the days that passed quietly

berapa lama sejak saat itu berlalu?

dua tahun, tiga, ataukah lima tahun yang lalu, mungkin sudah mulai samar dan sedikit terkikis oleh guratan waktu, tapi aku masih mengingatnya dengan baik.

saat-saat aku bangun sendirian di pagi hari, dan menunggu jam tujuh-tigapuluh untuk bersiap berangkat ke sekolah yang dimulai jam delapan tepat? saat-saat sedikit-gamang dan sendirian, tapi toh akhirnya aku menikmatinya: delapan sampai empat setiap hari, lengkap dengan pekerjaan rumah dan ulangan harian yang tampaknya tidak mau menunggu.

saat-saat di mana aku membongkar lemari dan menemukan bahwa potongan seragam putih-abu-abu yang ada di lemari hanya tersisa satu potong, dan berarti sudah waktunya mencuci dan menyetrika sendiri… sementara pekerjaan rumah dari guru fisika atau kimia seolah terlupakan dalam keasyikan ini-dan-itu.

saat-saat di mana aku belajar bahwa telur dadar dan tempe goreng merupakan kombinasi sakti untuk mengatasi saat-saat kritis yang bernama ‘kehabisan uang’, dan tak lupa porsi nasi yang lebih banyak dari biasa tanpa tambahan biaya. tak lupa juga warung kopi yang buka 24-jam, menyediakan dari bubur kacang hijau sampai soda susu untuk menemani kepenatan belajar di meja kayu.

saat-saat di mana aku bisa membeli majalah komputer yang memberikan ulasan hardware terbaru, dan secara ajaib menghilangkan sebagian gizi yang seharusnya kuterima dalam makanan yang sebenarnya sudah murah itu… tapi aku tidak benar-benar peduli. setidaknya, saat itu aku sudah bisa merakit komputer sendiri.

::

berapa lama sejak saat itu berlalu?

ketika aku memandang diriku sebagai seorang yang sedikit-payah dan kurang percaya-diri? dan seseorang yang entah bagaimana tiba-tiba ada di sisiku, dan sedikit mengubah hari-hariku dengan pukulan kecil di kepala atau sedikit desisan ‘apa sih!’, dan sedikit demi sedikit membuatku belajar mengenai sesuatu yang berbeda dalam memandang hidup.

…kami berteman baik, walaupun sepertinya tidak ada seorangpun yang mempercayai hal tersebut ‘hanya seperti itu’ di kelas. entahlah, sepertinya mereka mengira hal yang lain, aku tidak terlalu mengerti juga.

atau saat-saat di mana aku merasa dengan sedikit-sombong bahwa hidupku adalah milikku sendiri. sebuah bibit dari identitas individual yang sepertinya terus terbawa sampai lama kemudian dalam perjalananku menuju kedewasaan. tapi menurutku, itu bukan hal yang buruk, kok.

tak lupa saat-saat di mana aku melangkah menyusuri tanjakan yang sedikit berdebu di senja hari, sementara lampu-lampu toko mulai dinyalakan dan matahari belum tenggelam benar. saat-saat aku pergi dan jalan-jalan, entah sekadar membeli komik terbitan-baru atau membeli tambahan persediaan makanan untuk teman belajar di malam hari. ke mana perginya saat-saat itu?

dan saat-saat aku menggelandang ke rumah beberapa orang rekan untuk bongkar-bongkar dan reparasi komputer dengan imbalan snack dan makan malam gratis, siapa yang bisa menggantikannya? dan pembicaraan penting-tidak-penting mengenai impian dan cita-cita, atau sekadar komik edisi terbaru yang akan segera terbit.

::

berapa lama sejak saat itu berlalu?

dua tahun, tiga, ataukah lima tahun yang lalu, dan mungkin sudah mulai sedikit demi sedikit kulupakan, tapi masih kuingat dengan cukup baik.

saat-saat di mana aku membaca komik shounen dengan santai di kelas dua, dan tiba-tiba muncul seorang cewek imut-imut yang bertanya apakah ia boleh meminjamnya; pertanyaan yang kadang berlanjut menjadi obrolan pendek. atau sekadar ngobrol tidak-jelas di antara jam kosong, dan pergi ke perpustakaan entah untuk akses internet gratis yang masih menjadi barang langka. atau sekadar untuk membaca buku-buku referensi yang tampaknya mahal di perpustakaan? kurasa cukup banyak pilihan untuk itu.

…ya, lengkap dengan segala perasaan rendah-diri yang kadang muncul karena ulangan matematika yang tampaknya tidak kunjung bagus hasilnya, atau hasil ujian biologi yang membuatku bersumpah bahwa aku tidak mau menjadi seorang dokter. siapa yang peduli, aku memang tidak ingin menjadi dokter, kok.

atau perasaan sedikit-puas ketika aku berhasil menghalau bola kencang yang terarah ke gawang dengan penyelamatan yang disoraki rekan-rekan dalam permainan futsal di sesi pelajaran olahraga-bebas, kurasa belum ada yang bisa menggantikannya. lagipula, aku juga bukan penjaga gawang yang jago-jago amat, kok. tapi setidaknya, aku cukup senang.

dan siapa yang menduga bahwa ketertarikanku terhadap fotografi menjadi jauh berkembang sejak aku tahu bahwa melakukan image editing dari hasil jepretan kamera SLR ternyata bisa begitu menyenangkan? juga obrolan soal penggunaan Curve, Histogram, dan Gaussian Blur di Photoshop yang membuatku ‘tersadar’ bahwa ternyata ada juga cewek yang paham soal ‘bahasa aneh’ itu dalam urusan edit-mengedit foto… dan aku belum lupa bahwa aku sempat cukup senang bahwa aku pernah menggunakan benda bagus yang bernama FinePix S7000 itu.

::

kurasa sudah hampir tiga tahun yang lalu, dan masih kuingat dengan sedikit-samar. kenangan yang sedikit-menyenangkan atau mungkin sedikit-mengharukan dan masih kuingat dengan jelas sampai saat ini.

upacara kelulusan yang formal di hall gedung serbaguna, lengkap dengan jas dan sepatu. dan pidato perpisahan dari perwakilan murid yang sedikit membuatku ingin berkata: tidak bisakah kita bertahan di sini sedikit lagi saja? sambil memandang ke arah podium dengan campuran perasaan yang tak-jelas apa sebenarnya.

dan sedikit air mata yang terlihat di antara rekan-rekan yang juga pergi dan tak kembali. beberapa tepuk tangan dari guru-guru, dan gaung obrolan yang mengambang di udara di antara para orangtua dan undangan. dan ia berada di sana: cantik dan percaya diri, di hari terakhir kami sebagai seorang ‘murid’.

tidak banyak hal yang terjadi di hari itu. sedikit foto, makan-makan dan obrolan, serta genggaman dan jabat tangan. tidak terlalu banyak yang bisa diungkapkan, tapi itulah segalanya.

___

sayonara kioku. wasure wa shinai yo.

9 Comments