kalau anda adalah seorang editor…

…jangan merekrut (sebagian) mahasiswa kampus saya untuk menjadi kontributor anda.

tidak peduli bahwa anda bekerja sebagai editor majalah atau buku, intinya sama saja: sebisa mungkin, hindari menggunakan mahasiswa dari kampus saya sebagai kontributor anda, kecuali anda sudah siap untuk melakukan dua hal berikut: (1) melakukan screening superketat terhadap mereka, atau (2) bekerja sangat keras untuk memperbaiki tulisan mereka sehingga bisa dibaca dan dimengerti oleh pembaca anda.

kenapa saya berkata demikian, sesungguhnya sederhana saja. yang pertama — dan mungkin anda akan setuju setelah saya mengirimkan satu kopi laporan mentah dari tugas kelompok dari kuliah mana-saja yang pernah saya ikuti — adalah kenyataan bahwa tulisan sebagian besar mahasiswa dari kampus saya mungkin tidak memiliki mutu yang memenuhi kualitas harapan anda[1].

yang kedua — bagusnya, ini tidak se-fatal yang pertama — adalah bahwa mereka senang sekali mem-breakdown segala bentuk laporan kelompok berdasarkan sub-topik, dan membagi ke masing-masing anggota kelompoknya… untuk kemudian dikumpulkan, tanpa melalui proses copy-editing[2] terlebih dahulu.

anda sebagai seorang editor tentu mengerti, bahwa tulisan empat orang seharusnya tidak sama dengan tulisan (satu + satu + satu + satu) orang. dan apa yang terjadi, anda bisa menebaknya: laporan dengan style tulisan yang berbeda-beda di setiap sub-topiknya, dengan standar kualitas yang berbeda-beda pula. mungkin hal ini ada kaitannya dengan waktu pengerjaan laporan yang cenderung dekat sekali dengan deadline tugas, entahlah. saya rasa Tuhan lebih mengetahui hal tersebut.

kenapa begitu, jangan tanya saya. mungkin benar bahwa anda tidak bisa mengharapkan mahasiswa Computer Science, apalagi di kampus saya, untuk menghasilkan tulisan yang bermutu. sebagaimana yang juga diakui oleh beberapa dosen yang pernah mengajar saya pada beberapa kuliah[3], tulisan mahasiswa di sini memang tidak bisa dianggap luar biasa… tapi entahlah, seandainya anda memiliki kesempatan untuk bekerjasama dengan beberapa mahasiswa di sini dalam membuat laporan tugas kelompok, saya rasa anda seharusnya akan mengerti dengan mudah.

oke. memangnya apa saja sih yang membuat tulisan mahasiswa dari kampus saya mungkin akan membuat pekerjaan anda berlipat ganda sebagai seorang editor?

banyak! ejaan yang seringkali tidak tepat — pemisahan kata, peletakan tanda baca titik dan koma, dan sebagainya — mungkin akan membuat anda lekas panas karena bisa begitu banyak bisa anda temukan sepanjang naskah. kosa kata yang tidak tepat dalam menyampaikan suatu pernyataan bisa membuat mata anda lekas capek karena begitu banyak terjadi bahkan dalam satu halaman. dan penggunaan bahasa yang cenderung semaunya (baca: kurang mempedulikan kenyamanan dalam membaca) akan begitu banyak anda temui sampai-sampai anda mungkin akan perlu menggunakan find-and-replace dalam program pengolah-kata anda.

dan mengenai paragraf, anda mungkin akan agak frustrasi melihatnya. penggunaan frase yang membingungkan dan kadang ambigu dapat ditemukan dengan mudah. kasus bahwa terlalu banyak tanda koma dalam satu kalimat panjang yang membingungkan pembaca dalam memahami isi paragraf[4] juga tersedia dalam jumlah signifikan. dan yang paling fatal, kadang ada terlalu banyak ide yang ada dalam satu paragraf, dan anda mungkin akan merasakan keinginan yang sangat kuat untuk menyelipkan end of line untuk memecah paragraf tersebut.

…anda mungkin bertanya-tanya, memangnya apa gunanya bahasan mengenai ‘pokok pikiran dalam paragraf’ pada pelajaran Bahasa Indonesia di sekolah dulu? jangankan anda, saya juga heran, kok.

masih kurang? dan ada satu hal lagi yang cukup fatal, yaitu bahwa tulisan dari beberapa mahasiswa cenderung mengulang-ulang poin yang sama, bahkan pada satu paragraf! mungkin anda malah akan menemukan bahwa setelah anda membuang bagian-bagian yang redundant pada paragraf, anda hanya akan melihat sebuah paragraf yang sangat ramping dari sebuah paragraf panjang yang ada pada awalnya. dan jangan heran pula bahwa anda mungkin akan menemukan naskah yang tebalnya hanya 70% atau 80% dari tulisan jenis ini setelah anda edit.

oh, well… anda mungkin akan sulit mengerti dari tulisan saya yang mungkin sama tidak-bagusnya, dan adalah hal yang susah juga untuk mendeskripsikan hal tersebut dalam tulisan pendek[5] ini… tapi sudahlah! mungkin akan lebih mudah kalau anda membaca sendiri beberapa tulisan yang pernah saya copy-edit dalam keadaan mentah yang saya terima.

akhirnya, setidaknya sekarang saya bisa sedikit memahami ungkapan bahwa ‘menjadi editor adalah pekerjaan dewa’… dan tentu saja, dengan tidak mengurangi rasa hormat terhadap pekerjaan anda, seorang editor memang sangat layak untuk dibayar mahal dalam industri penerbitan.

___

[1] baca: jelek. tidak semuanya sih, di antara mereka ada sebagian cukup signifikan yang mungkin memenuhi standar anda. tapi saya punya pengalaman ‘berkesan’ dengan hal tersebut.

[2] proses memperbaiki tulisan (meliputi perubahan pemilihan kata, peletakan tanda baca, dan sejenisnya) tanpa mengubah isi dari tulisan yang ada. saya rasa sih seharusnya anda sudah tahu =).

[3] dosen Kalkulus I dan II, juga dosen Prinsip-Prinsip Sistem Informasi memberikan pendapat yang senada. terdengar juga bahwa dosen-dosen penguji seringkali mengeluhkan mutu tulisan dalam laporan Kerja Praktek atau laporan Tugas Akhir, namun hal ini belum dapat dikonfirmasi.

[4] saya juga masih belum bisa melepaskan diri dari penyakit ini, kadang-kadang. sedang berusaha untuk sembuh, sih.

[5] pendek? beberapa rekan csui04 mungkin akan agak kurang setuju =)

___

opini dan pengalaman pribadi. tidak ditujukan untuk menyindir apalagi mendiskreditkan satu atau lain pihak. *halahalah bahasanya =P*

silakan comment kalau ada tanggapan =)

6 Comments