waktu (tidak) berhenti di sini

di sini, waktu seolah berhenti.

terbangun di siang hari dan disapa oleh angin kering dan sedikit panas, di rumah ini waktu seolah berhenti. desau angin membisu, dan lebih banyak diamnya. terang matahari pagi menjelang siang menghangatkan suasana sepi, dan sesekali ditingkahi kicau burung yang terlambat; seharusnya berhenti ramai sedari pagi.

di sini, saat ini, waktu seolah berhenti. angin mati, hanya vitrase yang sedikit bergoyang di sisi kamar. pigura jendela menyajikan pemandangan hijau yang langka — ya, kapan terakhir kali aku bersandar, dan memandang daun-daun hijau yang seolah tak hendak jatuh, menantang usianya? atau tidak — mereka selalu ada; hanya luput dari mataku yang memang tak hendak ke mana-mana ini.

di luar, meja kaca dikelilingi kursi-kursi kulit keras. seolah mencoba memutar kenangan-kenangan di tempatnya, yang tampaknya berhasil sebatas potongan yang melompat-lompat. sinar matahari menerpa dari void, jatuh ke lantai. sebagian memantul dan menampilkan sisi lain dari fenomena alam yang nyaris tidak pernah kulihat lagi: pelangi, di dinding dan kaki meja; seberkas sinar matahari yang teruraikan oleh meja kaca.

dan ya, lemari kayu besar dan tinggi di sisi lain berdiri sampai ke atap, dengan sedikit angkuh memandang ke bawah. begitu tinggi, seolah menantang untuk membuka pintu-pintunya yang sombong sampai ke atap; sebuah menara gading yang diam dan membisu.

di sini, saat ini, waktu seolah berhenti. dunia sepi, tanpa suara derum sepeda motor yang kadang meraung mengganggu pikiran, dan membuat orang ingin menyumpah semoga sepeda motor itu jatuh saja dan diam selamanya. beberapa kali angin menerobos masuk melalui lubang-lubang dan jendela, dan membawa udara kering serta kadang-kadang sedikit debu yang bahkan tidak cukup untuk mengotori sepetak kecil lantai keramik.

tidak ada orang, tidak ada suara. kecuali detak jam dinding yang terasa begitu akrab di telinga dan sedikit desau angin yang ditingkahi suara gesekan daun-daun — yang kembali mengingatkanku akan masa kecil dulu: matahari yang panas tapi tidak terik, diiringi desah daun dan rumput di siang hari. dan hari-hari sibuk menjadi terasa begitu jauh.

tapi aku tahu, saat-saat ini tidak akan ada selamanya. sebentar lagi, suara anak-anak di luar akan ramai meningkahi suasana. dan matahari akan beranjak turun, menggantikan nuansa dengan siluet jingga yang tidak akan sama.

ah. iya. masih ada tugas Analisis Numerik untuk dikumpulkan hari Senin. tapi kurasa, untuk saat ini, aku tidak ingin peduli. mungkin nanti, setelah waktu berjalan kembali.

One Comment