ironi terlupakan

“ironi adalah ketika kamu menyapa seseorang dan dia bahkan tidak ingat siapa namamu.”

___

dulu, saya termasuk jenis manusia yang tidak menonjol. tipe yang, kalau anda pembaca kebetulan melihat saya pada masa-masa tersebut, kemungkinan hanya akan diberi pandangan sekilas ‘oh’, atau bisa juga dianggap sedikit-aneh. nilai pelajaran di kelas atau kuliah biasa-biasa saja, di lapangan olahraga apa lagi. tidak tergolong banyak bicara juga tidak cerah-ceria, pokoknya jenis yang sama sekali tidak akan menarik perhatian anda atau orang lain pada umumnya.

entah itu hal yang baik atau buruk, tapi dengan demikian saya tidak menjadi sosok yang keberadaannya diingat oleh banyak orang yang pernah saya temui dulu. termasuk seringkali, oleh mereka yang saya ingat dari beberapa periode kehidupan saya.

sekali dulu, di antara beberapa yang lain, saya kebetulan bertemu dengan seseorang yang dulu saya kenal. tidak ada masalah, tentu saja, selain bahwa dia tidak lagi mengingat nama saya, dan dengan keadaan tersebut menanyakannya langsung kepada saya. apakah saya punya bakat untuk hal seperti ini, entahlah; setidaknya, hal seperti ini bukan terjadi cuma satu-dua kali sejauh yang saya ingat.

saya ingat namanya. saya masih ingat kebiasaannya dulu. saya tidak marah — walaupun mungkin ada sedikit perasaan kecewa — tapi dengan demikian saya memutuskan untuk tidak lagi menyapa orang-orang yang sepertinya tidak akan mengingat saya.

pada dasarnya, saya berprinsip sederhana: kalau seseorang yang dulu saya kenal tidak lagi mengingat saya, maka saya tidak cukup penting untuk seseorang tersebut. sekalipun dulu saya sekelas dengan seseorang sewaktu SD, atau dulu saya sempat beberapa kali mengobrol dengan seseorang lain ketika SMP, atau bahkan ketika saya sempat cukup lama satu kegiatan dengan seseorang lain lagi sewaktu SMU, untuk saya semua itu tidak ada artinya kalau ketika saya bertemu dengan seseorang tersebut dia tidak lagi mengingat saya.

dengan demikian, saya tidak pernah lagi menyapa orang-orang yang dulu sekelas dengan saya dan tidak lagi mengenali keberadaan saya ketika berpapasan lama kemudian. saya tidak lagi memanggil rekan-rekan lama yang kelihatannya tidak menyadari keberadaan saya dalam acara pertemuan atau sejenisnya. saya tidak secara aktif mencari dan menambahkan rekan-rekan yang dulu pada akun jejaring sosial saya. karena, ya, untuk apa? bagi saya, memiliki sesuatu yang saya ingat dan tidak diingat oleh orang lain bukanlah hal yang menyenangkan.

mungkin saya dulu tidak istimewa, dan saya tidak lagi diingat. mungkin saya dulu cuma anak biasa yang sedikit-aneh dan tidak signifikan, itu bukan salah orang lain. kalaupun ada yang harus disalahkan, itu adalah diri saya sendiri. saya tidak berhak marah kepada siapapun soal itu; kalaupun saya marah, saya hanya marah kepada diri saya sendiri bahwa saya tidak cukup penting, bahwa saya tidak meninggalkan kesan, bahwa saya hanya mengingat sesuatu yang ternyata tidak penting lagi untuk diingat oleh orang lain.

tidak peduli walaupun seseorang dulu berarti untuk saya, kenyataan bahwa ada hal-hal yang tidak lagi diingat cuma berarti sederhana saja — saya tidak cukup penting, dan itu sesuatu yang, mau tidak mau, harus bisa saya terima.

walaupun, yah, saya bohong kalau saya mengatakan bahwa saya tidak kecewa.

5 Comments