mengerjai penipu

sekarang ini, anda tidak bisa benar-benar mempercayai orang-orang yang ada di sekitar anda. sekalipun orang tersebut kelihatannya membutuhkan bantuan anda. jangan percaya dengan apa yang anda lihat atau rasakan.

aku sudah beberapa kali melihat penipu model seperti ini: umumnya ibu-ibu, terlihat sudah agak tua, dan mengaku tidak punya uang untuk ongkos pulang. dengan dalih seperti itu, mereka mengharapkan uang ‘belas kasihan’ dari korban. dan biasanya, mereka memanfaatkan orang yang memiliki perasaan… kalau orang tersebut masih bisa ditipu. sayangnya, aku masih lebih pintar daripada yang mereka kira :mrgreen:

aku pernah ditemui seorang ibu dalam perjalanan menuju ke kampus. katanya sih beliau kehabisan uang, dan tidak bisa pulang. aku tidak benar-benar percaya, dan lantas kukatakan ‘tidak’ sambil terus berjalan. orang ini tidak bisa dipercaya, demikian pikirku.

lho, si ibu ini malah terus mengikutiku sambil memohon-mohon. tidak mempan, bu. sudah, pergi sana. orang yang benar-benar membutuhkan seperti ibu tidak akan bersikap seperti itu. aku tetap bersikap cuek, dan akhirnya si ibu menyerah.

belakangan, ternyata benar. ada beberapa rekan yang ternyata pernah bertemu dengan manusia sejenis si ibu tersebut. tuh, kan. sampah masyarakat, pikirku.

…nah. cerita tersebut adalah pengantar dari apa yang akan kuceritakan di sini.

dalam perjalanan pulang dari kampus ke rumah di suatu malam yang sedikit berangin, aku sedang menunggu bus ke arah Lebak Bulus di daerah sekitar Margonda. menjelang malam, bus memang sedikit jarang, tapi dengan sedikit kesabaran biasanya bus akan tiba setelah menunggu beberapa saat.

“dik, bisa bantu ibu, tidak?”

“apa?” aku menjawab asal. dua kemungkinan: penipu, atau memang membutuhkan bantuan.

“ibu nggak punya ongkos… (dan seterusnya),” lalu menanyakan apakah aku bisa memberikan uang.

tuh, kan. seperti diduga. aku menggumam bahwa ongkos pulangku pas-pasan, tapi si ibu tampaknya belum menyerah. dengan segala cara yang terpikirkannya, ia mencoba merayu-memelas dengan sedikit nada tidak sabar pada suaranya. aku bisa mengenali ketidaksabaran khas penipu yang mulai kesal, tapi sayangnya, aku cukup keras-kepala.

maka kami-pun jadi saling diam. tiga puluh detik, satu menit dan lewat… si ibu tampaknya mulai kehabisan kesabaran.

“gimana, adik mau bantu atau tidak?!”

siapa yang mau. eh, tapi tunggu. sebuah ide melintas di kepalaku. sedikit pengorbanan kurasa akan berguna untuk sedikit kesenangan.

“bu, ongkos saya pas-pasan!” dengan tampang dibuat setengah-sebal. “saya cuma punya dua ribu!” dan aku mulai mengeluarkan dompet dari saku.

“ya udah, gak apa-apa, deh!”, sambil menyambar uang yang baru keluar dari dompetku. sampah masyarakat, seharusnya mereka mati saja di jalanan. sudahlah, sabar dulu.

si ibu lalu pergi menyusuri jalan di sebelah kananku. sementara itu, aku hanya memandangnya. enak saja. siapa bilang aku memberikan dua ribu rupiah dengan gratis?

aku melihat jam. dua puluh detik. tiga puluh detik. empat puluh detik. akhirnya aku mulai melangkah menyusuri jalan Margonda, ke arah yang dituju oleh si ibu.

dan akhirnya, aku menemukannya.

si ibu sedang membeli makanan, bukan pergi naik bus. ia sedang berdiri menghadap ke meja. cukup bagus, bu. sayangnya, masih ketahuan olehku, kalau mau menipu…

aku melangkah mendekat. si ibu menoleh, dan kami beradu pandang.

aku nyengir kuda ke arahnya. si ibu tampak *cukup* kaget, lalu balik badan. dan selama beberapa menit yang panjang, ia tidak menyentuh makanannya. ia hanya berdiri membelakangi meja, entah apa cita-citanya… tampaknya, ada sesuatu yang dianggapnya menakutkan di balik punggungnya. kasihan betul, tampaknya ia agak cemas-campur-ketakutan.

…hal tersebut terus berlangsung sampai bus yang kutunggu tiba. ibu itu masih belum (berani?) menghadap ke meja untuk mulai menghabiskan makanannya. wah. sudah berapa menit berlalu? entahlah, aku tidak memperhatikan. kurasa aku terlalu asyik memperhatikan tingkah si ibu :mrgreen:

hidup itu keras, bu. dan aku sendiri heran bahwa penipu yang memelas sepertimu masih bisa bertahan hidup dengan cara seperti itu. tapi kurasa, kalau seperti itu, lebih baik kau jangan hidup saja. hanya orang brengsek yang mencoba mempermainkan perasaan orang demi keuntungannya sendiri.

…yeah, dua ribu rupiah untuk melihat penipu salah tingkah campur cemas. ada yang tertarik?

10 Comments

  1. March 14, 2007 at 6:28 pm - link to this comment

    BIG LOL!!! 😀 😀 😀

    Cerdas deh lo… selamat, selamat…

    …selamat datang di “Negeri Kaum Tertindas”. 😉

    *masih susah berhenti ketawa nih gw 😆 *

  2. March 14, 2007 at 8:17 pm - link to this comment

    Riskan lho, Yud…
    Untung ibu-ibunya sendiri..
    Kalau dia ternyata punya komplotan, misalnya, suaminya… bagaimana?

    Kalau dulu, di Margonda ada yang minta makan sama aku (saat aku sedang makan). Begitu kutawari kutraktir, dia malah bilang, “uangnya aja Mas..”..

    Yeeeeee…
    bilang aja sedang mengemis, Bu..

  3. March 14, 2007 at 10:36 pm - link to this comment

    kyahahahahahahahaha!!!!!
    lucu bgt seh!!
    syukur risa blom pernah ketemu ‘ibu2’ seperti itu
    nyahahahahahaha!

  4. tanuki_racoon
    March 15, 2007 at 10:08 am - link to this comment

    “aku nyengir kuda ke arahnya. si ibu tampak *cukup* kaget, lalu balik badan.”

    ya ampun gimana c ibu ga kaget, ada senyum kuda c.. ck ck ck
    tapi bagus juga yud, walau kata2 nya agak kejam..
    uhmmm jadi mikir.. apa c ibu beneran kapok? ga yakin deh…

    eh, gw juga pernah loh minta2 duit di angkot, tp ga nipu.. krn gw sekolah wkt smp lupa bawa duit, dgn tampang melas setengah mau nangis gw narik2 lengan baju bapak2, lalu….. berhasil gw dapet duit 2rb(smoga bapak2 nya iklas) heeee…. v(o^.^o)v

  5. March 15, 2007 at 11:59 am - link to this comment

    :: sora-kun | :: RisaWamuRa

    yah, baguslah kalau bisa bikin ketawa. gw sih males kalau harus ketemu manusia sejenis itu lagi =)

    :: Kunderemp

    justru karena itu gw cuma nyengir kuda :mrgreen:

    kalau gak mikir ke arah sana sih mungkin udah gw samperin, terus gw cela-cela, dan sebagainya…

    …tapi bisa-bisa gw disangka mau merampok tuh ibu-ibu, lagi =)

    :: tanuki_racoon

    uhmmm jadi mikir.. apa c ibu beneran kapok? ga yakin deh…

    kayaknya si ibu belum akan kapok, paling cuma pindah lokasi saja. meskipun demikian gw berharap semoga beliau cepat pensiun… memanfaatkan perasaan dan kebaikan orang lain itu perbuatan yang keterlaluan, lho. setidaknya, itu menurut gw.

    eh, gw juga pernah loh minta2 duit di angkot, tp ga nipu.. krn gw sekolah wkt smp lupa bawa duit…

    nah, itu dia susahnya. dengan banyaknya penipu seperti itu, bagaimana kalau ada orang yang benar-benar membutuhkan? mungkin orang sudah nggak akan percaya, padahal dia benar-benar membutuhkan. susah juga, sebenarnya =(

  6. March 16, 2007 at 4:02 pm - link to this comment

    Assalamu ‘alaikum,

    gw di bandung juga pernah ketemu yang kaya gitu, dia bilang dia dari irian (tapi bukan etnis sana kelihatannya), kehabisan duit, rumah saudara paling dekat ada di surabaya. awalnya cuma nanya stasiun dimana? berhubung gw waktu itu belum terlalu mengenal bandung, gw cuma bisa memberi arah secara general. tapi, dia ga minta duit sama sekali. berhubung gw jg bener2 lagi ga ada/bawa duit, gw kasih apa yang ada di kantong gw, recehan ga seberapa. beberapa hari kemudian gw masih melihat dia di sekitar lingkungan itu.

    pertanyaannya, penipu bukan?

    btw, karena nick “Sundel Bolong” gw ga ada hubungannya sama nama gw sendiri, perkenalkan nama saya Arief, di tempat dimana nama “Arief” sudah terlalu banyak, saya biasa dipanggil Rifu biar ga ketuker.

    terima kasih, wassalamu ‘alaikum.

  7. March 17, 2007 at 9:54 pm - link to this comment

    ehehehe..
    been there done that, di terminal Blok M.
    Tapi bukan ibu2, melainkan cowo, n nodongin piso pula.
    Mana waktu itu gw lagi kesel gara2 bisnya nggak nongol2.
    Mana uang juga tinggal pas2an buat pulang.
    Mana dipaksa-paksa pula.
    Akhirnya gw bentak aja, “Mas, kalo saya punya uang lebih buat dibagi-bagi, mana mungkin saya nunggu bis di sini! Pasti saya naik taksi!”
    Setelah pelotot2an, dia pegi.
    Dan gw baru inget, dia kan tadi nodong gw pake piso..
    Hiiiii.. (ngerinya belakangan, hehe..)
    Emang nyebelin banget, tapi mendingan hati2 deh..

  8. March 19, 2007 at 5:10 pm - link to this comment

    [quote]eh, gw juga pernah loh minta2 duit di angkot, tp ga nipu.. krn gw sekolah wkt smp lupa bawa duit, dgn tampang melas setengah mau nangis gw narik2 lengan baju bapak2, lalu….. berhasil gw dapet duit 2rb(smoga bapak2 nya iklas) heeee…. v(o^.^o)v [/quote]

    heee?? kaget risa.. kirain tanuki mo crita yg dipalak d angkot itu.. tau na sbalikna ada juga ya…. kyahahahhaaha!
    kok kamu ga crita2 ke akuw si cay.. nyahahaha

  9. dtx
    March 22, 2007 at 2:31 pm - link to this comment

    kalo aku c pnah juga ktemu kjadian kayak gini…
    ada mbak2 minta duit,
    gayanya tu kayak di reality show gitu,,
    “mbak2,bisa bantu gak?saya blom dapet kiriman duit….dst”
    lah waktu itu aku lagi demen2nya nonton reality show itu,makanya sambil nyari2 posisi kamera,aku kasih duit ke mbaknya itu,,,,
    hiks
    tapi setelah mbaknya pergi kok gak ada kru yang nghampiri aku,kasih aku duit?
    kena batunya deh
    dari awal niatnya gak ikhlas c…………

    -dtx yang 2kali ketemu si peminta duit,tapi mbaknya gak nyadar kalo pnah minta duit ke aku-

  10. vya
    July 6, 2009 at 1:10 pm - link to this comment

    hahaha…lucu amat sih kisahnya.
    untung belon pernah ngalamin.