08.08.08
Posted in J-Stuff at 7:42 pm by yud1
saya pertama kali mendengar lagu ini pada tahun terakhir saya di SMU, kira-kira lima tahun yang lalu. waktu itu saya masih belum mengerti lagu ini bercerita tentang apa, tapi toh sempat nongkrong di playlist saya sewaktu saya masih muda dulu. judulnya Namida no Monogatari, atau dalam bahasa Inggris ‘the story of the tears’. lagunya sendiri tampil dengan gaya mild dan cukup melankolis (haiyah!), dirilis dalam album Oceans of Love dan dibawakan oleh Yuri Chika.
belakangan ini, saya teringat kembali akan lagu ini. entah ya, mungkin sebagian karena saya sedang dalam mellow mode lagu ini mengingatkan saya akan suatu pengalaman di masa lalu, jadi begitulah pokoknya.
untuk lirik dan penerjemahan, kali ini formatnya agak berbeda dari biasanya. hal ini karena kata-kata dalam bahasa Jepang relatif sedikit (dan IMO tidak terlalu rumit). penerjemahan dilakukan hanya untuk baris-baris dalam bahasa Jepang — so there you have the lyrics and translations.
Namida no Monogatari (jp: the story of the tears)
Yuri Chika
how did I fall in love with you,
what can I do to make you smile?
I’m always here if you’re thinking of
the story of the tears from your eyes
moshimo negaigoto ga hitotsu kanau nara
shiawase kureta kimi ni mouichido aitai
:: if only one wish is to be granted,
:: I want to see you again, that you have your happiness
can’t you hear the voices of my heart?
I was staying here just wanna see your happiness
omoide mo himitsu mo kokoro ni shimau yo
itsu no hi ni ka kimi to mata meguriaitai
:: the memories and secrets are over in my heart
:: but I want to see again, that you in one of these days
can’t you hear the voices of my heart?
I was staying here just wanna see your happiness
omoide mo himitsu mo kokoro ni shimau yo
itsu no hi ni ka kimi to mata meguriaitai
:: the memories and secrets are over in my heart
:: but I want to see again, that you in one of these days
check this for the file:
Yuri Chika - Namida no Monogatari
(MP3, 160 kbps, 44 KHz - 3:16)
by yud1 7:42 pm
08.06.08
Posted in J-Stuff at 9:59 pm by yud1
entah ini ‘kutukan’ atau apa, tapi kali ini (lagi-lagi) saya terpaksa menonton ulang film ini sebelum menuliskan review di sini. bukan apa-apa, walaupun rilisnya sendiri sudah lewat dari satu bulan yang lalu, baru sekarang saya punya cukup waktu luang untuk menuliskan tentang film ini.
Kara no Kyoukai: Satsujin Kousatsu (Zen) (jp: Edge of Emptiness: Murder Speculation (part 1)) dirilis satu bulan setelah bagian pertama, yaitu Kara no Kyoukai: Overlooking View. sebenarnya sih, saya sudah menontonnya beberapa hari setelah review yang baru lalu… oh well, setidaknya (seperti halnya film pertama) nggak rugi juga sih saya nonton film ini sampai dua kali.
![[knk2-02.png] [knk2-02.png]](http://i111.photobucket.com/albums/n147/yud1/knk2-02.png)
Agustus, 1995. tiga tahun sebelum Overlooking View. Kokutou Mikiya baru menjalani tahun pertamanya di SMU ketika ia mengenal Ryougi Shiki, seorang gadis yang tampaknya menyimpan rahasia dan cenderung menarik diri dari lingkungan sekitarnya.
sementara itu, pada saat yang sama terjadi peristiwa pembunuhan berantai di kota; mayat masing-masing korban mengalami mutilasi, dan penyidikan oleh polisi memperkirakan bahwa pelakunya adalah orang yang sama. Mikiya yang kebetulan mengetahui tentang kasus ini tiba-tiba menghadapi keadaan yang membingungkan…
…bahwa kecurigaan tampaknya terarah kepada seseorang dari sekolah mereka, dan bahwa tampaknya Shiki menyimpan rahasia terkait rangkaian peristiwa ini.
bicara tentang Kara no Kyoukai, berarti bicara tentang cerita yang gelap, sentuhan elemen supranatural… dan semburan darah serta adegan kekerasan yang mungkin agak mengganggu untuk beberapa pemirsa. tentu saja, termasuk visualisasi dari mayat-mayat korban pembunuhan yang digambarkan dengan sangat baik — sehingga bisa terlihat mengganggu, tergantung pemirsa, sih.
![[knk2-06.png]](http://i111.photobucket.com/albums/n147/yud1/knk2-06.png)
masih mempertahankan pendekatan yang digunakan dalam Overlooking View, kali ini Murder Speculation menyajikan gaya penceritaan yang lebih terarah; tidak ada dialog yang mungkin membingungkan dengan interpretasi yang begitulah-pokoknya, dengan jalan cerita kali ini bisa dikatakan relatif lebih mudah dicerna untuk penonton pada umumnya.[1]
pace-nya sendiri terjaga dari awal sampai akhir cerita: tidak terlalu cepat, cenderung lambat… namun dengan intensitas yang terjaga. hal ini tampil menunjang terkait genre suspense dan thriller yang diusung oleh film ini, dan hal yang layak dipuji adalah bagian yang krusial ini tidak sampai kedodoran dalam film ini.
dalam film ini, karakter-karakter yang ada didesain untuk versi yang lebih muda — khususnya Kokutou Mikiya dan Ryougi Shiki. desain karakter dilakukan dengan sangat baik, walaupun saya sendiri masih lebih menyukai desain Shiki di film pertama. desain dari Mikiya tidak banyak berubah, tapi secara umum hal ini dieksekusi dengan baik.
karakter baru… ada Akimi Daisuke yang merupakan kenalan keluarga Kokutou, sekaligus seorang reserse yang menyelidiki kasus pembunuhan berantai yang terjadi. ada juga Gakuto yang mengambil peran sebagai sahabat dari Mikiya, sementara beberapa karakter lain lebih sebagai peran pembantu. secara umum departemen desain karakter tidak mengecewakan, mengingat film ini mengembangkan lebih banyak karakter dibandingkan film pertama.
![[knk2-07.png]](http://i111.photobucket.com/albums/n147/yud1/knk2-07.png)
kalau ada hal yang perlu diperhatikan sih, sebenarnya film ini memang cerita tentang Shiki dan Mikiya — serta hal-hal lain terkait awal mula hubungan mereka. dengan demikian, karakter yang lain memang sebatas sebagai peran pembantu. bagusnya, karakter seperti Akimi Daisuke atau Gakuto tidak sampai terlihat tidak kebagian tempat — it just fits.
secara visual… film ini juga masih mempertahankan keistimewaan yang dimiliki oleh pendahulunya. memang tidak ada adegan yang seekstrem pertempuran di film pertama atau sejenisnya sih, tapi untuk bagian lain seperti visualisasi latar dan efek seperti semburan darah dan tetes hujan masih dieksekusi dengan kualitas yang sejajar film pertama. catatan lain? visualisasi mayat yang rusak (lengkap dengan gore tentunya) tampil dengan sangat baik… bisa digolongkan sebagai animated explicit violence sih, jadi rating-nya memang tidak untuk semua umur.
musik, masih top-notch. Kalafina tampil dengan lagu Kimi ga Hikari ni Kaeteiku[2] sebagai OST, dan berhasil menjadikan OST yang memorable untuk film sepanjang 61 menit ini. scores yang dihasilkan masih tidak kalah istimewa, dan mampu memberikan kualitas yang sejajar dengan eksekusi pada film pertama.
sebagai bagian kedua dari tujuh installment dari Kara no Kyoukai, film ini tampak lebih berperan sebagai media penyampaian latar belakang karakter dan peristiwa yang terjadi dalam keseluruhan rangkaian cerita. dalam film ini juga dijelaskan mengenai hal-hal yang belum terjelaskan pada film pertama, walaupun tampaknya beberapa hal masih dibiarkan menggantung untuk rilis berikutnya.
![[knk2-00.png] [knk2-00.png]](http://i111.photobucket.com/albums/n147/yud1/knk2-00.png)
masih seperti film pertama, film ini berhasil dengan baik dalam memenuhi semua ekspektasi saya terhadap adaptasi dari Kara no Kyoukai ke layar lebar. visual yang mendukung, musik yang top-notch, dan storytelling yang berada di atas rata-rata menjadi nilai lebih dari film ini.
sejauh ini, adaptasi Kara no Kyoukai berhasil memberikan pengalaman menonton yang berada cukup jauh di atas rata-rata. saya sendiri berharap bahwa ufotable sebagai studio produksi bisa mempertahankan hasil yang istimewa ini sampai installment terakhir… tapi hal ini masih harus dibuktikan, sih.
___
[1] saya sendiri cukup menikmati film pertama dengan pendekatan tersebut. tapi memang, pendekatan untuk film ini agak lebih to the point.
[2] walaupun liriknya dibaca ‘Kimi ga Hikari ni Kaeteyuku’ (jp: you turn everything into light), penulisan ofisial-nya menggunakan judul tersebut. kanji ‘iku’ memang bisa dibaca sebagai ‘yuku’, sih.
by yud1 9:59 pm
07.06.08
Posted in J-Stuff at 4:47 am by yud1
biasanya, saya tidak membuang waktu untuk menulis tentang film atau serial yang saya review. sayangnya, kesibukan belakangan ini tidak mengizinkan saya untuk menulis sesegeranya, dan mengakibatkan review untuk film ini jadi terlambat satu bulan setelah saya pertama kali menontonnya.
benar, satu bulan. dan sebagai akibatnya, saya terpaksa menonton ulang film ini sebelum memulai review. tapi, yah… sebenarnya nggak rugi juga sih bahwa saya nonton film ini sampai dua kali.
review kali ini menyajikan bagian pertama dari adaptasi Kara no Kyoukai ke layar lebar; Kara no Kyoukai sendiri adalah sebuah serial light novel yang pertama kali dirilis oleh TYPE-MOON pada 1998. secara khusus, film ini adalah installment pertama dari rangkaian tujuh film yang direncanakan untuk proses adaptasi ini. distribusi untuk format DVD-nya sendiri baru dirilis pada Juni 2008, jadi bisa dikatakan masih cukup baru juga.
![[kank-01]](http://i111.photobucket.com/albums/n147/yud1/kank-01.jpg)
pertama kali dirilis untuk konsumsi bioskop di negara asalnya pada Desember 2007, Kara no Kyoukai: Fukan Fuukei (jp: Edge of Emptiness: Overlooking View) sudah punya lebih dari cukup modal untuk menjadi tontonan dengan kelas tersendiri: pengisi suara papan atas (Sakamoto Maaya, Suzumura Kenichi, Tanaka Rie), aransemen dan OST dari komposer yang menjanjikan (Kajiura Yuki, untuk Project Kalafina), dan konsep cerita yang dikembangkan oleh TYPE-MOON (Nasu Kinoko, Takeuchi Takashi). sejujurnya, saya sendiri memiliki ekspektasi yang tinggi terhadap adaptasi yang ditangani oleh ufotable ini.
Overlooking View diawali dengan terjadinya serangkaian kasus bunuh diri yang dilakukan oleh sejumlah siswi SMU di kota. rangkaian peristiwa bunuh diri ini dilakukan dengan cara yang sama, yaitu dengan melompat dari Fujyou Building di tengah kota; korban tidak meninggalkan wasiat, dan seluruh korban tampak tidak memiliki alasan untuk bunuh diri.
perkenalkan Ryougi Shiki, seorang gadis dengan kekuatan misterius; Aozaki Tohko, seorang magus dengan filosofi tersendiri; Kokutou Mikiya, seorang pemuda dengan insting dan kemampuan penyidikan. di antara kasus bunuh diri yang terus terjadi di kota, Mikiya yang bekerja untuk Tohko menemukan bahwa tampaknya rangkaian kasus yang terjadi bukanlah peristiwa bunuh diri biasa…
…karena sesuatu yang tidak normal sedang terjadi di antara kehidupan yang tampaknya berjalan seperti biasa.
![[kank-00]](http://i111.photobucket.com/albums/n147/yud1/kank-00.jpg)
Overlooking View adalah bagian pertama dari sebuah serial yang disusun secara anachronic.[1] dan sehubungan dengan penceritaan yang disajikan dengan gaya tersebut, adalah hal yang wajar bahwa pemirsa mungkin akan sedikit bingung bahwa terdapat banyak referensi yang belum terungkap pada episode pertama ini. adalah hal yang wajar bahwa beberapa pemirsa mungkin akan sedikit bertanya-tanya mengenai siapa sebenarnya Ryougi Shiki atau mengenai kasus Asagami Fujino yang sempat disebut-sebut oleh Tohko… yah, sebenarnya hal ini akan terungkap dalam episode-episode selanjutnya.[2]
film ini, kalau bisa dikatakan, memiliki pendekatan yang unik dari segi storytelling: tidak banyak dialog, dan tidak banyak karakter untuk konsep cerita yang cukup kompleks. tentu saja, pendekatan seperti ini cukup beresiko; dengan dialog yang cukup minim (dan banyak sekali penafsiran filosofis), film ini beresiko jatuh menjadi membingungkan bagi sebagian pemirsa. bagusnya, film ini berhasil dengan baik dalam menyajikan cerita yang kohesif tanpa banyak dialog yang tidak perlu — dengan intensitas cerita yang tetap terjaga dalam film sepanjang 50 menit ini.
bicara karakter, film ini memfokuskan cerita kepada empat karakter utama, secara berturut-turut adalah Aozaki Tohko (magus yang didesain dengan cukup funky), Kokutou Mikiya (tipikal smart, nice guy), Ryougi Shiki (cool-badass-but- a-girl-nonetheless)[3], dan Fujyou Kirie (bedridden-girl yang memiliki peran tersendiri). bagusnya, penyajian cerita dalam film ini berhasil mempertahankan fokus eksplorasi terhadap seluruh karakter, dengan pembagian tempat yang juga pas. hal yang cukup wajar sih, bahwa dengan fokus karakter yang tidak terlalu banyak, eksplorasi dan character development dapat dilakukan secara merata.
![[kank-02]](http://i111.photobucket.com/albums/n147/yud1/kank-02.jpg)
terlepas dari soal konsep cerita dan storytelling, nilai lebih dari film ini terletak dalam eksekusi musical scores dan soundtrack yang bisa dikatakan luar biasa. aransemen yang ditampilkan sukses dalam membangun suasana untuk sebuah film dengan genre thriller — tapi bagian paling mengesankan adalah aransemen yang disajikan untuk adegan pertempuran di atap Fujyou Building. hasilnya? sudahlah. tidak perlu banyak kata, salut untuk hasil karya yang brilian dari Kajiura Yuki.
soundtrack dari film ini dibawakan oleh Kalafina, yang juga didukung oleh Kajiura Yuki — menjelaskan nama Project Kalafina yang sempat disinggung di awal tulisan ini. nomor dengan judul Oblivious ini tampil dengan gaya alternatif dengan racikan khas Kajiura-san[4], dan berhasil menjadikannya memorable sebagai penutup dari film yang juga memorable ini.
secara visual… film ini juga tidak kurang dari luar biasa. artwork dan desain karakter dirancang ulang dari desain untuk ilustrasi novel, dengan perombakan yang cukup signifikan terhadap gaya dari artwork sebelumnya. terdapat beberapa ‘kontroversi’ juga sih, misalnya bahwa Aozaki Tohko dalam film digambarkan dengan rambut coklat (di ilustrasi novelnya, biru). meskipun demikian, terlepas dari hal tersebut serial ini tampil lumayan dari segi artwork — ada perbedaan gaya, namun secara umum keduanya sama-sama enak dilihat.
namun kekuatan utama pada visual film ini adalah eksekusi latar dan pengambilan sudut yang dilakukan dengan sangat baik. detail seperti percikan air dan semburan darah digambarkan dengan manis, dengan pengambilan sudut yang kreatif. didukung dengan efek khusus yang juga istimewa, hal ini berhasil dengan baik dalam memberikan pengalaman visual tersendiri dalam film — khususnya dalam adegan-adegan yang menjadi klimaks dari cerita.
![[kank-03]](http://i111.photobucket.com/albums/n147/yud1/kank-03.jpg)
film ini adalah bagian pertama dari sebuah rangkaian film sepanjang 7 episode. dengan penyajian cerita yang dilakukan secara anachronic, sebagian pemirsa mungkin akan sedikit bingung mengenai referensi yang belum terjelaskan pada bagian pertama ini. tentu saja, tidak boleh dilupakan bahwa film ini tampil ‘gelap’ (animated violence, lengkap dengan gore yang mungkin agak mengganggu), dan dengan demikian film ini bukanlah tontonan untuk semua umur.
secara umum, film ini memenuhi semua ekspektasi saya sebagai hasil adaptasi dari Kara no Kyoukai dalam versi layar lebar. beberapa pemirsa mungkin akan menemukan bahwa film ini ‘agak membingungkan’ dan ‘terlalu gelap’… yah, bisa dikatakan memang begitulah adanya.
oh well… tapi saya memberi nilai tinggi untuk film ini. memang bukan untuk selera semua orang, sih.
___
[1] anachronic: urutan cerita tidak disajikan secara kronologis. timeline-wise, urutan episode Kara no Kyoukai adalah #2 - #4 - #3 - #1 - #5 - #6 - #7.
[2] saya sempat mengikuti versi novelnya sebelum menonton versi adaptasinya untuk layar lebar, makanya bisa bilang begitu.
[3] Ryougi Shiki? cool, badass… but still a girl nonetheless. tidak banyak bicara, dan tidak perlu banyak dialog untuk menggambarkan hubungannya dengan Mikiya. FYI, mbak ini sukses mengkudeta posisi Tohsaka Rin sebagai karakter favorit saya.
[4] kalau anda familiar dengan FictionJunction dan beberapa lagu dari See-Saw, gayanya mirip-mirip seperti itu… wajar sih, FictionJunction kan salah satu kolaborasi dari Kajiura Yuki juga.
by yud1 4:47 am
04.12.08
Posted in J-Stuff at 3:54 am by yud1
Key. Visual Arts. Kyoto Animation. 2007.
…yah, apa lagi kalau bukan Clannad?
Clannad adalah judul dari sebuah serial anime, yang diangkat dari visual novel dengan judul serupa yang dirilis oleh Key dan Visual Arts pada 2004. adaptasi untuk versi anime-nya diproduksi oleh Kyoto Animation, dan mulai running pada Oktober 2007. serial ini sendiri baru berakhir pada Maret 2008… jadi bisa dibilang masih lumayan baru, sih.
![[clnd-05.jpg] [clnd-05.jpg]](http://i111.photobucket.com/albums/n147/yud1/clnd-05.jpg)
nama Clannad untuk serial ini diambil dari sebuah kata dalam bahasa Irlandia, yang kurang-lebih bisa diterjemahkan sebagai ‘keluarga’. dan bisa dibilang, tema tersebut adalah benang merah dari jalannya cerita sepanjang serial ini — yang tampil dengan genre romance dan drama, lengkap dengan elemen komedi dan latar berupa kehidupan siswa sekolah menengah umum.
cerita dalam serial ini berjalan di seputar kehidupan Okazaki Tomoya, seorang pemuda dengan keluarga yang bisa dibilang tidak harmonis: ibunya meninggal ketika ia masih kecil, dan hubungannya tidak akrab dengan ayahnya yang melarikan diri dengan menjadi pemabuk setelah peristiwa tersebut. menjalani tahun terakhir di SMU, ia tampak tidak memiliki harapan terhadap dunia dan kehidupan yang dijalaninya — cenderung tidak peduli peraturan sekolah dan jarang tinggal di rumah, dan dengan demikian ia dianggap sebagai delinquent alias siswa bermasalah.
sampai pada suatu saat, ia bertemu dengan Furukawa Nagisa, seorang gadis yang terpaksa mengulang tahun terakhirnya di SMU karena kesehatannya yang memburuk. hal ini membuatnya sering terlihat kesepian sehubungan dengan teman-temannya yang sudah lulus terlebih dahulu, dan Tomoya yang tidak bisa meninggalkan Nagisa yang peragu sekaligus rendah diri akhirnya memutuskan untuk menemaninya; dari titik ini, Tomoya yang semula menjalani hidup tanpa tujuan, kini mulai menemukan arahnya sendiri dalam menjalani kehidupan…
![[clnd-06.jpg] [clnd-06.jpg]](http://i111.photobucket.com/albums/n147/yud1/clnd-06-1.jpg)
kalau bisa dikatakan, serial ini masih mengikuti ‘tradisi’ dari karya Key/Visual Arts yang diadaptasi oleh Kyoto Animation: secara visual, serial ini luar biasa. artwork yang ditampilkan dalam serial ini bisa dikatakan jauh di atas rata-rata; CG dan efek yang ditampilkan benar-benar digarap dengan maksimal, dan menjadi eye candy untuk serial ini. meskipun eksekusi visual yang luar biasa ini terlihat sedikit kurang konsisten pada beberapa bagian dari beberapa episode, namun hal ini tidak mengubah kenyataan bahwa serial ini tetap visually memorable.
nah. kalau bicara soal visual, berarti terkait artwork. dan kalau terkait artwork, berarti terkait desain karakter. dan desain karakter dari serial ini…
…not less than outstanding. Furukawa Nagisa didesain dengan kepribadian yang sedikit kompleks dan ‘rambut antena’ yang jadi ciri khasnya — sama sekali tidak bisa dibilang buruk. Ibuki Fuuko didesain dengan sangat baik sebagai ‘cewek tertindas’ yang sering dikerjai, dan Ichinose Kotomi didesain dengan pas sebagai cewek yang cerdas-tapi-bingungan. pasangan kembar Fujibayashi Kyou dan Fujibayashi Ryou tampil dengan desain yang juga dieksekusi dengan baik untuk peran masing-masing, lengkap dengan tarikan garis dan ekspresi yang juga sangat pas untuk karakter dari keduanya.
karakter lain? Sakagami Tomoyo didesain sebagai cewek bertipe cool dan jago bela diri, tapi toh masih bisa bersikap ramah. Sunohara Youhei yang didesain sebagai cowok ‘hina’ (walaupun belakangan juga diperlihatkan memiliki sisi lain) tampil menghibur dalam adegan-adegan komedi yang… sudahlah, silakan nonton sendiri. kalau ada sedikit catatan sih mungkin soal desain Okazaki Tomoya sebagai tokoh utama yang digambarkan agak ‘kurang sangar’ terkait reputasinya sebagai seorang delinquent… tapi sudahlah. secara umum, desain karakter dari serial ini mungkin cukup tepat untuk dikatakan sebagai istimewa.
![[clnd-02.jpg] [clnd-02.jpg]](http://i111.photobucket.com/albums/n147/yud1/clnd-02.jpg)
bagusnya, kelebihan yang ada di sisi visual tersebut juga didukung oleh eksekusi scores dan soundtrack yang juga cukup istimewa. serial ini bisa dikatakan memiliki scores yang cukup ‘berlimpah’ dari segi kuantitas maupun kualitas — hal ini berhasil dengan baik dalam mendukung suasana dan menciptakan adegan-adegan yang memorable di beberapa episode.
hal yang bisa diperhatikan adalah bahwa beberapa nomor dari scores yang ditampilkan dalam serial ini sedikit beraroma folk, khususnya dengan sedikit gaya musik tradisional Irlandia. entah kenapa, tapi mungkin ini terkait dengan tema dan inspirasi dari serial ini yang berasal dari sekitar konsep tersebut — nama Clannad sendiri berasal dari bahasa Irlandia. tidak semuanya sih, tapi saya sendiri menemukan hal ini cukup enjoyable untuk serial ini.
OST serial ini tidak banyak berubah sepanjang 23 episode, kecuali mungkin dengan tambahan tiga insert song pada episode 9, 18, dan 22. OP-nya diisi oleh Megumeru ~cuckool remix 2007~ dengan gaya yang sedikit upbeat, tapi toh cukup enak didengar. ED-nya diisi dengan lagu Dango Daikazoku yang tampil mild dan sederhana namun cukup memorable. insert song yang lain tampil cukup baik dalam mendukung scores, khususnya untuk Ana yang tampil di episode 9.
secara umum, serial ini tampil superior dari segi musik dan aransemen — baik untuk scores maupun soundtrack. tidak banyak yang bisa dikeluhkan juga sih soal ini; dua-duanya tampil baik dalam membangun suasana yang mendukung jalan cerita, dan bagian ini memang digarap dengan maksimal untuk serial ini.
![[clnd-04.jpg] [clnd-04.jpg]](http://i111.photobucket.com/albums/n147/yud1/clnd-04.jpg)
nah. sekarang, bagian paling penting dari sebuah serial. tentu saja, hal ini terkait dengan konsep cerita, storyline, dan storytelling dari serial ini. dan sayangnya, serial ini malah agak jatuh di bagian tersebut… tidak sampai fatal sih, setidaknya masih cukup jauh untuk dikatakan ‘buruk’.
konsep cerita dalam serial ini berangkat dari tema yang sebenarnya menjanjikan: seorang tokoh utama dengan keluarga yang berantakan (dan dengan demikian menjadi seorang delinquent), dan seorang gadis dengan kepribadian yang sedikit kompleks berikut perasaan rendah dirinya dalam berinteraksi dengan orang lain. hal ini sebenarnya potensial untuk dikembangkan menjadi luar biasa dengan eksekusi yang tepat… sayangnya, tema tersebut tidak berhasil dieksplorasi secara maksimal dalam serial ini, dan beberapa bagian seolah terasa dibiarkan menggantung.
dari segi storyline, serial ini berhasil menampilkan cerita yang cukup memikat dengan intensitas yang terjaga… sampai pertengahan serial ini. selewat pertengahan serial, intensitas cerita cenderung naik-turun: sebagai contoh, arc yang difokuskan kepada karakter Fujibayashi Kyou dan Ryou terasa agak terlalu ‘biasa’, walaupun masih cukup mencuri perhatian. di sisi lain, cerita tentang Sakagami Tomoyo jadi terasa serba tanggung… sementara arc terakhir yang di-reserve untuk Furukawa Nagisa sebenarnya potensial untuk dikembangkan dengan baik, namun malah terasa kurang greget pada klimaks cerita.
sayangnya lagi, beberapa bagian malah seolah dibiarkan menggantung; konflik antara Tomoya dan ayahnya memang berhasil tergambarkan dengan baik, namun belakangan klimaks dan penyelesaiannya malah terasa kehilangan momen. intensitas cerita yang naik-turun ini berlangsung sampai akhir serial… tidak sampai buruk sih, hanya saja agak disayangkan bahwa hal ini hanya sampai di situ saja.
![[clnd-01.jpg] [clnd-01.jpg]](http://i111.photobucket.com/albums/n147/yud1/clnd-03.jpg)
tapi kalau ada satu hal yang bisa sedikit ‘mengobati’ kekurangan di bagian pengembangan cerita, hal tersebut adalah humor yang ditampilkan sepanjang perjalanan serial ini. momen-momen seperti ketika Fuuko ‘ditindas’ alias dikerjai oleh Tomoya atau ketika Sunohara Youhei melakukan perbuatan-perbuatan ‘ajaib’ cukup sukses mengantarkan adegan yang memang dimaksudkan untuk menjadi komedi… tambahkan pula kejadian-kejadian yang terjadi di rumah keluarga Furukawa, serial ini punya dosis komedi yang pas tanpa harus kehilangan muatan seriusnya.
terkait soal penyampaian komedi, serial ini… apa ya? mungkin bisa dibilang bahwa serial ini menyampaikan hal tersebut secara ngawur-tapi-serius. bagusnya lagi, pendekatan ini dilakukan dengan sangat baik dalam serial ini, dengan takaran yang pas dan tidak sampai membuatnya jatuh ke menjadi terlalu komedi.
tentu saja, serial ini punya banyak kelebihan. visual dan musik yang mendukung menjadi aset utama yang menjadikan serial ini memorable, walaupun dengan sedikit kekurangan di bagian storyline yang (bagusnya) bisa sedikit di-cover oleh muatan humor yang membuatnya tampil menghibur. desain karakter dengan kualitas yang berada di atas rata-rata turut menjadi nilai lebih dari serial ini, dan dengan demikian menjadikannya tidak dapat dilewatkan begitu saja.
dengan segala catatan tadi, toh serial ini berhasil dengan baik untuk tampil menghibur… setidaknya, serial ini masih cukup jauh di atas rata-rata.
by yud1 3:54 am
03.09.08
Posted in J-Stuff at 11:27 pm by yud1
mungkin banyak di antara pengamat J-Music yang cukup familiar dengan kelompok yang satu ini. tapi adakah pembaca yang tahu, bahwa See-Saw pertama kali memulai debutnya sekitar 15 tahun yang lalu?
mulai aktif di dunia musik Jepang pada 1993, kelompok yang dimotori oleh Chiaki Ishikawa bersama Yuki Kajiura ini awalnya terdiri atas tiga personel, ditambah dengan Yukiko Nishioka di masa awal berdirinya. sayangnya, pada 1995 kelompok ini nonaktif dari kegiatan bermusik setelah Yukiko Nishioka mengundurkan diri.
nah, barulah pada 2001, See-Saw memulai kembali kegiatan bermusik mereka, kali ini dengan Ishikawa dan Kajiura sebagai duo untuk kelompok ini. anda yang mengikuti serial Gundam SEED dan Gundam SEED: Destiny mungkin masih ingat dengan peran mereka dalam OST untuk kedua serial tersebut.
oke, jadi lagu yang akan ditulis di sini bisa dibilang sudah cukup klasik: pertama kali dirilis pada 1994, dan dirilis ulang dalam kompilasi yang diberi judul Early Best pada 2003. jadi, Chao Tokyo adalah nomor yang bisa dibilang cukup lawas juga… namun, meskipun demikian lagu ini masih sering nongkrong di playlist saya sampai sekarang.
lagunya sendiri bisa dibilang lebih ke arah pop, agak berbeda dengan rilis pasca 2001 yang mulai lebih banyak memperkenalkan gaya alternatif sebagai bagian dari karya mereka. ceritanya sih tentang seseorang yang akan meninggalkan kota Tokyo, dan dengan demikian kita tahu kenapa judulnya seperti itu.
seperti biasa, lyrics dengan huruf italic, translations dengan huruf plain, dan mohon koreksi kalau ada salah penerjemahan berhubung saya mencoba menerjemahkannya sendiri.
Chao Tokyo
See-Saw
chao Tokyo, chiisana APAATO ni karuku te wo furu
chao Tokyo, watashi dake no oshiro yo sayonara
chao Tokyo, I wave lightly to my small apartment
chao Tokyo, to the castle only mine I say farewell [1]
eki no HOOMU ni wa
samishigari no tabibito doushi
furui KIZU wo miseatte
on the platform of the station,
I feel lonely with fellow travelers
as I look upon the old scars
anata wo matteta
POKETTO no kagi wa mou sutete
hitori yume wo daiteitai
I was waiting for you,
with the key in my pocket tossed already
I want to hold dear that one dream by myself [2]
uwame tsukai ni miteta hitonami ima ni natte
yasashisa wo kanjiru yo fushigi ne, chao Tokyo
I turned my gaze and then I saw the crowd
then I feel the kindness, isn’t it strange? chao Tokyo
chao Tokyo hajimete kita toki yori mo kono machi wa
chao Tokyo dete yuku hou ga yuuki ga iru no ne sayonara
chao Tokyo, even from the first time I come to this town
chao Tokyo, now I have the courage, I bid a farewell [3]
namida de aruita
chikadou no sumi de kiita uta
itsuka kiita komoriuta
walking with my tears,
a song by the corner of subterranean tunnel [4]
will be the coming lullaby
daremo ga hitori wo kanjiteru
koko mo madamada
shinjirareru koto bakari
everyone feels of someone else
as of here, still
I keep on believing
mamori atteta
fuan na koi kara itsu no hi ni ka
jibun de warau koto wo
oboeta, chao Tokyo
I wanted to keep it in protection
from this uneasy love, someday
I’ll be laughing to myself
I’ll remember, chao Tokyo
sayonara,
and farewell, [5]
ai wo mitsukeraretara kono machi e to
mou ichido kaeritai
if I could find love, to this town
I want to come back
chao Tokyo nigirishimesugite shinatta kippu to
chao Tokyo miokuri wa nanairo IRUMINEESHON
chao Tokyo, and the ticket I grasp tightly
chao Tokyo, seeing me off is illumination of seven colors
chao Tokyo oh Tokyo itsumademo terashi tsudzukete ne
chao Tokyo chao Tokyo watashi no oshiro yo sayonara
chao Tokyo, oh Tokyo, keep shining forever
chao Tokyo, chao Tokyo, to the castle only mine I say farewell
check this for the file:
See-Saw - Chao Tokyo
(MP3, 192 Kbps, 44 KHz - 4:25)
___
[1] ‘oshiro’ kata dasarnya ’shiro’ (= ‘castle’). bentuk dengan ‘o-’ biasa ditambahkan untuk bahasa percakapan. misalnya, ‘kane’ (= ‘money’) disebut juga sebagai ‘okane’.
[2] di sini digunakan kata ‘hitori’ (= ‘one person’), bukan ‘hitotsu’ (= ‘one thing’). jadi, reference-nya bukan ke ‘yume’ (= ‘dream’) yang dibicarakan. saya sendiri menangkap maksudnya sebagai ‘hitori de’ (= ‘alone’, ‘by oneself’), tapi ini persepsi pribadi, sih.
[3] secara harfiah, seharusnya ‘now I have the courage to say my leaving words, farewell’. berhubung kalau seperti itu jadinya kepanjangan dan kurang pas, jadi secara sederhana diterjemahkan seperti itu.
[4] bingung soal ‘chikadou’ ini. lihat di kamus, ternyata artinya ’subterranean tunnel’. kalau memperhatikan perjalanan dengan kereta (di Jepang biasanya subway), konteksnya jadi pas juga sih.
[5] kenapa bagian ’sayonara’ ini dipisah dari lirik di atasnya? karena sebenarnya memang satu kata ini jadi semacam ‘punchline’, jadi deh dipisahkan. kata ‘and’ ditambahkan, karena masih sedikit nyambung ke bagian sebelumnya.
by yud1 11:27 pm
02.18.08
Posted in J-Stuff at 6:16 pm by yud1
sejak dulu, saya penasaran dengan lagu yang jadi insert song di serial Suzumiya Haruhi no Yuutsu ini. dibawakan oleh Aya Hirano yang juga menjadi pengisi suara dari Suzumiya Haruhi, lagu ini menjadi salah satu dari dua insert song yang disisipkan pada episode 12. dan tentu saja, berhubung belakangan lagu ini sering nongkrong di playlist saya, maka jadilah lagu ini kebagian giliran ditulis di sini.
eh… jadi kepikiran juga, bahwa ternyata saya belum sempat me-review serial yang satu itu. mungkin nanti sih, untuk serial yang juga dikenal dengan judul The Melancholy of Haruhi Suzumiya, dan bisa dibilang termasuk salah satu cult classic dari industri anime ini.
anyway, lagu yang diberi judul Lost My Music ini tampil dengan gaya sedikit rock, dengan sentuhan gitar listrik yang cukup catchy di beberapa bagiannya. lagunya sendiri bercerita tentang seorang cewek yang tampaknya sedang patah hati, tapi… yah, sudahlah. silakan lihat sendiri translations-nya.
seperti biasa, lyrics dengan huruf italic, translations dengan huruf plain, dan mohon koreksi kalau ada salah penerjemahan. =)
Lost My Music
Aya Hirano
hoshizora miage watashi dake no hikari oshiete
anata wa ima doko de dare to iru no deshou?
I look up the starry sky, oh tell me my only light
where are you now, are you with someone there?
tanoshiku shiteru koto omou to samishiku natte
issho ni mita CINEMA hitorikiri de nagasu
I become lonely as I’m thinking of the fun we had
in the cinema we went together, I’m crying all alone [1]
daisuki na hito ga tooi
toosugite nakitaku naru no
ashita me ga sametara, hora
kibou ga umareru kamo GOOD NIGHT!
my beloved person is far away,
too far away that I want to cry
when I wake up tomorrow, look
my wish will be reborn from a ‘good night’
I still I still I love you!
I’m waiting waiting forever
I still I still I love you!
tomaranai no yo, hey!
I still I still I love you!
I’m waiting waiting forever
I still I still I love you!
it’s just unstoppable, hey!
nemuri no fuchi de yume ga kureru omoi de no ONE DAY
anata no kotoba ni wa sukoshi uso ga atta
in the depth of my sleep, I dreamt a memory of one day
that in the words you say, there was a bit of lie
hanasanai yo to kimi dake da to
dakishimeta no ni
yakusoku ga fuwari to kurai yoru ni kieta
saying ‘I won’t let go, only to you’ [2]
even though you held me close,
the promise faded away in the gloomy night
daisuki na hito yo itsumo
itsumade mo sagashite shimau
kitto me ga samete mo, mada
maboroshi wo kanjitai MORNING
my beloved person as always
I’ll be searching no matter how long
surely, when I wake up it’s still
the illusion of morning I want to feel
I lost I lost I lost you!
you’re making making my music!
I lost I lost I lost you!
mou aenai no? no!
I lost I lost I lost you!
you’re making making my music!
I lost I lost I lost you!
so we can’t meet again? no! [3]
daisuki na hito ga tooi
toosugite nakitaku naru no
ashita me ga sametara, hora
kibou ga umareru kamo GOOD NIGHT!
my beloved person is far away,
too far away that I want to cry
when I wake up tomorrow, look
my wish will be reborn from a ‘good night’
daisuki na hito ga tooi
toosugite nakitaku naru no
kitto me ga samete mo, mada
maboroshi wo kanjitai MORNING
my beloved person is far away,
too far away that I want to cry
surely, when I wake up it’s still
the illusion of morning I want to feel
I still I still I love you!
I’m waiting waiting forever
I still I still I love you!
tomaranai no yo
I still I still I love you!
I’m waiting waiting forever
I still I still I love you!
it’s just unstoppable
I still I still I love you!
I’m waiting waiting forever
I still I still I love you!
mada aeru yo ne? ne!
I still I still I love you!
I’m waiting waiting forever
I still I still I love you!
we will meet again, right? right!
check this for the file:
Aya Hirano - Lost My Music
(MP3, 192 kbps, 44 KHz - 4:17)
___
[1] ‘issho ni mita CINEMA’ (= ‘the CINEMA we saw together’), seharusnya ‘cinema’ sebagai ‘film’ secara kata-per-kata. tapi kalau diterjemahkan seperti itu liriknya jadi nggak pas, jadi akhirnya ‘cinema’ diterjemahkan sebagai ‘bioskop’.
[2] di sini, penggunaan ‘kimi’ itu maksudnya oleh orang yang diacu (’kimi dake dato’ = ‘only you, you said’). perhatikan juga bahwa penyanyinya menggunakan ‘anata’ untuk mengacu ke tokoh yang dimaksud, bukan ‘kimi’… jadi orangnya beda, sih.
[3] ‘no’ yang terakhir itu bukan dari huruf ‘no’, tapi ‘no’ dalam bahasa Inggris… jadi dibiarkan seperti itu saja.
by yud1 6:16 pm
02.14.08
Posted in J-Stuff at 4:15 pm by yud1
ya, ya, serial anime ini sudah agak lama. mulai running pada April 2007 dan berakhir pada September 2007, saya sendiri sudah agak lama menyelesaikan nonton serial ini.
lalu, kenapa pula baru sekarang saya menulis soal serial ini di sini? sederhana saja, karena agak terlalu sayang kalau serial ini lewat begitu saja… apalagi serial ini juga sudah di-license sejak beberapa waktu yang lalu.
![[lkst-12.jpg]](http://i111.photobucket.com/albums/n147/yud1/lkst-12.jpg)
jadi, Lucky Star adalah cerita mengenai 4 orang siswi SMU biasa, dalam menjalani kehidupan yang biasa-biasa saja pula. ada Konata Izumi sebagai otaku, ada Miyuki Takara dengan moe factor yang begitulah-pokoknya, dan tentu saja pasangan kembar Kagami dan Tsukasa Hiiragi dengan sifat yang bertolak belakang namun digambarkan cukup akrab dalam serial ini.
diangkat dari serial manga dengan judul yang sama, serial ini tampil dengan resep yang… yah, bisa dibilang komedi dengan latar school-life, dengan parodi sebagai menu utamanya. cerita dalam serial ini bisa dibilang loosely coupled, jadi hampir tidak berhubungan antara episode satu dengan lainnya. well… ada sih, tapi tidak cukup signifikan.
jadi, tidak perlu susah-susah memikirkan soal storyline di serial ini. karena asalnya dari komik dengan format 4-koma[1], serial ini jadi terkesan sebagai ‘potongan cerita yang disambung-sambung’… tapi toh hal ini tidak sampai jatuh ke arah mengganggu, apalagi sampai fatal untuk serial yang diproduksi oleh Kyoto Animation ini.
tentu saja, salah satu kekuatan serial ini adalah desain karakternya. Konata Izumi didesain sebagai cewek otaku dengan konsep yang orisinil. Kagami Hiiragi sebagai tsundere[2] yang imut-imut, sementara Tsukasa Hiiragi jadi karakter yang polos tapi sering ceroboh. Miyuki Takara? kombinasi unik antara cewek elegan dengan moe-factor… sudahlah. dari departemen desain karakter, serial ini di atas rata-rata.
![[lkst04.jpg]](http://i111.photobucket.com/albums/n147/yud1/lkst-04.jpg)
nah. kalau bicara soal serial ini, jelas bicara soal parodi! dari serial semacam Suzumiya Haruhi no Yuutsu dan Fate/Stay Night, sampai Initial D dan Code Geass, semuanya ada… bahkan yang lain-lain yang sampai saya sendiri bingung ke mana reference-nya.[3] belum lagi referensi yang terungkap dalam dialog antara masing-masing karakter yang bisa me-refer ke anime mana saja: Kanon, Full Metal Panic!, atau entahlah yang lain… banyak banget, soalnya.
tapi sayangnya, walaupun genre-nya komedi, serial ini bisa jadi terkesan ‘garing’ untuk pemirsa yang awam soal budaya Jepang, khususnya soal anime-manga culture di negara asalnya tersebut. bukan kenapa-kenapa, jokes-nya sendiri bisa dibilang ‘agak lokal’… walaupun di beberapa bagian sebenarnya bisa dibilang cukup cerdas. belum lagi hal-hal yang terkait segala bentuk ‘otaku-isme’, mengakibatkan serial ini bisa kehilangan greget di mata pemirsa yang relatif awam soal ini.
apa lagi yang kurang, yah? musik lumayan oke, diisi dengan Motteke! Sailor Fuku di bagian OP yang cukup memorable. ED-nya lebih banyak diisi oleh cover[4], namun belakangan jadi ajang adu konyol oleh figuran legendaris kita: siapa lagi kalau bukan Minoru Shiraishi!
tentu saja, yang juga perlu diperhatikan adalah segmen acara Lucky Channel yang diisi oleh Akira Kogami dan Minoru Shiraishi. segmen ini, walaupun tadinya lebih terasa sebagai ‘acara nggak penting’, toh akhirnya menjadi bagian yang cukup menarik perhatian… dengan caranya sendiri, sih. punchline yang bergaya sedikit satir dan kadang-kadang sarkas menjadi sebagian daya tarik segmen ini, khususnya mulai pertengahan serial ini.
![[lkst06.jpg]](http://i111.photobucket.com/albums/n147/yud1/lkst-06.jpg)
pokoknya, sudahlah. nggak perlu mikir kalau mau nonton serial ini. cerita yang loosely coupled cukup tepat untuk anda yang menonton anime untuk senang-senang, walaupun mungkin beberapa jokes ala otaku akan membuat beberapa pemirsa mengerutkan kening… lagi-lagi, ini karena jokes yang bisa dibilang ‘agak lokal’ dan culture-related.
…jadi? tergantung selera, sih. tapi saya sendiri memberikan penilaian cukup tinggi untuk serial ini… dengan beberapa catatan tadi, tentunya.
___
[1] komik yang terdiri atas kumpulan snapshot sepanjang 4 kolom. bisa juga dibilang sebagai komik strip, sih.
[2] tsundere? karakter cewek yang awalnya galak-dan-sebagainya, namun ternyata belakangan memiliki sisi lembut… konon katanya, ini karakteristik yang cuma ada di anime dan manga. saya sih nggak terlalu percaya.
[3] saya mencurigai salah satu episode me-refer ke serial 24 yang berasal dari Amerika Serikat. itu lho, pas Konata ulang tahun…
[4] ‘cover’ maksudnya lagu yang dinyanyikan oleh penyanyi berbeda. misalnya lagunya Mikuni Shimokawa di-cover oleh Aya Hirano di salah satu episode.
by yud1 4:15 pm
12.05.07
Posted in J-Stuff at 11:01 am by yud1
sejak menonton bagian awal dari serial Gundam 00 (preview-nya sempat ditulis di sini beberapa waktu yang lalu), lagu ini jadi sering nongkrong di playlist saya. entah kenapa, tapi kayaknya selera musik saya sedang ke arah rock dan sedikit alternatif akhir-akhir ini.
nah, lanjut. bicara soal Gundam 00, kalau mau jujur, sebenarnya sih OST yang ditampilkan merupakan salah satu poin yang membuat penilaian saya tidak jatuh-jatuh amat untuk serial tersebut. salah satunya, lagu ini… yah, tapi ini penilaian pribadi, sih.
dibawakan oleh The Back Horn dan dirilis dalam sebuah single yang berisi 4 track, lagu ini merupakan track pertama dari single tersebut. musiknya agak ke arah rock dan alternatif, dan — sebagai OST dari sebuah serial Gundam — masih meneruskan ‘tradisi’ dari serial produksi SUNRISE, yang tidak pernah benar-benar mengecewakan dari segi OST untuk beberapa produksi terakhirnya.
langsung saja deh. lyrics dengan huruf italic, translations dengan huruf plain, dan mohon koreksi kalau ada salah penerjemahan berhubung saya mencoba menerjemahkannya sendiri.
Wana (jp: trap)
The Back Horn
zetsubou wa amai wana
tozasareta sono tobira
kokoro ga senjou dakara
darenimo sukuenai
despair is such a sweet trap,
shutting that door away
the heart itself is battlefield,
no one can be helped from
zenmai no shinzou ga unmei ni ayatsurare
buriki no heitaitachi wa satsuriku wo hajimeru
the heart of spring is pulling the string of fate [1]
the tin soldiers are beginning the slaughter
inochi sae mo moteasobu noka
kowarekaketa otogi no kuni de
mune no oku ni hashiru itami wo
douka zutto wasurenu mama de
playing even with people’s life,
destroying the land of fairytale away
the pain that runs within your heart,
never let yourself forget
yokubou wa doku ringo te ni ireta mono wa nani
mirai no kodomotachi e to nokoseru mono wa nani
desire is a poisoned apple, what do you get by that? [2]
the future of the children, what do we leave for them?
ai wo shirazu yureru yurikago
moetsukiteku nemuri no mori de
tomo ni ikiru yorokobi sae mo
kiete shimau tooku
the swaying cradle that knows no love
sleeping in the burned out forest
the happiness of sharing each other
is being put away to a distant place [3]
yasashisa wo shinji subete wo yurushite
itsukushimu youni tada wakachiatte wakariatte
believe in kindness, forgive everything
in order to love, share and understand
inochi sae mo moteasobu noka
kowarekaketa otogi no kuni de
mune no oku ni hashiru itami wo
douka zutto wasurenu mama de
playing even with people’s life,
destroying the land of fairytale away
the pain that runs within your heart,
never let yourself forget
ai wo shirazu yureru yurikago
naze bokura wa umareta no darou
haruka kanata inori no youna
komori uta ga hibiku
the swaying cradle that knows no love
why were we born to begin with?
like a prayer to faraway coast,
the lullaby echoes
yasashisa wo shinji subete wo yurushite
itsukushimu youni tada wakachiatte wakariatte
believe in kindness, forgive everything
in order to love, share and understand
check this for the file:
The Back Horn - Wana
(MP3, 320 kbps, 44 KHz - 4:33)
___
footnote:
[1] ’spring’ di sini maksudnya ‘per’, bukan ‘musim semi’. kalau melihat konteksnya sih, sepertinya prajurit yang bertempur kayak mesin, yah.
[2] ‘te ni ireta’ secara harfiah artinya ‘ada di tangan’, tapi secara umum digunakan sebagai frase yang berarti ‘yang diperoleh’
[3] ‘kiete shimau tooku’, kalau secara gampang sih artinya ‘dibuang jauh-jauh’. mempertimbangkan penerjemahan yang enak, jadinya seperti itu.
by yud1 11:01 am
11.21.07
Posted in J-Stuff at 10:52 am by yud1
setelah beberapa lama, akhirnya datang juga installment terbaru dari franchise terbitan SUNRISE yang satu ini. setelah Gundam SEED yang fenomenal dan diikuti oleh SEED: Destiny, kali ini SUNRISE memutuskan untuk membuat sebuah serial Gundam yang baru: latar waktu yang berbeda, setting dunia yang berbeda, dan mecha yang berbeda, tentu saja.
…tidak semuanya baru, sih. bagus? nanti dulu. tidak banyak yang bisa dinilai dari serial yang masih running dan saat ini masih menginjak episode ke-7 dari rencana 50 episode… yah, tapi ada beberapa catatan, sih.

2307 AD. dunia mengalami krisis energi, seiring dengan persediaan energi fosil yang semakin menipis. sumber energi kemudian dialihkan ke energi matahari melalui stasiun energi berupa Orbital Elevator yang berbentuk pilar yang menjulang sampai setinggi 50.000 km dari permukaan bumi.
pembangunan Orbital Elevator untuk memenuhi kebutuhan energi dunia mengakibatkan negara-negara kemudian terbagi ke dalam tiga kelompok besar: World Economic Union (Union) yang berbasis di Amerika Serikat, Human Reformation Association (HRA) yang disokong oleh Rusia, Cina, dan India, serta Advanced European Union (AEU) yang berbasis di Eropa. pada saat ini, terdapat tiga buah Orbital Elevator yang masing-masing dikuasai oleh Union, HRA, dan AEU.
selain terbentuk sebagai pakta untuk penanggulangan krisis energi, persaingan masing-masing blok negara ini juga meliputi perlombaan senjata dan pertentangan politik, serta perebutan pengaruh dan proxy war di berbagai belahan dunia. pada saat ini pula muncul gerakan militer yang menamakan diri Celestial Being, yang menyatakan diri memiliki tujuan untuk menghentikan segala tindak peperangan yang terjadi di seluruh dunia. dengan persenjataan yang jauh lebih maju dibandingkan blok-blok yang ada, Celestial Being melakukan intervensi terhadap perang yang terjadi di seluruh dunia dengan menghancurkan persenjataan dari pihak-pihak yang bertikai dalam perang.
termasuk dalam persenjataan yang dimiliki oleh Celestial Being adalah pasukan robot humanoid yang dikenal sebagai Gundam, dengan masing-masing pilot yang disebut sebagai Gundam Meisters: Exia Gundam oleh Setsuna F. Seiei, Dynames Gundam oleh Lockon Stratos, Kyrios Gundam oleh Allelujah Haptism, dan Virtue Gundam oleh Tieria Erde.
cerita berjalan di sekitar keempat Gundam Meisters tersebut… dalam gerakan yang dilakukan oleh Celestial Being, yang dilakukan dengan tujuan untuk menciptakan perdamaian dunia.

sejujurnya, saya tidak benar-benar merasakan drive yang kuat untuk mulai menonton serial ini. melihat beberapa preview-nya, termasuk yang pernah ditulis oleh Futsu di sini, entah kenapa, saya masih saja bersikap agak skeptis: jujur saja, serial Gundam nyaris selalu membawakan tema yang sama: perang besar-besaran, idealisme dan pasivisme di tengah medan perang, dan proses perdamaian yang begitulah-pokoknya.
…gimana yah? secara sederhana sih, pemirsa yang ‘kritis’ mungkin akan menemukan bahwa franchise ini kadang-kadang menampilkan plot-twisting dan klimaks cerita yang agak ‘absurd’. tentu saja, pesan perdamaian dan pasivisme terasa kuat sekali di serial-serial Gundam… mungkin ini relatif sih, tapi anda yang mengikuti perjalanan cerita Gundam SEED, Gundam SEED: Destiny, atau Gundam Wing seharusnya memahami maksud saya. dan tampaknya, Gundam 00 juga tidak lepas dari hal seperti ini.
di episode-episode awal, pemirsa yang mengikuti serial Gundam Wing mungkin akan langsung menyadari kemiripan antara Gundam 00 dengan serial tersebut. konsep cerita di mana terdapat organisasi independen yang anti-perang merupakan konsep yang juga diterapkan dalam Gundam Wing, lengkap dengan pilot-pilot yang bekerja sama dengan idealisme untuk mengakhiri perang dengan masing-masing karakternya. sebagai tambahannya, anda yang cukup jeli mungkin juga akan memperhatikan adanya sedikit kemiripan desain dan karakterisasi antara Setsuna F. Seiei dengan Heero Yuy dari Gundam Wing.
bukan hal yang salah juga, sih. Gundam SEED yang berangkat dari konsep yang mirip dengan serial Gundam yang pertama toh akhirnya sukses dan menjadi fenomena, dan tampaknya Gundam 00 melakukan hal yang sama terhadap Gundam Wing.
hal lain yang perlu diperhatikan adalah sense penamaan karakter yang bisa dikatakan… well, agak kurang pas. oke, penggunaan nama seperti Exia atau Dynames atau Kyrios untuk penamaan Gundam mungkin tidak ada masalah. tapi nama organisasi militer ‘Celestial Being’? duh. kesannya malah lebih pantas untuk nama sekte keagamaan daripada organisasi militer.
untuk nama pilot, hal yang sama juga terjadi: Setsuna F. Seiei mungkin agak ‘aneh’, tapi toh masih bisa diterima. tapi Allelujah Haptism? ya ampun. lagipula, kenapa juga para pilot Gundam itu diberi identitas sebagai ‘Gundam Meisters’? duh… mungkin, kita bisa menyebut Setsuna F. Seiei sebagai ‘Mr. Gundam Exia’ atau Lockon Stratos sebagai ‘Mr. Gundam Dynames’ kalau begitu. *doh*

nah. bicara soal Gundam, berarti bicara soal serial dengan latar belakang suasana peperangan. dan sayangnya, intrik-intrik dalam perang hampir selalu ditampilkan secara kurang maksimal dalam serial ini… dan hal ini terjadi pada banyak serial Gundam. bahkan SEED dan SEED: Destiny juga tidak lepas dari hal ini… dan sayangnya lagi, serial ini tampaknya tidak terkecuali.
di episode-episode awal, intrik-intrik politik terasa agak… apa ya? garing, mungkin. dalam beberapa hal, malah terasa agak naif. secara sederhana sih, tiba-tiba seolah mudah sekali negara-negara memutuskan untuk perang-dan-damai… dan lebih ‘absurd’-nya lagi, perhitungan-perhitungan politik jadi terasa agak hambar di serial ini. angst yang diharapkan timbul dari suasana perang malah kurang terasa… tapi entahlah, mungkin ini pendapat pribadi saja, sih.
sayangnya, serial Gundam tampaknya sudah ‘terbiasa’ dengan pakem tersebut, dan sepertinya belum akan ada perubahan yang revolusioner dari serial ini. yah, tapi itu kesan dari beberapa episode pertama, sih.
nah, sekarang, mari kita masuk ke bagian teknisnya. dari segi visual, serial ini luar biasa. sebagai serial Gundam yang pertama kali dirilis dalam format high definition, serial ini enak dilihat. penggunaan 3D CG dilakukan dengan sangat baik dibandingkan serial lain di kelasnya. adegan battle mengalir mulus, dan penggambaran karakter dilakukan dengan baik. penggambaran mecha di-cover dengan rapi, dengan desain yang juga bisa dibilang cukup enak dipandang… tapi sayangnya, penggunaan efek sparkle pada penggambaran mecha malah terkesan ‘merusak pemandangan’. yah, beberapa pemirsa mungkin akan memandangnya sebagai ‘enak dilihat’… soal selera, mungkin.
di bagian musik, serial ini tampil sangat baik, walaupun tidak luar biasa. OP-nya diisi oleh L’Arc~en~Ciel untuk lagu Daybreak’s Bell yang cukup enak didengar… dan entah kenapa, terkesan sangat mainstream. di bagian ED, ada Wana dari The Back Horn, dengan nuansa rock dan sedikit alternatif. tapi, yah, untuk OP dan ED ini sepertinya jatuhnya ke mainstream juga, sih. cukup menjual, seharusnya… tapi bukan tipe-tipe favorit saya juga, sih. secara pribadi, saya menemukan Wana lebih enjoyable daripada Daybreak’s Bell untuk serial ini… tapi lagi-lagi, soal ini subjektif.

nah. jadi, kesimpulannya. serial ini tampil sangat baik dari segi visual, didukung dengan OST yang lebih dari lumayan… tapi sayangnya, sampai di situ saja. tema cerita terasa agak terlalu ‘biasa’, dan di beberapa bagian terasa agak kurang realistis. konsep pasivisme yang menjadi benang merah cerita dari franchise ini masih dipertahankan, dan masih dengan eksekusi yang tidak terlalu istimewa. well… agak sayang juga, sebenarnya.
saya sendiri masih belum memutuskan apakah saya akan melanjutkan serial ini atau tidak. anda penggemar Gundam yang selalu mengikuti perkembangan terbaru dari franchise ini seharusnya tidak akan menyesal, sih. tapi kalau anda mengharapkan sesuatu yang ‘lebih’ dan ‘tidak sekadar numpang lewat’ dari sebuah serial dengan genre mecha, mungkin anda tidak akan menemukannya dari serial ini.
…mungkin, lho. serial ini masih panjang, soalnya.
by yud1 10:52 am
09.19.07
Posted in J-Stuff at 12:02 am by yud1
pertama kali mendengar tentang serial ini dan melihat beberapa preview-nya, saya sempat agak skeptis. kolaborasi antara SUNRISE dengan CLAMP ini memang terdengar menjanjikan, tapi nanti dulu.
belakangan, well… skeptisisme saya ternyata tidak terbukti. yah, tapi ada beberapa catatan, sih.
mulai running pada Oktober 2006 dan berakhir pada Juli 2007, Code Geass: Hangyaku no Lelouch (aka: Code Geass: Lelouch of The Rebellion) adalah serial dengan genre action dan mecha sebagai elemen utamanya. ditambah dengan intrik-intrik politik dan strategi pada masa perang, serial ini berhasil dengan baik dalam menghasilkan sebuah tontonan yang menghibur.

2010 ATB. Kerajaan Britania Raya sebagai satu-satunya negara adidaya dunia menyatakan perang terhadap Jepang. penggunaan teknologi perang yang jauh lebih maju mengakibatkan kekalahan pada pihak Jepang, menjadikannya daerah taklukan di bawah Britania Raya: daerah Jepang kemudian dikenal sebagai Area 11, dengan penduduknya disebut sebagai Elevens.
pada saat yang sama, Lelouch vie Britannia adalah seorang pangeran dari kerajaan Britania Raya yang meninggalkan istana setelah peristiwa pembunuhan terhadap ibunya, Ratu Marianne. meninggalkan tanah Britania, ia tinggal di Jepang bersama adiknya, Nunnally dan sahabatnya, Kururugi Suzaku pada masa penaklukan Area 11.
kebenciannya terhadap kerajaan Britania Raya semakin memuncak ketika menyaksikan penaklukan Area 11; ia kemudian bersumpah kepada Suzaku bahwa ia akan menghancurkan kerajaan Britania Raya pada pertemuan terakhir mereka.
2017 ATB. Area 11 telah menjadi bagian dari Britania Raya, namun masih dengan gerakan-gerakan pemberontakan yang kerap terjadi. menggunakan nama Lelouch Lamperouge, Lelouch menyamarkan identitasnya sebagai pangeran dan menjalani kehidupan sebagai pelajar di Ashford Academy.
terperangkap secara tidak sengaja dalam pencurian senjata rahasia milik militer Britannia Raya, ia kemudian mendapatkan kesempatan untuk membalaskan dendamnya…
…ketika ia mendapatkan Geass: sebuah kekuatan yang dapat memaksakan kepatuhan absolut kepada siapapun yang dikehendakinya.

sebenarnya, storyline dalam serial ini dapat dikatakan cukup kompleks. intrik-intrik politik, strategi perang, dan konflik-konflik pribadi menjadi bagian tak terpisahkan dari serial ini. intrik-intrik politik menjadi salah satu bagian utama dari serial ini: dari pertentangan para jenderal Britania Raya sampai konflik antar faksi pemberontak di Area 11.
secara umum, konflik-konflik yang ada memang dieksplorasi dengan cukup baik… dan didukung dengan tema dan storyline yang pada dasarnya cukup kompleks, serial ini berhasil dengan cukup baik dalam hal tersebut.
sayangnya, dari segi pengembangan cerita, serial ini agak kedodoran di beberapa bagian — khususnya di paruh pertama serial. pengembangan beberapa side-story menampilkan keterkaitan yang sebenarnya tidak terlalu signifikan dengan jalan cerita utama dari serial ini, dan bisa dikatakan agak kurang perlu. agak disayangkan, tapi bagusnya hal ini tidak sampai jatuh menjadi fatal.
…tapi sesungguhnya, kekuatan utama serial ini adalah pada plot-twisting yang dilakukan. mengecualikan beberapa bagian di awal cerita dan side-story yang dari beberapa aspek terasa kurang signifikan, serial ini tampil luar biasa dari segi plot-twisting. intensitas cerita dipertahankan dengan baik terutama sejak bagian awal-tengah sampai akhir serial, lengkap dengan perkembangan cerita yang nyaris tidak terduga.
…bagaimana tidak terduganya, silakan nonton sendiri. subjektif mungkin, tapi tidak banyak film yang bisa membuat saya terbengong-bengong dengan alur cerita yang tidak terduga seperti ini.
overall, dari segi cerita serial ini tampil sangat baik. ada beberapa catatan, tapi secara umum bagian ini layak dipuji dari serial ini.

desain karakter untuk serial ini dilakukan oleh CLAMP, jadi anda yang familiar dengan karya-karya dari CLAMP seharusnya tidak terlalu asing dengan desain dari karakter-karakter yang muncul pada serial ini. hal ini bisa diperhatikan dari proporsi dan tarikan garis yang ‘berbau’ CLAMP, walaupun proses produksi tidak langsung ditangani oleh CLAMP.
nah. bicara soal desain karakter yang ‘berbau’ CLAMP, dalam serial ini juga bisa ditemukan karakter-karakter yang ‘berbau’ SUNRISE, khususnya salah satu franchise yang terkenal ini. iyaa, apa lagi kalau bukan Gundam!
anda yang memperhatikan, mungkin akan dengan cepat menemukan bahwa desain dari beberapa karakter mengikuti ‘patron’ dari beberapa karakter dari serial Gundam yang juga diproduksi oleh SUNRISE, khususnya Gundam SEED. tidak percaya? silakan nonton dan perhatikan sendiri. setelah itu, silakan memastikan Karen Stadtfeld itu mirip siapa, Euphemia La Britannia itu mirip siapa, dan Kururugi Suzaku itu mirip siapa.
OK, bicara tentang desain karakter, serial ini tampil lumayan dengan beberapa catatan tadi. tapi sayangnya, serial ini justru kurang berhasil di bagian eksplorasi karakter. terlalu banyak karakter yang ada, terlalu banyak konflik yang dikembangkan, dan jadi banyak karakter yang tidak kebagian tempat.
Shirley Fenette, Millia Ashford, dan beberapa karakter lain yang seharusnya bisa lebih dieksplorasi jadi terasa agak dangkal. karakter Karen Stadtfeld terasa lebih menjadi sekadar tempelan dari tengah sampai akhir cerita, demikian juga karakter sekelas Toudou Kyoushirou seolah jadi tersia-sia.
oh well, mungkin ini dampak dari terlalu banyaknya karakter yang dimunculkan dalam serial ini, masing-masing dengan signifikansinya terhadap alur cerita. bisa dipahami bahwa dengan pengembangan karakter yang cukup baik untuk karakter-karakter utama, karakter yang lain jadi seolah terpinggirkan.

nah. sekarang soal musik. secara umum, OST yang dibawakan dalam serial ini terdiri atas beberapa nomor: 3 OP dan 3 ED. banyak? memang. tambahkan juga insert song yang ditampilkan dalam beberapa episode. tampaknya ini memang ‘kebiasaan’ dari SUNRISE sih, kalau memperhatikan karya-karya terakhir mereka.
di bagian OP, secara berturut-turut ada COLORS yang dibawakan oleh FLOW, Kaidoku Funou dari Jinn, dan Hitomi no Tsubasa dari Access. COLORS tampil dengan gaya pop yang relatif easy listening dan cukup memorable, sementara Kaidoku Funou dengan gaya yang lebih rockish, tapi toh cukup enak didengar. Hitomi no Tsubasa lebih ke arah alternatif, dan seharusnya bisa menjadi OST yang juga memorable, sayangnya hanya sempat mengisi dua episode terakhir.
di bagian ED, ada Yukyou Seishunka dari Ali Project, lalu Mosaic Kakera dari SunSet Swish, dan terakhir Innocent Days dari Hitomi. Yukyou Seishunka cukup memorable, tapi sepertinya bukan selera semua orang, sih. Mosaic Kakera lebih easy listening, tapi tidak terlalu memorable. Innocent Days, entah kenapa, terasa agak ‘terlalu biasa’… yah, tapi mungkin ini relatif, sih.
yah, salah kekuatan lain dari serial ini memang pada musiknya yang di atas rata-rata. OST yang ditampilkan lumayan enak didengar dan bisa dikatakan memorable. meskipun demikian, dari sisi scores serial ini tidak terlalu istimewa. tidak jelek sih, hanya saja scores yang ditampilkan memang belum sampai pada taraf ‘luar biasa’. lagi-lagi, ini subjektif, sih.

untuk anda penggemar anime dengan genre action dan mecha, lengkap dengan intrik-intrik yang ‘tidak sekedar lewat’, serial ini highly recommended. dengan jalan cerita dan plot-twisting yang relatif ‘berat’, serial ini tampil luar biasa. ada beberapa catatan sih, tapi hal tersebut tidak mengurangi nilai tambah dari serial ini.
hal lain yang perlu dipertimbangkan juga adalah bahwa serial ini bukan untuk anak-anak. jalan cerita yang relatif ‘berat’, ditambah dengan adegan-adegan kekerasan, strong language, dan gore cukup banyak ditampilkan dalam serial ini, sehubungan dengan target pemirsa dengan segmentasi umur remaja-dewasa.
yah, tapi kalau ada satu hal yang perlu ‘disayangkan’ dari serial ini, adalah bahwa serial ini bukan merupakan satu kesatuan cerita yang utuh… alias, sebenarnya cerita dalam serial ini belum selesai sampai episode terakhir dari season pertamanya.
…tentu saja, ini berarti akan ada season keduanya. dan sepertinya sih, season keduanya juga tidak boleh dilewatkan, kalau begini. 
by yud1 12:02 am
« Previous entries