code geass: lelouch of the rebellion r2

memperhatikan perolehan yang diraih oleh pendahulunya, saya sedikit banyak memiliki harapan terhadap serial yang menjadi bagian terakhir dari rangkaian cerita Code Geass ini. walaupun pendahulunya sendiri bukannya tanpa kekurangan, tapi toh pencapaian tersebut tidak bisa diabaikan — penerimaan yang sangat baik di negara asalnya diikuti franchise yang juga merambah manga serta light novel menjadi bagian dari kesuksesan installment pertama serial ini.

formulanya sendiri masih sama: mecha, intrik dan perseteruan politik, perang besar-besaran… dalam konteks cerita yang masih melanjutkan perjalanan selepas akhir cerita pada bagian pertama.

[cgr2-06.jpg]

2018 ATB, satu tahun setelah akhir cerita dari Code Geass: Lelouch of the Rebellion. pada saat ini Jepang masih berada di bawah kolonisasi Britania Raya, dengan nama Area 11. seiring dengan gagalnya pemberontakan oleh Order of the Black Knights pada pertempuran terakhir di Area 11, sisa-sisa anggota dari pemberontakan ini kemudian ditawan sebagai penjahat perang oleh pihak Britania Raya.

sementara itu, Lelouch vi Britannia diceritakan telah kembali ke kehidupan sebagai seorang siswa Ashford Academy di Area 11, dengan nama Lelouch Lamperouge. selama setahun setelah akhir dari pemberontakan, ia tampak tidak memiliki ingatan terhadap pertempuran terakhir di Area 11.

terdapat hal yang aneh bahwa kini Lelouch kehilangan kekuatan Geass dan ingatannya terhadap pemberontakan satu tahun lalu, termasuk peranannya sebagai Zero dari Order of the Black Knights yang memimpin gerakan pembebasan Jepang. keanehan ini terus berlanjut dengan kehadiran Rolo, adik laki-laki dari Lelouch yang seharusnya tidak pernah ada…

[cgr2-01.jpg]

sejak episode pertama, serial ini langsung tancap gas dengan pace yang tinggi: Lelouch yang kehilangan ingatan, kembalinya Zero ke Order of Black Knights, konsolidasi dan konflik dengan Federasi Cina… semua dirangkum dengan intensitas yang terjaga dengan sangat baik dari awal sampai pertengahan serial. sejujurnya, serial ini seolah tak kekurangan bahan bakar dalam membuat twist dan kejutan sepanjang perjalanan cerita yang ditata dengan apik sampai paruh pertama serial.

tapi sayangnya, cacat pertama dari serial ini justru datang di pertengahan serial. pace yang dibangun dengan kecepatan tinggi dan intensitas yang terus terjaga sejak awal cerita tiba-tiba seolah tersia-sia dengan rangkaian peristiwa yang terasa kurang perlu; sangat disayangkan bahwa serial ini ternyata masih belum bisa melepaskan diri dari kekurangan yang dimiliki oleh pendahulunya.

bagusnya, hal ini setidaknya bisa sedikit di-cover oleh eksekusi episode-episode selanjutnya dalam paruh kedua perjalanan cerita. dengan pace dan intensitas yang juga ditangani dengan sama baiknya, serial ini berhasil dengan baik dalam eksekusi storytelling dengan kualitas di atas rata-rata… tapi sayangnya, lagi-lagi eksekusi yang sangat baik ini kembali drop menjelang akhir serial.

mendekati akhir cerita, serial ini seolah kehilangan greget; beberapa twist yang dimunculkan tidak cukup berhasil dalam mengangkat kembali serial ini — twist terakhir di ujung cerita memang cukup mencuri perhatian, namun sayangnya tidak dapat terlalu banyak menolong untuk storytelling yang mulai kehilangan daya pikatnya untuk empat episode terakhir dari serial ini.

 [cgr2-00.jpg]

terlepas dari kekurangan di bagian storyline dan storytelling, serial ini tampil dengan eksekusi visual di atas rata-rata. bukan hal yang tidak terduga juga sih, mengingat proses produksinya ditangani oleh SUNRISE, adegan pertarungan antar mecha berikut efek-efek terkait tampil dengan apik… tapi terkait visual, serial ini juga memiliki catatan tersendiri.

bicara soal visual, berarti terkait secara khusus dengan artwork dan desain karakter. sayangnya, departemen desain karakter untuk serial ini juga tidak tampil maksimal; beberapa karakter seperti Lelouch Lamperouge, Sumeragi Kaguya, dan Schneizel el Britannia memang tampil menonjol dengan desain yang apik… sementara beberapa karakter yang lain tampil dengan outfit yang terasa kurang pada tempatnya.

mungkin terkait pemilihan warna juga sih, tapi bisakah anda membayangkan seorang anggota pasukan elit negara adidaya mengenakan kostum cerah berwarna-warni? Li Xingke yang jadi panglima Federasi Cina didesain dengan kostum yang… aduh, kok serial ini jadi seperti film anak-anak? desain seragam Knights of Round terasa terlalu ‘cerah’ untuk para pilot elit dengan gelar ksatria, dan jangan lupakan pula desain kostum kerajaan Britania Raya yang ‘entah kenapa kok bisa begitu’.

tentu saja, perlu diperhatikan bahwa serial ini tampil sangat baik secara visual, terkait efek dan eksekusi adegan dalam cerita. tapi berhubung konteks visual ini juga terkait artwork, akhirnya jadi drawback tersendiri juga sih untuk bagian ini.

[cgr2-03.jpg]

dari departemen sound, serial ini tampil sangat baik dari segi musical scores. tidak sampai benar-benar istimewa sih, tapi setidaknya cukup di atas rata-rata. efek suara dieksekusi dengan cukup baik, khususnya untuk adegan-adegan pertempuran yang memang cukup berlimpah sepanjang perjalanan serial ini.

OST untuk serial ini terdiri atas empat nomor, dua untuk opening, dan dua lagi untuk ending. opening theme-nya diisi oleh O2 dari Orange Range, sebelum digantikan oleh World End dari Flow. keduanya cukup enak didengar, setidaknya di telinga saya; tapi toh tidak terlalu memorable juga, dan akhirnya jatuhnya lebih ke arah pop dan terkesan mainstream.

di bagian ending theme, ada Shiawase Neiro (jp: tone of happiness) yang kembali dibawakan oleh Orange Range. tampil dengan nuansa mild untuk sebuah lagu bergaya pop, lagu ini sedikit mengingatkan akan Mosaic Kakera dari SunSet Swish di season pertama. memasuki paruh kedua serial, nomor untuk ending theme kemudian diisi oleh Waga Routashi Aku no Hana (jp: my beautiful flower of evil) dari Ali Project yang kembali tampil dengan gaya alternatif yang unik dan cukup khas, menemani ilustrasi dari CLAMP yang tampil di akhir setiap episode.

secara umum, OST yang disajikan untuk serial ini tampil lumayan… tapi toh tidak sampai benar-benar istimewa. saya sendiri masih lebih menyukai set OST yang disajikan di season pertama, tapi mungkin hal ini tergantung selera sih.

[cgr2-02.jpg]

serial ini dieksekusi dengan serius, dan tidak mengherankan bahwa serial ini mampu mendapatkan penerimaan yang sangat baik di negara asalnya. hal ini terkait secara langsung dengan fanbase yang juga telah terbentuk sejak rilis season pertamanya, dan dengan demikian memberikan basis pemirsa yang loyal untuk menyaksikan kelanjutan dari serial ini.

tentu saja, perlu dicatat bahwa serial ini juga tidak sempurna; eksekusi jalan cerita dan storytelling menjadi drawback utama, diikuti oleh desain karakter yang terasa agak kurang pas di beberapa bagian dari serial ini. musical scores di atas rata-rata, sementara OST yang disajikan terasa agak terlalu ‘biasa’ walaupun sama sekali tidak bisa dikatakan buruk.

oh well, but it sells. meskipun demikian, sepertinya serial ini masih belum akan dilupakan untuk waktu yang agak lama juga, sih.

resolusi pasca-lebaran

dipikir-pikir, ternyata sudah hampir satu bulan sejak Hari Raya yang baru lalu. gaungnya sudah mulai berkurang juga sih, dan sebagian besar rekan-rekan (termasuk saya juga) tampak sudah kembali ke ritme kesibukan yang biasa pasca-lebaran. 

bulan puasa, katanya adalah sarana untuk belajar mengendalikan diri. dan kalau katanya orang bijak, hidup itu sia-sia kalau tidak ada perbaikan. tentu saja, hal ini juga sejalan dengan ide yang jadi caption di kartu lebaran kemarin dulu… tapi masalahnya; memangnya apa sih yang akan membedakan saya setelah hari raya kemarin dengan yang sebelumnya, atau malah yang sebelumnya lagi? 

[shiki-ver_11.jpg]

…lha iya. memang bukan cuma ketupat, kok. :mrgreen:

jadi akhirnya saya memutuskan untuk membuat sebuah resolusi pasca-lebaran. bukan hal yang ribet, dan tak perlu pula susah-susah. ini adalah hal yang sederhana saja, walaupun (entah kenapa) tampaknya sering terlupakan dalam perjalanan saya ini… dan mungkin juga dalam perjalanan masing-masing dari kita, walaupun saya kira seharusnya anda yang lebih paham mengenai hal ini.

ya sudahlah. daripada panjang-panjang, mari kita langsung ke poin-poinnya saja, pembaca.

pertama. saya memutuskan bahwa saya akan menjadi seseorang yang bersikap jujur. saya ingin bisa bersikap jujur dan apa adanya; dalam omongan dan perbuatan, dan dalam banyak hal lain. kedengarannya sih gampang, tapi ternyata kok ya susah juga, pembaca. tapi terserahlah, siapa peduli… hei, saya ini orang jujur; tidak ada seorangpun yang berhak memaksa saya untuk bersikap sebaliknya.  

kedua. saya memutuskan untuk menjadi seseorang yang sabar. atau setidaknya, lebih sabar dari sebelumnya. atau setidaknya, lebih sabar dari biasanya. sabar dalam menghadapi keadaan yang tidak mengenakkan. sabar dalam menghadapi manusia yang kadang begini-dan-begitu. karena hakikat dari puasa adalah sabar dan pengendalian diri, maka sia-sia saja kalau saya masih gampang meledakkan emosi untuk hal-hal yang tidak perlu, bukan? 

ketiga. saya memutuskan untuk menjadi seseorang yang bebas dari rasa benci dan iri hati. mungkin saya memang tidak akan bisa bersikap respek apalagi menghormati terhadap beberapa kalangan dari manusia — manusia senang bertengkar, orangtua selingkuh, pegawai negeri korupsi, elite politik oportunis, polisi tukang disuap… daftarnya bisa panjang, tapi setidaknya saya tidak ingin membenci. bukan kenapa-kenapa, lagipula toh saya nggak akan dapat apa-apa dengan hal tersebut, pembaca. :mrgreen:

nah. cukup tiga poin saja, pembaca. tentu saja, saya tidak bisa mengatakan bahwa ‘saya sudah menjadi manusia yang lebih baik selepas puasa yang lalu’, kalau saya masih belum juga bisa memenuhi ketiga hal tersebut dengan lebih baik dari hari-hari sebelumnya.

karena sesungguhnya, perjalanan baru dimulai setelah shalat di Hari Raya. adakah saya akan menjadi manusia yang lebih baik, ataukah perjalanan dan latihan dan apalah-itu selama puasa yang lalu hanya akan menjadi hal yang sia-sia saja untuk saya?

saya sudah memutuskan. tapi hasilnya akan seperti apa, ya masih harus dibuktikan, sih. :mrgreen:

kara no kyoukai #3: remaining sense of pain

akhirnya, baru sekarang saya sempat menulis soal installment ketiga dari rangkaian cerita Kara no Kyoukai ini. dirilis pada Januari 2008 untuk versi layar lebar di negara asalnya, Kara no Kyoukai: Tsuukaku Zanryuu (jp: Boundary of Emptiness: Remaining Sense of Pain) kemudian dirilis dalam format DVD pada Juli 2008.

saya sendiri sudah menonton film ini sejak awal Agustus, namun karena satu dan lain hal baru sekarang saya bisa menuliskan review untuk film ini. dan tentu saja, sebagaimana halnya installment sebelumnya, kali ini pun saya ‘terpaksa’ menonton film ini sampai dua kali sebelum menuliskan review… ya sudahlah, seperti halnya film pertama dan kedua, nggak rugi juga sih nonton film ini sampai dua kali.

[knk3-00.jpg]

Juli, 1998. tiga tahun setelah Kara no Kyoukai: Murder Speculation, satu bulan sebelum Kara no Kyoukai: Overlooking View.

Remaining Sense of Pain diawali oleh cerita kelam dari Asagami Fujino, seorang siswi SMU yang diperkosa oleh sekelompok pemuda berandal di kota. keadaan yang mengenaskan ini telah berlangsung selama beberapa bulan, sampai suatu saat di mana kekuatan misterius dalam diri Fujino tiba-tiba terbangkitkan; dengan kekuatan tersebut, orang-orang yang memperkosa dirinya tiba-tiba terbunuh secara misterius — masing-masing dengan anggota tubuh terpuntir dan terpotong-potong di areal gedung tua di tengah kota.

di lain pihak, Kokutou Mikiya yang bekerja di tempat Aozaki Tohko sedang menyelidiki menghilangnya Minato Keita, seorang adik kelasnya di SMU — yang belakangan diketahui keterlibatannya dalam kasus Asagami Fujino. keadaan yang membingungkan ini diperkeruh dengan kenyataan bahwa tampaknya Ryougi Shiki memiliki hubungan aneh dengan Asagami Fujino, di mana keduanya tampak memiliki naluri untuk saling membunuh terhadap yang lain… 

[knk3-01.jpg]

untuk anda yang sudah menonton film pertama dan kedua dan berpikir bahwa Kara no Kyoukai sudah cukup ‘gelap’, anda mungkin harus memikirkannya kembali setelah menonton Remaining Sense of Pain. bukan apa-apa, soalnya sejauh ini memang film ini yang paling ‘gelap’ dari keseluruhan cerita Kara no Kyoukai. kalau mau dikatakan secara sederhana, ‘sisi gelap’ dari film ini bisa dideskripsikan dengan tiga buah keyword: rape, gore, dan explicit violence.

dan tidak, pembaca. walaupun tema yang jadi plot device dari film ini adalah kekerasan seksual, jangan mengharapkan adegan ala fanservice dalam film ini. yang ada, adegan tersebut digambarkan dengan konteks yang ‘gelap’… dan mungkin bisa mengganggu untuk sebagian pemirsa. jangan lupakan pula konten yang seolah sudah jadi ‘menu tetap’ dari Kara no Kyoukai — darah berceceran atau tangan dan kaki yang tiba-tiba putus serta menggelepar memang jadi bagian dari film ini, jadi anda sudah diperingatkan.

meskipun demikian, hal yang layak disorot dari film ini adalah bahwa film ini bisa menyajikan kombinasi yang seimbang dari aspek thriller dan gore, dan dengan demikian adegan-adegan yang eksplisit dieksekusi dengan pas. bisa dikatakan, adegan-adegan kekerasan sebenarnya tidak sampai ‘banjir’ dalam film ini; tidak terlalu banyak, tapi ya tidak tanggung-tanggung… dan hasilnya adalah ramuan yang pas untuk sebuah film dengan genre thriller yang dipadukan dengan elemen supranatural ini.

[knk3-02.jpg]

film ini masih mempertahankan eksekusi yang meyakinkan dari segi sound; kontribusi Kajiura Yuki dalam pengembangan scores dan OST untuk film ini lebih dari cukup signifikan — mungkin malah bisa dikatakan luar biasa. nomor untuk OST masih diisi oleh Kalafina dengan lagu Kizuato (jp: scar), yang tampil dengan gaya khas yang bisa dikenali sejak kontribusi mereka di film pertama. lagunya sendiri tampil dengan gaya yang lebih ke arah alternatif, dengan interpretasi lirik yang memang dirancang untuk film ini.

eksekusi visual, masih tidak jauh berbeda dari installment sebelumnya. agak berbeda dengan film kedua, adegan-adegan dalam film ini tampak lebih didominasi set malam hari, dengan suasana yang juga cenderung suram. memandang konteks cerita, visualisasi model seperti ini tampil mendukung… walaupun beberapa pemirsa mungkin akan mengatakan sebagai ‘terlalu suram’. terkait hal ini, sebenarnya lebih ke soal selera, sih.

dan bicara soal visual, hal yang tidak boleh ditinggalkan adalah adegan pertempuran yang menjadi klimaks dari film ini. kalau di film pertama ada adegan pertempuran yang dikemas dengan apik di atap Fujyou Building, di film ini ada adegan pertarungan antara Ryougi Shiki dan Asagami Fujino. eksekusi efek seperti slow motion dan ripple dalam pertempuran tampil manis, walaupun tidak sampai benar-benar sejajar dengan eksekusi pada film pertama.

[knk3-03.jpg]

secara pribadi, saya tidak menemukan hal yang bisa benar-benar dikeluhkan untuk film yang menjadi bagian ketiga dari keseluruhan tujuh bagian Kara no Kyoukai ini. ada juga catatan lain sih, misalnya bahwa karakterisasi dari Kokutou Mikiya terasa agak tanggung di beberapa bagian cerita — tapi secara umum, hal ini relatif minor.

tentu saja, film ini bukan untuk semua umur… jadi ada baiknya anda ‘mengamankan’ film ini dari jangkauan adik atau keponakan anda yang masih di bawah umur. perlu juga diperhatikan bahwa beberapa pemirsa mungkin akan menemukan film ini agak ‘terlalu gelap’, dengan adegan-adegan dan disturbing image di beberapa bagian dari film ini.

secara umum, saya memberikan nilai tinggi untuk film ini. memperhatikan hasil yang ada sejauh ini, saya sendiri memiliki ekspektasi tinggi terhadap bagian berikutnya dari adaptasi Kara no Kyoukai… tapi apakah ekspektasi ini akan terpenuhi, hal ini masih harus dibuktikan sampai installment terakhirnya nanti.

hal-hal yang ingin saya lakukan

  1. pergi ke kota yang jauh. sendirian. backpacking. naik kereta. tidur di penginapan tidak-terlalu-mahal. adakah pembaca yang bisa menyarankan kota yang enak untuk dikunjungi? tapi sayangnya, saat ini saya yang belum bisa pergi. duh.
  2. menyelesaikan buku-buku pinjaman yang masih belum sempat dibaca. Goenawan Mohamad. Natsume Souseki. sempat melirik bukunya Tom Clancy di toko buku, tapi apa daya. membaca saja aku sulit.™
  3. main arcade, ke game center. dan menyelesaikan sebuah game dengan menghabiskan di bawah sepuluh ribu rupiah. dulu saya bisa menamatkan Time Crisis dengan tujuh ribu lima ratus rupiah. sekarang? entahlah. mungkin skill saya dengan GunCon sudah menurun. 
  4. menonton anime. dan j-drama. dan menuliskan review. Code Geass R2 masih tersimpan dengan manis di harddisk saya. Clannad After Story sudah mulai running. review Kara no Kyoukai: Remaining Sense of Pain masih menunggu untuk ditulis. kenapa bisa begitu, entahlah.
  5. jalan-jalan. ketemu manusia dan senang-senang. menjauhkan diri dari komputer untuk beberapa lama. tapi pekerjaan yang ada, kok ya selalu berhubungan dengan komputer… kurang baik untuk kesehatan mental, sebenarnya.
  6. utak-atik WordPress. dan Sandbox. buat custom theme. kalaupun masih nggak bisa lepas juga dari programming, setidaknya saya ingin melakukan sesuatu yang agak keren untuk mempercantik ‘rumah’ saya di dunia maya ini. tapi kapan ya? 
  7. menggambar. bikin komik strip. atau vectoring. ide-ide sudah berkeliaran di kepala, tapi eksekusinya tak kunjung sempat. oh Tuhan tolonglah. dan kenapa pula saya jadi teringat lagunya Chrisye?
  8. menulis. ide-ide juga sudah mengantri, tapi posting rate saya di sini sekarang cuma satu kali seminggu — kadang-kadang dua, itu juga sudah bagus. heran, kemana perginya hari-hari yang dulu ya? 

pesan untuk seorang gadis kecil

—untuk seorang gadis kecil berusia lima tahun, dulu dan sekarang.

___

adik kecil yang kusayangi,

aku ingin sekali mengatakan bahwa kadang anak berusia lima tahun adalah salah satu dari sedikit, dan kadang mungkin sebaik-baik dari jenis manusia; yang bisa dengan jujur, bersedia berbagi, dan mau memahami dengan tulus.

yah, mungkin tidak selalu, sih. dan kukira mungkin hal ini tergantung pada banyak hal — mungkin kamu sendiri menemukan bahwa kadang ada beberapa teman sekelasmu yang mencontek, misalnya. tapi kamu adalah diri kamu sendiri, dan kamu tahu bahwa apa-apa yang diajarkan kepadamu adalah sesuatu yang akan menjadi hal yang berharga untuk kamu. mungkin kadang agak menyebalkan, tapi siapa yang peduli? kamu tahu bahwa kamu tidak perlu memikirkan orang lain untuk hal-hal seperti itu.

saat ini, kamu adalah seorang gadis kecil — yang kadang-kadang lebih suka main-main daripada mengerjakan PR, dan lebih senang diajak jalan-jalan daripada belajar kelompok. tidak masalah, yang penting kamu belajar dan PR-mu beres semua. kamu yang saat ini adalah seorang gadis kecil yang baik — kadang-kadang nggak nurut sih, tapi buatku itu juga bukan masalah, kok.

kamu akan menjadi seorang gadis yang cerdas. kamu akan menjadi seorang gadis yang mandiri dan bersahaja. kamu akan menjadi seorang gadis yang tangguh dan menghargai kehidupan. apapun itu, aku berharap bahwa kamu akan bisa menjalani kehidupanmu dengan bahagia dan apa adanya.

tapi, kalau aku boleh berharap, satu hal saja: aku tidak ingin kamu menjadi bagian dari orang-orang yang tertindas.

karena orang-orang yang tertindas bukan hanya orang-orang yang tidak bisa makan dua kali sehari, atau terpaksa hanya makan tahu dan tempe selama seminggu. karena orang-orang yang tertindas, bukan hanya terbatas kepada fakir miskin dan anak-anak telantar yang seharusnya dipelihara oleh negara. karena orang-orang yang tertindas, tidak selalu bisa kita lihat secara kasat mata di sekitar kita.

karena orang-orang yang tertindas adalah juga mereka yang tidak bisa bersikap jujur, serta mereka yang hidup dengan saling mencurigai dan membenci. karena orang-orang yang tertindas, adalah juga mereka yang mencari keuntungan dari kerugian mereka lain. karena orang-orang yang tertindas adalah juga mereka yang gagal menemukan kebahagiaan mereka, dan terjebak dalam sudut pandang yang semu tentang kehidupan.

sekarang ini, kamu hidup dalam dunia kamu sebagai seorang gadis kecil berusia lima tahun. kamu belajar bahwa kejujuran adalah hal yang penting, dan kamu belajar bahwa tenggang rasa dan toleransi adalah bagian penting dari kehidupan. kamu mungkin juga belajar, bahwa prasangka buruk adalah tindakan yang tidak sepatutnya, dan manusia seharusnya hidup dengan saling menghormati dan menghargai.

kamu mungkin saat ini bosan karena hal-hal tersebut sepertinya diulang-ulang terus di kelas, dan ujian PPKn rasanya gampang sekali (aku tahu nilai kamu bagus, jadi tenang saja) — tapi kalau boleh kukatakan, aku tidak ingin kamu melupakan apa-apa yang pernah kamu pelajari tersebut.

kadang manusia hidup dengan saling membenci. kadang-kadang orang dewasa juga bersikap tidak jujur. itu benar, dan bukan cuma ada di siaran TV. hei, aku bukannya nggak membolehkan kamu nonton TV, lho. tapi manusia kadang memang bisa bertingkah ‘ajaib’… kamu mungkin bingung, tapi begitulah keadaannya.

tapi kamu tahu? kebencian dan prasangka buruk tidak memberikan apa-apa untuk manusia. orang yang hidup dengan kebencian dan ketidakjujuran adalah juga orang-orang yang tertindas. dendam dan perselisihan tidak akan memberikan kebahagiaan untuk kamu; kamu tahu peribahasa ‘kalah jadi abu, menang jadi arang’? pada akhirnya, tidak ada yang dapat apa-apa. jangan hidup dengan dendam, karena tidak ada yang bisa kamu peroleh dari hal tersebut — hal-hal seperti itu hanya akan membatasi kamu dari kebahagiaan yang seharusnya kamu miliki.

mungkin kamu agak bingung, tapi kupikir saat ini kamu tidak perlu terlalu memikirkan itu. kamu akan menjadi gadis kecil yang baik, karena kamu bisa dan tidak ada yang berhak memaksa kamu sebaliknya. jangan lupakan apa-apa yang pernah diajarkan kepadamu, karena kamu tahu bahwa itu akan menjadi hal yang berharga untuk kamu.

pada saatnya nanti, kamu akan tumbuh menjadi seorang gadis yang kuat dan cerdas. mungkin kita akan bisa ketemu suatu saat nanti, tapi untukku kamu akan tetap menjadi gadis kecil yang kuingat — yang kadang-kadang nggak nurut, dan lebih suka diajak jalan-jalan daripada mengerjakan PR; tapi toh aku tahu kamu akan baik-baik saja di sekolah, dan tidak ada yang perlu dikuatirkan soal itu.

ya sudahlah, aku juga nggak akan bilang ‘belajar yang rajin’ atau ‘kamu harus dapat ranking satu’ (kamu sih nggak usah diomongin soal itu), tapi aku berharap bahwa kamu akan selalu bisa menjadi diri kamu sendiri — yang jujur, mau berbagi, dan bersedia memahami.

untuk saat ini, kukira pesan ini cukup sampai di sini. maaf kalau kepanjangan, anggap saja ini hadiah khusus buat kamu — mungkin kapan-kapan, kita akan bisa ngobrol soal ini.

salam untuk orangtuamu.

10, 22, and some other stuffs

it’s supposedly holiday. still busy with the occasions and stuffs, but at least not as in the usual workdays — good for a change of pace I think.

this week has been busy — a number of relatives coming and staying in my house, and given the situation we were in charge of taking care of most things. no, exactly. it’s everything. hectic, but a lot of fun. and if you ask me, doing chores and washing dishes for > 10 people are way better things to do than any coding session in any software development project. no need to guess why.

today is October 5th. on which I turned 22. nothing special anyway, but I’d like to thank several people for remembering my birthday and delivering the wishes — through short messaging, Yahoo! Messenger, and Google Talk. really appreciate it. you know who you are.

by the way. few days back imairi gave me a task to do. since she wants to know me better (I’ll take that as a compliment :mrgreen: ) as well as some readers would probably do, I decided to share something for this post.

so the task was to write down 10 items about me. since today is special, I’ll share the assigned task on this post. I guess it would be all right though… ne, Ma~i~?[1] :mrgreen:

and so without further ado — the following are the 10 items requested.

1. free-spirited, independent-minded…

well… self explanatory. I put my own freedom above almost anything else. tend to dislike one-sided, chain-of-command environment; should there be one day I willingly enroll myself to Army or ROTC, it’s probably the last day of planet Earth.

on a side note. I don’t really like hierarchical structure of society. be it five years old child or fifty years old CEO, they are only humans. as I am. ahh, privileges. why are humans so cocky? 😛

2. half-hearted gentleman

I would willingly give my seat to a senior citizen on bus. I don’t part with a girl and leaving her walking home alone at midnight.

but I don’t do ‘oh-my-princess-please-get-on’ door opening ceremony for a girl. I don’t like girls (and women) who blabber about their ‘rights’ to be prioritized on the first place. well but of course, those helpless-but-cocky-and-oh-so-cute girls are men’s target of their gentlemen-like act…

…but not mine.

3. choleric and phlegmatic

as it suggests. even this got myself confused, believe it or not. :mrgreen:

I enjoy my life. I don’t really want high-salary-high-pressure kind of job, and I do things I want to do. I don’t like people ordering me around, but I put a lot of effort to perfection on things I do. I embrace my own ideals while (still) being able to shout ‘what the hell’ to whatever crosses the line. I’m not natural-born leader, but I don’t mind taking it on when necessary.

so I guess I have quite fair share portions of each — whether it’s good or not, who cares.

4. high level of individuality

some friends of mine might notice that I tend not to go with the flow… on almost everything. I don’t like to go in ‘group’ or ‘clique’. I put less care for what other people achieve, and I don’t really look up to what people say as ‘great person’.

well, it’s true that those so-called ‘great person’ may have their own quality that I could learn from, and at times I’d be willingly to. but I have mine as well… and it has nothing to do with them. :mrgreen:

5. (self proclaimedly) high quality single

Karen Kasumi[2] once said her infamous line that ‘good guys are either taken or gay’. I’ve met several types of guys though, and it’s kinda hard to admit that she might be right; truth is that most of the guys I met added up to this conjecture.

well, she is wrong. I’m good, not taken, and not gay. unfortunately, I’ll probably still be single for a long time to go… so interested applicants should probably get prepared to be turned down. :mrgreen:

6. favorite quote: ‘don’t take life too seriously…’

the whole saying goes, ‘don’t take life too seriously; nobody gets out alive anyways’. in which the last part is inarguably true. so I’m a simple person who doesn’t ask much from this world — we are not going to live forever on this superficially-sugarcoated kind of world anyways.

7. classifications: pending

I’m quite religious… to some extent. but I embrace secular perspective… also to some extent. I do fasting on Shawwal month, but I don’t like going to liqa’[3]. I read Al-Ghazali, but somehow think that Nietzsche might have his point. I use open source software, but I’d rather buy a proprietary OS to be installed on my notebook. I’m an established Arsenal fan, but I’ll be glad seeing Liverpool taking the Champions League or Premiership trophy.

secular – religious, FOSS – proprietary, etc, etc… why do people like to classify their kinds into groups? it’s a mystery.

8. (sometimes) brutally honest

I’m an honest person. really. sometimes ‘too honest’ that it’s probably mistaken as ‘rude’ or ‘cynical’. let’s just say that it’s more like ‘straight-forward that it might be interpreted as rude’.

for example. I was talking with an elder(ly) person about some marriage issue; ‘what, are you marrying a woman only to have sex? sure, there would be no problem for getting a replacement after your current wife died…’

well, that sort of things.

9. detesting the way the world works

to the extent that I don’t mind if tomorrow morning an asteroid falls down on earth and wipe away mankind’s population.

what’s so good about this world we live in anyway — people being dishonest, and humans killing each other? humans are such greedy creatures, living in this superficial heaven they create: be it classy cars, huge houses and mansions, and prostitutes being hired as political bargain. what else? corrupt cops, cheating husbands and desperate wives, cocky soldiers acting all high and mighty?

anyway. good thing is that there are still good people living on this world. let’s just call it a day then.

10. earn my respect… if you want to

I respect respectable people. no. wait. it’s confusing. well… let’s just say that I only respect those people who earns my respect for them.

I respect people who are (but not limited to): (1) honest (2) reliable (3) generous (4) hardworking. so if you have any opposite traits from the ones in the list, it’s likely that you are not going to have my respect. :mrgreen:

no, seriously. I’m not the type who solely grant my respect to something like ‘seniority’ or ‘hierarchy’ or ‘cultural values’. if people want to have my respect, they would have to show their quality. the same applies to me — sounds fair, doesn’t it? 😉

___

[1] this phrase originated from the Kanon anime series, used by Sayuri Kurata to address her friend Mai Kawasumi.

[2] originated from the manga series X by CLAMP. this series could be considered classic in present time though.

[3] an Arabic term for one kind of discussion group, usually consisted of a mentor/facilitator and a number of members. ‘focus group discussion’ is probably a closer match for this term.