restraint

(n) restraint: the act of controlling by restraining someone or something; discipline in personal and social activities; the state of being physically constrained; a rule or condition that limits freedom.

___

pekan-pekan belakangan ini, saya sibuk. mungkin bisa dikatakan agak lebih sibuk daripada biasanya, dengan load yang agak lebih tinggi daripada biasanya, juga dengan tekanan yang –kalau bisa dibilang begitu, sih– agak lebih tinggi daripada biasanya. dari aspek saya sebagai profesional seperti itu, sementara dari aspek saya sebagai personal ada hal-hal lain, jadi kira-kira seperti itulah.

bukan masalah yang gawat benar juga, sih. lagipula manusia hidup kan tidak mungkin selalu tenang dan damai. tapi satu hal yang saya perhatikan adalah, bahwa dalam periode tersebut, saya mengalami sedikit keterlepasan terhadap kontrol diri saya. dan imbasnya sedikit banyak juga ke aspek-aspek lain dalam kehidupan saya.

saya jadi cenderung mengungkapkan hal-hal yang tidak perlu diungkapkan, saya jadi cenderung melakukan hal-hal yang tidak perlu dilakukan, dan saya jadi cenderung mengharapkan hal-hal yang tidak perlu diharapkan.

intinya, saya merasa bahwa dalam penggunaan sumber daya dalam diri saya untuk menetralisir suatu keadaan, kontrol saya terhadap diri saya untuk keadaan lain menjadi jauh berkurang.

.

membicarakan hal ini, mau tidak mau saya jadi teringat referensi kultur populer; Arcueid Brunestud dalam serial Tsukihime, misalnya, diceritakan harus menggunakan sebagian besar dari kekuatannya untuk menahan impuls brutal dalam dirinya. Son Goku dalam Gensomaden Saiyuki (ngomong-ngomong, konteks ini serupa juga dengan versi asli Perjalanan ke Barat) aslinya memiliki kekuatan luar biasa, tapi terpaksa harus menggunakan ikat yang diberikan Sanzo untuk menjaga dirinya tetap waras dan tidak membahayakan orang lain.

Arcueid Brunestud, salah satu True Ancestor di Tsukihime. atau, manifestasi trade-off antara kebrutalan dan kewarasan.

dalam konteks ini, baik Goku maupun Arcueid sama-sama memiliki sumber daya berupa kekuatan fisik dan magis yang luar biasa besar, dengan ongkos kewarasan mereka pada suatu saat tertentu.

percaya tidak, saya kira manusia pada umumnya juga tidak jauh berbeda dari mereka.

.

kenyataannya trade-off seperti itu memang ada. saya bisa memutuskan dan melakukan banyak hal untuk keadaan-keadaan yang menekan, tapi sebagai bayarannya adalah saya kehilangan sebagian kontrol diri saya. saya bisa melemparkan diri saya mendekati batas kemampuan saya, tapi di sisi lain saya bisa jadi akan melakukan/mengungkapkan/menginginkan sesuatu yang, pada akhirnya, saya menjadi tidak lagi seperti saya yang biasanya.

kadang juga saya berpikir bahwa ada hal-hal yang tidak terelakkan, tapi sejujurnya saya sendiri berpendapat bahwa ada batas yang tidak boleh dilanggar. karena, ya, pada dasarnya nilai seseorang adalah apa yang dia katakan dan dia lakukan, bukan seperti apa sebenarnya seseorang itu di dalam dirinya. demikian juga terlepas dari keadaan-keadaan lain yang mungkin meliputi seseorang, sesuatu yang mungkin bisa dipahami tidak selalu berarti adalah sesuatu yang bisa diterima.

kesalahan saya adalah bahwa saya membiarkan kontrol diri saya sedikit terlepas. bukan hal yang akan saya biarkan untuk terjadi di masa depan.

2 Comments