belakangan ini…

… saya sibuk. seperti biasa. atau mungkin lebih tepatnya menyibukkan diri. kadang-kadang bagus juga, jadi tidak sempat memikirkan hal-hal lain.

… entah kenapa pada suatu episode kesambet iseng menulis fiksi yang baru lalu. rasanya agak aneh; umumnya saya menulis sudut pandang pertama hanya terkait pengalaman pribadi.

… mengalami penurunan frekuensi latihan fisik dan teknik. kehilangan 200-250 push-up per hari kelihatannya berimbas juga badan jadi terasa berat.

… akhirnya bisa bertemu teman-teman lama yang datang dari berbagai tempat dan pulau Indonesia. menyenangkan. cukup banyak juga yang dibicarakan, cukup banyak juga waktu sudah berlalu.

… cenderung menarik diri dari media sosial dan diskusi grup. sisi buruknya, saya sempat ketinggalan beberapa berita. sisi baiknya, saya lebih bisa fokus ke banyak hal lain.

… jadi lebih suka minum kopi dan teh tanpa gula. rekan-rekan yang memperhatikan agaknya mafhum bahwa selera saya berubah. sekali waktu saya coba kembali menambahkan gula, kok jadi tidak enak, ya.

… mengurus perpanjangan domain dan hosting untuk situs ini. ternyata sudah sepuluh tahun saya menulis di sini, cukup panjang juga ya. beberapa orang mendapatkan tempat khusus dalam tulisan tersendiri.

.

.

.

… kemudian menyadari bahwa dalam waktu dekat akan sudah sampai bulan Oktober lagi. agaknya saya dan tempat ini sama-sama tumbuh tambah tua.

jembatan

O/I

memasuki bulan Agustus banyak hal terasa seperti melangkah dalam lumpur dan sedikit berat, tapi kalau diteruskan toh bisa-bisa saja kita mengarahkan diri ke tempat manapun itu kita mau pergi. di luar itu matahari masih bersinar terang, kalau hujan jadi sedikit kelabu, tapi ketika kita memikirkannya lagi itu semua pada dasarnya hal yang biasa-biasa saja. sesekali kalau kita mendengarkan, ada juga suara burung-burung berkicau sampai jam sembilan-sepuluh pagi, setelahnya sepi dan suasananya jadi tenang sekali.

aku membaca surat-surat masuk yang kuambil dari kotak pos dan sambil lalu terhirup wangi kertas bercampur aroma lem yang rasanya khas. suara anak-anak kecil berlarian sambil bermain mobil-mobilan Tamiya terdengar sayup-sayup, sesekali ada juga tukang es krim lewat dan tiba-tiba jadi ramai sebentar lalu kemudian hening kembali.

aku membolak-balik lembar-lembar amplop. penawaran barang elektronik dikirimkan ke alamat ini. kartu pos dan telegram dari beberapa kenalan dan kerabat. satu amplop lainnya surat dari tempat yang jauh dengan nama yang kukenal.

surat itu dari Ina. aku menyandarkan diri ke sisi tempat tidur, memejamkan mata dan menarik nafas, membuka amplop dengan satu guntingan rapi dan mengeluarkan isinya.

terima kasih atas suratmu, katanya.

“senang rasanya kamu masih ingat waktu terakhir kita ketemu. waktu itu kamu bilang akan kirim surat dan waktu kamu benar mengirimkannya rasanya senang sekali. kupikir kamu lupa. atau salah perangko. rasanya cemas berlebihan sekali, ya. bagaimanapun aku ini perempuan jadi sedikitnya aku merasa malu juga.

“di sini sekarang musim panas, orang-orang memakai baju tipis tapi buatku tetap saja masih agak dingin. kemarin aku pergi ke kedutaan dan di sana ada acara pertemuan dan makan-makan. senang rasanya banyak dengar bahasa sendiri. ada bendera juga dan aku jadi ingat kamu, tapi rasanya aneh juga karena kamu dulu malas sekali ikut upacara. demikian itu membuat jadi kangen rumah juga.

“waktu aku baca suratmu waktu itu sore hari di kamarku rasanya senang sekali campur sedih sekali. aku ingat bapak dan ibu dan adik-adik, tapi waktu ingat kita makan bubur kacang hijau di warung malam-malam hari begitu rasanya sedikit nelangsa. aku kangen bubur kacang hijau juga, di sini tidak ada. tapi semakin lama terbiasa juga, jadi tidak separah waktu masih baru dulu.

“tapi pada umumnya aku senang. di sini waktu berlalu cepat, mungkin karena kami semua sibuk. tugas-tugas seperti biasa, tapi taman dan jalan-jalan di sini indah dan dirawat baik jadi kitapun nyaman. minggu lalu aku naik sepeda menyusuri jalan dan memperhatikan taman-taman bunga yang kutemui, kita bisa bersantai sambil berjemur atau baca buku atau mengobrol dan itu hal yang wajar. di sini menyenangkan, tapi rumah juga menyenangkan lagipula di sini tidak bisa ketemu kamu juga. ibuku tanya kabarmu, kalau sedang sempat kurasa baik juga kamu main ke rumah.

“ngomong-ngomong, keponakanmu yang kembar itu lucu sekali! nanti kalau pulang aku mau main ke sana. sekalian aku mau ketemu adik barunya. nanti antar aku, ya.”

 

“salam sayang,”
“Ina”

aku membacanya sekali lagi, lalu melipat halaman-halaman surat tersebut seperti bentuk aslinya. kemudian aku pergi ke dapur dan menjerang air untuk menyeduh kopi. pada masa demikian ini kopi hanya semacam tubruk atau Torabika yang cukup murah dan cukup enak dengan gula secukupnya. selesai demikian aku kembali duduk di lantai bersandar ke sisi tempat tidur.

kertas surat itu wangi. gadis itu menitipkan aroma parfum kesukaannya melintasi sebagian muka bumi.

 

I/O

“eh, Di. nama tante kita itu… bukan Ina, kan?” pemuda itu bertanya kepada saudaranya.

“bukanlah. pertanyaan apa itu.” pemuda satunya lagi menjawab.

bongkar-bongkaran dan tumpukan kardus tertata tidak rapi menunggu dikembalikan ke tempat seperti seharusnya. surat-surat dan album foto tertumpuk di satu sisi lemari. debu bertumpuk-tumpuk, mesin jahit lama dan pot keramik berwarna hitam-merahtua bersisian di pojok terhalang tangga.

“… penasaran tidak sih.”

“iya. sedikit.”

sinar matahari sore menerobos melalui kaso dan lubang angin dan pintu yang dibiarkan sedikit terbuka. gantungan kunci Donal Bebek yang berusia belasan tahun bergoyang-goyang tertiup angin siang hari pada akhir pekan.

di sisi lemari, lembar-lembar foto dua orang anak kecil berusia dua tahun tampak berhenti dititipkan waktu.

superman (it’s not easy)

saya ingat, waktu kecil dulu saya sering menonton serialisasi Superman di salah satu televisi swasta. waktu itu Clark Kent masih muda, belum ketemu Lois Lane, dan masih dekat dengan Lana Lang.

waktu itu rasanya dunia sederhana sekali. sehabis pulang mengaji, sore hari, petang menjelang maghrib, duduk di depan televisi dan rasanya beban hilang beberapa saat sampai waktunya belajar dan barangkali mengerjakan PR. malamnya mempersiapkan daftar pelajaran ke dalam ransel kecil yang akan dibawa keesokan harinya.

entah kenapa. mungkin saya hanya sedang teringat sambil mendengarkan Superman (It’s Not Easy). Five for Fighting, demikian nama kelompok yang membawakan.

 

superman-child

“I’m only a boy, in a silly blue shirt, promised to protect you on this one way street…”  ♪♫

 

beberapa hari belakangan ini saya kena flu. bukan sesuatu yang benar-benar parah, tapi hal-hal seperti demikian membuat kita cenderung tidak bisa melakukan apa-apa, dan buat saya itu juga membuat pikiran menjadi berkelana. keadaan seperti demikian membuat sedikit senang sekaligus membuat sedikit sedih juga kadang-kadang.

misalnya begini. sebagai seorang anak kecil yang tumbuh untuk menjadi laki-laki, saya menerima tuntutan untuk menjadi sosok yang kuat dan setidaknya ‘enggak malu-maluin amat’. saya menerima tuntutan untuk bisa menjadi sosok yang bisa diandalkan, baik oleh diri sendiri maupun oleh orang-orang lain.

katanya bapak dulu, anak laki-laki itu harus kuat. dan berani. itu pesan yang saya ingat dengan baik.

I’m only a man, in a silly red sheet
digging for kryptonite on this one way street

walaupun kadang ya demikian itu, sekuat apapun kita sudah berusaha untuk menjadi —lebih— tangguh, sama seperti Superman juga, kadang kita tak berkutik juga di hadapan sesosok, eh, sekeping kriptonit. kita yang biasanya kuat dan berlagak bisa menahan banyak hal, tiba-tiba pain tolerance-nya jadi rendah sekali. kita yang sering sok memaksa diri untuk terlihat tegar tiba-tiba menemukan diri mendadak terasa berat sekali.

tapi, mungkin itu juga bukan hal yang sepenuhnya buruk. bukankah di satu sisi, kriptonit itu juga akhirnya membuat Superman menjadi lebih manusia daripada seharusnya. (walaupun ya, secara teknis sebenarnya dia itu bukan manusia juga sih…)

entah kenapa saya kepikiran bahwa mungkin, faktor kriptonit demikian itu juga membuat kita sedikit lebih dekat dengan sisi lain diri kita. bahwa kita mungkin tidak bisa setangguh yang kita harapkan, tidak bisa sekuat yang kita inginkan, tapi setidaknya kita menjadi sedikit lebih manusiawi daripada yang kita perkirakan.

.

padahal kalau dipikir-pikir lagi, kita hidup di dunia ini juga bukan buat jadi Superman. juga bahwa sesekali jatuh atau bertekuk lutut di hadapan sesosok atau sekeping kriptonit yang selalu mengingatkan diri, itu juga bukanlah sesuatu yang selalu sepenuhnya buruk.

tidak sederhana, tapi buat saya itu bukan pertukaran yang tidak adil.

linimasa dan saya

belakangan ini, saya merasa sedikit jenuh. bukan dengan kehidupan atau karir atau keluarga atau hal-hal lain pada umumnya —saya bersyukur saya masih bisa bangun pagi dengan tujuan dan bekerja keras untuk itu— tapi lebih ke arah hal remeh-temeh di sekitar saya. media sosial, misalnya.

beberapa pembaca mungkin paham bahwa saya cenderung memiliki hubungan benci-tapi-rindu [→] dengan media sosial [→]. memang seperti itu sih kenyataannya.

 

gunnersaurus-meme

I feel you, Gunnersaurus. I really do. (eh…)

 

kalau boleh jujur, saya sering merasa sedikit kehilangan sinyal dalam demikian banyak lalu-lalang informasi di sekitar saya. noise-to-signal ratio terlalu tinggi, demikian juga pendapat-pendapat yang demikian mudah berseliweran dan dibagi-bagi, entah seberapa valid atau matangnya fakta di baliknya.

kenyataannya, media sosial itu tidak representatif. mana mungkin anda bicara akar rumput, kalau naik angkutan kota [→] saja jarang sekali atau tidak pernah? mana mungkin anda bisa bicara Jakarta tidak takut [→], kalau berurusan dengan konflik di tengah kota saja masih nihil?

kenyataannya pula, banyak juga pendapat yang seringnya tidak didasari kemampuan atau proses belajar yang memadai pada bidangnya. bagaimana mungkin anda mau bicara ilmu agama tapi membaca kitab saja tidak lengkap? bagaimana mungkin anda mau bicara politik luar negeri kalau bacaan anda cuma media online? bagaimana mungkin anda mau bicara sains kalau pinjam jurnal dari perpustakaan saja cuma buat skripsi?

di dunia di mana suara-suara yang keras lebih didengar(kan), kita mungkin mulai kehilangan untuk mendengarkan hal-hal yang tidak dikatakan.

.

oleh karena itu, belakangan saya sendiri merasa semakin tidak antusias. Twitter sudah tidak pernah lagi saya gunakan, kecuali mungkin untuk tautan ke tulisan di sini. Facebook sudah jarang sekali saya scroll sampai ke ujung bawah halaman. Path dan Instagram praktis tidak pernah saya coba.

di luar itu, saya lebih banyak menghabiskan waktu dengan bekerja, entah apakah itu dengan tim di tempat kerja atau kegiatan sampingan atau hobi pribadi. membaca buku atau tulisan-tulisan panjang. latihan fisik dan teknik, kadang dengan beban, kadang dengan lantai dan tembok. hal-hal yang setidaknya ada hasil yang lebih bisa saya lihat, dengar, dan rasakan, setidaknya untuk diri saya sendiri.

yang sebenarnya mungkin ironis juga. di luar sesekali mengobrol santai dengan rekan-rekan dan menjalin komunikasi, hasil seperti demikian rasanya susah sekali saya temukan di sana.

kepikiran. iya.

“mau nangis boleh enggak? . . . ya enggak lah. anak laki-laki kok nangis. bego.” (LOL)

i. because boys don’t cry and men only bleed.
ii. it helps when it is raining.

akhir

“maaf.”

bocah itu tercekat. suaranya keluar berat dan tersedak-sedak. genggamannya gemetar.

tapi, sunyi.

“maafkan aku. aku janji akan jadi anak baik. aku janji nggak akan marah-marah lagi. aku janji…”

tak ada jawaban.

si bocah mulai sesenggukan. rasanya mau pecah. matanya buram. basah.

“aku janji. tolong jangan pergi. tolong…”

sunyi. hanya genggaman yang semakin lama semakin kebas.

kemudian satu sentakan, dan sakit; bocah terjatuh berlutut. genggamannya terlepas.

bocah itu duduk tergugu.

“maafkan aku. maaf. maafkan aku, aku nggak mau…”

tolong jangan pergi.

“aku… aku…”

maafkan aku, kak. maafkan aku. maaf….

“HUAAAAAAA…”

suara itu terdengar perih. hanya suara bocah yang terdengar. perih.

dan bocah itu kemudian sendiri.

.

pemuda itu terbangun. bocah yang dulu kini kembali.

dan masih, seperti dulu-dulu lagi, kembali meninggalkan jejak basah dan pandangan yang lantas buram di sisi tempat tidur pada subuh dini hari.

tamu

“senang dan sedih itu kan seumpama tamu saja. kalau lagi datang kita urus, kalau mau pergi kita antar. sepatutnya saja.”

_

mungkin saya bertambah tua. atau mungkin saya cuma sedikit bertambah bijak. atau mungkin cuma sudah saatnya bahwa saya tidak lagi memandang hidup sebagai mencari kesenangan dan menghindari kesedihan.

lho, kok?

 

be-happy

kalau melihat orang lain sedih, kita buat bahagia! … eh, mungkin.

 

iya. terutama belakangan ini, saya menemukan bahwa ternyata bukan mencari kesenangan dan menghindari kesedihan seperti itu yang saya cari. bukan pergi jalan-jalan ke tempat jauh, bukan makan enak, bukan mencari pengalaman yang bisa dibanggakan.

bukan itu. sama sekali bukan itu.

demikian pula buat saya hidup itu bukan lagi soal mati-matian berusaha menghindari keinginan mentok tidak tercapai, kehilangan orang-orang terdekat, hal-hal lain yang mungkin bisa demikian tidak nyaman untuk banyak orang.

bukan itu. sama sekali bukan itu juga.

.

saya sering menganalogikan hidup itu seperti layaknya kita punya rumah. kita berusaha baik, kita buat rapi sebisa kita, senyaman mungkin sehingga kita juga betah. sambil sesekali ada tamu datang berkunjung, ngobrol-ngobrol sebentar, minum teh atau kopi. ketika urusan sudah selesai, pamit dan kemudian pergi lagi.

buat saya, berbagai hal dalam hidup itu ya seperti itu. senang dan sedih, ceria atau kecewa, semua itu ya seperti tamu saja. bukan berarti bahwa dengan demikian lantas ada tamu yang baik dan ada tamu yang buruk, bukan seperti itu juga.

cuma bahwa ada tamu datang ke rumah kita. bukan baik, bukan buruk. cuma ada. itu saja.

kalau ada tamu datang, ya kita urus. kadang perlu disediakan teh, kadang lebih suka kopi. tidak masalah, yang ada saja. sambil lalu kita mengobrol, kita jadi lebih mengenal tamu kita, dalam prosesnya juga jadi lebih mengenal diri sendiri. barangkali juga kemudian sadar ternyata rumah kita ada kurang-kurangnya sedikit. tidak apa-apa.

kalau waktunya pergi, ya kita antar. tamu menyenangkan, tamu kurang menyenangkan, pada waktunya akan pergi. kalau sudah waktunya tamu pergi tapi kita memaksakan untuk tinggal di rumah kan kurang elok juga. maka kita antarkan, sebaik dan semampu kita saja. jangan dipaksakan.

setelahnya kita bersih-bersih rumah. sesekali kita mengingat-ingat, oh ada juga tamu yang menyenangkan pernah datang, ada juga yang lain-lain pernah datang. sambil jalan kita buat rumah kita lebih rapi, sehingga bisa lebih nyaman untuk kita sendiri, juga buat ketemu dan ngobrol kalau misalnya ada tamu lagi.

kita tidak tahu juga tamu berikutnya akan seperti apa. tapi ya sudah, kalau datang ya kita urus. kalau mau pergi ya kita antar. sepatutnya saja.

.

buat saya, senang atau sedih itu ya kenyataan hidup. sama halnya seperti kalau lapar kita makan dan kalau kita masak ikan sering ada kucing tetangga. bukan sesuatu baik, bukan sesuatu buruk. cuma sesuatu saja.

bukan berarti bahwa segala sesuatu lantas cuma dilihat dan ditunggu saja. hidup itu ya dijalani sebaik kita bisa, semampu kita bisa, sekuat kita bisa. kalau kita berusaha baik, seringnya terjadi hal-hal baik. kadang-kadang tidak, ya sudah. kalau kita terlalu terikat kepada hal-hal seperti baik dan buruk atau senang dan sedih, jadinya ya susah juga.

oleh karena itu, yah, ketika cukup banyak rekan-rekan yang terlihat senang dan bahagia dengan pergi ke tempat yang jauh atau memiliki rumah serta mobil baru atau pekerjaan yang hebat dan mentereng, ya mungkin ada bagusnya juga.

walaupun buat saya sendiri, mungkin berhubung bukan demikian juga yang saya cari, jadi saya juga tidak terlalu memikirkannya benar. senang dan sedih, baik dan buruk, apapun itu pada dasarnya kan cuma tamu saja.

semua ada jalannya. demikian kalau bisa selarasnya saja, sepatutnya saja, buat saya cukup.

kira-kira demikian

“terkadang aku berpikir, mengapa dia begitu kukuh bertahan menunggui satu hati?

…tapi mungkin dia juga berpikir, tidakkah melelahkan berpindah dari satu hati ke hati yang lain?”

 

(Zahra, dari ‘Grey dan Jingga’)

dari komik terbitan dua tahun lalu, yang sore ini terlihat tertumpuk pada sisi dalam lemari.

bicara di depan, bicara di belakang

pada pekan yang baru lalu, saya dan rekan-rekan di tempat kerja sedang mendiskusikan penugasan yang melibatkan cukup banyak komunikasi dengan pihak-pihak eksternal di luar tim. bukan hal yang aneh, seperti halnya penugasan lain yang biasa. masalahnya adalah bahwa kali ini dari tempat kami perlu berkomunikasi dengan pihak-pihak yang… apa ya, mungkin cenderung dianggap beberapa rekan sebagai ‘tidak selalu nyaman dalam komunikasi secara profesional’.

bukan hal yang luar biasa aneh juga. saya kira pada umumnya kita semua pernah mengalami keadaan seperti demikian di tempat kerja.

 


dana-scully-xfiles

(c) 20th Century Fox

“harusnya departemen kamu sudah komunikasi dengan tempat saya. kenapa baru sekarang?”
“eh…  siap bu… eh, mbak… Dana.” #plok

 

secara singkat, kira-kiranya diskusi waktu itu di departemen tempat saya sebagai berikut.

“aku suka takut sama mbak itu, kalau salah ngomong begini salah ngomong begitu gimana. kalau di sini kan enak, bisa santai ngomongnya…” demikian kata seorang gadis rekan kerja dalam diskusi. rekan yang lain, seorang pemuda sepantarannya, menyatakan persetujuan singkat.

saya berpikir sejenak. saya juga bukannya tidak paham, situasi seperti ini kadang seperti menavigasi ladang ranjau… eh itu agak berlebihan juga sih perumpamaannya, tapi kira-kira begitulah. akhirnya disepakati bahwa keadaan seperti ini tidak bisa terlalu sembarangan sehingga komunikasi antar departemen akan menjadi tanggung jawab saya.

“eh, hidup itu jangan dibikin susah lagi,” kata saya, menanggapi santai pertanyaan sekilas setelahnya. “hidup itu jadi lebih gampang kalau kita bisa ngomong di depan sama dengan di belakang orangnya.”

entah ada angin apa; kayaknya waktu itu saya sedang kesambet setan jadi sok bijaksana.

saya sering mengatakan bahwa sebagian besar konflik yang terjadi di sekitar kita seringnya berawal dari masalah komunikasi. misalnya ketika kita merasa tidak senang dengan sikap seorang teman atau sahabat, lantas kita diam saja. itu awal dari masalah. demikian juga ketika kita tidak setuju dengan atasan di tempat kerja, tapi kita sendiri juga tidak bicara apa-apa. itu juga awal dari masalah.

faktanya adalah, manusia tidak bisa membaca pikiran satu sama lain. sekarang ini saja Google Translate masih jauh sekali levelnya dari Konyaku Penerjemah punya Doraemon, bagaimana pula anda mau mengharapkan orang lain bisa paham tanpa anda sendiri yang mengungkapkan?

buruknya lagi, sering pula pada akhirnya kita malah menyampaikan ketidaknyamanan kita ke pihak lain. dengan segala keterbatasan sudut pandang kita, juga dengan keterlepasan konteks mereka yang mendengarkan dari keadaan yang sebenarnya kita alami.

pada akhirnya apa yang kita katakan di belakang seseorang menjadi berbeda dengan apa yang kita katakan di depan seseorang tersebut. keadaan seperti ini jarang berakhir baik.

 


karate-girl-istock

(c) iStock

“oh, jadi kamu malah curhat sama mantan kamu. oh… kebetulan aku lagi perlu ngelurusin kaki nih.”

 

saya tidak bilang bahwa kita harus selalu jujur keras-kerasan mengatakan segala sesuatu sesuai seenak perasaan kita. tidak harus seperti itu. kalau kita usahakan, seringnya ada cara untuk menyatakan ketidaknyamanan dan ketidaksetujuan tanpa harus kehilangan hubungan baik. sekalipun kadang konflik tidak terelakkan, masing-masing dengan resikonya.

secara pribadi, saya sendiri punya prinsip sederhana. kalau saya berani mengatakan sesuatu di belakang seseorang, maka saya juga punya kewajiban bahwa saya tidak takut mengakui hal yang sama di depan seseorang tersebut. harus adil, dong. di sisi lain saya juga harus berhati-hati karena saya punya tanggung jawab untuk mengatakan hal yang jujur, sebaik yang saya bisa, secukupnya saja. dengan atau tanpa kehadiran seseorang lain yang menjadi bagian dari pembicaraan saya.

saya sendiri lebih suka memandangnya seperti demikian. saya kira seharusnya cukup adil juga.

tentang tidak takut(-takut amat)

beberapa hari lalu, terjadi insiden terorisme di Jakarta. kota tempat saya bekerja, maksudnya. bagusnya tidak sampai banyak korban, demikian juga dalam beberapa jam situasi sudah kembali normal.

tentunya keadaan tersebut juga tidak bisa dibilang normal dalam beberapa jam sebelumnya. pesan-pesan pendek dan berita tidak jelas berseliweran, dan kalau ada orang mendengarkan kesannya seolah keadaannya semacam sudah gawat sekali dan kepanikan di mana-mana. padahal kenyataannya sendiri… ya memang rada gawat sih, tapi sungguh tidak separah kedengarannya.

ngomong-ngomong. cerita berlanjut bahwa, belakangan ini, akhirnya saya malah dengan bodohnya mengunjungi kembali laman media sosial, yang mana pada saat ini notabene sedang marak dengan tema ‘kami tidak takut’. eh salah ya. harusnya kan pakai tagar biar lebih seru dan kekinian. baiklah. #KamiTidakTakut.

. . . dan tertawalah saya.

serius, anda semua harus berhenti menggunakan media sosial. setidaknya sejenak. kemudian coba jalan-jalan di Jakarta. gunakan transportasi publik, atau jalan kaki juga boleh.

Jakarta tidak takut, karena sudah terbiasa untuk tidak takut menghadapi kekerasan.


theraid-iko2

tak lupa tagar #KamiNaksir buat kak Iko. polisi baik ramah rendah hati, rajin sholat jago berantem pula.

(c) Merantau Films

 

dulu, waktu masih kecil-baru-mulai-remaja, saya pernah berurusan dengan tukang palak. kira-kira mungkin setahun di atas saya. kena pukul tiga-empat kali, memasukkan balasan satu-dua kali. uang dan bawaan saya aman, tapi ya kena memar dan lebam juga. demikian di lain waktu, dulu masa sekolah saya pergi naik metro mini, eh kena juga digaplok preman. rasanya darah sudah panas betul… di sisi lain tidak sampai ada kerugian materi, sehingga, yah, daripada cari perkara di tempat orang malah bikin tambah masalah.

belum lagi masalah kecil lain-lain seperti melihat rombongan tiga-empat copet melompat keluar dari bus lantas terbirit-birit menyeberangi jalur cepat jalan searah (hebat, kok bisa ya), atau ketika jalan kaki sendirian melewati lokasi biasa tawuran antarkampung (yang bagusnya belakangan sudah lebih jarang). mau tidak mau hal-hal seperti ini memberikan perspektif tersendiri.

maksud saya begini: mengatakan bahwa ‘kami tidak takut’ terhadap teror dan kekerasan adalah satu hal. dan itu sungguh tidak susah. tapi jujur sih, kalau sudah terbiasa dengan hal-hal di atas, ketika melihat ada teror bom dan jumlah korban tewas malah lebih banyak teroris, anda mau takut apa lagi?

saya sendiri tidak terlalu antusias mengikuti pendapat orang-orang. pendapat sih tidak ada yang salah, walaupun seringnya banyak yang tidak berguna. dalam arti tidak ada rencana atau solusi, maksudnya. ampun deh. kalau cuma berkomentar saja sih (apalagi sambil marah-marah, asyik deh), saya kira semua orang juga bisa.

sehingga untuk pertanyaan pada beberapa hari lalu seperti ‘loh, memangnya kamu enggak takut’ atau ‘kenapa kamu kok bisa kayak cuek banget begitu’… saya hanya mengingatkan diri dua potong kalimat saja.

i. bukankah kami telah melapangkan untukmu dadamu dan mengangkat beban yang memberatkan punggungmu

ii. (maka) siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja jalan hidupnya.

Q.S. 94:1-3, feat. Mat 6:27.

berani hidup, tidak takut mati. walaupun sungguh tidak semudah kedengarannya, apalagi kalau anda sudah punya terlalu banyak keterikatan dengan dunia.