seeing over things

sebelumnya, tulisan ini (lagi-lagi) tidak ditujukan untuk menyinggung atau mendiskreditkan orang lain… (capek juga nulis begini terus, apa gw harus bikin ‘Acknowledgement’ yah? di bawah ‘License’, mungkin? =P ). whatever. kalau anda mau tahu, kutipan berikut benar-benar terjadi, tapi telah dimodifikasi sedikit pada beberapa bagian. jadi, bukan direkayasa untuk kepentingan tertentu.

ngomong-ngomong, gw rasa gw bakal malas kalau harus selalu menulis hal-hal di atas untuk setiap tulisan gw yang berhubungan dengan psikologi manusia… *doh* mungkin benar bahwa gw perlu bikin ‘Acknowledgement’. yah. mungkin akan gw pikirkan nanti.

ada sebuah percakapan antara seorang anak dengan ayahnya.

“ayah!” kata seorang anak memanggil ayahnya. si anak ini tampaknya sedang emosi tinggi.

“..ya?”

“kenapa… kenapa ayah selalu melarangku begini-dan-begitu?! kenapa?! ayah bilang bahwa ayah sayang padaku, bahwa ayah tidak ingin aku terluka, tapi kenapa?! ayah tahu, ayah itu terlalu kolot!”

wah. anak ini agak kurang ajar, rupanya. tapi si ayah diam saja. baru kemudian menjawab.

“nak, kalau kamu bertanya ‘kenapa’, sesungguhnya dalam omonganmu barusan itu, kamu sudah menemukan jawabannya.”

dan memang begitulah adanya. jawaban dari pertanyaan si anak ada di pertanyaannya sendiri.

menarik kalau gw ingat lagi kutipan ini. betapa sebenarnya, kadang manusia terlalu sibuk untuk mencari apa yang mereka anggap sebagai ‘jawaban’, padahal mereka (mungkin tanpa menyadari) telah mengetahui jawaban dari pertanyaan tersebut. misalnya si anak dalam contoh tadi. dan kadang, manusia dengan mudah menyangkal apa yang telah mereka ketahui. mungkin untuk mendapatkan ‘rasa aman’. mungkin untuk menjaga ‘perasaan superior’. banyak, deh.

dan ada lagi sebuah variabel yang bernama ’emosi’. variabel yang bisa sangat menentukan dalam proses ‘melihat atau tidak melihat’. gw pernah ketemu orang seperti ini. catat: bukan anak csui04. gw malas disalahpahami kalau ada orang ke-GR-an.

jadi begini. orang tersebut ceritanya (karena sesuatu hal, mungkin salah gw juga, sih. sayangnya gw nggak merasa bersalah waktu itu) sedang dalam keadaan bisa dibilang ‘marah’ kepada gw. kenapa? yah, begitulah. hal yang susah dimengerti, kadang-kadang. dan selama beberapa saat (‘saat’ ini relatif, yah =P ), gw harus ‘bertahan’ dengan emosi yang tidak nyaman karena diberi attitude yang tahu-sendiri. tapi saat itu gw nggak merasa bersalah, sih. dan biasanya, orang-orang jenis ini nggak akan mau atau bisa berpikir kalau emosinya sudah menguasai. begitulah.

belakangan (‘belakangan’ yang lama, sebenarnya =( ), orang ini sudah agak tenang. lalu gw coba mengobrol pelan-pelan. masalahnya apa sih? oh, begini. oh. begitu. terus? oh. iya. maaf deh. gw nggak bermaksud kayak begitu. oh. iya.

dan ternyata, sebenarnya dia ini dalam keadaan yang ‘kalau lagi normal’ nggak akan marah karena keadaan seperti itu. masalahnya, dia memang lagi banyak tekanan saat itu, jadi… yah begitulah. bagaimanapun, gw harus minta maaf juga, sih. dan belakangan (yang jauuh lagi =) ) gw mengetahui bahwa saat itu dia sebenarnya berpikir bahwa ‘dia bisa memahami alasan gw berbuat begitu, tapi saat itu dia nggak peduli’. hm. rumit juga.

yah. sudahlah. akhirnya masalahnya selesai juga, sih. tapi gw belajar satu hal lagi. manusia… kadang bisa melihat atau tidak melihat, tergantung kepada apa yang ingin mereka lihat. kenapa? entahlah. banyak alasan. mungkin untuk menjaga harga diri. mungkin untuk mempertahankan eksistensi. mungkin tidak ingin dianggap inferior. mungkin karena tidak ingin dianggap ‘kalah’. dan hal seperti ini sebenarnya adalah naluri dasar manusia, yang hampir pasti dimiliki manusia di seluruh dunia.

dan kadang, gw merasa bahwa gw tidak akan bisa memahami manusia sepenuhnya, sekalipun gw berusaha sekuat tenaga. jangankan orang lain, kadang gw juga susah memahami diri sendiri, kok… =P.