the raid 2: berandal

saya tidak tahu harus menulis apa tentang film ini. tentu saja bukan karena film ini buruk, tapi bagaimana, ya.

Berandal —atau lengkapnya The Raid 2: Berandal— berangkat dari keberhasilan prekuelnya, yaitu The Raid. anda pemirsa yang sudah menyaksikan prekuelnya tersebut, tentu sudah tahu apa yang bisa diharapkan dari besutan sutradara Gareth Evans ini: aksi dan laga, barangkali sedikit plot dan karakterisasi pendukung, serta tentu saja adegan kekerasan sepanjang film yang menjadikannya tontonan untuk segmen pemirsa dewasa.

theraid2-berandal

The Raid 2: Berandal. courtesy of Merantau Films.

awal cerita pada Berandal mengambil latar waktu dua jam setelah akhir cerita pada The Raid. Rama (Iko Uwais), anggota pasukan khusus dalam penyerbuan sebelumnya, kini harus menghilang untuk melindungi keluarganya dari incaran pihak-pihak korup di kepolisian setelah penyerbuan berakhir. di sisi lain, Bunawar (Cok Simbara), seorang perwira dari unit antikorupsi, membutuhkan seseorang untuk membongkar praktek korup di kepolisian dengan kelompok-kelompok kejahatan terorganisasi di kota.

pertemuan mereka berakhir dengan Bunawar menawarkan perlindungan kepada Rama dan keluarganya, dengan satu syarat: Rama akan meninggalkan identitasnya sebagai polisi, untuk menyusup ke dalam keluarga Bangun, salah satu dari dua keluarga mafia yang menguasai kota.

.

secara singkat, Berandal adalah versi lebih besar dan lebih ekspansif dibandingkan prekuelnya, The Raid. kalau pada The Raid dulu cerita tergolong linear, demikian juga latar lokasi sebatas di dalam gedung apartemen kumuh (dan tentu saja adegan laga yang jauh di atas rata-rata), maka Berandal menawarkan pengalaman yang lebih ekspansif: plot lebih tebal lengkap dengan pelintirannya, musik dan efek suara digarap dengan jauh lebih matang, dan tak ketinggalan, aksi dan koreografi laga yang tak kurang dari luar biasa.

kalau ketika menyaksikan The Raid dulu mungkin beberapa pemirsa mengeluhkan soal script dan dialog dan akting rata-rata pemain yang mungkin cenderung kaku, Berandal kali ini menampilkan beberapa tokoh veteran dengan pengalaman akting tersendiri. Roy Marten (sebagai Reza, tokoh korup di kepolisian yang disinggung-singgung sejak film pertama) Cok Simbara (sebagai Bunawar), dan Tio Pakusadewo (sebagai Bangun, kepala keluarga mafia), masing-masing menunjukkan pengalaman dalam kapasitas masing-masing karakter sebagai peran pembantu dalam film ini.

demikian juga barisan pemain lebih muda seperti Iko Uwais, Alex Abbad, serta Arifin Putra yang —walaupun tidak luar biasa— setidaknya tidak jatuh sampai buruk benar. secara umum, kualitas rata-rata keseluruhan pemain jelas jauh lebih baik dibandingkan pendahulunya, sedikit banyak bisa dianggap berhasil mengatasi kekurangan yang dulu mungkin sedikit mengganggu.

dan, ya, tentu saja, dengan budget yang lebih besar dan proses produksi yang lebih leluasa, aksi laga untuk film ini dieksekusi dengan jauh lebih baik. dari pertarungan tangan kosong sampai kerusuhan di penjara, bahkan perkelahian dengan senjata seperti pisau dan golok, pistol dan senapan mesin dan shotgun, bahkan palu dan tongkat baseball, semua disajikan dengan kreatif dan luar biasa. koreografi untuk film ini kembali ditangani oleh Iko Uwais dan Yayan Ruhian (yang dalam film ini juga kebagian peran sebagai Prakoso, tangan kanan Bangun), dan hasilnya memang tak kurang dari luar biasa. klimaks pada adegan duel terakhir di film mungkin bisa dianggap masterpiece tersendiri untuk genre ini.

ngomong-ngomong, film ini tergolong panjang. 150 menit untuk banyak karakter dan beberapa subplot, tapi sejujurnya saya sendiri tidak merasa film ini bertele-tele. walaupun ada juga beberapa plot point yang mungkin bisa sedikit dipotong, tapi pace untuk film ini relatif terjaga dengan baik. tentu saja hal ini tertolong dengan adegan-adegan laga yang memang pada dasarnya tidak membosankan, jadi dua jam tiga puluh menit durasi film ini tidak terasa tersia-sia.

dengan kata lain, apa-apa yang menjadi keunggulan dari prekuelnya dulu, dieksekusi dengan jauh lebih baik dalam Berandal. mungkin kalau bisa dengan sedikit analogi, apabila The Raid adalah makanan pembuka yang mungkin cenderung ringan, maka Berandal adalah menu utama yang sungguh tidak mengecewakan. definitely a nice treat at it.

di sisi lain, mungkin sedikit catatan dari saya sebagai pemirsa yang sempat menonton prekuelnya. dalam konteks film ini sebagai sekuel The Raid, saya kok merasa sedikit… apa, ya. dalam kapasitas pada genrenya, film ini bagus, kalau tidak luar biasa. sungguh. semua yang ada pada prekuelnya dibuat lebih baik, lebih besar, lebih bagus daripada sebelumnya. secara teknis dan eksekusi, Berandal jauh lebih baik dibandingkan The Raid. tidak ada bantahan soal ini.

tapi dengan segala kekurangannya, The Raid dulu berhasil membangun ketegangan yang terjaga rapi sepanjang film. sesuatu yang, apa ya, saya sendiri menyebutnya visceral thriller, jadi pada dasarnya ini terkait pengalaman menonton yang sifatnya intuitif. hal yang sama, sayangnya, tidak sampai benar-benar mencapai taraf yang serupa pada Berandal. tapi mungkin juga ini karena pada dasarnya pendekatan filmnya sendiri dibuat berbeda, demikian juga soal pengalaman menonton seperti ini adalah sesuatu yang sifatnya personal.

tapi sudahlah. dari saya sendiri, catatan kecil tersebut tetap tidak mengurangi kapasitas Berandal sebagai salah satu yang terbaik dari sekian banyak di kelasnya. demikian juga kalau menilik sukses The Raid di pasar Indonesia dan mancanegara, tidak akan mengejutkan bahwa Berandal akan meneruskan jejak kesuksesan serupa di kancah lokal maupun internasional.

good job well done untuk Merantau Films. salut!

‘it’s not about me, dear’

it was Sunday morning towards noon when she woke up and found him busy with spreadsheets and pen and papers. the wife —herself a woman with professional career— started a conversation with the husband, a young manager in a company he had been working for a little more than few years.

“what are you doing?”

he replied that he was doing some work with regard to personal development and performance plan for his team members at work.

“it’s not a manager’s job to work on weekend, you know,”

it’s not like that, the husband said. it’s that there was more to it, that his work wasn’t necessarily about the company or the performance targets or even promotions and paychecks.

“there is more to that,” he smilingly said. “it’s not about me, it’s about the people I’m working with, dear.”

the wife, curious with the statement, asked what could that mean and how it’s not about the company or even himself. in the end, corporates are always first about growth and profit, and working on employee performance plan on Sunday doesn’t seem to reflect an altruistic behavior, she argued.

but then came the answer which reminded her how she fell in love with the man sitting in front of her. (by the way: ‘I like how you argue about many things’, he said with a little laugh)

“it’s not always like that, dear. I’m not doing this for the company. I’m doing this for them, the people I’m working with. they are people, just like you and me, coming from places, backgrounds, and somehow, right now, I’m responsible for their performance and development, as professionals at least. but it can and will go a long way, isn’t it?

“I think how you go about it matters. like, if you are able to work with sense of purpose, you’ve got good performance, you are happier in general, it has impacts to the families as well. they may or may not be with me after two or three years, but I believe we have role for others, sometimes to open the doors for people, to equip them with something —soft and hard skills, insights and mindsets, anything— so that in turn, they would be able to grow, then to afford a little more for themselves and their families. maybe for a little better houses, maybe for a little better schools, maybe, I don’t know.

“but it starts right here, right? on your first jobs in your career, on your development, both personal and professional. if I could get that right, who knows? perhaps they’ll soar and make better life, but at the very least, I hope they’ll have it a little better than when they started.”

then he smiled, and as far as she was concerned, maybe seeing him doing some work on Sunday morning was never something really bad to begin with.

dari suatu sore menjelang akhir pekan

sore hari menjelang akhir pekan di tempat kerja, suasana seharusnya santai menjelang dua hari libur Sabtu dan Minggu ketika seorang partner dari departemen tetangga —seorang gadis yang usianya kira-kira sepantaran saya— menghubungi via telepon di meja kerja.

“hei. kemarin aku ketemu Pak…” katanya sambil menyebut nama seorang direksi, kalau di tempat saya kira-kira termasuk top-level management. setelahnya dia melanjutkan:

“kemarin lagi santai sih, terus aku bilang begini sambil tertawa saja,

‘tuh Pak, dia tuh (maksudnya saya —red) memang begitu. memang perlu dibakar dulu baru bisa ngebut. paling juga minggu depan beres kalau sama dia sih…’ :D

“eh terus dia bilang begini soal kamu:

‘Yudi tuh ya, saya tahu dia itu bagus, tapi saya nggak paham keputusan dan jalan pikirannya! daripada dia memprioritaskan hal-hal yang nggak kelihatan, lebih bagus kalau dia selesaikan hal-hal yang gampang tapi signifikan. seperti permintaan saya, sudah 2-3 tahun, masih juga belum dikerjakan!’”

“dia bilang begitu?” tanya saya.

“beneran,” katanya sambil tertawa. “tapi terus dia bilang begini:

‘kalau begini, saya kan juga susah! saya tahu dia capable, tapi kalau nggak kelihatan hasil yang high-impact ke seluruh perusahaan, saya juga kan nggak bisa memasukkan nama dia buat endorsement atau nominasi, buktinya apa?!”

“dia bilang begitu?” saya cuma membeo dengan pertanyaan serupa.

“yah begitulah kira-kira. akhirnya dia bilang,

‘coba kamu ngomong sama Yudi, kalau dari kamu barangkali dia lebih mau mendengarkan!’

katanya. padahal ya sepertinya nggak begitu amat juga.”

“ya barangkali, dia merasa mungkin kalau kamu yang ngomong aku lebih bisa menurut… apa iya begitu. masa deh.”

hening sejenak dari kedua ujung telepon.

“nah jadi jelas kan kamu harus apa? sudah jelas banget disebut-sebut tuh. ini nggak ditambah-tambah atau dikurang-kurangi lho ya,” demikian suara cerah ceria yang saya kenal.

“hmm.”

kemudian.

“eh jadi rapat sama dia hari apa sih? minggu depan? aku kemarin diajak juga, tapi belum dapat undangannya.”

saya menghela nafas. oh iya. aduh.

“Senin, jam dua siang,” jawab saya. “ruang rapat direksi lantai 37.”

bukan hal yang sepenuhnya buruk. tapi beberapa hal agaknya memang perlu dijalani saja.

___

[1] penggunaan bahasa disesuaikan sedekat mungkin ke bahasa Indonesia baku, dengan sedikit pengecualian terkait dialek dan nuansa tulisan.

[2] untuk anda pembaca yang mungkin bertanya-tanya: tidak, ini bukan fiksi.

ah, teori!

kali ini, saya sedang ingin menulis tentang sesuatu yang sudah agak lama menunggu dalam pikiran saya. tidak mengganggu sih. tapi berhubung saya sering bersinggungan dengan kontradiksi terkait teori dan praktek dan dikotomi yang meliputinya (kamu ngomong apa sih yud?), maka jadilah topik kali ini untuk tulisan kali ini.

teori. praktek. ah, sebenarnya bagaimana sih ini?


ah, teori!

“in theory, there is no difference between theory and practice. in practice, there is.”

 

sedikit anekdot, sedikit pengantar

beberapa waktu yang lalu di tempat kerja, saya memberikan beberapa kopi bahan untuk dipelajari seorang rekan dalam tim. sebenarnya kalau dibilang seperti itu juga bukannya saya mengajar juga sih, kira-kira ini lebih ke arah persiapan sebelum mulai engagement dalam pekerjaan berikutnya.

topik saat itu tentang pendekatan untuk pengembangan perangkat lunak untuk pekerjaan yang baru akan dimulai. kebetulan anak ini seorang gadis support engineer, sedikit junior di bawah saya, jadi suasananya relatif santai.

“kalau aku sebenernya nggak suka kebanyakan teori sih,” katanya. “langsung praktek aja kalau bisa.”

saya ingat saya sedikit mengangkat alis. bukan kenapa-kenapa, tapi berhubung saya juga sudah cukup sering mendengar ungkapan senada dari lebih cukup banyak orang, jadi bagaimana, ya.

“bisa sih kalau mau langsung,” kata saya. “tapi ini sesuatu yang jangka panjang, jadi mending belajar dulu konsepnya. kalau ditanya ‘bisa apa enggak’, bisa. banyak orang langsung mulai, tapi pemahamannya keropos. jadinya nggak bagus. susah juga.”

setelahnya saya sedikit cerita bahwa cukup banyak pengembangan perangkat lunak yang dikembangkan secara serabutan, dan bagaimana hasilnya jauh dari sempurna dan sering malah tidak selesai, dan bagaimana kami tidak perlu melihat jauh-jauh untuk menemukan contoh yang, kalau menurut saya, ‘kekurangberhasilan yang tidak perlu’. di sekitar kami juga banyak kok.

bukan karena teori itu jadi serba sempurna dan harus selalu diikuti, kata saya. tapi kalau fondasinya saja nggak bagus, kita nggak akan bisa menghasilkan sesuatu yang berkualitas.

setidaknya, demikian yang saya coba ungkapkan. entah apakah ini sesuatu yang bisa dengan mudah dipahami atau tidak, sih.

setelahnya, mau tidak mau saya jadi kepikiran juga.

 

dilema ‘teori’ dan ‘praktek’

sejujurnya, kadang ini sedikit dilema buat saya.

di satu sisi, saya paham bahwa kemampuan abstraksi dan dasar teoretis dalam pekerjaan teknik adalah hal yang seringkali dianggap ‘buang-buang waktu’. tapi di sisi lain —dan ini sesuatu yang sudah saya lihat, dengar, dan alami sendiri— dalam pekerjaan yang sifatnya teknik, tidak banyak hal yang lebih berbahaya daripada implementasi dengan pemahaman yang keropos dan setengah-setengah.

contoh, misalkan saya seorang arsitek. ada dasar ilmu bagaimana aliran pipa harus dibangun, berapa kemiringannya, kenapa seperti itu. ada saatnya kita harus menggunakan fondasi tipe tertentu, desain seperti apa yang optimal secara jumlah material per harga. itu bukan sesuatu yang bisa sembarangan diabaikan.

demikian juga kalau misalnya saya seorang insinyur mesin, saya tidak bisa sembarangan memutuskan bahwa baut roda bisa dikurangi satu atau bahwa saya bisa sembarangan memasang jumper pada aki mobil. saya tahu cara seperti itu akan bisa membuat mobil berjalan, tapi kan jadi berbahaya!

menurut saya, ini termasuk hal-hal yang membedakan antara tukang dan arsitek, atau montir dan insinyur. bukan berarti salah satu jadi lebih tidak penting, tapi bahwa untuk setiap pekerjaan yang sifatnya teknik, betapapun pragmatisnya, ada pakem dan teori yang tidak bisa sembarangan diterapkan tanpa pembelajaran secara serius. ada dasar pengetahuan yang dibentuk dari pengalaman-pengalaman orang lain, sehingga menjadi teori yang bisa diuji dan direplikasi.

walaupun, ya, memang mudah sekali untuk mengabaikan hal tersebut demi sebuah asumsi: ‘ah, yang penting ini bisa jalan dulu!’

 

jadi, sebenarnya ‘teori’ itu apa sih?

seorang dosen di mata kuliah Manajemen Proyek dulu dengan ringkas mengungkapkan sudut pandangnya sebagai berikut.

“betul, pengalaman itu adalah guru terbaik. orang-orang cerdas belajar dari pengalaman. tapi lebih baik lagi kalau kita bisa belajar dari pengalaman orang lain.

teori itu kan pengalaman-pengalaman orang, bertahun-tahun, terkristalisasi jadi bidang ilmu, sehingga bisa kita terapkan.”

sebagai seseorang yang dulu berpendapat bahwa ‘apapun bisa dilakukan kalau kita tahu caranya’, mau tidak mau omongan tersebut membuat saya sedikit terperangah. soalnya, ya, benar juga sih. sudah ada orang-orang yang lebih dulu mencoba, sudah ada hasilnya, sudah diketahui pendekatan mana yang lebih sering berhasil dan mana yang kurang sering berhasil, kenapa juga tidak berkaca dari pengalaman yang sudah ada?

kalau kita bicara sains (dan teknik sebagai turunannya), sebuah teori baru bisa dianggap teruji kalau bisa direplikasi. diulang-ulang, ditemukan polanya. teori itupun bisa diperbaiki dan dimodifikasi sekiranya ada pola baru yang tidak sesuai, demikian proses pengujiannya juga tidak bisa asal-asalan. sehingga dengan demikian, proses bertindak kita terbentuk dengan mengikuti kaidah-kaidah yang selalu mengalami proses uji dan evaluasi.

tentu saja ini membawa kita ke masalah berikutnya…

 

tapi kan nggak semua teori itu bisa diterapkan!

pada dasarnya, hal ini memang jawabannya sederhana: ya memang seperti itu. bahwa ada perbedaan antara teori dan praktek, semua orang juga tahu. secara ringkas, kita semua juga paham: “in theory there is no difference between theory and practice. in practice, there is!”

tapi di sisi lain, justru karena yang namanya teori itu tidak bisa diterapkan semua, makanya perlu dipahami. kenapa seperti itu? karena ketika kita bisa memahami dasar ilmu atau landasan teori secara komprehensif, kita bisa dengan mudah memilah-milah mana yang bisa diterapkan dan mana yang tidak, dengan trade-off dan resiko untuk masing-masing keputusan.

contoh sederhananya begini. dalam teori pengembangan perangkat lunak, misalnya, yang namanya pengujian (= ‘software testing’) itu hal yang mutlak harus dilakukan. secara ideal, ada dokumen-dokumen yang dibuat, ada langkah-langkah yang jelas diperlukan, ada banyak teknik dan pendekatan. tapi ketika dihadapkan dengan keadaan di lapangan, tidak selalu bisa dilakukan. ada kendala resource terbatas, tenggat waktu yang ketat dan sebagainya. lantas apa berarti sebuah perangkat lunak tidak perlu diuji? ya tidak bisa juga.

oleh karena itu, ada keputusan-keputusan yang harus diambil. seperti apa syarat minimal kualitas yang dibutuhkan? bisakah dikurangi di sini atau di sana, resikonya apa? kalau misalnya saya mengembangkan perangkat lunak untuk reaktor nuklir, mau tidak mau saya akan harus melakukan pengujian secara tuntas. resikonya terlalu tinggi! tapi kalau misalnya saya sebatas membuat perangkat lunak yang tidak mission-critical, resiko sampai batas tertentu bisa ditoleransi.

di sini, fondasi yang solid tentang dasar ilmu seorang insinyur atau dokter, misalnya, akan memudahkan pengambilan keputusan tentang mana yang harus dikorbankan, mana yang bisa ditinggalkan, sebesar apa resiko yang mungkin timbul dengan pilihan tidak ideal yang akan diambil. jadi ada semacam disonansi di sini, bahwa semakin seseorang paham akan landasan keilmuannya, semakin dia bisa paham kapan dia bisa bertindak tidak sesuai teori atau tulisan di buku.

karena, ya memang benar, teori itu tidak selalu bisa untuk semua keadaan. sederhananya sih, kalau menurut saya, anda baru bisa dianggap paham teori kalau anda tahu kapan harus melanggarnya.

nah, bingung kan? coba baca lagi makanya. :mrgreen:

 

jadi?

teori itu penting. praktek itu penting. hasil itu penting.

tapi kalau ditanya apakah jadinya sesederhana ‘kalau paham teori dan bisa mempraktekkannya, hasilnya akan bagus’, ya belum tentu juga. manusia punya keterbatasan, makanya pengalamannya juga terbatas, makanya ilmu pengetahuan juga terbatas. tapi setidaknya, ada resiko-resiko yang bisa diminimalisir, ada metode yang terstruktur sehingga kita bisa mendapatkan hasil yang lebih terukur. jadi, kemungkinan berhasilnya juga lebih tinggi, seperti itu kira-kiranya sih.

bottom line-nya, teori adalah pengalaman-pengalaman orang lain. praktek adalah pengalaman-pengalaman kita sendiri. tidak selalu pengalaman orang sesuai pengalaman kita, tapi seringnya, hampir selalu ada yang bisa dipelajari dari pengalaman orang-orang yang sudah berhasil duluan.

jadi dengan demikian, kita tidak perlu bingung dan muter-muter di jalan yang sama lagi, gitu lho.

sonic dash

mungkin faktor nostalgia. mungkin faktor nama SEGA dan maskotnya, Sonic. atau mungkin saya sudah agak terlalu lama tidak main game, jadi ketika melihat game ini di Google Play Store dan gratis(!), saya memutuskan untuk langsung mengunduh dan melakukan instalasi.

setelahnya, game dengan judul Sonic Dash ini nongkrong di ponsel saya dan langsung test-run. ngomong-ngomong game ini available untuk Android dan iOS, dengan review ini berdasarkan pengalaman saya untuk versi Android.

 

SonicDash

Sonic Dash. courtesy of Hardlight and SEGA

 

menilik sejarahnya, Sonic Dash adalah bagian dari franchise game Sonic yang pertama kali dirilis dua dekade lalu. beberapa pembaca mungkin masih ingat, lanskap video game pada masa tersebut didominasi oleh Nintendo dan SEGA, berturut-turut dengan karakter Mario dan Sonic. nah, Sonic Dash —dikembangkan oleh studio Hardlight— adalah bagian dari upaya SEGA untuk merambah pasar game mobile, khususnya ponsel dan tablet.

pertama kali memainkan game ini, kesan pertama adalah grafik tiga dimensi yang lumayan apik. tidak luar biasa, apalagi mengingat ini adalah game untuk konsumsi ponsel/tablet, tapi untuk saya sendiri game ini cukup memanjakan mata. instalasi game ini juga tergolong tidak terlalu berat, cukup perlu puluhan megabita saja, tidak sampai seperti Asphalt 8, misalnya, yang bisa sampai ukuran gigabita.

di sisi lain tone untuk game ini didesain dengan tema cerah ceria dan tergolong enak dilihat, lanskap tiga dimensi dengan warna-warni cerah dan dunia khas franchise Sonic —rumput hijau, langit biru, pantai dan reruntuhan kuil— masing-masing digambarkan dengan rapi jadi tidak ada keluhan.

 

SonicDash01

 

secara gameplay, game ini mengambil pendekatan serupa dengan judul seperti Temple Run atau Subway Surfers: sebagai Sonic anda berlari di platform tanpa henti (sampai anda terantuk atau menabrak sih), sudut pandang orang ketiga dari belakang karakter, tiga lajur kiri-tengah-kanan —pada dasarnya serupa, tapi pada saat yang sama game ini juga berbeda dari judul-judul sejenis yang disebutkan. beberapa elemen sederhana tapi kreatif seperti loncat, gelinding, loncat-gelinding untuk mengalahkan musuh menjadi nilai unik, demikian juga konsep boss battle yang tidak biasa untuk genre sejenis dihadirkan pada game ini.

elemen dasar gameplay-nya sendiri sederhana. swipe ke atas untuk loncat, swipe ke bawah untuk menggelinding (cue old Sonic game: menggelinding untuk mengalahkan musuh), swipe kiri-kanan untuk pindah lajur. sambil jalan, berbagai bonus seperti ring atau power-up khas game Sonic lain bisa diperoleh. hasilnya, sebuah game dengan kecepatan tinggi yang seru dan asyik.

saya sendiri merasa game ini punya replay value yang lumayan tinggi. karakter veteran dari game klasik seperti Sonic 1/2/3 seperti Tails dan Knuckles disediakan sebagai unlockable achievement, demikian juga untuk karakter dari installment yang lebih baru seperti Amy, Shadow, dan Silver bisa ditukar dengan poin sesuai raihan pada mission mode.

 

SonicDash02

 

kalaupun ada kekurangan, game ini kayaknya kok ya… agak kebanyakan iklan. ya namanya juga gratis sih, tapi satu-dua kali video ads kadang terasa agak mengganggu. in-app purchase dimungkinkan untuk game ini, feature bebas-iklan dan berbagai power up bisa dibeli dengan kartu kredit, walaupun sebagai pemain kasual saya sendiri merasa hal seperti ini bukan sesuatu yang perlu-perlu amat juga.

tapi, ya, sudahlah. dengan kekurangan tersebut, (dan untungnya tidak terlalu sering ada video ads!) game ini masih tetap menyenangkan. secara visual game ini nyaman dan enak dilihat, dengan gameplay relatif sederhana namun dengan elemen kreatif khas Sonic menjadikannya sebuah game yang seru dan enjoyable.

penutup dari saya?

“you know it’s someone special when you pause Sonic Dash to reply some text message.”

:mrgreen:

a year restarted

“so, how is the Princess doing?”

“the First is looking at me right now.”

“and the Second?”

“parted in the past suffice it to say.”

we have a relationship so much mature beyond what may seem to be.

2013

pada dasarnya, saya berpendapat bahwa punya resolusi di awal tahun itu terlalu mainstream. hah. walaupun bukan berarti saya nggak mau ikut-ikutan sih. perlu dong, masa hidup buang-buang waktu setahun nggak ada tujuannya?

tapi punya resolusi di awal tahun dan berani membahasnya dengan jujur dan tepat di akhir tahun, susah! lagipula saya rasa kok jarang yang melakukannya, ya. oleh karena itu, kali ini saya mencoba mengkompilasi jejak-jejak omongan terkait resolusi yang pernah saya sebut-sebut pada awal tahun lalu.

 

#1:
jangan terlalu serius! (atau, coba sedikit lebih ceria)

jadi, beberapa rekan —atau barangkali sebenarnya cukup banyak juga— agaknya berpendapat bahwa saya ini cenderung agak terlalu serius. bukan hal yang buruk juga sih, tapi mungkin ada bagusnya kalau saya bisa sedikit lebih santai dan barangkali sedikit lebih ceria juga. saya sendiri bukannya tidak sependapat sih, jadi kenapa tidak.

untuk hal ini saya rasa saya cukup berhasil. kalau kriterianya sebatas ‘lebih daripada tahun lalu’, sih. sisi buruknya, kayaknya saya jadi agak terlalu tengil. kadang-kadang. ya maaf deh. :mrgreen:

#2:
dua post setiap satu bulan. 24 tulisan dalam setahun.

checked! selama setahun ini, saya menetapkan target untuk menuliskan sesuatu di sini dengan rentang dua kali setiap bulannya. kadang agak panjang, kadang relatif pendek, tapi saya kira poin ini berhasil terpenuhi. setidaknya setiap bulan ada dua tulisan baru sepanjang 2013, mission accomplished!

ngomong-ngomong, tulisan ini jadi tulisan kedua di bulan Desember, jadi pada saat saya menulis post ini, resolusi saya belum tercapai. eh ini kenapa jadi semacam meta begini, ya?

#3:
mengurangi nyinyir di linimasa. (= ‘biasakan dan tertawakan saja!’ xD)

hidup di ranah daring pada masa kini agaknya kurang bagus buat kesehatan jiwa. yes, I’m looking at you, Twitter. jadi dengan demikian, saya memutuskan untuk mengurangi interaksi dan menanggapi hal-hal yang tidak perlu di lapak sebelah sana. agak terlalu berisik, kadang-kadang.

untuk yang ini lumayan berhasil sih. ngomong-ngomong, belakangan ini saya lebih banyak memperhatikan akun-akun yang sifatnya informatif. current favorite: HBR dan The Enterprisers Project.

#4:
less technical at work, more strategic at work.

seseorang sempat mengkritik saya soal resolusi yang ini: ‘itu kan bukan sesuatu yang sepenuhnya tergantung sama kamu!’. memang sih. tapi ‘resolusi’ itu kan ‘keinginan yang diperjuangkan’? tentu saja saya tidak bilang saya punya kekuasaan penuh, tapi kita selalu bisa melakukan sesuatu, kan. jadi, ya, masuk daftar, deh.

iya, ini termasuk sesuatu yang terkait dengan tugas dan tanggung jawab saya sebagai profesional. mungkin baru pada pekan-pekan terakhir saya bisa mengatakan poin ini relatif tercapai. tidak selalu mulus, sih.

#5:
kejatuhan dan menjatuhkan cinta.

gara-garanya, di awal tahun lalu saya dengan tengilnya mengatakan hal seperti ini di salah satu linimasa jejaring sosial sebagai resolusi. jadi, perlu di-review atau tidak? hah. kampret memang.

baiklah, baiklah. untuk hal ini, saya tidak bisa mengatakan banyak sih. yang jelas saat ini saya masih sendiri, jadi apakah bisa diimplikasikan bahwa poin ini tidak tercapai, saya serahkan kepada pembaca. dari saya sih paling cuma dua kata, ‘doakan saja’. ;)

 

nah. kira-kira seperti itu untuk tahun 2013 yang baru lalu. untuk 2014… sejujurnya, ada harapan-harapan, keinginan-keinginan, dan rencana-rencana yang saya harapkan bisa dan akan tercapai. saya sendiri punya harapan dan optimisme untuk hal-hal baik dengan kerja keras yang menyertainya…

…jadi, ya, kenapa tidak? bring on the challenges. looking forward to it. ;)

 

—2013. not everything good, not everything bad. but I have no regret.
—2014. …could be either exciting breakthrough or severe heartbreaks. bring on the challenges!

tapi kenapa? (tentang bima satria garuda)

seperti biasa, Minggu pagi ini saya duduk di depan TV untuk nonton Bima Satria Garuda. agak lebih spesial karena pekan ini adalah finale setelah berjalan selama setengah tahun, dan kemudian setelahnya saya jadi kepikiran.

‘kenapa sih saya suka nonton Bima?’

Bima Satria Garuda

Bima Satria Garuda. images and characters courtesy of RCTI, Ishimori Production.

dipikir-pikir lagi, iya, kenapa ya?

saya tidak bisa bilang bahwa visual serial ini bagus luar biasa, saya tidak bisa bilang bahwa jalan cerita film ini hebat dan tidak terduga, saya tidak bisa bilang bahwa akting dan dialog sepanjang serial bagus dan merata, saya tidak bisa bilang bahwa serial ini lepas dari momen-momen yang beberapa kali membuat saya meringis di depan televisi.

tapi saya suka nonton Bima. entah kenapa.

mungkin saya suka konsep pahlawan yang bisa berubah wujud. di mata saya, duo Satria Garuda Bima dan Azazel itu keren.

mungkin saya suka soundtrack-nya. saya menganggap lagu Seperti Bintang-nya Ungu itu catchy dan enak didengar.

mungkin saya suka koreografi untuk film ini. senang rasanya melihat adegan pukulan, tendangan, bantingan dibuat dengan sungguh-sungguh.

mungkin saya suka bahwa ada sekelompok orang yang tidak suka melihat siaran televisi di Indonesia seperti itu-itu saja, kemudian memutuskan untuk membuat sesuatu yang baru.

mungkin saya suka bahwa ada orang-orang yang bekerja keras, dan dengan segala kekurangan dan keterbatasan bisa menghasilkan tontonan yang menghibur.

mungkin saya suka bahwa Bima, dengan segala kekurangan dan kelebihannya, di mata saya tampak seperti pernyataan sederhana: ‘kalau mau, kita bisa!’

atau mungkin memang tidak perlu banyak alasan. tapi apapun itu, saya tidak bisa tidak mengapresiasi kerja keras tim produser, sutradara, pemain, semua pihak yang terlibat dalam Bima.

salut!

kangen indonesia: indonesia di mata orang jepang

ketika saya menerima buku ini, saya langsung tertarik dengan tema yang dituliskan di sampulnya: sudut pandang orang Jepang yang tinggal di Indonesia. premisnya sendiri tidak cukup umum: ada orang Jepang, tinggal di Indonesia, dan mencoba hidup seperti orang Indonesia: jalan-jalan, makan di warung, naik bus.

dengan demikian, buku ini adalah tentang sudut pandang dan dua budaya, dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing. nah, terus?

Kangen Indonesia: Indonesia di mata orang Jepang, oleh Hisanori Kato. penerbit Kompas.

Kangen Indonesia (atau lengkapnya, Kangen Indonesia: Indonesia di mata orang Jepang) ditulis oleh Hisanori Kato, seorang peneliti merangkap pengajar pendidikan tinggi yang pernah bertugas di Indonesia selama kurang lebih dua puluh tahun. dengan pengalaman tersebut, Kato-san sebagai seorang sosiolog kemudian mencoba menuliskan pengamatan dan pemikirannya dalam bentuk buku.

buku ini ditulis dalam format berupa kumpulan esai singkat, dalam bahasa yang sederhana dan mudah dipahami. masing-masing esai menceritakan pemikiran dan pengalaman Kato-san dalam menjalani kehidupan yang ‘sebenarnya biasa’ untuk orang Indonesia, namun dengan perspektif sebagai orang Jepang. hasilnya, tinjauan budaya secara informal dalam bentuk catatan ringan yang santai.

salah satu hal yang menarik dari buku ini adalah bagaimana Kato-san menggambarkan orang-orang Indonesia sebagai manusia yang toleran dan pada dasarnya cenderung sabar dan santai, ketika beradu dengan perspektif Jepang yang terbiasa seksama dan terukur. hal ini terungkapkan benar pada salah satu bagian buku ini:

“Panas, ya. Sekarang saya sedang melakukan penelitian, tetapi capek sekali dan kurang tidur,” kata saya.

Lalu tukang parkir itu menjawab, “Oh begitu? Kalau begitu, sebaiknya Anda tidur karena di belakang sini ada tempat untuk istirahat”.

Ketika itu saya merasa sedikit mengerti mengapa saya tertarik kepada Indonesia. Waktu saya mati-matian melakukan penelitian, mungkin orang Jepang akan mengatakan “berusahalah dengan baik!”. Tetapi orang Indonesia mengatakan “jangan terburu-buru begitu!”. Waktu itu saya berpikir bahwa ada tempat bagi saya untuk pulang. Di saat yang sama saya teringat realitas di Jepang bahwa setiap tahun ada 30.000 orang yang mengakhiri hidup mereka.

~ Kangen Indonesia, h. 8-9

kalaupun ada yang sedikit mengganjal, rasanya kok kata pengantar di buku ini —ditulis oleh Mohamad Sobary— terasa sedikit suram-melankolis yang barangkali tidak terlalu perlu, demikian juga ukuran huruf dan jumlah halaman mengakibatkan buku ini jadi agak cepat habis ketika dibaca —saya sendiri menghabiskan buku ini dalam 1-2 jam— jadi pada dasarnya memang bukan tipe buku tebal-dan-lama juga.

pada akhirnya, buku ini adalah tentang observasi Kato-san, dirangkum dalam perspektif yang jujur dan apa adanya. tentang orang Indonesia yang ‘tidak apa-apa’ dan ‘bagaimana nanti’, dengan segala kekurangan dan kelebihan yang tak urung tetap membuatnya jatuh sayang.

bacaan santai yang menyenangkan untuk akhir pekan. saya sih merekomendasikan.

in a hard day’s night

“look, I’m asking this because I think you know me better than many people here. I don’t know, it’s just…

do you think… will I make it? will I ever make it?”

“yes.”

an affirmative answer. a little long silence. and a firm, authoritative belief in her tone as she continued;

“yes. no doubt about it.”

I grit my teeth as I clenched the phone. for a second I thought, there were probably tears brimming in my eyes. more than I care to admit, more than I care to allow.

sometimes we don’t really know who we are until we have someone telling us right in the face.