harga sepotong kenangan

“kamu beruntung, karena kamu memiliki kenangan yang indah akan masa kecil kamu. kenangan itu akan menjadi harta yang tak ternilai harganya, bahkan sampai setelah kamu dewasa nanti.”

___

saya ingat, sekali waktu ketika saya masih kecil dulu. saya saat itu masih duduk di bangku TK, ketika sekali waktu saya diajak orangtua saya belanja ke supermarket di akhir minggu. bukan hal yang istimewa benar sih, tapi untuk seorang anak berusia empat tahun, perjalanan ke supermarket (waktu itu jumlah pasar swalayan masih belum sebanyak saat ini) adalah petualangan tersendiri; kaleng-kaleng sarden yang ditumpuk rapi, sayuran dan minuman dingin di dalam kulkas, dan tentu saja susu kotak yang selalu dibelikan untuk saya setiap kali saya ikut berbelanja ke supermarket.

sama sekali bukan hal yang istimewa. tapi untuk saya di usia empat tahun, ada hal-hal yang saya ingat dengan baik sampai sekarang; ibu saya biasanya membiarkan saya memilih sendiri susu untuk dibeli (eh… teh kotak atau minuman ringan tidak diizinkan, sih), sementara di bagian buah-buahan kadang-kadang saya bisa memilih sebagian menu buah-buahan untuk seminggu. untuk saya dulu, adalah hal yang berkesan bahwa saya merasa bisa dan turut dilibatkan terkait urusan ketersediaan isi kulkas di rumah.

atau pada sekali waktu yang lain, ketika pada suatu hari ayah saya mengajak berjalan kaki di sekitar kompleks perumahan selewat subuh pada jam lima-lewat-dua-puluh, dengan udara dan suasana khas subuh setelah fajar. tidak terlalu dingin, tapi toh menyegarkan dan menghilangkan kantuk… tapi entahlah, mungkin anak berusia empat tahun memang lebih suka bangun pagi.

juga bukan hal yang istimewa benar. tapi berjalan-jalan di sekitar kompleks dan kebetulan searah dengan beberapa tetangga yang berangkat kerja lebih pagi dibandingkan yang lain, ayah saya mengajarkan (tanpa banyak kata-kata, sebenarnya) bahwa ada orang-orang yang harus bangun lebih pagi dan bekerja lebih keras, dan bahwa saya sebenarnya beruntung dalam beberapa hal.

atau misalnya ketika saya (dengan rasa penasaran khas anak berusia lima tahun) mencoba untuk membuktikan bahwa kaleng root beer bisa meledak kalau dikocok — yang sialnya, ternyata memang bisa. akhirnya kaleng tersebut meledak di mobil, mengakibatkan kursi dan atap menjadi basah kuyup oleh soda dan gula. dan tentu saja, akhirnya kami sebagai anak-anak dimarahi karena meledakkan sekaleng soft drink di dalam mobil… bukan hal yang pantas dibanggakan sih, tapi ya sudahlah.

dan cukup banyak hal lain, yang mungkin tidak istimewa benar, dan kadang-kadang mungkin konyol, yang menjadi bagian dari kenangan akan masa kecil saya.

::

ibu saya pernah mengatakan, bahwa kenangan masa kecil itu adalah sesuatu yang berharga, dan tidak bisa dibeli dengan nilai. dulu saya tidak benar-benar paham, tapi saya kira hal tersebut ada benarnya.

karena sebagai manusia, kita tumbuh dewasa dan melupakan banyak hal. kita berhubungan dengan kepentingan-kepentingan, dan kita cenderung berpikir dan bersikap pada tataran yang superfisial: kita menginginkan sesuatu, kita menukarkan sesuatu. kita berhadapan dengan sesuatu yang, mungkin secara hiperbolis, dikenal sebagai ‘dunia yang keras’. mungkin benar begitu, tapi saya kira hal ini tergantung sudut pandang, sih.

tapi hal yang saya ingat adalah, bahwa setidak-enak apapun keadaan yang saya hadapi, atau setidak-menguntungkan apapun situasi yang saya jalani, saya tahu bahwa ada suatu tempat di mana saya dulu pernah berada. saya tahu bahwa ada hal-hal yang diajarkan kepada saya dan tidak hilang, dan saya tahu bahwa saya pernah berada di suatu tempat, di suatu waktu yang dulu, sebagai seorang anak kecil yang saya ingat dulu.

karena itu, dengan segala ketidakpentingan, kekonyolan, dan segala hal lain dari kenangan masa kecil saya, saya merasa beruntung. bahwa saya punya masa kecil yang bisa saya kenang, sebagai pengingat dari setiap langkah saya sebagai orang dewasa. bahwa setidaknya saya akan selalu bisa teringatkan akan diri saya sebagai anak kecil yang dulu — yang diajak jalan-jalan oleh ayah saya, yang pergi belanja dengan ibu saya, dengan hal-hal yang diajarkan kepada saya dulu.

dengan demikian, saya akan selalu bisa mengingat bahwa ada harapan-harapan yang dulu dititipkan kepada saya, dan bahwa saya masih punya tanggung jawab akan hal tersebut dalam perjalanan saya.

::

kalau dipikir-pikir lagi, mungkin saya memang beruntung dengan hal tersebut. tidak semua orang bisa memilikinya, dan saya beruntung bahwa orangtua saya mau dan mampu membiarkan saya memiliki kenangan yang menyenangkan akan masa kecil saya. dan dengan demikian saya tumbuh sebagai orang dewasa, dengan apa-apa yang dulu diajarkan kepada saya sebagai anak kecil. hal-hal yang, bagi saya, juga sebagai pengingat langkah saya sebagai orang dewasa.

yah, dan dengan demikian saya juga tidak akan lagi meledakkan root beer kaleng di dalam mobil. saya kira itu juga bagian dari pengingat langkah saya sebagai orang dewasa, sih.

7 Comments

  1. March 23, 2009 at 9:10 am - link to this comment

    pernah meledakkan root beer juga ternyata, saya pun pernah ngelakuin hal konyol kayak gitu 😆 dan tiap kali inget kejadian itu, jadi suka ketawa sendiri 😛

    kenangan itu jadi salah satu alasan kenapa saya suka sama anak-anak dan semua kenakalan mereka, jadi flashback mengingat kelakuan sendiri di masa lalu 🙂 dan saya juga sangat berterima kasih ke ortu saya karena sudah memberi kenangan di masa kecil saya.

  2. grace
    March 23, 2009 at 2:57 pm - link to this comment

    baca postingan yud1 jadi teringat masa kecil sendiri..
    rntah kapan terakhir kali saya mengingat dan bernostalgia dengan kenangan masa kecil saya itu..and it brings me back all beautiful memories actually, dan betapa “ringan” nya saya saat itu, hidup terasa enteng tanpa beban..

    Dan menyadari penting nya kenangan masa kecil ini membuat saya bertekad untuk membuat kenangan masa kecil yang akan lebih indah dan lebih berarti untuk anak2 saya kedepannya nanti.. 🙂

  3. Syllachtea
    March 25, 2009 at 7:12 am - link to this comment

    Hm, saya malah bersyukur punya masa kecil yang memuakkan. Saya jadi lebih bisa menikmati diri saya yang sekarang 😀

    Salam kenal untuk empunya blog :mrgreen:

  4. March 27, 2009 at 6:56 pm - link to this comment

    Saya mendapat kesimpulan yakni pernyataan “bila ingin menanamkan suatu ‘moral’ maka lakukanlah dengan cinta dan sadari si anak kecil” itu adalah memang benar.
    .
    Sharing: kami mengajarkan pada anak-anak untuk mencintai mesjid, dan Sholat Jum’at di masjid, setidaknya untuk anak cowok. Tidak dengan banyak kata-kata, cukup selalu membawa mereka ke Mesjid, minimal tiap shalat jum’at.

    Kita nggak pernah tahu apa yang akan mereka hadapi saat mereka dewasa nanti, tapi bila mereka memiliki kenangan indah dengan agama mereka saat kecil, setidaknya mereka tahu kemana harus kembali…

    Ah ya, paling tidak saat ini, saat di ajak ke mesjid, mereka selalu antusias.
    apapun motivasinya tentu saja :mrgreen:

  5. April 2, 2009 at 6:04 am - link to this comment

    kenangan waktu kecil…
    banyak banget…
    huks jadi terharu
    tapi orang2 masih menganggapku anak kecil
    🙁

  6. April 8, 2009 at 9:28 pm - link to this comment

    post ini, betul2 buat saya terdiam lama… 😐

    saya juga punya kenangan masa kecil yang indah, walaupun dilewati dengan sakit2an, siyalnya, semuanya jadi terasa sia-sia sekali ketutup masa sekolah yang “seharusnya tidak seperti itu”, dan masa dewasa yang penuh konflik. 🙄

    jadi sedih sendiri mengingat orang tua yang dulu memberikan segala kenangan manis itu, adalah orang tua yang sama yang sekarang berkontribusi besar pada masa dewasa yang pahit & madesu ini… 🙁

    *curcol*
    *dirajam*

  7. Alin
    April 22, 2009 at 8:48 am - link to this comment

    Teh kotak atw minuman ringan tidak diizinkan..
    Root beer masuk kategori mana Yud?

    Knangan pas umur 10-11 masi ingat? Seberapa banyak? Seberapa ingat?

    ~..it’s raining again~