orang indonesia itu…

“yah, mau apa lagi? namanya juga orang Indonesia…”

___

…ada yang familiar dengan kata-kata di atas?

mungkin, kata-kata itu akan keluar dari mulut beberapa (banyak) orang, ketika kita membicarakan mengenai betapa menyedihkannya mental dan perbuatan sebagian dari warga negara Indonesia yang notabene adalah negara kita. dan tentu saja, lengkap dengan pemikiran bahwa ‘orang Indonesia itu memang kayak begitu’.

bingung dengan maksud paragraf di atas? coba kita perjelas. kita sedang membicarakan sikap mental sebagian penduduk sebuah bangsa yang suka menyuap polisi supaya tidak kena tilang, atau menyogok kepala sekolah SMU unggulan agar seorang anak bisa diterima di sekolahnya, atau suka naik kereta tanpa membayar karcis, atau orang-orang tidak berpendidikan yang memakan buah kelengkeng di pasar swalayan yang dituliskan: “TIDAK UNTUK DICOBA”.

oh. iya. kita juga sedang membicarakan orang-orang yang dengan memalukan mencoba berlindung di balik perkataan “mau apa lagi? namanya juga orang Indonesia…”

tentu saja, saya sangat berharap bahwa anda yang membaca tulisan ini bukanlah orang seperti itu =)

pertanyaannya: seperti apakah orang Indonesia itu? orang-orang korup-kah? mental penyuap-kah? mental pelanggar peraturan-kah? manusia brutal-kah? manusia pemalas-kah?

mungkin ya. dan beberapa orang mungkin akan mengatakan: “mau apa lagi? namanya juga orang Indonesia…”

sikap yang menyedihkan. mencoba untuk berlindung di balik ‘ketidakbenaran kolektif’ dengan mengatakan ‘karena saya orang Indonesia’? dan hal itu akan menjadi pembenaran bagi tindakan-tindakan yang mungkin akan anda lakukan: menyuap polisi di jalan ketika anda melakukan pelanggaran, misalnya. atau mendapatkan SIM cara gampang dengan ‘melewati jalur cepat’ alias ‘SIM tembak’.

dan setelah itu, dengan mengatakan “namanya juga orang Indonesia…”, orang akan berlindung di balik kesalahan orang banyak. kenyataannya: kalau anda tidak mau menerima surat tilang dan memilih menyuap petugas, atau membayar untuk mendapatkan sebuah SIM secara ‘gampang dan cepat’, anda bersalah. tapi orang dengan mudah berkelit dengan perkataan yang menjadi ‘pembenaran’ tersebut.

…bersalah? ya. itu memang salah. tidak peduli bagaimana anda melihatnya, menyuap petugas atau membayar untuk ‘SIM tembak’ adalah salah. tapi apakah anda cukup peduli?

saya harap demikian. tapi mungkin tidak.

dan ada sebuah hal yang membuat gw agak kurang senang ketika ada seseorang mengatakan “dari dulu, orang Indonesia memang seperti itu…” ketika menghadapi suatu perbuatan memalukan dan mental menyedihkan dari sebagian warga Indonesia, termasuk mungkin beberapa aparat negara. hal itu sebagian karena gw adalah orang Indonesia, dan gw tidak merasa bahwa gw seperti itu. sebagian lagi karena gw sangat tidak suka melihat orang yang hanya bisa berlindung di balik perkataan tersebut.

yah, mungkin orang Indonesia itu memang payah. mereka itu suka korupsi, mereka itu suka menyogok petugas, mereka itu suka berpolitik uang, mereka itu mata duitan, mereka itu suka melanggar peraturan, mereka itu suka mencuri barang di supermarket, mereka itu bisa dibayar dengan harta, mereka itu tidak bertanggungjawab, mereka itu brengsek kalau membawa kendaraan, dan sebagainya.

…tapi tidak semua seperti itu, kan?

dan orang-orang seperti itu berlindung di balik perkataan yang merendahkan sebuah identitas bangsa. merendahkan kenyataan bahwa orang Indonesia bukan cuma orang-orang brengsek seperti itu.

lalu kenapa? gw orang Indonesia, tapi gw tidak demikian. gw tidak memakan buah-buahan yang dijual di supermarket yang “TIDAK UNTUK DICOBA”. gw tidak menyuap kepala sekolah untuk masuk ke SMU dulu. gw tidak menyuap petugas atau aparat negara. gw membayar karcis sesuai dengan tarif kereta. gw tidak berbuat melanggar hukum, apalagi mencoba menutupinya dengan kekuasaan atau uang.

tapi gw orang Indonesia. dan gw tahu, bahwa masih banyak (atau setidaknya masih ada) orang-orang yang cukup baik di negara ini. dan kalaupun bersalah, mereka tidak mencari cara mudah dengan menyuap petugas atau menggunakan uang untuk melicinkan jalan mereka.

jadi? jangan bilang “namanya juga orang Indonesia…” ketika anda melihat perbuatan atau sikap mental yang menyedihkan dari sebagian warganegara Indonesia, sebab tidak semua orang Indonesia seperti itu. dan dengan mengatakan demikian, berarti anda mengatakan bahwa semua orang Indonesia seperti itu. dan untuk beberapa orang yang berusaha untuk bersikap baik dan mematuhi peraturan, serta mengakui bahwa dirinya adalah warganegara Indonesia, hal itu adalah penghinaan besar.

yah, kecuali mungkin kalau anda adalah orang yang dengan senang hati melanggar peraturan dan berlindung di balik kesalahan kolektif dengan perkataan “namanya juga orang Indonesia…” dan bangga akan sikap mental yang menyedihkan tersebut.

…tapi saya berharap bahwa anda bukanlah orang seperti itu =)

3 Comments

  1. adit_haha
    September 11, 2006 at 4:20 pm - link to this comment

    adalagi pembenaran yang menurut gw paling menyedihkan.

    “yah, namanya juga manusia”

    seolah-olah wajar bagi manusia untuk melakukan kesalahan. emg, manusiawi kalo manusia salah. tapi pembenaran yang seperti itu cuma bullshit bagi gw. kenapa ga make alasan yang lebih rasional untuk hal itu. sama halnya kayak yang lo bilang, “namanya juga orang indonesia”.ll

  2. September 11, 2006 at 5:44 pm - link to this comment

    Waktu dulu gw jalan2 keluar negeri, pas antri mau naik ferry rapi banget. Ga ada polisi/petugas yg ngejagain. Padahal, kalo mau ngelompatin sih bisa aja. Kok bisa ? Setelah gw liat2, ternyata gak ada orang Indonesia (kecuali gw). He he …

  3. Geger
    March 13, 2008 at 10:42 pm - link to this comment

    Gw sangat terharu dan salut dengan tulisan Anda. Segala borok yang ada di negara ini bukanlah borok Indonesia. Mungkin nama negaranya adalah negara Indonesia tapi bukan berarti itu pun mencakup semua Indonesia kan?

    Make kacamata sebuah LSM dalam memandang suatu persoalan, problemnya terletak pada situasi yang menyergap orang-orang Indonesia.
    Yang selama ini terjadi, orang Indonesia dituduhkan sebagai sumber problem itu sebagaimana adanya.

    Borok di birokrasi saja, dahulu, namanya bukanlah borok Indonesia. Banyak sebab sejarah yang membuat birokrasi kita seperti ini, seperti politik kolonialisme Belanda, politik segelintir orang yang tergabung dalam sebuah partai kuning.

    Problem itu selalu ada sejarahnya dan lingkungan yang memungkinkannya. Meskipun aparatur birokrasi kita korup, tapi itu bukanlah sepenuhnya karena dia orang Indonesia bukan?

    Kalo kita perhatikan ke negeri luar sana pun, problem selalu ada. Singapura berpuluh-puluh tahun yang lalu–setelah baru ditinggal Inggris–adalah negara yang birokrasinya amat korup. Tapi kalau para pelopor negara itu terus berkutat dengan keluhan bahwa memang negerinya, seolah pada takdirnya, korup, bagaimana mereka bisa berubah?

    Dan sekali lagi, saya sangat salut dengan pemikiran Anda. Kita adalah diri-diri yang sedang, dan akan selalu berada dalam proses perbaikan. Meski kita mungkin tidak bisa mengubah perilaku seluruh birokrasi negara ini, setidaknya, dalam diri, lingkungan terdekat diri, teman-teman, keluarga, institusi, kita bisa memulainya.

    Dan meski nama kita tidak tercetak dalam buku sejarah, sebagaimana Lee Kuan Yew, keturunan kitalah yang nantinya akan memperlihatkan hasilnya. Pikirkanlah bahwa Karakter mereka yang unggul, tekun, dan bertekad, akan melampaui arti dari nama kita tercantum dalam buku sejarah. Karakter mereka, yang mulai dibangun dari generasi kita, generasi diri ini.

    Salam,
    Geger