puasa itu…

memasuki hari-hari terakhir di bulan puasa, saya jadi kepikiran untuk menulis hal yang sebenarnya hampir selalu jadi topik yang selalu terlintas di pikiran setiap tahunnya. terlepas dari recurring nature-nya, mungkin lebih tepat kalau topik ini dianggap sebagai ‘baru sempat ditulis sekarang’… yah, begitulah pokoknya.

jadi begini, pembaca. hal yang ‘mengusik’ pikiran saya adalah, bahwa ternyata puasa di bulan Ramadhan di Indonesia itu terlalu mudah. nggak ada tantangannya. dengan kata lain, suasana di Indonesia (atau setidaknya di sekitar saya) menurut saya terlalu ‘dibuat kondusif’ untuk berpuasa. kenapa begitu, ini ada ceritanya sendiri, pembaca.

sejujurnya, kadang saya agak bingung dengan sudut pandang (yang sepertinya cukup populer) yang ‘mengharuskan’ rekan-rekan yang tidak berpuasa untuk ‘menghormati’ orang-orang yang berpuasa. rumah-rumah makan dipasangi tirai. jam beroperasi tempat-tempat hiburan dibatasi. rekan-rekan yang tidak berpuasa mungkin merasa perlu ‘berhati-hati’ kalau mau makan di lingkungan warga yang berpuasa… hal ini, terutama karena sebagian dari mereka yang berpuasa mengharapkan mereka yang tidak berpuasa untuk menghormati mereka yang berpuasa.

hal ini jadi membingungkan untuk saya, karena saya sendiri tidak melihat perlunya rekan-rekan yang tidak berpuasa untuk melakukan hal-hal tersebut, apalagi untuk alasan ‘menghormati orang-orang yang berpuasa’ — yang kadang datangnya malah dari mereka yang berpuasa. tentu saja, mungkin ada alasan lain dari pihak yang tidak berpuasa; toleransi dan tenggang rasa, misalnya. di satu sisi, hal ini adalah sesuatu yang bagus; bukankah ini adalah hal yang konstruktif dalam kehidupan bermasyarakat? tentu, tidak ada masalah apabila (dan seharusnya) hal ini adalah murni inisiatif dari pihak yang tidak berpuasa.

tapi, kalau sampai mereka yang berpuasa meminta mereka yang tidak berpuasa untuk menghormati ibadah puasa, rasanya kok ya… absurd. kelihatannya kok seperti anak SD yang hendak ujian matematika, tapi maunya bisa memilih soal mana yang akan dikeluarkan oleh Ibu Guru? :mrgreen:

::

puasa, seharusnya adalah kesempatan untuk melatih dan menahan diri bagi mereka yang melaksanakannya. dan dengan demikian, ‘puasa’ yang sebenarnya adalah puasa yang dilakukan oleh rekan-rekan di tempat-tempat yang mayoritas penduduknya tidak berpuasa; Amerika Serikat, Inggris, Prancis, Australia… tentu saja, bukan di tempat seperti Malaysia atau Saudi Arabia, pembaca. dalam keadaan yang demikian, proses adaptasi justru dilakukan oleh mereka yang berpuasa alih-alih sebaliknya; keadaan ‘normal’ di tempat tersebut adalah masyarakat tidak menjalankan puasa!

tentu saja ‘puasa’ dengan tingkat kesulitan yang sebenarnya, adalah juga puasa yang dilakukan oleh rekan-rekan yang melakukan puasa di luar bulan Ramadhan: puasa Senin-Kamis, puasa Syawal, dan yang lain-lain dalam daftar. ketika saya, misalnya, berpuasa di luar bulan Ramadhan, tentu tantangannya lebih besar; saya harus bisa menolak (dengan sopan tentunya) ajakan untuk makan siang dari rekan-rekan di kampus. saya juga harus bisa menahan diri untuk tidak ikut rehat kopi di sore hari. dan saya juga harus bisa tetap beraktivitas dengan standar aktivitas normal orang-orang lain — walaupun hal ini seharusnya tidak terlalu sulit, sih.

lebih susah? lha iya. tapi bukankah hakikat puasa adalah pengendalian diri? dan dengan demikian, dengan berat hati saya bisa mengatakan, bahwa puasa di bulan Ramadhan di Indonesia nyaris tidak ada tantangannya. jam kerja diperpendek, warung dan rumah makan dibatasi… silakan sebutkan juga yang lain-lain sejenisnya. alasannya ya itu tadi, untuk ‘menghormati mereka yang berpuasa’.

klise? mungkin. absurd? sepertinya. jangan tanya saya, saya sendiri bingung, kok.

::

sekarang, saya jadi kepikiran untuk memformulasikan sebuah paradigma baru (haiyah!) terkait soal puasa dan saling menghormati ini. bagaimana kalau paradigma kita digeser sedikit: seharusnya, kita yang berpuasa menghormati mereka yang tidak berpuasa, bukan sebaliknya!

caranya bagaimana? misalnya begini. ketika ada rekan yang tidak berpuasa, mari kita coba menghormati hak mereka untuk bisa makan di tempat yang normal, dengan cara yang normal, dalam suasana yang normal pula. kenapa begitu, karena mereka berhak atas kehidupan ‘normal’ yang biasanya mereka miliki, bukan?

sambil jalan, mari kita review kembali: bukankah hakikat dari berpuasa seharusnya adalah pengendalian diri bagi yang menjalankannya? menurut saya, buka saja restoran-restoran dan tempat makan itu! biarkan saja tempat-tempat hiburan itu buka di siang hari, dan mari kita persilakan rekan-rekan yang tidak berpuasa untuk makan atau minum di hadapan kita yang sedang berpuasa!

tak perlu pula sebagian dari kita sampai panas karena masih ada tempat-tempat makan yang buka di bulan puasa — adakah kita hanya akan mendapatkan lapar dan dahaga (haiyah, bahasanya! 😛 ), sementara batin kita rusuh dan ngomel-ngomel akan hal yang sebenarnya tidak perlu dan malah akan menghilangkan makna yang sebenarnya dari ibadah puasa?

tentu saja, menurut saya hal itu tidak perlu. lagipula, buat apa sih… puasa itu kan soal pengendalian diri! :mrgreen:

6 Comments