salah mereka…

“sometimes, it’s much easier to blame someone else for things that went wrong. do you?”

___

kalau dipikir-pikir, sebenarnya kita (baca: manusia, setidaknya yang sering gw lihat, dan mungkin termasuk gw sendiri kadang-kadang) sering menyalahkan pihak lain yang ‘bukan kita’ karena sesuatu hal yang tidak sesuai dengan yang kita harapkan. dan susahnya, kadang hal ini diimplementasikan dengan menganggap mereka yang kita anggap ‘bukan kita’ sebagai ‘musuh’.

…sedihnya, sikap ini ternyata dilakukan oleh manusia, tidak peduli batas gender, asal-usul, edukasi, maupun tingkat sosial-ekonomi.

tidak percaya? coba kita perhatikan. gw pernah menemukan yang seperti ini.

dalam perjalanan ke suatu tempat, gw lewat di depan serombongan anak-anak remaja, semuanya perempuan. usianya mungkin belasan tahun, dan masih duduk di SMU. sepertinya sih mereka sedang duduk sambil membicarakan sesuatu.

“gw sebel sama nyokap gw! masa nyokap gw tuh ya… (begini-dan-begitu). coba lihat. gw kan kesel jadinya…”

teman-temannya mengiyakan, sambil menyahut dengan omongan yang tidak kalah ramai.

*biasa, pikir gw. rombongan cewek ‘paketan’ yang lagi curhat*

(‘paketan’: ke mana-mana selalu bareng-bareng, jadi kayak rombongan gimana-gitu. kalau jalan harus ‘satu paket’. kadang diikuti selera pakaian atau tas yang satu paket juga =). yah, nggak salah, sih. ini fenomena yang umum ditemui di antara cewek-cewek SLTP-SMU)

“nah, terus ya, gimana gw nggak kesel coba. terus nilai-nilai gw jadi jelek juga, coba salah siapa?”

teman-temannya kembali mengiyakan.

*gw nyaris tersedak. hah? emang ada hubungannya nilai sama orangtua?*

gw melanjutkan perjalanan, jadi tidak mendengar lanjutannya.

kalau dipikir-pikir, apa hubungannya antara ‘orangtua yang menyebalkan’ dengan nilai ujian kita? maksud gw, sekalipun orangtua kita mungkin menyebalkan, hasil nilai ujian kita adalah tanggungjawab kita sendiri.

…tentu saja, seperti halnya mereka, dulu ada saat-saat di mana gw merasa orangtua gw ‘menyebalkan’, tapi setidaknya nilai ujian sekolah gw masih di atas standar pribadi gw. eh… belakangan, sebenarnya ternyata bukan mereka yang ‘menyebalkan’, tapi gw saja yang waktu itu ‘terlalu bego’. yah, sudahlah.

tapi menurut gw, seandainya pun ulangan matematika gw dapat 50 dari 100, misalnya, jelas itu bukan salah orangtua. iyalah, gw yang belajar (atau tidak belajar =P), dan gw sendiri yang menanggung hasilnya.

tapi, kadang memang jauh lebih mudah kalau kita menyalahkan orang lain atas hal-hal yang tidak sesuai keinginan kita. sebab dengan demikian, kita jadi merasa lega. kita jadi punya suatu pelampiasan. dan kita bisa ‘mengobati’ sakit hati kita dengan menyalahkan orang lain.

meskipun demikian, ternyata hal seperti ini lumrah adanya dalam kehidupan manusia. bahkan mahasiswa yang katanya ‘cerdas dan intelektual’ pun tampaknya masih belum bisa melepaskan diri dari belenggu kerangka berpikir yang seperti itu.

ada hal yang menarik dari penyikapan mahasiswa terhadap kenaikan harga BBM beberapa waktu yang lalu. sambil iseng-iseng, gw ngobrol dengan beberapa rekan mahasiswa mengenai hal ini. ada kutipan-kutipan yang kurang-lebih sebagai berikut.

“kalau menurut saya hal ini tidak sesuai. bagaimanapun, hal ini jelas memberatkan rakyat. kita harus bersikap untuk masalah ini.”

“jelas ini salah pemerintah. mereka tidak mampu untuk… (begini-dan-begitu)”

“oleh karena itu kita harus bergerak untuk melakukan pressure terhadap pemerintah.”

akhirnya, beberapa waktu kemudian memang terjadi sebuah aksi massa dari mahasiswa yang entah bagaimana agendanya menjadi ‘tolak kenaikan harga BBM’, walaupun dalam ajakan aksi sebenarnya agendanya tidak demikian.

yah, begitulah. dalam keadaan sulit, orang lebih mudah menyalahkan orang lain. tentu saja, kalau ditanya bagaimana solusi yang baik bagi pemerintah, (misalnya dengan kebijakan ekonomi apalah, atau efisiensi produksi minyak yang kongkret dan nyata) kemungkinan besar solusi yang ditawarkan adalah abstrak. tentu saja, sebagian besar mahasiswa tidak memiliki frame of reference dalam bekerja di lingkungan yang kadang memaksa terjadinya trade-off yang mungkin tidak sesuai keinginan tersebut.

dan berdasarkan pengalaman, yang terjadi adalah aksi ‘tolak kenaikan harga BBM’. dan silakan tanyakan kepada mereka yang turun ke jalan, kemungkinan besar akan dijawab: “ini salah pemerintah!”.

kadang kita terperangkap dalam kerangka berpikir demikian, bahkan sebelum kita berpikir untuk menyadarinya. tapi masalahnya, benarkah demikian? benarkah bahwa pihak-pihak yang (ingin) kita ‘salahkan’ benar-benar layak ‘disalahkan’?

seorang pasien datang berobat kepada seorang dokter untuk penyakit yang sebenarnya tidak terlalu parah. setelah pemeriksaan dan menerima obat, sang pasien pun berlalu dari ruang kerja dokter.

beberapa hari kemudian, penyakit sang pasien tampak tidak membaik. ia kembali menemui sang dokter dan mengatakan bahwa obat yang diberikan oleh sang dokter tidak manjur.

sebenarnya, bukan itu alasannya. alasan sebenarnya adalah, sang pasien tidak meminum antibiotika yang diberikan secara teratur.

sebagaimana yang telah diketahui, obat golongan antibiotika harus diminum secara teratur untuk pengobatan yang efektif. konsumsi secara tidak teratur bukan hanya mengakibatkan penyakit tidak cepat sembuh, tetapi juga mengakibatkan resistensi penyakit terhadap obat bersangkutan.

dalam kasus ini, tampaknya hal tersebutlah yang terjadi.

…jadi? ternyata tidak ada yang salah dengan dokter maupun obat yang diberikan.

memang, jauh lebih mudah menyalahkan pihak lain ketika ada hal-hal yang tidak sesuai harapan kita. kita dapat nilai buruk dalam ujian, salahkan orangtua kita yang menyebalkan. harga BBM naik, salahkan pemerintah yang tidak becus mengelola negara. tim kesayangan kita kalah dalam pertandingan sepakbola, salahkan wasit yang berat sebelah.

…gampang, kan? dan kita pun ‘senang’ karena bisa lari dari ketidakmampuan kita menghadapi kenyataan.

tapi tentu saja, hal seperti itu tidak ada gunanya. ketika kita tidak menguasai cukup pengetahuan untuk menjadi seorang dokter, maka ada baiknya kita mencoba berdiskusi dengan sang dokter – setidaknya, dia lebih paham daripada kita soal penyakit manusia. ketika kita tidak mengerti mengenai pelaksanaan dan penyelenggaraan ekonomi negara, maka mungkin ada baiknya kita tidak langsung menyalahkan pemerintah. ketika kita tidak memiliki pengetahuan yang cukup soal peraturan pertandingan sepakbola, ada baiknya kita membaca regulasi terbaru yang berlaku.

tentu saja, kalau dalam taraf kita sudah cukup mampu untuk menilai, kita layak bersikap demikian – dengan didukung oleh bukti dan kemampuan yang kita miliki, tentunya. kalau anda sudah memahami peraturan dalam suatu pertandingan sepakbola, maka anda dapat mengatakan bahwa pemain A dalam posisi offside, dan wasit dalam kasus ini mungkin salah. atau kalau anda adalah mahasiswa kedokteran yang sudah hampir lulus, anda dapat menanyakan kepada dokter, apakah pengobatan dengan antibiotika dapat dilanjutkan untuk pasien yang kelihatannya alergi pada amoxicillin, misalnya.

…tapi selain itu, tidak.

…yah, kecuali anda siap menerima kemungkinan dicap sebagai ‘pasien sok-tahu’ oleh dokter yang mungkin memang ahli di bidangnya, atau ‘mahasiswa tong kosong nyaring bunyinya’ oleh tim ekonomi pembangunan nasional, atau siap dianggap sebagai ‘penonton yang cuma bikin rusuh’ oleh komisi wasit berikut persatuan sepakbola nasional, mungkin hal tersebut bisa dikatakan ‘sedikit berguna’.

tentu saja, seperti halnya rombongan ibu-ibu di sebuah kampung yang mengatakan bahwa ‘banjir ini salah pak lurah’, atau penonton sepakbola yang mengatakan ‘wasit pertandingan tidak beres’ ketika tim kesayangan mereka kalah, mungkin kita akan ‘senang’ kalau bisa menyalahkan orang lain. kita akan ‘senang’ kalau punya musuh bersama. dan kita seolah jadi punya ‘tujuan hidup’ dengan menyalahkan pihak lain.

aneh ya?

One Comment