mei

aku menuliskan ini pada tanggal 14 Mei, dan untuk orang-orang yang paham tentang atau kebetulan tinggal di Indonesia, kurasa tanggal tersebut seharusnya tidak terlalu asing. untuk alasan yang tidak selalu baik, kukira.

atau lebih persisnya: 13 dan 14 Mei.

kalau kuingat-ingat lagi, setahun sebelumnya pada 1997 Persemakmuran Inggris mengembalikan Hong Kong ke Republik Rakyat Cina, dan dengan kebingungan yang meliputinya beberapa golongan warga negara memutuskan untuk pindah —setidaknya sementara— ke negara-negara tetangga termasuk Indonesia.

setahun kemudian, demonstrasi dan kerusuhan massa memanas di Jakarta, diikuti beberapa kota di tanah air. lewat bulan Mei 1998, arus perpindahan sebaliknya terjadi: sebagian golongan warga negara Indonesia memutuskan untuk pindah, setidaknya sementara, ke beberapa negara. dalam salah satu perputaran peran yang unik, Hong Kong —selain Singapura— menjadi salah satu dari sedikit tempat tujuan yang bisa dicapai oleh sebagian mereka yang memutuskan pergi.

salah satunya gadis ini.

 

“orangtuaku tetap tinggal di sini —di Indonesia— jadi cuma aku yang disuruh berangkat ke sana. jadi aku pindah sekolah.”

“memangnya bisa langsung paham bahasanya?”

aku ingat aku bertanya sedikit penasaran. maksudku, aku paham bahwa beda bahasa dalam proses belajar-mengajar itu sesuatu yang bisa menghambat benar. kuperkirakan waktu itu baru lewat beberapa pekan dari ulang tahunnya di awal usia belasan tahun, dan dengan semuanya itu kurasa itu bukan hal yang mudah atau pula sederhana.

“enggak sih. sempat sulit. sekolah juga bukan tidak mau kasih dispensasi, tapi ya mau sampai berapa lama. sekali waktu aku ke ruang guru, diberitahu kira-kira seperti itu.”

ada saudaraku tinggal di sana, katanya. tapi kan harus sekolah juga. juga harus kerja sambil bantu-bantu. sambil lalu dia menyebutkan tentang kerja sambilan mengantar pesanan nasi dan makanan Indonesia. tidak banyak, tapi lumayan untuk ditabung, demikian kira-kira ceritanya.

“wah,” komentarku. “jadi gadis desa berangkat jadi TKW—”

“HEH!”

aku tahu dia tahu aku cuma bercanda, tapi ya tetap saja dia jadi mengomel panjang-pendek. tidak apa-apa juga sih. sudah marahi saja aku, kak! marahi saja! eh…

“tapi aku jadi bisa bahasa Kanton sama Mandarin,” katanya. “kalau di Hong Kong kan utamanya pakai Kanton, tapi kalau jalan sedikit ke Shenzen, banyak pakai Mandarin.”

aku ingat sekali waktu kukatakan sambil bercanda bahwa kalau aku pergi bareng dia ke Kowloon atau Shenzen, kurasa aku tinggal tenang-tenang saja sudah punya penerjemah. bukan apa-apa, dari pengalaman aku tahu bahwa bahasa Inggris orang-orang di sana memang agak… kurang bisa diandalkan, kalau mau dibilang dengan sopan sih.

dia hanya menanggapi dengan tertawa.

 

“ada contohnya tuh, baca sendiri deh.” kataku. pada waktu yang lain kami sedang membicarakan artikel dari Harvard Business Review, topiknya terkait hasil studi di mana pengalaman dan tempaan keras cenderung berkorelasi dengan kualitas kepemimpinan secara profesional.

“yah kira-kira kayak kamu dilempar ke HK begitulah,” aku melanjutkan. “kurasa kamu bisa bertahan dari sana, dikasih apa juga sudah tahan banting sih.”

“aku juga heran, lho. kalau sekarang ini dipikir, gila ya, dulu bisa kayak begitu. kalau disuruh lagi sih nggak janji deh.”

saat itu di Jakarta, beberapa belas tahun kemudian. kalau kita memandangnya kembali, katanya, hidup di sana juga bukan senang-senang. semua ya kerja keras juga. tapi di tempat yang jauh semua jadi seperti keluarga. kurasa itu hal yang wajar dan bisa dipahami.

tapi kupikir, apa harus sebagian orang-orang pergi seperti itu lagi? bukankah pada dasarnya itu semacam eksil, terasingkan dari rumah atau kampung halaman, meskipun pada dasarnya hal tersebut dilakukan atas dasar pilihan sendiri.

… walaupun entah seberapa ‘pilihan sendiri’-nya keputusan yang diambil dari keadaan-keadaan tersebut.

karena rumahmu sebenarnya di sini, kan.

aku memikirkannya sekilas, tapi kuputuskan untuk tidak mengangkatnya jadi topik pembicaraan.

 

“tapi, itu sesuatu yang aku bersyukur. walaupun waktu menjalani memang rasanya nggak enak banget.”

demikian katanya pada akhir hari yang sibuk, pada suatu waktu yang lain lagi. aku berpikir sekilas sebelum menanggapi kata-katanya.

“kalau bisa mengulang lagi, balik ke tahun dulu, akan tetap melakukan hal yang sama?”

“iya.”

“oh begitu,” aku berusaha menjawab dengan muka datar. “jadi kalau habis ini dilempar disuruh serba sendiri lagi, masih mau?”

“eh jangan dong!”

aku ingat aku tertawa melihat tampangnya sedikit kaget seperti itu. siapa juga yang mau meninggalkan kamu sendirian sih, pikirku. tapi toh tidak kukatakan, tidak untuk saat itu.

yang akhirnya kukatakan hanya ‘pulang yuk’ singkat, dan beberapa belas menit kemudian kami berpisah di halte Transjakarta.

 

Mei, 2015. kalau diperhitungkan dari saat ini, kira-kira sudah hampir dua puluh tahun berlalu dari dekade sembilanpuluh-akhir. waktu berlalu dan kita juga berubah, tempat kita tinggal tumbuh dan berkembang juga. dan dengan segala kekurangan dan perbaikan-perbaikan yang menyertainya —walaupun kadang bisa jadi terasa tidak cukup cepat— pada akhirnya kupikir tempat ini masih jadi rumahku. kurasa sama buat dia juga. kurasa sama buat cukup banyak orang lain juga.

mungkin aku cuma berharap bahwa tidak perlu ada orang-orang terpaksa pergi dari sini sendirian lagi.

lewat petang menuju malam ketika aku menuliskan ini, sambil lalu aku mengambil teh tarik instan dari lemari dan samar-samar aku teringat obrolan lama sekali dulu.

“itu nama panggilan kecilku,” katanya. “kok tahu sih?”

aku ingat waktu itu aku cuma senyum-senyum. mungkin suatu saat kamu akan tahu sendiri jawabannya, demikian pikirku. mungkin sih.

aku menyelesaikan beberapa kalimat pada papan ketik di komputer, setelahnya aku menyeruput teh tarik di sisi meja. pada akhirnya, kurasa, tulisan ini memang menjadi tentang sedikit tentang Mei.

kalaupun seperti itu kukira tidak masalah. barangkali bukan hal yang sepenuhnya buruk juga.