seleb, lalu…

orang Indonesia, mudah terpaku kepada seleb. dan segala sesuatu terkait seleb. dan segala sesuatu terkait sesuatu milik seleb. dan segala sesuatu terkait sesuatu mirip seleb.

bingung? jangan tanya saya. pokoknya, orang Indonesia gampang tertarik soal seleb.

ada seleb mau menikah, orang heboh. ada seleb ikut lomba menyanyi, ratingnya tinggi. ada seleb punya ibu, bisa jadi tontonan berjam-jam. ada seleb joget-joget, jadi acara satu slot. ada seleb punya anak, masih pula disuruh menyanyi dan masuk TV. bingung saya.

::

sekali waktu, saya nongkrong di depan TV. biasanya saya hanya memasang stasiun TV yang mengutamakan segmen berita sebagai sajian utamanya dengan anchor yang berbeda kelas dari cewek pecicilan atau gadis penderita di sinetron milik TV sebelah tentunya, tapi tidak kali itu.

kenapa, tanya anda? haha, pertanyaan apa itu?! tentu saja karena remote control-nya sudah dikuasai penghuni rumah yang lain, pembaca. 😆

maka saya pun duduk.

di dekat saya, ada televisi.[1]

SHARP.

channel-nya dipindahkan.

klik.

selanjutnya, neraka.

ada lomba seleb bernyanyi, dengan suara pas-pasan. tidak semua sih, ada juga yang di bawah pas-pasan. ada komentatornya, ngomong soal busana dan gaya. ada serombongan juri, tidak jelas siapa. ada omong-omongan ringan tanpa-mikir, kalau mau mendengarkan. ada juga ibu-ibu dengan gaya bermacam rupa.

demi Tuhan, kenapa seleb-seleb ini? bahkan saya kenal pun tidak dengan mereka, tapi kenapa mereka sampai jadi korban eksploitasi media? dan saya terpaksa mendengarkan mereka menyanyi. dan saya terpaksa mendengarkan mereka menyanyi. dan saya terpaksa mendengarkan mereka menyanyi.

sungguh, ini siksaan untuk saya.

saya terjebak. tidak ada jalan keluar. semua orang menonton dengan seksama. dan saya terkepung.

::

iya, iya. tentu saja, orang Indonesia adalah orang-orang yang ketergantungan seleb, dan media massa Indonesia adalah media yang (hampir semuanya) ketergantungan seleb. selebritas itu komoditi! mana ada orang yang mau mendengarkan soal hasil primary di New Hampshire atau Nevada, atau sekadar analisis mengenai kenaikan harga kedelai dan terigu?

gak musim, tahu. itu gak keren. lebih penting juga masalah Ahmad Dhani yang katanya mau cerai atau Luna Maya yang belum juga punya pacar, betuul? 😆

hebat. sungguh hebat dampak selebritas ini. sekarang saya berpikir, bahwa seandainya ada seorang seleb-whatsoever menulis sebuah blog sambil mengekspos identitasnya, tentu akan laku bak kacang goreng. apa, mutu tulisan? siapa peduli, pokoknya seleb![2]

::

sekarang, saya jadi penasaran. benarkah bahwa selebritas ini adalah kebutuhan manusia Indonesia?

jangan-jangan, iya! bayangkan, kalau misalnya anda dengan rela menyalakan TV dan menonton seleb joget-joget di satu stasiun TV, lalu kemudian menonton seleb menyanyi-dengan-ibu di stasiun TV tetangga, maka anda tentu bisa mengatakan bahwa anda (kemungkinan) memiliki kebutuhan khusus mengenai selebritas.

lebih jauh lagi, kalau anda mengikuti pemberitaan mengenai para seleb pada acara infotainment, anda mungkin bisa melihat bahwa banyak penonton yang berkomentar mengenai siapa naksir siapa atau seleb yang menjelang cerai. ini, tentu menunjukkan bahwa orang Indonesia memiliki kebutuhan khusus terkait selebritas!

mungkin memang, ini merupakan salah satu kebutuhan manusia. bahkan manusia mungkin tidak bisa hidup tanpa selebriti. dan jangan-jangan, saya juga demikian.

saya bangun pagi dan memanggang roti untuk sarapan, dan di TV ada acara infotainment. saya makan siang dan melongok ke arah TV, tiba-tiba ada acara dansa ala seleb. dan ketika saya makan malam, mendadak ada seleb menyanyi-dengan-ibu di TV.

saya bisa bilang apa? coba, kalau saya begitu antipati dengan acara sejenis itu, maka saya tidak akan bisa makan di depan TV! ini berbahaya, sebab pada taraf yang ekstrem saya bisa pusing dan batuk-batuk dari hidung, mulut, dan bahkan telinga ketika berhadapan dengan acara seleb-all-the way macam itu!

ah, maaf. saya ralat. tidak sampai separah itu, kok. paling parah, saya cuma pusing dan batuk-batuk dari hidung dan mulut saja. tidak lebih, pembaca.

::

jadi, kalau begitu. kenapa juga orang Indonesia begitu terpaku oleh selebritas?

wacana aktualisasi diri? mungkin. manusia memang senang mikir yang gampang-gampang, kok. lupakan hal yang susah-susah, melihat dan ngomongin seleb saja cukup kok.

wujud keadaan manusia yang kurang kerjaan? bisa juga. daripada coding atau baca paper atau mengerjakan tugas akhir, lebih seru nonton infotainment, bukan?

bentuk kekurangan konsep diri sebagai individu? mungkin juga. dengan demikian sesosok ‘seleb’ menjadi suatu pelampiasan untuk mengatasi konsep diri yang tidak cukup tinggi, tampaknya bisa diperhitungkan.

…ya, ya, hidup pop-culture deh. ngapain juga sih mikir yang susah-susah? daripada begitu, mendingan kita bikin tim investigasi[3] khusus buat menyelidiki Rossa atau Ahmad Dhani!

___

[1] terinspirasi dari puisi-bukan-puisi milik Kopral Geddoe. :mrgreen:

[2] ada nggak ya? kalau ada sih, paling isi komentarnya gak jauh-jauh dari sekadar pengen kenalan atau jual mutu. 🙄

[3] sebuah program dengan hebatnya menyertakan embel-embel ‘investigasi’ demi menyelidiki kemungkinan pasangan seleb yang mau cerai… ampun, deh.

8 Comments