di tepi jalan ini

aku selalu bisa mengingatnya; dari dulu, dan sampai sekarangpun masih. di suatu tempat, di suatu saat, tentang sesuatu yang tak seorangpun mengingatnya. seperti sebuah cerita yang tak pernah disampaikan lagi, atau sebuah buku yang tak pernah dibaca lagi, dan dengan demikian tak seorangpun bisa mengingat isi atau keberadaannya.

tapi tidak ada artinya bukan, kalau seseorang memiliki sesuatu yang tidak seorangpun bisa memahami keberadaannya. pada akhirnya keberadaan itu hanya bernilai untuk seseorang tersebut, dan tidak ada artinya bagi yang lain. mungkin juga memang pada dasarnya tidak ada artinya sama sekali, dan mungkin juga pada dasarnya memang begitulah adanya.

mengayun langkah dan aku sampai di tempat ini, sendiri. keping kenangan yang tak sempurna, yang tak seorangpun yang mengingatnya. menekap dalam diam, mengingatkan luka, dengan sia-sia mencoba menarik yang tak kembali dari dalam diri pemiliknya.

karena ia juga bagian diriku bukan, aku bertanya-tanya. karena keping ini, yang kadang menyebalkan dan tak mau pergi, adalah kenangan yang hanya diam sebagai bagian diriku. mungkin memang tidak ada artinya, dan untuk yang lain mungkin memang begitulah adanya.

ada cerita yang tak selesai. ada tanya yang tak terjawab. ada yang lain yang tak tersampaikan.

pada akhirnya tidak ada yang selesai. pada akhirnya tidak ada banyak kata-kata, dan pada akhirnya hanya sedikit jawaban yang tak banyak artinya. dan pada akhirnya, mungkin memang tidak untuk apa-apa.

tapi semuanya berarti untukku. karena di sini, di tepi jalan ini, aku tidak ingin meninggalkan sesal. hanya keping kenangan terakhir yang akan kutinggalkan di sini, dengan atau tanpa sisa serta bekas luka.

…ya. karena di sini, aku tidak ingin meninggalkan sesal.

kutinggalkan keping kenangan terakhir di tepi jalan ini. mungkin suatu saat nanti, di suatu kebetulan, aku akan kembali melalui tempat ini dan masih akan bisa menemukannya kembali. mungkin juga suatu saat nanti, apa yang kutinggalkan di sini akan sudah rusak atau hilang, dan dengan demikian tidak akan ada yang kembali. mungkin juga aku tidak akan datang lagi ke sini, dan dengan demikian tidak akan ada yang ditemukan di tempat ini.

memandangnya untuk terakhir kali, kuletakkan ia di tempat yang seharusnya: di tempat tak seorangpun yang akan mengingatnya, seperti halnya yang sudah-sudah — tapi untuk kali ini, tidak juga diriku yang akan kembali untuk mengingatnya.

angin yang berusaha lembut, mentari yang mencoba hangat, dan di tempat ini semuanya sudah selesai. sudah waktunya aku melangkah dan pergi.

5 Comments