01.01.09
Posted in Graphics at 6:53 pm by yud1
melanjutkan kebiasaan terkait proyek-sambil-iseng yang dimulai setahun lalu, maka tahun ini pun saya kembali menyibukkan diri (haiyah!) dengan membuat desain kartu digital untuk tahun baru kali ini. agak berbeda dengan tahun lalu, kali ini ada sedikit kesibukan yang membuat proyek-sambil-iseng kali ini agak terhambat. tapi apapunlah, yang penting bisa selesai, tidak ada masalah, kan?
tahun baru kali ini, saya kembali berada di rumah yang mendadak sibuk karena kedatangan cukup banyak tamu menjelang pergantian tahun. lumayan sibuk sih, tapi toh masih jauh lebih menyenangkan daripada satu sesi coding atau programming di depan komputer. dan tentu saja, dengan sejumlah paman-bibi-sepupu yang jarang-jarang bisa ketemu apalagi ngobrol dengan santai, untuk apa pula saya menghabiskan waktu di depan komputer dan koneksi internet?
jadi mohon maafkan keterlambatan ucapan selamat tahun baru dari saya. sekarang ini sih sudah setengah hari lewat sejak awal tanggal 1 Januari 2009, tapi ya sudahlah – ada sepotong kartu tahun baru dari saya, untuk anda pembaca yang kebetulan sedang membaca halaman ini.
![[2009-NewYear]](http://i111.photobucket.com/albums/n147/yud1/2009-newyear.jpg)
edisi kali ini, ungkapan selamat tahun baru dari keluarga di Britannia. selamat tahun baru, pembaca.
seperti biasa, tak ketinggalan pula ungkapan selamat tahun baru dari saya bagi anda pembaca yang telah berkenan mengunjungi rumah maya saya yang sederhana ini. terima kasih pula untuk anda pembaca yang telah menemani perjalanan selama setahun terakhir ini dengan segala komentar, kritik, saran, maupun kontak langsung melalui e-mail dan instant messaging.
wishing you the best of luck for another next year…
Happy New Year!
by yud1 6:53 pm
12.25.08
Posted in Graphics at 3:35 am by yud1
sebenarnya, saya sudah memutuskan untuk memulai proyek-sambil-iseng berupa desain kartu digital sejak setahun lalu, tepatnya untuk kartu Natal edisi 2007. meskipun demikian, apa daya — sebagai mahasiswa yang (saat itu) sedang berjuang di akhir semester, akhirnya momen tersebut terlewatkan dan saya baru sempat membuat desain untuk tahun baru 2008.
tahun ini, ternyata kok ya tidak jauh berbeda. bertekad untuk tidak melewatkan Natal tanpa desain kartu digital, tapi akhirnya nyaris terlewat pula karena beberapa kesibukan. agak menyebalkan memang, tapi mau bagaimana lagi — jadi akhirnya, untuk tahun ini…
…ada kartu natal dari saya, pembaca.
![[Christmas-2008ed]](http://i111.photobucket.com/albums/n147/yud1/Christmas-2008ed.jpg)
super-deformed Ryougi Shiki, Christmas outfit. Selamat Natal bagi anda yang merayakan, pembaca.
sepotong kartu Natal, dan tak ketinggalan ungkapan Selamat Natal dari saya untuk pembaca yang merayakan. ngomong-ngomong, saya sendiri selalu berpikir bahwa untuk keperluan ini ungkapan seharusnya bukanlah ‘Happy Holiday’ atau ‘Season’s Greetings’, walaupun ungkapan tersebut cukup umum juga… tapi mungkin hal ini bisa jadi diskusi tersendiri, sih.
anyway. wishing you a blessed and joyful Christmas…
…Merry Christmas!
___
[1] diselesaikan pada dini hari 25 Desember — ditemani oleh Canon, Air, Clair de Lune… dan Nocturne-nya Chopin yang kayaknya menyindir saya pada dini hari seperti ini. *duh*
[2] diselesaikan juga setelah merasa akan kena flu dengan gejala-gejala ringan yang mulai sedikit terasa. perlu istirahat, sepertinya.
by yud1 3:35 am
12.20.08
Posted in Opinion at 4:12 pm by yud1
“dibandingkan anak SMU, mahasiswa tingkat akhir mungkin kelihatan lebih dewasa. kenyataannya, tidak banyak yang berubah; orang dewasa juga sering salah…”
___
sewaktu saya masih kecil dulu, saya sering berpikir bahwa dunia orang dewasa adalah tempat orang-orang yang saya anggap hebat; orang-orang yang selalu bisa bersikap dan memberikan teladan kepada saya. tentu saja, saya yang pada saat itu memandang kagum kepada orang-orang dewasa di sekitar saya, dari mana saya belajar banyak hal tentang kehidupan: bersikap jujur. toleransi. tenggang rasa. menepati janji. dan mungkin masih banyak lagi, yang tidak bisa benar-benar saya ingat untuk disebutkan satu per satu.
setidaknya, dengan demikian saya sebagai seorang anak kecil memutuskan untuk mengikuti apa-apa yang telah diajarkan kepada saya tersebut — walaupun mungkin kadang-kadang saya masih juga nggak nurut, tapi di mata saya orang-orang dewasa di sekitar saya adalah orang-orang dengan jejak langkah yang akan saya ikuti.
demikian juga ketika saya tumbuh dan berkembang dalam perjalanan menuju kedewasaan; saya sebagai siswa SD, lalu SMP, SMU — di mata saya, orang-orang dewasa adalah mereka yang (seharusnya) bisa menunjukkan dan menjalankan nilai-nilai yang saya anggap penting dalam kehidupan. tentu saja, saya pada saat itu juga mengetahui bahwa ada juga orang-orang dewasa yang ‘tidak seperti itu’, tapi secara umum saya pada saat itu berpandangan bahwa memang ada hal-hal yang tidak perlu saya ikuti dari contoh-contoh tersebut.
::
sekarang, saya adalah bagian dari mereka yang disebut sebagai ‘orang dewasa’. atau setidaknya secara legal, begitulah keadaannya — technically, I’m a legal adult. dan dengan demikian, saya kini berada dalam dunia yang dulu saya pandang dengan kagum, bahwa orang-orang ini adalah mereka yang saya anggap hebat dan layak saya teladani.
tapi benarkah? mungkin, sebenarnya tidak.
hal yang saya peroleh dari perjalanan ini adalah, bahwa bagian paling penting dari perjalanan menuju kedewasaan adalah ketika saya menyadari bahwa mereka yang dulu saya pandang dengan kagum ternyata juga tidak sempurna; orang dewasa juga sering salah, dan orang dewasa juga tidak selalu benar.
saya dulu belajar untuk selalu bersikap jujur; tapi sekarang, ketika saya dewasa, berapa banyak orang dewasa yang bahkan dengan ringan berbohong kepada anak kecil? saya dulu belajar untuk selalu menepati janji; tapi sekarang, berapa banyak orang dewasa yang dengan mudah membuat janji dan tidak menepatinya?
dan pertanyaan-pertanyaan lain, yang mungkin lebih sederhana. berapa banyak dari kita, sebagai orang dewasa, yang masih bisa mengatakan ‘maaf’ setelah melakukan kesalahan? berapa banyak dari kita, sebagai orang dewasa, yang mengatakan ‘terima kasih’ kepada kasir di minimarket atau petugas di pom bensin?
mungkin tidak banyak, dan kebanyakan dari kita mungkin malah terjebak dalam alasan-alasan yang pragmatis dan cenderung superfisial itu; kita bekerja, capek, dan berharap untuk dimaklumi. kenyataannya, hal-hal seperti itu cuma jadi alasan saja, kan? pada akhirnya, sebagai orang dewasa kita kehilangan banyak hal, dengan alasan yang lagi-lagi seperti itu saja.
kenyataannya, orang dewasa juga sering salah. orang dewasa juga kadang tidak ingin memahami, dan cenderung egois dalam banyak kesempatan. tapi mungkin memang begitulah keadaannya — manusia yang tidak sempurna, mudah berprasangka, dan kadang juga banyak salah dan lupa dalam menghadapi berbagai keadaan.
tentu saja, seperti yang sudah saya sebutkan tadi — bagian paling penting dari perjalanan menuju kedewasaan adalah ketika kita menyadari bahwa orang dewasa juga tidak sempurna. orang dewasa juga sering salah, walaupun seringkali kurang bersedia mengakui. mungkin memang begitulah keadaannya, dan kita memang hidup di dunia yang juga tidak sempurna.
…entah kenapa, saya menemukan bahwa hal ini agak ironis.
::
hari-hari ini, saya kembali teringat kutipan dari Soe Hok Gie: nasib terbaik adalah tidak dilahirkan; yang kedua adalah dilahirkan tapi mati muda, sedangkan nasib paling sial adalah mati di usia tua.
dipikir-pikir, mungkin benar juga sih — mungkin memang manusia cenderung bertambah buruk seiring mereka dewasa.
…tapi, yah, saya sendiri juga nggak berencana mati muda, kok. 
by yud1 4:12 pm
12.06.08
Posted in Opinion at 12:20 pm by yud1
+ “eh, nanya dong. kenapa kamu bilang saya harus jujur sama diri saya sendiri?”
– “yah… karena orang yang tidak bisa jujur kepada diri sendiri, bukankah sama juga dengan orang yang tertindas?”
___
saya seringkali berpikir bahwa masalah yang timbul dari hubungan antar manusia seringkali berawal dari ketidakjujuran. ketidakjujuran kepada diri sendiri, dan kadang-kadang juga diikuti ketidakjujuran kepada orang lain. kadang-kadang agak membingungkan… tapi kita memang hidup di dunia yang tidak sempurna, kan?
kebetulan, saya sempat dicurhati berdiskusi dengan beberapa orang rekan soal ‘hubungan antar manusia’ ini… dan secara kebetulan(?) pula, topiknya tidak jauh-jauh dari topik sepanjang-masa yang kayaknya tidak ada habisnya: it’s boy-meets-girl stories, dari sisi sang gadis tentunya.
tentu saja, masalahnya juga berbeda-beda. tapi ada hal yang menarik, bahwa ternyata (sebagian dari) tanggapan saya terhadap berbagai keadaan tersebut tidak benar-benar jauh berbeda:
sudahlah, jujur saja sama diri sendiri…
kedengarannya gampang. tapi percayalah pembaca, ini adalah hal yang susah. sungguh, dan saya nggak bohong soal ini.
manusia, kadang-kadang bingung dengan pikiran dan perasaan mereka. kadang-kadang, manusia memilih untuk bersikap ‘tidak jujur’ kepada diri mereka sendiri, dan pada akhirnya tidak ada yang beruntung dengan keadaan tersebut. alasannya mungkin macam-macam, dan mungkin sama sekali tidak salah. lagipula, dibilang begitu juga… sebenarnya tidak ada hal yang benar-benar ’salah’ atau ‘benar’ juga kan, untuk hal seperti ini.
seandainya manusia bisa saling memahami soal ini, mungkin akan cukup bagus; setidaknya, dengan demikian kita (atau setidaknya, saya. anggap saja saya bisa membaca pikiran orang lain.
) tidak perlu melihat banyak cerita yang akhirnya tidak pernah dimulai — yang sedihnya, pada akhirnya tidak ada yang senang dengan keadaan tersebut. tapi ya mau bagaimana lagi, dibilang begitu juga kan sebenarnya hal tersebut bukan urusan saya… ya kecuali kalau dinyatakan sebaliknya oleh pihak yang berkepentingan, sih. *haiyah, bahasa apa yang saya pakai ini*
sayangnya, manusia juga tidak bisa dengan mudah saling memahami — dalam banyak hal, termasuk juga untuk soal ini. makanya, hal yang sudah susah ini jangan dipersulit dengan ketidakjujuran yang tidak perlu! mungkin kita memang tidak selalu bisa jujur kepada orang lain, dan alasannya bisa banyak dan macam-macam. mungkin ada saatnya kita tidak bisa dan tidak boleh bersikap jujur, dan kadang-kadang tidak ada yang bisa dilakukan soal itu. tapi kalau boleh saya mengatakan, pembaca; anda hanya boleh bersikap tidak jujur hanya ketika satu-satunya orang yang akan menderita dengan ketidakjujuran tersebut adalah anda sendiri. lainnya, tidak.
tapi saya kira, adalah hal yang berat ketika kita tidak bisa jujur bahkan kepada diri sendiri. hidup dengan penyangkalan adalah hal yang bikin capek — walaupun sekilas mungkin terlihat seperti ‘jalan keluar yang gampang’. pada akhirnya yang ada mungkin hanya alasan-alasan, dan pada akhirnya mungkin tidak ada yang senang. entahlah, tapi saya kira dalam banyak kasus justru hal ini yang terjadi… mungkin memang demikian cara dunia bekerja, jangan tanya saya.
ngomong-ngomong, belakangan ini saya jadi teringat sebuah entry di xkcd yang juga sempat di-refer di plurk-nya catshade.

if you have any hesitation, ask Google. for free advice.
komik strip satu panel… yang sangat mengena. intinya? sudahlah, kayaknya nggak perlu dijelaskan lagi deh.
jadi, sebenarnya dari tadi saya menulis panjang-panjang bukannya ingin mengatakan ‘anda harus begini’ atau ‘anda harus begitu’. bukan pula saya ingin mengatakan soal ‘ini benar’ atau ‘ini salah’ — lagipula, seperti yang sudah ditulis di depan tadi, tidak ada hal yang benar-benar ‘benar’ atau ’salah’ dalam persoalan seperti ini.
tentu saja, bersikap jujur (setidaknya kepada diri sendiri), kadang-kadang bisa susah. mungkin juga anda, misalnya, tidak akan mendapatkan apa-apa dengan hal tersebut. dunia memang tidak sempurna, dan hal-hal tidak menyenangkan selalu bisa terjadi.
…but at least, you would have less regret, right? 
by yud1 12:20 pm
12.01.08
Posted in Posts at 8:40 am by yud1
it has been like forever since the last time I updated this website for yet another entry. not that I didn’t want to (err.. really ^^;), but meh. there are things happened recently, and altogether successfully rendered November 2008 as the month with least update ever on this website — only two updates, and two vacant weeks towards the end of last month.
as far as some readers are probably concerned, this has affected my activity on Plurk as well. oh well, at least I still managed to do some sort of microblogging these days — still doesn’t make any excuse for not writing here anyways.
by the way. it seems like I would be away from my usual unlimited, flat rate and beloved DSL connection for a while. given the situation, it would be likely that I’m not going to be online on Yahoo! Messenger and Google Talk past office hours. implies that I have to (sort of) bid my farewell for the usual late-night chat and conference session. I’m sorry for this inconvenience to anyone — you know who you are.
another thing… it has been years already since I updated the ‘Profile’, ‘About’, and ‘Contact’ section of this website. given the current situation, I guess it’s time already to update these sections — I’ll be trying to update them as soon as possible, but I still have yet to see what would be there in the mean time.
last but not least. I hope I would be able to post another entry as soon as possible. can’t promise anything yet though, but at least an entry is expected to be published not later than Dec 25.
I’ll write again later. thanks for reading. 
by yud1 8:40 am
11.13.08
Posted in Opinion at 7:36 pm by yud1
saya tidak benar-benar paham, adakah Amrozi (atau Imam, dan tentu saja Mukhlas) menyembunyikan takut atau gentar di balik teriakan takbir pada suatu malam tersebut; mungkin, seolah menyongsong dengan harap-harap cemas — Maut datang perlahan dengan pasti, peluru di ujung bedil, dan lalu semua selesai.
Tuan mungkin berpikir demikian, namun saya sungguh tak hendak mempertanyakan adakah mereka adalah korban atau mungkin pahlawan. setiap cerita dalam sejarah selalu punya bagian kelam dari pembantaian; yang ‘bukan kita’ dihabisi, yang ‘berbeda’ harus dimusnahkan, dan dengan demikian semua orang sungguh bisa menjadi pahlawan dengan menumpahkan darah mereka yang tak berdosa. Perang Salib, Yerusalem, Palestina, Israel… sejarah agama adalah sejarah pertumpahan darah, kadang dengan pembumihangusan kota serta korban yang tak berdaya, atas nama Tuhan yang tiba-tiba seolah kehilangan makna.
saya membayangkan, pada suatu hari yang lampau di Bali. mungkin orang-orang maksiat berlalu-lalang; hukum-hukum Tuhan tak bisa tegak, dan yang ‘asing’ adalah musuh berbahaya di balik fasade yang menipu — seolah sekongkol adalah keniscayaan, dan kecurigaan menjadi makna. kemudian terbentuklah sebuah khaos; yang mungkin menegangkan sekaligus mengasyikkan, penuh harap-harap cemas…
saya bertanya-tanya, adakah setiap khaos selalu diikuti oleh elan akan suatu harapan, utopia yang jauh namun eksotis dan toh tetap dicari. atau mungkin malah kita tak benar-benar butuh utopia; karena setiap yang teratur kini tiba-tiba terasa menjemukan, yang tidak sempurna terasa bakhil, yang durjana harus diberantas. bahwa dalam khaos itu sendiri kita menyadari ada sebuah elan, sebuah raison d’etre yang hendak meniup, mendobrak, menggulingkan… mungkin, ada ekstase akan utopia yang tak kunjung tiba dan harus diperjuangkan, entah bagaimana caranya.
tapi mungkin elan untuk meraih yang jauh itulah yang kemudian menjadi perlu; mungkin pula jawaban tidak lagi penting, yang tadinya tujuan tidak lagi benar-benar dituju, dan dengan demikian semua punya pembenarannya sendiri — khaos itu kemudian menjadi legitimasi untuk melakukan dan berbuat dalam ‘mengorbankan apa-apa yang perlu’.
saya tidak benar-benar paham, adakah rasa takut atau gentar itu di balik tembok Nusakambangan, menjelang suatu hari di bulan November tersebut. mungkin tidak, dan mungkin memang kita tidak perlu benar-benar tahu; yang kita tahu adalah elan yang menghancurkan itu kemudian hendak dihancurkan oleh sesuatu yang lain, yang tampak brutal dan mungkin tak jauh beda — sesuatu yang mungkin disebutnya sebagai ‘lalim yang berkuasa’.
saya kira, Amrozi dan Imam serta Mukhlas adalah tragedi. bahwa elan yang mendobrak dan menghancurkan ternyata tidak benar-benar kompak dengan utopia, dan khaos yang mungkin membingungkan dan menegangkan itu ternyata tidak membawa kita ke mana-mana.
by yud1 7:36 pm
11.08.08
Posted in Posts at 1:03 pm by yud1
…
…
…what?
by yud1 1:03 pm
10.29.08
Posted in J-Stuff at 2:17 am by yud1
memperhatikan perolehan yang diraih oleh pendahulunya, saya sedikit banyak memiliki harapan terhadap serial yang menjadi bagian terakhir dari rangkaian cerita Code Geass ini. walaupun pendahulunya sendiri bukannya tanpa kekurangan, tapi toh pencapaian tersebut tidak bisa diabaikan — penerimaan yang sangat baik di negara asalnya diikuti franchise yang juga merambah manga serta light novel menjadi bagian dari kesuksesan installment pertama serial ini.
formulanya sendiri masih sama: mecha, intrik dan perseteruan politik, perang besar-besaran… dalam konteks cerita yang masih melanjutkan perjalanan selepas akhir cerita pada bagian pertama.
![[cgr2-06.jpg]](http://i111.photobucket.com/albums/n147/yud1/cgr2-06.jpg)
2018 ATB, satu tahun setelah akhir cerita dari Code Geass: Lelouch of the Rebellion. pada saat ini Jepang masih berada di bawah kolonisasi Britania Raya, dengan nama Area 11. seiring dengan gagalnya pemberontakan oleh Order of the Black Knights pada pertempuran terakhir di Area 11, sisa-sisa anggota dari pemberontakan ini kemudian ditawan sebagai penjahat perang oleh pihak Britania Raya.
sementara itu, Lelouch vi Britannia diceritakan telah kembali ke kehidupan sebagai seorang siswa Ashford Academy di Area 11, dengan nama Lelouch Lamperouge. selama setahun setelah akhir dari pemberontakan, ia tampak tidak memiliki ingatan terhadap pertempuran terakhir di Area 11.
terdapat hal yang aneh bahwa kini Lelouch kehilangan kekuatan Geass dan ingatannya terhadap pemberontakan satu tahun lalu, termasuk peranannya sebagai Zero dari Order of the Black Knights yang memimpin gerakan pembebasan Jepang. keanehan ini terus berlanjut dengan kehadiran Rolo, adik laki-laki dari Lelouch yang seharusnya tidak pernah ada…
![[cgr2-01.jpg]](http://i111.photobucket.com/albums/n147/yud1/cgr2-01.jpg)
sejak episode pertama, serial ini langsung tancap gas dengan pace yang tinggi: Lelouch yang kehilangan ingatan, kembalinya Zero ke Order of Black Knights, konsolidasi dan konflik dengan Federasi Cina… semua dirangkum dengan intensitas yang terjaga dengan sangat baik dari awal sampai pertengahan serial. sejujurnya, serial ini seolah tak kekurangan bahan bakar dalam membuat twist dan kejutan sepanjang perjalanan cerita yang ditata dengan apik sampai paruh pertama serial.
tapi sayangnya, cacat pertama dari serial ini justru datang di pertengahan serial. pace yang dibangun dengan kecepatan tinggi dan intensitas yang terus terjaga sejak awal cerita tiba-tiba seolah tersia-sia dengan rangkaian peristiwa yang terasa kurang perlu; sangat disayangkan bahwa serial ini ternyata masih belum bisa melepaskan diri dari kekurangan yang dimiliki oleh pendahulunya.
bagusnya, hal ini setidaknya bisa sedikit di-cover oleh eksekusi episode-episode selanjutnya dalam paruh kedua perjalanan cerita. dengan pace dan intensitas yang juga ditangani dengan sama baiknya, serial ini berhasil dengan baik dalam eksekusi storytelling dengan kualitas di atas rata-rata… tapi sayangnya, lagi-lagi eksekusi yang sangat baik ini kembali drop menjelang akhir serial.
mendekati akhir cerita, serial ini seolah kehilangan greget; beberapa twist yang dimunculkan tidak cukup berhasil dalam mengangkat kembali serial ini — twist terakhir di ujung cerita memang cukup mencuri perhatian, namun sayangnya tidak dapat terlalu banyak menolong untuk storytelling yang mulai kehilangan daya pikatnya untuk empat episode terakhir dari serial ini.
![[cgr2-00.jpg]](http://i111.photobucket.com/albums/n147/yud1/cgr2-00.jpg)
terlepas dari kekurangan di bagian storyline dan storytelling, serial ini tampil dengan eksekusi visual di atas rata-rata. bukan hal yang tidak terduga juga sih, mengingat proses produksinya ditangani oleh SUNRISE, adegan pertarungan antar mecha berikut efek-efek terkait tampil dengan apik… tapi terkait visual, serial ini juga memiliki catatan tersendiri.
bicara soal visual, berarti terkait secara khusus dengan artwork dan desain karakter. sayangnya, departemen desain karakter untuk serial ini juga tidak tampil maksimal; beberapa karakter seperti Lelouch Lamperouge, Sumeragi Kaguya, dan Schneizel el Britannia memang tampil menonjol dengan desain yang apik… sementara beberapa karakter yang lain tampil dengan outfit yang terasa kurang pada tempatnya.
mungkin terkait pemilihan warna juga sih, tapi bisakah anda membayangkan seorang anggota pasukan elit negara adidaya mengenakan kostum cerah berwarna-warni? Li Xingke yang jadi panglima Federasi Cina didesain dengan kostum yang… aduh, kok serial ini jadi seperti film anak-anak? desain seragam Knights of Round terasa terlalu ‘cerah’ untuk para pilot elit dengan gelar ksatria, dan jangan lupakan pula desain kostum kerajaan Britania Raya yang ‘entah kenapa kok bisa begitu’.
tentu saja, perlu diperhatikan bahwa serial ini tampil sangat baik secara visual, terkait efek dan eksekusi adegan dalam cerita. tapi berhubung konteks visual ini juga terkait artwork, akhirnya jadi drawback tersendiri juga sih untuk bagian ini.
![[cgr2-03.jpg]](http://i111.photobucket.com/albums/n147/yud1/cgr2-03.jpg)
dari departemen sound, serial ini tampil sangat baik dari segi musical scores. tidak sampai benar-benar istimewa sih, tapi setidaknya cukup di atas rata-rata. efek suara dieksekusi dengan cukup baik, khususnya untuk adegan-adegan pertempuran yang memang cukup berlimpah sepanjang perjalanan serial ini.
OST untuk serial ini terdiri atas empat nomor, dua untuk opening, dan dua lagi untuk ending. opening theme-nya diisi oleh O2 dari Orange Range, sebelum digantikan oleh World End dari Flow. keduanya cukup enak didengar, setidaknya di telinga saya; tapi toh tidak terlalu memorable juga, dan akhirnya jatuhnya lebih ke arah pop dan terkesan mainstream.
di bagian ending theme, ada Shiawase Neiro (jp: tone of happiness) yang kembali dibawakan oleh Orange Range. tampil dengan nuansa mild untuk sebuah lagu bergaya pop, lagu ini sedikit mengingatkan akan Mosaic Kakera dari SunSet Swish di season pertama. memasuki paruh kedua serial, nomor untuk ending theme kemudian diisi oleh Waga Routashi Aku no Hana (jp: my beautiful flower of evil) dari Ali Project yang kembali tampil dengan gaya alternatif yang unik dan cukup khas, menemani ilustrasi dari CLAMP yang tampil di akhir setiap episode.
secara umum, OST yang disajikan untuk serial ini tampil lumayan… tapi toh tidak sampai benar-benar istimewa. saya sendiri masih lebih menyukai set OST yang disajikan di season pertama, tapi mungkin hal ini tergantung selera sih.
![[cgr2-02.jpg]](http://i111.photobucket.com/albums/n147/yud1/cgr2-02.jpg)
serial ini dieksekusi dengan serius, dan tidak mengherankan bahwa serial ini mampu mendapatkan penerimaan yang sangat baik di negara asalnya. hal ini terkait secara langsung dengan fanbase yang juga telah terbentuk sejak rilis season pertamanya, dan dengan demikian memberikan basis pemirsa yang loyal untuk menyaksikan kelanjutan dari serial ini.
tentu saja, perlu dicatat bahwa serial ini juga tidak sempurna; eksekusi jalan cerita dan storytelling menjadi drawback utama, diikuti oleh desain karakter yang terasa agak kurang pas di beberapa bagian dari serial ini. musical scores di atas rata-rata, sementara OST yang disajikan terasa agak terlalu ‘biasa’ walaupun sama sekali tidak bisa dikatakan buruk.
oh well, but it sells. meskipun demikian, sepertinya serial ini masih belum akan dilupakan untuk waktu yang agak lama juga, sih.
by yud1 2:17 am
10.25.08
Posted in Personal at 3:14 pm by yud1
dipikir-pikir, ternyata sudah hampir satu bulan sejak Hari Raya yang baru lalu. gaungnya sudah mulai berkurang juga sih, dan sebagian besar rekan-rekan (termasuk saya juga) tampak sudah kembali ke ritme kesibukan yang biasa pasca-lebaran.
bulan puasa, katanya adalah sarana untuk belajar mengendalikan diri. dan kalau katanya orang bijak, hidup itu sia-sia kalau tidak ada perbaikan. tentu saja, hal ini juga sejalan dengan ide yang jadi caption di kartu lebaran kemarin dulu… tapi masalahnya; memangnya apa sih yang akan membedakan saya setelah hari raya kemarin dengan yang sebelumnya, atau malah yang sebelumnya lagi?
![lebaran bukan cuma ketupat tapi [shiki-ver_11.jpg]](http://i111.photobucket.com/albums/n147/yud1/shiki-ver_11.jpg)
…lha iya. memang bukan cuma ketupat, kok.
jadi akhirnya saya memutuskan untuk membuat sebuah resolusi pasca-lebaran. bukan hal yang ribet, dan tak perlu pula susah-susah. ini adalah hal yang sederhana saja, walaupun (entah kenapa) tampaknya sering terlupakan dalam perjalanan saya ini… dan mungkin juga dalam perjalanan masing-masing dari kita, walaupun saya kira seharusnya anda yang lebih paham mengenai hal ini.
ya sudahlah. daripada panjang-panjang, mari kita langsung ke poin-poinnya saja, pembaca.
pertama. saya memutuskan bahwa saya akan menjadi seseorang yang bersikap jujur. saya ingin bisa bersikap jujur dan apa adanya; dalam omongan dan perbuatan, dan dalam banyak hal lain. kedengarannya sih gampang, tapi ternyata kok ya susah juga, pembaca. tapi terserahlah, siapa peduli… hei, saya ini orang jujur; tidak ada seorangpun yang berhak memaksa saya untuk bersikap sebaliknya.
kedua. saya memutuskan untuk menjadi seseorang yang sabar. atau setidaknya, lebih sabar dari sebelumnya. atau setidaknya, lebih sabar dari biasanya. sabar dalam menghadapi keadaan yang tidak mengenakkan. sabar dalam menghadapi manusia yang kadang begini-dan-begitu. karena hakikat dari puasa adalah sabar dan pengendalian diri, maka sia-sia saja kalau saya masih gampang meledakkan emosi untuk hal-hal yang tidak perlu, bukan?
ketiga. saya memutuskan untuk menjadi seseorang yang bebas dari rasa benci dan iri hati. mungkin saya memang tidak akan bisa bersikap respek apalagi menghormati terhadap beberapa kalangan dari manusia — manusia senang bertengkar, orangtua selingkuh, pegawai negeri korupsi, elite politik oportunis, polisi tukang disuap… daftarnya bisa panjang, tapi setidaknya saya tidak ingin membenci. bukan kenapa-kenapa, lagipula toh saya nggak akan dapat apa-apa dengan hal tersebut, pembaca.
nah. cukup tiga poin saja, pembaca. tentu saja, saya tidak bisa mengatakan bahwa ’saya sudah menjadi manusia yang lebih baik selepas puasa yang lalu’, kalau saya masih belum juga bisa memenuhi ketiga hal tersebut dengan lebih baik dari hari-hari sebelumnya.
karena sesungguhnya, perjalanan baru dimulai setelah shalat di Hari Raya. adakah saya akan menjadi manusia yang lebih baik, ataukah perjalanan dan latihan dan apalah-itu selama puasa yang lalu hanya akan menjadi hal yang sia-sia saja untuk saya?
saya sudah memutuskan. tapi hasilnya akan seperti apa, ya masih harus dibuktikan, sih. 
by yud1 3:14 pm
10.19.08
Posted in J-Stuff at 2:41 am by yud1
akhirnya, baru sekarang saya sempat menulis soal installment ketiga dari rangkaian cerita Kara no Kyoukai ini. dirilis pada Januari 2008 untuk versi layar lebar di negara asalnya, Kara no Kyoukai: Tsuukaku Zanryuu (jp: Boundary of Emptiness: Remaining Sense of Pain) kemudian dirilis dalam format DVD pada Juli 2008.
saya sendiri sudah menonton film ini sejak awal Agustus, namun karena satu dan lain hal baru sekarang saya bisa menuliskan review untuk film ini. dan tentu saja, sebagaimana halnya installment sebelumnya, kali ini pun saya ‘terpaksa’ menonton film ini sampai dua kali sebelum menuliskan review… ya sudahlah, seperti halnya film pertama dan kedua, nggak rugi juga sih nonton film ini sampai dua kali.
![[knk3-00.jpg]](http://i111.photobucket.com/albums/n147/yud1/knk3-00.jpg)
Juli, 1998. tiga tahun setelah Kara no Kyoukai: Murder Speculation, satu bulan sebelum Kara no Kyoukai: Overlooking View.
Remaining Sense of Pain diawali oleh cerita kelam dari Asagami Fujino, seorang siswi SMU yang diperkosa oleh sekelompok pemuda berandal di kota. keadaan yang mengenaskan ini telah berlangsung selama beberapa bulan, sampai suatu saat di mana kekuatan misterius dalam diri Fujino tiba-tiba terbangkitkan; dengan kekuatan tersebut, orang-orang yang memperkosa dirinya tiba-tiba terbunuh secara misterius — masing-masing dengan anggota tubuh terpuntir dan terpotong-potong di areal gedung tua di tengah kota.
di lain pihak, Kokutou Mikiya yang bekerja di tempat Aozaki Tohko sedang menyelidiki menghilangnya Minato Keita, seorang adik kelasnya di SMU — yang belakangan diketahui keterlibatannya dalam kasus Asagami Fujino. keadaan yang membingungkan ini diperkeruh dengan kenyataan bahwa tampaknya Ryougi Shiki memiliki hubungan aneh dengan Asagami Fujino, di mana keduanya tampak memiliki naluri untuk saling membunuh terhadap yang lain…
![[knk3-01.jpg]](http://i111.photobucket.com/albums/n147/yud1/knk3-01.jpg)
untuk anda yang sudah menonton film pertama dan kedua dan berpikir bahwa Kara no Kyoukai sudah cukup ‘gelap’, anda mungkin harus memikirkannya kembali setelah menonton Remaining Sense of Pain. bukan apa-apa, soalnya sejauh ini memang film ini yang paling ‘gelap’ dari keseluruhan cerita Kara no Kyoukai. kalau mau dikatakan secara sederhana, ’sisi gelap’ dari film ini bisa dideskripsikan dengan tiga buah keyword: rape, gore, dan explicit violence.
dan tidak, pembaca. walaupun tema yang jadi plot device dari film ini adalah kekerasan seksual, jangan mengharapkan adegan ala fanservice dalam film ini. yang ada, adegan tersebut digambarkan dengan konteks yang ‘gelap’… dan mungkin bisa mengganggu untuk sebagian pemirsa. jangan lupakan pula konten yang seolah sudah jadi ‘menu tetap’ dari Kara no Kyoukai — darah berceceran atau tangan dan kaki yang tiba-tiba putus serta menggelepar memang jadi bagian dari film ini, jadi anda sudah diperingatkan.
meskipun demikian, hal yang layak disorot dari film ini adalah bahwa film ini bisa menyajikan kombinasi yang seimbang dari aspek thriller dan gore, dan dengan demikian adegan-adegan yang eksplisit dieksekusi dengan pas. bisa dikatakan, adegan-adegan kekerasan sebenarnya tidak sampai ‘banjir’ dalam film ini; tidak terlalu banyak, tapi ya tidak tanggung-tanggung… dan hasilnya adalah ramuan yang pas untuk sebuah film dengan genre thriller yang dipadukan dengan elemen supranatural ini.
![[knk3-02.jpg]](http://i111.photobucket.com/albums/n147/yud1/knk3-02.jpg)
film ini masih mempertahankan eksekusi yang meyakinkan dari segi sound; kontribusi Kajiura Yuki dalam pengembangan scores dan OST untuk film ini lebih dari cukup signifikan — mungkin malah bisa dikatakan luar biasa. nomor untuk OST masih diisi oleh Kalafina dengan lagu Kizuato (jp: scar), yang tampil dengan gaya khas yang bisa dikenali sejak kontribusi mereka di film pertama. lagunya sendiri tampil dengan gaya yang lebih ke arah alternatif, dengan interpretasi lirik yang memang dirancang untuk film ini.
eksekusi visual, masih tidak jauh berbeda dari installment sebelumnya. agak berbeda dengan film kedua, adegan-adegan dalam film ini tampak lebih didominasi set malam hari, dengan suasana yang juga cenderung suram. memandang konteks cerita, visualisasi model seperti ini tampil mendukung… walaupun beberapa pemirsa mungkin akan mengatakan sebagai ‘terlalu suram’. terkait hal ini, sebenarnya lebih ke soal selera, sih.
dan bicara soal visual, hal yang tidak boleh ditinggalkan adalah adegan pertempuran yang menjadi klimaks dari film ini. kalau di film pertama ada adegan pertempuran yang dikemas dengan apik di atap Fujyou Building, di film ini ada adegan pertarungan antara Ryougi Shiki dan Asagami Fujino. eksekusi efek seperti slow motion dan ripple dalam pertempuran tampil manis, walaupun tidak sampai benar-benar sejajar dengan eksekusi pada film pertama.
![[knk3-03.jpg]](http://i111.photobucket.com/albums/n147/yud1/knk3-03.jpg)
secara pribadi, saya tidak menemukan hal yang bisa benar-benar dikeluhkan untuk film yang menjadi bagian ketiga dari keseluruhan tujuh bagian Kara no Kyoukai ini. ada juga catatan lain sih, misalnya bahwa karakterisasi dari Kokutou Mikiya terasa agak tanggung di beberapa bagian cerita — tapi secara umum, hal ini relatif minor.
tentu saja, film ini bukan untuk semua umur… jadi ada baiknya anda ‘mengamankan’ film ini dari jangkauan adik atau keponakan anda yang masih di bawah umur. perlu juga diperhatikan bahwa beberapa pemirsa mungkin akan menemukan film ini agak ‘terlalu gelap’, dengan adegan-adegan dan disturbing image di beberapa bagian dari film ini.
secara umum, saya memberikan nilai tinggi untuk film ini. memperhatikan hasil yang ada sejauh ini, saya sendiri memiliki ekspektasi tinggi terhadap bagian berikutnya dari adaptasi Kara no Kyoukai… tapi apakah ekspektasi ini akan terpenuhi, hal ini masih harus dibuktikan sampai installment terakhirnya nanti.
by yud1 2:41 am
« Previous entries