resolusi pasca-lebaran

dipikir-pikir, ternyata sudah hampir satu bulan sejak Hari Raya yang baru lalu. gaungnya sudah mulai berkurang juga sih, dan sebagian besar rekan-rekan (termasuk saya juga) tampak sudah kembali ke ritme kesibukan yang biasa pasca-lebaran. 

bulan puasa, katanya adalah sarana untuk belajar mengendalikan diri. dan kalau katanya orang bijak, hidup itu sia-sia kalau tidak ada perbaikan. tentu saja, hal ini juga sejalan dengan ide yang jadi caption di kartu lebaran kemarin dulu… tapi masalahnya; memangnya apa sih yang akan membedakan saya setelah hari raya kemarin dengan yang sebelumnya, atau malah yang sebelumnya lagi? 

[shiki-ver_11.jpg]

…lha iya. memang bukan cuma ketupat, kok. :mrgreen:

jadi akhirnya saya memutuskan untuk membuat sebuah resolusi pasca-lebaran. bukan hal yang ribet, dan tak perlu pula susah-susah. ini adalah hal yang sederhana saja, walaupun (entah kenapa) tampaknya sering terlupakan dalam perjalanan saya ini… dan mungkin juga dalam perjalanan masing-masing dari kita, walaupun saya kira seharusnya anda yang lebih paham mengenai hal ini.

ya sudahlah. daripada panjang-panjang, mari kita langsung ke poin-poinnya saja, pembaca.

pertama. saya memutuskan bahwa saya akan menjadi seseorang yang bersikap jujur. saya ingin bisa bersikap jujur dan apa adanya; dalam omongan dan perbuatan, dan dalam banyak hal lain. kedengarannya sih gampang, tapi ternyata kok ya susah juga, pembaca. tapi terserahlah, siapa peduli… hei, saya ini orang jujur; tidak ada seorangpun yang berhak memaksa saya untuk bersikap sebaliknya.  

kedua. saya memutuskan untuk menjadi seseorang yang sabar. atau setidaknya, lebih sabar dari sebelumnya. atau setidaknya, lebih sabar dari biasanya. sabar dalam menghadapi keadaan yang tidak mengenakkan. sabar dalam menghadapi manusia yang kadang begini-dan-begitu. karena hakikat dari puasa adalah sabar dan pengendalian diri, maka sia-sia saja kalau saya masih gampang meledakkan emosi untuk hal-hal yang tidak perlu, bukan? 

ketiga. saya memutuskan untuk menjadi seseorang yang bebas dari rasa benci dan iri hati. mungkin saya memang tidak akan bisa bersikap respek apalagi menghormati terhadap beberapa kalangan dari manusia — manusia senang bertengkar, orangtua selingkuh, pegawai negeri korupsi, elite politik oportunis, polisi tukang disuap… daftarnya bisa panjang, tapi setidaknya saya tidak ingin membenci. bukan kenapa-kenapa, lagipula toh saya nggak akan dapat apa-apa dengan hal tersebut, pembaca. :mrgreen:

nah. cukup tiga poin saja, pembaca. tentu saja, saya tidak bisa mengatakan bahwa ‘saya sudah menjadi manusia yang lebih baik selepas puasa yang lalu’, kalau saya masih belum juga bisa memenuhi ketiga hal tersebut dengan lebih baik dari hari-hari sebelumnya.

karena sesungguhnya, perjalanan baru dimulai setelah shalat di Hari Raya. adakah saya akan menjadi manusia yang lebih baik, ataukah perjalanan dan latihan dan apalah-itu selama puasa yang lalu hanya akan menjadi hal yang sia-sia saja untuk saya?

saya sudah memutuskan. tapi hasilnya akan seperti apa, ya masih harus dibuktikan, sih. :mrgreen:

9 Comments