kutukan cuek dan peduli

konon katanya, saya ini orangnya cenderung cuek. saya sih setuju-setuju saja. sementara konon katanya lain lagi, pada dasarnya saya ini sungguh bukan tidak perhatian dengan keadaan orang lain. saya sih setuju… eh, tunggu. ini kenapa rasanya ada yang aneh, ya.

pokoknya kira-kira demikian. jadi sebenarnya saya ini makhluk apa, saya juga bingung.

tapi sudahlah, bukan itu inti masalahnya. masalahnya buat saya, cuma bahwa kadang ujung-ujung spektrum cuek-atau-perhatian ini bisa jadi membingungkan dan tak selamanya bisa nyaman. tentu saja kadang hal seperti ini bisa jadi pemicu situasi yang komikal betul, sementara di saat-saat lain… yah, bisa menjadi pemicu situasi yang tidak komikal betul.

makanya, jadi orang tuh jangan terlalu unik, eh, terlalu aneh. dasar bocah. nah sekarang bingung kan.


relevan: “emangnya siapa elu?”   :lol:

 

jadi, baiklah. buat saya, menavigasi batas antara cuek-dan-perhatian dalam hubungan yang sifatnya personal seperti ini seringnya gampang-gampang susah. kenapa begitu, karena dalam konteks ini, ada saatnya hal-hal sederhana harus dipahami tanpa perlu diberitahu. mau cuek atau perhatian sih boleh-boleh saja, tapi kembali lagi, tetap saja ada hal-hal tak-selalu sederhana; kapan harus bertanya, kapan boleh mendengarkan. kapan harus keras kepala, kapan tidak perlu mencari tahu…

seandainya hal-hal seperti ini ada rumusnya.

di satu sisi, saya paham bahwa selamanya manusia saling membutuhkan dengan yang lain. teman, pasangan, kerabat, apapun itu. terlepas dari apakah pada satu waktu kita bersedia mengakuinya atau tidak, bersedia memberikan ruang atau tidak. saya paham bahwa itu sesuatu yang sifatnya prerogatif dan tidak bisa dilanggar dengan seenaknya. orangtua atau saudara, pasangan atau sahabat, siapapun itu.

di sisi lain, saya juga paham bahwa saya harus menghormati ruang privasi dan bahwa tidak selalu semua orang merasa nyaman dengan saya. bagaimanapun, bahwa niat baik tidak selamanya akan tersampaikan dengan baik, itu juga sesuatu yang mau tidak mau harus dipahami. entah nyaman atau tidaknya, bagaimanapun tetap; siapa anda, siapa saya, batas-batas itu akan selalu ada.

seberapapun leluasa atau sempitnya batas yang diizinkan itu. dengan segala kenyamanan atau kekurangnyamanan yang melingkupinya.

sehingga saya juga seharusnya paham, bahwa ketika ada saatnya tidak selalu orang lain itu nyaman dengan kepikiran atau kekuatiran atau barangkali kebaikan yang kita inginkan, seharusnya ya sudah. bukankah ada waktu tepat untuk segala sesuatu; demikian ada waktu untuk merobek, ada waktu untuk menjahit. ada waktu untuk diam, ada waktu untuk berkata-kata. kan begitu?

seharusnya. walaupun, entahlah.

mungkin akan lebih mudah seandainya saya bisa agak lebih cuek terhadap beberapa hal. mungkin. tapi, yah, sudahlah.

 

___

image credits:

  • karakter Hermione Granger dan Ron Weasley dari serial novel Harry Potter oleh J.K. Rowling
  • Harry Potter and Philosopher’s Stone (2001), adaptasi dalam bentuk film oleh Warner Bros

liburan yang tidak perlu melarikan diri

saya sedang nongkrong minum kopi di depan televisi pada hari Minggu pagi sementara adik saya menonton acara jalan-jalan di salah satu stasiun. ada hal menarik yang dikatakan seorang pembawa acara di akhir acara. redaksinya kira-kira sebagai berikut seingat saya, maklum masih rada ngantuk. namanya juga Minggu pagi. hehe.

“enggak enaknya dari liburan itu pada akhirnya waktu kita sudah harus pulang. waktunya kembali ke kehidupan. rutinitas, kantor, ketemu orang-orang lagi seperti biasa…”

saya ingat tadi saya berhenti menyeruput kopi dan memandang ke layar televisi. kemudian kepikiran, bahwa ungkapan demikian mungkin memang ada benarnya untuk sebagian banyak pemirsa. bahwa termasuk hal tidak enak dari liburan itu adalah ketika harus kembali ke berbagai tanggung jawab dan konsekuensi yang sudah menunggu di kehidupan nyata.

tapi apa iya harus seperti itu?

 

liburan, liburaaaaannn~! …lalu? 

 

saya sering menemukan pendapat bahwa pergi liburan —dalam konteks berwisata, maksudnya— cenderung dimaknai sebagai upaya eskapisme atau setidaknya dalam konteks ‘melarikan diri sejenak’. kalau sambil iseng kita coba perhatikan kata-kata yang umum dalam konteks tersebut, istilah seperti ‘getaway’ atau ‘escapade’, keduanya dalam bahasa Inggris, juga memiliki nuansa yang serupa.

bukan hal yang aneh juga. saya kira adalah kesepahaman umum bahwa pergi liburan bisa dianggap sebagai upaya melarikan diri atau setidaknya mengambil jarak serta menjauhkan diri.

tapi, dari apa?

kalau seperti itu, kesannya kok seolah kehidupan yang biasa kita tinggali rasanya demikian kurang pas, sampai-sampai harus ditinggal pergi dan ketika kembali juga rasanya tidak ingin benar. sebagiannya ini menjadi hal yang agak sulit saya pahami; bukan masalah pergi liburannya, tetapi justru ketika pulang dengan hati yang enggan itu jadi sesuatu yang seolah dianggap wajar.

seorang teman baik saya pernah mengatakan bahwa hal menyenangkan itu kalau kita bisa pergi liburan ke tempat yang menyenangkan, dan ketika kembali pun kita berada di rutinitas yang sama menyenangkannya. apakah kita bekerja sebagai pengelola restoran atau karyawan kantoran, atau pegawai negeri maupun bisnis sendiri. tentu saja ini bukan hal yang mudah dilakukan, karena kalau demikian tentu dunia sekitar kita sudah menjadi tempat yang lebih baik dan cerah ceria. tapi baiklah, itu cerita lain untuk saat ini.

 

kembali ke acara televisi Minggu pagi. mendengar kata-kata tersebut jadi semacam menyalakan lampu di kepala saya: mungkin itu juga alasan kenapa saya tidak benar-benar sering memerlukan untuk banyak pergi berlibur.

karena, ya, saya sendiri tidak merasa ada sesuatu yang benar-benar ingin saya tinggalkan dari kehidupan dan kesibukan berikut semua tanggung jawab sekarang ini. jadi keinginan untuk pergi dan meninggalkan sejenak itu tidak benar-benar besar juga. walaupun bahwa pada dasarnya proses ganti suasana dari waktu ke waktu itu tetap merupakan hal yang perlu, saya sendiri tidak menafikan soal itu.

pada saatnya nanti mungkin saya akan pergi liburan lagi. belum tahu, belum ada rencana juga sih.

tapi kalau kita bisa pergi dengan senang, liburan dengan tenang, dan ketika pulang kita kembali siap untuk sesuatu yang kita karyakan, bukankah akan lebih menyenangkan, ya.

saya kira demikian. walaupun mungkin memang tidak semua bisa seberuntung itu.

 

___

image notes:

Gili Air, 2014. [→high resolution] · Nikon D5100 @ 18 mm; ISO-200, F/11, 1/500 s.
bebas pakai dengan lisensi Creative Commons, CC-BY-SA.

three years ago today

ed. note: today I stumbled upon an old note I wrote elsewhere on FB three years ago. it was in a hard day’s night with someone I remember. not exactly tender moments I’d say, but for sure it’s not something I have forgotten.

Feb 22, 2012, 8:50 PM. thanks to Timehop.

I ended up going to the office after calling half-day sick leave. not sure if it was a good decision I made — hours later it was past seven already. post-meridiem.

“sure, ” I said. “everyone likes to have everything ‘by today’. thanks.”

as it was there was an unusual choke around my throat. then again why should I care?

“after all not many people are concerned with how I feel or if I’m happy anyway.” I continued. “with the situations, lesson learned to me.”

“gosh, you made me feel that I’m heartless about it! but fine, it’s okay. it’s a good reminder to me. sorry, but stay strong. many people, also the selfish, whatever, rely on you.”

“…”

“FYI. I do have concern about it.”

a trembled voice after a prolonged silence. that was what she said. that was all for today. over and out.

looking back, the two of us have come a long way ever since. I’d like to think things have been for the better.

tentang tantangan tentang tautan

jadi ceritanya, saya bosan. belakangan ini rasa-rasanya linimasa dan media sosial atau apapun internet yang kebetulan saya jelajahi isinya membosankan benar. bukan karena sepi, tentu saja —kapan sih internet sepi? dasar gemblung— melainkan karena berisiknya kadang keterlaluan benar.

iya, terlalu berisik. dari hal tak penting semacam pakcik Prince di acara Grammy sampai hal tak penting lain macam polemik hari kasih sayang yang dituduhkan berasal dari tradisi agama tetangga… yang ternyata kalau diurut sejarahnya malah semacam apokrifa. makanya, ngaji agama sendiri, apalagi agama orang lain, jangan cuma lewat internet sama televisi. jadinya malah gemblung, kan.

aduh. pening awak. tapi kemudian terlintas ide. sebuah tantangan kecil-kecilan, atau minimal pengingat buat kita semua:

“bagaimana kalau kita membagi-tautan, atau sharing di media sosial, hanya untuk konten, atau opini, atau tulisan, yang kita buat sendiri?”

betul itu. saya kira menarik. jadi sekiranya ada topik yang sedang hangat (atau panas!) tak perlulah kita tergesa terburu demi berbagi cuit dan tautan pada berbagai linimasa. setidaknya sempatkan tuliskan barang 200-300 kata, opini serius atau jenaka, masukkan ke laman blog misalnya. tambahan pula tautan balik ke sumber, ibarat kata dimasak dulu lebih renyah, begitulah kira-kira.

tapi kemudian terpikir kembali: memangnya pada mau? lagipula, memangnya pada bisa?

 

[fang-hahaha]

“jadi, kalian tak nak buat tulisan sendiri? tak mampu? hahahahaha!”

 

sejujurnya, setelah kepikiran seperti itu kok saya malah jadi pesimis. bukan kenapa-kenapa, karena —maaf-maaf ini— sejujurnya saya ternyata tidak bisa memandang generasi pengguna media sosial belakangan ini sehebat itu. maksud saya, saya kok tidak bisa yakin bahwa cukup banyak yang bisa, mau, dan mampu untuk membagi sesuatu yang minimal hasil pikiran sendiri, hasil analisis sendiri, padahal toh ide dan sumbernya juga sudah tersedia.

iya, rasanya kok susah. walaupun sebenarnya seharusnya tidak berat benar: misalnya kita baca artikel bahwa pak presiden punya kebijakan mobil nasional yang layak dipertanyakan, mbok ya ditautkan saja dari media yang kredibel, kemudian buat tulisan singkat opini kita. berikan referensi balik ke sumber, baru kita bagi tautan di media sosial, misalnya.

jadi opininya bernas! lebih matang! dan tidak semata-mata kerbau dicucuk hidung joget-joget mengikuti apa kata media!

kalau seperti itu kan gampang. seharusnya.

tapi baiklah, saya kira saya harus tahu diri juga. saya juga harus bisa memahami bahwa tidak semua orang bisa, mau, dan mampu meluangkan waktu buat pekerjaan yang kelihatannya sederhana. saya kira itu sudah hukum alam. tentu saja demikian; kalau tidak, tentulah kaos kaki di seluruh dunia akan harum baunya, demikian juga piring-piring kotor tidak akan pernah tertumpuk di atas meja dan ibu-ibu rumah tangga akan selalu cerah ceria tersenyum berbahagia.

dengan demikian seperti biasa, kenyataan mengembalikan saya pada kata ‘seharusnya’. huh.

walaupun, ya, di sisi lain semacam penasaran juga sih. mungkin sekiranya rekan-rekan ada yang tertarik dengan tantangan ini. silakan dicoba dan diaplikasikan…

…kalau bisa, mau, dan mampu sih. haha!

 

___

image credits:

angkutan kota (di balik lima ribu rupiah saja)

“jangan biarkan orang baik gampang berbuat dosa, dek.”

_

saya adalah pengguna transportasi umum, dan saya merasa baik-baik saja dengan keadaan tersebut. sisi bagusnya setidaknya hal tersebut terjadi karena pilihan alih-alih keadaan —ngomong-ngomong saya sendiri tidak punya rencana mencicil mobil dalam waktu dekat— demikian juga bukan berarti saya jadi tidak pernah atau tidak biasa pergi dengan kendaraan pribadi.

sementara di sisi lain, saya kira mudah juga untuk merutuk-rutuk soal idealisme dan kenyataan bahwa agaknya semua orang ingin kota yang tidak macet dan jalanan lancar… walaupun apakah semua punya niat dan tekad untuk tidak sebatas ‘ingin’, yah, soal itu saya serahkan saja ke pembaca. baiknya kan tidak asal menghakimi, lagipula siapa sih saya.

baiklah, kembali ke lap— judul, terus apa hubungannya transportasi umum dengan selembar lima ribu rupiah?

gampang atuh, itu kan ongkos angkutan kota saya pulang ke rumah. hehe.

 

limaribu-rupiah

dulu bisa mengantar pulang. terus nggak bisa. terus bisa lagi. begini ceritanya.

 

anda pembaca mungkin ingat, beberapa waktu yang lalu sempat terjadi kenaikan harga bahan bakar minyak. yang mempengaruhi besaran ongkos angkutan kota. yang kemudian harganya diturunkan kembali. dan diturunkan lagi… tapi agaknya tidak benar-benar mempengaruhi turunnya ongkos yang harus dibayarkan pengguna angkutan kota.

lho kok bisa begitu? tanya kenapa.

padahal logikanya kan begini: sebelum harga bensin naik, ongkos saya lima ribu rupiah. setelah harga bensin naik, ongkos saya naik. setelah harga bensin kembali ke level sebelumnya, ongkos saya…

seharusnya. kembali. ke. lima. ribu. rupiah. kan begitu?

baiklah, beberapa pembaca mungkin akan mulai berpikir bahwa saya adalah kelas menengah ngehe[1] yang memasalahkan satu-dua ribu rupiah demi mereka yang —kalau bisa disebut seperti itu— adalah ‘wong cilik’. orang kecil[2]. bahwa seharusnya saya dengan ringan hati membantu mereka, baiknya saya bersedia membayar mahal karena kebetulan saya mungkin lebih berkecukupan.

seandainya sesederhana itu. tapi sayangnya tidak. karena buat saya, ada sesuatu yang mendalam di sini.

 

kopaja-doaibu

saya mengasumsikan ibunya pak kopaja mendoakan anaknya bisa baik bahagia
alih-alih berubah jadi robot raksasa. sorry, can’t resist. →

 

ketika ongkos angkutan kota tidak mau turun, bukan cuma saya yang kena imbas. ada orang-orang lain, dari kelas sosial yang mungkin tidak seberuntung saya, yang juga terkena dampaknya. mas-mas yang kerja di pusat elektronik dan mengurus stok toko, atau ibu-ibu yang mengurusi administrasi dan akuntansi, demikian juga yang lain-lain sejenisnya. orang-orang yang, setiap hari perjalanannya, apabila ditambah dua-tiga ribu rupiah untuk bolak-balik, kelebihannya jadi tidak bisa digunakan untuk membeli lebih banyak sayur atau daging ayam dan barangkali susu bubuk.

sementara beban operasional angkutan kota pada dasarnya sudah kembali turun seiring dengan turunnya harga bahan bakar minyak.

saya percaya bahwa pada umumnya pak supir, kenek, dan juragan angkot adalah orang-orang yang setidaknya berusaha baik. pada umumnya lho ya. tapi dengan membiarkan ongkos tidak turun, ada semacam pembiaran di situ. pembiaran untuk berbuat zalim kepada orang-orang yang tidak selalu bisa, mau, dan ingin membela kebutuhan mereka sendiri. orang-orang biasa —seperti saya dan anda— yang mungkin memilih diam karena tidak ingin ribut, mungkin dengan sedikit takut, atau mungkin untuk alasan-alasan lain.

tapi ya apa bagus begitu, saya juga bertanya-tanya. bukankah dengan demikian keuntungan penyedia jasa dan angkutan —yang notabene tidak selalu jelas manajemennya— dialihkan ke beban pengguna umum. yang pada gilirannya akan teraniaya juga dengan beban biaya angkutan yang terakumulasi setiap hari sementara beban biaya tersebut seharusnya bisa lebih rendah.

 

landak-naikbalon

atau moda transportasi murah! landak, landak, naik balonn… #krik

 

‘jangan biarkan orang baik gampang berbuat dosa’. demikian pesan yang selalu saya ingat.

karena di balik tambahan dua-tiga ribu rupiah setiap harinya, ada upaya perbaikan kelas sosial yang menjadi lebih sulit untuk mereka yang mencoba bekerja baik dan jujur. karena ada sesuatu yang salah sekali kalau sampai lebih murah dan lebih efisien buat mereka yang pas-pasan untuk mencicil sepeda motor dan mengisi premium untuk transportasi sehari-hari. karena ketika semua orang ingin punya sepeda motor dan mobil sendiri, tidak ada yang untung dengan ruas-ruas jalan yang tak akan berkurang kemacetannya.

walaupun, sedihnya, agaknya keadaan di sekitar saya saat ini memang cenderung mengarah ke sana.

oleh karena itu, ketika perlu berurusan dengan angkutan kota di tempat saya, belakangan ini saya memutuskan untuk selalu membawa uang pas saja. lima ribu rupiah. kalaupun pak supir meminta lebih, saya katakan bahwa biasanya pun saya membayar sejumlah demikian untuk jarak yang serupa. apakah membantu juga bahwa saya termasuk warga yang sudah lewat dari dua puluh tahun lalu-lalang menggunakan angkutan kota di tempat saya, mungkin bisa jadi juga.

demikian juga ketika suatu saat, barangkali dalam salah satu perjalanan yang sesekali kita semua mengalami;

“kalau sampai ujung, ongkosnya berapa, dek?”

“saya sih biasanya lima ribu. tapi uang pas saja, bu. takutnya nggak ada kembalian.”

saya kira seperti itu.

tidak selalu harus semuanya dengan konfrontasi. walaupun mungkin sesekali perlu. di sisi lain kadang saya bertanya-tanya juga; ada tidak ya, sesuatu lain, yang lebih, yang bisa saya lakukan soal ini…

karena, bagaimana, ya. buat saya, soal transportasi dan angkutan kota ini memang bukan cuma soal dua, tiga, atau lima ribu rupiah saja.

 

 

___

[1] saya tidak suka argumen ini. ini argumen yang mungkin ingin terdengar cerdas, tapi sayangnya prematur dan punya sesat logika berupa straw man argument.

[2] kalau mau sama-sama jujur dan adil, argumentasi ‘wong cilik’ dan ‘kelas menengah ngehe’ ini sama-sama sesat logika ala straw man. kalau semua sama-sama mau benar, ya sulit.

[3] image credits:

tentang melankoli yang dibenci sabtu pagi

aku berangkat setelah shalat subuh tadi. kepalaku terasa berat, mungkin karena kurang tidur atau hal-hal lain. sepuluh menit jalan kaki aku sudah memasuki halte, dan kalau berangkat seperti ini kita tidak perlu menunggu lama untuk mendapatkan bus.

perjalanan panjang sendiri di pagi hari seringnya adalah tempat diri sendiri mengajak konfrontasi. hal-hal yang lewat, keinginan-keinginan, tujuan-tujuan dalam perjalanan yang lebih panjangnya.

hidup. perjalanan panjang.

bus berlalu dengan cepat di masing-masing halte, sesekali petugas menyebutkan transit dan arahan-arahan. tak beda, pikirku. sama hidup; semua sama pilihan-pilihan.

di tempat hati tak pergi, kita semua punya pilihan menanti. masing-masing dengan konsekuensi.

sekarang ini aku mulai terdengar semacam melankolis. menyebalkan. aku ingat dulu aku sempat benci setengah mati dianggap seperti ini. mungkin memang tidak salah juga. mungkin baiknya memang laki-laki tidak berteman baik dengan melankoli.

ah, kampret.

aku merasakan mataku panas. ini kenapa sih, bodoh banget.

“apa yang kamu inginkan, bocah?”

sebuah pertanyaan sederhana dari sisi bagian lain diriku.

“me, I want everything back. and more.”

jawaban jujur yang kukeluarkan dengan susah payah.

aku memandang ke luar jendela bus. tentang keinginan-keinginan, entah teraih atau tidaknya, entah muskil atau tidaknya.

tapi aku ingin, dan cukup itu sudah.

mungkin benar bahwa baiknya laki-laki memang tidak hidup dengan melankoli. kalau jatuh berdiri lagi, bersikap semua biasa sekali lagi, sambil sesekali mengebaskan luka entah di hati atau barangkali buku jari.

aku tahu itu.

walaupun, kampret, karena sungguh tidak semudah itu kadang-kadang.

bittersweet

“iiih, jadi inget waktu jaman dulu kita bikin proyek ini, proyek itu… masih inget nggak? do you still remember?”

“…how can I not?”

pekan-pekan lalu, tentang tahun-tahun lalu. how can I not, indeed.

2014

seperti biasa, akhir tahun adalah waktunya refleksi. apa-apa yang sudah lewat kan perlu kita review kembali, soalnya kalau tidak bisa-bisa kita cuma terpenjara dalam peristiwa-peristiwa. sebenarnya ada sih istilahnya, ‘prisoner of events’, tapi mungkin kapan-kapan saya menulis soal itu.

ngomong-ngomong, berhubung konon katanya saya ini berkarakter teknis-kontemplatif, jadi baiklah! secara singkat tahun 2014 buat saya sebagai berikut:

 

2014 in chart

kira-kira seperti ini. agaknya saya cuma keracunan spreadsheet. anggap saja tuntutan profesionalisme.

 

aduh. maaf. begini nih kalau semua-semua dibuat diagram, susah kan.

secara umum, ada beberapa aspek… tidak ada yang nilainya penuh, karena ya memang standarnya tinggi. maksud saya, nilai penuh di Personal, misalnya, cuma kalau saya sampai ketemu momen benar-benar bahagia sekali sampai meneteskan air mata haru (ceile), atau di Professional ketika semua target profesional saya terpenuhi tanpa cela, lengkap dengan pujian resmi dari tempat kerja (eh berima). sudah seharusnya memang susah, namanya juga nilai sempurna. nggak boleh protes!

 

#1: Personal

secara pribadi, 2014 bukan tahun yang sepenuhnya buruk. bukan berarti semua serba bahagia cerah ceria, tapi secara personal memang tahun ini cukup berwarna buat saya. ada yang manis, kadang asam, sedikit asin. dengan pertimbangan tersebut, agaknya cukup pantas kalau dianggap nilainya cukup di sekitar ekuilibrium saja.

major points:
senang melihat seseorang berhasil dan melompat lebih tinggi. goes to show that something I saw in her few years ago was indeed there.

minor points:
kekecewaan mendalam dan hubungan personal yang jadi… sedikit membingungkan. but we are working on it.

 

#2: Professional

ada beberapa target profesional tidak tercapai. sayang juga sebenarnya. di sisi lain, kalau tahun lalu saya punya resolusi soal ‘lebih strategis’, tahun ini bisa dianggap tercapai. rencana jangka panjang berjalan relatif baik. walaupun, ya, tidak sempurna, beberapa hal bisa lebih optimal, jadi tidak bisa nilai penuh.

major points:
setengah jalan sudah tercapai dalam perbaikan fondasi proses dan teamwork di tempat kerja. ada rencana dan harapan untuk bisa take off pada 2015.

minor points:
sempat mengalami periode konflik profesional terkait manajemen, walaupun akhirnya semua baik. sedikit ceritanya sempat saya tuliskan beberapa waktu lalu.

 

#3: Achievements

pencapaian saya tahun ini, apa ya? di luar konteks profesional, sepertinya tidak ada sesuatu yang benar-benar bisa dianggap sebagai raihan. mungkin akan menyenangkan kalau saya bisa menulis novel 400-500 halaman atau membuat konten viral seperti tetangga sebelah, misalnya.

major points:
professional achievement di tempat kerja. kerja keras yang diterima dengan baik itu selalu menyenangkan.

minor points:
tidak sempat mengeksekusi proyek yang sifatnya personal. bukannya saya ada ide yang hebat juga sih.

 

#4: Social

tahun ini, kehidupan sosial saya bisa dibilang tidak istimewa. sebagian mungkin terkait beberapa hal yang sifatnya pribadi dan keadaan yang tidak selalu mulus, sehingga ada saatnya saya cenderung menarik diri. beberapa rekan mungkin ada yang merasa bahwa saya cenderung menjauh dan jadi kepikiran, sungguh mohon maaf dan santai saja. cuma saya, bukan karena anda.

major points:
ketemu dan bertukar pikiran dengan teman-teman lama, masing-masing secara terpisah, dalam beberapa sesi tukar pikiran yang sungguh membuka sudut pandang.

minor points:
sempat mengalami periode menarik diri, baik dari media sosial maupun tatap muka.

 

#5: Leisure

baiklah, dengan lapang dada saya mengakui bahwa tahun ini saya mungkin kurang bersenang-senang. atau mungkin ada pergeseran makna ‘bersenang-senang’, entah juga. yang jelas budget saya tahun ini lebih banyak ke buku daripada travelling atau video game, misalnya.

major points:
sempat cuti dua pekan, melakukan perjalanan jauh ke tempat yang menyenangkan, juga meliputi proses menjauhkan diri dari telepon genggam dan akses internet dengan sukarela.

minor points:
sepertinya saya memang agak terlalu sibuk. atau mungkin memang tidak menganggap perlu rekreasi? saya sendiri juga bingung soal ini.

 

kira-kira demikianlah 2014 buat saya. banyak hal yang masih patut disyukuri soal itu, walaupun seperti biasa, akan selalu ada hal-hal yang bisa lebih baik.

setidaknya, sesuatu tidak sia-sia. kan begitu? ;)

tentang sama, tentang beda

“sudah tahu nggak bisa, kenapa masih diterusin?”
“bisa, kalau mau!”

_

hidup sebagai bagian dari budaya Indonesia, dengan segala kemajemukannya, sering menyimpan hal-hal kecil tidak terduga yang tidak selalu terpikirkan sampai kita berhadapan langsung dengannya.

seperti cabe rawit yang tergigit dalam piring nasi goreng, misalnya. atau jatuh cinta kepada gadis beda agama.

aduh.

 

BGM: love hurts~ love hurts~ love huuuurts~~ #plok

 

padahal, ya, kalau dipikir-pikir lagi, hal seperti sebenarnya semacam keniscayaan juga kalau kita hidup di Indonesia. contoh gampangnya, tetangga dekat rumah saya Manado-Kristen, di dekatnya lain Padang-Muslim, sementara anak-anak gadisnya sendiri tergolong… baiklah, tidak usah dibahas. belum lagi tetangga kelas sebelah, departemen sebelah… eh udah ah ini ngapain sih ngomongin tetangga. udah woy, udah.

begini. saya tidak ingin menulis tentang hal seperti ini dengan terpaku kepada dasar-dasar humanisme atau toleransi yang jamak pada media sosial belakangan ini. rasanya kurang adil juga kalau semua-semua hanya dari satu sisi. bagaimanapun, saya seorang muslim, dengan didikan yang —walaupun tidak sampai dikirim ke Kairo apalagi sampai ditaksir dua orang gadis semacam mbak Rianti dan mbak Carissa— setidaknya bukan kosong benar. hah, kalau saja saya bisa dapat beasiswa ke Kairo juga mungkin kaliber saya jadi cukup tinggi untuk jadi tokoh utama harem manga novel dakwah yang kelihatannya hebat benar, tapi baiklah, itu cerita lain untuk saat ini.

bicara soal hubung-hubungan antarumat beragama di Indonesia, dari dulu juga adalah hal yang gampang-gampang susah. dalam konteks kemasyarakatan, berhubungan baik antar anggota masyarakat, atau teman sekolah, atau rekan kerja yang berbeda keyakinan adalah hal yang memang pada dasarnya saling wajar dan kita semua saling membutuhkan.

lagipula, Bhinneka Tunggal Ika! berbeda-beda tetapi satu jua, kita mungkin berbeda tapi aku sayang kamu juga.

 


apalagi sekarang Natal. selamat merayakan Natal, kamu! 

 

masalahnya adalah ketika ranah hubungan sosial tetangga/sekolah/profesional ini beranjak ke tahap romansa, ini menjadi masalah yang berbeda. dan kompleks. repotnya pula kadang keadaan-keadaan yang ajaib ini malah menjauhkan yang satu agama lebih daripada mendekatkan yang berbeda keyakinan. kan susah.[1]

jadi, ya, saya paham bahwa hal seperti ini bukan sesuatu yang sepenuhnya sederhana.

“sebagai muslim, menikahi gadis ahli kitab bukan termasuk zina,” kata saya. “di masa sahabat dan Khulafaur Rasyidin[2] juga banyak yang seperti itu.”

“ya memang. tapi kamunya sendiri bisa nggak membimbing dan membawa dia syahadat?”

“aku nggak mau kayak begitu!”

waktu itu saya pikir, sedikitnya saya paham dasar-dasar hukum munakahat (= ‘pernikahan’), walaupun tidak sampai mendalam benar. tapi setidaknya saya kira-kira paham batas-batas mana yang masih dalam koridor.

walaupun memang ada sekat. kesadaran bahwa ada hal-hal yang pada dasarnya tidak sama benar. dan tidak bisa tidak, perbedaan itu akan selalu ada.

sementara hal seperti ini juga tidak bisa cuma dari satu sisi. ada banyak sisi, yang masing-masingnya juga tidak sederhana benar, dan mau tidak mau tidak bisa diabaikan juga.

demikian pula ada juga hal-hal yang juga tidak bisa disangkal: keluarga lama, calon keluarga baru, komunitas dan masyarakat, lengkap dengan berbagai sudut pandang dan penafsiran-penafsiran yang melingkupinya.

seorang rekan yang kebetulan juga tergolong ahli kitab[3] pernah menyodorkan sebuah pernyataan yang masih saya ingat dengan baik.

“sebagai Kristen, kalau seorang gadis ditanya, ‘bagaimana kamu akan bisa mencintai seseorang yang bahkan tidak mau mengenal Kristus?’ itu nggak sederhana.”

kemudian saya pikir, memang bukan hal yang sederhana. ada isu yang mendalam di sini. tentang iman, keberserahan, tentang ide-ide serupa namun dengan ketidakcocokan yang inheren.

“susah kalau beda. pengen bisa beribadah bareng. melayani Tuhan.”

demikian seorang rekan yang lain, seorang gadis sempat mengutarakan pemikiran yang lebih sederhana. dan, ya, apa yang bisa disangkal soal itu?

“waktu itu bapak bilang, ‘terserah kalau kamu mau lanjut. tapi bapak nggak bisa jadi wali buat kamu’. dia nggak kelihatan marah atau gimana, tapi ya memang susah, sih.”

demikian seorang gadis yang lain, kebetulan pernah menjalin hubungan cukup lama dengan pasangannya yang berbeda keyakinan. entah kenapa ketika mendengarnya saya membayangkan seorang ayah yang tidak bisa bersikap tidak setuju secara antagonis. mungkin dengan demikian sayang kepada anak gadisnya.

 

saya tidak akan mempertanyakan atau menggugat banyak hal sebagaimana banyak rekan-rekan lain yang masih senang berdebat di media sosial. misalnya bahwa penafsiran agama harus dikonstruksi ulang terhadap semangat zaman (saya tidak sepenuhnya setuju), atau bahwa agama mempersempit ruang gerak manusia dan menghasilkan kaum fanatik (ini pernyataan sama kurang masuk akalnya), atau bahwa konstruksi sosial masyarakat sekarang ini tidak masuk akal dan pada dasarnya orang-orang terlalu ikut campur atas hak individual (ide yang terlalu mentah untuk bisa saya terima).

kenyataannya isu seperti ini ada, dan valid. dan ini bukan cuma tentang keyakinan sebagai konsep spiritual.

 


kok jadi serius ya. baiklah, ini ada gambar kucing. biar santai. hehe.

 

jadi bagaimana?

seumur hidup saya (yang belum lama-lama amat ini), sejak kecil saya terbiasa dituntut membuat keputusan. dari soal ditanya ayah dan ibu tentang mau beli buah apa di swalayan sampai keputusan-keputusan setelah dewasa di tempat kerja, saya terbiasa untuk memutuskan dan menggunakan keputusan saya secara logis. maksudnya, kalau saya bilang ke ibu bahwa saya mau alpukat daripada pepaya, atau pilih dibelikan buku pengetahuan dua buah daripada komik satu eksemplar (karena dapatnya lebih banyak sih), itu kan keputusan juga.

di satu sisi, buat saya, spiritualitas adalah hal yang penting. demikian pentingnya sehingga buat saya ini adalah perjalanan yang sifatnya personal benar. bahwa saya sekarang ini adalah seorang muslim yang cukup taat, itu adalah konsekuensi dari spiritualitas yang menjadi pilihan saya. hal serupa juga berlaku untuk rekan-rekan yang lain, apapun keyakinan masing-masing. setiap kami punya perjalanan sendiri, dan tidak seorangpun berhak menuntut yang lain untuk bersedia dipilihkan jalan.

di sisi lain, dengan segala pengalaman tuntutan kepada saya untuk membuat keputusan-keputusan logis, ada satu hal yang tidak ingin saya korbankan benar. sehingga ketika ada saatnya saya memutuskan untuk mengikuti kata hati saya, dengan atau tanpa pertimbangan-pertimbangan logis yang menyertainya, saya tidak ingin tanggung-tanggung.

walaupun mungkin tidak mudah. atau mungkin malah susah. atau bahkan dengan segala komplikasinya. tapi memang, pada dasarnya ini sesuatu yang tidak pernah logis. tidak buat saya, tidak juga buat orang lain.

sesederhana dua kata yang tidak pernah terungkapkan:

“marry me.”

walaupun, ya, kadang ketika berjalan-jalan sendiri di pusat belanja, turun dari lift keluar tempat kerja dan melihat pohon Natal berkelip-kelip cantik, satu dan lain hal kemudian terpikir: “iya ya…”

agaknya akan selalu ada semacam keinginan yang tidak rela benar. tapi entahlah, mungkin saya cuma agak terlalu keras kepala.

 

 

___

footnote:

[1] ini sering jadi argumen ateisme modern bahwa agama tidak dibutuhkan dalam kehidupan bermasyarakat. saya tidak pernah setuju, tapi saya juga tidak tertarik debat kusir dengan dengan pemula yang baru belajar dari Dawkins atau Sagan. tambah ilmu dulu sana. :mrgreen:

[2] periode awal kepemimpinan muslim setelah Muhammad, sekitar abad ke-7 Masehi; secara berturut-turut Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib.

[3] dalam terminologi Islam, ‘ahli kitab’ adalah sebutan untuk penganut lain dari rumpun agama Abrahamik; Isa/Yesus dengan Alkitab, Musa/Moses dengan Taurat, keturunan penganutnya dikenal sebagai ahli kitab.

[4] image credits:

hbr 10: on leadership

saya pertama kali menemukan buku ini di selasar toko buku impor kira-kira setahun lalu. pada saat itu saya sudah mengenal Harvard Business Review (= ‘HBR’) sebagai referensi yang bisa diandalkan terutama dalam konteks terkait kepemimpinan dan manajemen sebagai profesional, jadi kira-kira saya sudah tahu seperti apa standar yang bisa diharapkan dari publikasi sekelas buku ini.

ngomong-ngomong, beberapa pembaca mungkin sempat memperhatikan bahwa buku ini termasuk dalam daftar yang sempat saya tuliskan beberapa waktu lalu. nah, tulisan ini adalah review buku tersebut secara lebih lengkap dan mendalam.

 

HBR 10: On Leadership

 

HBR 10: On Leadership (judul lengkap: HBR’s 10 Must Reads: On Leadership) adalah sebuah buku berisi kompilasi 10 tulisan terbaik dari Harvard Business Review dalam topik terkait kepemimpinan dan manajemen. tentu saja dengan demikian buku ini memang bukan untuk semua orang, meskipun tidak berarti bahwa buku ini jadi sepenuhnya tidak bisa dipahami umum.

secara teknis, buku ini dibuat dalam format kompilasi esai, masing-masingnya ditulis oleh individu atau tim yang bekerja pada lembaga riset atau pendidikan tinggi. sebagai penunjang untuk memudahkan navigasi, masing-masing esai disajikan dengan lampiran konsep ringkasan berupa abstraksi umum (= ‘Idea In Brief’) dan penunjuk teknis (= ‘Idea In Practice’). masing-masing penanda bisa digunakan untuk referensi-cepat, dan sesuai judulnya, buku ini terdiri atas 10 esai yang dapat dibaca secara independen sehingga tidak harus diselesaikan secara berurutan pada satu waktu.

ide-ide dalam buku ini mungkin bisa disebut sebagai… apa ya? mungkin bisa dianggap semacam menjungkirbalikkan paradigma terkait konsep kepemimpinan dan manajemen secara umum. sebagai contoh, salah satu esai tulisan Daniel Goleman meninjau kembali pertanyaan klasik: apakah pemimpin —leader— itu dilahirkan atau dibentuk? diskusi terhadap pertanyaan tersebut kemudian dipaparkan dengan analisis dan data penelitian yang ternyata tidak selalu sesederhana asumsi yang berlaku umum, menghasilkan sudut pandang dan insight yang bernas dan kadang tidak terduga. demikian juga esai-esai lain dari berbagai kontributor, masing-masing dengan kelasnya yang juga tak kurang memprovokasi sudut pandang.

kelebihan lain buku ini adalah pada pendekatannya yang berbasis riset lintas bidang, khususnya terkait manajemen bisnis dan psikologi. selain Goleman, anda yang mempelajari manajemen secara khusus tentu tak asing dengan nama-nama seperti Peter F. Drucker atau John P. Kotter, misalnya. secara umum para kontributor dalam buku ini memang memiliki kualifikasi yang pada dasarnya setara, masing-masing dengan analisis yang tajam dan mendalam sesuai topik yang menjadi ruang lingkup masing-masing.

kalaupun ada kekurangan —kalau bisa dianggap seperti itu— saya kira relatif pada kenyataan bahwa sejauh ini belum ada penerbit lokal yang menerjemahkan buku ini. di sisi lain saya kira hal ini juga berhubung buku seperti ini tipe yang tergolong niche, sehingga jalur distribusinya relatif terbatas kepada toko buku impor atau setidaknya memesan secara online. jadinya memang agak lebih repot, demikian juga harganya jadi tidak bisa benar-benar dianggap murah.

dengan segala catatan tersebut, saya sendiri menganggap hal tersebut masih sangat sebanding dengan isi dan kualitas yang ditawarkan, secara khusus apabila anda kebetulan berkarir sebagai profesional pada first-line, mid-level, maupun top-level management di dunia kerja.

pada akhirnya, buku ini mendeskripsikan dirinya dengan kalimat singkat di sampul depan sebagai berikut:

“if you read nothing else on leadership, read these definitive articles from Harvard Business Review.”

saya sependapat. buku ini memang harta karun untuk mereka yang membutuhkannya.