one student revolution

PERHATIAN:

tulisan ini tidak untuk dimaknai apa-adanya. ketidakmampuan pikiran dalam memahami tulisan ini di luar tanggung jawab penulis. silakan menjernihkan pikiran sebelum membaca dan berkomentar.

anda sudah diperingatkan.

___

I. Interlude

konon katanya, kuliah di tempat saya ini[1] tidak terlalu baik untuk kesehatan mental. mungkin terkesan berlebihan sih, terserahlah. kalau tidak kuat mental, (katanya) mahasiswa di tempat saya mungkin saja akan mengalami stres sampai depresi ringan.

…apalah. tapi untuk bisa bertahan hidup di dunia yang kejam, kita harus bersikap kejam juga, bukan?

II. Prolog

ini adalah kampus di mana tugas-tugas yang ada bisa menjadi bagian dari hal-hal yang menyebalkan. laporan dan sesi lab, serta proyek dari mata kuliah yang ada. agak menyebalkan, kadang-kadang. empat sampai lima deadline bisa muncul dalam waktu satu minggu, sementara proyek-proyek kuliah bisa (dan sempat) membuat saya jarang pulang ke tempat kos.

ya, ya, beberapa rekan yang sudah ‘melewati’ tempat ini sebelum saya mungkin akan mengatakan bahwa ‘itu hal yang biasa’. mungkin saja demikian, dan saya saja yang terlalu melebih-lebihkan. tapi yang jelas sih paragraf di atas itu pengalaman pribadi saya.

dengan keadaan saya sekarang, saya cukup bersyukur bahwa saya memiliki mental yang cukup kuat (parameternya? saya tidak sampai terkena stres apalagi depresi :mrgreen: ), walaupun kadang-kadang saya merasakan keinginan yang kuat untuk misuh-misuh terhadap kampus 25 juta rupiah ini[2].

kalau boleh saya mengatakan, saya cukup senang bahwa saya sempat tinggal di kampus ini sebagai mahasiswa… kecuali bagian mengenai tugas-tugas, proyek, serta laporan-laporan yang kadang bikin sepet.

III. Di Bawah Bendera Revolusi

ahem. mari sekarang kita masuk ke bagian seriusnya. saat ini, saya mempertimbangkan bahwa para mahasiswa perlu memiliki posisi tawar yang lebih tinggi agar beban tugas-tugas kuliah bisa dikurangi. tentu saja, sebab keadaan seperti ini tidak baik untuk kesehatan mental para mahasiswa!

tapi bagaimana caranya? mahasiswa jelas kalah berkuasa dibandingkan dosen-dosen, apalagi dekanat sebagai lembaga formalnya. mau diapakan ini? demonstrasi dan aksi unjuk rasa jelas akan jadi konyol sekali.

tanya kenapa? kenapa tanya! bayangkan kalau tiba-tiba dosen-dosen yang mengajar bersikap kompak, dan menyerukan kalimat berikut via loudspeaker kepada mahasiswa yang sedang berdemonstrasi dengan sepenuh hati.

“mahasiswa-mahasiswa yang berunjuk rasa mengenai topik tidak penting ini, harap segera bubar! kalau nama kalian yang ikut demo tidak ada dalam absen pada kelas jam 1 nanti, kalian semua akan dapat D!!

saya berani jamin, sebagian besar mahasiswa akan langsung bubar dengan peringatan tersebut. dan tujuan kita tidak akan tercapai! ๐Ÿ˜†

itu tidak efektif. kita perlu metode yang lebih masuk akal dan tepat sasaran. metode yang bisa meningkatkan posisi tawar kita sebagai mahasiswa, dan tidak terlalu kampungan.

saya mengusulkan, bahwa saat ini kita membutuhkan martir. ya! martir yang akan menjadi pahlawan revolusi kita!

…tapi bagaimana caranya? itu mudah. kita membutuhkan seorang calon martir kita: mahasiswa yang sudah terlalu lelah dengan segala pernak-pernik tugas dan proyek kuliah serta laporan ini. mahasiswa yang juga memiliki esprit de corps yang luar biasa tingginya, yang mudah dimanipulasi demi kepentingan teman-temannya!

nah. kemudian, kita harus mempersuasi calon martir ini, agar ia mau bunuh diri. harus kita yakinkan bahwa kematiannya akan membawa kemaslahatan umat, khususnya para mahasiswa di kampusnya yang tercinta. tambahkan juga bahwa ia akan mati syahid dan bertemu dengan minimal 72 bidadari di surga sana.

…sebentar. kok bunuh diri? yah… karena membunuh orang itu dosa, kan? lagipula kita tidak perlu mengotori tangan kita. jadi, marilah kita hanya memandang dari jauh saja. :mrgreen:

dan akhirnya. pada satu malam. harapan kita terkabul. DOR, kita mendapatkan martir kita. berikan penghormatan tertinggi kepadanya. selanjutnya, gerakan politik akan kita mulai.

IV. Penemuan Kembali Revolusi Kita

selanjutnya, kita akan menggunakan elemen-elemen politik kampus. dengan rasa solidaritas yang mudah dimanfaatkan antara mahasiswa, kita akan melakukan lobi-lobi terhadap pihak-pihak yang berwenang, dengan posisi tawar yang jauh lebih tinggi daripada sebelumnya.

kita manfaatkan juga media. media kampus, dan media luar kampus tentunya. kita blow-up kejadian ini, tapi tidak perlu sampai terlalu heboh. jangan lupa dengan headline yang ‘jujur dan apa-adanya’:

SEORANG MAHASISWA FAKULTAS ILMU KOMPUTER BUNUH DIRI, DEPRESI KARENA KEBANYAKAN TUGAS

hmm. seharusnya cukup dengan judul tersebut. dan beberapa variasinya, tentu saja. dan tidak, kita tidak akan sampai ke televisi. terlalu jauh dan tidak perlu, walaupun mungkin tidak buruk juga.

apa mungkin, kata anda? saya mengatakan, ini mungkin! ya, hal ini bisa dilakukan. kenapa? karena kita punya martir, kamerad! ๐Ÿ˜†

setelah itu, akan ada saat berkabung di kampus โ€” tidak perlu lama-lama, paling setengah atau satu hari. setelah itu, memanfaatkan momentum ini, kita akan melanjutkan lobi. tidak dengan garang tentunya, tapi dengan empati akan kehilangan seorang anak didik dan seorang teman. manfaatkan solidaritas kita dan perasaan mereka seperlunya.

…dan setelah itu. perjuangan kita akan memperoleh hasilnya. demi kebaikan almamater kita tercinta, dan warga-warga di dalamnya. tugas-tugas akan dikurangi, dan tidak perlu lagi ada kejadian seperti yang dialami oleh martir kita. Hidup Mahasiswa!

V. Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah

tapi perjuangan tidak akan selesai. kita tidak akan melupakan semangat dan perjuangan dari kamerad kita, yang telah dengan berani melakukan langkah nyata bagi revolusi kita. untuk itu, mari kita kepalkan tangan, kita sebutkan namanya…

…dan kita teriakkan: “Hidup Mahasiswa!!” “Hidup Perjuangan Kita!!” ๐Ÿ˜†

dengan teriakan yang membahana, yang membuat musuh-musuh perjuangan kita takut! karena kita yang benar! kita adalah pejuang-pejuang amanat penderitaan rakyat!

dan kita tidak akan melupakan sejarah kita, yang telah memakan korban yang akan selalu kita kenang. kenang, kenanglah martir kita. jadikan itu bagian kekuatan politik kita, bahan bakar untuk perjuangan kita!

VI. Epilog

ya, sebuah rencana, telah tersusun dengan matang. tapi, hanya saja. ada satu masalah yang menjadi batu sandungan kita sehingga revolusi ini tidak (akan?) pernah terjadi di kampus kita tercinta.

…ya. sangat disayangkan, tidak ada yang bersedia menjadi martir kita. itu saja kok masalahnya.

___

footnote:

[1] Fakultas Ilmu Komputer di sebuah Perguruan Tinggi Negeri yang berlokasi di daerah Depok. saya nggak sebut merek deh di sini. :mrgreen:

[2] normalnya, untuk menjadi mahasiswa di kampus saya anda akan dikenai biaya uang pangkal sejumlah tersebut. ada proses untuk keringanan kok, jadi jangan takut masuk ke kampus ini. lebih baik takutnya setelah diterima saja. :mrgreen:

90% trust

ketika kamu memutuskan untuk menikah, kepercayaan itu penting. jangan menaruh ketidakpercayaan terlalu banyak terhadap pasanganmu, apalagi menunjukkannya terang-terangan.

saya sih diberitahu seperti itu. mungkin benar sih, tapi bukan โ€”belumโ€” urusan saya amat. saya belum memasukkan ‘menikah’ dalam rencana jangka panjang saya, kok. :mrgreen:

…yah, tapi kepikiran juga soal ‘percaya pada pasangan’ ini, sih. anggap saja ini tulisan hasil pikiran iseng sambil lalu.

::

pada suatu ketika, ibu saya menceritakan mengenai salah satu obrolannya dengan ayah saya di awal pernikahan mereka, dulu. diceritakan ulang kepada saya dua puluh satu tahun kemudian, tapi intinya kira-kira seperti ini.

“pokoknya, aku percaya sama kamu lho,” kata ibu saya. “…tapi 90% aja, ya.”

ayah saya (katanya) agak kaget dan bingung.

“lho, kok cuma 90%? kenapa nggak 100%?”

“laah, udah bagus, kan? kalau di sekolah, 90 itu nilai yang bagus, lho…”

“…”

“…”

“iya sih…”

saya tidak tahu kelanjutannya seperti apa. tapi yang jelas sih, sebenarnya ada alasan lain kenapa ibu saya mengatakan seperti itu… namun agak disayangkan bahwa alasan ini tidak pernah bisa benar-benar tersampaikan kepada ayah saya[1].

…ahh, sudahlah. urusan romantika orang tua itu! :mrgreen:

::

intinya sih, kira-kira begini. sedekat apapun kita kepada orang lain โ€” dalam kasus ini, mari kita batasi pada pasangan saja โ€” hal tersebut tidak berarti bahwa kita benar-benar bisa menduga dan membaca setiap gerak pasangan kita. dengan kata lain, kita cuma percaya bahwa dia tidak akan begini atau dia tidak akan begitu.

got the point? jadi selalu ada kemungkinan, sekecil apapun, bahwa hal-hal yang tidak diinginkan mungkin akan terjadi.

nah. sekarang mari kita mengasumsikan bahwa hal terburuk terjadi. pasangan anda selingkuh, misalnya. sial. padahal anda sudah mempercayai dengan segenap hati anda. anda sudah memberikan kepercayaan sepenuhnya, tapi kenapa anda malah dikhianati seperti ini?

…itu salah anda. tanya kenapa? kenapa tanya!

kalau kita sudah memutuskan untuk percaya, maka kita juga harus siap dikhianati. itu kan hal yang wajar? seperti halnya kalau kita memutuskan untuk melakukan sesuatu, kita juga harus siap untuk gagal.

nah. kembali ke masalah, soal ‘percaya 100%’ ini.

percaya atau tidak, salah satu hal yang bisa membuat saya merasa bahwa ‘darah saya mendidih’ adalah bahwa beberapa (banyak?) cewek yang baik-dan-percaya-dan-pengertian mendapatkan suami yang cukup brengsek. anehnya, mereka memutuskan untuk percaya terlalu lama kepada sang-suami-brengsek…

…dan akhirnya mengalami sakit hati yang amat sangat, tentu saja.

kepercayaan terhadap pasangan itu perlu. katanya sih, jadi jangan mengkonfrontasi saya dengan hal ini… walaupun saya juga tidak bisa tidak setuju, sih. masalahnya, seberapa banyak?

…jangan tanya saya. tapi saya jadi teringat, seorang kenalan saya โ€”cewekโ€” pernah mengatakan dengan jelas bahwa ‘cewek itu pada dasarnya senang ditipu’[2]… tapi entahlah, saya tidak punya dasar atau bukti untuk menyanggah atau mendukung pernyataan ini.

::

kembali ke cerita di awal tadi. hmm… ayah saya mungkin tidak akan pernah mengetahui alasannya, tapi tidak demikian halnya dengan saya, kan?

“lah, terus kenapa juga ibu bilang begitu?”

“begini… coba, kalau aku bilang aku percaya 100% sama ayahmu. kalau dia macem-macem, aku pasti bakal percaya sama dia, kan?”

“ya iyalah, katanya kan 100%…”

“lho, terus kalau aku tiba-tiba tahu dari tetangga, misalnya, apa nggak ampun-ampun sakit hatinya?”

saya masih menunggu lanjutannya.

“tapi kalau 90%, aku masih bisa percaya banyak sama ayahmu. tapi aku juga punya alarm, kalau misalnya dia kayaknya mulai nggak bener atau gimana,” katanya.

“haha. tapi bagusnya kan dia nggak pernah selingkuh tuh,” saya menjawab asal. memang benar begitu kok kenyataannya.

“iya sih, bagus begitu. tapi aku nggak pernah ngomong soal alasannya sih sama dia…”

…agak disayangkan, sih. tapi kayaknya tidak akan banyak bedanya untuk ayah saya, tuh.[3] ๐Ÿ˜‰

tapi entah ya. kalau saya sih, saya akan agak senang kalau pasangan saya ngomong seperti itu. menurut saya, itu seperti sebuah pengingat bahwa saya tidak bisa semaunya, dan bahwa sebenarnya kedudukan kami sejajar. juga pengingat bahwa sebenarnya saya tidak lebih di atas atau lebih di bawah daripada pasangan saya [4], dan ia juga berhak untuk menyisakan sedikit ketidakpercayaannya terhadap saya.

…yah, saya sih tidak masalah dengan sedikit ketidakpercayaan dari pasangan saya… asal nggak kebanyakan aja, sih. lho, memangnya dia itu barang milik saya? :mrgreen:

___

[1] karena suatu hal, ayah saya mungkin tidak akan pernah mengetahui hal tersebut. meskipun demikian, 90% tersebut dijaga dengan sangat baik oleh beliau. penasaran juga, sih.

[2] omongan ini keluar dari mulut seorang kenalan saya yang (self-proclaimedly :mrgreen: ) telah mengalami asam garam kehidupan cinta dan komitmen.

[3] konon, ayah saya dengan cepat ‘terbiasa’ dengan istrinya yang kadang-kadang ‘nggak nurut’ dan punya prinsip sendiri. entah kenapa, ke-‘terbiasa’-an tersebut kayaknya menurun ke saya :mrgreen:

[4] dalam banyak kasus, saya lebih suka memandang hal tersebut seperti demikian. entahlah, mungkin beberapa rekan punya pendapat lain soal ini?

code geass: lelouch of the rebellion

pertama kali mendengar tentang serial ini dan melihat beberapa preview-nya, saya sempat agak skeptis. kolaborasi antara SUNRISE dengan CLAMP ini memang terdengar menjanjikan, tapi nanti dulu.

belakangan, well… skeptisisme saya ternyata tidak terbukti. yah, tapi ada beberapa catatan, sih.

mulai running pada Oktober 2006 dan berakhir pada Juli 2007, Code Geass: Hangyaku no Lelouch (aka: Code Geass: Lelouch of The Rebellion) adalah serial dengan genre action dan mecha sebagai elemen utamanya. ditambah dengan intrik-intrik politik dan strategi pada masa perang, serial ini berhasil dengan baik dalam menghasilkan sebuah tontonan yang menghibur.

bscap0000.jpg

2010 ATB. Kerajaan Britania Raya sebagai satu-satunya negara adidaya dunia menyatakan perang terhadap Jepang. penggunaan teknologi perang yang jauh lebih maju mengakibatkan kekalahan pada pihak Jepang, menjadikannya daerah taklukan di bawah Britania Raya: daerah Jepang kemudian dikenal sebagai Area 11, dengan penduduknya disebut sebagai Elevens.

pada saat yang sama, Lelouch vie Britannia adalah seorang pangeran dari kerajaan Britania Raya yang meninggalkan istana setelah peristiwa pembunuhan terhadap ibunya, Ratu Marianne. meninggalkan tanah Britania, ia tinggal di Jepang bersama adiknya, Nunnally dan sahabatnya, Kururugi Suzaku pada masa penaklukan Area 11.

kebenciannya terhadap kerajaan Britania Raya semakin memuncak ketika menyaksikan penaklukan Area 11; ia kemudian bersumpah kepada Suzaku bahwa ia akan menghancurkan kerajaan Britania Raya pada pertemuan terakhir mereka.

2017 ATB. Area 11 telah menjadi bagian dari Britania Raya, namun masih dengan gerakan-gerakan pemberontakan yang kerap terjadi. menggunakan nama Lelouch Lamperouge, Lelouch menyamarkan identitasnya sebagai pangeran dan menjalani kehidupan sebagai pelajar di Ashford Academy.

terperangkap secara tidak sengaja dalam pencurian senjata rahasia milik militer Britannia Raya, ia kemudian mendapatkan kesempatan untuk membalaskan dendamnya…

…ketika ia mendapatkan Geass: sebuah kekuatan yang dapat memaksakan kepatuhan absolut kepada siapapun yang dikehendakinya.

bscap0004.jpg

sebenarnya, storyline dalam serial ini dapat dikatakan cukup kompleks. intrik-intrik politik, strategi perang, dan konflik-konflik pribadi menjadi bagian tak terpisahkan dari serial ini. intrik-intrik politik menjadi salah satu bagian utama dari serial ini: dari pertentangan para jenderal Britania Raya sampai konflik antar faksi pemberontak di Area 11.

secara umum, konflik-konflik yang ada memang dieksplorasi dengan cukup baik… dan didukung dengan tema dan storyline yang pada dasarnya cukup kompleks, serial ini berhasil dengan cukup baik dalam hal tersebut.

sayangnya, dari segi pengembangan cerita, serial ini agak kedodoran di beberapa bagian โ€” khususnya di paruh pertama serial. pengembangan beberapa side-story menampilkan keterkaitan yang sebenarnya tidak terlalu signifikan dengan jalan cerita utama dari serial ini, dan bisa dikatakan agak kurang perlu. agak disayangkan, tapi bagusnya hal ini tidak sampai jatuh menjadi fatal.

…tapi sesungguhnya, kekuatan utama serial ini adalah pada plot-twisting yang dilakukan. mengecualikan beberapa bagian di awal cerita dan side-story yang dari beberapa aspek terasa kurang signifikan, serial ini tampil luar biasa dari segi plot-twisting. intensitas cerita dipertahankan dengan baik terutama sejak bagian awal-tengah sampai akhir serial, lengkap dengan perkembangan cerita yang nyaris tidak terduga.

…bagaimana tidak terduganya, silakan nonton sendiri. subjektif mungkin, tapi tidak banyak film yang bisa membuat saya terbengong-bengong dengan alur cerita yang tidak terduga seperti ini.

overall, dari segi cerita serial ini tampil sangat baik. ada beberapa catatan, tapi secara umum bagian ini layak dipuji dari serial ini.

bscap0003.jpg

desain karakter untuk serial ini dilakukan oleh CLAMP, jadi anda yang familiar dengan karya-karya dari CLAMP seharusnya tidak terlalu asing dengan desain dari karakter-karakter yang muncul pada serial ini. hal ini bisa diperhatikan dari proporsi dan tarikan garis yang ‘berbau’ CLAMP, walaupun proses produksi tidak langsung ditangani oleh CLAMP.

nah. bicara soal desain karakter yang ‘berbau’ CLAMP, dalam serial ini juga bisa ditemukan karakter-karakter yang ‘berbau’ SUNRISE, khususnya salah satu franchise yang terkenal ini. iyaa, apa lagi kalau bukan Gundam!

anda yang memperhatikan, mungkin akan dengan cepat menemukan bahwa desain dari beberapa karakter mengikuti ‘patron’ dari beberapa karakter dari serial Gundam yang juga diproduksi oleh SUNRISE, khususnya Gundam SEED. tidak percaya? silakan nonton dan perhatikan sendiri. setelah itu, silakan memastikan Karen Stadtfeld itu mirip siapa, Euphemia La Britannia itu mirip siapa, dan Kururugi Suzaku itu mirip siapa. :mrgreen:

OK, bicara tentang desain karakter, serial ini tampil lumayan dengan beberapa catatan tadi. tapi sayangnya, serial ini justru kurang berhasil di bagian eksplorasi karakter. terlalu banyak karakter yang ada, terlalu banyak konflik yang dikembangkan, dan jadi banyak karakter yang tidak kebagian tempat.

Shirley Fenette, Millia Ashford, dan beberapa karakter lain yang seharusnya bisa lebih dieksplorasi jadi terasa agak dangkal. karakter Karen Stadtfeld terasa lebih menjadi sekadar tempelan dari tengah sampai akhir cerita, demikian juga karakter sekelas Toudou Kyoushirou seolah jadi tersia-sia.

oh well, mungkin ini dampak dari terlalu banyaknya karakter yang dimunculkan dalam serial ini, masing-masing dengan signifikansinya terhadap alur cerita. bisa dipahami bahwa dengan pengembangan karakter yang cukup baik untuk karakter-karakter utama, karakter yang lain jadi seolah terpinggirkan.

bscap0002.jpg

nah. sekarang soal musik. secara umum, OST yang dibawakan dalam serial ini terdiri atas beberapa nomor: 3 OP dan 3 ED. banyak? memang. tambahkan juga insert song yang ditampilkan dalam beberapa episode. tampaknya ini memang ‘kebiasaan’ dari SUNRISE sih, kalau memperhatikan karya-karya terakhir mereka.

di bagian OP, secara berturut-turut ada COLORS yang dibawakan oleh FLOW, Kaidoku Funou dari Jinn, dan Hitomi no Tsubasa dari Access. COLORS tampil dengan gaya pop yang relatif easy listening dan cukup memorable, sementara Kaidoku Funou dengan gaya yang lebih rockish, tapi toh cukup enak didengar. Hitomi no Tsubasa lebih ke arah alternatif, dan seharusnya bisa menjadi OST yang juga memorable, sayangnya hanya sempat mengisi dua episode terakhir.

di bagian ED, ada Yukyou Seishunka dari Ali Project, lalu Mosaic Kakera dari SunSet Swish, dan terakhir Innocent Days dari Hitomi. Yukyou Seishunka cukup memorable, tapi sepertinya bukan selera semua orang, sih. Mosaic Kakera lebih easy listening, tapi tidak terlalu memorable. Innocent Days, entah kenapa, terasa agak ‘terlalu biasa’… yah, tapi mungkin ini relatif, sih.

yah, salah kekuatan lain dari serial ini memang pada musiknya yang di atas rata-rata. OST yang ditampilkan lumayan enak didengar dan bisa dikatakan memorable. meskipun demikian, dari sisi scores serial ini tidak terlalu istimewa. tidak jelek sih, hanya saja scores yang ditampilkan memang belum sampai pada taraf ‘luar biasa’. lagi-lagi, ini subjektif, sih.

bscap0005.jpg

untuk anda penggemar anime dengan genre action dan mecha, lengkap dengan intrik-intrik yang ‘tidak sekedar lewat’, serial ini highly recommended. dengan jalan cerita dan plot-twisting yang relatif ‘berat’, serial ini tampil luar biasa. ada beberapa catatan sih, tapi hal tersebut tidak mengurangi nilai tambah dari serial ini.

hal lain yang perlu dipertimbangkan juga adalah bahwa serial ini bukan untuk anak-anak. jalan cerita yang relatif ‘berat’, ditambah dengan adegan-adegan kekerasan, strong language, dan gore cukup banyak ditampilkan dalam serial ini, sehubungan dengan target pemirsa dengan segmentasi umur remaja-dewasa.

yah, tapi kalau ada satu hal yang perlu ‘disayangkan’ dari serial ini, adalah bahwa serial ini bukan merupakan satu kesatuan cerita yang utuh… alias, sebenarnya cerita dalam serial ini belum selesai sampai episode terakhir dari season pertamanya.

…tentu saja, ini berarti akan ada season keduanya. dan sepertinya sih, season keduanya juga tidak boleh dilewatkan, kalau begini. :mrgreen:

cinderella yang menuntut

apa yang membuat Cinderella terkenal?

jawabannya bisa banyak. pertama, karena ia (akhirnya) menjadi tuan putri. kedua, karena ia baik hati. ketiga, karena ia tabah. keempat, karena ia suka menolong. dan seterusnya, dan seterusnya.

…ya, memang begitu, kan? lalu kenapa? :mrgreen:

ahem. begini, begini. saya bukannya anti dengan dongeng-dongeng klasik mengenai para tuan putri. sejujurnya, ada banyak hal dari cerita para tuan putri ini: kebaikan hati, ketabahan, dan hal-hal mulia sejenis itu.

yaah, dunia tidak seindah itu, sih. tapi untuk anak-anak, ini hal yang cukup bagus. dan mengena, serta sederhana.

tapi, ada satu pertanyaan: apa sih yang dilakukan oleh Cinderella untuk mengubah nasibnya sendiri?

::

kalau dipikir-pikir, sebenarnya dongeng-dongeng klasik mengenai para tuan putri ini hampir selalu berawal dari suatu titik yang sama: mereka (katanya) cantik, mereka (katanya) baik, dan mereka (katanya) menderita.

contohnya? ada beberapa, sih. tapi untuk gampangnya, mari kita pakai Cinderella saja. ada juga yang lain sih, misalnya Snow White atau Sleeping Beauty. terserahlah.

nah. jadi, Cinderella adalah seorang cewek yang (kebetulan dengan sialnya) tinggal bersama keluarga angkat yang galak dan tidak menyenangkan. disuruh kerja berat, kurang makan, dan nggak boleh pergi ke pesta untuk cari pacar. duh.

iya sih, akhirnya dia menikah dengan pangeran. tapi itu nanti dulu.

tapi, apa yang dilakukan Cinderella? dia cuma secara kebetulan ketemu Ibu Peri, lalu secara kebetulan ketemu Pangeran di pesta, dan secara kebetulan kejatuhan cinta Pangeran.

jadi? semuanya kebetulan. tidak ada campur tangan maupun sikap mental dari Cinderella sendiri untuk mengubah nasibnya. demikian juga dalam kisah tuan putri yang lain: Sleeping Beauty dan Snow White hanya menunggu sang pangeran tampan datang untuk kemudian hidup bahagia selamanya.

secara umum, para tuan putri ini tidak berdiri dan menyatakan sikap. mereka hanya menunggu keberuntungan datang dan mengubah nasib. dalam cerita, Cinderella hanya menunggu nasibnya berubah, bukan menuntut nasibnya berubah.

sekarang, saya jadi tertarik membayangkan versi lain dari kisah Cinderella.

::

saya membayangkan, Cinderella adalah seorang cewek yang cerdas dan sedikit-galak, dan dengan demikian tidak menjadi tokoh yang tertindas banget-banget. oh, oke, mari kita buat keluarganya tetap galak, demi kelangsungan kisah Cinderella kita.

Cinderella tidak lagi diam dan menurut disuruh-suruh kakak-kakaknya (yang katanya galak itu), dan menjadi tokoh yang agak penggerutu serta sedikit pendendam. Setelah melakukan acara balas-dendam yang sedikit manis, akhirnya dia kabur dari rumah.

anggap saja dia kemudian bekerja di toko roti, dan berhasil menghidupi dirinya sendiri โ€” serta membeli beberapa pakaian yang cukup bagus. tentu saja, setelah beberapa tahun, dia juga punya tabungan. namanya juga orang kerja, kan?

akhirnya, undangan dari istana datang, bahwa Pangeran akan mengadakan pesta dansa untuk mencari calon istri. karena tidak ada yang melarang, Cinderella pun pergi ke pesta. btw, di sini nggak ada Ibu Peri, yah. :mrgreen:

oke, lanjut ke pada pesta dansa. Pangeran mengajak Cinderella mengobrol sampai larut malam, dan terpesona dengan kepribadian Cinderella yang cerdas dan tidak sekadar cantik. obrolan berlanjut sampai tengah malam, ketika lonceng jam akhirnya berbunyi.

nah. mari kita buang Cinderella yang lari ketakutan karena mantra Ibu Peri habis. di bagian ini, ia mengatakan kepada Pangeran bahwa ia harus pulang, karena harus bekerja keesokan paginya. oke, akhirnya Cinderella pulang ke rumahnya.

…tunggu. bagaimana dengan insiden sepatu kaca? tidak bagus kalau dibuang, mari kita buat saja bahwa sepatu kaca itu rusak dan Pangeran mengatakan akan memperbaikinya. oh, oke, akhirnya Cinderella pun pulang.

*apa, memperbaiki? halah, ini alasan saja buat pangeran biar bisa ketemu lagi!*

yep, yep. akhirnya Pangeran bertemu lagi dengan Cinderella, dan hubungan mereka akhirnya berlanjut. mereka tidak hidup bahagia selamanya sih, karena adakalanya mereka terlibat couple quarrel… tapi secara umum, hubungan Pangeran dengan tuan putri yang cerdas masih berjalan dengan lancar.

…nah. kalau anda masih membaca sampai sini, ini akhir ceritanya. THE END. ๐Ÿ˜€

::

…aneh? biarin. yang jelas sih saya nggak terlalu suka cerita aslinya. suka-suka saya saja, kan? :mrgreen:

.htaccess dan 406

beberapa hari terakhir ini, saya mencoba melakukan modifikasi terhadap beberapa option yang ada di engine WordPress yang digunakan oleh website ini. namanya juga iseng-iseng bongkar, kalau nggak rusak nggak belajar, kan? ๐Ÿ˜›

nah, salah satu ‘korban’ keisengan saya kali ini adalah feature permanent link yang disediakan oleh WordPress sejak saya melakukan upgrade engine beberapa waktu yang lalu[1]. yah, detailnya ada di salah satu entry di sini.

kalau anda memperhatikan, sebelumnya post yang saya tulis selalu menggunakan permanent link yang ‘tidak bersahabat’: hanya menggunakan ID dari post yang saya tulis sebagai parameternya, dengan angka-angka yang cenderung membingungkan. yah, begitulah pokoknya.

gampangnya begini. ini alamat untuk salah satu entry yang saya tulis beberapa waktu yang lalu.

http://yud1.csui04.net/?p=193

sekarang, jadi bisa seperti ini. tadinya sih nggak bisa, karena kustomisasi di engine lama tidak memungkinkan struktur seperti harapan saya[2]. whatever, pokoknya akhirnya bisa.

http://yud1.csui04.net/2007/08/26/back-on-the-rocks-at-last/

yang dilakukan oleh engine baru (dan tidak dilakukan engine lama) ini adalah menambahkan kemampuan untuk modifikasi file .htaccess[3] yang ada di server tempat engine ini di-deploy. cut the crap, akhirnya permanent link dari entry-entry yang ada di sini sekarang menggunakan bentuk yang (harusnya) lebih enak dipandang.

::

…sialnya, timbul masalah. setelah saya menggunakan bentuk permanent link yang baru, saya tidak bisa lagi menulis post di sini. saya bahkan tidak bisa menuliskan comment untuk melakukan comment-reply. aneh, pokoknya.

anehnya lagi, tiba-tiba saya menyadari hal yang tak kalah ‘absurd’: saya tidak bisa memasukkan pesan dengan metode POST[4], kalau saya memasukkan tag HTML dalam tulisan saya. setiap kali meng-klik ‘Submit’, saya hanya menemukan pesan berikut:

Error 406: Not Acceptable

aneh, padahal biasanya tidak ada masalah. file-nya masih ada, sebab kalau tidak seharusnya error 404: File Not Found. hal ini membingungkan, tapi dapat dipastikan bahwa gejala ini timbul setelah saya menambahkan file .htaccess berikut modifikasinya ke server.

selidik punya selidik (baca: main-main ke support WordPress.org, search di Google), akhirnya ditemukan kemungkinan bahwa hal tersebut disebabkan oleh security policy dari pihak penyedia hosting csui04.net. solusinya, coba modifikasi file .htaccess di server.

OK, mari kita coba. katanya sih, tambahkan code ini di .htaccess:

<ifmodule mod_security.c>
SecFilterInheritance Off
</ifmodule>

save .htaccess, lalu… voila. halaman error 406 tidak lagi muncul, dan saya bisa kembali menuliskan entry maupun comment dengan tag HTML.

OK, bagus. akhirnya masalah selesai.

…tapi anehnya, kenapa error 406 tadi cuma muncul kalau saya memasukkan tag HTML, yah?

___

[1] feature untuk kustomisasi permanent link ini sudah ada sejak lama. hanya saja, engine versi lama tidak bisa menyediakan kustomisasi seperti yang saya inginkan. saya baru bisa meng-kustomisasi sesuai keinginan sejak menggunakan WordPress 2.2.

[2] di engine lama, permanent link dengan struktur paling mendekati adalah

[alamat]/index.php/[tahun]/[bulan]/[tanggal]/[nama-post].

menurut saya ini nggak asyik, kelihatan bohongnya ๐Ÿ˜›

[3] file ini berada di server, digunakan untuk mengatur penanganan request sebuah halaman. bisa digunakan untuk berbagai keperluan, tapi saya sendiri jarang berhubungan dengan benda ini.

[4] salah satu metode untuk mengolah input pengguna dari sebuah form HTML. contoh sederhananya, misalnya untuk comment di blog atau membuat entry baru.

nilai pendidikan

“nilai pendidikan itu, ya apa yang tertinggal setelah anda menyelesaikan pendidikan. kalau setelah kuliah ini selesai, anda mendapatkan nilai, lalu anda melupakan semuanya, ya berarti nilai pendidikannya tidak ada bagi anda.”

___

kutipan di atas adalah ungkapan seorang dosen yang pernah mengajar saya dalam salah satu mata kuliah dulu. tidak persis amat sih, mengingat sudah cukup lama sejak saat itu, dan saya sendiri sudah agak lupa redaksinya. yah, tapi intinya kira-kira seperti itu.

…dan sebuah pertanyaan: sebenarnya, kita menjalani pendidikan (baca: sekolah dan kuliah) itu ngapain sih?

kalau mau pragmatis sih, jawabannya gampang. tentu saja, supaya kita bisa hidup! kalau kita sekolah, lalu kuliah, lalu lulus dan bekerja, maka kita bisa hidup enak. lulus kuliah (apalagi dengan nilai bagus :mrgreen: ) lebih bisa menjamin bahwa kita bisa mendapatkan pekerjaan yang layak.

jadi, kita menjalani pendidikan hanya untuk bekerja. persetan dengan segala nilai A, B, C, D, atau E yang mungkin akan kita dapatkan, pokoknya kita harus kuliah supaya bisa mendapatkan pekerjaan yang enak.

wow. pragmatis sekali. tapi kenyataannya, sepertinya cukup banyak yang berpikir seperti itu. :mrgreen:

hmm. dan saya bertanya-tanya: apa iya, serendah itukah harga pendidikan? sebatas menjadi pabrik sarjana untuk menyumbang sumber daya dan tenaga ahli untuk industri?

…entah kenapa, saya tidak bersedia setuju dengan hal tersebut.

apa yang kita dapat dari pendidikan, kalau seperti itu? kalau dari sisi mahasiswa Computer Science, mungkin sebagai berikut: skill untuk programming dan database, mungkin. project management, mungkin. software engineering, mungkin. dan sebagainya, mungkin saja.

dan selain itu? banyak yang hilang. Matematika Diskret dan Kalkulus mungkin tidak terpakai. Kriptografi dan Pemrosesan Teks mungkin dipakai sedikit saja. Analisis Numerik dan Pengolahan Citra sangat jarang dipakai kecuali dalam bidang kerja yang tidak terlalu umum.

kalau sudah begitu, berapa besarnya nilai pendidikan yang kita jalani? bukan karena sistem pendidikannya kurang sempurna (walaupun bukan berarti ini tidak terjadi), tapi karena hampir tidak ada yang tertinggal setelah kita menyelesaikan pendidikan.

kenapa? karena setelah kuliah selesai dan kita mendapatkan nilai, mungkin sebagian (cukup besar) dari kita melupakan apa-apa yang kita dapatkan. yang diingat dan agak terlatih, mungkin sebatas hal-hal praktis dan seringkali dibutuhkan โ€” terutama, dalam dunia kerja.

jadi, sebenarnya pendidikan itu untuk apa, sih?

mungkin, bagi sebagian (besar) orang, sebatas jembatan untuk melangkah ke dunia kerja, untuk kemudian menjalani pekerjaan yang layak, dan seterusnya.

…salah? tidak. memang kenyataannya seperti itu, kok.

mungkin, dengan demikian pendidikan hanyalah sebatas ‘tempat numpang lewat’ sebelum mendapatkan ijazah, dan kemudian menjadi ‘pabrik sarjana’; produksi massal dalam jumlah besar, untuk kemudian ditampung oleh industri.

…tapi entah kenapa, saya tidak bersedia setuju dengan hal tersebut.

dasar cowok…

ini cerita beberapa waktu yang lalu, sih. penting-nggak-penting, dan lumrah terjadi dalam kehidupan dan pergaulan saya โ€” setidaknya, yang saya amati.

ini berhubungan dengan fenomena di mana ‘cowok-cowok ternyata senang sekali membicarakan cewek’. apalagi, kalau cewek ini, menurut mereka, cantik. halah. terserah saja sih, yang jelas saya nggak ikutan.

saya sedang nongkrong bersama beberapa orang rekan โ€” yang kebetulan, semuanya cowok. halah, jelaslah! topik ini biasanya muncul hanya kalau semua peserta ‘konferensi’ adalah cowok.

“menurut lo, di angkatan X[1], yang cakep siapa?” seseorang memulai pembicaraan.

tentu saja, maksudnya cewek. apa lagi yang bisa dibicarakan cowok soal ‘makhluk cakep’? yang jelas sih mereka tidak mungkin membicarakan cowok ganteng atau model dengan perut six-pack :mrgreen:

beberapa langsung memberi jawaban. kemudian obrolan lanjut terus… yah, terserahlah. bagian ini saya nggak ikutan deh.

saya menguap. bakal lama, nih.

ah, begini, begini. saya bukanlah seorang cowok yang senang membicarakan seorang cewek, apalagi hanya karena seorang cewek itu cantik. menurut saya, itu hal yang tidak-terlalu-penting untuk dipikirkan, apalagi dibicarakan.

bukannya salah, sih. itu kan hal yang wajar? mungkin lebih tepat bahwa itu ‘bukan termasuk hal-hal yang menjadi interest saya untuk menjadi bahan pembicaraan’. yah, begitulah kira-kira.

hmm. entah ya, jangan-jangan saya ini cowok yang agak ‘kurang normal’. entah kenapa, saya tidak terlalu tertarik untuk membicarakan makhluk berjenis ‘cewek’ yang berada di sekitar saya. mana saya tahu? menurut saya sih, kalau ada cewek cantik, ya biarkan saja. nggak diomongin juga, kalau memang cantik ya cantik saja. iya kan?

itu masih normal. kalau cowok-cowok ini lagi ‘kumat’ atau ‘keluar sakitnya’, topiknya bakal lebih aneh lagi. percaya deh, anda kaum hawa tidak ingin mendengar pembicaraan mereka. apalagi, kalau anda yang sedang dibicarakan. percayalah, anda tidak ingin tahu.

…entah, ya. saya sendiri tidak pernah ingin berlama-lama nongkrong dalam pembicaraan seperti itu[2]. bukan kenapa-kenapa, saya memang tidak tertarik, sih. mau diapain lagi? kalau sudah begitu sih paling saya cuma bisa mendengarkan saja.

menurut saya, cewek itu kalau cantik ya cantik saja. ada banyak hal yang membuat seorang cewek kelihatan cantik. maksud saya, hal yang meliputi sikap, kepribadian, kecerdasan, dan sebagainya. tapi tetap saja, topik ini bukan komoditi yang akan dengan mudah jadi bahan pembicaraan untuk saya.

mungkin, (mungkin lho ๐Ÿ˜› ) sebagian hal tersebut adalah karena saya sendiri tidak punya ketertarikan terhadap hal tersebut. dalam konteks membina hubungan dengan seorang cewek, maksudnya.

jujur deh, sebenarnya saya ini tidak tertarik untuk berhubungan secara serius dengan seorang cewek, sampai saat ini. entah dalam konteks ‘pacaran’ (atau ‘taaruf’, atau sebutan yang lain ๐Ÿ˜› ), tunangan (ini kan lazim juga yah), atau ‘pernikahan’, tapi yang jelas untuk saat ini saya tidak tertarik. entah nanti, yah. siapa yang tahu? :mrgreen:

…aneh? mungkin. bodo amat ah, suka-suka saya saja, kan?

kali ini, kesempatan lain lagi. saya sedang nongkrong dan menikmati suasana ketika beberapa ‘rekan seperngobrolan’ di sebelah saya memulai topik tersebut.

“eh, siapa tuh itu cewek? lumayan manis tuh…”

“tauk, nggak pernah lihat. anak mana ya? bukan anak sini, tuh.”

[bla-bla-bla]

saya hanya memandang sambil geleng-geleng.

“kenapa, yud? ” ๐Ÿ˜€

saya nyengir.

“duuh, dasar cowok.” saya ‘mengumpat’ dengan cengiran sepenuh-hati. :mrgreen:

*siiiinggg*

“…yud1, lo nggak homo, kan?”

…aaargh.

oh, well… setidaknya (untuk topik tersebut) saya masih menjadi pendengar yang baik saja, sampai saat ini. setidaknya, ada hal-hal yang saya pelajari; sesuatu tidak pernah sia-sia, bukan? :mrgreen:

___

[1] classified by author. nggak penting juga, sebenarnya :mrgreen:

[2] beneran. saya tidak suka membicarakan orang lain, apalagi cewek yang (katanya) cantik.