anak kucing di hari raya

tiba-tiba, anak kucing itu muncul di dekat rumah kami. umurnya mungkin baru beberapa hari, dan ia tampaknya agak sakit. mungkin juga kelaparan sih, tapi entahlah. kelihatannya lemas, dan sepertinya ia ditinggalkan oleh induknya — atau dibuang orang, aku juga tidak terlalu paham.

adik perempuanku yang pertama kali memperhatikannya. katanya, anak kucing itu kelihatannya kasihan. badannya kurus, dan sepertinya ia kelaparan. sempat kulihat anak kucing itu menggeletak saja di depan rumah, tampaknya tidak bisa bergerak. kukira, ia mungkin lemas karena lama kelaparan. setahuku gigi anak kucing biasanya belum cukup kuat, dan umumnya anak kucing belum bisa berburu sendiri.

sepulang kunjungan ke tempat kerabat pada hari raya, adikku kembali memikirkan kucing itu. dalam perjalanan, ia sempat mengatakan mengenai memberikan sedikit makanan pada anak kucing tersebut. susu mungkin, katanya. kami tidak memiliki hewan peliharaan, jadi tidak punya makanan khusus untuk itu di rumah.

aku menanyakan sejak kapan anak kucing itu terlihat di dekat rumah. dijawabnya, sejak malam menjelang hari raya. waktu itu ia masih bisa berlarian di sekitar rumah, namun tidak terlihat lincah seperti anak kucing umumnya. belakangan, tampaknya kondisinya memburuk: ia tidak lagi terlihat berjalan-jalan atau berlarian, seringnya hanya duduk atau menggeletak di pinggir jalan depan rumah.

akhirnya, adikku memutuskan untuk memberikan sedikit susu kepada anak kucing itu. aku juga tidak tahu apakah baik untuk anak kucing sekecil itu, tapi kurasa kami tidak punya banyak pilihan lain. rendang atau daging yang pedas sepertinya bukan pilihan, tapi aku tidak tahu terlalu banyak soal itu.

malam itu, aku ikut melihat anak kucing itu. adikku memberikannya susu cair yang diambilnya dari lemari. anak kucing itu meminumnya sedikit-sedikit, sebelum ia tampaknya kembali tidur. susunya masih tersisa, tapi adikku mengatakan bahwa mungkin ia akan meminumnya lagi nanti. kami meninggalkannya beberapa menit kemudian.

::

aku sedang membaca majalah di kamar beberapa menit setelahnya, ketika tiba-tiba adikku mengatakan sesuatu mengenai anak kucing itu. katanya, ia kuatir kalau anak kucing itu seperti itu di luar saja. mengingat menjelang shalat Id tadi paginya sempat hujan, mungkin saja malam ini akan hujan lagi.

aku mengatakan bahwa kami tadi meletakkannya di bawah pohon yang cukup rindang di depan rumah, jadi seharusnya tidak apa-apa.

adikku sepertinya masih memikirkan soal anak kucing itu untuk beberapa lama, sebelum akhirnya ia berdiri dan berjalan ke belakang rumah. ia menanyakan kepada seorang adik ibuku yang tinggal di rumah, apakah kami memiliki kain bekas atau apalah untuk selimut anak kucing itu. tak berapa lama kemudian, ia tampak sedang memotong-motong bekas kain mukena lama milik ibuku. kurasa, ia sedang menentukan ukuran yang pas untuk selimut anak kucing itu.

aku kembali ke kamar, dan mendengar pintu depan dibuka dan ditutup, sebelum akhirnya adikku kembali ke kamar. ia mengatakan bahwa anak kucing itu sudah mau minum susu kembali, dan adikku tampak cukup senang.

kutanyakan mengenai selimut untuk anak kucing itu, dan dijawabnya bahwa ia sudah memberikannya. katanya, ia berharap bahwa anak kucing itu tidak kedinginan, apalagi kalau-kalau sampai hujan. aku hanya angkat bahu. kuharap juga anak kucing itu akan baik-baik saja, tapi aku juga tidak cukup yakin seberapa baik kondisi anak kucing itu.

::

keesokan harinya, aku mendengar bahwa anak kucing itu mati pada pagi harinya. adik ibuku yang menceritakannya padaku, agak siang menjelang tengah hari. kupikir, mungkin memang sudah waktunya. tidak banyak juga yang bisa kami lakukan, dan mungkin memang kondisi anak kucing tersebut memang sudah tidak memungkinkan sejak awal.

adikku tidak tampak sedih atau bagaimana, tapi aku sendiri juga tidak tahu bagaimana ia ketika mendengar berita mengenai anak kucing tersebut. entahlah, kurasa aku juga tidak terlalu ingin membicarakannya dengan adikku itu.

malamnya, iseng-iseng kutanyakan apakah ia merasa sedih akan anak kucing yang malang tersebut. ia hanya menjawab dengan ‘tauk ah’ singkat, dengan sikap yang biasa-biasa saja. kurasa begitulah akhirnya, tapi mungkin aku tidak benar-benar paham juga soal itu.

tapi kupikir-pikir, mungkin sebenarnya aku juga berharap agar anak kucing itu setidaknya bisa bertahan hidup lebih lama. tapi mungkin juga hal tersebut terjadi karena memang sudah waktunya, dan tidak benar-benar banyak yang bisa kami lakukan.

soal itu, aku juga tidak tahu, sih. agak sayang juga sebenarnya, tapi untuk saat ini kurasa memang seperti itulah adanya.

9 Comments