jembatan

O/I

memasuki bulan Agustus banyak hal terasa seperti melangkah dalam lumpur dan sedikit berat, tapi kalau diteruskan toh bisa-bisa saja kita mengarahkan diri ke tempat manapun itu kita mau pergi. di luar itu matahari masih bersinar terang, kalau hujan jadi sedikit kelabu, tapi ketika kita memikirkannya lagi itu semua pada dasarnya hal yang biasa-biasa saja. sesekali kalau kita mendengarkan, ada juga suara burung-burung berkicau sampai jam sembilan-sepuluh pagi, setelahnya sepi dan suasananya jadi tenang sekali.

aku membaca surat-surat masuk yang kuambil dari kotak pos dan sambil lalu terhirup wangi kertas bercampur aroma lem yang rasanya khas. suara anak-anak kecil berlarian sambil bermain mobil-mobilan Tamiya terdengar sayup-sayup, sesekali ada juga tukang es krim lewat dan tiba-tiba jadi ramai sebentar lalu kemudian hening kembali.

aku membolak-balik lembar-lembar amplop. penawaran barang elektronik dikirimkan ke alamat ini. kartu pos dan telegram dari beberapa kenalan dan kerabat. satu amplop lainnya surat dari tempat yang jauh dengan nama yang kukenal.

surat itu dari Ina. aku menyandarkan diri ke sisi tempat tidur, memejamkan mata dan menarik nafas, membuka amplop dengan satu guntingan rapi dan mengeluarkan isinya.

terima kasih atas suratmu, katanya.

“senang rasanya kamu masih ingat waktu terakhir kita ketemu. waktu itu kamu bilang akan kirim surat dan waktu kamu benar mengirimkannya rasanya senang sekali. kupikir kamu lupa. atau salah perangko. rasanya cemas berlebihan sekali, ya. bagaimanapun aku ini perempuan jadi sedikitnya aku merasa malu juga.

“di sini sekarang musim panas, orang-orang memakai baju tipis tapi buatku tetap saja masih agak dingin. kemarin aku pergi ke kedutaan dan di sana ada acara pertemuan dan makan-makan. senang rasanya banyak dengar bahasa sendiri. ada bendera juga dan aku jadi ingat kamu, tapi rasanya aneh juga karena kamu dulu malas sekali ikut upacara. demikian itu membuat jadi kangen rumah juga.

“waktu aku baca suratmu waktu itu sore hari di kamarku rasanya senang sekali campur sedih sekali. aku ingat bapak dan ibu dan adik-adik, tapi waktu ingat kita makan bubur kacang hijau di warung malam-malam hari begitu rasanya sedikit nelangsa. aku kangen bubur kacang hijau juga, di sini tidak ada. tapi semakin lama terbiasa juga, jadi tidak separah waktu masih baru dulu.

“tapi pada umumnya aku senang. di sini waktu berlalu cepat, mungkin karena kami semua sibuk. tugas-tugas seperti biasa, tapi taman dan jalan-jalan di sini indah dan dirawat baik jadi kitapun nyaman. minggu lalu aku naik sepeda menyusuri jalan dan memperhatikan taman-taman bunga yang kutemui, kita bisa bersantai sambil berjemur atau baca buku atau mengobrol dan itu hal yang wajar. di sini menyenangkan, tapi rumah juga menyenangkan lagipula di sini tidak bisa ketemu kamu juga. ibuku tanya kabarmu, kalau sedang sempat kurasa baik juga kamu main ke rumah.

“ngomong-ngomong, keponakanmu yang kembar itu lucu sekali! nanti kalau pulang aku mau main ke sana. sekalian aku mau ketemu adik barunya. nanti antar aku, ya.”

 

“salam sayang,”
“Ina”

aku membacanya sekali lagi, lalu melipat halaman-halaman surat tersebut seperti bentuk aslinya. kemudian aku pergi ke dapur dan menjerang air untuk menyeduh kopi. pada masa demikian ini kopi hanya semacam tubruk atau Torabika yang cukup murah dan cukup enak dengan gula secukupnya. selesai demikian aku kembali duduk di lantai bersandar ke sisi tempat tidur.

kertas surat itu wangi. gadis itu menitipkan aroma parfum kesukaannya melintasi sebagian muka bumi.

 

I/O

“eh, Di. nama tante kita itu… bukan Ina, kan?” pemuda itu bertanya kepada saudaranya.

“bukanlah. pertanyaan apa itu.” pemuda satunya lagi menjawab.

bongkar-bongkaran dan tumpukan kardus tertata tidak rapi menunggu dikembalikan ke tempat seperti seharusnya. surat-surat dan album foto tertumpuk di satu sisi lemari. debu bertumpuk-tumpuk, mesin jahit lama dan pot keramik berwarna hitam-merahtua bersisian di pojok terhalang tangga.

“… penasaran tidak sih.”

“iya. sedikit.”

sinar matahari sore menerobos melalui kaso dan lubang angin dan pintu yang dibiarkan sedikit terbuka. gantungan kunci Donal Bebek yang berusia belasan tahun bergoyang-goyang tertiup angin siang hari pada akhir pekan.

di sisi lemari, lembar-lembar foto dua orang anak kecil berusia dua tahun tampak berhenti dititipkan waktu.