dear partner

I’ll be frank about this:
you are annoying.

it was just another once;
you got on my nerves, I did the same
God knows whatever else

you’re telling me not to judge others,
I’m telling you to listen to people,
and suddenly we seem better off without each other

okay, fine!
I have only one problem with that;
I told you once, and I still mean it now:

if I were to pilot a Jaeger,
I’d choose you as my partner

great. I always wonder
if we could ever be
a little
more
normal.

yeah, just a little more, if it’s okay
then again

you left me hanging, you got me baffled,
you don’t want to listen and I don’t want to talk

fine. whatever.
but did it ever come to you to remember?

that I told you once

that I could never, ever, ever
hate you.

not even one bit.

tentang debat, dan sedikit teknik

saya tidak suka berdebat. sungguh. mungkin karena dasarnya saya orang teknik, jalan pikiran saya kurang-lebihnya jelas: ada premis yang jadi pijakan, ada proses berpikir yang runut, dan ada tujuan akhir yang diperoleh dari penalaran dan analisis. jadi pada dasarnya, saya tidak terlalu suka konsep ‘debat’ di mana dua pihak saling mempertentangkan ide dan saling mengalahkan di arena debat.

walaupun ya bukan berarti hal-hal seperti ini jadi tidak perlu. untuk beberapa hal, kadang ada juga ide-ide yang terpolarisasi dan mau tidak mau jadinya diperlukan debat. dan pada dasarnya, itu juga tidak masalah: debat yang dilakukan dengan sehat itu kan makanan yang bagus buat pikiran?

sisi lain dari tulisan ini sebenarnya juga terinspirasi dari rangkaian acara debat kandidat calon presiden untuk pemilihan yang akan segera berlangsung di Indonesia. tentu saja untuk menjaga tulisan ini tetap nonpartisan, perlu diperhatikan bahwa kemiripan terhadap contoh yang ada pada tulisan ini tidak serta-merta menyatakan sikap saya sebagai penulis untuk mendukung atau tidak mendukung salah satu pihak.

after all, it’s for the science!  \o/

 

1. kenapa debat?

pertama-tama, mari kita berangkat dari tujuan utama sebuah acara debat kandidat yang dihadiri pemirsa. anda sebagai peserta, memiliki dua tujuan utama:

a. menunjukkan bahwa visi, misi, dan pendapat anda lebih unggul daripada visi, misi, dan pendapat lawan
b. mengambil hati sebanyak mungkin pemirsa untuk setuju dengan anda

kedengarannya seperti hal yang serupa, padahal sebenarnya tidak sepenuhnya sama. pada bagian pertama, anda harus menunjukkan pendapat anda lebih unggul daripada pendapat lawan. masalahnya, kalau anda unggul terus kenapa? masalahnya adalah, sekalipun argumen anda solid dan hebat, belum tentu pemirsa akan suka dengan cara anda memenangkan debat!

sebentar, ini jadi membingungkan, jadi mari kita telusuri pelan-pelan.

di sini, debat adalah media komunikasi dengan dimensi yang unik: pertama, komunikasi personal —anda sebagai seorang kandidat terhadap kandidat lawan (lawan, ‘opponent’, bukan musuh, ‘enemy’ lho ya). kedua, komunikasi massa —anda sebagai kandidat terhadap banyak pemirsa yang menyaksikan anda.

jadi, ada dua dimensi komunikasi, dengan dua tujuan yang berbeda. dari kedua hal ini, beberapa pendekatan praktis bisa diturunkan.

 

2. offense: kapasitas lawan, kekuatan lawan

ada contoh yang menarik dari debat calon presiden kemarin, ketika salah satu kandidat menanyakan hal kira-kira sebagai berikut:

“bagaimana pendapat anda tentang [...] dalam kapasitas anda sebagai menteri koordinator perekonomian dan ketua himpunan tani?”

ini contoh bagus dalam melakukan dua hal: pertama, dengan menggunakan kapasitas lawan sebagai kerangka referensi, anda menempatkan lawan dalam posisi yang harus membela diri dalam konteks yang sudah anda tetapkan. pada saat yang sama, anda mengingatkan —atau mengedukasi— pemirsa tentang atribut lawan yang menjadi dasar serangan anda. demikian juga anda bisa membangun follow up dan counterargument dari sana.

contoh, sekiranya lawan sudah menjawab pertanyaan dengan cukup baik, follow up bisa sebagai berikut:

“tapi kita melihat bahwa di sini [peran organisasi yang anda pimpin] terjadi kesenjangan… bahwa terdapat laporan terjadi… [masukkan data]“

perlu diperhatikan bahwa teknik seperti ini rawan sesat logika tu quoque, kalau keterusan bisa jadi straw man argument atau malah ad hominem, jadi gunakanlah dengan hati-hati.

 

3. defense: tentang keterlepasan emosi

ini hal yang berlaku umum, entah apakah anda sedang berdiskusi, atau rapat di tempat kerja, atau negosiasi. jadi bukan cuma soal debat. hal ‘berbahaya’ yang bisa anda lakukan adalah ketika anda menerima pernyataan atau pertanyaan tidak terduga, anda kemudian blank. secara psikologis, ini hal yang normal. tapi dalam konteks anda sedang berada di arena debat, hal tersebut sungguh tidak menguntungkan.

contoh bagus kemarin, kira-kira berikut, tentang silang-selisih penghargaan terkait pengelolaan tatakota:

“penghargaan Kalpataru itu memang bukan buat kota. yang buat kota itu Adipura!”

ketika pernyataan atau pertanyaan anda dipatahkan secara tidak terduga, reaksi yang normal adalah blank. kemudian panik mulai merayap. kemudian anda akan cenderung menanggapi secara agresif mengarah emosional. dan itu hal yang normal, bentukan evolusi kita memang seperti itu kok.

… atau kalau menggunakan istilah pemirsa awam, ‘yah, kepancing deh’ :|

periode kritis di sini biasanya 3-5 detik setelah serangan tidak terduga dan anda harus merespon. tapi keadaan seperti ini bukannya tidak recoverable juga. salah satu teknik yang umum digunakan adalah dengan mengakui kesalahan, namun dengan tetap menekankan fokus, pressing the point.

kira-kira follow up yang mungkin:

“maaf, ada selisih salah ucap di sini. betul, secara konteks memang seharusnya Adipura. kesalahan kami, terima kasih. (senyum)

tapi kembali kita review, ternyata ibukota di bawah anda tidak juga memenangkan penghargaan… [tambahkan detail lebih lanjut]“

lebih gampang dibicarakan daripada dikerjakan, sih. dan berhubung ini efeknya psikologis benar, jadi memang sama sekali bukan hal yang sederhana.

 

4. humor! dan emosi negatif itu tidak baik buat anda

sedikit berhubungan dengan poin sebelumnya. dalam keadaan terdesak —baik itu konteksnya debat, adu argumen, maupun negosiasi— manusia cenderung merespon secara agresif. masalahnya, emosi negatif itu sungguh punya dampak yang buruk: pertama, anda jadi jauh lebih rawan terjebak sesat logika (ad hominem, misalnya), dan kedua, anda mempertaruhkan kesan yang dipersepsikan pemirsa yang menyaksikan penampilan anda.

di sisi lain, humor adalah teman anda. tentu saja bukan berarti anda jadi melawak di arena debat, salah-salah anda terlihat tidak kompeten. fokus pada komentar cerdas-singkat-humoris, witty remarks, kemudian kembali ke topik serius.

contoh berikut, dikembangkan dari contoh di poin sebelumnya:

“ya bagaimana, ya. pertanyaannya salah, bagaimana saya bisa jawabnya? (nyengir)

tapi baiklah, dengan konteks yang sudah diperbaiki tadi. ada banyak dimensi dalam tata kelola kota, di mana penghargaan itu meliputi penilaian pada satu waktu. kita perlu melihat juga bahwa di kota-kota lain … [teruskan dengan argumen lebih lanjut]“

ingat kembali bahwa komunikasi anda memiliki dua dimensi: komunikasi personal, antara anda dan lawan debat, dan komunikasi massa, anda dengan pemirsa.

ngomong-ngomong, penggunaan humor yang tidak cerdas bisa jadi menyeret anda ke sesat logika model non sequitur, jadi kembali seperti sebelumnya, gunakan dengan hati-hati.

 

5. appeal to emotion

ini bukan tentang sesat logika yang itu, walaupun nantinya sedikit terkait. tapi kembali kepada tujuan anda di awal debat, penampilan anda dinilai oleh pemirsa… yang juga manusia. dan tidak ada seorangpun manusia yang selalu kebal dari sesat logika tanpa pertimbangan emosional, termasuk saya.

baiklah, andaikan anda punya argumen yang solid dan anda bisa menghajar pendapat lawan habis-habisan. katakanlah, anda menang debat. mungkin benar begitu, baguslah. tapi, bagaimana pemirsa akan menanggapi penampilan anda?

‘ah, saya sih nggak suka, orangnya arogan banget. pinter sih pinter…’

jangan jadi orang seperti itu. hargai lawan anda, hargai diri anda. anda ini kan cuma sedang debat, bukan pergi perang! perhatikan perasaan orang-orang lain yang bukan anda, ingat kembali dua tujuan awal anda berada di arena debat.

perlu dibedakan antara menjaga penilaian emosional terhadap anda dengan berargumen memanfaatkan keterikatan emosional. teknik ini membuat anda rawan terjebak sesat logika appeal to emotion, khususnya ketika anda jadi terlalu memikirkan bagaimana kemungkinan penerimaan pemirsa terhadap argumen anda.

 

6. ‘saya setuju dengan pendapat anda…’

salah satu hal yang agak saya sayangkan dari salah satu kandidat debat calon presiden yang baru lalu adalah, bahwa agaknya beliau terlalu mudah setuju terhadap kandidat yang jadi lawan debatnya. argumennya, ‘kalau memang benar, ya kita harus dukung!’

saya tidak mengatakan itu salah. secara keilmuan, kalau sesuatu itu benar, ya sesuatu itu benar. tapi yang seringnya agak kurang dipahami, adalah bahwa tidak selalu menyatakan kesetujuan itu berakibat kita menjadi kehilangan pesan yang kita bawa. tidak harus seperti itu.

salah satu teknik yang bisa digunakan meliputi pernyataan kesetujuan, conceding the point, kemudian kembangkan dari ide dasar yang disetujui bersama. contoh berikut, diadaptasi dari topik tentang ekonomi kreatif:

“ide dan pendekatan dari bapak tentang ekonomi kreatif— sejujurnya orisinil, dan untuk poin tersebut, memang keunggulan tersendiri dari sudut pandang bapak. tetapi perlu diperhatikan, ekonomi kreatif adalah… ekonomi baru, new kind of economy. yang tidak bisa didekati dengan cara tradisional. saya melihat ada yang bisa … [elaborasi lebih lanjut]“

ide dasarnya di sini adalah, tidak apa-apa setuju dengan lawan debat anda. itu bukan hal yang buruk kok. tapi jangan sampai jadi seolah kita tidak memiliki pesan yang kita sampaikan. it’s okay to agree —but you have to own the message.

 

penutup: saya tidak suka berdebat. tapi…

sebenarnya, masih banyak pendekatan dan teknik lain yang bisa digunakan untuk hal-hal seperti ini. pun sebagaimana saya sebutkan di awal tulisan, saya tidak suka berdebat, dan dengan demikian tulisan ini tidak membuat saya jadi kredibel soal menjadi pendebat yang unggul.

tapi ada hal menarik yang bisa ditarik dari sini, bahwa pada dasarnya kegiatan ‘debat’ itu sendiri, apabila dilaksanakan secara sehat, bisa menjadi makanan yang baik untuk pikiran banyak orang, baik yang menjalani debat maupun pemirsa yang menyaksikan debat tersebut. juga bahwa konteks debat di sini pada dasarnya adalah komunikasi dengan dimensi yang unik: ada komunikasi personal, ada komunikasi massa, dengan berbagai teknik yang bisa diturunkan dari dalamnya.

dari saya sih, tulisan ini cuma soal teknik dan cara komunikasi yang saya observasi. tidak lebih dan tidak kurang. ;)

buku-buku (nonfiksi) yang mempengaruhi saya

ada saatnya kita tidak selalu membicarakan ‘buku’ sebagai bagian dari hiburan. tidak dalam kapasitas ‘novel’ atau ‘komik’, maksudnya. dan sehubungan dengan semangat tersebut, seringnya kalau kita cukup punya ketertarikan membaca, kita akan menemukan beberapa buku yang mempengaruhi sudut pandang kita, dalam beberapa hal mungkin turut membentuk sudut pandang dan cara berpikir.

beberapa orang mungkin berpendapat bahwa buku-buku seperti tersebut harus ‘berkelas’ —Marx, Dostoyevsky, Tan Malaka, siapapunlah— tapi berhubung hal seperti ini sifatnya personal, menurut saya tidak selalu harus selalu seperti itu juga. tentu saja kalau mau patronistik, nanti bisa-bisa ada pembaca yang komplain: loh, harusnya yang pertama itu Quran dong, memangnya kamu bukan muslim apa?!   :mrgreen:

 

books

 

baiklah, baiklah. jadi dengan demikian, berikut adalah beberapa buku nonfiksi yang, dengan caranya masing-masing, memberikan pengaruh tersendiri kepada pikiran dan sudut pandang saya.

6. The Black Swan – Nassim Taleb

buku yang agak susah dipahami: filosofi, epistemologi, dan probabilitas. sedikit banyak mengubah cara pandang saya bahwa tidak semua hal dan ketidakpastian perlu sepenuhnya diketahui untuk bisa dihadapi —yang anda ketahui, sungguh tidak berbahaya buat anda!

olahraga otak yang menyenangkan untuk saya, tapi beberapa pembaca mungkin menemukannya agak terlalu berat.

5. The Toyota Leaders – Masaaki Sato

nonfiksi bergaya novel tentang keluarga Toyota dan bagaimana Toyota dimulai dari pembuatan mobil Jepang pertama sampai langkah ekspansi menjadi bisnis otomotif dunia. tentang beberapa generasi pemimpin Toyota dan pendekatan masing-masing terhadap Toyota sebagai identitas personal, keluarga, dan bisnis mereka.

ide bercerita dan semangat khas Jepang tersampaikan dengan baik, sayang terjemahan bahasa Indonesianya kurang bagus.

4. Onward – Howard Schultz

memoar dari perjalanan Howard Schultz sejak kembali menangani Starbucks pada periode krisis ekonomi global pada 2008. merangkum berbagai hal dari pengambilan keputusan bisnis dan perusahaan, serta kehidupan sehari-hari di jajaran manajemen puncak gerai kopi yang mendunia.

cerita yang mengalir dan enak dibaca, dengan berbagai pendekatan bisnis dalam bahasa yang membumi.

3. A History of God – Karen Armstrong

tentang Tuhan dan sejarahnya dari tiga sisi agama Abrahamik: Yahudi, Kristen, dan Islam. pembahasan yang bernas dan mencerahkan dari penulisnya, dengan penyajian yang unik dalam menjelaskan aspek ketuhanan dan religiusitas secara sederhana tanpa jatuh menjadi oversimplifikasi.

pertama kali membaca buku ini di masa sekolah dulu, termasuk buku yang membentuk sudut pandang saya soal Tuhan dan agama.

2. Outliers – Malcolm Gladwell

buku yang  sedikit banyak mempengaruhi perspektif saya tentang orang-orang dengan keberhasilan mereka mengubah dunia: The Beatles dan Bill Gates, di antara yang lain, serta peran besar lingkungan dan kesempatan selain kerja keras dalam proses yang dijalani masing-masing individu.

khas Gladwell, diskusi dan penjelasan dalam bahasa yang runut dengan penyajian berbagai anekdot yang mudah diikuti.

.

.

1. HBR 10: On Leadership – Harvard Business Review

definitely distant first. bukan untuk semua orang, tapi untuk mereka yang membutuhkannya, buku ini adalah harta karun. tentang berbagai aspek kepemimpinan dan manajemen, didukung oleh berbagai kajian dan riset lintas bidang yang didalami oleh masing-masing kontributornya.

sangat direkomendasikan, khususnya untuk anda yang berkarir sebagai profesional pada pada first line, mid-level, maupun top-level management.

ngomong-ngomong, ternyata saya belum sempat menulis tentang buku ini. mungkin setelah ini.

 

kira-kira demikian daftar dari saya. anda pembaca, buku nonfiksi apa yang berkesan untuk anda? ;)

a (literally) priceless something for someone

“memangnya apa? paling oleh-olehnya batu dan pasir. yakin mau?”
“aku mau kerang,” katamu. “yang banyak. pokoknya oleh-oleh, ya.”

___

seashells

dua pekan, pikirku, sudah berlalu sejak terakhir kali aku berada di tempat ini. enam-tigapuluh pagi memasuki gerbang dan pintu kaca, kurasa agak terlalu cepat, tapi terserahlah. mengikuti ritme yang terputus dua pekan aku berjalan ke arah lobi, menekan tombol lantai di luar lift, menunggu sebentar, tak lama kemudian aku sudah berada di tempatmu. aku melihat sekeliling dan tampak belum ada orang; sebagian kurasa wajar, sebagian lagi kupikir malah bagus seperti itu.

aku menurunkan ransel, mengeluarkan botol kaca dari dalamnya, mengurai gulungan kertas busa yang sengaja kupasang untuk melindungi benturan. setelahnya aku memandangi isinya sebentar. di dalamnya berbagai jenis kerang dan lokam berbagai warna yang bisa kutemukan dalam dua pekan terakhir memenuhi botol kaca seukuran telapak tangan.

something priceless, pikirku. literally. ya memang bukan sesuatu yang dibeli atau dijual dengan harga, sih.

ngomong-ngomong, entah kapan terakhir kali aku melakukan hal seperti ini, ya… sesaat kurasa pikiranku berkelana, tapi kuputuskan itu bukan hal yang penting jadi tidak kupikirkan lebih lanjut. apa yang penting adalah apa yang ada saat ini, kan begitu?

setelahnya aku meletakkan botol kaca berikut catatan sekilas: ‘oleh-oleh. kemarin titip ini, kan?’ di meja tempatmu. tidak ada nama, tidak ada pesan lain. tapi aku tahu kamu akan tahu.

sekilas matahari pagi masuk lewat jendela. aku teringat obrolan terakhir kita dua pekan sebelumnya.

“bagaimana, ya.” kataku, “semarah-marahnya aku kepadamu… kurasa aku nggak bisa benci. nggak bisa kepadamu.”

kurasa aku sedikit tersedak. ah, ini menyebalkan, umpatku dalam hati. masih saja, pikirku, kurasa aku tak pernah bisa biasa mengungkapkan hal seperti ini. tapi toh aku melanjutkan.

“maksudku, aku senang kita bisa ngomong secara dewasa seperti ini. aku berpikir aku akan berangkat menghilang dua pekan dan kamu masih nggak mau ngomong, itu menyebalkan.”

sejujurnya aku sendiri tidak tahu apa dan kenapa jadinya seperti itu barusan. aku memandangmu, kamu tersenyum, kemudian kamu hanya berkata singkat.

“jadi, kita sudah baikan?”

seperti itu saja, dan kemudian aku paham kenapa aku tak ingin pergi tanpa menyelesaikan hal-hal seperti ini. bahwa pada akhir yang menyenangkan dari kamu memanggilku untuk bicara, untukku seperti ini saja cukup.

aku nyengir. kamu tersenyum. sudah, tak perlu lagi yang lain, kan?

aku melihat jam, lantas sambil lalu kuperhatikan beberapa orang tampak sudah mulai datang ke meja masing-masing. dalam beberapa puluh menit kurasa kamu juga akan sudah datang, dan pada saat itu aku akan sudah tidak perlu berada di sini.

“nanti aku mampir,” kataku sambil lalu. mungkin sebelumnya aku akan menelepon dulu.

the raid 2: berandal

saya tidak tahu harus menulis apa tentang film ini. tentu saja bukan karena film ini buruk, tapi bagaimana, ya.

Berandal —atau lengkapnya The Raid 2: Berandal— berangkat dari keberhasilan prekuelnya, yaitu The Raid. anda pemirsa yang sudah menyaksikan prekuelnya tersebut, tentu sudah tahu apa yang bisa diharapkan dari besutan sutradara Gareth Evans ini: aksi dan laga, barangkali sedikit plot dan karakterisasi pendukung, serta tentu saja adegan kekerasan sepanjang film yang menjadikannya tontonan untuk segmen pemirsa dewasa.

theraid2-berandal

The Raid 2: Berandal. courtesy of Merantau Films.

awal cerita pada Berandal mengambil latar waktu dua jam setelah akhir cerita pada The Raid. Rama (Iko Uwais), anggota pasukan khusus dalam penyerbuan sebelumnya, kini harus menghilang untuk melindungi keluarganya dari incaran pihak-pihak korup di kepolisian setelah penyerbuan berakhir. di sisi lain, Bunawar (Cok Simbara), seorang perwira dari unit antikorupsi, membutuhkan seseorang untuk membongkar praktek korup di kepolisian dengan kelompok-kelompok kejahatan terorganisasi di kota.

pertemuan mereka berakhir dengan Bunawar menawarkan perlindungan kepada Rama dan keluarganya, dengan satu syarat: Rama akan meninggalkan identitasnya sebagai polisi, untuk menyusup ke dalam keluarga Bangun, salah satu dari dua keluarga mafia yang menguasai kota.

.

secara singkat, Berandal adalah versi lebih besar dan lebih ekspansif dibandingkan prekuelnya, The Raid. kalau pada The Raid dulu cerita tergolong linear, demikian juga latar lokasi sebatas di dalam gedung apartemen kumuh (dan tentu saja adegan laga yang jauh di atas rata-rata), maka Berandal menawarkan pengalaman yang lebih ekspansif: plot lebih tebal lengkap dengan pelintirannya, musik dan efek suara digarap dengan jauh lebih matang, dan tak ketinggalan, aksi dan koreografi laga yang tak kurang dari luar biasa.

kalau ketika menyaksikan The Raid dulu mungkin beberapa pemirsa mengeluhkan soal script dan dialog dan akting rata-rata pemain yang mungkin cenderung kaku, Berandal kali ini menampilkan beberapa tokoh veteran dengan pengalaman akting tersendiri. Roy Marten (sebagai Reza, tokoh korup di kepolisian yang disinggung-singgung sejak film pertama) Cok Simbara (sebagai Bunawar), dan Tio Pakusadewo (sebagai Bangun, kepala keluarga mafia), masing-masing menunjukkan pengalaman dalam kapasitas masing-masing karakter sebagai peran pembantu dalam film ini.

demikian juga barisan pemain lebih muda seperti Iko Uwais, Alex Abbad, serta Arifin Putra yang —walaupun tidak luar biasa— setidaknya tidak jatuh sampai buruk benar. secara umum, kualitas rata-rata keseluruhan pemain jelas jauh lebih baik dibandingkan pendahulunya, sedikit banyak bisa dianggap berhasil mengatasi kekurangan yang dulu mungkin sedikit mengganggu.

dan, ya, tentu saja, dengan budget yang lebih besar dan proses produksi yang lebih leluasa, aksi laga untuk film ini dieksekusi dengan jauh lebih baik. dari pertarungan tangan kosong sampai kerusuhan di penjara, bahkan perkelahian dengan senjata seperti pisau dan golok, pistol dan senapan mesin dan shotgun, bahkan palu dan tongkat baseball, semua disajikan dengan kreatif dan luar biasa. koreografi untuk film ini kembali ditangani oleh Iko Uwais dan Yayan Ruhian (yang dalam film ini juga kebagian peran sebagai Prakoso, tangan kanan Bangun), dan hasilnya memang tak kurang dari luar biasa. klimaks pada adegan duel terakhir di film mungkin bisa dianggap masterpiece tersendiri untuk genre ini.

ngomong-ngomong, film ini tergolong panjang. 150 menit untuk banyak karakter dan beberapa subplot, tapi sejujurnya saya sendiri tidak merasa film ini bertele-tele. walaupun ada juga beberapa plot point yang mungkin bisa sedikit dipotong, tapi pace untuk film ini relatif terjaga dengan baik. tentu saja hal ini tertolong dengan adegan-adegan laga yang memang pada dasarnya tidak membosankan, jadi dua jam tiga puluh menit durasi film ini tidak terasa tersia-sia.

dengan kata lain, apa-apa yang menjadi keunggulan dari prekuelnya dulu, dieksekusi dengan jauh lebih baik dalam Berandal. mungkin kalau bisa dengan sedikit analogi, apabila The Raid adalah makanan pembuka yang mungkin cenderung ringan, maka Berandal adalah menu utama yang sungguh tidak mengecewakan. definitely a nice treat at it.

di sisi lain, mungkin sedikit catatan dari saya sebagai pemirsa yang sempat menonton prekuelnya. dalam konteks film ini sebagai sekuel The Raid, saya kok merasa sedikit… apa, ya. dalam kapasitas pada genrenya, film ini bagus, kalau tidak luar biasa. sungguh. semua yang ada pada prekuelnya dibuat lebih baik, lebih besar, lebih bagus daripada sebelumnya. secara teknis dan eksekusi, Berandal jauh lebih baik dibandingkan The Raid. tidak ada bantahan soal ini.

tapi dengan segala kekurangannya, The Raid dulu berhasil membangun ketegangan yang terjaga rapi sepanjang film. sesuatu yang, apa ya, saya sendiri menyebutnya visceral thriller, jadi pada dasarnya ini terkait pengalaman menonton yang sifatnya intuitif. hal yang sama, sayangnya, tidak sampai benar-benar mencapai taraf yang serupa pada Berandal. tapi mungkin juga ini karena pada dasarnya pendekatan filmnya sendiri dibuat berbeda, demikian juga soal pengalaman menonton seperti ini adalah sesuatu yang sifatnya personal.

tapi sudahlah. dari saya sendiri, catatan kecil tersebut tetap tidak mengurangi kapasitas Berandal sebagai salah satu yang terbaik dari sekian banyak di kelasnya. demikian juga kalau menilik sukses The Raid di pasar Indonesia dan mancanegara, tidak akan mengejutkan bahwa Berandal akan meneruskan jejak kesuksesan serupa di kancah lokal maupun internasional.

good job well done untuk Merantau Films. salut!

‘it’s not about me, dear’

it was Sunday morning towards noon when she woke up and found him busy with spreadsheets and pen and papers. the wife —herself a woman with professional career— started a conversation with the husband, a young manager in a company he had been working for a little more than few years.

“what are you doing?”

he replied that he was doing some work with regard to personal development and performance plan for his team members at work.

“it’s not a manager’s job to work on weekend, you know,”

it’s not like that, the husband said. it’s that there was more to it, that his work wasn’t necessarily about the company or the performance targets or even promotions and paychecks.

“there is more to that,” he said. “it’s not about me, it’s about the people I’m working with, dear.”

the wife, curious with the statement, asked what could that mean and how it’s not about the company or even himself. in the end, corporates are always first about growth and profit, and working on employee performance plan on Sunday doesn’t seem to reflect an altruistic behavior, she argued.

but then came the answer which reminded her how she fell in love with the man sitting in front of her. (by the way: ‘I like how you argue about many things’, he said)

“it’s not always like that, dear. I’m not doing this for the company. I’m doing this for them, the people I’m working with. they are people, just like you and me, coming from places, backgrounds, and somehow, right now, I’m responsible for their performance and development, as professionals at least. but it can and will go a long way, isn’t it?

“I think how you go about it matters. like, if you are able to work with sense of purpose, you’ve got good performance, you are happier in general, it has impacts to the families as well. they may or may not be with me after two or three years, but I believe we have role for others, sometimes to open the doors for people, to equip them with something —soft and hard skills, insights and mindsets, anything— so that in turn, they would be able to grow, then to afford a little more for themselves and their families. maybe for a little better houses, maybe for a little better schools, maybe, I don’t know.

“but it starts right here, right? on your first jobs in your career, on your development, both personal and professional. if I could get that right, who knows? perhaps they’ll soar and make better life, but at the very least, I hope they’ll have it a little better than when they started.”

then he smiled, and as far as she was concerned, maybe seeing him doing some work on Sunday morning was never something really bad to begin with.

dari suatu sore menjelang akhir pekan

sore hari menjelang akhir pekan di tempat kerja, suasana seharusnya santai menjelang dua hari libur Sabtu dan Minggu ketika seorang partner dari departemen tetangga —seorang gadis yang usianya kira-kira sepantaran saya— menghubungi via telepon di meja kerja.

“hei. kemarin aku ketemu Pak…” katanya sambil menyebut nama seorang direksi, kalau di tempat saya kira-kira termasuk top-level management. setelahnya dia melanjutkan:

“kemarin lagi santai sih, terus aku bilang begini sambil tertawa saja,

‘tuh Pak, dia tuh (maksudnya saya —red) memang begitu. memang perlu dibakar dulu baru bisa ngebut. paling juga minggu depan beres kalau sama dia sih…’ :D

“eh terus dia bilang begini soal kamu:

‘Yudi tuh ya, saya tahu dia itu bagus, tapi saya nggak paham keputusan dan jalan pikirannya! daripada dia memprioritaskan hal-hal yang nggak kelihatan, lebih bagus kalau dia selesaikan hal-hal yang gampang tapi signifikan. seperti permintaan saya, sudah 2-3 tahun, masih juga belum dikerjakan!’”

“dia bilang begitu?” tanya saya.

“beneran,” katanya sambil tertawa. “tapi terus dia bilang begini:

‘kalau begini, saya kan juga susah! saya tahu dia capable, tapi kalau nggak kelihatan hasil yang high-impact ke seluruh perusahaan, saya juga kan nggak bisa memasukkan nama dia buat endorsement atau nominasi, buktinya apa?!”

“dia bilang begitu?” saya cuma membeo dengan pertanyaan serupa.

“yah begitulah kira-kira. akhirnya dia bilang,

‘coba kamu ngomong sama Yudi, kalau dari kamu barangkali dia lebih mau mendengarkan!’

katanya. padahal ya sepertinya nggak begitu amat juga.”

“ya barangkali, dia merasa mungkin kalau kamu yang ngomong aku lebih bisa menurut… apa iya begitu. masa deh.”

hening sejenak dari kedua ujung telepon.

“nah jadi jelas kan kamu harus apa? sudah jelas banget disebut-sebut tuh. ini nggak ditambah-tambah atau dikurang-kurangi lho ya,” demikian suara cerah ceria yang saya kenal.

“hmm.”

kemudian.

“eh jadi rapat sama dia hari apa sih? minggu depan? aku kemarin diajak juga, tapi belum dapat undangannya.”

saya menghela nafas. oh iya. aduh.

“Senin, jam dua siang,” jawab saya. “ruang rapat direksi lantai 37.”

bukan hal yang sepenuhnya buruk. tapi beberapa hal agaknya memang perlu dijalani saja.

___

[1] penggunaan bahasa disesuaikan sedekat mungkin ke bahasa Indonesia baku, dengan sedikit pengecualian terkait dialek dan nuansa tulisan.

[2] untuk anda pembaca yang mungkin bertanya-tanya: tidak, ini bukan fiksi.

ah, teori!

kali ini, saya sedang ingin menulis tentang sesuatu yang sudah agak lama menunggu dalam pikiran saya. tidak mengganggu sih. tapi berhubung saya sering bersinggungan dengan kontradiksi terkait teori dan praktek dan dikotomi yang meliputinya (kamu ngomong apa sih yud?), maka jadilah topik kali ini untuk tulisan kali ini.

teori. praktek. ah, sebenarnya bagaimana sih ini?


ah, teori!

“in theory, there is no difference between theory and practice. in practice, there is.”

 

sedikit anekdot, sedikit pengantar

beberapa waktu yang lalu di tempat kerja, saya memberikan beberapa kopi bahan untuk dipelajari seorang rekan dalam tim. sebenarnya kalau dibilang seperti itu juga bukannya saya mengajar juga sih, kira-kira ini lebih ke arah persiapan sebelum mulai engagement dalam pekerjaan berikutnya.

topik saat itu tentang pendekatan untuk pengembangan perangkat lunak untuk pekerjaan yang baru akan dimulai. kebetulan anak ini seorang gadis support engineer, sedikit junior di bawah saya, jadi suasananya relatif santai.

“kalau aku sebenernya nggak suka kebanyakan teori sih,” katanya. “langsung praktek aja kalau bisa.”

saya ingat saya sedikit mengangkat alis. bukan kenapa-kenapa, tapi berhubung saya juga sudah cukup sering mendengar ungkapan senada dari lebih cukup banyak orang, jadi bagaimana, ya.

“bisa sih kalau mau langsung,” kata saya. “tapi ini sesuatu yang jangka panjang, jadi mending belajar dulu konsepnya. kalau ditanya ‘bisa apa enggak’, bisa. banyak orang langsung mulai, tapi pemahamannya keropos. jadinya nggak bagus. susah juga.”

setelahnya saya sedikit cerita bahwa cukup banyak pengembangan perangkat lunak yang dikembangkan secara serabutan, dan bagaimana hasilnya jauh dari sempurna dan sering malah tidak selesai, dan bagaimana kami tidak perlu melihat jauh-jauh untuk menemukan contoh yang, kalau menurut saya, ‘kekurangberhasilan yang tidak perlu’. di sekitar kami juga banyak kok.

bukan karena teori itu jadi serba sempurna dan harus selalu diikuti, kata saya. tapi kalau fondasinya saja nggak bagus, kita nggak akan bisa menghasilkan sesuatu yang berkualitas.

setidaknya, demikian yang saya coba ungkapkan. entah apakah ini sesuatu yang bisa dengan mudah dipahami atau tidak, sih.

setelahnya, mau tidak mau saya jadi kepikiran juga.

 

dilema ‘teori’ dan ‘praktek’

sejujurnya, kadang ini sedikit dilema buat saya.

di satu sisi, saya paham bahwa kemampuan abstraksi dan dasar teoretis dalam pekerjaan teknik adalah hal yang seringkali dianggap ‘buang-buang waktu’. tapi di sisi lain —dan ini sesuatu yang sudah saya lihat, dengar, dan alami sendiri— dalam pekerjaan yang sifatnya teknik, tidak banyak hal yang lebih berbahaya daripada implementasi dengan pemahaman yang keropos dan setengah-setengah.

contoh, misalkan saya seorang arsitek. ada dasar ilmu bagaimana aliran pipa harus dibangun, berapa kemiringannya, kenapa seperti itu. ada saatnya kita harus menggunakan fondasi tipe tertentu, desain seperti apa yang optimal secara jumlah material per harga. itu bukan sesuatu yang bisa sembarangan diabaikan.

demikian juga kalau misalnya saya seorang insinyur mesin, saya tidak bisa sembarangan memutuskan bahwa baut roda bisa dikurangi satu atau bahwa saya bisa sembarangan memasang jumper pada aki mobil. saya tahu cara seperti itu akan bisa membuat mobil berjalan, tapi kan jadi berbahaya!

menurut saya, ini termasuk hal-hal yang membedakan antara tukang dan arsitek, atau montir dan insinyur. bukan berarti salah satu jadi lebih tidak penting, tapi bahwa untuk setiap pekerjaan yang sifatnya teknik, betapapun pragmatisnya, ada pakem dan teori yang tidak bisa sembarangan diterapkan tanpa pembelajaran secara serius. ada dasar pengetahuan yang dibentuk dari pengalaman-pengalaman orang lain, sehingga menjadi teori yang bisa diuji dan direplikasi.

walaupun, ya, memang mudah sekali untuk mengabaikan hal tersebut demi sebuah asumsi: ‘ah, yang penting ini bisa jalan dulu!’

 

jadi, sebenarnya ‘teori’ itu apa sih?

seorang dosen di mata kuliah Manajemen Proyek dulu dengan ringkas mengungkapkan sudut pandangnya sebagai berikut.

“betul, pengalaman itu adalah guru terbaik. orang-orang cerdas belajar dari pengalaman. tapi lebih baik lagi kalau kita bisa belajar dari pengalaman orang lain.

teori itu kan pengalaman-pengalaman orang, bertahun-tahun, terkristalisasi jadi bidang ilmu, sehingga bisa kita terapkan.”

sebagai seseorang yang dulu berpendapat bahwa ‘apapun bisa dilakukan kalau kita tahu caranya’, mau tidak mau omongan tersebut membuat saya sedikit terperangah. soalnya, ya, benar juga sih. sudah ada orang-orang yang lebih dulu mencoba, sudah ada hasilnya, sudah diketahui pendekatan mana yang lebih sering berhasil dan mana yang kurang sering berhasil, kenapa juga tidak berkaca dari pengalaman yang sudah ada?

kalau kita bicara sains (dan teknik sebagai turunannya), sebuah teori baru bisa dianggap teruji kalau bisa direplikasi. diulang-ulang, ditemukan polanya. teori itupun bisa diperbaiki dan dimodifikasi sekiranya ada pola baru yang tidak sesuai, demikian proses pengujiannya juga tidak bisa asal-asalan. sehingga dengan demikian, proses bertindak kita terbentuk dengan mengikuti kaidah-kaidah yang selalu mengalami proses uji dan evaluasi.

tentu saja ini membawa kita ke masalah berikutnya…

 

tapi kan nggak semua teori itu bisa diterapkan!

pada dasarnya, hal ini memang jawabannya sederhana: ya memang seperti itu. bahwa ada perbedaan antara teori dan praktek, semua orang juga tahu. secara ringkas, kita semua juga paham: “in theory there is no difference between theory and practice. in practice, there is!”

tapi di sisi lain, justru karena yang namanya teori itu tidak bisa diterapkan semua, makanya perlu dipahami. kenapa seperti itu? karena ketika kita bisa memahami dasar ilmu atau landasan teori secara komprehensif, kita bisa dengan mudah memilah-milah mana yang bisa diterapkan dan mana yang tidak, dengan trade-off dan resiko untuk masing-masing keputusan.

contoh sederhananya begini. dalam teori pengembangan perangkat lunak, misalnya, yang namanya pengujian (= ‘software testing’) itu hal yang mutlak harus dilakukan. secara ideal, ada dokumen-dokumen yang dibuat, ada langkah-langkah yang jelas diperlukan, ada banyak teknik dan pendekatan. tapi ketika dihadapkan dengan keadaan di lapangan, tidak selalu bisa dilakukan. ada kendala resource terbatas, tenggat waktu yang ketat dan sebagainya. lantas apa berarti sebuah perangkat lunak tidak perlu diuji? ya tidak bisa juga.

oleh karena itu, ada keputusan-keputusan yang harus diambil. seperti apa syarat minimal kualitas yang dibutuhkan? bisakah dikurangi di sini atau di sana, resikonya apa? kalau misalnya saya mengembangkan perangkat lunak untuk reaktor nuklir, mau tidak mau saya akan harus melakukan pengujian secara tuntas. resikonya terlalu tinggi! tapi kalau misalnya saya sebatas membuat perangkat lunak yang tidak mission-critical, resiko sampai batas tertentu bisa ditoleransi.

di sini, fondasi yang solid tentang dasar ilmu seorang insinyur atau dokter, misalnya, akan memudahkan pengambilan keputusan tentang mana yang harus dikorbankan, mana yang bisa ditinggalkan, sebesar apa resiko yang mungkin timbul dengan pilihan tidak ideal yang akan diambil. jadi ada semacam disonansi di sini, bahwa semakin seseorang paham akan landasan keilmuannya, semakin dia bisa paham kapan dia bisa bertindak tidak sesuai teori atau tulisan di buku.

karena, ya memang benar, teori itu tidak selalu bisa untuk semua keadaan. sederhananya sih, kalau menurut saya, anda baru bisa dianggap paham teori kalau anda tahu kapan harus melanggarnya.

nah, bingung kan? coba baca lagi makanya. :mrgreen:

 

jadi?

teori itu penting. praktek itu penting. hasil itu penting.

tapi kalau ditanya apakah jadinya sesederhana ‘kalau paham teori dan bisa mempraktekkannya, hasilnya akan bagus’, ya belum tentu juga. manusia punya keterbatasan, makanya pengalamannya juga terbatas, makanya ilmu pengetahuan juga terbatas. tapi setidaknya, ada resiko-resiko yang bisa diminimalisir, ada metode yang terstruktur sehingga kita bisa mendapatkan hasil yang lebih terukur. jadi, kemungkinan berhasilnya juga lebih tinggi, seperti itu kira-kiranya sih.

bottom line-nya, teori adalah pengalaman-pengalaman orang lain. praktek adalah pengalaman-pengalaman kita sendiri. tidak selalu pengalaman orang sesuai pengalaman kita, tapi seringnya, hampir selalu ada yang bisa dipelajari dari pengalaman orang-orang yang sudah berhasil duluan.

jadi dengan demikian, kita tidak perlu bingung dan muter-muter di jalan yang sama lagi, gitu lho.

sonic dash

mungkin faktor nostalgia. mungkin faktor nama SEGA dan maskotnya, Sonic. atau mungkin saya sudah agak terlalu lama tidak main game, jadi ketika melihat game ini di Google Play Store dan gratis(!), saya memutuskan untuk langsung mengunduh dan melakukan instalasi.

setelahnya, game dengan judul Sonic Dash ini nongkrong di ponsel saya dan langsung test-run. ngomong-ngomong game ini available untuk Android dan iOS, dengan review ini berdasarkan pengalaman saya untuk versi Android.

 

SonicDash

Sonic Dash. courtesy of Hardlight and SEGA

 

menilik sejarahnya, Sonic Dash adalah bagian dari franchise game Sonic yang pertama kali dirilis dua dekade lalu. beberapa pembaca mungkin masih ingat, lanskap video game pada masa tersebut didominasi oleh Nintendo dan SEGA, berturut-turut dengan karakter Mario dan Sonic. nah, Sonic Dash —dikembangkan oleh studio Hardlight— adalah bagian dari upaya SEGA untuk merambah pasar game mobile, khususnya ponsel dan tablet.

pertama kali memainkan game ini, kesan pertama adalah grafik tiga dimensi yang lumayan apik. tidak luar biasa, apalagi mengingat ini adalah game untuk konsumsi ponsel/tablet, tapi untuk saya sendiri game ini cukup memanjakan mata. instalasi game ini juga tergolong tidak terlalu berat, cukup perlu puluhan megabita saja, tidak sampai seperti Asphalt 8, misalnya, yang bisa sampai ukuran gigabita.

di sisi lain tone untuk game ini didesain dengan tema cerah ceria dan tergolong enak dilihat, lanskap tiga dimensi dengan warna-warni cerah dan dunia khas franchise Sonic —rumput hijau, langit biru, pantai dan reruntuhan kuil— masing-masing digambarkan dengan rapi jadi tidak ada keluhan.

 

SonicDash01

 

secara gameplay, game ini mengambil pendekatan serupa dengan judul seperti Temple Run atau Subway Surfers: sebagai Sonic anda berlari di platform tanpa henti (sampai anda terantuk atau menabrak sih), sudut pandang orang ketiga dari belakang karakter, tiga lajur kiri-tengah-kanan —pada dasarnya serupa, tapi pada saat yang sama game ini juga berbeda dari judul-judul sejenis yang disebutkan. beberapa elemen sederhana tapi kreatif seperti loncat, gelinding, loncat-gelinding untuk mengalahkan musuh menjadi nilai unik, demikian juga konsep boss battle yang tidak biasa untuk genre sejenis dihadirkan pada game ini.

elemen dasar gameplay-nya sendiri sederhana. swipe ke atas untuk loncat, swipe ke bawah untuk menggelinding (cue old Sonic game: menggelinding untuk mengalahkan musuh), swipe kiri-kanan untuk pindah lajur. sambil jalan, berbagai bonus seperti ring atau power-up khas game Sonic lain bisa diperoleh. hasilnya, sebuah game dengan kecepatan tinggi yang seru dan asyik.

saya sendiri merasa game ini punya replay value yang lumayan tinggi. karakter veteran dari game klasik seperti Sonic 1/2/3 seperti Tails dan Knuckles disediakan sebagai unlockable achievement, demikian juga untuk karakter dari installment yang lebih baru seperti Amy, Shadow, dan Silver bisa ditukar dengan poin sesuai raihan pada mission mode.

 

SonicDash02

 

kalaupun ada kekurangan, game ini kayaknya kok ya… agak kebanyakan iklan. ya namanya juga gratis sih, tapi satu-dua kali video ads kadang terasa agak mengganggu. in-app purchase dimungkinkan untuk game ini, feature bebas-iklan dan berbagai power up bisa dibeli dengan kartu kredit, walaupun sebagai pemain kasual saya sendiri merasa hal seperti ini bukan sesuatu yang perlu-perlu amat juga.

tapi, ya, sudahlah. dengan kekurangan tersebut, (dan untungnya tidak terlalu sering ada video ads!) game ini masih tetap menyenangkan. secara visual game ini nyaman dan enak dilihat, dengan gameplay relatif sederhana namun dengan elemen kreatif khas Sonic menjadikannya sebuah game yang seru dan enjoyable.

penutup dari saya?

“you know it’s someone special when you pause Sonic Dash to reply some text message.”

:mrgreen:

a year restarted

“so, how is the Princess doing?”

“the First is looking at me right now.”

“and the Second?”

“parted in the past suffice it to say.”

we have a relationship so much mature beyond what may seem to be.