tentang bullying dan apapunlah

sebagai seseorang yang (dulunya) tidak punya cukup hal untuk dibanggakan, saya sering merasa agak bisa memahami ketika melihat atau mendengar fenomena yang sebenarnya purba ini di sekitar saya. iya, ini tentang bullying. atau penindasan, atau apapunlah istilahnya. intinya sederhana sih, sekelompok orang merasa lebih kuat dan hebat lalu mengerjai individu atau sekelompok lain yang kelihatannya lebih lemah dan tidak berdaya. kira-kira begitulah, anda yang pernah duduk di bangku sekolah seharusnya cukup akrab dengan hal ini.

bukan berarti saya lantas jadi serba mengerti soal ini, tapi anggap saja setidaknya saya punya alasan sendiri untuk merasa agak paham sehingga bisa sedikit berempati, sehingga untuk kali ini jadilah saya menulis tentang hal ini.

pada dasarnya begini. hal yang saya pahami adalah, anda hanya bisa dikerjai hanya ketika anda lebih lemah dan anda menunjukkannya –entah sadar atau tidak– kepada mereka yang lebih kuat atau lebih kaya atau lebih cerdas dan pada dasarnya punya niat untuk mengerjai anda. percaya atau tidak, anda tidak akan dikerjai kalau anda cukup kuat dan cukup cerdas untuk mempertahankan diri anda.

bullying adalah tentang ketidakpercayaan akan diri sendiri yang dilampiaskan kepada mereka yang dianggap tidak setara. kalau anda merasa bahwa diri anda tidak setara sehingga bisa dan layak dikerjai, mohon maaf, mungkin memang seperti itulah keadaannya.

mungkin berat, juga dengan lingkungan yang tidak selalu mendukung. tapi kalau saya boleh mengatakan, maaf, anda bisa dikerjai sebagiannya juga karena anda membiarkan diri anda dikerjai.

.

saya ingat satu episode di serial TV lama Sliders di mana Quinn Mallory pergi ke masa lalu dan bertemu dengan dirinya waktu SMP. ceritanya agak panjang, tapi pada intinya Quinn kecil dulu sering dikerjai karena usianya berbeda agak jauh dari teman-teman sekelasnya –di ceritanya disebutkan dia loncat dua kelas, jadi ya itu hal yang wajar juga sih– ditambah pula ayahnya meninggal tak lama kemudian, jadi yah…

nah, hal yang menarik di sini adalah ketika Quinn dewasa bertemu dengan Quinn kecil, yang dilakukannya bukanlah mengintervensi atau menggunakan kewenangan sebagai orang dewasa untuk menghentikan para bully yang sedang mengerjai dirinya waktu kecil tersebut. tentu saja ini jadi menghasilkan drama sih, memangnya apa enaknya melihat diri masa lalu dikerjai dari sudut pandang orang ketiga?

hal yang dilakukannya kemudian adalah mengajari Quinn kecil untuk bisa membela diri dengan menggunakan tangan sendiri. latihan fisik, kemudian belajar menggunakan tinju. tetap saja bukan hal yang sederhana, sih.

.

saya sering mengatakan bahwa adalah hal yang berbeda antara menjadi ‘baik’ dengan menjadi ‘anak baik-baik’. bukan berarti salah satu jadi tidak benar, tapi sejujurnya kadang memang ada hal-hal yang tidak bisa sesuai keinginan kita. bahwa dalam suatu masa dalam perjalanan kita, ada saatnya kita perlu berdiri, bersikap, dan menjadi lebih kuat — fisik, mental, spiritual, prestasi, yang manapun yang anda butuhkan.

mungkin anda akan sedikit dimusuhi (ngomong-ngomong, peer pressure di lingkungan anak-anak dan remaja itu bisa tinggi sekali, lho). atau sedikit dijauhi, atau mungkin juga sedikit babak-belur. tapi percayalah, ini sesuatu yang kadang-kadang perlu; setidaknya anda bersikap dan anda memaknai kedaulatan anda terhadap diri anda. kok macam kedaulatan negara? ya iyalah! diri anda itu hak dan properti anda yang tidak boleh diinvasi seenaknya, itu kan hal yang cukup jelas.

tentu saja akan menyenangkan seandainya manusia selalu bisa saling berdampingan dengan damai, dan ada saatnya kita perlu bersyukur bahwa setidaknya seperti itulah yang bisa dan biasa kita alami untuk sebagian besar keadaan. tapi di sisi lain, suka atau tidak, akan selalu ada mereka yang merasa lebih kuat dan ingin menindas yang dirasanya lebih lemah. dan suka atau tidak, tidak banyak hal yang bisa dilakukan soal itu.

jadilah lebih baik. lebih kuat. lebih kaya. lebih cerdas.

bisa?

___

(tulisan ini terinspirasi dari status message manusiasuper di Facebook, 4 Mei 2012.)

2 Comments