tentang (di)salahpaham(i)

“I think I have come to the phase of trying not to really care when people misunderstand things about me. it’s not really convenient, but then again attempts to make it right are useless. still it’s a little sad, that part of life.”

___

sejujurnya, mungkin ada benarnya kalau ada yang mengatakan bahwa saya ini tipe yang gampang disalahpahami. arogan, dingin, sedikit angkuh, kurang bisa memahami orang, tidak peka lingkungan, mungkin ada juga beberapa yang lain, tapi pada dasarnya kira-kira seperti itulah.


‘No More Nice & Kind…’ okay, not really. dari salah satu T-shirt di rumah.
 

walaupun kalau bisa sampai ada yang bilang begitu, bisa jadi ada benarnya juga, kan. sebagai manusia, kita hidup dengan saling bercermin kepada yang lain. jadi tentu saja kalau ada orang yang mengatakan bahwa saya cenderung angkuh atau dingin atau kurang peka, itu kan termasuk hal-hal yang mau tidak mau harus jadi bahan introspeksi juga buat saya. bisa jadi ada benarnya, entah banyak atau sedikitnya.

tentu saja apakah pandangan yang terlihat di luar adalah sama dan sebangun dengan apa yang ada di dalam, itu urusan yang berbeda.

.

dulu saya berpendapat bahwa pandangan orang terhadap saya terbentuk dari apa yang saya bentuk dalam diri saya. jadi, ya, kalau saya punya sifat yang buruk atau setidaknya kurang baik, orang akan memandang saya dengan buruk atau kurang baik pula. dengan demikian, saya jadi punya ekspektasi terhadap diri sendiri dan sudut pandang orang lain tentang saya. sebisa mungkin saya tidak ingin disalahpahami, dan kalaupun sampai ada, saya ingin bisa meluruskannya.

tapi seiring jalan, rasanya kok semakin lama semakin tidak mudah, ya. maksud saya begini; sebisa apapun saya menilai dan berusaha memperbaiki diri untuk tidak punya niat atau sifat buruk, yang kelihatan di luar ternyata tidak selalu seperti itu. sesuatu yang, sejujurnya, juga bukan hal yang menyenangkan buat saya.

dulu saya tergolong pendiam, minder, dan tidak percaya diri. bukan hal yang nggak lumrah juga sih, kalau anda pernah ketemu saya dulu juga mungkin tidak akan menganggap saya biasa-biasa amat. aneh deh pokoknya. maka saya cenderung dianggap tidak bisa bersosialisasi, kalau bicara susah dimengerti, dan cenderung susah untuk terbuka kepada orang lain.

saya dianggap aneh, misalnya, itu sesuatu yang bukan tidak biasa.

sekarang ini, ada hal-hal yang syukurnya agak lebih baik untuk saya. saya yang sekarang berbeda dengan yang dulu; ada hal-hal yang bisa saya lakukan dengan baik, dan saya punya kepercayaan diri akan kemampuan dan keadaan diri saya sendiri. saya merasa lebih percaya diri, saya merasa lebih terbuka untuk jujur dan blak-blakan serta sebisa mungkin apa adanya.

saya dianggap arogan, misalnya, itu juga bukan sesuatu yang tidak biasa.

bukan hal yang selamanya nyaman. tapi entah sejak kapan, saya tidak lagi terlalu ingin memusingkan pendapat orang lain tentang diri saya. kalaupun saya disalahpahami, saya ingin meluruskan hanya semampu dan semau saya saja. karena, ya, buat apa? pada akhirnya saya jadi capek sendiri. saya capek menjelaskan apa sebenarnya niat dan keinginan saya, dan pada akhirnya sering tidak ada gunanya. pandangan orang tentang saya toh tak selalu bisa diubah, sementara hal ini tidak selalu berkorelasi dengan niat dan keinginan saya.

pada akhirnya yang tersisa buat saya cuma ruang untuk introspeksi. pelan-pelan mencoba memperbaiki, entah ke arah mana dan bagaimana, tapi saya tidak lagi ingin memikirkan kesalahpahaman orang tentang niat dan keinginan saya.

mungkin ada benarnya saya cenderung dingin, arogan, kurang berperasaan. mungkin ada benarnya saya punya ketertarikan dan minat yang agak tidak biasa, dan dengan demikian jadi susah nyambung. terus kenapa? pada akhirnya orang-orang akan selalu punya pendapat tentang saya. entah benar atau salahnya.

mungkin pada akhirnya saya cuma membiasakan diri dengan sudut pandang orang tentang saya. sambil mencoba memperbaiki yang kurang pas, mencocokkan yang kurang tepat —hal-hal yang pada dasarnya tidak ada rumusnya.

.

‘kalau kamu merasa berbuat salah, minta maaf,’ demikian salah satu pelajaran yang saya ingat. kadang saya membuat kesalahan, dan dengan demikian saya harus mengungkapkan permintaan maaf yang perlu. itu hal yang wajar.

‘kalau kamu membuat kesalahan, perbaiki,’ demikian pelajaran yang lain. untuk setiap kesalahan, selalu ada pelajaran dan upaya yang bisa dilakukan untuk perbaikan. lakukan untuk diri sendiri, bukan untuk orang lain.

seberapapun sedikitnya yang bisa saya lakukan.

di sisi lain orang-orang akan terus memandang saya. dengan kelebihan dan kekurangan dan segala yang terpersepsi dari diri saya, baik dan buruknya, selalu ada saatnya bahwa saya tetap dan akan selalu disalahpahami.

bukan sesuatu yang selamanya nyaman. tapi, yah, ada hal-hal yang harus dibiasakan saja, kan.

2 Comments

  1. April 3, 2013 at 8:01 pm - link to this comment

    Kalo dibandingkan, seberapa sering kemungkinan orang yang salah paham dengan yang cepat menyesuaikan (lebih santai) kalo ketemu kamu? Anggaplah situasi baru kenal (meskipun sering ketemu).

    Ada pola kalimat yang dulu sering sekali saya dengar di dunia nyata: “kamu ternyata kalo ngobrol asyik juga ya orangnya? Dulu waktu belum kenal, takut liat kamu. Kesannya dingin banget…” 😐

    Well…

  2. April 3, 2013 at 8:38 pm - link to this comment

    nggak selalunya masalah baru kenal dan salah-prasangka juga sih (walaupun ya itu termasuk juga). pada dasarnya berlaku umumlah, baik itu buat yang sudah kenal-lama-ketemu-lama maupun baru-kenal-baru-ketemu maupun kenal-lama-baru-ketemu.

    walaupun bukan nggak bisa juga ada orang sudah kenal agak lama dan punya ide yang mungkin tidak sepenuhnya tepat. ada juga orang yang baru kenal tapi bisa jadi punya gambaran yang lebih cocok. banyak faktornya sih.

    toh pada akhirnya kita nggak bisa bikin semua orang senang dengan kita. nggak bisa juga bikin semua orang paham apa yang sebenarnya kita mau dan kita pikirkan. namanya hidup, ya memang seperti itu, kan. 🙄