impian masa lalu dan kenangan masa depan

dulu, gw adalah seseorang yang sempat memiliki banyak cita-cita. beberapa sekadar lewat. beberapa sempat gw pertimbangkan. satu menjadi pilihan yang gw jalani sampai sekarang.

ada beberapa yang cuma sekadar lewat.

menjadi dokter, misalnya. meskipun di keluarga gw ada beberapa orang yang berprofesi sebagai dokter dan bekerja di bidang kesehatan, tetap saja gw tidak tertarik. kenapa begitu, sebenarnya masalahnya sederhana saja. menjadi dokter itu bukanlah hal yang mudah. ada banyak hal yang dibutuhkan untuk menjadi seorang dokter yang baik: kemampuan mendiagnosis dan mengingat (iyalah, daftar obatnya saja sampai se-lemari besar), ditambah kemampuan sosial yang harus sangat tinggi dalam memahami pasien. ditambah lagi kemampuan untuk bekerja secara teliti dan kemampuan untuk selalu tersenyum (dengan tulus!) di depan pasien.

wah. susah, deh. tahu sendiri gw ini orangnya seperti apa. orang yang (rada) cuek dan suka semaunya kayak begini mau jadi dokter? nggak deh, terima kasih. gw juga nggak berminat, kok. tapi mungkin, kalau ada seorang cewek dokter yang baik, gw tidak menolak. *emang ada?* *dibakar massa*

menjadi anggota militer. ide ini bahkan nyaris tidak sempat melintas. dan tidak, terima kasih. dibayar satu atau sepuluh juta rupiah pun gw tidak akan mau masuk akademi militer. gw adalah seseorang yang sangat mencintai kebebasan, dan gw paling tidak suka menghadapi situasi di mana gw harus selalu mematuhi perintah orang lain tanpa syarat. hidup gw ini adalah milik gw, dan tidak ada seorangpun yang berhak menyuruh-nyuruh gw melakukan ini-dan-itu – kecuali kalau gw memang mau melakukannya.

bagusnya sih, di Indonesia ini tidak ada wajib militer. dan kalaupun ada, gw tidak akan ikut dengan sukarela. well, mungkin tidak semua orang berpandangan demikian (dan bagus sih begitu, sebab negara ini masih membutuhkan militer). tapi yang jelas, gw merasa bahwa hal tersebut bukanlah untuk gw.

ada juga beberapa yang sempat gw pertimbangkan.

gw sempat berpikir untuk menjadi arsitek. gw cukup suka menggambar, tapi gw cukup tahu diri bahwa tarikan garis gw tidak cukup ‘berseni’. dan gw cukup suka memandangi dan mencoba memahami rumah-rumah atau gedung dengan arsitektur yang unik. yah, tahu kan. misalnya kalau gw lagi jalan-jalan dan melihat gedung apartemen yang desainnya unik, atau ketika gw main ke suatu rumah yang desainnya minimalis. dulu gw sempat berpikir: mungkin asyik juga jadi arsitek, sebab dengan demikian gw bisa menuangkan apa yang ada di pikiran gw menjadi bentuk yang nyata dan bisa dimasuki orang (baca: rumah atau gedung)

dan ketertarikan gw akan 3D-modelling, sebagian juga karena ketertarikan gw terhadap arsitektur. dan dalam banyak hal, kedua bidang ini memang berhubungan erat. kalau anda punya kenalan seorang arsitek, kemungkinan besar ia cukup akrab dengan program 3D-modelling seperti 3DsMax, Maya, atau Blender. AutoCAD? wah, itu sih wajib hukumnya!

yah, tapi mungkin sekarang ini gw hanya bisa menikmati utak-atik model 3D di 3DsMax saja, sih.

gw juga pernah berpikir untuk mendalami psikologi. dulu beberapa orang rekan mengatakan bahwa gw ‘bisa membaca pikiran orang lain’. wah, nggak tahu deh. entah bakat atau apa, tapi gw cukup bersyukur dengan hal tersebut. yah, belakangan, ketika membaca beberapa buku psikologi populer, ada saat-saat di mana gw mengatakan kepada diri sendiri: ini sih gw sudah tahu dari dulu! ketika membaca bagian-bagian tertentu.

dan kadang, kalau berhadapan dengan seorang psikolog atau psikiater (ini beda! psikiater itu dari cabang ilmu kedokteran jiwa, psikolog itu dari psikologi), gw bisa merasakan bahwa gw sedang di-‘baca’. tahu, kan, psikoanalisis itu merupakan cabang ilmu yang mencoba mem-‘baca’ perilaku orang lain dan menganalisisnya. sedihnya, kadang orang yang mem-‘baca’ itu malah ter-‘baca’ juga oleh gw… -_-‘.

eh, ada kejadian menarik. dulu seorang saudara gw -setelah melihat hasil psikotes gw di sekolah dulu- mengatakan bahwa gw ‘membohongi psikolog’ dalam psikotes tersebut. entah yah, berhubung yang ngomong ini adalah dia, jadi mungkin ada benarnya juga. yang jelas sih gw memang sudah tahu apa yang akan keluar di hasil psikotes segera setelah meletakkan pensil usai soal terakhir.

yah, tapi mungkin sekarang ini gw hanya bisa menikmati membaca buku psikologi populer saja =).

gw juga sempat memikirkan untuk menjadi wartawan atau kontributor di media. gw menyukai kehidupan media yang menurut gw ‘seru dan menantang’, di mana kebebasan berpikir dan menyatakan pendapat (secara bertanggungjawab tentunya) dijunjung tinggi. tentu saja, sesuai dengan kode etik jurnalistik yang jujur dan bertanggungjawab serta cover both sides.

dan gw sangat mengagumi hasil karya orang-orang media – terutama media cetak. gw mengagumi kemampuan mereka membuat tulisan yang berkelas, lengkap dengan layout dan tata letak yang elegan. dan jujur saja, gw sempat menginginkan bekerja di lingkungan seperti itu: suatu keadaan di mana ‘terserah bagaimana caranya, yang penting material untuk deadline jadi dengan baik’. menurut gw itu cukup menantang.

yah, sekarang sih paling gw hanya menikmati membaca media cetak (koran dan majalah – dari majalah berita sampai majalah hobi dan komunitas). dan mungkin, menyalurkan minat menulis di sini saja, sih =)

gw juga sempat memikirkan untuk mendalami Computer Science, dan itulah yang sedang gw jalani saat ini. dari dulu, gw sangat suka utak-atik komputer. dulu gw senang bongkar-bongkar ini-dan-itu dari komputer gw, dan cukup rajin mengikuti perkembangan terbaru hardware komputer. ‘prestasi’ gw dulu, mungkin sewaktu memperbaiki komputer 486DX-33 (sebelum seri Pentium… tahun berapa, tuh?) di rumah yang sering mati sendiri. akhirnya gw memperbaikinya dengan membongkar isinya… dan ternyata? kabel fan prosesor-nya tidak menyambung dengan benar.

akhirnya sih gw memasangnya dengan baik, dan setelah beberapa saat masalah-pun selesai. yah, untuk seorang mahasiswa, hal itu kelihatannya biasa banget. tapi untuk seorang anak kecil, waktu itu gw merasa sangat senang karena untuk pertama kalinya bisa menangani ‘masalah serius’ pada komputer.

belakangan, ‘hobi’ ini mengakibatkan gw sering di-‘panggil’ untuk menyelesaikan masalah komputer orang-orang di SMU. dan sebagai imbalannya, biasanya makan malam dan snack gratis =9. yah, berhubung sewaktu SMU dulu gw sudah jadi anak kos, maka gw pun menerima tawaran dengan senang hati, dan akhirnya jadi sering meng-‘gelandang’ ke mana-mana.

sekarang, gw berada di sini, melanjutkan kuliah di bidang Computer Science. sejauh ini sih cukup menyenangkan =)

tentu saja, kadang gw masih berpikir bahwa mungkin asyik juga kalau gw bisa menjadi wartawan di majalah berita, atau kontributor di majalah game, misalnya. atau kenyataan bahwa membuat model 3D dari rancangan rumah atau apartemen pribadi di masa depan (wih lagaknya =P) mengingatkan gw akan betapa gw dulu pernah bercita-cita menjadi arsitek. atau misalnya, sampai saat ini gw masih sering menggunakan ‘psikologi amatir’ gw untuk tebak-tebakan. yah, misalnya mengenai sifat pasangan dari sepupu gw yang baru saja jadian (dan bagusnya sih, banyak banget tepatnya =) ), yang mengingatkan gw bahwa gw dulu sempat mempertimbangkan untuk mendalami psikologi.

ada banyak impian dari masa lalu, dan sebagian merupakan kenangan akan bagaimana gw memandang masa depan gw. gw sudah memilih jalan gw, dan itulah yang gw jalani saat ini. dan tentu saja, gw tidak bisa mundur kembali ke masa lalu dan berharap ‘seandainya begini’ atau ‘seandainya begitu’. bagaimanapun, gw sendiri yang memilih jalan ini.

tapi gw tidak menyesal dengan keputusan yang gw ambil. dan oleh karena itu, gw akan menjalani jalan ini, yang telah gw pilih sejak pertama kali menentukan jalan hidup gw.

di balik segelas teh

ada yang pernah beli teh?

kalau belum, silakan pergi ke kantin atau warung terdekat, dan pesanlah segelas teh. boleh teh apa saja: teh tawar, teh botol, teh kotak, teh manis panas, atau es teh manis. anda akan memahami lebih baik tulisan ini kalau sudah pernah membeli dan meminum teh, baik langsung maupun kemasan.

percaya atau tidak, sebenarnya margin harga per keuntungan yang anda peroleh tidak selalu sama untuk semua jenis teh tersebut. dan kadang, anda bisa melihat bagaimana sebuah toko atau rumah makan memperlakukan pelanggannya, hanya dengan memesan teh.

tidak percaya? coba kita buktikan.

berapa anda membayar kalau anda memesan sebuah teh tawar hangat? seribu rupiah? seribu lima ratus? kalau ya, berarti anda perlu berhitung ulang. masalahnya: harga segelas teh tawar seharusnya paling banter 500 rupiah – kalau anda memang ingin menghargai yang membuat teh. kenapa? sebab, kalau anda berjalan sedikit ke arah selatan Jakarta, segelas teh tawar dihargai nol rupiah – anda bahkan boleh menambah bergelas-gelas teh tawar, tanpa menambah biaya.

tentu saja, ini tidak bisa dipukul rata. mungkin toko yang bersangkutan menggunakan teh celup yang banyak diiklankan di televisi, sehingga teh tawar ditawarkan dengan harga sedemikian.

dampak komersialisasi? entah. yang jelas, anda tidak bisa mendapatkan teh tawar gratis di Jakarta. tapi kalau anda pergi ke Bogor atau Bandung, silakan minta teh tawar, dan anda tidak akan diminta untuk membayar.

contoh lain. lebih untung mana: memesan es teh manis di restoran atau warung, atau memesan teh manis hangat, dan belakangan menambahkan es?

kalau anda mau praktis, jawabannya pasti yang pertama. tapi anda dirugikan di sini. coba kita lihat. kalau anda memesan teh manis hangat, anda akan dikenai biaya kurang lebih rp. 1000. rp. 1500 kalau di rumah makan yang agak mahal. kalau anda meminta untuk menambahkan es, maka tambahannya kira-kira rp. 500, dan kalau di warung kadang-kadang bisa gratis.

kelihatannya sama. tapi, kalau anda perhatikan, dalam segelas es teh manis, ada berapa bagian es, dan berapa bagian teh? kira-kira 30-70, atau kalau anda beruntung 20-80. kalau satu gelas ada 300 ml, maka secara umum anda akan kemungkinan kehilangan 90 ml teh untuk setiap gelas yang anda pesan. kalau anda haus, pesan dua gelas, anda kehilangan 180 ml. lewat dari setengah gelas tadi.

tapi kalau anda meminta untuk menambahkan es belakangan, anda mendapatkan 300 ml teh, dan anda bisa mendinginkannya sesuka hati. dalam kasus anda memesan teh manis kedua, anda malah tidak perlu menambahkan es lagi, karena es anda yang tadi tersisa (karena biasanya cukup banyak!) akan mampu mendinginkan segelas lagi teh manis. jadi, silakan hitung sendiri perbedaannya.

meskipun demikian, ada juga tempat makan yang ‘baik’, di mana mereka menyediakan segelas teh manis dan segelas lagi tempat untuk esnya. harganya? sama dengan es teh manis standar di tempat lain. untuk yang ini, jangan ragu-ragu bahwa anda akan dirugikan dalam hal jumlah teh. (ada lho. gw pernah makan di tempat seperti ini)

nah. sekarang kita coba lagi. kali ini teh manis dalam kemasan. kalau anda perhatikan, ada teh yang dijual dalam bentuk 500 ml. harganya kira-kira rp. 3500 sampai rp. 4000. padahal, ada teh dalam kemasan botol 330 ml seharga rp. 1500 sampai rp. 2000. jelas, anda akan lebih untung kalau anda memesan teh botol 330 ml! tapi meskipun demikian, pangsa pasar teh dalam kemasan 500 ml. tetap tinggi.

dan kalau dipandang dari sisi produsen, ceritanya mirip: anda lebih menguntungkan mereka, kalau anda membeli 2x 330 ml dalam kemasan botol. kenapa? sebab anda hanya membeli isinya, dan botol dikembalikan. ongkos produksi ditekan di sini. tapi kalau anda membeli teh kemasan 500 ml seharga rp. 4000, margin keuntungan produsen tidak bisa sebesar tadi. kenapa? iyalah, mereka harus mengongkosi produksi botol plastik (yang seharusnya cukup signifikan), yang akhirnya akan anda buang juga.

tapi, kalau anda mempertimbangkan dari sisi portabilitas dan kemudahan (karena kemasan 500 ml bisa ditutup sementara dengan tutup ulir, dan diminum lagi kapan-kapan) untuk dibawa-bawa, trade-off tadi jadi terasa masuk akal. jadi sebenarnya, anda tidak dirugikan amat di sini. kecuali, kalau anda memang sangat peka akan kuantitas teh!

dengan demikian, beruntunglah anda penikmat teh manis hangat atau panas. mengecualikan tempat-tempat ‘mahal’ seperti kafe apalah-itu yang bertaraf internasional, harganya (relatif) sama di mana-mana, dengan ukuran gelas yang relatif sama pula. anda tidak perlu memikirkan mengenai jumlah teh yang mungkin agak kurang tepat dan sebagainya. dan dalam beberapa kasus, anda bisa menentukan sendiri seberapa banyak konsentrasi teh dalam gelas anda (baca: seberapa hitamnya teh anda), karena bungkus teh disediakan untuk anda sesuaikan sendiri.

begitulah. ternyata, ada cukup banyak cerita di balik segelas teh. padahal, kalau mau gampang, kita tinggal pergi membeli teh celup di warung atau mini-market, dan menyeduh sendiri teh di rumah atau tempat kos. dan berapa harganya? silakan hitung sendiri. oh, iya, jangan lupa memperhitungkan bahwa air panas bisa anda masak sendiri, dan anda (ini hampir tidak mungkin tidak terjadi) memiliki cadangan gula pasir di rumah.

…ternyata, kadang, ‘praktis’ itu bisa berarti ‘agak mahal’, yah.

3rd day and still…

hari ini sudah hari ke-3 puasa di bulan Ramadhan, dan masih dengan segala ke-‘biasa’-an (atau ke-‘tidakbiasa’-an, tergantung cara anda memandangnya =P) yang gw alami selama tiga hari ini menjalani puasa.

jadi begini. sebenarnya, kalau hari begini dan menjalani puasa di sini (baca: tinggal di kos, bukan di rumah), ada beberapa ke-‘biasa’-an yang terjadi dari hari ke hari. misalnya seperti hari ini.

gw puasa tanpa sahur. sebenarnya sih ini hal yang biasa, mengingat ada saat-saat juga gw berpuasa di luar Ramadhan dan tidak sahur. alasannya bisa macam-macam, tapi yang agak tepat mungkin ‘tidak sahur karena malas bangun buat cari makan pagi-pagi’. begitulah. biasa, sih. tapi mungkin agak nggak sehat =)

kalau hari seperti ini, biasanya gw berbuka dengan makanan apa-adanya dan adanya-apa, di kampus yang semakin sepi setelah mahasiswanya pulang untuk berbuka puasa di rumah masing-masing. serius, bukannya melebih-lebihkan. paling kalau sudah terdengar adzan maghrib, gw jalan ke mushalla fakultas dan makan beberapa butir kurma (dan makanan lain =) ). terima kasih kepada teman-teman FUKI (Forum Ukhuwah dan Kajian Islam, ini organisasi mahasiswa muslim di Fasilkom UI) yang selalu menyediakan makanan kecil sekedar untuk berbuka.

ada masalah kecil: biasanya, kalau gw berpuasa di luar Ramadhan, gw dengan mudah bisa membeli makanan di kantin dan minuman dingin untuk berbuka. sekarang? kantin tutup. jadi gw harus mencari ke tempat yang agak jauh kalau mau beli minuman buat berbuka. berhubung gw rada malas mencari jauh-jauh, jadilah gw jarang membeli minuman buat berbuka di bulan puasa ini.

nah. setelah shalat maghrib, paling enak adalah pergi ke kos dan cari makan malam dalam perjalanan. dan biasanya, sekalian cari makanan praktis (baca: tidak mudah basi dan mengandung cukup nutrisi dan bisa jadi tenaga) buat sahur dini harinya. itu cerita kalau gw bisa bangun sahur. sejauh ini sih nggak =).

gw memikirkan juga untuk pulang ke rumah bukannya ke kos di hari-hari bulan puasa seperti ini. makanan untuk buka puasa terjamin, dan gw pasti akan dibangunkan buat sahur – walaupun dengan ngantuk dan masih belum bisa mikir dengan benar. tapi masalahnya, keadaan agak kurang mengizinkan… apa lagi kalau bukan tuntutan tugas kuliah dan hal lain-lain. nggak masalah juga, sih. sejauh ini keadaannya masih cukup enak buat dijalani, kok.

eh. iya. ada kabar bahwa libur hari raya tahun ini di kampus hanya akan berlangsung selama seminggu. waduh. sial. padahal teman-teman di Bandung, Bogor, Yogya, dan Semarang liburnya lebih dari itu. dan ini belum kalau misalnya nanti ada tugas kuliah yang memotong liburan hari raya. wah. kacau, deh. semoga saja nggak ada.

yah, berhubung sekarang ini masih hari ketiga puasa di bulan Ramadhan, jadi tampaknya pilihan buat gw saat ini adalah menikmati puasa kali ini dengan cara yang ‘biasa’nya.

akhirnya, selamat menjalankan ibadah di bulan puasa bagi yang menjalankan. semoga Ramadhan tahun ini membawa perbaikan bagi diri kita masing-masing dibandingkan sebelumnya.

___

menurut salah satu hadist yang cukup shahih, Rasulullah berbuka puasa dengan tiga butir kurma dan segelas air. kalau begitu, gw masih nggak ada apa-apanya, dong >_<

agama mayoritas dan (sedikit) chauvinisme

kadang, gw bertanya-tanya.

apakah dengan menjadi seorang muslim yang kebetulan mayoritas di antara umat beragama di Indonesia, berarti seseorang boleh bersikap ‘kurang memikirkan’ terhadap rekan-rekan yang bukan Islam?

tidak, gw sama sekali tidak mengatakan bahwa rekan-rekan muslim di sini tidak toleran terhadap rekan-rekan yang beragama lain (dalam banyak sekali kasus, bisa dikatakan perbedaan agama ini disikapi dengan sangat baik oleh pihak-pihak yang terlibat di dalamnya). demikian juga, gw bukannya bermaksud menuliskan kata ‘kurang memikirkan’ dengan tendensi ‘memarginalkan’. hanya saja, ada beberapa poin yang beberapa lama ini gw pikirkan.

dan kadang, hal ini menyangkut sikap beberapa orang yang pernah gw lihat (dan kebetulan muslim) dalam beberapa kasus yang sebenarnya ‘wajar, namun mungkin agak kurang sesuai bagi beberapa rekan yang lain’.

misalnya begini. coba kita ambil contoh yang gampang.

dulu, sewaktu gw masih duduk di SD, guru wali kelas selalu memimpin doa dalam agama Islam (sebenarnya lebih tepat: doa ditambah hafalan surat pendek) sebelum pulang sekolah, dan murid-murid mengikuti melafalkan dengan suara keras. untuk rekan-rekan yang non-muslim, diharapkan untuk menyesuaikan dengan agama masing-masing.

tidak masalah. gw kebetulan ingat dengan cukup baik untuk doa dan hafalan surat pendek seperti itu.

tapi, bagaimana dengan rekan-rekan yang non-muslim? gw (yang waktu itu masih kecil dan duduk di bangku SD) bertanya-tanya. mereka kan tidak hafal surat ini dan itu, doanya juga berbeda?

tidak masalah, katanya. mereka menyesuaikan diri dengan doa masing-masing, begitulah jawaban yang gw terima dulu.

dan gw bertanya-tanya lagi: apa benar begitu? bukankah dengan demikian, seolah-olah rekan-rekan yang muslim (sedikit) mengintimidasi kebebasan beragama yang non-muslim, dengan memperdengarkan doa dan potongan-potongan surat dari Al-Quran (dalam bahasa arab) seperti itu keras-keras?

nah. sekarang coba kita balik. bagaimana kalau rekan-rekan yang non-muslim yang bersikap seperti itu, apakah rekan-rekan kita (yang muslim) akan merasa ‘tidak terganggu’? tentu saja, ada beberapa rekan muslim yang jelas akan terganggu (ada, lho. gw pernah melihat yang seperti ini). padahal sebenarnya mungkin mereka cuma tidak sadar saja, bahwa ada beberapa rekan yang muslim mungkin pernah bersikap seperti itu terhadap rekan-rekan yang kebetulan non-muslim.

contoh lain.

di suatu tempat (umum, tidak membatasi pengunjung berdasarkan agama, juga bukan pusat kegiatan agama), terlihat sepotong kayu berbingkai yang ditulisi kaligrafi huruf arab. dilihat lebih teliti, ternyata merupakan potongan ayat Al-Quran yang ditulis dengan indah.

tidak ada masalah. tapi, gw bertanya-tanya. bagaimana, misalnya, bila di tempat yang sama, ditaruh atribut atau ornamen agama lain, misalnya salib yang merupakan atribut umat Kristiani.

mungkin, beberapa orang rekan yang muslim akan sedikit ‘merasa janggal’. padahal, hal tersebut adalah hal yang setaraf, dilihat dari sisi peletakan ornamen atau atribut suatu agama.

kenapa? entahlah. apakah karena Islam adalah agama yang mayoritas, maka kita berhak ‘menciptakan suasana sesuai kebutuhan agama kita, dan yang lain harus mengerti’?

mungkin, hal-hal seperti itu juga yang turut membentuk sikap beberapa rekan-rekan muslim yang ‘cuek saja walaupun masjid di mana-mana, tapi merasa gimana-gitu kalau ada gereja berdiri’. gw tidak melebih-lebihkan, tapi kenyataannya memang ada rekan-rekan yang seperti demikian, walaupun (dan gw berharap bahwa) jumlahnya tidak terlalu banyak.

dan susahnya lagi, kadang hal ini diikuti dengan semangat – yang kalau meminjam istilah Karen Armstrong – ‘chauvinisme agama’. kadang, kita merasa ‘benar’ dan yang lain ‘salah’.

gw pernah mendengar bagaimana seorang rekan (yang kebetulan muslim) berkata begini-dan-begitu tentang agama yang lain, seraya mengatakan bahwa ‘agamanya yang benar’. tentu saja, lengkap dengan argumen-argumennya yang demikian. dan kesimpulannya, ia menyatakan bahwa agamanya yang paling benar (iyalah -_-‘).

demikian juga argumen-argumen dari beberapa kalangan rekan-rekan muslim seperti ‘saatnya khalifah muslim memimpin dunia’ atau ‘hanya syariah Islam yang mampu memperbaiki keadaan negara ini’, lebih terlihat sebagai cara pandang yang mungkin sedikit chauvinistis bagi para pemimpi peradaban muslim yang gemilang. kenyataannya: coba mereka ‘hancurkan’ siapa-siapa yang dianggap sebagai ‘musuh Islam’, dan kemungkinan paling parah adalah terjadinya disintegrasi bangsa dan negara.

dan jujur saja, gw tidak tertarik untuk berdebat soal agama. gw tidak tertarik untuk menemukan apa yang disebut para pencarinya sebagai ‘kebenaran sejati’ melalui debat-debat atau apalah. dan gw tidak tertarik untuk mengatakan bahwa ‘ini benar’ dan ‘itu salah’. siapa sih kita, sampai berani mengatakan bahwa ‘agama kita benar dan yang lain salah’?

jadi, akhirnya. kenapa gw panjang-lebar menulis hal seperti ini? apa sih sebenarnya maksud dari seorang anak muda kurang kerjaan yang pengetahuannya terbatas ini?

tidak banyak, kok. cuma harapan agar kita semua bisa hidup berdampingan tanpa ada yang merasa terintimidasi atau terpinggirkan. dan mungkin mencoba sedikit mengingatkan: agama bukanlah alat menuju kesombongan, dan oleh karena itu mungkin tidak sebaiknya manusia sombong dengan sesuatu yang diyakininya.

___

pemikiran pribadi. silakan comment kalau ada tanggapan =)

waktu (tidak) berhenti di sini

di sini, waktu seolah berhenti.

terbangun di siang hari dan disapa oleh angin kering dan sedikit panas, di rumah ini waktu seolah berhenti. desau angin membisu, dan lebih banyak diamnya. terang matahari pagi menjelang siang menghangatkan suasana sepi, dan sesekali ditingkahi kicau burung yang terlambat; seharusnya berhenti ramai sedari pagi.

di sini, saat ini, waktu seolah berhenti. angin mati, hanya vitrase yang sedikit bergoyang di sisi kamar. pigura jendela menyajikan pemandangan hijau yang langka — ya, kapan terakhir kali aku bersandar, dan memandang daun-daun hijau yang seolah tak hendak jatuh, menantang usianya? atau tidak — mereka selalu ada; hanya luput dari mataku yang memang tak hendak ke mana-mana ini.

di luar, meja kaca dikelilingi kursi-kursi kulit keras. seolah mencoba memutar kenangan-kenangan di tempatnya, yang tampaknya berhasil sebatas potongan yang melompat-lompat. sinar matahari menerpa dari void, jatuh ke lantai. sebagian memantul dan menampilkan sisi lain dari fenomena alam yang nyaris tidak pernah kulihat lagi: pelangi, di dinding dan kaki meja; seberkas sinar matahari yang teruraikan oleh meja kaca.

dan ya, lemari kayu besar dan tinggi di sisi lain berdiri sampai ke atap, dengan sedikit angkuh memandang ke bawah. begitu tinggi, seolah menantang untuk membuka pintu-pintunya yang sombong sampai ke atap; sebuah menara gading yang diam dan membisu.

di sini, saat ini, waktu seolah berhenti. dunia sepi, tanpa suara derum sepeda motor yang kadang meraung mengganggu pikiran, dan membuat orang ingin menyumpah semoga sepeda motor itu jatuh saja dan diam selamanya. beberapa kali angin menerobos masuk melalui lubang-lubang dan jendela, dan membawa udara kering serta kadang-kadang sedikit debu yang bahkan tidak cukup untuk mengotori sepetak kecil lantai keramik.

tidak ada orang, tidak ada suara. kecuali detak jam dinding yang terasa begitu akrab di telinga dan sedikit desau angin yang ditingkahi suara gesekan daun-daun — yang kembali mengingatkanku akan masa kecil dulu: matahari yang panas tapi tidak terik, diiringi desah daun dan rumput di siang hari. dan hari-hari sibuk menjadi terasa begitu jauh.

tapi aku tahu, saat-saat ini tidak akan ada selamanya. sebentar lagi, suara anak-anak di luar akan ramai meningkahi suasana. dan matahari akan beranjak turun, menggantikan nuansa dengan siluet jingga yang tidak akan sama.

ah. iya. masih ada tugas Analisis Numerik untuk dikumpulkan hari Senin. tapi kurasa, untuk saat ini, aku tidak ingin peduli. mungkin nanti, setelah waktu berjalan kembali.

deserted

hari ini…

gw tahu, bahwa mempercayai orang lain terlalu banyak itu sama sekali tidak bagus. dan gw tahu, mengharapkan terlalu banyak dari orang lain bisa membuat gw kecewa sendiri. dan gw tahu, bahwa gw seharusnya bisa ‘melakukan segala hal’ dengan sebaik-baiknya.

tapi hari ini, gw bukannya ingin mempersalahkan orang lain atau apa. mungkin gw cuma kurang puas dengan beberapa keadaan. sebagian terhadap diri sendiri, sebagian terhadap keadaan di sekitar gw. dan akhirnya… begitu, deh.

gw tahu, bahwa dalam melakukan sesuatu, kalau gw melakukannya dengan ‘baik’, maka gw benar. dan kalau melakukannya dengan ‘tidak baik’, maka gw salah. sederhana saja.

tidak peduli apapun kondisinya. tidak peduli apapun alasannya. sekalipun dengan segala sesuatu yang mungkin tidak sesuai keinginan dan harapan gw, atau dengan sesuatu yang menurut gw tidak layak.

kalau bagus, ya benar. kalau tidak, ya salah. dan kalaupun salah, segala alasan hanya akan jadi alasan saja. masalahnya hanya satu, kan. I couldn’t do it better.

iya, kan?

nggak, kok. bukan kenapa-napa. hari ini… gw cuma merasa sedikit ‘tidak biasa’ karena suatu hal. agak tidak menyenangkan buat gw. dan gw harap tidak akan terjadi lagi. jangan ke-GR-an, gw tidak menyalahkan siapa-siapa, kok. perhaps that’s just the way it has to happen.

dan mohon maaf sebesar-besarnya untuk orang-orang yang mungkin agak terganggu dengan sikap gw yang (mungkin) agak ‘tidak biasa’ dan cenderung ‘menyebalkan’ hari ini. gw sama sekali tidak bermaksud demikian =). sekali lagi, mohon maaf yang sebesar-besarnya.

(btw, belum ada yang ngomong demikian ke gw, jadi gw ngomong duluan sekarang, deh =P. tapi gw berharap, semoga saja tidak ada yang berpikir demikian)

well, such things happened, and it just won’t change. but at least, there is always something to learn.

setidaknya, sesuatu tidak sia-sia.

orang indonesia itu…

“yah, mau apa lagi? namanya juga orang Indonesia…”

___

…ada yang familiar dengan kata-kata di atas?

mungkin, kata-kata itu akan keluar dari mulut beberapa (banyak) orang, ketika kita membicarakan mengenai betapa menyedihkannya mental dan perbuatan sebagian dari warga negara Indonesia yang notabene adalah negara kita. dan tentu saja, lengkap dengan pemikiran bahwa ‘orang Indonesia itu memang kayak begitu’.

bingung dengan maksud paragraf di atas? coba kita perjelas. kita sedang membicarakan sikap mental sebagian penduduk sebuah bangsa yang suka menyuap polisi supaya tidak kena tilang, atau menyogok kepala sekolah SMU unggulan agar seorang anak bisa diterima di sekolahnya, atau suka naik kereta tanpa membayar karcis, atau orang-orang tidak berpendidikan yang memakan buah kelengkeng di pasar swalayan yang dituliskan: “TIDAK UNTUK DICOBA”.

oh. iya. kita juga sedang membicarakan orang-orang yang dengan memalukan mencoba berlindung di balik perkataan “mau apa lagi? namanya juga orang Indonesia…”

tentu saja, saya sangat berharap bahwa anda yang membaca tulisan ini bukanlah orang seperti itu =)

pertanyaannya: seperti apakah orang Indonesia itu? orang-orang korup-kah? mental penyuap-kah? mental pelanggar peraturan-kah? manusia brutal-kah? manusia pemalas-kah?

mungkin ya. dan beberapa orang mungkin akan mengatakan: “mau apa lagi? namanya juga orang Indonesia…”

sikap yang menyedihkan. mencoba untuk berlindung di balik ‘ketidakbenaran kolektif’ dengan mengatakan ‘karena saya orang Indonesia’? dan hal itu akan menjadi pembenaran bagi tindakan-tindakan yang mungkin akan anda lakukan: menyuap polisi di jalan ketika anda melakukan pelanggaran, misalnya. atau mendapatkan SIM cara gampang dengan ‘melewati jalur cepat’ alias ‘SIM tembak’.

dan setelah itu, dengan mengatakan “namanya juga orang Indonesia…”, orang akan berlindung di balik kesalahan orang banyak. kenyataannya: kalau anda tidak mau menerima surat tilang dan memilih menyuap petugas, atau membayar untuk mendapatkan sebuah SIM secara ‘gampang dan cepat’, anda bersalah. tapi orang dengan mudah berkelit dengan perkataan yang menjadi ‘pembenaran’ tersebut.

…bersalah? ya. itu memang salah. tidak peduli bagaimana anda melihatnya, menyuap petugas atau membayar untuk ‘SIM tembak’ adalah salah. tapi apakah anda cukup peduli?

saya harap demikian. tapi mungkin tidak.

dan ada sebuah hal yang membuat gw agak kurang senang ketika ada seseorang mengatakan “dari dulu, orang Indonesia memang seperti itu…” ketika menghadapi suatu perbuatan memalukan dan mental menyedihkan dari sebagian warga Indonesia, termasuk mungkin beberapa aparat negara. hal itu sebagian karena gw adalah orang Indonesia, dan gw tidak merasa bahwa gw seperti itu. sebagian lagi karena gw sangat tidak suka melihat orang yang hanya bisa berlindung di balik perkataan tersebut.

yah, mungkin orang Indonesia itu memang payah. mereka itu suka korupsi, mereka itu suka menyogok petugas, mereka itu suka berpolitik uang, mereka itu mata duitan, mereka itu suka melanggar peraturan, mereka itu suka mencuri barang di supermarket, mereka itu bisa dibayar dengan harta, mereka itu tidak bertanggungjawab, mereka itu brengsek kalau membawa kendaraan, dan sebagainya.

…tapi tidak semua seperti itu, kan?

dan orang-orang seperti itu berlindung di balik perkataan yang merendahkan sebuah identitas bangsa. merendahkan kenyataan bahwa orang Indonesia bukan cuma orang-orang brengsek seperti itu.

lalu kenapa? gw orang Indonesia, tapi gw tidak demikian. gw tidak memakan buah-buahan yang dijual di supermarket yang “TIDAK UNTUK DICOBA”. gw tidak menyuap kepala sekolah untuk masuk ke SMU dulu. gw tidak menyuap petugas atau aparat negara. gw membayar karcis sesuai dengan tarif kereta. gw tidak berbuat melanggar hukum, apalagi mencoba menutupinya dengan kekuasaan atau uang.

tapi gw orang Indonesia. dan gw tahu, bahwa masih banyak (atau setidaknya masih ada) orang-orang yang cukup baik di negara ini. dan kalaupun bersalah, mereka tidak mencari cara mudah dengan menyuap petugas atau menggunakan uang untuk melicinkan jalan mereka.

jadi? jangan bilang “namanya juga orang Indonesia…” ketika anda melihat perbuatan atau sikap mental yang menyedihkan dari sebagian warganegara Indonesia, sebab tidak semua orang Indonesia seperti itu. dan dengan mengatakan demikian, berarti anda mengatakan bahwa semua orang Indonesia seperti itu. dan untuk beberapa orang yang berusaha untuk bersikap baik dan mematuhi peraturan, serta mengakui bahwa dirinya adalah warganegara Indonesia, hal itu adalah penghinaan besar.

yah, kecuali mungkin kalau anda adalah orang yang dengan senang hati melanggar peraturan dan berlindung di balik kesalahan kolektif dengan perkataan “namanya juga orang Indonesia…” dan bangga akan sikap mental yang menyedihkan tersebut.

…tapi saya berharap bahwa anda bukanlah orang seperti itu =)

fansub, scanslations, dan budaya murah(an)

coba kita renungkan pertanyaan-pertanyaan berikut.

berapakah harga satu season serial anime atau j-drama, yang di-review di berbagai tempat sebagai ‘bagus dan menghibur’?

…mungkin, cukup tinggi sedemikian hingga bisa dijual di toko CD/DVD, dan dijual dalam paket satu season.

berapakah harga upaya orang-orang untuk menerjemahkan sebuah film berbahasa jepang, sehingga bisa dinikmati oleh orang-orang non-jepang yang tidak menguasai bahasa jepang?

…mungkin, cukup tinggi sehingga distributor-distributor di beberapa negara membayar orang-orang untuk melakukan hal tersebut untuk sebuah versi licensed dari film berbahasa jepang.

berapakah harga sebuah komik licensed yang diterbitkan di indonesia, dan mungkin bisa ditemui di toko buku terdekat?

…mungkin, cukup tinggi sehingga bisa menghargai para kreator dan membayar royalti atas pemuatan hasil karyanya secara layak.

kenapa gw menuliskan pertanyaan-pertanyaan di atas? karena hal ini bisa dikatakan sudah cukup lama menjadi concern gw… terutama menyangkut masalah scanslations, fansub, dan sikap orang-orang mengenai hal tersebut. dan hal ini berlangsung sudah cukup lama, bahkan sejak pertama kali gw mengenal kata scanslations, dan kemudian fansub.

untuk anda yang mungkin agak kurang memahami kata-kata seperti scanslations dan fansub, silakan membaca paragraf berikut.

scanslations adalah publikasi hasil scan dari sebuah komik berbahasa asing (misalnya jepang, tapi bisa juga yang lain) yang sudah diterjemahkan secara sukarela melalui internet. proses scan, penerjemahan, dan pengeditan dilakukan secara sukarela dan tidak dibayar, dan hasilnya dirilis secara gratis di internet. hasil rilis ini kemudian di-drop ketika material atau judul yang dikerjakan dilisensi secara legal oleh penerbit di negara tersebut.

fansub adalah proses penerjemahan sebuah film berbahasa asing (misalnya jepang, tapi bisa juga yang lain) yang dilakukan juga secara sukarela dan tidak dibayar. proses penerjemahan, pengeditan, typesetting, encoding, dan sebagainya dilakukan dengan sukarela. hasil fansub ini kemudian dirilis di internet untuk di-download secara gratis. seperti halnya scanslations, hasil rilis ini akan di-drop ketika material atau judul yang dikerjakan dilisensi secara legal oleh distributor resmi di negara tersebut.

sebenarnya tidak ada masalah dengan hal tersebut. proses penerjemahan dan pengeditan (yang notabene membutuhkan skill dan resource khusus) dilakukan dengan sukarela. dan sejalan dengan asas penghargaan atas hak cipta, material yang dirilis akan di-drop ketika material tersebut dilisensi secara legal.

yang jadi masalah, adalah sikap mental beberapa orang yang menjadi ‘konsumen’ fansub dan scanslations tersebut. dalam beberapa kasus, justru para ‘konsumen’ inilah yang melupakan bagaimana hasil karya cipta yang berupa komik atau film tersebut harus dihargai.

misalnya begini. kalau seseorang membaca hasil scanslations komik Naruto, misalnya, dan ia menyukai komik tersebut, maka (seharusnya) orang tersebut melakukan penghargaan terhadap komikusnya, dalam kasus ini dengan membeli komik versi licensed yang diterjemahkan di negara tempatnya berada. dengan demikian, ia menghargai kreator dari komik tersebut, dan menghormati hasil karya ciptanya.

tapi, ada sebuah sikap mental yang menyedihkan yang berkembang di sini. yaitu ketika ada beberapa orang menyatakan: ‘buat apa membeli komiknya? sudah baca scanslations-nya, kok’.

orang-orang seperti ini, menurut gw sampah. mereka sama sekali tidak memiliki niat untuk menghargai kreator dari material yang mereka nikmati itu. padahal, versi licensed-nya bisa diperoleh di toko buku terdekat, tanpa membayar terlalu mahal! dan mereka lebih memilih untuk pergi gratisan, dan mengambil hasil jerih payah para translator dan editor yang dibayar dengan niat baik dan terima kasih dari para fans yang tidak bisa menikmati karya tersebut di tempat mereka.

padahal, salah satu prinsip utama yang sering dijelaskan oleh berbagai scanslations group adalah ‘buy the licensed material once it’s available on your country‘, serta kalimat seperti ‘support the author by buying the original items‘.

nah. itu kalau soal scanslations. dan orang yang bersikap menyedihkan seperti itu bukannya tidak ada.

contoh lain. kali ini soal fansub. dalam beberapa kesempatan, gw melihat beberapa keping CD/DVD dijual. isinya material seperti anime, dan beberapa j-drama, serta tokusatsu.

dan ternyata? isinya adalah material hasil fansub. material yang seharusnya tidak dijual (kecuali mungkin untuk ongkos burn CD/DVD-nya), dan dinyatakan dengan jelas dalam content-nya: ‘not for sale, rent, or eBay’. dan seharusnya di-drop begitu versi licensed-nya dirilis di sini.

well, lihat ironisnya di sini?

bayangkan bahwa orang-orang yang mengerjakan fansub sebuah serial anime atau j-drama (yang membutuhkan skill dan resource khusus: translator bahasa jepang, video encoder, video editing, dan sebagainya) dan mengerjakannya dengan tidak dibayar (dan menyatakan bahwa hasil fansub mereka tidak untuk dijual!). mereka sama sekali tidak mengambil untung dari hasil kerja mereka, tapi beberapa orang malah mengambil untung dari hasil kerja mereka yang sukarela dan tidak dibayar itu.

aneh, yah. sementara ada orang-orang bermodal skill dan resource yang cukup langka dan mengerjakan sesuatu secara sukarela, di saat yang sama ada orang-orang dengan modal ‘seadanya’ mencoba cari untung dari hasil kerja fansub tersebut.

well, dan hal seperti itu juga yang membuat gw berprinsip bahwa gw tidak akan membeli hasil fansub, baik dalam bentuk CD atau DVD, kecuali untuk mengganti ongkos CD/DVD dan burn. iyalah, yang mengerjakan saja tidak mengambil keuntungan, masa yang lain mau ambil untung?

tapi tentu saja, akan selalu ada orang-orang yang tidak berpikir untuk menghargai hasil karya cipta yang mereka nikmati. akan selalu ada contoh seperti seseorang yang menonton (dan menyukai) versi fansub dari Final Fantasy VII: Advent Children dan menolak untuk membeli versi licensed-nya setelah available di tempatnya berada. atau orang-orang yang memutuskan untuk tidak men-support kreator dari komik Naruto karena sudah cukup puas dengan membaca scanslations-nya saja. atau kasus-kasus sejenis.

tentu saja, menurut gw ini budaya yang murahan. orang hanya mau mencari keuntungan dan menikmati suatu material (entah scanslations atau fansub) secara gratis (atau setidaknya murah), tanpa sedikitpun niatan untuk menghargai kreator aslinya. atau yang lebih parah lagi, ada orang-orang yang menarik keuntungan dari hasil fansub yang notabene dikerjakan dengan sukarela!

mungkin, kita perlu kembali belajar untuk menghargai. bahwa ketika kita menyukai suatu scanslations, ada baiknya kita menyisihkan sedikit uang untuk membeli versi licensed-nya. misalnya, walaupun anda memiliki scanslations dari komik Monster-nya Naoki Urasawa, ada baiknya anda menyisihkan uang untuk membeli versi resmi yang dilisensi di sini… setidaknya untuk tiga atau empat buku, kalau keadaan finansial anda cukup terbatas =P.

demikian juga, mungkin kita perlu belajar untuk menghargai hasil karya para fansub group. dan satu hal: fansub bukanlah pengganti material yang licensed. kalau anda menyukai dan menikmati suatu hiburan hasil fansub, jangan lupa untuk membeli versi licensed-nya ketika sudah available di tempat anda.

respect yourself, respect others. respect the authors and the people in the industry. and respect the fansub and scanslations groups.

dragon sakura

kali ini, gw akan menulis mengenai sebuah drama (atau lebih tepatnya: j-drama) yang berjudul Dragon Sakura. jangan terlalu memikirkan mengenai nama yang ‘aneh’, sebab memang begitulah adanya. mungkin beberapa rekan yang paham bahasa inggris dan jepang akan sedikit mengernyitkan dahi mendengar judul ini… tapi untuk saat ini, mari kita biarkan saja apa adanya =)

Dragon Sakura (aka: Dragon Zakura) adalah sebuah drama yang memfokuskan ceritanya pada perjuangan sekelompok anak SMU untuk pergi ke Tokyo Daigaku atau Universitas Tokyo, yang juga dikenal dengan sebutan ‘Todai’. temanya cukup menarik, walaupun sebenarnya tidak terlalu baru juga. meskipun demikian, serial ini cukup mampu menjadikan tema tersebut sebagai dasar untuk sebuah tontonan yang cukup menghibur, dengan sedikit unsur komedi dalam kemasannya.

cerita berawal dari perjalanan Sakuragi Kenji, seorang pengacara yang hidup sederhana — kalau tidak bisa dibilang sangat pas-pasan — ke SMU Ryuzan yang terkenal sebagai sekolah ‘buangan’ di daerahnya. sehubungan dengan pekerjaannya yang berlokasi di wilayah hukum Tokyo, ia ditugaskan untuk menyelesaikan urusan hukum mengenai sekolah yang terancam bangkrut tersebut.

Sakuragi yang merasa bahwa SMU Ryuzan sebenarnya masih memiliki harapan, mengajukan proposal kepada para kreditor untuk mengizinkan agar SMU Ryuzan tetap berdiri. dengan catatan, SMU Ryuzan akan membentuk sebuah kelas khusus, dengan sebuah target: memasukkan 5 orang dari Ryuzan ke Todai dalam penerimaan mahasiswa baru tahun ini.

target yang nyaris mustahil, dengan pertaruhan kelangsungan hidup SMU Ryuzan. apalagi dengan fakta bahwa SMU Ryuzan adalah sekolah ‘buangan’ yang menduduki peringkat paling bawah di daerah tersebut…

kalau anda cukup familiar dengan konsep ‘guru gaul yang pernah jadi berandalan’ dalam drama, mungkin anda akan merasa sedikit familiar dengan konsep awal drama ini. karakter Sakuragi Kenji digambarkan sebagai pengacara yang di masa mudanya menjadi anggota geng balap motor… dan akhirnya menjadi ‘guru’ di kelas khusus yang dibentuk di SMU Ryuzan, lengkap dengan gaya mengajar yang ‘tidak biasa’. tapi meskipun demikian, ia tetap memiliki wibawa sebagai seorang ‘guru’, termasuk dengan sikapnya yang kadang agak keras terhadap murid-muridnya.

sebenarnya, cerita yang dibawakan sepanjang serial ini cukup baik… kalau anda bisa mengabaikan beberapa poin yang mungkin agak kurang masuk akal dalam cerita ini. sebagai contoh, sikap menentang guru-guru di sekolah yang ditampilkan tampak kurang realistis, demikian juga sikap dari orangtua dari beberapa murid yang duduk di kelas khusus. beberapa konflik yang ditampilkan memang berhasil memaksimalkan efek dramatisasi, namun sayangnya hal tersebut malah mengakibatkan penyampaiannya menjadi seolah mengabaikan realitas.

meskipun demikian, karakter-karakter yang ada di serial ini dieksplorasi dengan cukup baik, khususnya karakter dari murid-murid di kelas khusus. latar belakang keluarga masing-masing dijelaskan dengan cukup baik, lengkap dengan permasalahan pribadi masing-masing individu yang juga turut dieksplorasi — walaupun beberapa konflik yang ditampilkan tampak kurang realistis dalam penyampaiannya.

dari segi cast, serial ini bisa dikatakan cukup baik, walaupun tidak terlalu istimewa. karakter Sakuragi Kenji dibawakan dengan lumayan baik. karakter Mamako Ino yang menjadi rekan Sakuragi sebagai guru justru tampak lebih sebagai karakter sekunder. di sisi lain, peranan para aktor dan aktris muda yang memang cukup mendominasi cerita tampak tidak buruk… walaupun tidak terlalu istimewa juga.

well, tapi kemungkinan besar sih cewek-cewek akan cukup senang dan antusias mengikuti serial ini, karena ada cowok-cowok seperti Yajima Yuusuke dan Ogata Hideki dalam serial ini =). (Yama dan Teppei? terserah deh kalau cewek-cewek bilang mereka keren… *eh, gw gak ikutan lho*)

nah. sekarang soal musical scores-nya. aransemen yang jadi main theme-nya cukup catchy, dan lumayan baik dalam membawakan citra sebuah drama dengan genre school-life dan komedi. demikian juga insert song-nya yang berjudul Colorful yang dibawakan oleh Yamashita Tomohisa bisa dikatakan lumayan pas dalam beberapa adegan di beberapa episode. sementara itu, opening theme-nya yang berjudul Realize dibawakan oleh Melody, dengan kemasan yang mengajak kepala sedikit bergoyang selama opening. well, OST yang disajikan dalam serial ini memang cukup memorable.

overall, serial ini cukup enjoyable. walaupun ada beberapa kekurangan di bagian storyline, tapi kemasan yang baik bisa dikatakan cukup sukses menghasilkan tontonan yang menghibur. demikian juga OST yang cukup memorable dan lumayan enak didengar, turut menjadi nilai tambah bagi serial ini.

dan mungkin, untuk anda yang ingin sedikit bernostalgia dengan mengenang masa-masa SMU serta suasana menjelang SPMB, serial ini bisa menjadi pilihan yang baik. tentu saja, lengkap dengan pesan moral yang tersirat, dan trik-trik belajar yang mungkin akan kembali mengingatkan anda mengenai masa-masa sekolah dulu.