opini-opini yang tidak berguna

saya paham bahwa orang-orang bebas untuk memiliki opini. apalagi di media sosial, yang sudah macam warung kopi raksasa dengan segala macam opini warga di dalamnya. walaupun di sisi lain, yah… hal-hal seperti ini agak membuat jengah juga kadang-kadang.

kadang-kadang. eh apa sering ya? yah begitu deh pokoknya.

 



(c) Nickelodeon

“kenapa dunia penuh ketidakadilan, kenapa harus seperti ini banget, kenapa Spongebob, kenapaaaa?!?!”

 

tidak ada yang salah dengan opini. terlepas dari apapun di balik opini anda; mungkin tulus, mungkin dibayari dengan insentif, mungkin dengan teknik dan taktik agitasi ala organisasi mahasiswa atau organisasi massa atau anda kebetulan sebagai kader partai politik…

sudah, enggak usah pura-pura bego. anda kira semua opini media sosial itu semuanya tulus? bangun hoi, bangun. šŸ˜†

tapi baiklah, anggap saja anda ini tulus, dan anda benar-benar merasa sedih dengan keadaan di sekitar anda yang sepertinya dalam keadaan yang kacau benar. anda bebas saja sih kalau mau seperti itu. tulislah kegalauan anda akan masa depan bangsa dan dunia, bagikan di Facebook atau Twitter atau Instagram… dan anda mungkin mendapatkan banyak tanda ‘suka’ dan dibagikan ke banyak orang lain. tidak sepenuhnya buruk juga.

tapi serius sih, opini anda itu tidak terlalu berguna.

maaf, ini mungkin kedengarannya agak tajam. tapi kalau anda cuma merasa galau atau sedih atau marah tapi tidak ada arahan untuk memperbaiki keadaan, opini anda itu tidak berguna.

.

jadi begini lho. anda mau dunia jadi lebih baik? kerjakan PR anda; berikan solusi dan rencana yang komprehensif. kemudian mulai bekerja, sekecil apapun yang anda bisa. di sana opini-opini anda akan ketemu realita. anda akan ketemu berbagai macam nuansa, bahwa keinginan baik anda saja tidak cukup. anda harus menerima dan membuat keputusan, mana yang bisa sedikit anda korbankan untuk memperbaiki keadaan sebaik dan sekuat yang anda bisa.

dengan semuanya itu, tidak untuk dilupakan adalah satu hal yang juga penting:

“jangan pernah berpikir bahwa anda itu istimewa. jangan berpikir bahwa tidak ada orang-orang dengan idealisme yang sudah mencoba dan bekerja keras sebelum anda.”

saya tidak bilang bahwa anda harus kehilangan idealisme. anda bisa kok mengubah keadaan. tapi anda juga harus cerdas dan anda harus bekerja keras untuk itu.

karena kalau tidak, ya bagaimana bisa. kalau anda cuma beropini saja, apalagi cuma marah-marah saja, semua orang juga bisa. anda tidak ada bedanya dengan mahasiswa merasa-pintar lantas membuat opini merasa-cerdas di media sosial. anda tidak ada bedanya dengan bapak-bapak kelebihan berat badan atau ibu-ibu kurang piknik yang sekadar klik ‘suka’ dan ‘berbagi’ pada aplikasi kesukaan di ponsel mereka.

saya tidak mengatakanĀ opini anda salah. tapi kalau cuma seperti itu, tidak berguna. karena anda cuma bisa kecewa saja, mungkin sambil ajak-ajak orang lain kecewa bareng anda, yah, menangislah atau marah-marahlah bareng-bareng di media sosial kesukaan anda.

tapi demikian itu jadinya cuma begitu saja, tidak lebih.

.

sekarang begini. misalnya anda ini sarjana jurusan Ekonomi atau Sosial-Politik atau Teknik. anda seharusnya… seharusnya punya kemampuan untuk bisa mengira-ngira dan memberikan rancangan solusi sesuai bidang keilmuan anda. tapi kalau anda malah mengabaikan pendidikan anda dan malah curhat di media sosial negara-mau-ke-mana, tanpa jelas juntrungannya, apa gunanya?

anda ini produk pendidikan tinggi yang jadi harapan bangsa. jangan cengeng!

sebagai lulusan bidang Ekonomi, mungkin anda bisa melihat skema kerja Otoritas Jasa Keuangan atau Lembaga Penjamin Simpanan, mungkin anda menemukan ada yang kurang pas, dan anda tahu baiknya harus bagaimana. buatlah tulisan, atau infografik, tuangkan dalam media favorit anda. saya sebagai praktisi Teknologi Informasi melihat ada cara untuk mengefisiensikan pengadaan perangkat lunak di pemerintahan, maka saya kira-kira bisa mengatakan bagaimana proposal saya untuk itu. anda yang berkiprah di bidang hukum bisa membantu mencerahkan khalayak awam mengenai konteks dan kontroversi di balik sebuah putusan hukum. ada pilihan untuk tidak cuma mengeluh saja.

saya bukannya antipati terhadap abstraksi, tapi bagaimanapun strategi itu harus konkret. kalau anda cuma punya konsep yang mengawang-awang tapi tidak jelas bagaimana anda mau mengeksekusinya, sejujurnya saya juga akan susah untuk menganggap anda serius.

saya sendiri memandangnya sederhana saja: untuk setiapĀ apaĀ yang anda tuntutkan, harus adaĀ bagaimana yang anda sertakan.

.

oleh karena itu, saya jauh lebih bisa memberikan respek kepada rekan-rekan yang, dengan segala keterbatasannya, memutuskan untuk mulai bekerja dan memperbaiki keadaan dengan cara mereka sendiri. rekan-rekan di Transjakarta, walaupun dengan segala kritik terhadap sistem kartu, ada banyak peningkatan yang tidak bisa disangkal. rekan-rekan di Pemprov DKI, walaupun dengan segala kisruh seputar pilkada, kontroversi terkait penggusuran dan sebagainya, ada juga hasil-hasil yang tidak bisa dipungkiri. rekan-rekan di Bekraf, Kominfo, Imigrasi…Ā dengan segala frustrasi di tempat mereka, tapi setidaknya ada hasil yang sampai dan perbaikan-perbaikan yang dirasakan oleh saya dan rekan-rekan yang terhubung ke layanan mereka.

(ngomong-ngomong, rekan-rekan Kominfo: itu kebijakan blokir kalian tolong diperbaiki. Reddit dan Vimeo masih belum bisa dibuka. saya paham kalian juga frustrasi, tapi menteri kalian kemarin itu payah sekali. šŸ˜› )

demikian itu juga tidak semuanya sempurna. tapi ada usaha, ada kemajuan, dan walaupun ada kekecewaan, buat saya demikian itu lebih berharga daripada berbagai opini yang hanya bisa menuntut dan menuntut pada dimensi yang mengawang-awang. sayangnya sejauh yang bisa saya lihat, jauh lebih banyak dari jenis yang terakhir saja yang bisa ditemukan.

saya tidak mengatakanĀ opini demikian itu tidak valid. tapi buat saya, sayangnya opini demikian itu tidak banyak gunanya juga.

8 Comments

  1. May 21, 2017 at 3:17 pm - link to this comment

    “kalo ngritik masa juga harus ngasih solusi sih, lalu kerja pemerintah apa dong? Kami kan bayar pajak!”

    Sering denger yang begitu itu deh. Lalu aku bingung antara “iya juga sih” dan “oh just shut up”.

  2. May 21, 2017 at 3:47 pm - link to this comment

    gimana ya. buatku itu argumen yang rada malas, tapi bisa dipahami. di satu sisi memang perlu dibedakan konteks layanan pelanggan (e.g. ‘bikin KTP kok lama banget?’) dengan konteks kritikan sok-tahu (e.g. ‘pemerintah itu bikin tax amnesty tidak sesuai keadilan!’)

    untuk yang pertama, itu biasanya di-cover dalam KPI (key performance indicator) dan SLA (service level assurance), misalnya buat mengurus KTP itu waktu proses di bawah seminggu. kalau tidak sesuai standar warga mengeluh ya harus diterima.

    di sisi lain, jenis kedua ini rada menyebalkan, karena implikasinya mereka yang berkomentar ini punya ide tapi omong doang tanpa konteks dan keadaan di lapangan. biasanya kalau ketemu jenis ini di bidang yang kutangani, kuajak ngobrol kira-kira begini:

    keadaannya itu sekarang ______, ______, ada hambatan di _______. saat ini kita sedang _______. omonganmu nggak salah, tapi dengan keadaan sekarang, saranmu itu nggak masuk akal. menurutmu gimana? kalau bisa, bagus, kita kerjakan.”

    menurutku sih perlu dibedakan juga antara ‘melaporkan masalah’ dengan ‘menuntut seenaknya’. domain dan tindaklanjutnya beda jenis soalnya.

  3. May 21, 2017 at 6:03 pm - link to this comment

    Siap kak saya balik kerja lagi aja. Wkwkw.
    .
    *komen ga guna*
    *dateng ngabsen saja*

  4. May 21, 2017 at 7:47 pm - link to this comment

    Masalahnya adalah tidak semua punya pola pikir yg detil & sederhana, masalah lainnya adalah…

    Yah besok saya juga sudah mulei masuk kerja..

    Btw, kalimat dalam kurung di tulisan di atas itu..ahsudahlah

  5. May 21, 2017 at 8:55 pm - link to this comment

    lho, justru adanya sederhana itu bisa kalau tataran kompleksnya sudah dikuasai. justru makanya itu susah. pengalamanku malah umumnya yang pernah bekerja ngurusin demikian cenderung lebih paham.

    ngomong-ngomong… oh iya, ya. besok Senin. marilah kita bersemangat kerja lagi, hoi! šŸ˜†

    *peyuk peyuk kak Desti dan om Warm*

  6. June 12, 2017 at 7:38 am - link to this comment

    Ya ampun. sepakat Yud! T.T
    Dan ditambah Lagi misalnya kalau gak mengiyakan kritiknya ato dijelasin knp kayak Gini, Ini krn kayak Gini, trus ada tambahan judgement, “oh Iya la, Kemarin pilores pilihnya dia sih. makanya dibelain Terus”.
    Dan Kita jadi yang, “lhoo, kok dijelasin malah nyambung ke sana?” *heran*
    and Thank you for writing this! you articulated my thoughts in a manner I could not have!

  7. June 12, 2017 at 8:41 pm - link to this comment

    boleh di-share-nya kakak ~

    *dikemplang*

  8. June 13, 2017 at 5:27 am - link to this comment

    Hahahaha, nanti kakak share Yaaa.
    ish Yudi~
    pengen rajin nulis lg kayak yudiii la.