emansipasi yang salah arah?

“anak laki-laki itu, jangan sering-sering ke dapur. nanti bisa jadi kemayu, lho.”

___

dulu sekali, seorang kerabat yang waktu itu jauh lebih senior (dibandingkan saya yang tingginya baru sedikit lewat dari satu meter itu) pernah mengatakan hal tersebut kepada saya. agak lupa detailnya sih, tapi kira-kira begitulah.

dan berhubung waktu itu saya adalah anak kecil yang baik…

…saya tidak pernah mempercayai kata-kata tersebut, pembaca. :mrgreen:

::

sejak dulu, saya tidak pernah benar-benar suka menerima pembatasan peran berdasarkan stereotipe yang terkenal itu: laki-laki bekerja mencari nafkah, perempuan di rumah mengurusi rumah tangga. stereotipe yang, entah kenapa, diperparah oleh material pelajaran yang saya terima di sekolah bahwa ‘ayah membaca koran dan ibu memasak di dapur’. dan entah kenapa, sepertinya masih laku saja sampai sekarang, pembaca.

tentu saja, pada saat itu ada juga yang namanya ’emansipasi wanita’ dan ‘feminisme’ yang menjadi counterbalance dari stereotipe tersebut… dan dengan demikian, saya cukup senang bahwa saya tidak perlu sampai berlama-lama ‘terjebak’ dalam cara pandang seperti itu.

nah. emansipasi. ini dia kata kuncinya.

::

belakangan, saya jadi tertarik memikirkan soal si makhluk ’emansipasi’ ini. atau secara lebih spesifik, ’emansipasi wanita’ (dan untuk selanjutnya disebut sebagai ’emansipasi’ saja, capek nulisnya). dan tiba-tiba, saya jadi kepikiran bahwa konsep ’emansipasi’ ini sendiri mulai salah arah. kacau, pembaca.

tenang dulu, pembaca. silakan membaca kembali dari awal kalau anda tiba-tiba merasa ingin menuduh bahwa saya tidak peduli akan hak-hak wanita. sungguh, bukan begitu maksudnya!

jadi, sekarang ini dalam banyak hal perempuan sudah mendapatkan kesempatan yang (hampir) setara dengan laki-laki di banyak bidang. dari profesi seperti guru dan dokter sampai menteri dan presiden. dan lebih banyak lagi para perempuan tangguh yang menjalankan peran ganda: menjadi wanita karir di kantor sekaligus menjadi istri mengurus rumah tangga. dan ini hal yang hebat. sangat hebat, kalau menurut saya.

tapi, ada sesuatu yang menarik perhatian di antara fenomena yang lazim ini, tak lain dan tak bukan adalah sebuah pertanyaan sederhana:

kalau emansipasi berarti bahwa perempuan bisa masuk ke sebagian wilayah yang dulunya hanya dihuni oleh laki-laki, bukankah seharusnya laki-laki juga bisa masuk ke sebagian wilayah yang dulunya hanya dihuni oleh perempuan?

hmm. apa iya?

sekarang, saya jadi kepikiran bahwa masalah emansipasi ini mulai salah arah. kita bisa melihat banyak perempuan berprestasi di banyak bidang (sambil tetap menjalankan tugas mengelola rumah tangga), tapi berapa banyak kita bisa melihat laki-laki yang memiliki kecakapan untuk melakukan hal-hal kerumahtanggaan (sambil tetap menjalankan tugas mencari nafkah)?

dan sayangnya, tampaknya tidak cukup banyak yang bisa seperti itu. perlu tanya kenapa? :mrgreen:

::

ketika masih kecil dulu, banyak dari kita dicekoki tumbuh dengan sudut pandang mengenai ‘dikotomi tugas dan kewajiban’ yang sebagian sebagai berikut:

laki-laki: mengemudi, bertukang, bekerja di luar, …

perempuan: memasak, menjahit, mengurus anak, …

tentu saja, belakangan (baca: kemudian sampai sekarang) para perempuan juga mulai mengambil alih bagian tugas laki-laki. anak perempuan yang bisa mengemudi dianggap mandiri, dan kemampuan berkarir diberi nilai tinggi untuk dimiliki seorang perempuan.

tapi, anak laki-laki yang bisa memasak dan menjahit? anda tentu tahu, bahwa anak seperti ini biasanya dianggap ‘kurang cowok’ dan sejenisnya. dan apa yang terjadi, anda tahu sendiri. skill ‘memasak’ dan ‘menjahit’ dianggap sebagai ‘culun’ untuk dimiliki oleh anak laki-laki.

dampak emansipasi yang sama sekali tidak bisa dibilang buruk bagi perempuan, namun malah berujung pada terbatasnya kapabilitas yang dimiliki laki-laki. dan akhirnya, ini malah tidak adil bagi para perempuan tangguh itu: mereka bisa sepadan soal karir dengan laki-laki, tapi soal rumah tangga hampir seluruhnya dipegang perempuan.

salah arah? tampaknya begitu. tapi ironisnya, masalah bukan berada di sisi perempuan sebagaimana keadaan pra-emansipasi, namun pada mindset kolot yang tertanam di pihak sebagian (besar?) laki-laki!

::

oke, sekarang mari kita tinggalkan soal emansipasi dari sisi wanita yang akhirnya melahirkan para perempuan hebat itu. dari sini, mari kita memandangnya dari sisi laki-laki berikut hal terkait konteks tersebut.

sekarang, ini yang fatal: para perempuan itu tiba-tiba menikah dan harus menjalani teamwork dengan laki-laki yang kapabilitasnya diragukan soal urusan rumah tangga! (ya karena tidak pernah dilatih itu, duh) jadi, di sini kita memiliki perempuan yang bisa berkarir dan mampu mengurus rumah tangga, dan seorang laki-laki yang hanya bisa berkarir dan tidak bisa mengurus rumah tangga…

…dan mungkin sebagai tambahannya, masih pula minta dilayani oleh sang istri. apa itu bukan tidak adil namanya? 👿

::

kalau kita mencoba memandangnya dari konteks skill, memangnya apa sih yang salah dengan seorang laki-laki yang bisa mengurus rumah tangga — menjahit, misalnya? adakah yang salah dengan seorang laki-laki yang bisa mencuci piring dan menyapu dan mengepel rumah? dan adakah yang salah dengan seorang laki-laki yang bisa memasak untuk makanannya sendiri?

menurut saya, itu hal yang bagus — terlepas dari keberadaan para perempuan yang ‘diberi kewajiban’ soal hal tersebut. saya sendiri memandangnya sebagai skill set yang berguna… misalnya, kalau saya hidup di apartemen sendiri, masa saya harus membayar orang untuk membersihkan apartemen atau pergi ke laundry (yang cukup mahal itu) untuk mencuci pakaian sehari-hari? sungguh tidak efisien.

atau kalau misalnya tiba-tiba kancing baju saya lepas, apa perlu saya pergi ke tempat penjahit cuma untuk memasang kancing? demi Tuhan, itu salah satu hal paling tidak efisien yang bisa saya bayangkan. dan kalau saya bisa memasak, setidaknya saya bisa memakan sesuatu yang lebih enak daripada sekadar mie instan ketika warung makan sudah tutup semua… kalau ada bahannya, sih.

apa, tidak berguna? ah, itu cuma skill untuk survive secara efisien, pembaca.

::

tapi, entahlah. saya sendiri lebih suka memandang teamwork tersebut secara fleksibel. kalau para perempuan bisa (dan mau) bekerja dan men-support apa-apa yang biasanya menjadi tanggung jawab laki-laki, para laki-laki juga harus bisa dong, men-support apa-apa yang biasanya menjadi tanggung jawab perempuan? itu kan hal yang sederhana saja… dan tentu saja, kurang adil kalau tidak seperti itu!

dan tiba-tiba, saya jadi kepikiran sebuah ide agak liar; bisa nggak ya, kita mengembangkan topik emansipasi laki-laki sebagai counterbalance untuk emansipasi perempuan? saya rasa, dengan demikian para perempuan juga tidak akan merasa dirugikan banget-banget.

tapi, mungkin nggak ya?

soalnya cowok-cowok, mana ada yang mau kayak begitu! :mrgreen:

21 Comments