bebek buruk yang sedikit kompleks

jadi begini. sebagaimana anda pembaca mungkin sudah mengetahui, saya punya kecenderungan aneh untuk tertarik dengan hal-hal terutama terkait dongeng. iya, maksudnya di sini dongeng klasik, atau fairy tale dalam bahasa Inggrisnya.

tentu saja, sebagian pembaca mungkin juga paham bahwa sama sekali tidak seperti saya untuk menulis tentang dongeng, kalau saya cuma sekadar duduk dan menuliskan bahwa ‘oh dongeng ini indah, penuh pesan moral’. kasar-kasarnya sih, itu mirip dengan membayangkan saya duduk di depan televisi dan menonton Glee tanpa geleng-geleng kepala dengan plotnya! :mrgreen:

sehubungan dengan hal ini beberapa pembaca mungkin masih ingat bahwa Cinderella pernah jadi korban keisengan saya sekali dulu. tapi untuk kali ini, entah kenapa saya kepikiran untuk menjadikan seorang seekor hewan tidak berdosa sebagai korban berikutnya.

iya, ini adalah cerita klasik tentang bebek buruk rupa. tapi seperti juga sebelumnya, mari kita tambahkan sedikit putaran dan pelintiran di jalan ceritanya.

.

jadi, mari kita mulai. untuk cerita ini, saat ini saya membayangkan bahwa si bebek tidak menjadi karakter seperti yang dirancang oleh H.C. Andersen. mari kita ubah sedikit premis awalnya, walaupun garis besar cerita akan tetap mengikuti patron aslinya.

kenapa? karena kalau tidak seperti itu, jadinya nggak seru! jadi mari kita lakukan sesuatu.

kita tahu si bebek kecil lahir di tempat yang salah. dia lahir di keluarga burung, dan karena itu dia dianggap aneh. dia berbeda dibanding anak-anak burung lainnya, dan dengan demikian dia cenderung dikerjai dan ditindas. dibuli-buli pokoknya.

tapi yang tidak banyak diketahui, adalah bahwa anak-anak burung awalnya bukan membenci si bebek, juga bukannya si bebek ini sama sekali tidak ingin memulai berteman dengan anak-anak burung. kenyataannya adalah bahwa si bebek ini mencoba berteman dengan anak-anak burung, tapi ini adalah hal yang sulit; suaranya berbeda sendiri dari anak-anak burung lain, dan dengan demikian tidak banyak yang bisa memahami omongannya. dan dengan demikian anak-anak burung menganggapnya aneh, dan ini adalah awal dari penderitaan si bebek kecil.

karena tidak ada yang bisa memahami omongannya, dia jadi tidak punya banyak teman. dia juga tidak bisa terbang, sehingga pada akhirnya dia jadi sering dianggap aneh. bukan hal yang sederhana untuk disalahkan begitu saja. semua burung kan seharusnya bisa terbang, jadi kalau tidak bisa malah aneh, dong? jadilah si bebek kecil ini menderita karena dia satu-satunya yang tidak bisa terbang, selain juga bahwa dia pada dasarnya tidak punya banyak teman.

nah, setelah beberapa lama, si bebek tumbuh menjadi bocah emo bebek muda yang gampang meledak. berkali-kali dia bertengkar dengan anak-anak burung, tapi mau apa lagi? pada dasarnya dia memang tidak cocok dan terasing dengan lingkungannya, dan pada akhirnya dia pamit dan meninggalkan keluarga burung dengan membawa luka hati yang sungguh susah disembuhkannya. *tsaaaah*

sampai di sini, sudah cukup beda dari cerita aslinya, kan? sementara itu baiklah, berhubung anda masih berada di sini, mari kita lanjutkan saja cerita ini. :mrgreen:

pada cerita aslinya, ada beberapa kejadian setelahnya. tapi mari kita buang saja bagian si bebek bertemu rombongan bebek liar dan sempat tinggal di tempat petani karena pada dasarnya hal ini cenderung repetitif; si bebek cuma melihat keadaan saja, sementara hal-hal buruk terjadi! jadi mari kita ganti dengan versi di bawah ini.

eh, tunggu. mungkin tentang bebek liar bisa kita masukkan. tentang tempat petani, mungkin bisa disinggung sekilas. mari kita coba, ya.

baiklah jadi dalam perjalanannya yang sepi, si bebek kemudian melihat serombongan angsa sedang terbang bermigrasi ke selatan. mendadak, si bebek merasa muak pada dirinya sendiri. hei, kenapa aku tidak bisa terbang? aku punya sayap, aku seharusnya bisa!

maka dia mulai belajar terbang, sendiri. susah, dan dia sering jatuh, terjungkal serta babak belur dalam prosesnya. dan dengan setiap kegagalan dia semakin muak; dia kecewa pada dirinya sendiri, dan dia mulai berpikir bahwa mungkin pada dasarnya dia memang tidak bisa terbang.

demikianlah sampai kemudian jalannya mempertemukan dengan serombongan bebek liar. bukan begitu caranya kalau kamu mau terbang, kata mereka. lagipula kenapa cara terbangmu aneh sekali? seperti burung, bukan seperti bebek atau angsa, kata mereka lagi. dan mereka pun mengajarkan si bebek: tekuk sayap seperti ini, arahkan ekornya bukan begitu, dan sebagainya.

maka si bebek pun belajar untuk terbang dengan cara baru yang diajarkan kepadanya. tentu saja bukan cara terbang burung, karena dia memang bukan burung! demikian juga bukan persis seperti teman-teman barunya juga sih, tapi setidaknya masih lebih dekat daripada burung, bukan?

hei, kata si bebek suatu kali. kurasa aku sudah bisa terbang sekarang. terima kasih. tapi kalian juga akan pergi ke tempat lain lagi, kan? tanya si bebek.

begitulah, kata teman-teman barunya. kamu ikut?

tapi si bebek tahu, dia berbeda dengan teman-temannya. dia tidak akan bisa terbang dalam satu rombongan. karena kepakan sayapnya beda, cara menapaknya beda, juga karena pada dasarnya mereka dari jenis yang berbeda. dia jelas bukan bebek yang sama, walaupun dia sendiri juga masih belum tahu apa sebenarnya jenisnya ini.

maaf, kata si bebek. aku tahu aku tidak bisa ikut. aku mau ke selatan, dan kalian tidak ke sana. tapi, hei, mungkin kita akan bisa ketemu di tempat lain. siapa yang tahu? yang aku tahu aku senang bersama kalian. terima kasih.

maka mereka berpisah, dan si bebek kembali sendiri. tapi setidaknya, sesuatu tidak sia-sia. dia kini mengetahui caranya terbang, dan teman-temannya, walaupun kemudian masing-masing berada di tempat yang berbeda, setidaknya dia tahu bahwa dia pernah belajar bersama mereka. tentang terbang, kegagalan, kekecewaan, keberhasilan. apapun itu, hal tersebut bukanlah sesuatu yang sia-sia.

tuing, tuing, tuing. eh, ke mana bagian bebek teman-temannya dibantai pemburu? tidak ada. soalnya, kalau seperti itu jadinya mengulang-ulang, membosankan. masa anda puas dengan pola ‘bebek bertemu -> bebek sedikit lega -> bebek menderita -> ulangi dari awal’?

nggak seru. maka dari itu saya buang. nggak boleh protes! :mrgreen:

dalam perjalanannya kemudian si bebek sedikit mulai menyadari bahwa dirinya berubah. dia sadar bahwa dia bukan burung, tapi pada saat yang sama dia juga mengetahui bahwa dia tidak seperti bebek lain yang pernah dilihatnya.

sementara itu hal-hal terjadi. beberapa tidak menguntungkan, tapi setidaknya semua bisa ditanganinya sendiri. ada saatnya dia tinggal dekat rumah pedagang, tapi tidak selalu nyaman dengan kucing di sana. saat lain menjelang musim dingin dia sempat tidak punya tempat tinggal, sebelum akhirnya menemukan tempat di dekat rumah petani. bukan hal yang nyaman juga, anak-anak petani yang masih kecil dan berisik mengganggunya dan membuatnya tidak betah. tapi setidaknya dengan segala hal tersebut dia masih hidup sebagai bebek, atau apapun itulah dia belum tahu. kadang-kadang sepi, tapi setidaknya dia bisa menjalaninya.

sampai pada suatu saat, barulah kemudian si bebek ini bertemu rombongan angsa yang mirip dengan yang dilihatnya dulu.

ah, ternyata si bebek baru sadar. bahwa selama ini dirinya mulai berubah, ternyata dia jadi semakin mirip dengan rombongan angsa yang dulu dilihatnya! juga mirip dengan rombongan angsa yang dilihatnya saat ini, entah benar atau tidaknya perasaannya itu.

tapi dia ragu-ragu. baru kemudian seekor angsa, kelihatannya agak lebih tua darinya (mungkin angsa yang agak senior sih ya) mencoba menyapanya.

kalau kamu sendirian, mungkin kamu mau ikut? sebuah pertanyaan, dalam sapaan dengan tutur kata yang lembut. kelihatannya kamu bisa terbang dengan baik. masih perlu belajar, tapi kalau kamu seharusnya bisa. kurasa kamu punya sesuatu yang lain dari cara terbangmu itu… tapi ini terserah kamu, sih. kamu boleh ikut kalau kamu mau bergabung.

maka walaupun awalnya ragu, akhirnya dimulailah petualangan si bebek ini sebagai angsa. masih akan panjang perjalanan setelahnya, masih akan banyak rintangan di depannya, tapi untuk kali ini si bebek merasa bahwa dia akan bisa melakukan banyak hal bersama dengan kelompok angsa ini; banyak, banyak sekali hal, bahkan mungkin lebih daripada yang bisa dibayangkannya pada saat ini.

nah. ceritanya selesai. atau setidaknya, kalau menurut versi aslinya sih ceritanya berhenti sampai si bebek bertemu kelompok angsa. itu hal yang klasik sih, namanya juga dongeng, ditutup dengan akhir yang bahagia selama-lamanya. tentu saja berhubung namanya juga dongeng, kita tidak selalu bisa mengharapkannya sebagai sesuatu yang benar-benar realistis, kan?

tapi setidaknya si bebek dalam konteks ini jadi tidak sesederhana sebelumnya. hei, si bebek di sini punya kemauan, setidaknya dia tidak lagi jadi boneka nasib. lagipula kalau misalnya tidak boleh begitu sih, mending saya bikin cerita bebek ini jadi agak berbeda; Bebek yang Ditukar, misalnya, atau Cinta Bebek, season 6. iya kan? :mrgreen:

ngomong-ngomong, bonus track: mari kita sedikit membayangkan bagaimana nasib si bebek setelah akhir cerita.

waktu berlalu, dan pada saatnya kemudian, si bebek, eh, angsa ini sudah berada bersama kelompok angsa lebih lama daripada yang dia ingat. saat ini jam terbangnya sudah tinggi, dan dengan demikian kelompok angsa memutuskan bahwa dia akan berada di garis depan formasi terbang migrasi mereka berikutnya.

perjalanan panjang dan melelahkan, dan berada di depan pasukan angsa adalah tugas berat; dalam formasi terbang mereka, angsa paling depan akan harus melawan angin sambil harus memandu arah. sama sekali bukan hal sederhana, dan dalam perjalanan ini pada satu kesempatan akhirnya kelompok tersebut memutuskan untuk beristirahat.

lho, kamu kan bebek yang dulu? seorang seekor bebek liar dari rombongan yang dulu dikenalnya menyapa. diikuti teman-teman yang dikenalnya dulu, dan mereka yang kemudian juga mengenalinya.

pertemuan, reuni, atau apapun sebutannya dengan teman lama cenderung menghanyutkan. si bebek, kini sudah bersama rombongan angsa. teman-teman bebek liar yang dulu belajar terbang bersamanya, kini dalam perjalanan yang berbeda.

maka dia memandang teman-temannya yang dulu (yang sebenarnya dalam diri si bebek masih dan selalu seperti itu), sedikit hanyut dalam nostalgia, sebelum akhirnya mengatakan:

hei. dulu aku pernah bilang, kan? mungkin kita akan ketemu lagi di tempat lain.

dan dalam satu dari saat-saat yang tidak benar-benar banyak dalam hidupnya, si bebek akhirnya bisa benar-benar tersenyum.

end of bonus track. fin. 😉

9 Comments