fitr

hari-hari ini, saya kembali melihat apa-apa yang datang dan kembali dari setiap tahun yang ada; televisi yang sibuk, pemudik yang menumpuk dan lalu-lalang, serta keriuhan akan ‘kemenangan’ yang datang bagi mereka yang memaknainya.

sesuatu yang berulang, setiap tahun, tapi toh tak kunjung terasa hampa dan usang; kebahagiaan kultural-spiritual, tapi toh tetap pada saatnya yang menyenangkan bahwa ia ‘ada, dan karena itu kita mensyukurinya’. sebuah perayaan untuk ‘mereka yang menang’ dan ‘kembali ke fitrah’, dan dengan demikian ampunan dan maaf terbuka lebar, dan apa-apa yang ‘dosa’ dan ‘kotor’ dilepaskan dari diri yang daif dan serba kekurangan.

…mungkin, tidak selalu demikian adanya.

toh kita melihat juga, apa-apa yang fitri tidak selalu berarti terlepas dari apa-apa yang ‘kotor’ dan ‘dosa’; kita (mau atau tidak mau) terpaksa maklum bahwa tak jauh sebelumnya di terminal calo-calo tiket kadang saling pukul, atau pemudik-pemudik dirampok, atau mereka yang lain yang diperas di pelabuhan. entah, dan mungkin juga yang lain-lain — yang tidak terharapkan, tapi sekaligus juga tidak terlepaskan.

tapi apa-apa yang bersih timbul dari ketidakpuasan akan yang kotor, dan apa-apa yang putih terlihat ketika ada yang ‘tidak putih’. dengan demikian yang ‘kotor’ dan ‘dosa’ bisa dengan mudah kita pisahkan dan kita buang; apa yang ‘bersih’ tidak bisa berdiri sendiri, dan yang ‘kotor’ adalah apa yang harus dinistakan; apa yang hilang pada saatnya ‘hari kemenangan’, dan entah niscaya kembalinya.

fitrah adalah asal: apa yang diajarkan kepada kita adalah bahwa dalam diri setiap kita adalah apa-apa yang baik dan bersih. apa-apa yang tidak dan belum tercemar, dan apa-apa yang tidak tersentuh oleh yang kotor. apa-apa yang tidak korup, tidak licik, dan tidak jahat; dan dengan demikian begitulah kita seharusnya.

toh kita maklum bahwa di hadapan yang daif dan lemah, apa yang fitrah bisa dengan mudah menjadi apa yang tercemar: mungkin dalam politik buruk rupa atau permusuhan diam-diam atau proyek sekian rupiah, kita menemukan bahwa yang fitrah tidak lagi fitrah — dengan atau tanpa persetujuan, dan kita terpaksa maklum.

kita juga maklum bahwa di hadapan yang daif dan lemah, apa yang terlihat ‘kembali fitrah’ bukan musykil untuk menjadi sekadar topeng, dan apa yang terlihat sebagai ‘kemenangan’ hanya menjadi fasade. di dunia yang mungkin tidak pernah sempurna dan tidak sesuai kehendak kita, kita mungkin bertanya-tanya: adakah ‘fitrah’ adalah keniscayaan, ataukah ia adalah sebuah pilihan yang berat?

hari-hari ini, beberapa dari kita mungkin menyambutnya dengan sukacita; kemenangan atas nafsu, dan kembalinya apa-apa yang fitrah dari diri mereka yang memaknainya. kembali dengan ampunan dan maaf, serta uluran tangan dan persahabatan, serta apapun yang terharapkan dari sebuah hari kemenangan yang fitri.

terasa indah dan kadang sedikit ironi, tapi itulah kita: yang daif dan serba kekurangan, yang bimbang dan banyak kesalahan, tapi toh kita masih mengharapkan untuk kembali ke fitrah — yang menyayangi, yang menghormati, dan yang memaafkan.

___

selamat Idul Fitri bagi yang merayakan. semoga kita bisa sama-sama menjadi manusia yang lebih baik selepas Idul Fitri kali ini.

teriring juga permohonan maaf dari saya untuk para pembaca, khususnya apabila terdapat tulisan atau kata-kata yang mungkin kurang berkenan dari tulisan-tulisan saya di sini. 😉

4 Comments