belok kiri, dari Perth

lewat jam delapan malam waktu Australia Barat, atau lewat jam tujuh malam waktu Jakarta ketika lembaran customs —isian bea dan cukai sebelum memasuki negara tujuan— dibagikan oleh pramugari di kabin. tujuan Jakarta dalam waktu dua atau tiga jam ke depan, atau setidaknya demikian yang terakhir kuingat dari status penerbangan di layar di depan kursi. itu sebelum kumatikan layar, entah beberapa belas menit lalu atau beberapa puluh menit lalu.

tidak ada bedanya juga. tidak ada yang menjemputku di bandara, tidak akan ada telepon atau pesan pendek, tidak akan ada apa-apa menungguku setelah pendaratan sehingga aku jadi tak terlalu memperhatikan waktu.

aku membolak balik lembaran putih dengan tepian biru. deklarasi barang-barang, alkohol atau rokok, lain-lainnya terkait batas nilai semua tidak ada dalam bawaanku. kupikir-pikir, biasanya juga aku tidak pernah membawa banyak bawaan ke mana-mana saja, dengan demikian isian sederhana umumnya mencukupi.

kuperhatikan penumpang-penumpang lain di sekitar tampak asyik menonton pilihan film dalam penerbangan atau mendengarkan musik. sebagian mencoba tidur. tidak ada yang membaca.

pandanganku kembali ke layar di depan kursi yang masih kubiarkan gelap. memang sengaja tak ingin kunyalakan.

.

“maaf ibu, boleh pinjam bolpennya?”

demikian aku bertanya kepada seorang ibu yang tampak baru menyelesaikan formulirnya di sebelahku. kutaksir usianya limapuluhan tahun, warga Indonesia, mungkin keturunan suku di daerah Sumatra, tapi demikian itu kira-kiraku saja jadi aku tak yakin benar.

dia menoleh. aku tersenyum sopan, dia membalas sambil mempersilakan aku menggunakan alat tulisnya. kuucapkan terima kasih, sambil lalu kami  berkenalan dan mengobrol sekilas tentang isian bea cukai dan bagaimana seharusnya mengisinya.

aku permisi sebentar dari obrolan untuk mulai mengisi formulir, setelahnya kukeluarkan berkas-berkas identitas dan mulai menuliskan isian dari nama lengkap dan nomor paspor.

.

“di sini kuliah?”

demikian pertanyaannya yang kujawab dengan sedikit tertawa setelah mengembalikan alat tulisnya. bukan pertama kali juga aku menemukan pertanyaan seperti demikian dalam perjalanan. mungkin ada hubungannya dengan penampilan juga bahwa saat itu aku mengenakan kaos FILA dan celana panjang khaki serta sepatu kets.

“ahaha, enggak lah. saya sudah kerja,” aku menjawab. “cuma kebetulan lagi ke Perth saja.”

kotanya nyaman, kataku. tidak terlalu ramai tapi modern dan rapi juga. kukatakan bahwa kesanku warga kotanya tergolong ramah, terutama di daerah yang sempat kujelajahi.

Perth. kota di daerah muara sungai di bagian barat Australia. dilalui oleh sungai Swan, membelah kota yang pada dasarnya berupa dataran rendah. juga merupakan ibukota negara bagian Australia Barat, tempat di mana sebagian besar urusan pemerintah dan juga kegiatan bisnis terpusatkan untuk kawasan tersebut.

sama sekali bukan kota tersibuk atau paling ramai yang pernah kukunjungi. tapi ada kesederhanaan dan identitas kuno bertemu dengan tatakelola kota modern dari negara maju menghasilkan kombinasi yang memberikan kesan tersendiri.

 

“kalau saya di sini, izin saya permanent residence,” ujarnya. “jadi warga tetap. kerja di sini juga, tapi bukan di kota. suami saya orang Australia.”

sudah lebih dari 10 tahun, katanya, dan dia sendiri tak terlalu sering pulang ke Indonesia. kalaupun pas pulang biasanya menyesuaikan Natal, tapi kali ini memang sedang ada urusan jadi akan pulang selama tiga pekan. menurutnya kadang agak repot kalau di Indonesia, tetapi dia juga belum ingin beralih kewarganegaraan ke Australia.

“orangtua juga masih ada. kalau ada urusan waris-warisan, susah kalau sudah jadi warga asing. mungkin setelah semua beres baru pindah warganegara.”

kupahami maksudnya bahwa sekiranya nanti orangtua meninggal dunia dan urusan waris sudah selesai, dengan demikian putus juga urusannya sebagai warga negara Indonesia. mungkin sesekali masih akan bertemu keluarga, tapi tidak akan lebih dari itu.

bisa dipahami, sangat manusiawi sekaligus sangat pribadi. aku mendengarkan untuk beberapa saat, beberapa hal agak terlalu pribadi jadi kuputuskan untuk tidak menuliskannya di sini.

aku ingat ketika di sela-sela waktu aku memutuskan untuk berjalan-jalan sendirian di antara Hay dan Murray Street. kuperhatikan ada satu-dua restoran Indonesia, dan satu toko bahan makanan Asia memampangkan tulisan SELAMAT DATANG di atas pintu kaca. bukan hal yang aneh, tapi yang kupikirkan waktu itu adalah seberapa dekat —atau jauhnya— orang-orang Indonesia di sana merasakan hubungan diri terhadap rumah. itu juga bukan hal yang sepenuhnya sederhana.

pada kesempatan lain aku menyusuri Adelaide Terrace dari arah Hill Street, dan sekilas kuperhatikan bangunan Konsulat Jenderal Republik Indonesia. bangunannya tidak tampak terlalu besar. seperti bangunan kantor pada umumnya saja, dengan desain yang resik dan rapi serta bendera merah-putih terpasang pada tiang di halaman depan.

 

“kalau masih sendiri, bagus juga cari kerja di sini, menetap. sudah punya pacar?”

“sedang tidak ada sih,” kataku sambil tertawa. “baru lepas juga kemarin. aduh.”

“waaah… kalau begitu ya mungkin sudah saja coba cari visa kerja. malah enak, ketemu suasana baru, teman-teman baru,” ujarnya, entah sedikit menghibur. “mungkin ketemu jodoh juga. kalau enggak mau bule, di sini orang Indonesia juga banyak, lho.”

aku hanya tertawa. kukatakan bahwa dulu ada rekan yang mirip seperti itu, setelah putus dari pacarnya terdahulu kemudian memutuskan pergi sendirian untuk merantau dan bekerja di luar negeri. mungkin baik juga untuk membuktikan diri, kataku, itu juga sempat terlintas di pikiran.

“kalau masih muda, masih sendiri, kalau Tuhan beri kesempatan kenapa tidak.”

aku mengangguk mengiyakan. mungkin nanti ke mana Tuhan membukakan jalan, kataku.

Perth adalah kota yang tergolong modern, tetapi secara geografis lokasinya bisa dikatakan terisolasi. kota besar paling dekat adalah Adelaide, kira-kira dua ribu kilometer jauhnya. demikian pula secara jarak, masih lebih dekat Perth ke Jakarta daripada ke Sydney atau Brisbane.

kota modern yang cenderung terisolasi, bisa terhubung walaupun tidak selalu mudah. tempat di mana bangunan-bangunan dengan identitas klasik berdampingan dengan arsitektur baru dan tatakelola modern. kupikir pada akhirnya aku sedikit paham; memang ada hubungan-hubungan di situ.

di satu sisi, kurasa kota ini juga seperti jadi cermin buatku.

 

lampu sabuk pengaman sudah dinyalakan untuk beberapa lama. kemudian bunyi roda dan guncangan ringan dan kami sudah mendarat di Jakarta. pengumuman lebih lanjut dari awak kabin menyampaikan bahwa untuk kali ini tidak ada garbarata atau terowongan tembus ke terminal kedatangan internasional.

kupikir, ya sudahlah. dengan segala baik atau buruknya, selamat datang kembali di Indonesia.

aku mengecek ulang bawaan dalam kabin, memastikan paspor dan isian bea cukai, kemudian untuk terakhir kalinya pamit untuk berangkat duluan kepada beliau di sebelahku.

“saya duluan, ibu,” demikian kataku. “terima kasih.”

“iya, silakan. sama-sama.”

dia melambaikan tangan dan kami berpisah ketika aku melangkah ke tangga turun.

.

di atas aspal bandara, kurasakan Jakarta sedikit berangin. tidak ada hujan. bus ulang-alik ke terminal kedatangan berada dalam beberapa belas meter dari tempatku berdiri. lampu-lampu menara tampak berkelap-kelip di kejauhan.

setidaknya kali ini tidak hujan.

telepon genggam masih kubiarkan mati. entah mungkin nanti akan kunyalakan lagi.

americano dan hazelnut latte

dia duduk di dekat jendela, dengan secangkir kopi berada dalam genggamannya. anak muda, laki-laki, dua puluh tahunan awal. kacamata berbingkai setengah. rambutnya sedikit mencuat dan agak berantakan. dia mengenakan kaos dan celana kargo serta sepatu trekking, dengan ransel hitam diletakkan di dekat kakinya.

aku merapi-rapikan rambut dan kacamataku dalam gerakan tanpa sadar. masih agak berantakan, tapi kurasa terserah sajalah. banyak hal tidak berubah, ya.

kukatakan ‘hei’ singkat, berbasa-basi sekilas. kemudian mengambil tempat duduk, demikian kami sama-sama menghadap ke luar jendela kaca.

dalam genggamannya, Hazelnut Latte —kopi rasa kacang, kataku— dalam cangkir sekali pakai. di hadapanku, secangkir Americano —kopi sok Amerika, katanya— dalam wadah berbentuk serupa.

konon katanya, kopi adalah metafora kepribadian yang menyesapnya. kali ini agak terbalik, pikirku.

.

“kau sudah tahu, kan?”

“sudah.”

baguslah, kataku. aku menyeruput kopi. sepotong tuna cheese puff —roti tuna keju— masih hangat dengan aroma yang khas di atas meja. kukatakan padanya untuk mengambil sebagian dari piring kalau tertarik, tidak masalah jadi santai saja.

dia mengangkat sebelah alis, merapikan kacamatanya, kemudian bertanya sekilas. “kesukaannya dia dulu kan itu?”

“begitulah,” jawabku kalem. “kalau mau boleh lho. mungkin kau ada pendapat juga soal itu.”

“penakut,” dia berkata, dingin. “tak pantas buatmu.”

aku tak menyanggah. tapi kukatakan juga bahwa tak selalu harus seperti itu. ada juga hal-hal yang tak selalu bisa dipahami. dunia memang penuh orang-orang bingung, kataku, dan dalam kebingungan itu banyak orang mungkin menyakiti yang lain secara kurang atau tidak perlu. entah seberapa sukarelanya mereka soal itu.

“walaupun mungkin,” kataku, “kau benar soal itu.”

aku menyeruput kopi dari cangkir kertas. rasanya sedikit pahit.

.

aku memperhatikan minuman di hadapannya. Hazelnut Latte. masa lalu, pikirku. masih dalam genggamannya. sementara di hadapanku secangkir kopi konon cara Amerika… Americano, kalau mau menyebutnya dengan sedikit pretensius, dipersiapkan tanpa tambahan gula.

kopi di hadapannya itu mengingatkan pada seorang gadis yang pernah kutemui sekali dulu. atau gadis yang pernah dia temui, sama saja, terserahlah.

demikian itu aku ingat pada suatu hari di akhir pekan, pada tahun-tahun yang lalu. obrolan panjang dan Hazelnut Latte di meja. kemudian tiga kata sederhana dari seorang gadis, yang kemudian berakhir dengan ungkapan maaf dari sisiku serta sedikit-banyaknya luka hati dari sisinya.

“kopi rasa kacang itu,” kataku, “kau masih mengingatnya, ya?”

“dia lebih berani. dalam banyak hal. lebih daripada gadis yang kau kenal.”

“yang akan kau kenal juga, maksudnya.”

dia mendengus.

“tak ada bedanya. buatku nilai seseorang itu dari apa yang dia katakan dan apa yang dia lakukan.”

tak ingin terdengar menghakimi, katanya. tapi kalau orang tidak bisa jujur, tidak bisa menghadapi diri sendiri terlebih pula orang lain, dia tidak melihat banyak harganya. kalau kau hidup dengan terus membawa sesal, apa gunanya juga.

“buatmu juga begitu, kan. kau tak ingin hidup dengan penyesalan. makanya kau lakukan semua itu.”

tidak salah. demikian buatku juga, dan aku tahu dia benar. aku mengangkat cangkir ke sisinya. dia menyambut.

bersulang dengan kopi dalam cangkir sekali pakai. lucu juga, pikirku.

.

“itu tidak mengubah keadaan,” katanya. “yang dia lakukan itu jahat. oke, tidak secara harfiah. tapi aku mungkin akan sudah membencinya.”

“untuk ukuran anak muda sebelum waktunya, kau cukup tahu referensi  populer jaman sekarang, ya.”

“ya, ya, ya, terserahlah.”

“baiklah. omonganmu itu ya, mungkin,” jawabku. “tapi seperti kukatakan tadi, banyak orang juga bingung. hal-hal kompleks dan membingungkan, emosi tumpang tindih. kadang orang cuma mencari jalan keluar yang bisa mereka lihat. entah seberapa nyamannya itu buatmu, atau buatku.”

aku merasakan emosinya naik.

“justru itu kan?!” sergahnya, “tidak ada yang diselesaikan, pertanyaan-pertanyaan tidak terjawab, berharap semuanya beres, macam roti atau tapai ditinggal basi? kau merasa itu adil buatmu?”

berat buat dia mengeluarkan beban itu semua. aku menghela nafas. aku paham soal itu.

“aku tak bilang aku tak setuju. tapi kenyataannya, tidak semua orang bisa seberani kamu, atau aku.”

dia membuang pandang, melemparkan kata ‘payah’ dari mulutnya, dengan seberkas ekspresi muak yang kupahami dengan baik.

aku paham sekali maksudnya. benar-benar paham. bahwa kadang, dengan orang-orang bersikap bingung —atau meminjam kata-katanya, bodoh atau payah— seringnya menimbulkan luka yang tak selalu perlu. kadang mungkin lebih dalam dari yang seharusnya. dengan atau tanpa pertanyaan-pertanyaan tak terjawab yang mungkin menyertainya.

“kau masih ingat Putri? the 2nd Princess?”

“aku tidak ingat,” dia menjawab dingin. “apa urusannya dia dengan ini semua?”

“mungkin dia juga sama.”

dia membuang pandang. tapi aku juga tahu bahwa kekecewaan dan kata-kata pedasnya itu bukan tidak ada benarnya.

.

“yang ingin kukatakan adalah,” kataku, “bahwa mungkin kau tidak setuju dengan beberapa hal, tapi dalam banyak hal kebetulan aku sudah melangkah duluan, sementara kau belum sampai sana. ada hal-hal yang—”

“apanya? omong kosong.”

dia tersenyum tipis, hampir sinis malah. kemudian dia melanjutkan menjawab balik dengan telak.

“kau bilang hal-hal seperti itu, sok dewasa dan sebagainya. padahal kau juga mulai keropos. terlalu banyak pengalaman, terlalu banyak pertimbangan. kau jadi kehilangan sisi yang bisa melihat dengan jelas.”

dia terus memburu. “lagipula, menurutku kau jadi tidak jelas,” tetaknya. “maumu apa? kau tidak bisa mengatakan seolah hal-hal jadi baik karena kau mencoba memahami orang-orang bingung. buatku itu bodoh.”

sunyi, tidak terduga. kali ini aku tahu bahwa dia benar, dan aku tidak punya jawaban untuk itu. entah berapa lama kami hanya saling diam. tidak ada sahutan, tidak ada jawaban.

tapi kemudian aku tersenyum.

“. . . karena itu kau ada di sini, kan?”

“karena itu kita ada di sini.”

“terima kasih, ya.”

dia tampak tertegun. aku tahu ini juga bukan hal yang biasa buatnya. sekali lagi, untuk beberapa saat tidak ada kata-kata keluar di antara kami.

tapi aku tahu, dia benar. dan untuk itu pada akhirnya aku paham; langkah yang lebih jauh tak selalu berarti selamanya lebih bernas dan bijak. penanda tak terhalang waktu pada saatnya demikian berharga.

aku tersenyum. dia tampak sedikit bingung untuk beberapa saat, tapi pada akhirnya dia tampak paham.

“sudah, aku pergi dulu. suatu hari, suatu saat, mungkin kita akan ketemu lagi.” aku menepuk bahunya, sekali, kemudian mengangkat ransel siap melangkah pergi. “pokoknya, terima kasih. sampai ketemu lagi, bocah.”

tersenyum tipis, dia hanya memberikan jawaban singkat; “kapan saja. jangan sampai kau jadi karatan.”

aku melangkah pergi. dia masih sebentar lagi. di meja, roti tuna serta Hazelnut Latte dan Americano sama-sama sudah tinggal remah dan sisa.

belakangan ini…

… saya sibuk. seperti biasa. atau mungkin lebih tepatnya menyibukkan diri. kadang-kadang bagus juga, jadi tidak sempat memikirkan hal-hal lain.

… entah kenapa pada suatu episode kesambet iseng menulis fiksi yang baru lalu. rasanya agak aneh; umumnya saya menulis sudut pandang pertama hanya terkait pengalaman pribadi.

… mengalami penurunan frekuensi latihan fisik dan teknik. kehilangan 200-250 push-up per hari kelihatannya berimbas juga badan jadi terasa berat.

… akhirnya bisa bertemu teman-teman lama yang datang dari berbagai tempat dan pulau Indonesia. menyenangkan. cukup banyak juga yang dibicarakan, cukup banyak juga waktu sudah berlalu.

… cenderung menarik diri dari media sosial dan diskusi grup. sisi buruknya, saya sempat ketinggalan beberapa berita. sisi baiknya, saya lebih bisa fokus ke banyak hal lain.

… jadi lebih suka minum kopi dan teh tanpa gula. rekan-rekan yang memperhatikan agaknya mafhum bahwa selera saya berubah. sekali waktu saya coba kembali menambahkan gula, kok jadi tidak enak, ya.

… mengurus perpanjangan domain dan hosting untuk situs ini. ternyata sudah sepuluh tahun saya menulis di sini, cukup panjang juga ya. beberapa orang mendapatkan tempat khusus dalam tulisan tersendiri.

.

.

.

… kemudian menyadari bahwa dalam waktu dekat akan sudah sampai bulan Oktober lagi. agaknya saya dan tempat ini sama-sama tumbuh tambah tua.

jembatan

O/I

memasuki bulan Agustus banyak hal terasa seperti melangkah dalam lumpur dan sedikit berat, tapi kalau diteruskan toh bisa-bisa saja kita mengarahkan diri ke tempat manapun itu kita mau pergi. di luar itu matahari masih bersinar terang, kalau hujan jadi sedikit kelabu, tapi ketika kita memikirkannya lagi itu semua pada dasarnya hal yang biasa-biasa saja. sesekali kalau kita mendengarkan, ada juga suara burung-burung berkicau sampai jam sembilan-sepuluh pagi, setelahnya sepi dan suasananya jadi tenang sekali.

aku membaca surat-surat masuk yang kuambil dari kotak pos dan sambil lalu terhirup wangi kertas bercampur aroma lem yang rasanya khas. suara anak-anak kecil berlarian sambil bermain mobil-mobilan Tamiya terdengar sayup-sayup, sesekali ada juga tukang es krim lewat dan tiba-tiba jadi ramai sebentar lalu kemudian hening kembali.

aku membolak-balik lembar-lembar amplop. penawaran barang elektronik dikirimkan ke alamat ini. kartu pos dan telegram dari beberapa kenalan dan kerabat. satu amplop lainnya surat dari tempat yang jauh dengan nama yang kukenal.

surat itu dari Ina. aku menyandarkan diri ke sisi tempat tidur, memejamkan mata dan menarik nafas, membuka amplop dengan satu guntingan rapi dan mengeluarkan isinya.

terima kasih atas suratmu, katanya.

“senang rasanya kamu masih ingat waktu terakhir kita ketemu. waktu itu kamu bilang akan kirim surat dan waktu kamu benar mengirimkannya rasanya senang sekali. kupikir kamu lupa. atau salah perangko. rasanya cemas berlebihan sekali, ya. bagaimanapun aku ini perempuan jadi sedikitnya aku merasa malu juga.

“di sini sekarang musim panas, orang-orang memakai baju tipis tapi buatku tetap saja masih agak dingin. kemarin aku pergi ke kedutaan dan di sana ada acara pertemuan dan makan-makan. senang rasanya banyak dengar bahasa sendiri. ada bendera juga dan aku jadi ingat kamu, tapi rasanya aneh juga karena kamu dulu malas sekali ikut upacara. demikian itu membuat jadi kangen rumah juga.

“waktu aku baca suratmu waktu itu sore hari di kamarku rasanya senang sekali campur sedih sekali. aku ingat bapak dan ibu dan adik-adik, tapi waktu ingat kita makan bubur kacang hijau di warung malam-malam hari begitu rasanya sedikit nelangsa. aku kangen bubur kacang hijau juga, di sini tidak ada. tapi semakin lama terbiasa juga, jadi tidak separah waktu masih baru dulu.

“tapi pada umumnya aku senang. di sini waktu berlalu cepat, mungkin karena kami semua sibuk. tugas-tugas seperti biasa, tapi taman dan jalan-jalan di sini indah dan dirawat baik jadi kitapun nyaman. minggu lalu aku naik sepeda menyusuri jalan dan memperhatikan taman-taman bunga yang kutemui, kita bisa bersantai sambil berjemur atau baca buku atau mengobrol dan itu hal yang wajar. di sini menyenangkan, tapi rumah juga menyenangkan lagipula di sini tidak bisa ketemu kamu juga. ibuku tanya kabarmu, kalau sedang sempat kurasa baik juga kamu main ke rumah.

“ngomong-ngomong, keponakanmu yang kembar itu lucu sekali! nanti kalau pulang aku mau main ke sana. sekalian aku mau ketemu adik barunya. nanti antar aku, ya.”

 

“salam sayang,”
“Ina”

aku membacanya sekali lagi, lalu melipat halaman-halaman surat tersebut seperti bentuk aslinya. kemudian aku pergi ke dapur dan menjerang air untuk menyeduh kopi. pada masa demikian ini kopi hanya semacam tubruk atau Torabika yang cukup murah dan cukup enak dengan gula secukupnya. selesai demikian aku kembali duduk di lantai bersandar ke sisi tempat tidur.

kertas surat itu wangi. gadis itu menitipkan aroma parfum kesukaannya melintasi sebagian muka bumi.

 

I/O

“eh, Di. nama tante kita itu… bukan Ina, kan?” pemuda itu bertanya kepada saudaranya.

“bukanlah. pertanyaan apa itu.” pemuda satunya lagi menjawab.

bongkar-bongkaran dan tumpukan kardus tertata tidak rapi menunggu dikembalikan ke tempat seperti seharusnya. surat-surat dan album foto tertumpuk di satu sisi lemari. debu bertumpuk-tumpuk, mesin jahit lama dan pot keramik berwarna hitam-merahtua bersisian di pojok terhalang tangga.

“… penasaran tidak sih.”

“iya. sedikit.”

sinar matahari sore menerobos melalui kaso dan lubang angin dan pintu yang dibiarkan sedikit terbuka. gantungan kunci Donal Bebek yang berusia belasan tahun bergoyang-goyang tertiup angin siang hari pada akhir pekan.

di sisi lemari, lembar-lembar foto dua orang anak kecil berusia dua tahun tampak berhenti dititipkan waktu.

superman (it’s not easy)

saya ingat, waktu kecil dulu saya sering menonton serialisasi Superman di salah satu televisi swasta. waktu itu Clark Kent masih muda, belum ketemu Lois Lane, dan masih dekat dengan Lana Lang.

waktu itu rasanya dunia sederhana sekali. sehabis pulang mengaji, sore hari, petang menjelang maghrib, duduk di depan televisi dan rasanya beban hilang beberapa saat sampai waktunya belajar dan barangkali mengerjakan PR. malamnya mempersiapkan daftar pelajaran ke dalam ransel kecil yang akan dibawa keesokan harinya.

entah kenapa. mungkin saya hanya sedang teringat sambil mendengarkan Superman (It’s Not Easy). Five for Fighting, demikian nama kelompok yang membawakan.

 

superman-child

“I’m only a boy, in a silly blue shirt, promised to protect you on this one way street…”  ♪♫

 

beberapa hari belakangan ini saya kena flu. bukan sesuatu yang benar-benar parah, tapi hal-hal seperti demikian membuat kita cenderung tidak bisa melakukan apa-apa, dan buat saya itu juga membuat pikiran menjadi berkelana. keadaan seperti demikian membuat sedikit senang sekaligus membuat sedikit sedih juga kadang-kadang.

misalnya begini. sebagai seorang anak kecil yang tumbuh untuk menjadi laki-laki, saya menerima tuntutan untuk menjadi sosok yang kuat dan setidaknya ‘enggak malu-maluin amat’. saya menerima tuntutan untuk bisa menjadi sosok yang bisa diandalkan, baik oleh diri sendiri maupun oleh orang-orang lain.

katanya bapak dulu, anak laki-laki itu harus kuat. dan berani. itu pesan yang saya ingat dengan baik.

I’m only a man, in a silly red sheet
digging for kryptonite on this one way street

walaupun kadang ya demikian itu, sekuat apapun kita sudah berusaha untuk menjadi —lebih— tangguh, sama seperti Superman juga, kadang kita tak berkutik juga di hadapan sesosok, eh, sekeping kriptonit. kita yang biasanya kuat dan berlagak bisa menahan banyak hal, tiba-tiba pain tolerance-nya jadi rendah sekali. kita yang sering sok memaksa diri untuk terlihat tegar tiba-tiba menemukan diri mendadak terasa berat sekali.

tapi, mungkin itu juga bukan hal yang sepenuhnya buruk. bukankah di satu sisi, kriptonit itu juga akhirnya membuat Superman menjadi lebih manusia daripada seharusnya. (walaupun ya, secara teknis sebenarnya dia itu bukan manusia juga sih…)

entah kenapa saya kepikiran bahwa mungkin, faktor kriptonit demikian itu juga membuat kita sedikit lebih dekat dengan sisi lain diri kita. bahwa kita mungkin tidak bisa setangguh yang kita harapkan, tidak bisa sekuat yang kita inginkan, tapi setidaknya kita menjadi sedikit lebih manusiawi daripada yang kita perkirakan.

.

padahal kalau dipikir-pikir lagi, kita hidup di dunia ini juga bukan buat jadi Superman. juga bahwa sesekali jatuh atau bertekuk lutut di hadapan sesosok atau sekeping kriptonit yang selalu mengingatkan diri, itu juga bukanlah sesuatu yang selalu sepenuhnya buruk.

tidak sederhana, tapi buat saya itu bukan pertukaran yang tidak adil.

linimasa dan saya

belakangan ini, saya merasa sedikit jenuh. bukan dengan kehidupan atau karir atau keluarga atau hal-hal lain pada umumnya —saya bersyukur saya masih bisa bangun pagi dengan tujuan dan bekerja keras untuk itu— tapi lebih ke arah hal remeh-temeh di sekitar saya. media sosial, misalnya.

beberapa pembaca mungkin paham bahwa saya cenderung memiliki hubungan benci-tapi-rindu [→] dengan media sosial [→]. memang seperti itu sih kenyataannya.

 

gunnersaurus-meme

I feel you, Gunnersaurus. I really do. (eh…)

 

kalau boleh jujur, saya sering merasa sedikit kehilangan sinyal dalam demikian banyak lalu-lalang informasi di sekitar saya. noise-to-signal ratio terlalu tinggi, demikian juga pendapat-pendapat yang demikian mudah berseliweran dan dibagi-bagi, entah seberapa valid atau matangnya fakta di baliknya.

kenyataannya, media sosial itu tidak representatif. mana mungkin anda bicara akar rumput, kalau naik angkutan kota [→] saja jarang sekali atau tidak pernah? mana mungkin anda bisa bicara Jakarta tidak takut [→], kalau berurusan dengan konflik di tengah kota saja masih nihil?

kenyataannya pula, banyak juga pendapat yang seringnya tidak didasari kemampuan atau proses belajar yang memadai pada bidangnya. bagaimana mungkin anda mau bicara ilmu agama tapi membaca kitab saja tidak lengkap? bagaimana mungkin anda mau bicara politik luar negeri kalau bacaan anda cuma media online? bagaimana mungkin anda mau bicara sains kalau pinjam jurnal dari perpustakaan saja cuma buat skripsi?

di dunia di mana suara-suara yang keras lebih didengar(kan), kita mungkin mulai kehilangan untuk mendengarkan hal-hal yang tidak dikatakan.

.

oleh karena itu, belakangan saya sendiri merasa semakin tidak antusias. Twitter sudah tidak pernah lagi saya gunakan, kecuali mungkin untuk tautan ke tulisan di sini. Facebook sudah jarang sekali saya scroll sampai ke ujung bawah halaman. Path dan Instagram praktis tidak pernah saya coba.

di luar itu, saya lebih banyak menghabiskan waktu dengan bekerja, entah apakah itu dengan tim di tempat kerja atau kegiatan sampingan atau hobi pribadi. membaca buku atau tulisan-tulisan panjang. latihan fisik dan teknik, kadang dengan beban, kadang dengan lantai dan tembok. hal-hal yang setidaknya ada hasil yang lebih bisa saya lihat, dengar, dan rasakan, setidaknya untuk diri saya sendiri.

yang sebenarnya mungkin ironis juga. di luar sesekali mengobrol santai dengan rekan-rekan dan menjalin komunikasi, hasil seperti demikian rasanya susah sekali saya temukan di sana.

kepikiran. iya.

“mau nangis boleh enggak? . . . ya enggak lah. anak laki-laki kok nangis. bego.” (LOL)

i. because boys don’t cry and men only bleed.
ii. it helps when it is raining.

akhir

“maaf.”

bocah itu tercekat. suaranya keluar berat dan tersedak-sedak. genggamannya gemetar.

tapi, sunyi.

“maafkan aku. aku janji akan jadi anak baik. aku janji nggak akan marah-marah lagi. aku janji…”

tak ada jawaban.

si bocah mulai sesenggukan. rasanya mau pecah. matanya buram. basah.

“aku janji. tolong jangan pergi. tolong…”

sunyi. hanya genggaman yang semakin lama semakin kebas.

kemudian satu sentakan, dan sakit; bocah terjatuh berlutut. genggamannya terlepas.

bocah itu duduk tergugu.

“maafkan aku. maaf. maafkan aku, aku nggak mau…”

tolong jangan pergi.

“aku… aku…”

maafkan aku, kak. maafkan aku. maaf….

“HUAAAAAAA…”

suara itu terdengar perih. hanya suara bocah yang terdengar. perih.

dan bocah itu kemudian sendiri.

.

pemuda itu terbangun. bocah yang dulu kini kembali.

dan masih, seperti dulu-dulu lagi, kembali meninggalkan jejak basah dan pandangan yang lantas buram di sisi tempat tidur pada subuh dini hari.

tamu

“senang dan sedih itu kan seumpama tamu saja. kalau lagi datang kita urus, kalau mau pergi kita antar. sepatutnya saja.”

_

mungkin saya bertambah tua. atau mungkin saya cuma sedikit bertambah bijak. atau mungkin cuma sudah saatnya bahwa saya tidak lagi memandang hidup sebagai mencari kesenangan dan menghindari kesedihan.

lho, kok?

 

be-happy

kalau melihat orang lain sedih, kita buat bahagia! … eh, mungkin.

 

iya. terutama belakangan ini, saya menemukan bahwa ternyata bukan mencari kesenangan dan menghindari kesedihan seperti itu yang saya cari. bukan pergi jalan-jalan ke tempat jauh, bukan makan enak, bukan mencari pengalaman yang bisa dibanggakan.

bukan itu. sama sekali bukan itu.

demikian pula buat saya hidup itu bukan lagi soal mati-matian berusaha menghindari keinginan mentok tidak tercapai, kehilangan orang-orang terdekat, hal-hal lain yang mungkin bisa demikian tidak nyaman untuk banyak orang.

bukan itu. sama sekali bukan itu juga.

.

saya sering menganalogikan hidup itu seperti layaknya kita punya rumah. kita berusaha baik, kita buat rapi sebisa kita, senyaman mungkin sehingga kita juga betah. sambil sesekali ada tamu datang berkunjung, ngobrol-ngobrol sebentar, minum teh atau kopi. ketika urusan sudah selesai, pamit dan kemudian pergi lagi.

buat saya, berbagai hal dalam hidup itu ya seperti itu. senang dan sedih, ceria atau kecewa, semua itu ya seperti tamu saja. bukan berarti bahwa dengan demikian lantas ada tamu yang baik dan ada tamu yang buruk, bukan seperti itu juga.

cuma bahwa ada tamu datang ke rumah kita. bukan baik, bukan buruk. cuma ada. itu saja.

kalau ada tamu datang, ya kita urus. kadang perlu disediakan teh, kadang lebih suka kopi. tidak masalah, yang ada saja. sambil lalu kita mengobrol, kita jadi lebih mengenal tamu kita, dalam prosesnya juga jadi lebih mengenal diri sendiri. barangkali juga kemudian sadar ternyata rumah kita ada kurang-kurangnya sedikit. tidak apa-apa.

kalau waktunya pergi, ya kita antar. tamu menyenangkan, tamu kurang menyenangkan, pada waktunya akan pergi. kalau sudah waktunya tamu pergi tapi kita memaksakan untuk tinggal di rumah kan kurang elok juga. maka kita antarkan, sebaik dan semampu kita saja. jangan dipaksakan.

setelahnya kita bersih-bersih rumah. sesekali kita mengingat-ingat, oh ada juga tamu yang menyenangkan pernah datang, ada juga yang lain-lain pernah datang. sambil jalan kita buat rumah kita lebih rapi, sehingga bisa lebih nyaman untuk kita sendiri, juga buat ketemu dan ngobrol kalau misalnya ada tamu lagi.

kita tidak tahu juga tamu berikutnya akan seperti apa. tapi ya sudah, kalau datang ya kita urus. kalau mau pergi ya kita antar. sepatutnya saja.

.

buat saya, senang atau sedih itu ya kenyataan hidup. sama halnya seperti kalau lapar kita makan dan kalau kita masak ikan sering ada kucing tetangga. bukan sesuatu baik, bukan sesuatu buruk. cuma sesuatu saja.

bukan berarti bahwa segala sesuatu lantas cuma dilihat dan ditunggu saja. hidup itu ya dijalani sebaik kita bisa, semampu kita bisa, sekuat kita bisa. kalau kita berusaha baik, seringnya terjadi hal-hal baik. kadang-kadang tidak, ya sudah. kalau kita terlalu terikat kepada hal-hal seperti baik dan buruk atau senang dan sedih, jadinya ya susah juga.

oleh karena itu, yah, ketika cukup banyak rekan-rekan yang terlihat senang dan bahagia dengan pergi ke tempat yang jauh atau memiliki rumah serta mobil baru atau pekerjaan yang hebat dan mentereng, ya mungkin ada bagusnya juga.

walaupun buat saya sendiri, mungkin berhubung bukan demikian juga yang saya cari, jadi saya juga tidak terlalu memikirkannya benar. senang dan sedih, baik dan buruk, apapun itu pada dasarnya kan cuma tamu saja.

semua ada jalannya. demikian kalau bisa selarasnya saja, sepatutnya saja, buat saya cukup.

kira-kira demikian

“terkadang aku berpikir, mengapa dia begitu kukuh bertahan menunggui satu hati?

…tapi mungkin dia juga berpikir, tidakkah melelahkan berpindah dari satu hati ke hati yang lain?”

 

(Zahra, dari ‘Grey dan Jingga’)

dari komik terbitan dua tahun lalu, yang sore ini terlihat tertumpuk pada sisi dalam lemari.