pilkada

saya membayangkan, pada suatu saat di Jakarta.

politik menjadi basi, dan pilkada kekurangan peminat. calon-calon pemimpin yang tetap bernyanyi idealisme, dan masyarakat yang semakin tidak peduli. partai-partai politik menjadi mesin dagang dukungan, dan koalisi terasa hambar di antara masyarakat acuh tak acuh.

dan apa-apa yang ada di antara para ‘elite’ adalah apa-apa yang tak tersentuh oleh mereka yang disebut ‘rakyat’: koalisi dan pertukaran politik, perputaran uang kampanye dan mungkin sedikit korup di masa depan yang belum jelas. entah jutaan atau milyar rupiah ditumpahkan oleh para calon pemimpin — yang hebat, yang teladan… mungkin.

dan kemudian demokrasi menjadi basi. partai politik kehilangan makna, dan ongkos kampanye dibicarakan tanpa malu-malu. jual beli dukungan mungkin dilaksanakan, dan manuver-manuver dilakukan. idealisme mungkin mati, namun toh masih laku menjadi hiasan bibir yang membawa pesimisme; iklan politik yang mungkin akan berakhir sebagai ‘pelintiran media’ atau terlupakan kemudian.

saya membayangkan, pada suatu saat di Jakarta.

‘rakyat’ bukan lagi buruh atau petani miskin yang mudah dieksploitasi entah oleh para mahasiswa idealis (lengkap dengan pekik ‘hidup rakyat Indonesia!’) atau entah para elite partai-partai politik dengan berbagai ‘isme-isme’ yang seolah terasa semakin asing.

dan sekali lagi, mungkin kita akan dibuat bingung akan siapa ‘rakyat’ yang sebenarnya dimaksudkan oleh para kandidat: mungkin kader-kader partai politik dan koalisi pendukungnya. mungkin pengikut alim ulama yang dengan rela hati memberikan fatwa tentang calon ini atau itu. mungkin juga mereka yang disebut sebagai ‘tertindas’ dan dengan demikian menjadikan kesempatan bagi para kandidat untuk menjadi hero.

saya membayangkan, ‘rakyat’ kemudian adalah mereka yang membaca koran dan majalah, serta menonton berita di televisi. dan mungkin mereka yang kecewa dengan keadaan: mungkin oleh partai politik yang seolah kehilangan integritas, dan calon-calon produk politik dagang sapi. ‘rakyat’ yang dulu ‘lugu dan mudah diperalat’ mungkin kini berubah menjadi ‘sedikit pintar’ dan sedikit muak; partai politik adalah mesin dagang, calon-calon adalah penguasa modal dengan jumlah dana kampanye yang terasa semakin absurd.

mungkin, dan dengan demikian demokrasi menjadi tidak laku. partai politik menjadi mesin tanpa kepercayaan, dan pilkada dimenangkan oleh ‘abstain’. apatisme muncul, entah sebagai bentuk ketidakpedulian atau kekecewaan. dan kemudian jutaan atau milyaran rupiah mungkin akan tersia-sia atas nama ‘demokrasi’.

dan kemudian demokrasi berada dalam keadaan gawat: masyarakat tak peduli, suara mayoritas adalah ‘abstain’, dan partai politik tidak lagi laku. kalkulasi rupiah dan balas jasa politik mungkin berantakan, dan idealisme ditinggal mati. parlemen daerah mungkin dikutuk-kutuk, dan pemerintahan minus legitimasi harus berjalan.

mungkin, dan ongkos politik masih harus dibayarkan, lengkap dengan kalkulasinya: untuk partai politik, untuk anggota koalisi, untuk perwakilan parlemen… dalam rupiah, entah jutaan atau milyaran, dalam proses sebuah pesta demokrasi kecil-kecilan.

dan seterusnya, mungkin satu periode kemudian.

::

toh saya tahu bahwa bayangan itu musykil. politik akan selalu menarik bagi mereka yang menjalaninya; entah ambisi, kekuasaan, atau sekadar kalkulasi rupiah-rupiah dengan jumlah nol yang begitu panjang. dibayarkan oleh partai politik, dan dikembalikan oleh pemimpin entah-nanti: mungkin dengan sedikit korup, demi balas budi politik.

tapi entah kenapa, saya selalu tertarik membayangkannya. saat-saat demokrasi menjadi tidak laku, di antara masyarakat yang entah bosan atau kecewa dengan tarik-ulur rupiah dalam pemilihan yang terasa tak jauh beda dengan dagang sapi.

di Jakarta, mungkin. entah kapan.

3 Comments