komik shounen, shoujo, dan batas gender

komik shounen itu buat cowok. komik shoujo itu buat cewek.

…ah, kata siapa? =)

berdasarkan pengalaman gw, sebenarnya tidak selalu seperti itu, kok. walaupun awalnya mungkin demikian, tapi ternyata dalam perkembangannya batas segmen pasar kedua genre ini semakin tidak jelas. setidaknya, itulah yang gw rasakan saat ini.

oh. iya. sebelum anda pembaca bertambah bingung, mari kita perjelas dulu.

jadi begini. dalam teknik pembuatan manga (=komik jepang), ada dua mainstream yang memiliki ciri khas masing-masing dalam penggambaran di atas kertas, yaitu shounen dan shoujo. gw coba menjelaskan secara singkat di sini.

shounen (jp: boys) adalah gaya yang bisa dibilang ‘cowok banget’. biasanya membawakan tema yang agak berat atau petualangan – walaupun tidak semuanya demikian, dan biasanya berseri cukup panjang. salah satu ciri khasnya adalah tarikan garis yang tebal dan kuat, serta dalam beberapa kasus penggunaan kuas. beberapa contoh yang mungkin banyak dikenal, misalnya Rurouni Kenshin, Meitantei Conan, atau Get Backers. oh. iya. beberapa judul seperti Salad Days atau Kagetora juga termasuk komik shounen, walaupun temanya tidak seperti disebutkan di atas.

shoujo (jp: maidens, girls) adalah gaya yang ‘berbeda’: bisa dibilang, ‘cewek banget’. umumnya membawakan tema seperti romance atau komedi, walaupun hal ini tidak mutlak juga, sih. ciri khasnya, tarikan garisnya tipis, dan kadang tarikan garis bisa melewati panel komik. ciri khas lain, biasanya di komik jenis ini tone-nya agak lebih lembut dibandingkan komik shounen. contohnya misalnya Daa!Daa!Daa! (diterjemahkan: UFO Baby) dan imadoki!, serta Magic Knight Rayearth. judul yang agak baru misalnya Blue Sky Scramble! atau Nine Puzzle yang sudah bisa diperoleh di toko buku di tanah air.

nah. kelihatan, kan. dari namanya saja sudah ada pembatasan gender dari kedua genre tersebut. dan sebenarnya, sebagian karena hal itu juga sih, sehingga timbul ungkapan ‘komik shounen itu buat cowok’ dan ‘komik shoujo itu buat cewek’. iyalah, dari arti kata shounen dan shoujo saja sudah menjelaskan hal seperti itu!

tapi soal pembatasan segmen pasar ini sepertinya jadi agak kurang valid saat ini.

ada seorang rekan gw (cewek) yang cukup suka baca komik jepang. sekali waktu, gw melihatnya membaca majalah-komik Nakayoshi (ini… adalah majalah-komik yang terbit di sini, dikhususkan untuk memuat kompilasi komik shoujo). orangnya baik, dan lumayan kawaii… *gak penting*.

oh, wajar. begitu gw pikir. nggak aneh. tapi suatu saat, ketika gw sedang membaca komik Flame of Recca (ini komik shounen juga) yang baru gw beli,

“yud1, habis ini pinjem yah!”

…hah? gw malah nggak tahu anak ini suka baca komik shounen. dari tampangnya sih… kayaknya tidak. belakangan gw baru tahu bahwa dia ini cukup mengikuti beberapa serial komik shounen. Get Backers, Rurouni Kenshin, dan Flame of Recca adalah beberapa judul yang diperhatikan oleh anak ini.

nah. jadi hipotesa pertama tidak dapat diterima. komik shounen bukan cuma dibaca oleh cowok.

sekarang contoh lain.

ada seorang rekan gw (kali ini cowok). seperti halnya gw, dia ini juga cukup akrab dengan komik jepang. biasanya, gw numpang baca beberapa judul komik shounen yang dia beli. misalnya RAVE, atau Rurouni Kenshin. dalam beberapa kesempatan, giliran gw yang meminjamkan untuk beberapa judul. misalnya Flame of Recca atau Fantasista.

biasa, cowok baca komik shounen, pikir gw. tapi…

“eh, gw pinjem imadoki! nomor 4 sama 5 dong!”

yah, waktu itu dia sedang meminjam komik imadoki! (ini komik shoujo yang gw sebutkan tadi) ke seorang rekan gw yang lain.

hm. ternyata ada juga cowok yang tertarik dengan komik shoujo. begitu gw pikir.

jadi hipotesa kedua tidak dapat diterima. komik shoujo bukan cuma dibaca oleh cewek.

…dan menurut gw sih hal seperti itu ada bagusnya juga. maksud gw, untuk memahami antara dua hal yang berbeda, diperlukan pemahaman yang menyeluruh dari kedua sisi. dan menurut gw, sebenarnya masing-masing punya kelebihannya sendiri, kok.

ngomong-ngomong, soal komik shounen dan shoujo ini juga sempat memicu ‘perdebatan’ yang sebenarnya tidak penting-penting amat, tapi menarik untuk gw dengarkan =).

ada dua orang tokoh. rekan gw yang pertama (cewek, pembaca setia komik shoujo) dan rekan gw yang kedua (cowok, pecinta komik shounen). gw sih nonton aja.

“komik shounen itu vulgar!” kata rekan gw yang pertama. “masak gambar cewek aja sampai kayak… (begini dan begitu). nggak ada bagus-bagusnya!”

*gw nyengir. gak semua komik shounen kayak begitu, kok*

“daripada komik shoujo, gambarnya cowok cantik semua?” rekan gw yang kedua menjawab. “terus ngomongnya ‘iya, aku data~~ng’ sambil dipenuhi bunga begitu…”

*apa iya… gw mikir*

“tapi cowok komik shoujo itu manis! itu yang namanya keindahan! daripada komik shounen kalau gambar cewek sampai kayak begitu..”

“lho. gambar cewek di komik shounen itu juga keindahan, tahu… =P” rekan gw yang kedua menukas, sambil senyum-senyum aneh.

(si~~ng) *sunyi sejenak*

“…piktor!” (sambil nunjuk muka rekan gw yang pertama)

*gw ngakak*

(dan seterusnya)

well, kalau menurut gw sih sebenarnya masing-masing punya kelebihan sendiri. gw cukup suka baca komik shounen, tapi nggak menolak kalau ada yang punya komik shoujo dan bersedia meminjamkan ke gw. gw suka baca Saiyuki yang action-nya cukup seru, tetapi gw juga menikmati baca imadoki! yang menurut gw ceritanya cukup bagus. gw cukup suka baca Salad Days, tetapi gw juga bisa menikmati Mirumo de Pon! yang menurut gw cukup menghibur dan bisa bikin nyengir.

dan menurut gw sih, soal batasan gender ini sebenarnya kurang valid untuk saat ini. maksudnya, selain cewek-cewek yang membaca komik shounen (saja!) atau cowok-cowok yang lebih suka baca komik shoujo (saja!) (…fenomena yang terbalik? tapi ada lho) atau yang ‘seharusnya’ (shounen untuk cowok dan shoujo untuk cewek), gw melihat lebih banyak lagi pembaca (baik cowok maupun cewek) yang mengikuti kedua genre tersebut.

jadi kalau ada cewek membaca Tennis no Oujisama (diterjemahkan: Prince of Tennis) atau Saiyuki, sambil membaca beberapa komik shoujo, menurut gw itu normal. kenyataannya, gw melihat banyak yang seperti itu. sebaliknya, kalau ada cowok yang membaca Flame of Recca sementara beberapa hari kemudian membaca imadoki!, itu juga bukanlah hal yang aneh. sekali lagi, gw melihat banyak hal yang seperti itu.

mungkin memang awalnya genre komik shounen didesain untuk memenuhi kebutuhan pembaca cowok, dan genre komik shoujo didesain untuk memenuhi kebutuhan pembaca cewek. dan hasilnya, memang cukup sukses menghasilkan ciri yang khas dari masing-masing genre tersebut.

tapi kenyataannya, tampaknya saat ini genre komik shounen dan shoujo tidak membatasi pembacanya berdasarkan gender, tuh.

…bagaimana menurut anda?

5 Comments