surat dari kakak

adik yang kusayangi,

Apa kabar? Aku harap kamu baik-baik saja, khususnya setelah membaca suratmu yang kemarin –– iya, aku tahu kamu akan bilang bahwa kamu baik-baik saja, bahwa tidak ada masalah yang berarti, jadi walaupun aku tanya juga sepertinya jawabannya tidak akan banyak bedanya, kan? Jadi jawabanmu itu akan selalu ‘baik-baik saja’.

Hmm. Kadang-kadang aku penasaran juga apa kamu pernah punya jawaban lain kalau ditanya ‘apa kabar’, tapi soal itu sih terserah kamu saja deh. Kadang-kadang kamu agak lucu juga sih kalau soal itu, tapi pokoknya aku sudah tanya ‘apa kabar’, ya.

Membaca suratmu kemarin, mau tidak mau aku jadi kepikiran. Kamu mengatakan ini-dan-itu tentang aku (sejujurnya, ternyata kamu tahu cara menyenangkan hati wanita, ya!), padahal aku sendiri tidak berpikir bahwa aku ini sehebat itu. Betul.  Menurutku aku hanya menjalani apa yang harus kulakukan – mungkin karena aku punya cita-cita, jadi aku tahu ke mana aku harus melangkah. Aku tidak tahu apakah kamu juga berpikir seperti itu, tapi kalau kamu punya sesuatu yang ingin kamu raih, menurutku itu hal yang bagus. Tapi mungkin ini tergantung orang juga, sih.

Tapi menurutku kamu tidak sejauh itu dari langkahku. Kamu mungkin belum menyadarinya, tapi ada sesuatu dalam diri kamu yang menunggu untuk ditemukan. Dan sedikit demi sedikit, aku kira kamu akan sudah mulai menyadarinya – sekarang ini masih belum sepenuhnya, tapi aku akan memberitahukan ini kepadamu: kamu akan menjadi seseorang yang menggenggam masa depan.

Kedengarannya aneh, ya? Menurutku tidak. Sejujurnya aku berpikir bahwa kamu akan bisa lebih daripada hanya berdiri sejajar denganku, lebih daripada yang kamu pikirkan saat ini. Tapi ini hal yang harus kamu temukan sendiri, sebab mau seperti apapun aku berbicara kepadamu, hal ini tidak akan bisa kamu pahami sampai kamu sendiri yang menemukannya.

Sebenarnya aku tidak berpikir bahwa dalam banyak hal aku ini lebih hebat daripada kamu. Kebetulan aku sudah melangkah lebih dulu, itu saja. Mungkin kadang langkahku agak terlalu cepat (atau setidaknya kamu merasa begitu), tapi sebenarnya tidak ada yang istimewa. Aku hanya bekerja keras soal itu, kalau kamu mau tahu. Tapi kamu agak lain; ada sesuatu yang, kurasa, cuma masih belum ditemukan. Apakah kamu akan bisa atau tidak untuk itu, cuma kamu yang tahu. Anggap saja ini insting dan perasaan dari kakakmu ini, ya!

Nah, sekarang, aku mau tanya soal bagian terakhir suratmu dulu. Kenapa pula kamu berpikir bahwa kamu harus melangkah sendiri? Iya, aku tahu kamu sepertinya menderita dengan keberadaan kakakmu yang hebat ini (nah, ini kamu sendiri yang bilang, ya), tapi menurutku itu bukan alasan. Kamu sendiri pernah bilang, siapapun itu kita sama-sama manusia, kan? Kita juga sama-sama makan nasi –– walaupun tidak untuk diet rendah karbohidrat, tapi jangan komentar soal ini, ya.

Sejujurnya, aku sendiri tidak tahu banyak hal tentang dirimu. Di mataku, kamu seringkali terlihat memendam banyak kekecewaan, entah kepada dirimu sendiri atau kepada keadaan, dan setelahnya kamu hanya seperti menyendiri dalam cangkang. Kadang-kadang kamu keluar, dan kita mengobrol, atau kamu sedikit tersenyum, lalu setelahnya kamu kembali lagi dalam duniamu sendiri. Kurasa kadang orang-orang yang memperhatikanmu juga tidak selalu bisa memahami kamu walaupun mereka ingin –– kalau misalnya ada seorang gadis yang memperhatikan kamu (kupikir, seharusnya memang ada), aku berani taruhan dia pasti akan sudah makan hati memikirkan keadaanmu.

Kamu itu sebenarnya orang yang baik, kamu tahu. Tapi di saat yang sama, menurutku kamu agak terlalu keras kepada diri sendiri. Aku tahu kamu punya alasanmu sendiri, juga kamu punya pengalamanmu sendiri yang tidak selalu aku tahu, tapi kalau boleh aku menyarankan, cobalah untuk sedikit santai, juga cobalah untuk sedikit membuka hatimu soal itu.

Aku sendiri sering berpikir bahwa hidup ini menyenangkan. Betul! Entah apakah itu di suatu hari yang sibuk, entah apakah itu ketika menunggu kereta di stasiun, entah apakah itu ketika belanja di supermarket, entah apakah itu di kota seusai hujan, hidup ini sebenarnya menyenangkan. Kamu mungkin tidak berpikir seperti itu, tapi orang seperti kamu tidak pantas untuk tidak berbahagia. Kalau kamu bertanya kepadaku, menurutku kamu terlalu baik untuk tidak bahagia – sebenarnya ini juga sesuatu yang ingin kukatakan dari dulu, entah apakah kamu juga berpikir seperti itu atau tidak.

Oleh karena itu, kepada siapapun kamu jangan sungkan. Kalau kamu merasa bahwa kamu bisa dan akan bahagia, ambillah kesempatan itu dan berbahagialah. Kesempatan seperti itu tidak akan datang berulangkali dalam hidup ini, dan kalau kamu sudah melewatkannya, mungkin kamu tidak akan menemukannya lagi seumur hidup.  Hidup itu terlalu singkat, kamu juga setuju soal ini, bukan?

Jadi, aku akan mengizinkan keinginanmu dengan syarat. Kamu boleh melangkah dan menemukan jalanmu sendiri, tapi ucapan ‘selamat tinggal’ tidak diterima.

Pada saatnya nanti, aku ingin melihat kamu yang sudah menggenggam masa depan. Pada saat itu, kamu akan menyadari bahwa kamu dan aku tidak terlalu jauh berbeda. Kamu mungkin akan bisa melewati langkahku, lebih dari yang mungkin bisa kamu bayangkan pada saat ini –– akan sedikit menyebalkan sih, tapi kalau itu kamu kukira aku tidak akan terlalu keberatan.

Suatu hari aku ingin bisa mengobrol denganmu, mungkin pada suatu sore setelah hari yang sibuk menjelang akhir pekan. Sampai nanti.

Salam,

Kakak yang memperhatikanmu

___

related:

2007.06.19 | surat untuk kakak