akhir

“maaf.”

bocah itu tercekat. suaranya keluar berat dan tersedak-sedak. genggamannya gemetar.

tapi, sunyi.

“maafkan aku. aku janji akan jadi anak baik. aku janji nggak akan marah-marah lagi. aku janji…”

tak ada jawaban.

si bocah mulai sesenggukan. rasanya mau pecah. matanya buram. basah.

“aku janji. tolong jangan pergi. tolong…”

sunyi. hanya genggaman yang semakin lama semakin kebas.

kemudian satu sentakan, dan sakit; bocah terjatuh berlutut. genggamannya terlepas.

bocah itu duduk tergugu.

“maafkan aku. maaf. maafkan aku, aku nggak mau…”

tolong jangan pergi.

“aku… aku…”

maafkan aku, kak. maafkan aku. maaf….

“HUAAAAAAA…”

suara itu terdengar perih. hanya suara bocah yang terdengar. perih.

dan bocah itu kemudian sendiri.

.

pemuda itu terbangun. bocah yang dulu kini kembali.

dan masih, seperti dulu-dulu lagi, kembali meninggalkan jejak basah dan pandangan yang lantas buram di sisi tempat tidur pada subuh dini hari.