tulus… atau manipulatif?

dalam salah satu buku mengenai pengembangan diri yang pernah gw baca, ada suatu hal yang sempat menjadi pemikiran gw sampai lama kemudian. tidak semuanya sih, tapi hal ini menyangkut mengenai arti dari ‘bersikap tulus’.

katanya sih, bersikap tulus adalah salah satu dasar dari kesuksesan hubungan antarmanusia yang anda jalani. ucapkan terima kasih dengan tulus. hormati dan hargai orang lain dengan tulus. tersenyumlah dengan tulus. dan banyak lagi lainnya yang disebutkan, tapi intinya adalah satu hal: bersikaplah tulus, kalau anda berhubungan dengan orang lain. dan pada akhirnya, anda mungkin akan memperoleh banyak keuntungan dari hubungan sosial anda dengan orang lain.

tentu saja, hal ini tidak terbantahkan. gw tidak bisa tidak setuju bahwa ‘ketulusan adalah hal yang penting dalam pergaulan’; kenyataannya, hal tersebut tidak terbantahkan. tapi benarkah bahwa kita akan bertindak tulus, bukannya manipulatif dengan menggunakan cara-cara tersebut?

‘tulus’ dan ‘manipulatif’ adalah dua hal yang berbeda: yang satu digerakkan oleh sifat dasar manusia dan hati nurani, sedangkan yang lain digerakkan oleh keinginan untuk mendapatkan keuntungan pribadi dari hubungan dengan orang lain. yang jadi masalah, hal tersebut mungkin akan terlihat ‘begitu dekat sampai-sampai nyaris tidak bisa dibedakan’, tergantung kepada siapa anda berinteraksi. dan masalahnya: seorang manusia tidak bisa membaca pikiran orang lain!

tapi secara umum, ‘ketulusan’ (atau mungkin ‘terlihat tulus’?) adalah hal yang penting dalam hubungan antarmanusia. seharusnya sih anda setuju =)

dalam salah satu episode lama Little House in The Prairie, ada sebuah adegan di mana Laura Ingalls (ini tokoh utamanya; gadis berkepang yang cukup imut-imut itu, kalau anda masih ingat =) ) sedang berbelanja kebutuhan sehari-hari di toko milik tetangganya.

ia membeli beberapa barang, lalu siap untuk membayarnya.

“aku mau membeli… (ini-dan-itu, menyebutkan barang-barangnya)”, dan terdiam sejenak sebelum berniat untuk menanyakan harganya.

“…dan beberapa butir permen,” kata sang pemilik toko sambil tersenyum, seraya memberikan beberapa butir permen gratis sebagai bonus belanja hari itu.

ia tampak terkejut, lalu tersenyum cerah dan mengucapkan terima kasih. hal yang sama dilakukan oleh sang pemilik toko, juga dengan senyum lebar yang sama cerahnya.

“salam untuk ayahmu, nak.”

contoh yang manis sekali, dan masih terkenang dalam benak gw sampai bertahun-tahun kemudian setelah menonton episode tersebut. tapi itu contoh di mana ketulusan yang ada benar-benar nyata… setidaknya, sesuai harapan sang sutradara. tapi overall, serial tersebut memang mengandung banyak nilai yang layak diikuti, kok.

masalahnya sekarang: benarkah anda sedang berhadapan dengan orang yang memang tulus dalam berinteraksi dengan anda, atau orang yang mungkin hanya bersifat manipulatif sehingga ‘terkesan tulus’? dan ini hal yang gampang-gampang susah, karena anda tidak memiliki kemampuan untuk membaca pikiran orang lain dengan tepat!

sesungguhnya, orang yang berinteraksi dengan anda mungkin memiliki tujuan tertentu: entah ia sedang membutuhkan bantuan anda, atau ia sedang membangun jaringan untuk keuntungannya sendiri. anda tidak pernah benar-benar tahu. yang jelas, anda merasa bahwa ‘orang ini sepertinya tulus’.

bahkan sesungguhnya, sulit sekali untuk memastikan orang yang benar-benar tulus: orang yang berkenalan dengan anda untuk membangun jaringan (misalnya untuk apalah-itu, hal yang seringkali diajarkan dalam latihan kepemimpinan baik di SMU maupun lembaga kemahasiswaan), mungkin tidak bisa dibilang ‘benar-benar tulus’. masalahnya: apakah ia akan mau berkenalan dengan anda, seandainya anda bukan pengurus lembaga kemahasiswaan, misalnya. oke, mungkin juga sebenarnya orang-orang ini tulus untuk membina hubungan sosial dengan anda (dan adalah hal yang kejam bila anda berpikir sebaliknya dengan seenaknya), dan hal ini tidak dapat dikesampingkan.

sekarang, skenario buruknya. bayangkan bahwa saya adalah seseorang yang menggunakan ‘ketulusan’ untuk me-‘manipulasi’ orang lain. dan perhatikan bahwa tindakan ‘manipulatif’ dan ‘tulus’ ini hampir tidak kelihatan secara kasat-mata, kecuali untuk beberapa orang yang memiliki kemampuan psikoanalisis di atas rata-rata.

contoh ini fiktif, segala kesamaan yang ada di luar kesengajaan. jangan ada yang ke-GR-an, yah =)

saya berkenalan dengan anda pada suatu kesempatan yang tepat: sebagai mahasiswa baru yang diterima pada tahun yang sama dengan anda.

dari pengamatan sekilas, saya mengetahui bahwa anda memiliki ketertarikan terhadap film kartun, komik, dan musik jepang. dengan beberapa teknik ini-dan-itu, saya bisa memastikan bahwa anda adalah orang yang cukup berkemauan keras dan mudah akrab (oh, ini bukan hal yang susah. saya sudah biasa melakukannya =) ), dan memiliki hobi bermain sepakbola.

apa yang bisa saya lakukan untuk anda? oke, kebetulan saya cukup percaya diri dengan kemampuan saya sebagai penjaga gawang, maka saya-pun sering ikut bermain sepakbola dengan anda. dan dengan demikian, saya mulai sering mengobrol dengan anda.

kemudian saya membicarakan mengenai anime dengan anda. anda tertarik, sebagaimana sudah saya ketahui sebelumnya. dan saya mengatakan kepada anda bahwa saya memiliki fansub serial anime yang saya rekomendasikan sebagai ‘sangat bagus’ dan menanyakan apakah anda mau meng-copy-nya.

belakangan, anda mungkin akan menjadi partner saya bertukar-fansub. dan inilah tujuan saya: tentu saja, saya bukannya berniat tulus! saya mengincar serial fansub yang ada di harddisk anda, kok… berikut ‘pertemanan jangka panjang’ untuk mendapatkan serial baru yang mungkin akan lebih dulu anda dapatkan :mrgreen:

…kalau benar begitu, bagaimana? untungnya, saya bukanlah tipe orang yang seperti itu :mrgreen:. tapi jelas, bahwa sejak awal niat saya tidak tulus untuk berinteraksi dengan anda, kalau memang benar begitu! dan anda mungkin tidak akan tahu — tergantung sejauh mana saya bisa menjaga ‘keyakinan’ anda bahwa saya sedang bersikap ‘tulus’.

tentu saja, ada juga orang-orang yang memang dengan tulus bersedia membagikan fansub sesuai dengan kaidah penggunaan fansub tanpa mengharapkan imbalan seperti halnya saya yang sebenarnya, tapi sekali lagi: anda mungkin tidak akan tahu apakah saya sedang bersikap tulus, atau malah sedang mengharapkan sesuatu dari anda!

mungkin akan lebih mudah ketika seseorang dikenali sebagai dirinya yang apa-adanya: bukan sebagai mahasiswa angkatan X atau asisten pengajar mata kuliah Y atau pengurus lembaga Z. juga bukan seorang jago programming, mahir desain grafis, atau memiliki tulisan yang bermutu (lho, kok seperti saya semua sih kriterianya 😛 ) dan sebagainya.

bebas dari konflik kepentingan, maksudnya. dan mungkin adalah hal yang menyenangkan kalau seseorang bisa berinteraksi dengan baik dengan seseorang lain, dengan alasan kepentingan yang minimal: bukan karena perlu ini atau perlu itu, atau untuk mendapatkan bantuan apalah-itu.

…tapi sepertinya, itu cuma ada di utopia, yah. mungkin mimpi, kalau dibandingkan dengan keadaan yang mungkin seringkali dihadapi manusia. dan mungkin mengharapkan ‘ketulusan’ dari orang lain itu lebih banyak bersifat tebak-tebakan: manusia tidak pernah mengerti — mereka hanya berpikir bahwa mereka mengerti.

tapi setidaknya, secara pribadi gw lebih suka memandangnya secara sederhana: kalau dalam suatu interaksi kita bisa sama-sama bersenang-senang dengan orang lain, seharusnya itu cukup.

7 Comments