patriot (2015)

“negara sudah memanggil kita! lebih baik pulang nama daripada gagal di medan tugas!”

_

sekitar Agustus lalu, saya melihat trailer serial ini di NET. kesan pertama saya adalah, ‘ini serius, bikinan Indonesia?’. ada rasa penasaran di situ. demikian juga ketika mendengar bahwa serial ini dibuat dalam format miniseri tujuh episode, ada kesan bahwa serial ini dibuat dengan standar tinggi yang cukup langka untuk serial televisi di Indonesia.

demikian pada akhirnya setelah finale pada 11 Oktober malam, tulisan ini pun langsung siap rilis.

patriot

Patriot, 2015. produksi NET.

plot pada Patriot berangkat dari premis sederhana: desa Mapu di pesisir Indonesia diambil alih oleh kelompok teroris di bawah pimpinan Panglima Timur (diperankan Aqi Singgih) dengan tangan kanannya Bunian (Yudi Harta). menghadapi keadaan tersebut, sebuah tim komando pasukan khusus dibentuk dengan Kolonel Bayu (Rizky Hanggono) sebagai komandan tim, diikuti oleh Letnan Kolonel Guntur, Letnan Satu Jalu, Sersan Satu Charles, dan Sersan Satu Samuel sebagai anggota tim. (berturut-turut: Verdy Bhawanta, Winky Wiryawan, Maruli Tampubolon, Dallas Pratama).

menonton episode pertama, aspek yang sedikit terasa adalah bahwa serial ini tampak terinspirasi dari film seperti The Raid dan sedikit Band of Brothers. secuil dua cuil inspirasi dari video game seperti Metal Gear Solid dan Far Cry juga akan dengan mudah ditemukan oleh pemirsa yang cukup teliti. meskipun demikian, hal tersebut toh tidak masalah. serial ini berhasil meramu berbagai inspirasi tersebut dalam membentuk identitasnya sendiri, dan sebagai sebuah tontonan, Patriot tidak kehilangan orisinalitasnya.

eksekusi serial ini tergolong well-balanced. efek visual bisa dianggap luar biasa, kalau bukan membuat standar baru untuk televisi Indonesia. keren. demikian juga aransemen musik di atas rata-rata, soundtrack yang catchy (‘Pemburu’, yang uniknya diciptakan serta dibawakan oleh Aqi, Winky, dan Maruli yang menjadi pemain pada serial ini), sukses membuat serial ini menjadi tontonan yang bisa membuat saya menunggu pada hari Minggu malam. tidak ada keluhan.

penulisan cerita dan karakterisasi, pada dasarnya dilakukan dengan baik. kalaupun ada sedikit catatan minor, mungkin terkait eksekusi pada akting di satu-dua bagian, tapi toh tidak signifikan. secara pribadi saya menemukan karakter Panglima Timur (Aqi Singgih) paling bersinar, diikuti oleh Kolonel Bayu (Rizky Hanggono) sebagai komandan tim. karakter lain tampak bisa mengimbangi, walaupun tidak sampai luar biasa tapi juga tidak bisa dibilang buruk.

kekurangannya, apa ya? tidak banyak sih. dari sisi storytelling, beberapa bagian mendekati akhir terasa agak off-pace, demikian juga epilog untuk serial ini rasanya… apa ya, bisa dibuat lebih kuat, khususnya terkait adegan-adegan yang seharusnya bisa lebih mengaduk-aduk emosi pemirsa. kembali lagi ini mungkin terkait keterbatasan pada editing dan pascaproduksi juga, tapi toh hal tersebut tetap tidak mencegah serial ini menjadi sebuah tontonan yang memorable.

saya sendiri sedikit penasaran sekiranya ada versi director’s cut untuk serial ini… tapi dengan target dan harapan sebagai standar baru untuk serial televisi di Indonesia, saya kira serial ini sudah berhasil dengan baik sekali.well done!

5 Comments