kita, kebanggaan, dan identitas kolektif

“bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh. tapi memangnya kamu nggak bisa apa-apa kalau sendirian?”

___

jadi ingat, ada salah satu kenangan di masa lalu yang membuat gw ingin menertawakan diri sendiri kalau mengenangnya sekarang ini.

di masa lalu, gw sempat mengalami suatu masa di mana gw pernah merasakan suatu hal yang dinamakan orang-orang yang mengalaminya sebagai ‘ikatan persaudaraan yang kuat’. yah, saat itu, bisa dibilang sesuatu yang bernama ‘semangat kekeluargaan’ dan ‘persaudaraan yang kuat’ itu sempat mempengaruhi gw… dan orang-orang yang terlibat di dalamnya.

dan tentu saja, di tempat seperti itu, ada beberapa jargon yang dicoba untuk diteriakkan (bukan. lebih tepat: didoktrinkan) kepada gw (dan yang lain) saat itu.

“kalian semua itu satu!”

“satu jatuh, yang lain jatuh!”

“kalian harus membayar untuk kesalahan teman kalian!”

“ingat! perhatikan teman-teman kalian!”

dan sebagainya-lah. dan sebagaimana halnya psikologi manusia berlaku, proses doktrinasi akan lebih mudah ketika orang-orang yang jadi objeknya dalam keadaan ‘tertekan’. yah, tahu sendiri, kan. tekanan fisik dan mental biasanya cukup membantu untuk hal-hal seperti itu.

…dan begitulah, proses ‘doktrinasi’ tersebut-pun berjalan lancar… sampai gw memutuskan untuk tidak lagi terlena oleh jargon ‘kebersamaan’ dan ‘satu untuk semua’ itu.

enak saja. hidup gw ini milik gw! gw punya identitas sendiri, dan gw nggak mau membawa identitas kolektif yang mereka berikan itu!

begitulah yang gw pikirkan. dan mungkin, hal tersebut juga yang membentuk sudut pandang gw akan beberapa hal.

manusia itu makhluk sosial. manusia senang berkumpul, dan manusia senang bertindak bersama-sama. dan dalam beberapa hal, itu baik adanya. manusia memang tidak bisa hidup tanpa manusia lain. dan oleh karena itulah manusia saling membantu dan tolong menolong dalam hidup ini. begitu, kan?

dan sudah dari sananya (…kata-kata yang sampai sekarang masih belum gw pahami penggunaannya), manusia senang berkelompok. kalau dalam sosiologi, sebutannya adalah segregasi sosial. manusia cenderung mengelompokkan diri dengan individu lain yang memiliki kesamaan dengan dirinya. dan hal ini juga yang -sedikit banyak- menjelaskan, kenapa beberapa orang bisa berkumpul dan membentuk sekumpulan sahabat yang akrab, atau beberapa orang berkumpul membentuk perkumpulan pecinta motor gede, misalnya.

dan hal-hal seperti itu juga yang akhirnya membentuk suatu identitas kolektif. suatu identitas yang -kalau bisa dibilang demikian- mewakili individu-individu di dalamnya secara umum. dan biasanya, kita bangga dengan identitas kolektif kita tersebut. dan dalam beberapa kasus, kita bahkan dengan bangga memamerkan identitas kolektif tersebut.

misalnya begini. ketika gw pergi makan siang di Bandung beberapa hari yang lalu, gw melihat seorang cowok memakai jaket berwarna hijau tua dengan angka ’70’ besar di punggungnya. ini contoh yang gampang. identitas kolektif didasari oleh kebanggaan, dan akhirnya malah lebih penting daripada identitas pribadi individu yang bersangkutan.

tentu saja, kalau gw melihat seorang cewek memakai jaket bertuliskan ‘delapan high’, gw akan memikirkan hal yang sama. demikian pula halnya ketika gw melihat seseorang mengenakan jaket bertuliskan ‘Computer Science UI 2004’. pada dasarnya sama, kita memiliki identitas kolektif, dan kita menunjukkannya melalui sebuah media, yaitu jaket.

dan kadang, identitas kolektif ini bisa di-doktrinasi, sedemikian hingga target doktrinasi ini bisa menjadi begitu ‘buta’ mengenai identitas dirinya sendiri. yah, pengalaman gw sih seperti itu.

dan kalau dipikir-pikir, ‘untungnya’ gw tidak lama-lama berada dalam keadaan seperti itu. dan kalau dipikir-pikir lagi, sebenarnya hal-hal seperti ‘kebersamaan’ dan ‘satu untuk semua’ itu tampaknya memang kurang cocok untuk gw. apalagi, ketika diharuskan untuk patuh tanpa syarat! (ini… lagi-lagi pengalaman gw =) )

masalahnya, kadang identitas kolektif ini bisa begitu dominan, sehingga kita cenderung melupakan identitas individual kita.

misalnya begini. ketika gw berada dalam suatu kelompok, maka sikap kelompok (biasanya, dan biasanya harus) adalah sikap gw juga. kalau misalnya kami menyikapi suatu hal dengan tindakan A, maka gw (sebagai bagian dari kami) juga harus bersikap A. itu menyebalkan. dan gw pernah berada dalam lingkungan seperti itu.

(eh… bukan di Fasilkom atau UI, kok. jangan ada yang salah paham, yah =) )

buat gw, itu menyebalkan. sejak kapan gw harus menuruti perintah orang lain? gw hanya akan melaksanakan suatu hal ketika gw memiliki alasan yang baik untuk melakukan hal tersebut, dan gw memang ingin melakukannya.

dan sebenarnya, gw lebih suka bersikap sesuai dengan pemikiran dan keinginan gw. misalnya dalam suatu kelompok menyatakan bahwa ‘kita akan bersikap A!’ dan gw tidak setuju (walaupun gw adalah bagian dari kelompok tersebut!), maka gw tidak akan bersikap A.

…dan beberapa kali di masa lalu, hal seperti itu memang terjadi.

memang sih, ada keuntungannya juga hal-hal seperti itu. identitas kolektif dan kebanggaan, maksudnya. dengan adanya suatu identitas kolektif dan kebanggaan terhadap identitas kolektif tersebut, kita jadi merasa aman. kita jadi merasa tidak sendirian. dan kita tidak perlu takut bahwa kita akan salah melangkah. atau setidaknya, kalaupun salah, kita tidak sendirian.

yah, katanya sih, memang lebih menyenangkan kalau kita ‘salah bareng-bareng’ atau ‘aneh bareng-bareng’, daripada ‘salah sendirian’ atau ‘aneh sendirian’. ini hal yang wajar, kok. kalau anda melihat seorang bapak-bapak berusia 30-an tahun menggunakan daster ibu-ibu, maka anda akan memandangnya ‘aneh’. tapi, kalau anda melihat serombongan bapak-bapak bermain sepakbola dengan mengenakan daster (untuk lomba 17 Agustus-an, misalnya), maka bisa diperkirakan bahwa kesan ‘aneh’ anda tidak akan sebesar contoh pertama… biarpun tetap saja ‘aneh’, sih =)

tergantung individu, sih. tapi untuk saat ini, gw rasa gw lebih suka dikenal sebagai ‘yud1’. bukan sebagai ‘anak fasilkom’, ‘angkatan 2004’, ‘alumni 8’, atau apapun sebagainya.

yah, tentu saja, ada juga saat-saat di mana hal-hal seperti itu dibutuhkan.

“eh, lihat yud1, nggak?”

“yudi? yudi yang mana, nih?”

“itu, yud1 angkatan 2004!”

nah, kan. kadang-kadang, identitas kolektif seperti itu berguna juga, kok =)

One Trackback

  1. […] Walaupun begitu, rupanya memang terlihat bahwa kita tidak bisa langsung `melepaskan diri` dari identitas kolektif yang tanpa sengaja atau tidak, melekat pada diri kita. Jelek? Tidak kok, malah menurut saya, kita memang perlu kok punya identitas kolektif disamping identitas pribadi diri kita. Disamping tentu saja ada beberapa pengecualian, seperti misalnya, jika ada sikap kolektif yang menurut kita tidak layak atau bertentangan dengan sikap pribadi kita, dan saat kita juga diasosiasikan dengan sikap yang sama, kita tentu saja boleh tidak terima dan melakukan klarifikasi. Mengenai hal ini, seseorang telah menjelaskannya dengan cukup baik disini. […]