tentang melankoli yang dibenci sabtu pagi

aku berangkat setelah shalat subuh tadi. kepalaku terasa berat, mungkin karena kurang tidur atau hal-hal lain. sepuluh menit jalan kaki aku sudah memasuki halte, dan kalau berangkat seperti ini kita tidak perlu menunggu lama untuk mendapatkan bus.

perjalanan panjang sendiri di pagi hari seringnya adalah tempat diri sendiri mengajak konfrontasi. hal-hal yang lewat, keinginan-keinginan, tujuan-tujuan dalam perjalanan yang lebih panjangnya.

hidup. perjalanan panjang.

bus berlalu dengan cepat di masing-masing halte, sesekali petugas menyebutkan transit dan arahan-arahan. tak beda, pikirku. sama hidup; semua sama pilihan-pilihan.

di tempat hati tak pergi, kita semua punya pilihan menanti. masing-masing dengan konsekuensi.

sekarang ini aku mulai terdengar semacam melankolis. menyebalkan. aku ingat dulu aku sempat benci setengah mati dianggap seperti ini. mungkin memang tidak salah juga. mungkin baiknya memang laki-laki tidak berteman baik dengan melankoli.

ah, kampret.

aku merasakan mataku panas. ini kenapa sih, bodoh banget.

“apa yang kamu inginkan, bocah?”

sebuah pertanyaan sederhana dari sisi bagian lain diriku.

“me, I want everything back. and more.”

jawaban jujur yang kukeluarkan dengan susah payah.

aku memandang ke luar jendela bus. tentang keinginan-keinginan, entah teraih atau tidaknya, entah muskil atau tidaknya.

tapi aku ingin, dan cukup itu sudah.

mungkin benar bahwa baiknya laki-laki memang tidak hidup dengan melankoli. kalau jatuh berdiri lagi, bersikap semua biasa sekali lagi, sambil sesekali mengebaskan luka entah di hati atau barangkali buku jari.

aku tahu itu.

walaupun, kampret, karena sungguh tidak semudah itu kadang-kadang.

bittersweet

“iiih, jadi inget waktu jaman dulu kita bikin proyek ini, proyek itu… masih inget nggak? do you still remember?”

“…how can I not?”

pekan-pekan lalu, tentang tahun-tahun lalu. how can I not, indeed.

2014

seperti biasa, akhir tahun adalah waktunya refleksi. apa-apa yang sudah lewat kan perlu kita review kembali, soalnya kalau tidak bisa-bisa kita cuma terpenjara dalam peristiwa-peristiwa. sebenarnya ada sih istilahnya, ‘prisoner of events’, tapi mungkin kapan-kapan saya menulis soal itu.

ngomong-ngomong, berhubung konon katanya saya ini berkarakter teknis-kontemplatif, jadi baiklah! secara singkat tahun 2014 buat saya sebagai berikut:

 

2014 in chart

kira-kira seperti ini. agaknya saya cuma keracunan spreadsheet. anggap saja tuntutan profesionalisme.

 

aduh. maaf. begini nih kalau semua-semua dibuat diagram, susah kan.

secara umum, ada beberapa aspek… tidak ada yang nilainya penuh, karena ya memang standarnya tinggi. maksud saya, nilai penuh di Personal, misalnya, cuma kalau saya sampai ketemu momen benar-benar bahagia sekali sampai meneteskan air mata haru (ceile), atau di Professional ketika semua target profesional saya terpenuhi tanpa cela, lengkap dengan pujian resmi dari tempat kerja (eh berima). sudah seharusnya memang susah, namanya juga nilai sempurna. nggak boleh protes!

 

#1: Personal

secara pribadi, 2014 bukan tahun yang sepenuhnya buruk. bukan berarti semua serba bahagia cerah ceria, tapi secara personal memang tahun ini cukup berwarna buat saya. ada yang manis, kadang asam, sedikit asin. dengan pertimbangan tersebut, agaknya cukup pantas kalau dianggap nilainya cukup di sekitar ekuilibrium saja.

major points:
senang melihat seseorang berhasil dan melompat lebih tinggi. goes to show that something I saw in her few years ago was indeed there.

minor points:
kekecewaan mendalam dan hubungan personal yang jadi… sedikit membingungkan. but we are working on it.

 

#2: Professional

ada beberapa target profesional tidak tercapai. sayang juga sebenarnya. di sisi lain, kalau tahun lalu saya punya resolusi soal ‘lebih strategis’, tahun ini bisa dianggap tercapai. rencana jangka panjang berjalan relatif baik. walaupun, ya, tidak sempurna, beberapa hal bisa lebih optimal, jadi tidak bisa nilai penuh.

major points:
setengah jalan sudah tercapai dalam perbaikan fondasi proses dan teamwork di tempat kerja. ada rencana dan harapan untuk bisa take off pada 2015.

minor points:
sempat mengalami periode konflik profesional terkait manajemen, walaupun akhirnya semua baik. sedikit ceritanya sempat saya tuliskan beberapa waktu lalu.

 

#3: Achievements

pencapaian saya tahun ini, apa ya? di luar konteks profesional, sepertinya tidak ada sesuatu yang benar-benar bisa dianggap sebagai raihan. mungkin akan menyenangkan kalau saya bisa menulis novel 400-500 halaman atau membuat konten viral seperti tetangga sebelah, misalnya.

major points:
professional achievement di tempat kerja. kerja keras yang diterima dengan baik itu selalu menyenangkan.

minor points:
tidak sempat mengeksekusi proyek yang sifatnya personal. bukannya saya ada ide yang hebat juga sih.

 

#4: Social

tahun ini, kehidupan sosial saya bisa dibilang tidak istimewa. sebagian mungkin terkait beberapa hal yang sifatnya pribadi dan keadaan yang tidak selalu mulus, sehingga ada saatnya saya cenderung menarik diri. beberapa rekan mungkin ada yang merasa bahwa saya cenderung menjauh dan jadi kepikiran, sungguh mohon maaf dan santai saja. cuma saya, bukan karena anda.

major points:
ketemu dan bertukar pikiran dengan teman-teman lama, masing-masing secara terpisah, dalam beberapa sesi tukar pikiran yang sungguh membuka sudut pandang.

minor points:
sempat mengalami periode menarik diri, baik dari media sosial maupun tatap muka.

 

#5: Leisure

baiklah, dengan lapang dada saya mengakui bahwa tahun ini saya mungkin kurang bersenang-senang. atau mungkin ada pergeseran makna ‘bersenang-senang’, entah juga. yang jelas budget saya tahun ini lebih banyak ke buku daripada travelling atau video game, misalnya.

major points:
sempat cuti dua pekan, melakukan perjalanan jauh ke tempat yang menyenangkan, juga meliputi proses menjauhkan diri dari telepon genggam dan akses internet dengan sukarela.

minor points:
sepertinya saya memang agak terlalu sibuk. atau mungkin memang tidak menganggap perlu rekreasi? saya sendiri juga bingung soal ini.

 

kira-kira demikianlah 2014 buat saya. banyak hal yang masih patut disyukuri soal itu, walaupun seperti biasa, akan selalu ada hal-hal yang bisa lebih baik.

setidaknya, sesuatu tidak sia-sia. kan begitu? ;)

tentang sama, tentang beda

“sudah tahu nggak bisa, kenapa masih diterusin?”
“bisa, kalau mau!”

___

hidup sebagai bagian dari budaya Indonesia, dengan segala kemajemukannya, sering menyimpan hal-hal kecil tidak terduga yang tidak selalu terpikirkan sampai kita berhadapan langsung dengannya.

seperti cabe rawit yang tergigit dalam piring nasi goreng, misalnya. atau jatuh cinta kepada gadis beda agama.

aduh.

 

BGM: love hurts~ love hurts~ love huuuurts~~ #plok

 

padahal, ya, kalau dipikir-pikir lagi, hal seperti sebenarnya semacam keniscayaan juga kalau kita hidup di Indonesia. contoh gampangnya, tetangga dekat rumah saya Manado-Kristen, di dekatnya lain Padang-Muslim, sementara anak-anak gadisnya sendiri tergolong… baiklah, tidak usah dibahas. belum lagi tetangga kelas sebelah, departemen sebelah… eh udah ah ini ngapain sih ngomongin tetangga. udah woy, udah.

begini. saya tidak ingin menulis tentang hal seperti ini dengan terpaku kepada dasar-dasar humanisme atau toleransi yang jamak pada media sosial belakangan ini. rasanya kurang adil juga kalau semua-semua hanya dari satu sisi. bagaimanapun, saya seorang muslim, dengan didikan yang —walaupun tidak sampai dikirim ke Kairo apalagi sampai ditaksir dua orang gadis semacam mbak Rianti dan mbak Carissa— setidaknya bukan kosong benar. hah, kalau saja saya bisa dapat beasiswa ke Kairo juga mungkin kaliber saya jadi cukup tinggi untuk jadi tokoh utama harem manga novel dakwah yang kelihatannya hebat benar, tapi baiklah, itu cerita lain untuk saat ini.

bicara soal hubung-hubungan antarumat beragama di Indonesia, dari dulu juga adalah hal yang gampang-gampang susah. dalam konteks kemasyarakatan, berhubungan baik antar anggota masyarakat, atau teman sekolah, atau rekan kerja yang berbeda keyakinan adalah hal yang memang pada dasarnya saling wajar dan kita semua saling membutuhkan.

lagipula, Bhinneka Tunggal Ika! berbeda-beda tetapi satu jua, kita mungkin berbeda tapi aku sayang kamu juga.

 


apalagi sekarang Natal. selamat merayakan Natal, kamu! 

 

masalahnya adalah ketika ranah hubungan sosial tetangga/sekolah/profesional ini beranjak ke tahap romansa, ini menjadi masalah yang berbeda. dan kompleks. repotnya pula kadang keadaan-keadaan yang ajaib ini malah menjauhkan yang satu agama lebih daripada mendekatkan yang berbeda keyakinan. kan susah.[1]

jadi, ya, saya paham bahwa hal seperti ini bukan sesuatu yang sepenuhnya sederhana.

“sebagai muslim, menikahi gadis ahli kitab bukan termasuk zina,” kata saya. “di masa sahabat dan Khulafaur Rasyidin[2] juga banyak yang seperti itu.”

“ya memang. tapi kamunya sendiri bisa nggak membimbing dan membawa dia syahadat?”

“aku nggak mau kayak begitu!”

waktu itu saya pikir, sedikitnya saya paham dasar-dasar hukum munakahat (= ‘pernikahan’), walaupun tidak sampai mendalam benar. tapi setidaknya saya kira-kira paham batas-batas mana yang masih dalam koridor.

walaupun memang ada sekat. kesadaran bahwa ada hal-hal yang pada dasarnya tidak sama benar. dan tidak bisa tidak, perbedaan itu akan selalu ada.

sementara hal seperti ini juga tidak bisa cuma dari satu sisi. ada banyak sisi, yang masing-masingnya juga tidak sederhana benar, dan mau tidak mau tidak bisa diabaikan juga.

demikian pula ada juga hal-hal yang juga tidak bisa disangkal: keluarga lama, calon keluarga baru, komunitas dan masyarakat, lengkap dengan berbagai sudut pandang dan penafsiran-penafsiran yang melingkupinya.

seorang rekan yang kebetulan juga tergolong ahli kitab[3] pernah menyodorkan sebuah pernyataan yang masih saya ingat dengan baik.

“sebagai Kristen, kalau seorang gadis ditanya, ‘bagaimana kamu akan bisa mencintai seseorang yang bahkan tidak mau mengenal Kristus?’ itu nggak sederhana.”

kemudian saya pikir, memang bukan hal yang sederhana. ada isu yang mendalam di sini. tentang iman, keberserahan, tentang ide-ide serupa namun dengan ketidakcocokan yang inheren.

“susah kalau beda. pengen bisa beribadah bareng. melayani Tuhan.”

demikian seorang rekan yang lain, seorang gadis sempat mengutarakan pemikiran yang lebih sederhana. dan, ya, apa yang bisa disangkal soal itu?

“waktu itu bapak bilang, ‘terserah kalau kamu mau lanjut. tapi bapak nggak bisa jadi wali buat kamu’. dia nggak kelihatan marah atau gimana, tapi ya memang susah, sih.”

demikian seorang gadis yang lain, kebetulan pernah menjalin hubungan cukup lama dengan pasangannya yang berbeda keyakinan. entah kenapa ketika mendengarnya saya membayangkan seorang ayah yang tidak bisa bersikap tidak setuju secara antagonis. mungkin dengan demikian sayang kepada anak gadisnya.

 

saya tidak akan mempertanyakan atau menggugat banyak hal sebagaimana banyak rekan-rekan lain yang masih senang berdebat di media sosial. misalnya bahwa penafsiran agama harus dikonstruksi ulang terhadap semangat zaman (saya tidak sepenuhnya setuju), atau bahwa agama mempersempit ruang gerak manusia dan menghasilkan kaum fanatik (ini pernyataan sama kurang masuk akalnya), atau bahwa konstruksi sosial masyarakat sekarang ini tidak masuk akal dan pada dasarnya orang-orang terlalu ikut campur atas hak individual (ide yang terlalu mentah untuk bisa saya terima).

kenyataannya isu seperti ini ada, dan valid. dan ini bukan cuma tentang keyakinan sebagai konsep spiritual.

 


kok jadi serius ya. baiklah, ini ada gambar kucing. biar santai. hehe.

 

jadi bagaimana?

seumur hidup saya (yang belum lama-lama amat ini), sejak kecil saya terbiasa dituntut membuat keputusan. dari soal ditanya ayah dan ibu tentang mau beli buah apa di swalayan sampai keputusan-keputusan setelah dewasa di tempat kerja, saya terbiasa untuk memutuskan dan menggunakan keputusan saya secara logis. maksudnya, kalau saya bilang ke ibu bahwa saya mau alpukat daripada pepaya, atau pilih dibelikan buku pengetahuan dua buah daripada komik satu eksemplar (karena dapatnya lebih banyak sih), itu kan keputusan juga.

di satu sisi, buat saya, spiritualitas adalah hal yang penting. demikian pentingnya sehingga buat saya ini adalah perjalanan yang sifatnya personal benar. bahwa saya sekarang ini adalah seorang muslim yang cukup taat, itu adalah konsekuensi dari spiritualitas yang menjadi pilihan saya. hal serupa juga berlaku untuk rekan-rekan yang lain, apapun keyakinan masing-masing. setiap kami punya perjalanan sendiri, dan tidak seorangpun berhak menuntut yang lain untuk bersedia dipilihkan jalan.

di sisi lain, dengan segala pengalaman tuntutan kepada saya untuk membuat keputusan-keputusan logis, ada satu hal yang tidak ingin saya korbankan benar. sehingga ketika ada saatnya saya memutuskan untuk mengikuti kata hati saya, dengan atau tanpa pertimbangan-pertimbangan logis yang menyertainya, saya tidak ingin tanggung-tanggung.

walaupun mungkin tidak mudah. atau mungkin malah susah. atau bahkan dengan segala komplikasinya. tapi memang, pada dasarnya ini sesuatu yang tidak pernah logis. tidak buat saya, tidak juga buat orang lain.

sesederhana dua kata yang tidak pernah terungkapkan:

“marry me.”

walaupun, ya, kadang ketika berjalan-jalan sendiri di pusat belanja, turun dari lift keluar tempat kerja dan melihat pohon Natal berkelip-kelip cantik, satu dan lain hal kemudian terpikir: “iya ya…”

agaknya akan selalu ada semacam keinginan yang tidak rela benar. tapi entahlah, mungkin saya cuma agak terlalu keras kepala.

 

 

___

footnote:

[1] ini sering jadi argumen ateisme modern bahwa agama tidak dibutuhkan dalam kehidupan bermasyarakat. saya tidak pernah setuju, tapi saya juga tidak tertarik debat kusir dengan dengan pemula yang baru belajar dari Dawkins atau Sagan. tambah ilmu dulu sana. :mrgreen:

[2] periode awal kepemimpinan muslim setelah Muhammad, sekitar abad ke-7 Masehi; secara berturut-turut Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib.

[3] dalam terminologi Islam, ‘ahli kitab’ adalah sebutan untuk penganut lain dari rumpun agama Abrahamik; Isa/Yesus dengan Alkitab, Musa/Moses dengan Taurat, keturunan penganutnya dikenal sebagai ahli kitab.

[4] image credits:

hbr 10: on leadership

saya pertama kali menemukan buku ini di selasar toko buku impor kira-kira setahun lalu. pada saat itu saya sudah mengenal Harvard Business Review (= ‘HBR’) sebagai referensi yang bisa diandalkan terutama dalam konteks terkait kepemimpinan dan manajemen sebagai profesional, jadi kira-kira saya sudah tahu seperti apa standar yang bisa diharapkan dari publikasi sekelas buku ini.

ngomong-ngomong, beberapa pembaca mungkin sempat memperhatikan bahwa buku ini termasuk dalam daftar yang sempat saya tuliskan beberapa waktu lalu. nah, tulisan ini adalah review buku tersebut secara lebih lengkap dan mendalam.

 

HBR 10: On Leadership

 

HBR 10: On Leadership (judul lengkap: HBR’s 10 Must Reads: On Leadership) adalah sebuah buku berisi kompilasi 10 tulisan terbaik dari Harvard Business Review dalam topik terkait kepemimpinan dan manajemen. tentu saja dengan demikian buku ini memang bukan untuk semua orang, meskipun tidak berarti bahwa buku ini jadi sepenuhnya tidak bisa dipahami umum.

secara teknis, buku ini dibuat dalam format kompilasi esai, masing-masingnya ditulis oleh individu atau tim yang bekerja pada lembaga riset atau pendidikan tinggi. sebagai penunjang untuk memudahkan navigasi, masing-masing esai disajikan dengan lampiran konsep ringkasan berupa abstraksi umum (= ‘Idea In Brief’) dan penunjuk teknis (= ‘Idea In Practice’). masing-masing penanda bisa digunakan untuk referensi-cepat, dan sesuai judulnya, buku ini terdiri atas 10 esai yang dapat dibaca secara independen sehingga tidak harus diselesaikan secara berurutan pada satu waktu.

ide-ide dalam buku ini mungkin bisa disebut sebagai… apa ya? mungkin bisa dianggap semacam menjungkirbalikkan paradigma terkait konsep kepemimpinan dan manajemen secara umum. sebagai contoh, salah satu esai tulisan Daniel Goleman meninjau kembali pertanyaan klasik: apakah pemimpin —leader— itu dilahirkan atau dibentuk? diskusi terhadap pertanyaan tersebut kemudian dipaparkan dengan analisis dan data penelitian yang ternyata tidak selalu sesederhana asumsi yang berlaku umum, menghasilkan sudut pandang dan insight yang bernas dan kadang tidak terduga. demikian juga esai-esai lain dari berbagai kontributor, masing-masing dengan kelasnya yang juga tak kurang memprovokasi sudut pandang.

kelebihan lain buku ini adalah pada pendekatannya yang berbasis riset lintas bidang, khususnya terkait manajemen bisnis dan psikologi. selain Goleman, anda yang mempelajari manajemen secara khusus tentu tak asing dengan nama-nama seperti Peter F. Drucker atau John P. Kotter, misalnya. secara umum para kontributor dalam buku ini memang memiliki kualifikasi yang pada dasarnya setara, masing-masing dengan analisis yang tajam dan mendalam sesuai topik yang menjadi ruang lingkup masing-masing.

kalaupun ada kekurangan —kalau bisa dianggap seperti itu— saya kira relatif pada kenyataan bahwa sejauh ini belum ada penerbit lokal yang menerjemahkan buku ini. di sisi lain saya kira hal ini juga berhubung buku seperti ini tipe yang tergolong niche, sehingga jalur distribusinya relatif terbatas kepada toko buku impor atau setidaknya memesan secara online. jadinya memang agak lebih repot, demikian juga harganya jadi tidak bisa benar-benar dianggap murah.

dengan segala catatan tersebut, saya sendiri menganggap hal tersebut masih sangat sebanding dengan isi dan kualitas yang ditawarkan, secara khusus apabila anda kebetulan berkarir sebagai profesional pada first-line, mid-level, maupun top-level management di dunia kerja.

pada akhirnya, buku ini mendeskripsikan dirinya dengan kalimat singkat di sampul depan sebagai berikut:

“if you read nothing else on leadership, read these definitive articles from Harvard Business Review.”

saya sependapat. buku ini memang harta karun untuk mereka yang membutuhkannya.

deja vu

/ 14:00 (FRI)

 

“intinya sih, dia tidak senang. dan cukup keras, kalau bukan keras banget.”

demikian seorang manager departemen tetangga mengatakannya kepadaku —seorang laki-laki muda, usianya tiga-empat tahun di atasku dan sudah berkeluarga— pada siang hari di lantai sekian-puluh dari salah satu gedung tinggi di daerah sibuk perkantoran tengah kota.

pada saat itu aku kira-kira sudah mendapatkan gambarannya: seorang direksi pada manajemen puncak perusahaan menyatakan ketidaksenangannya secara blak-blakan dalam sebuah rapat yang tidak kuketahui keberadaan waktu dan tempatnya. secara singkat pada dasarnya sebagai berikut: ada keputusan-keputusan yang kuambil, ada keinginan-keinginan yang beliau harapkan, dan perbedaan antara keduanya pada akhirnya menghasilkan ketidakpuasan yang diungkapkan secara keras dan tidak ditahan-tahan.

masalah kecilnya, yah, cuma bahwa ada nama, keputusan, dan tindakanku disebut-sebut berada di pusat ketidaksenangan beliau yang disampaikan secara terang-terangan pada salah satu sesi forum direksi dan manajemen di perusahaan.

aku mengedikkan bahu. “terus dia bilang apa?”

“dia marah-marah. konteksnya waktu itu kami sedang membicarakan inisiatif-inisiatif buat dilakukan masing-masing departemen. dia tanya tempatku. aku bilang, sudah diskusi sama kamu dan akan ada proyek …” dia menyebutkan tentang inisiatif yang pernah kami diskusikan beberapa waktu lalu. ” … dan kemudian dia meledak. sampai sebut-sebut namamu segala, sampai dia bilang sudah tidak ada gunanya juga ngomong ke kamu atau ke atasanmu juga.”

“wow.”

“waktu itu aku pikir, gila, ini sudah keras sekali. kupikir-pikir, ini sudah ad hoc dari beliau. makanya aku ngomong sekarang ini. lebih baik kamu coba pikirkan deh.”

aku menarik nafas, dua-tiga detik, mempertimbangkan apa-apa yang sebaiknya kukatakan dan apa-apa yang mungkin baiknya tidak kukatakan.

“begini,” aku memulai pada akhirnya. “bahwa ada ketidakpuasan dari beliau, itu sesuatu yang aku paham. tapi selama ini, kita —aku dan teman-teman di tempatku— selalu bertindak berdasarkan keputusan yang sifatnya value-based. berdasarkan nilai. dan jujur saja, menurutku memang hal yang beliau minta value-nya rendah. with due respect [1], ya, banyak hal-hal lain yang lebih strategis daripada proyek seperti itu.”

dia tampak menungguku melanjutkan.

“misalnya inisiatif yang baru selesai kemarin, value-nya signifikan.” aku melanjutkan. “dari sisi control and compliance, setidaknya kalian sekarang punya data yang valid buat perbandingan silang lintas departemen. bandingkan sendiri dengan, misalnya, memang karyawan di sini berapa kali ganti mobil sih sampai perlu otomatisasi request kartu parkir?”

hening sejenak. aku melempar pandangan sekilas ke meja di sudut yang sekarang ini kosong. rasanya seperti deja vu, topik obrolan ini. sambil lalu kuperhatikan di antara selasar dan kubikel tampak beberapa orang berlalu-lalang.

bedanya cuma waktu itu… ah, sudahlah.

 

tidak terlalu lama sampai aku mendengar suara seseorang mengembalikan pikiranku dari pengembaraannya.

“omonganmu nggak salah,” dia menukas. “tapi kadang, kamu juga perlu memikirkan banyak hal. siapa yang ngomong, soal ego, hal lain-lain juga. intinya aku mengerti sih. aku setuju. tapi pikirkanlah. sementara kupikir, rencana kita baiknya tidak dilanjutkan dulu.”

aku tahu, aku juga bukan tak sependapat. aku mengangguk pelan, menyatakan persetujuan singkat, dan kukatakan bahwa aku mempertimbangkan saran-sarannya.

“anyway. thanks for telling me.” [2]

“sip,” aku mendengar jawabannya. “good luck, ya.” [3]

aku melemparkan pandangan ke meja di sudut yang kosong untuk terakhir kali, kemudian berjalan pergi.

 

 

/ 19:10 (FRI)

 

“tuh, kan. aku tahu suatu saat beliau akan ngomong seperti itu.”

barusan itu bukan kata-katanya, tentu saja, tapi kurasa aku bisa membayangkan seorang gadis akan mengatakan seperti demikian. seperti yang lalu-lalu, seperti yang sudah-sudah.

saat itu sudah malam, lewat pukul tujuh, dan aku sedang makan malam sendirian di sebuah restoran bento cepat saji yang kupilih sekenanya searah jalan pulang sebelum halte bus.

deja vu.

mengingat-ingat diskusi siang tadi rasanya aneh. aku ingat pernah membicarakan hal serupa dengan seseorang lain, dulu. seseorang yang, kurasa, kalau aku menemuinya saat ini, akan mengatakan hal serupa yang kusebutkan barusan di atas.

“dia bilang, suruh aku coba ngomong sama kamu. mungkin kalau aku yang ngomong kamu akan lebih mendengarkan, katanya.”

aku kembali teringat kata-katanya dulu. topik serupa tentang hal yang sama. tentang kemungkinan-kemungkinan yang sama. dan dengan semuanya itu, pada akhirnya kurasa hal-hal pada siang tadi bukan hal yang sepenuhnya mengejutkan benar.

walaupun tetap saja bukan sesuatu yang sepenuhnya terduga buatku.

aku menyeruput kuah bening berisi gulungan bakso udang dan membiarkan pikiranku berkelana. seorang gadis, seusia denganku. seorang partner. mungkin terbaik yang pernah kutemui. promosi dan transfernya sudah disetujui dan dilengkapi beberapa pekan lalu, dan efektif per bulan ini dia akan menangani departemen baru.

kami dulu cukup dekat. kira-kira. yah, kalau bisa dibilang seperti itu sih.

 

sisa makan malam kuhabiskan dengan perkiraan kasar rencana-rencana untuk dijalankan dan kemungkinan-kemungkinan yang bisa jadi tak terduga dari keadaan-keadaan pada saat ini. kira-kiranya aku sudah tahu apa yang akan kulakukan dan bagaimana harus melakukannya, walaupun detailnya kurasa masih akan perlu dirapikan lagi setelahnya.

“an angel. this is for you. and good luck!” [4]

sekilas kata-kata yang familiar, dulu, dan aku kembali teringat dia dan apa yang dikatakannya sekali waktu jauh sebelumnya. waktu itu kami masih sama-sama baru mulai. saat itu dia mencoret-coret gambar malaikat kecil di kertas dan memberikannya kepadaku.

kemudian aku tersadar bahwa kurasa aku melamun lagi. aku menghabiskan teh dan beranjak pergi.

 

 

/ 0:17 (SAT)

 

lewat tengah malam. aku sudah berada di kamar. garis besar rencana eksekusi sudah kuselesaikan, hal-hal yang kuperlukan sudah aman pada sore hari kerja sebelum pulang, dan setelah makan malam tadi sisanya akan kuteruskan pada Senin pagi.

aku menyandarkan kepala ke bantal. gelap. lampu sudah kumatikan sejak beberapa belas menit lalu.

aku tak bilang hal-hal seperti semuanya ini bukan sesuatu yang seharusnya sulit atau tidak perlu membuat tertekan —maksudku, semua hal yang ada dari awal tadi itu memang sesuatu yang pantas jadi bahan pikiran— tapi entah kenapa aku tidak merasa sepenuhnya kuatir atau bermasalah benar. setidaknya untuk sekarang ini. entah kalau dulu, kurasa bisa jadi aku akan sudah panik dan susah tidur selama setidaknya beberapa hari.

tapi anehnya, bukan itu yang kupikirkan. yang kupikirkan adalah bahwa dengan segala tekanan dan resiko dan kemungkinan buruk dan semuanya yang mungkin terjadi, aku malah menyalakan aplikasi pesan singkat di ponsel, menelusuri daftar kontak, dan ketika tersadar aku sedang memperhatikan sebuah nama dengan sejarah kiriman pesan yang kini kosong.

kupikir-pikir lagi, entahlah.

aku memandangi layar. kemudian memejamkan mata. rasanya berat. di satu sisi ada sisa-sisa amarah, kekecewaan, ketidakpercayaan, sementara entah bagaimanapun itu, kurasa untukku akan selalu ada relung kecil untuk hal-hal yang tidak bisa kupahami benar; seperti saat ini, ketika dengan segala beban dan tekanan dan kemungkinan, ada sesuatu entah apa mengantarkan ke menu pesan pendek dan papan sentuh yang menunggu diketikkan, dan aku hanya diam memandangi layar dari sisi tempat tidur.

 

aku menekan tombol ‘cancel’ beberapa kali. setelahnya aku menutup ponsel dan beranjak tidur.

___

[1] “dengan hormat”
[2] “terima kasih sudah memberi tahu”
[3] “semoga sukses”
[4] “ini malaikat. buat kamu. semoga berhasil!”

tentang kehilangan

“sudah tahu nggak bisa, kenapa masih diterusin?”

kamu; seorang pemuda, duapuluh-sekian,
dia; seorang gadis kira-kira seusia denganmu.

.

kehilangan itu, kadang terasa sebagai paradoks yang aneh. seperti sesuatu yang baru kamu rasakan karena ada yang alpa, yang tak terasa; seperti gula yang ketinggalan pada teh seduhan di sisi meja, atau kunci kamar kos yang ketinggalan di tempat kerja.

seperti ketika kamu membaca Harvard Business Review, menemukan tulisan yang menarik dan kemudian kamu ingin membicarakannya, kadang lama…

kemudian kamu teringat: iya, ya. sudah tidak bisa.

seperti ketika kamu beranjak ke dispenser, dan tiba-tiba kamu memperhatikan mug besar Starbucks yang dia berikan sekali waktu ulangtahunmu dulu.

kemudian kamu teringat: iya, ya. sudah tidak bisa.

seperti ketika kamu lewat di BreadTalk, memilih-milih roti untuk makan siang dan kalau lebih bisa buat sore hari. tanpa sadar kamu mengambil tuna cheese puff kesukaannya dulu.

kemudian kamu teringat: iya, ya. sudah tidak bisa.

seperti ketika kamu lewat dekat tempatnya dulu. satu-dua rekan menyapa dan mengatakan, ‘kamu sabar, ya…’  kata-kata yang sekilas kamu tak paham, tak bisa paham.

kemudian kamu teringat: iya, ya…

.

maksudku begini. kehilangan itu bukan selalunya sesuatu yang selesai pada sebuah eulogi, atau berakhir pada suatu titik, dan setelahnya berhenti.

bahwa kadang, mungkin lama setelahnya, dalam pekan-pekan dan bulan, dalam lembar-lembar Harvard Business Review atau pada antrian halte Transjakarta, kamu akan kembali menemui kehilangan itu menyapa; sekali, dua kali, tiga kali…

tapi di sana, ada sesuatu yang final. sesuatu yang sudah.

dengan atau tanpa kekecewaan atau amarah atau apapun yang lain yang menyertainya.

.

“tapi kita baik-baik, kan?”

“…”

kamu ingat kamu tidak menjawab. kamu tidak ingin menjawab. dengan semua amarahmu, semua kekecewaanmu, semua ketidakpercayaanmu.

sementara di sisi sebagian dirimu aku tahu;
karena kamu, sungguh benar-benar benci dianggap penuh melankoli.

wejangan sifu Toph

metal is just a part of earth that's been purified and refined. but how does it become like that? by getting heated, melted, and pounded. by going through *pressure* and *pain*
 

dikutip dari Avatar: The Last Airbender — The Promise.

saya dan jalan kaki

saya suka jalan kaki. sendirian. kalau orang-orang senang pergi dan berkumpul untuk ngobrol-ngobrol dengan teman-teman dan keluarga —piknik di taman atau kebun raya, misalnya— seringnya saya lebih suka jalan kaki, ditemani ransel di punggung dan sepatu kets yang kebetulan masih ada sisa umurnya.

iya, jalan kaki. sendirian saja. kalau memungkinkan bisa juga berdua, tapi seringnya tidak lebih.

skechers

 

baiklah, jalan kaki. terus, tujuannya ke mana?

nah, ini mungkin bagian yang kedengarannya aneh. kalau ditanya seperti itu, jawaban saya sederhana: tidak tahu. lihat saja nanti. eh mau ke mana ya?

karena, jujur, seringnya malah saya tidak tahu mau ke mana. lah, kok?

iya. karena buat saya, justru proses berjalan dan melangkahkan kaki itu yang penting. perkara mau ke mana, urusan nanti di mana sampainya. pokoknya, yang penting saya mulai melangkah dulu. sisanya nanti. sambil jalan.

pernah sekali waktu saya iseng turun dari bus pada sebuah halte busway di ibukota. kemudian saya mulai melangkah. beberapa lama kemudian, tahu-tahu saya sudah sampai di sisi luar sebuah pusat perbelanjaan. entah berapa lama tadinya saya berjalan, entah berapa banyak hal yang saya pikirkan, pokoknya tahu-tahu saya sudah sampai di tempat yang berbeda.

mungkin kedengarannya aneh sekali bagi pembaca yang kebetulan mengenal saya, baik secara personal maupun profesional, dan pada umumnya bisa mengatakan bahwa saya adalah seseorang yang cenderung terukur dan terencana.

tapi ya mau bagaimana lagi, karena sungguh memang demikian adanya! :lol:

.

buat saya, berjalan kaki adalah juga sesuatu yang sifatnya kontemplatif. ketika ada hal-hal yang harus saya pikirkan dan keputusan-keputusan yang harus saya ambil —personal, kalau profesional sih repot— seringnya saya memikirkannya sambil berjalan-jalan dan menyendiri.

kadang di tengah kota, kadang sambil iseng masuk mal, kadang di jalur trekking kampus, pernah juga di pantai pasir yang jauh dari mana-mana. saat-saat tersebut di mana saya… sendirian, second-guessing, berdialog dengan diri sendiri. pada saat-saat seperti itu pula biasanya saya bisa memandang diri saya dari sisi yang berbeda.

kalau dibilang seperti itu dan kesannya kok seolah jalan kaki itu seperti semacam proses meditasi buat saya, dipikir-pikir lagi mungkin ada benarnya juga. mungkin pada dasarnya saya cuma membiarkan pikiran sekunder saya mengambil alih, di luar pertimbangan-pertimbangan dan keputusan-keputusan taktis yang biasanya memenuhi hari-hari yang sibuk.

mungkin, pada dasarnya buat saya kegiatan jalan kaki itu semacam bagian dari proses berdiskusi dengan diri sendiri. jadi kalau Jacques Derrida bilang, ‘I’m constantly at war with myself’, mungkin saya bisa bilang, ‘no, no, I’m constantly negotiating with myself!’ :mrgreen:

.

ngomong-ngomong, entah apakah ada unsur fisiologis atau psikologis yang diperoleh dari kegiatan berjalan kaki, ya, saya juga kurang paham. mungkin pembaca yang mempelajari psikologi secara khusus akan lebih bisa menjelaskan soal ini. buat saya sih sederhana saja, berhubung pada dasarnya ini sesuatu yang membuat saya nyaman, jadi ya kenapa tidak?

walaupun dengan demikian saya kira sepatu kets saya jadi tidak pernah bisa berumur panjang. yah, kalau itu sih sepertinya memang sudah resiko.

ouch

“eh… nggak marah, kan?” :|

“…”

silence is a girl’s deadliest weapon. ouch.