fragmen

/1

berita, setiap kalinya selalu tentang kata-kata: tentang manusia, hidup dan kehidupannya, barang-barang, hubungan, semuanya atau setidaknya sebagian dari semuanya.

“tidak rusak,” kataku. “tapi juga bukan baik-baik saja, sih.”

aku hanya angkat bahu, mengatakan bahwa kadang manusia juga seperti halnya barang atau perangkat, tidak selalu bisa dimengerti dan kalaupun bisa kadang demikian sulitnya. sesekali bisa juga seperti radio atau televisi, kadang cuma ada desau statis dan kita tidak tahu apa artinya, entah perangkatnya rusak atau memang tidak ada gelombang untuk ditampilkan atau diperdengarkan.

gadis di hadapanku mengambil tisu, meletakkannya di meja sebelum kemudian memain-mainkannya dengan garpu. aku hanya memandanginya sambil mengingatkan, sebaiknya berhati-hati bahwa bisa jadi meja akan lecet, walaupun itu akan tergantung dari kekuatan serta tekanan yang diberikan juga. garpunya sendiri tidak terlalu tajam, setidaknya sepengamatanku, jadi kurasa itu juga bukan hal yang cukup perlu dicemaskan.

srek, srek, srek, srek

“menyebalkan ya, hal seperti itu.”

aku tidak berkomentar. serpihan-serpihan putih tampak mengotori meja, entah dari tisu yang tersobek-sobek atau hati yang remuk-redam.

mengusap mata dengan lengan baju, dia hanya mengatakan sesuatu secara singkat.

“kayaknya nanti orang akan melihat, kesannya seolah aku sedang patah hati karena kamu baru saja menolakku. itu menyebalkan.”

aku tersenyum, mengatakan bahwa kita tidak selalu bisa mengharapkan orang berpendapat sesuai dengan kenyataan yang kita alami. di mana-mana juga seperti itu, jadi itu bukan hal yang perlu terlalu dikuatirkan.

entah kenapa aku merasa sudah bersikap sedikit tidak berperasaan.

 

/2

beberapa belas lantai dari lantai dasar gedung, tempat ini dibagi menjadi tiga partisi: sisi tengah dengan selasarnya, sayap kiri dengan cukup banyak orang dan barang-barang berlalu-lalang, dan sayap kanan dengan cukup banyak orang-orang lain bekerja pada tempatnya: administrasi, penjualan, ruang pertemuan dan lain-lainnya.

aku melewati selasar dengan langkah yang sedikit lebih lambat daripada biasanya. di sisi kiri adalah deretan ruang pertemuan, sementara di ujung selasar adalah ruang-ruang dan kubikel di sayap kanan. satu di antara sekian banyak hari-hari yang sibuk, ada sedikit letih yang masih tertanggung, tapi seperti halnya dalam pertandingan sepakbola, ini adalah saat di mana seorang penjaga gawang sedang dibombardir oleh gelandang dan penyerang yang tak kunjung membuat perubahan nilai.

kami berpapasan di selasar ketika aku baru hendak menekan tombol untuk membuka pintu. seorang gadis dari departemen sebelah, usianya kira-kira sepantaran denganku.

“katanya kamu sakit, sakit apa? sudahlah, nggak usah masuk. istirahat saja…”

“ah, tidak apa-apa. jangan kuatir.”

dia mengatakan sesuatu tentang ‘sedikit merasa bersalah’, tapi kukatakan juga bahwa itu hal yang tidak perlu dipikirkannya. bagaimanapun aku cuma ingin menyelesaikan apa yang kusebut sebagai ‘tanggung jawab’, dan setidaknya aku mengatakan sesuatu yang jujur jadi kukatakan itu bukan masalah dan sebaiknya dia bersikap sedikit lebih santai soal itu.

yang tidak kukatakan adalah bahwa aku lebih senang berada di sini dan menyelesaikan banyak hal daripada tidak berangkat dan sama sekali tidak melakukan apa-apa. ada hal-hal yang lebih suka kukebaskan dengan bekerja, entah apakah itu sesuatu yang akan dipahami orang lain aku tidak benar-benar paham.

aku mencoba tersenyum sebelum meninggalkan langkahnya di depan pintu tanpa benar-benar menjawab pertanyaannya.

aku harus bilang apa? ‘fraktura hepatika’?

 

/3

“aku boleh menelepon?”

demikian sebuah pesan pendek sampai ke telepon genggamku. aku menjawab bahwa aku sedang dalam perjalanan, tapi dalam sepuluh sampai lima belas menit seharusnya kami sudah bisa mengobrol dengan cukup nyaman. sekitar dua puluh menit kemudian aku menerima panggilan masuk yang baru kujawab setelah tiga atau empat deringan.

“halo?”

di seberang telepon, aku mendengar suaranya. masih seperti dulu, dengan nada cerah-ceria yang biasa kudengar sejak aku pertama kali mengenalnya. delapan tahun, sembilan tahun, mungkin terlalu banyak waktu sudah berlalu, entahlah.

kami membicarakan beberapa hal. kehidupan, pekerjaan, keluarga. dan beberapa hal lain. termasuk, ya, hal yang sejak awal ingin dibicarakannya. kukatakan padanya bahwa hal seperti ini akan lebih baik untuk dibicarakan langsung, walaupun kukatakan juga bahwa bukan berarti kami sama sekali tidak bisa membicarakannya lewat telepon.

“aku akan menemuimu besok,” kataku. dia mengiyakan.

kami bertemu sore hari menjelang petang keesokan harinya. seperti yang sudah dikatakannya kemarin, ada hal-hal yang ingin dibicarakannya, dan pada akhirnya obrolan sedikit panjang di antara kami.

dia menceritakan sesuatu –yang sebenarnya cukup pribadi, dan dengan demikian aku memutuskan untuk tidak menuliskannya di sini– tapi pada dasarnya yang kukatakan adalah bahwa tidak selalu apa yang kita rasa kita pahami adalah sesuatu yang sama dengan yang dipahami oleh orang lain. juga bahwa pada dasarnya manusia hidup dengan berusaha saling memahami tanpa benar-benar bisa melakukannya dengan baik, tapi setidaknya kita berusaha, entah apakah itu hal yang cukup atau tidak.

lewat jam delapan malam, pada akhirnya sudah waktunya kami berpisah juga. masing-masing dari kami masih bekerja keesokan harinya, dan untukku masih ada perjalanan panjang setelahnya.

“kamu mau mengantarku sampai halte?”

aku mengiyakan. kami masih mengobrol beberapa lama sampai dia mendapatkan bus, baru kemudian aku pergi ke sisi lain gedung untuk berangkat dari halte yang berbeda.

 

/4

di dunia yang terhubung seperti ini, perbedaan jarak dan waktu tiba-tiba terasa seperti sesuatu yang sedikit banal. sedikitnya kita saat ini hidup di masa ketika pesan-pesan berlalu-lalang dengan derasnya, entah itu dalam 140 atau 500 karakter atau mungkin lebih, entah via media sosial atau surat elektronik atau yang lain.

aku sedang memilah pesan-pesan yang baru sempat kulihat setelah aku terhubung ke internet, ketika seseorang menyapa dan mengirimkan pesan yang terpisah jarak beberapa ribu kilometer.

ini adalah seorang gadis yang dengan hiperbola bisa mengatakan bahwa dirinya lebih kuat daripada seratus laki-laki. sekali waktu dia mengatakan bisa bertahan dari nuklir, yang dengan ringan kutanggapi bahwa itu kira-kiranya mirip seperti kecoa. tentu saja kecoa sekalipun bisa bertahan cuma dari radiasi nuklir, bukan kalau tertimpa bomnya sendiri — kalau seperti itu sih, lewat saja deh.

tentu saja aku bercanda, dan jelas dia juga tidak mengatakannya secara harfiah. kadang kalau kupikir-pikir lagi kurasa kata-katanya itu bukannya tidak ada benarnya, sih.

“aku mau tanya sesuatu dong,” katanya setelah aku mendapatkan jawaban balik beberapa lama kemudian.

seperti biasa, obrolan kami tidak jauh dari soal tentang problem-problem dan kemungkinan-kemungkinan. tentang apa-apa yang ingin dilakukannya, sedikit atau banyaknya kendala, dan apa yang harus dilakukan terkait keadaan-keadaan tersebut.

aku tidak tahu apakah apa yang kukatakan pernah atau akan cukup membantu, tapi setidaknya aku hanya mengatakan apa yang kira-kira kupahami dan akan kulakukan untuk keadaan yang diceritakannya. kemudian hal-hal lain, beberapa sedikit pribadi, dan mendekati akhir pembicaraan dia menanyakan sebuah pertanyaan sederhana tentang sesuatu yang menyangkut keadaanku.

“kelihatannya bagaimana?” aku balik bertanya.

dia mengatakan apa yang kira-kira dipahaminya tentang keadaanku, tapi kukatakan bahwa aku memutuskan untuk tidak menjawab. itu termasuk hal yang tidak ingin kuceritakan, dan setelah beberapa baris obrolan kemudian kami saling pamit.

aku masih memandangi layar untuk beberapa lama setelahnya.

 

/5

kotak surat. sebuah artefak, sebuah peninggalan, sebuah masa lalu.

di masa lalu, orang mengirimkan kabar dan berita dengan saling bertukar surat. pada siang menjelang sore, misalnya, ketika kesibukan masing-masing selesai pada suatu hari dan orang-orang beranjak pulang, sebelum memasuki pintu mereka biasanya akan melihat apakah penanda di kotak dinaikkan — artinya, ada surat baru datang. di lain hari, dan seringnya seperti itu, penanda tetap turun dan kita bisa mengatakan bahwa tidak ada surat untuk hari itu.

tentu saja di masa tersebut orang bisa kuatir bahwa suratnya tidak sampai. atau hilang di perjalanan, atau rusak karena kehujanan. bagaimanapun kurasa itu juga bagian dari hal-hal yang dihadapi oleh orang-orang di masa lalu, masing-masing dengan kekurangannya, masing-masing dengan romantismenya.

.

saat ini belum jam lima pagi, dan entah kenapa aku sedang tidak ingin tidur selepas subuh. ini hari Minggu, jadi apapun yang akan kulakukan kurasa tidak masalah. di hari seperti ini tidak ada kewajiban untuk bekerja, jadi akhirnya yang kulakukan hanya duduk di depan papan ketik dan mencoba menulis kembali setelah sekian lama.

sudah agak lama sejak terakhir kali aku benar-benar meluangkan waktu untuk menulis. sudah lebih lama lagi sejak aku meluangkan waktu untuk menulis untuk diri sendiri. aku menyeruput kopi dari cangkir yang sudah sempat kupersiapkan sebelumnya, mencoba tidak memikirkan tentang banyak hal yang terjadi –atau juga apa-apa yang tidak terjadi– dari semuanya belakangan ini.

tak tik tak tik tak tik tak tik.

aku memandangi layar sementara papan ketik berbunyi dengan derasnya. rasanya sudah lama sekali sejak terakhir kali aku bisa mendengarnya dengan jelas seperti ini.

terlambat membangun dam, ya. atau mungkin malah jebol duluan.

kata demi kata yang lain berlalu dengan cepatnya. mencoba tidak mempedulikannya, kata-kata lain beradu di layar, sesekali yang agak sering hanya berumur pendek — tertulis, salah, segera menghilang lagi.

ada hal-hal yang lebih baik dilupakan saja, tidak perlu diingat-ingat lagi…

kata-kata lain sekilas datang dan segera menghilang lagi mengingatkanku pada kosa kata bahasa Inggris yang kuingat: ephemeral. sesuatu yang pada dasarnya rapuh, sekilas menghilang, tidak berumur panjang.

aneh kurasa, bahwa kenangan itu seperti keran. terbuka sedikit saja, dan semua langsung mengalir dengan derasnya…

.

hari sudah mulai terang. subuh sudah lewat, pagi sudah datang menjemput, dan sayup-sayup di latar belakang aku mendengar James Morrison dan Nelly Furtado. denting gitar saling bersahut-sahutan dengan suara masing-masing sebelum akhirnya semakin naik ke dalam refrain yang terasa akrab di telinga.

oh the truth hurts, and lies worse
how can I give any more,
when I love you a little less than before?

sebuah crescendo sebelum kemudian berakhir dalam sepi, menarik-narik kenangan dari yang seharusnya sudah hilang.

aku mencoba mengingat-ingatnya lagi. banyak hal yang terjadi dan tidak terjadi, semua yang bisa dan sudah dilakukan, dan dengan semuanya itu seharusnya aku tidak ingin lagi memikirkan tentang apa-apa yang kuinginkan setelahnya.

seharusnya, tapi kurasa sedikitnya aku berbohong kalau aku mengatakan bahwa aku sama sekali tidak menginginkan apa-apa lagi. mungkin, setidaknya sedikit, tapi bukankah kita juga tidak selalu punya dengar pada setiap kata, jangankan pula jawab untuk setiap tanya?

let me hold you for the last time,
it’s the last chance to feel again…

memandang ke kotak surat untuk terakhir kalinya, aku menutup layar dan meninggalkan catatan yang masih dan sedang akan kurapikan kembali. mungkin nanti, mungkin setelah ini.

kurasa hari ini akan turun hujan.

11 Comments