kamu, bintang jatuhku. sekali dulu.

“masa lalu itu ada buat jadi cermin. kamu bisa memandang ke baliknya, tapi tidak melangkah ke dalamnya.”

___

 

/prolog
. . . sepotong kertas berbentuk persegi

sore ini, aku sedang mengeluarkan dan mensortir isi ransel dan hal-hal yang berada di dalamnya —kartu asuransi dari tempat kerja, berkas penilaian, amplop dan tagihan lama— ketika sebuah potongan kecil tampak menarik perhatian.

ah, ini… sebuah potongan kecil kertas berbentuk persegi. bicara sesuatu yang sempat sedikit istimewa, dulu, tapi kurasa aku akan sedikit cerita saja soal ini.

bukan apa-apa. cuma sepotong tiket nonton film di bioskop, suatu saat sekali dulu.

nah, sekarang anda tahu akan ke arah mana cerita ini…

 

/1

kalau dibilang ‘kencan pertama’, mungkin bisa dibilang seperti itu. kalau dibilang ‘cuma ketemu makan bareng’, ya mungkin bisa dibilang seperti itu juga. maksudku, tergantung definisi, sih. kalau ‘pergi berdua di hari Sabtu’ itu bisa dianggap ‘kencan’, ya barangkali ada benarnya.

tapi, ya, terserahlah. klasifikasi dan penggolongan itu agak bikin pusing kadang-kadang.

“sushi bar itu, ada filosofinya.”

“apa itu?”

“hidup itu kayak makan di sushi bar. nah, kalau ada piring lewat yang kita mau, langsung ambil deh. kalau kebanyakan mikir, ya lewat.”

“kesempatan nggak datang dua kali, begitu?”

kami sedang berada di restoran dan menghadap ke ban berjalan yang menyajikan berbagai jenis sushi —salah satu jenis makanan Jepang— dalam piring-piring kecil. di tempat seperti ini, pengunjung mengambil sesuai kebutuhan dari ban berjalan, sementara pesanan khusus bisa dimintakan ke pelayan lewat menu yang disediakan.

“nah itu. enggak juga. protip-nya sih kalau udah kelewat, ya udah. tapi kalau masih mau, tungguin aja. nanti juga lewat lagi kok. kalau masih lewat sih. makanya, jangan kebanyakan mikir, ya begitulah.”

“bukannya itu kamu, ya?” dia tertawa. “kamu tuh kebanyakan mikir, makanya jadinya nggak jalan-jalan!”

aku ikut tertawa. dipikir-pikir lagi, mungkin iya juga, ya?

 

/2

waktu itu akhir pekan, dan kami sedang saling berkirim pesan pendek lewat telepon genggam.

“kalau secara probabilitas sih, santai saja. di sana ada tiga studio, dua buat 3D. sekarang kan masih siang, ada jadwal sebelumnya. distribusi kursi kosong akan masih banyak buat nanti sore.”

seseorang —atau lebih tepatnya seorang gadis yang kurasa anda sudah bisa mengira-ngiranya— di ujung lain telepon cuma mengirimkan sebuah emoticon tertawa. yang kemudian langsung kutanggapi balik;

I’m counting on you, kak!”

“kamu panggil ‘kak’ sekali lagi, aku nggak beliin tiket!”

aku cuma senyum-senyum sebelum akhirnya meletakkan ponsel dan siap-siap berangkat.

.

“aku nggak tahu kamu suka nonton film kayak begini,” kataku sambil menunggu di depan pintu teater kira-kira satu jam kemudian. “habis secara demografi kayaknya rada kurang cocok sih.”

“maksudnya?”

“memangnya sejak kapan kamu suka nonton film robot-robotan berantem segede gunung?”

“aku sih sekalian nonton film sebelumnya tadi. penasaran juga, katanya seru sih. lah terus kamu sendiri kenapa?”

“sudah jelas, kan,” aku menukas. “robot-robotan gedeeee! segede gunuuuung!”

dia cuma tertawa, dan kami masih menunggu beberapa saat lagi sampai pintu teater akhirnya dibuka.

tapi serius, memangnya apa yang aneh, sih. maksudku, robot-robot sebesar gunung di layar itu alasan bagus untuk nonton film, kan?

iya, kan?

 

/3

“aku suka tempat ini,” kataku. “kalau duduk di sini, kita bisa memikirkan apa saja yang kita mau, bengong, dan tidak akan ada yang menganggap aneh.”

saat itu kami sedang berada di gerai kopi. aku mengambil tempat di sisi tembok dekat jendela, dia mengambil tempat di sebelahku sambil melihat-lihat penasaran.

“aku tahu, buatmu mungkin hal seperti ini aneh. tapi dasarnya kan kita memang berbeda sih,” kataku sambil tertawa, “tapi mungkin kita memang perlu lebih banyak ngobrol.”

kurasa aku belum mengatakan bahwa kami… sangat berkebalikan. kalau bisa dibilang seperti itu sih. ‘antitesis’, mungkin kata yang tepat, ya.

maksudku, kalau aku mengatakan bahwa aku ini cenderung pendiam dan tidak banyak bicara barangkali agak sedikit dingin dan kurang ramah (baiklah, baiklah), maka gadis di sebelahku ini… cantik ramah menarik, hangat cerah ceria dan bersahabat. tipe yang mudah disukai banyak orang, kira-kiranya sih.

apa, bumi dan langit? mungkin lebih tepatnya bulan dan matahari, tapi apapun itu terserahlah.

 

/4

mungkin aneh, pikirku. tapi pada akhirnya, kurasa aku paham bahwa baiknya kami memang sendiri-sendiri.

tentu saja kalau aku mengatakan seperti ini sekarang, kesannya jadi mengejutkan sekali untuk anda yang membaca sejauh ini. tapi pada akhirnya memang seperti itulah kenyataannya.

ada hal-hal terjadi… yang mungkin cukup banyak, atau tidak cukup banyak, dan pada akhirnya seperti halnya banyak hal lain dalam kehidupan, kita harus membuat keputusan. entah sederhana atau tidaknya.

karena, ya, ada hal-hal yang tidak bisa. ada hal-hal yang… karena satu dan lain hal, kurasa tidak perlu dituliskan di sini, dan sekalipun demikian dengan sadar dan paham aku bisa mengatakan bahwa keputusanku kali ini sama sekali bukan tentang logika, atau untung-rugi, atau berhitung kemungkinan-kemungkinan. sama sekali bukan tentang itu.

karena ini bukan tentang keputusan-keputusan logis. ini tentang sesuatu yang lain.

“thank you…. for everything.”

terima kasih untuk semuanya, pikirku. aku tidak bilang ini mudah, tapi ini keputusanku.

 

/epilog
. . . back to December

malam ini aku kembali mendengarkan ‘Back to December’ dari Taylor Swift. aku ingat, ini juga lagu kesukaannya dulu.

turned out freedom ain’t nothing but missing you,
wishing I’d realized what I had when you were mine

I’d go back to December,
turn around and make it all right…

tidak ada yang kusesali. tidak sekarang ini, tidak juga nanti.

tapi…

Desember, sekali dulu. sekilas senyum, selintas rindu, dan aku yang dulu bertanya pelan ragu-ragu: ‘kamu, bintang jatuhku?’

iya. kamu, bintang jatuhku. sekali dulu. dan sekarang ini, aku percaya. bahwa pada saatnya kamu akan menemukan kebahagiaan kamu, dengan jalan kamu…

selalu. karena kamu pantas untuk itu.

5 Comments