rasa penasaran di situ. demikian juga ketika mendengar bahwa serial ini dibuat dalam format miniseri tujuh episode, ada kesan bahwa serial ini dibuat dengan standar tinggi yang cukup langka untuk serial televisi di Indonesia.

demikian pada akhirnya setelah finale pada 11 Oktober malam, tulisan ini pun langsung siap rilis.

patriot

Patriot, 2015. produksi NET.

plot pada Patriot berangkat dari premis sederhana: desa Mapu di pesisir Indonesia diambil alih oleh kelompok teroris di bawah pimpinan Panglima Timur (diperankan Aqi Singgih) dengan tangan kanannya Bunian (Yudi Harta). menghadapi keadaan tersebut, sebuah tim komando pasukan khusus dibentuk dengan Kolonel Bayu (Rizky Hanggono) sebagai komandan tim, diikuti oleh Letnan Kolonel Guntur, Letnan Satu Jalu, Sersan Satu Charles, dan Sersan Satu Samuel sebagai anggota tim. (berturut-turut: Verdy Bhawanta, Winky Wiryawan, Maruli Tampubolon, Dallas Pratama).

menonton episode pertama, aspek yang sedikit terasa adalah bahwa serial ini tampak terinspirasi dari film seperti The Raid dan sedikit Band of Brothers. secuil dua cuil inspirasi dari video game seperti Metal Gear Solid dan Far Cry juga akan dengan mudah ditemukan oleh pemirsa yang cukup teliti. meskipun demikian, hal tersebut toh tidak masalah. serial ini berhasil meramu berbagai inspirasi tersebut dalam membentuk identitasnya sendiri, dan sebagai sebuah tontonan, Patriot tidak kehilangan orisinalitasnya.

eksekusi serial ini tergolong well-balanced. efek visual bisa dianggap luar biasa, kalau bukan membuat standar baru untuk televisi Indonesia. keren. demikian juga aransemen musik di atas rata-rata, soundtrack yang catchy (‘Pemburu’, yang uniknya diciptakan serta dibawakan oleh Aqi, Winky, dan Maruli yang menjadi pemain pada serial ini), sukses membuat serial ini menjadi tontonan yang bisa membuat saya menunggu pada hari Minggu malam. tidak ada keluhan.

penulisan cerita dan karakterisasi, pada dasarnya dilakukan dengan baik. kalaupun ada sedikit catatan minor, mungkin terkait eksekusi pada akting di satu-dua bagian, tapi toh tidak signifikan. secara pribadi saya menemukan karakter Panglima Timur (Aqi Singgih) paling bersinar, diikuti oleh Kolonel Bayu (Rizky Hanggono) sebagai komandan tim. karakter lain tampak bisa mengimbangi, walaupun tidak sampai luar biasa tapi juga tidak bisa dibilang buruk.

kekurangannya, apa ya? tidak banyak sih. dari sisi storytelling, beberapa bagian mendekati akhir terasa agak off-pace, demikian juga epilog untuk serial ini rasanya… apa ya, bisa dibuat lebih kuat, khususnya terkait adegan-adegan yang seharusnya bisa lebih mengaduk-aduk emosi pemirsa. kembali lagi ini mungkin terkait keterbatasan pada editing dan pascaproduksi juga, tapi toh hal tersebut tetap tidak mencegah serial ini menjadi sebuah tontonan yang memorable.

saya sendiri sedikit penasaran sekiranya ada versi director’s cut untuk serial ini… tapi dengan target dan harapan sebagai standar baru untuk serial televisi di Indonesia, saya kira serial ini sudah berhasil dengan baik sekali.well done!

suram

“okeh. hope you have a great (birth)day!!” 😀

“nggak tahu juga sih. ulangtahun belakangan ini suram melulu soalnya. hehe.”

20:15 dan masih tidak lebih cerah. selamat ulangtahun, bocah.

wejangan pak Himura


no matter how great the skill of the Hiten Mitsurugi-ryuu, no matter how I tried to raise my own skill, one man can't hope to change an era alone.   and he certainly can't bear the burden of man's happiness alone... the only thing he can do is protect the happiness of the people he sees before him, one by one.

 

formative lesson learned in formative years.
10+ years on. still living it.

 

_

dikutip dari serial manga Rurouni Kenshin; konteks asli dulu terjemahan bahasa Indonesia oleh Elex Media. alur panel menyesuaikan format asli dari kanan ke kiri.

tentang kerja, cinta, dan idealisme

pada pekan belakangan ini, kebetulan saya beberapa kali mendapatkan tawaran pekerjaan penuh-waktu dari beberapa professional headhunter[1]. dalam konteks terkait saya ditawari pekerjaan, maksudnya. perkiraan rentang penghasilannya sendiri lebih dari cukup lumayan, demikian juga kualifikasi profesional saya pada dasarnya cukup memadai.

kalau secara pemikiran malas sih kira-kira sudah itu kriterianya relatif cocok, sudah tinggal dipilih, sehingga kalau mau dianggap sederhana, ya… kurang apa lagi?

 

good-great-manager

gambar tidak berhubungan … mungkin.

 

bukan pertama kali saya berada dalam situasi seperti ini. bukan pertama kali juga saya harus membuat keputusan terkait hal ini. demikian hingga saat ini, sehingga ketika harus memutuskan, jawaban saya masih tidak berbeda.

pada bulan-bulan yang sudah lama lalu, saya sempat bercerita kepada seorang gadis partner saya mengenai tawaran lain yang juga sampai ke saya. pada saat itu konteksnya terkait penawaran yang berbeda dari tempat yang berbeda, dengan rentang penghasilan yang lumayan pula.

dia tampak kaget dan terbingung-bingung ketika saya mengatakan bahwa saya tidak mengambil kesempatan tersebut.

“kenapa nggak diambil? itu kan lumayan banget, gimana sih.” 😮

waktu itu saya cuma nyengir. saya ingat saya mengatakan bahwa masih ada sesuatu yang harus saya… kami lakukan di sini, di tempat sekarang ini, dan belum waktunya buat saya untuk pergi.

dia tidak menyanggah. saya tahu bahwa kami saling paham.

kembali ke saat ini, ya… di satu sisi, ada kemungkinan tantangan baru, penghasilan baru yang lebih dari cukup lumayan, juga bakal tim baru untuk melakukan hal-hal hebat dengan teknologi keren.

sementara di sisi lain, ada idealisme yang belum selesai. ada janji yang masih harus ditepati. ada perjalanan panjang, ada rekan-rekan yang bersama saya, dan kami sama-sama paham bahwa masih belum waktunya buat kami berhenti.

hal-hal seperti demikian juga menjadi pertimbangan dalam keputusan-keputusan yang saya buat.

karena ada juga hal-hal yang tidak selalu bisa dipahami dengan kalkulasi-kalkulasi pragmatis, entah itu terkait rentang penghasilan, model bisnis, atau apapun sejenisnya. buat saya ini juga sesuatu yang sifatnya di perbatasan personal dan profesional, sesuatu yang kalau mau dicari di mana batasnya juga bisa jadi malah bikin bingung sendiri.

“jangan terlalu idealis,” kata seorang kakak perempuan[2] kepada saya pada waktu yang lain. “kamu juga harus tahu kapan bisa, kapan enggak bisa. kalau enggak ya kamu juga enggak ke mana-mana.”

“aku tahu sih. tapi ini jangka panjang. pelan-pelan, kurasa bisa.”

saya ingat saya mengatakan demikian. ada sedikit optimisme di sana. ada perjalanan baru dimulai, dan ada seseorang yang sudah lebih dulu melangkah di hadapan saya.

“yah, kalau menurutku sih, kamu boleh idealis, kerja keras, lakukan yang kamu bisa. tapi jangan lupa, sisakan ruang untuk kecewa. serahkan sisanya sama Tuhan.”

doakan saja, kata saya. nyengir. dia cuma nyengir sambil sekilas mengatakan ‘dasar’ ke arah saya.

kembali ke soal idealisme. bukan berarti saya jadi serba kaku atau tidak fleksibel juga sih. tapi untuk saat ini, saya kira seperti itu saja dulu. kecuali mungkin…

iya, memang ada ‘kecuali’ di sana. eh, lho, kok?

sebenarnya begini, sih. untuk saat ini, satu-satunya hal yang bisa membuat saya berubah pikiran barangkali cuma kalau mendadak ada tawaran pada Kantor Staf Kepresidenan pada bidang Teknologi Informasi, misalnya. barangkali kalau seperti demikian yang dilakukan di Gedung Putih[3] bisa dilakukan untuk Indonesia —mungkin pula dengan kode terbuka dan data terbuka— saya kira akan jadi panggilan yang menantang dan seru sekali.

kalau ada seperti demikian, yah, agaknya akan jadi tawaran yang sungguh berat untuk saya tolak. saya sendiri berkeyakinan bahwa ada sesuatu yang pada dasarnya bisa dilakukan, bahwa kalau mau kita bisa, dan bahwa Indonesia punya lebih dari cukup modal untuk meraih itu semua.

tapi itu juga kalau ada yang menawarkan sih. lagipula geer amat sih saya. hehe.

mungkin soal idealisme juga. buat saya, untuk Indonesia saya kira adalah hal yang berbeda. tapi saya kira itu cerita lain untuk saat ini.

 

___

[1] individu-individu yang bekerja untuk perusahaan tertentu, bisa kalangan sendiri atau pihak ketiga, untuk menyaring kandidat profesional yang dianggap cocok untuk mengisi kebutuhan spesifik terkait managerial atau spesialisasi khusus.

[2] secara teknis bukan kakak beneran juga sih, walaupun secara praktis demikianlah kenyataannya. ceritanya agak panjang, pernah ditulis juga di sini sekali dulu.

[3] The White House’s Alpha Geeks [→] artikel menarik tentang wawancara CTO dan technical advisor di Gedung Putih. penugasan tim di sana meliputi implementasi teknologi sebagai jembatan lintas-disiplin untuk berbagai kebutuhan sektor publik di Amerika Serikat.

[4] image credits:

to kill a …

“how do you kill a good guy? feed him prolonged, deafening silence until good’s very last end. it f**king works actually.”

girls only; bonus point when you are not his (traumatizing) first.