kenapa MECE?

kalau ditanya soal judulnya, saya bisa cerita agak panjang, bikin bosan, mungkin teoretis, soal apa dan bagaimana konsep ini digunakan pada perusahaan konsultansi untuk keperluan problem solving dan seringnya diintegrasikan dalam peningkatan mutu proses terkait kegiatan bisnis…

atau bahwa topik kali ini adalah MECE, atau ‘mutually exclusive, collectively exhaustive‘, konsep yang diperkenalkan oleh para konsultan di McKinsey (and Co.) sekitar dekade lalu…

…atau, saya bisa menulis dengan gambar-gambar dan studi kasus yang lebih membumi saja. ya sudahlah ya.

ngomong-ngomong, ada yang pernah dengar tentang MECE? 😉

.

baiklah, mari kita mulai. pertanyaan pertama: MECE itu apa, sih?

istilah ‘MECE’ di sini adalah singkatan dari ‘mutually exclusive, collectively exhaustive‘. pada dasarnya, MECE adalah pendekatan dalam mengklasifikasikan hal-hal ke dalam sebuah daftar yang komprehensif.

kalau diomongin kok bikin bingung, ya. mari kita lihat saja contoh di bawah. bayangkan diri anda sebagai sebuah pemilik bisnis toko cemilan sederhana. dan sebagai sebuah bisnis yang sewajarnya, toko anda punya daftar produk yang harus dijual. anda harus mengelompokkan produk apa masuk ke kelompok mana, dan kalau penjualannya seperti apa akan dicatatkan ke mana.

nah, MECE adalah tentang bagaimana anda menyusun daftar tersebut untuk bisnis anda.

 

contoh klasifikasi MECE. misalkan anda punya bisnis toko cemilan, produk harus diklasifikasikan supaya tidak sampai ada barang yang tidak masuk ke mana-mana atau satu barang ke lebih dari satu kategori.

 

MECE terdiri atas dua komponen, yaitu (1) mutually exclusive, dan (2) collectively exhaustive. nah, ini benda apa lagi sebenarnya? mari kita telusuri satu per satu.

pertama, mutually exclusive. artinya, setiap item (bisa barang, atau konsep, atau apapun) dalam daftar pada berbagai level hirarki harus saling unik. dengan kata lain, tidak boleh ada anggota dalam daftar yang saling beririsan. kedua, collectively exhaustive. yang artinya, apabila semua item digabungkan, maka kita akan mendapatkan sebuah daftar yang bersifat menyeluruh dan mengandung semua anggota himpunan.

contohnya, mari kita lihat diagram di atas. daftar ‘kue rebus’, ‘kue kukus’, ‘kue goreng’, dan ‘kue panggang’ di sini masing-masingnya adalah mutually exclusive. kenapa begitu? karena masing-masing anggotanya tidak beririsan. pada saat yang sama, mengasumsikan semua jenis kue berada pada diagram, daftar tersebut juga collectively exhaustive. kenapa pula begitu? karena ketika jumlahan semua daftar  ‘kue rebus’, ‘kue kukus’, ‘kue goreng’, dan ‘kue panggang’ digabungkan, kita memperoleh himpunan seluruh kue yang dijual di toko cemilan anda.

dari diagram di atas juga dapat diperhatikan bahwa masing-masing jenis kue terhubung pada tepat satu kelompok dalam daftar. masing-masing kelompok kemudian membentuk kelompok besar yang saling independen, namun ketika digabungkan jumlah kesatuannya meliputi seluruh kue yang dijual.

inti dari MECE adalah bahwa masing-masing kelompok dalam daftar harus saling independen pada berbagai level hirarki. jadi berdasarkan contoh toko cemilan anda tadi, daftar pada diagram berikut tidak memenuhi pendekatan MECE:

 

contoh klasifikasi non-MECE. produk yang diklasifikasikan diambil dari contoh kasus toko cemilan anda di atas tadi.

 

kenapa daftar di atas tidak memenuhi standar MECE?

pertama, daftar tersebut tidak mutually exclusive. karena ada satu item, yaitu kue lepet masuk ke kelompok yang menggunakan ketan. tapi pada saat yang sama, kue lepet tersebut juga masuk ke kelompok yang perlu dibungkus daun. ada overlap di sini.

kedua, daftar tersebut juga tidak collectively exhaustive. pada diagram, sebagai contoh kue bolu kukus tidak termasuk ke dalam kelompok mana-mana, padahal seharusnya termasuk dalam produk yang dijual toko anda. demikian juga ketika dijumlahkan seluruh gabungannya, daftar tersebut masih belum meliputi seluruh jenis kue yang dijual di toko cemilan anda.

kira-kira seperti itulah MECE: klasifikasi dan pendaftaran konsep dan barang-barang sedemikian hingga masing-masing kelompok independen dari yang lain, dengan penggabungan seluruh kelompok akan memberikan sebuah himpunan yang menyeluruh.

.

nah, sampai di sini mungkin makes sense. tapi kemudian timbul pertanyaan: kenapa harus diklasifikasikan seperti itu? memangnya tidak bisa kalau tidak seperti itu? warung tetangga saya juga  jualan kue nggak pakai MECE kok!

pertanyaan bagus. dan jawabannya, ya memang bisa. tapi di sini keuntungan dalam penggunaan MECE justru bukan dari segi operasional atau pelaksanaan bisnis anda; keuntungan di sini baru terasa ketika anda perlu melakukan konsolidasi dan analisis terhadap proses yang sudah atau sedang berjalan.

misalnya, suatu ketika anda sebagai pemilik bisnis cemilan kepikiran pertanyaan berikut:

harga gula naik. eh, ini gimana nasib bisnis kue saya dong? saya harus ngapain?

mari kita lihat kembali diagram di atas. sekarang, misalnya, diberikan keterangan dengan data tambahan penggunaan bahan baku gula dan pendapatan dari masing-masing jenis kue. tentu saja data ini diperoleh berdasarkan pencatatan yang dilakukan untuk setiap transaksi dalam bisnis toko cemilan anda.

 

diagram pertama tadi, dengan tambahan data. MECE-wise, model konsumsi gula per jenis kue saling independen untuk memperoleh persentase keseluruhan toko. (angka untuk ilustrasi)

 

dengan klasifikasi model MECE, kita bisa melihat bagian-bagian mana saja dari bisnis kue yang menggunakan gula, bahan baku yang mengalami kenaikan harga. dan karena masing-masing jenis produk saling independen dan tidak ada overlap, kita bisa memperhitungkan dari skala 0-100% terkait dampak dari perubahan harga bahan baku untuk masing-masing jenis kue yang dijual di toko anda.

kalau dari diagram di atas, polanya langsung kelihatan:

oh, ternyata jenis kue kukus di sini yang memakai banyak gula. jumlah penjualan bagus, tapi tidak luar biasa seperti kue goreng model combro atau rengginang.

kalau begitu kurangi dulu beli gula, sementara ini kurangi produksi kue kukus. nanti kalau ada perubahan harga gula kita pikirkan lagi.

sampai di tahap ini, sebenarnya yang dilakukan dengan MECE adalah klasifikasi untuk melakukan isolasi terhadap variabel-variabel, sehingga pada proses analisis kita dapat memperkirakan bagian mana saja dari bisnis toko kue, misalnya, yang terimbas kenaikan harga bahan baku. sisanya tentu saja tergantung kepada proses analisis dan pencatatan, tapi di sini MECE berperan sebagai alat bantu yang memudahkan fungsi analisis.

nah, kemudian, setelah panjang lebar dan mungkin tidak selalu mudah dipahami tadi, mungkin ada juga komentar berikut:

“hah. ribet. dasar mahasiswa alumni kampus kebanyakan teori! memangnya saya nggak bisa mengambil keputusan bisnis soal toko saya tanpa pakai MECE, hah? HAH?!” 😆

nah, kalau yang ini sih sederhana saja, pertanyaan apa itu. ya tentu saja bisa dong ah. bisnis kan tentang apa yang anda lakukan dan pikirkan, bukan bagaimana anda melakukan dan memikirkan kegiatan bisnis anda. :mrgreen:

tapi di sini, bottom line-nya adalah bahwa seperti halnya banyak paradigma lain, pada dasarnya MECE cuma sebuah framework, alat bantu untuk memudahkan proses analisis dan pengambilan keputusan yang terstruktur.

tentu saja juga tidak berarti bahwa MECE adalah pendekatan yang selamanya applicable untuk segala hal atau bahkan tidak punya kekurangan. ada juga keadaan-keadaan di mana MECE sangat tidak applicable, tapi itu cerita lain untuk saat ini.

pendapat saya? MECE itu ya cuma bagian dari teknik dan alat bantu saja. cuma perlu digunakan pada saat yang tepat dengan cara yang tepat, itu saja kok. 😉

4 Comments

  1. April 27, 2013 at 6:21 pm - link to this comment

    ngomong-ngomong, sedikit latar belakang untuk tulisan ini:

    (1)
    saya sedang kelemparan tugas dari tetangga. sebut saja chiil bukan nama sebenarnya, nama aslinya sih Mamat, eh, Matilda, yang dengan isengnya bilang menunggu saya kultwit soal MECE.

    hah. kultwit? gak seru. mending ditulis beneran, deh. 😆 #plak

    (2)
    next on: MECE untuk policy dan decision-making, serta kenapa kita tidak perlu menggunakannya. tapi gak janji, nulisnya kapan-kapan, ya. :mrgreen:

  2. April 27, 2013 at 7:48 pm - link to this comment

    Wah contohnya seruu~
    konsep MECE ini menurutku bener2 keren & helpful. Yang ngajarin aku konsep MECE juga kebetulan ex-McKinsey. Mestinya sih perumusan UU di Indonesia pake MECE ya, biar ga multitafsir kaya sekarang :)))
    duh jadi laper.. *ngremus klepon*

  3. May 21, 2013 at 3:41 pm - link to this comment

    Baru kali ini belajar ginian. Merasa bego baca ginian.. 🙄

    Bagus sih. Rikuesnya M ya.. 🙂

  4. May 25, 2013 at 11:37 am - link to this comment

    iya, request-nya mamat. lagian tuh anak iseng juga sih nantangin beginian, jadinya ditulis beneran, kan. :mrgreen: