tentang saya dan menulis

“jangan berhenti menulis, ya. karena suatu saat nanti, aku akan menanyakan lagi, ‘kamu menulis di mana, sih?'”

___

sudah agak lama saya tidak benar-benar menulis. menulis sesuatu yang agak matang dengan pemikiran yang terstruktur, maksud saya. dan selama itu pula, saya hanya mengatakan bahwa ada banyak alasan untuk itu. juga, kalau mau mengatakan secara sederhana, saya selalu bisa mengatakan bahwa saya sibuk, atau banyak hal-hal lain yang perlu dipikirkan, atau alasan-alasan lain.

iya, saya yang sekarang ini memang sudah agak lebih sibuk dibandingkan saya yang dulu. saya saat ini berusia 24 tahun, sementara saya yang dulu baru mulai menulis di sini masih berusia 19 tahun. saya sebagai profesional saat ini menjalani kehidupan yang berbeda dengan saya yang dulu masih sebagai mahasiswa. ada banyak hal-hal yang terjadi selama itu, tapi, yah, saya kira itu cerita lain untuk saat ini.

kadang-kadang aneh bahwa ketika saya melihat tulisan yang saya tulis ketika saya berusia 20-22 tahun, saya merasa seperti ada orang lain yang mengatakan kepada saya ‘hei, kamu dulu mengatakan ini, lho’, sementara saya tahu itu adalah tulisan saya sendiri. rasanya seolah seperti ada tabungan kebijaksanaan –kalau bisa disebut seperti itu sih, saya kan tidak sebijaksana itu juga– yang seringkali membuat saya berpikir, mungkin sebenarnya kalau saya yang saat ini bertemu dengan saya yang dulu, rasanya akan seperti mengobrol dengan orang lain yang saya kenal akrab, tapi tidak benar-benar bisa saya asosiasikan dengan diri saya sendiri.

selama beberapa tahun terakhir ini, saya kira banyak yang berubah dalam diri saya. mungkin termasuk imbasnya adalah bahwa saya tidak bisa lagi sering-sering menulis di sini. di antara perjalanan panjang, keputusan-keputusan yang harus diambil, hal-hal yang harus diselesaikan –kadang hal-hal seperti ini adalah urusan rumit– seringkali yang tersisa hanyalah waktu yang terasa sedikit, yang tidak selalu bisa saya gunakan untuk memikirkan apalagi menuliskan sesuatu.

tentu saja, saya tidak mengatakan bahwa keadaan tersebut adalah hal yang sepenuhnya buruk untuk saya. saya bersyukur dengan keadaan saya saat ini, dengan banyak hal yang saya miliki, walaupun saya kira akan selalu ada hal-hal yang harus lebih baik daripada saat ini.

tapi dengan demikian saya tidak bisa lagi menulis seperti dulu.

sekali dulu, saya belajar tentang trade-off terkait pengambilan keputusan dan manajemen resiko; intinya, ya, saya harus menerima bahwa selalu ada sesuatu yang harus dibayarkan untuk sesuatu yang lain. kalau misalnya kita ingin suatu variabel A, B, C dalam keadaan excellent –luar biasa, maka variabel terkait mungkin P,Q,R hanya bisa berada sebatas acceptable –bisa diterima, tapi tidak istimewa.

dan yang saya pahami, hal tersebut berlaku untuk banyak, kalau tidak hampir semua hal dalam kehidupan saya. saya memutuskan untuk tidak tanggung-tanggung dengan profesionalisme saya, maka saya jadi kehilangan kesempatan untuk menulis. kalau saya ingin bisa memperoleh dua-duanya, maka waktu saya untuk hal-hal yang lain akan harus dikorbankan — seperti halnya salah satu pelajaran pertama yang masih saya ingat sampai sekarang, there is no such thing as free lunch.

tapi sudahlah, setidaknya saat ini saya sedang ingin menulis dulu.

sejujurnya, saya tidak benar-benar tahu apakah tulisan saya sebagus itu. saya tidak tahu apakah tulisan saya bisa benar-benar memantik ide apalagi sampai menginspirasi orang yang membacanya (kata seseorang, mungkin saja), atau apakah ada orang lain yang sampai terharu dengan membaca tulisan saya di sini (kata seseorang lain, mungkin juga sebenarnya saya sudah pernah membuat seseorang menangis). mungkin ada benarnya juga bahwa pena, eh, keyboard bisa lebih tajam daripada pedang soal merobek-robek hati seseorang, entahlah.

mungkin saya tidak benar-benar bisa menulis seperti dulu lagi, juga mungkin tidak lagi bisa sebanyak dulu. tapi setidaknya kalau saya bisa menjalaninya di antara hari-hari yang sepertinya semakin sibuk dengan tanggung jawab yang semakin bertambah, saya kira hal seperti itu akan sudah cukup bagus untuk saya. kita memang tidak selalu bisa mengharapkan banyak hal dan semuanya terpenuhi, bukan?

saya berharap bahwa saya masih akan bisa menulis lagi — kalaupun bukan untuk orang lain, setidaknya saya menulis untuk diri saya sendiri. untuk saat ini, nanti, dan seterusnya, kalau memang masih memungkinkan.

4 Comments