musim dingin di minggu sore

Hari ini aku tidak sengaja menonton siaran VOA, dan entah kenapa aku merasa seperti disambut oleh sesuatu yang aneh. Saat ini di belahan bumi utara sedang musim dingin, dan di televisi orang-orang berlalu-lalang dengan jaket atau mantel tebal, sementara di kejauhan gedung-gedung tampak sedikit buram di hadapan langit putih sedikit kelabu.

Seseorang pernah mengatakan kepadaku bahwa bagi mahasiswa dari Indonesia, atau setidaknya beberapa orang, musim dingin adalah saat di mana perasaan sedih dan ingin pulang mencapai puncaknya. Salju menutupi jalan dan atap rumah, cuaca dingin, dan mau tidak mau kita jadi memikirkan rumah; tempat yang hangat, matahari sepanjang tahun, dan teman-teman yang masih berada di sana.

Di sini, di kota ini, aku hanya memandang siaran di televisi dan rasanya sedikit aneh; aku ingat dulu aku sempat memikirkan untuk mengambil cuti dan pergi ke Eropa sendirian, mungkin dengan menghabiskan sebagian cukup besar dari jumlah di rekeningku, untuk sesuatu hal yang kalau kupikir mungkin memang bukan untuk dianalisis dengan logika. Tapi entahlah, mungkin beberapa hal memang tidak untuk dimengerti, dan kurasa itu juga bukan sesuatu yang tidak bisa kupahami.

Masih memandangi layar televisi, musim dingin di belahan bumi utara, dan gadis pembawa acara yang kira-kira seusia denganku, kurasa akhirnya aku sedikit bisa memahami tentang sesuatu yang dari tadi kurasakan; sesuatu yang tetap berada di sana, yang diam dan tanpa suara, yang kemudian datang dengan telak dan mengganggu.

Kadang, aku tidak tahu apakah aku harus tertawa karena sedih atau diam saja tanpa mengatakan apa-apa.