pacific rim

ketika pertama kali mendengar tentang rencana penggarapan film ini serta melihat-lihat desain dan konsepnya, mau tidak mau saya sedikit penasaran bagaimana film ini akan dieksekusi: robot-robot raksasa berhadapan dengan monster-monster raksasa dalam konteks perang kolosal, jelas bukan hal sederhana maupun murah untuk bisa diracik menjadi sebuah tontonan yang memukau.

perkenalkan Pacific Rim, salah satu proyek ambisius kolaborasi sutradara Guillermo del Toro dan Warner Bros yang dirilis pada Juli 2013.

 

Pacific Rim, 2013. courtesy Warner Bros and Legendary Studio

Bumi di masa depan adalah medan pertempuran. makhluk asing berupa monster-monster raksasa tiba-tiba muncul melalui portal di retakan dasar Samudera Pasifik, menghancurkan kota-kota di seluruh dunia. monster-monster ini dikenal dengan nama Kaiju (= ‘monster’).

dalam upaya bertahan menghadapi gelombang serangan Kaiju, manusia mengembangkan senjata berupa mesin-mesin tempur humanoid raksasa yang dikenal sebagai Jaeger (= ‘pemburu’). masing-masing Jaeger dikendalikan oleh dua pilot dengan gelombang pikiran yang saling tersinkronisasi.

sementara para Kaiju terus bermunculan dari Samudera Pasifik, para Jaeger dan pilot-pilotnya menjadi harapan terakhir manusia untuk bertahan, dengan keadaan yang semakin hancur-hancuran seiring dengan berlalunya setiap pertempuran…

.

memasuki awal sampai tengah film, beberapa pemirsa mungkin akan dengan cepat menyadari kentalnya pengaruh Jepang dalam film ini, terutama beberapa konsep yang mungkin mengingatkan dari beberapa judul seperti Neon Genesis Evangelion atau Godzilla. robot raksasa dengan pilot yang tersinkronisasi, demikian juga monster-monster raksasa dan pertempuran skala besar bukan ide yang sepenuhnya baru kalau kita memandang dari karya-karya produksi negeri sakura.

tapi, cukup sampai di situ saja. dengan kemiripan dan paralel tersebut, film ini tidak lantas terjebak menjadi replika Jepang-buatan-Amerika —jauh dari itu! Pacific Rim tampil bernas dan kreatif, dengan pendekatan yang lebih realistis dan edgy dibandingkan pantaran Jepangnya. hasilnya, kombinasi unik dengan rasa yang orisinil tanpa meninggalkan akar sumber inspirasinya.

secara teknis, film ini tergolong gerak-cepat untuk masuk ke inti cerita. premis dan latar belakang yang meliputi konsep-konsep seperti Kaiju dan Jaeger serta sistem dua-pilot disajikan di bagian awal, dan setelahnya, aksi dan ledakan-ledakan nyaris tanpa henti dengan dukungan efek visual yang dapat dikategorikan luar biasa.

begitulah, efek visual film ini memang luar biasa. adegan pertempuran masing-masing Jaeger ketika berhadapan dengan para Kaiju menjadi nilai jual utama film ini: kolosal dan luar biasa! masing-masing pertempuran baik di tengah kota sampai ke dasar laut, semua disajikan dengan luar biasa dan berhasil memberikan pengalaman menonton yang intens.

di sisi lain, storytelling film ini tergolong tipikal, kalau tidak bisa dibilang linear sih. secara umum eksekusi plot point tergolong rapi, masing-masing subplot dituntaskan dengan cukup baik di akhir cerita, walaupun ya tidak sampai benar-benar istimewa apalagi luar biasa.

lain-lainnya, apa lagi ya? musik lumayan, walaupun di beberapa bagian mungkin agak repetitif. karakter seperti Chuck Hansen potensial kompleks tapi seperti kurang tereksplorasi, sementara Gottlieb serta Newton Geiszler —walaupun dengan peran penting sebagai plot device— akhirnya seolah jatuh menjadi sebatas comic relief.

pada akhirnya, visual yang luar biasa berikut eksekusi yang orisinil menjadi nilai tambah film ini. aspek lain-lain seperti storytelling dan karakterisasi sayangnya tidak terlalu menonjol walaupun tidak sampai menjadi cacat, tapi secara umum film ini berhasil dengan baik dalam menyajikan pengalaman tersendiri pada kelasnya sebagai tontonan dengan genre science fiction.

bukan selera semua orang, mungkin. tapi untuk anda pemirsa yang mencari tontonan fiksi ilmiah dengan action dan efek visual yang lebih dari cukup luar biasa, film ini sangat layak direkomendasikan.

4 Comments