01.23.07

death note: the movie

Posted in J-Stuff at 10:09 am by yud1

apa yang akan terjadi bila seorang manusia tiba-tiba bisa menentukan saat kematian orang lain sesuka hatinya?

tema yang tidak biasa ini dicoba untuk diangkat dalam sebuah film berjudul Death Note, yang diadaptasi dari serial manga dengan judul yang sama. dipadukan dengan pendekatan bergaya suspense dan thriller, film ini mencoba mengangkat serial manga tersebut ke dalam sebuah film yang mendapatkan sambutan sangat baik di negara asalnya ini.

cerita dalam film ini diawali dengan kilasan kehidupan Yagami Raito, seorang mahasiswa yang juga merupakan putra dari seorang inspektur polisi di Tokyo, yang merasa frustrasi akan sistem penegakan hukum di tempatnya berada. rasa frustrasinya semakin memuncak ketika ia dihadapkan kepada kenyataan bahwa banyak kriminal yang seharusnya dihukum berat malah bebas dari hukuman, mengakibatkannya semakin kecewa kepada sistem hukum yang berlaku.

pertemuannya dengan seorang Shinigami (=angel of death) yang bernama Ryuk dan sebuah buku berjudul Death Note membuka jalan bagi rasa frustrasinya: ia kini bisa menentukan kematian orang-orang yang diincarnya, yaitu para kriminal yang lolos dari jerat hukum hanya dengan menuliskan nama mereka ke dalam Death Note.

di pihak lain, seorang detektif misterius yang dikenal sebagai ‘L’ tidak tinggal diam melihat fenomena terjadinya kematian misterius orang-orang di seluruh dunia yang dilakukan oleh KIRA, sebuah nama yang diberikan untuk pembunuh tak terlihat yang menghabisi para kriminal di seluruh dunia.

di tengah ‘idealisme’ untuk menghabisi para kriminal, perseteruan antara KIRA dan L semakin memanas, serta mengarah ke adu superioritas dan saling buru antara keduanya. Raito sebagai KIRA dengan Death Note-nya, sementara L sebagai detektif yang bersumpah untuk menangkap KIRA…

anda yang familiar dengan serial manga yang berjudul Death Note (yang juga sudah bisa dinikmati oleh para pecinta manga di tanah air) seharusnya cukup familiar dengan apa yang ditawarkan dalam film ini: konspirasi, intrik tingkat tinggi, sekaligus adu cerdas antara detektif dan buruannya. dan memang, hal tersebut ditangani dengan sangat baik dalam film ini, menghasilkan thrill yang cukup membuat anda betah duduk berlama-lama sampai film ini usai.

ceritanya agak absurd? memang. bayangkan saja ada seorang Shinigami, tiba-tiba bukunya jatuh, dipungut seorang mahasiswa, dan tiba-tiba seorang pembunuh tak terlihat dianggap sebagai ‘dewa keadilan’ oleh masyarakat. semakin absurdnya lagi, tiba-tiba FBI dan Interpol ikut-ikutan dalam penyelidikan ini. sesungguhnya, kalau anda berpikir bahwa ide cerita dari film ini agak absurd, sebenarnya anda tidak sendirian =).

meskipun demikian, film ini ternyata mampu menjadi hiburan yang cukup seru. adu cerdas antara KIRA dan L dipaparkan dengan baik… lengkap dengan thrill yang cukup mampu membuat penasaran sampai film berakhir. demikian juga adu kemampuan dan saling pasang trik antara KIRA dan L dituangkan dengan sangat baik, memancing pemikiran dan tebak-tebakan sepanjang film akan apa-apa yang akan dilakukan oleh KIRA maupun L dalam perseteruan mereka.

yah, walaupun ide dasarnya cukup absurd, setidaknya film ini cukup mampu menghasilkan thrill yang memikat. demikian juga minus beberapa bagian di mana logika yang ditampilkan terasa agak kurang pas, namun film ini tetap memberikan thrill yang cukup membuat anda bertahan di tempat duduk sambil berpikir dan menebak-nebak.

sebagai sebuah film yang diangkat dari sebuah manga, film ini cukup berhasil dalam menerjemahkan ide yang ada dalam coretan manga menjadi sebuah film dengan pemeran nyata. ada beberapa perbedaan, namun secara umum film ini cukup baik dalam hal tersebut. Yagami Raito digambarkan secara lebih manusiawi dibandingkan dalam versi manga-nya, lengkap dengan alasan yang digambarkan lebih manusiawi untuk menjalani peranan sebagai KIRA. visualisasi L sebagai tokoh nyata cukup mendekati versi manga-nya, walaupun dalam versi yang sedikit berbeda dan gaya yang sedikit lebih serius.

visualisasi karakter lain dari versi manga ke pemeran nyata juga dilakukan dengan cukup rapi, walaupun tidak terlalu signifikan. meskipun demikian, dalam film ini visualisasi tokoh dari versi manga yang paling sukses malah peranan Ryuk sebagai Shinigami yang mendampingi Raito. penggunaan CG sukses menghasilkan karakter yang bisa dikatakan hampir persis sama dengan karakter Ryuk yang ada di versi manga.

demikian juga kenyataan bahwa film ini diangkat dari sebuah manga tidak berarti film ini taat seratus persen kepada jalan cerita dari versi manga-nya. beberapa bagian dibuat lebih sederhana, dan ada beberapa bagian yang memberikan perbedaan dibandingkan versi manga-nya. hal yang cukup wajar juga, namun meskipun demikian secara garis besar ide cerita yang disampaikan tidak jauh berbeda dari versi manga-nya, demikian juga anda yang tidak mengikuti serial manga-nya seharusnya tetap bisa menikmati film ini dengan baik.

oh, well… terlepas dari beberapa catatan tadi, film ini sebenarnya tampil menghibur, dan toh tidak ada gunanya juga meng-’gugat’ film ini, karena film ini berada di puncak box office di negara asalnya selama dua minggu berturut-turut. bagian kedua dari Death Note yang diberi judul Death Note: The Last Name (dirilis tidak terlalu lama setelah film ini) malah berada di puncak box office Jepang selama empat minggu, dengan sambutan yang sangat baik dari publik negara asalnya.

untuk anda penggemar film dengan genre suspense dan thriller yang lengkap dengan intrik-intrik yang membuat anda memutar otak, film ini merupakan pilihan yang sangat tepat… meskipun demikian, anda mungkin perlu sedikit meminggirkan dulu pikiran yang mungkin memandang ide cerita dari film ini sebagai ‘agak absurd’ sebelum anda memutuskan untuk menonton film ini.

01.07.07

fate/stay night

Posted in J-Stuff at 6:01 pm by yud1

gw pertama kali mendengar tentang serial ini kira-kira kurang dari setahun yang lalu, saat serial ini baru mulai running di negara asalnya. running-nya sendiri berakhir pada Juni 2006 di negara asalnya, dan baru belakangan ini gw mendapatkan hasil fansub dari serial ini. meskipun demikian, serial yang mendapatkan sambutan sangat baik di negara asalnya ini memang memberikan sesuatu yang ‘tidak biasa’ dibandingkan serial lain dengan genre sejenis.

cerita dalam serial ini berfokus kepada War of Holy Grail yang berlangsung antara 7 orang Master dengan Servant masing-masing yang saling bertentangan dalam pertempuran tersebut. para Servant ini adalah heroic spirit yang di-summon oleh seorang Master, yang memiliki kekuatan khusus yang berbeda-beda antar kelasnya. para Servant ini mengabdi kepada Master masing-masing, dan berperan sebagai partner para Master dalam pertempuran tersebut.

sementara itu, Emiya Shirou adalah seorang siswa SMU yang kehilangan keluarganya dalam kebakaran besar yang melanda kota tempat tinggalnya 10 tahun yang lalu. ia kemudian tinggal bersama Emiya Kiritsugu, orang yang menyelamatkannya dari bencana tersebut, yang kemudian menjadi ayah angkatnya. Kiritsugu akhirnya meninggal 5 tahun setelah bencana tersebut, meninggalkan Shirou bersama seluruh hartanya yang diwariskan kepada anak angkatnya tersebut.

di lain pihak, Tohsaka Rin adalah seorang keturunan magi yang juga merupakan rekan satu sekolah Shirou. dengan melakukan summon terhadap Servant yang bernama Archer, ia mempersiapkan diri sebagai salah seorang Master dalam War of Holy Grail.

kehadiran Tohsaka yang sempat menyelamatkan nyawanya setelah ia nyaris terbunuh dalam salah satu pertempuran bukanlah masalah bagi Shirou… sampai ia secara ajaib melakukan summon terhadap seorang Servant yang bernama Saber. Shirou yang tidak tahu-menahu mengenai War of Holy Grail tiba-tiba terseret sebagai salah satu Master ke dalam perang yang membingungkan ini…

diangkat dari sebuah game dengan judul yang sama, Fate/Stay Night dikerjakan oleh Studio DEEN yang bekerjasama dengan TYPE-MOON, di bawah nama Fate Project. versi game-nya sendiri merupakan sebuah eroge [wiki?], namun versi anime-nya yang ditujukan untuk segmentasi pemirsa remaja tampaknya membuang jauh-jauh elemen tersebut dari serial ini, tanpa meninggalkan kompleksitas dari storyline yang menjadi salah satu keunggulan dari game-nya. bagus sih begitu.

artwork dan desain karakternya bisa dikatakan sangat baik — kalau tidak bisa dikatakan luar biasa. Saber digambarkan sebagai seorang ksatria zaman medieval, lengkap dengan pernak-pernik yang memang sesuai zamannya. Tohsaka Rin sebagai sorceress berkemampuan tinggi, lengkap dengan sifat yang agak bossy. Emiya Shirou… yah, tipe cowok baik yang selalu membantu orang lain dan kadang sedikit naif tidak banyak berubah sampai akhir cerita.

karakter lain juga didesain dengan rapi, termasuk karakter-karakter di luar para Master dan Servant yang memang menjadi karakter inti dalam perjalanan cerita. soal artwork yang memang sangat baik ini juga bisa diperhatikan di bagian penggambaran karakter, baik para Master maupun Servant yang memang digambarkan dengan cukup istimewa.

visual effect yang ditampilkan dalam serial ini juga bisa dikatakan sangat baik. adegan battle yang menjadi salah satu keunggulan utama dari serial ini digarap dengan maksimal. pertarungan digambarkan dalam tempo tinggi, dengan efek-efek yang juga enak dilihat. demikian juga penggambaran angle yang unik dalam penggambaran animasinya turut menyumbang nilai lebih dari sisi visual serial ini.

secara keseluruhan, dari segi visual anime ini memang bisa dikatakan cukup luar biasa. artwork, visual effect, dan adegan battle yang digarap dengan sangat baik sukses membuat serial ini visually memorable.

salah satu poin yang sebenarnya juga cukup potensial dalam memberikan nilai tambah dari serial ini adalah konsep cerita yang disajikan. storyline yang ada dibuat dengan baik dan cukup kompleks, dan menjelaskan hampir segala aspek dari cerita yang dijelaskan dalam serial sepanjang 24 episode ini. meskipun demikian, hal ini agak kurang diimbangi dengan storytelling yang terasa ‘cukup biasa’. beberapa bagian dalam cerita malah terasa agak terlalu lambat dan sedikit kurang signifikan, terutama selepas episode 19 di mana proses pengembangan cerita menjadi terasa tidak terlalu istimewa dibandingkan episode-episode sebelumnya.

masih dari soal cerita, character development dilakukan dengan cukup baik di serial ini… untuk beberapa bagian. bagian di mana Tohsaka dan Shirou yang awalnya sempat hendak saling bunuh, lalu menjadi sekutu, dan akhirnya menjadi tim yang kompak memang cukup menarik perhatian… tapi yang lainnya, tidak. demikian juga karakter seperti Matou Sakura dan Ilyasviel von Einzbern tampaknya menjadi agak tersia-sia dengan pengembangan yang ’seperti itu saja’.

bagusnya, hal tersebut di-cover dengan musical scores dan OST yang sangat baik. musical scores di serial ini ditangani oleh Kenji Kawai, yang sukses menghasilkan scores yang memang luar biasa untuk serial ini. penggunaan scores yang sangat baik ini dapat diperhatikan pada hampir setiap event yang terjadi pada beberapa episode. demikian juga karakter seperti Saber dan Archer memiliki theme masing-masing yang juga cukup memorable dalam serial ini.

OST yang diusung serial ini juga cukup memorable. opening theme-nya dibawakan oleh Tainaka Sachi dengan lagu disillusion yang cukup enak didengar, dan belakangan digantikan oleh lagu Kirameku Namida wa Hoshi ni yang dibawakan oleh penyanyi yang sama, yang — meskipun dengan tempo tinggi yang cukup menghentak — sebenarnya cukup khas dan memorable.

untuk ending theme-nya, lagu Anata ga Ita Mori yang dibawakan oleh Jukai terasa cukup ‘biasa’, tapi toh cukup enak didengar. meskipun demikian, salah satu insert song yang berjudul Hikari yang juga dibawakan oleh Jukai di episode 14 terasa cukup memorable, dan secara umum OST dari serial ini bisa dikatakan cukup baik.

secara umum, serial ini digarap dengan sangat baik, dan tidak mengherankan juga bahwa serial ini memperoleh sambutan yang sangat baik di negara asalnya. storyline yang dikembangkan juga cukup kompleks, walaupun dengan storytelling yang sayangnya masih kurang mampu mengimbangi konsep cerita yang sebenarnya bisa berkembang lebih baik lagi.

meskipun demikian, serial ini mampu tampil menghibur, walaupun masih dengan beberapa kekurangan yang membuatnya tidak sempurna. setidaknya, serial ini cukup jauh di atas rata-rata.

12.26.06

Kamen Rider Kabuto OST — NEXT LEVEL

Posted in J-Stuff at 4:07 pm by yud1

dari serial Kamen Rider Kabuto yang review-nya sempat gw tulis beberapa waktu yang lalu, kali ini gw akan menuliskan mengenai opening theme-nya yang dibawakan oleh Yu-Ki, yang diberi judul NEXT LEVEL.

lagu ini mengisi opening theme dari serial tersebut sejak episode pertama, dan sampai saat ini masih belum tergantikan di serial yang sejauh ini masih running di negara asalnya tersebut. nuansanya yang upbeat dengan gaya yang agak-agak techno sebenarnya cukup pas untuk opening theme dari serial Kamen Rider modern, dan menurut gw cukup enak untuk didengarkan… tapi ini sifatnya subjektif, sih. anda yang agak kurang suka lagu yang upbeat dengan tempo tinggi dan gaya yang agak techno mungkin akan berpendapat lain.

oh, iya. yang gw tulis di sini adalah versi aslinya, jadi ada bagian-bagian yang tidak ada di TV-version-nya. lyrics dengan huruf italic, dan translation-nya dengan huruf plain. mohon koreksi kalau ada salah translate, berhubung gw mencoba menerjemahkannya sendiri.

NEXT LEVEL
Yu-Ki

kimi ga negau koto nara
subete ga genjitsu ni naru darou
erabareshi mono naraba
bousou wo hajimeteru
sekai wo moto ni modosu ni wa mou
jikan ga nai

if you wish for it,
then everything will come true
if you are the chosen one
things are getting out of control,
but the world is already back to normal
there is no time

MOVING FAST kokoro no tokei hashirase
ashita no sono saki e

moving fast, run the clock in your heart [1]
go past tomorrow [2]

kimi no tonari tatakau tabi umarekawaru
me ni mieru SPEED koeteku MOTION
ittai jibun igai, dare no tsuyosa
shinjirareru

everytime I’m fighting by your side, I’m reborn
seen in my eyes, a speed-exceeding motion
unless yourself, the strength of the others
can you trust them?

kousoku no VISION minogasu na
tsuite koreru nara

don’t miss the light-speed vision
if you can follow it

hikari ga sagashiteiru
atsui kumo no aida kagayaku
erabareshi mono dake wo
kimi ga souzou shiteta
mirai ga arukidashita michi ni
mirai wa nai

looking for the light
with the glowing space of the warm cloud
you are the only chosen one
as I saw your figure [3]
walking the path of future,
there is no tomorrow

TAKE A CHANCE kokoro ga motometsuzuketa
shunkan koko ni aru

take a chance, keep on searching for a heart
which has been here by the moment

dare mo inai jikuu hitori shinkashiteku
mitaiken AREA de hajimaru REAL
zettai jibun dake ga kono jidai wo
kaete yukeru

there is no one, I’m alone in this silent space
this area is beginning to become real
you are absolutely the only one in this era
who is changing it

saikyou no LEGEND minogasu na
tsuite koreru nara

don’t miss the ultimate legend [4]
if you can follow it

kimi no tonari tatakau tabi umarekawaru
me ni mieru SPEED koeteku MOTION
ittai jibun igai dare no tsuyosa
shinjirareru

everytime I’m fighting by your side, I’m reborn
seen in my eyes, a speed-exceeding motion
unless you, the strength of the others
can you trust them?

kousoku no VISION minogasu na
tsuite koreru nara

don’t miss the light-speed vision
if you can follow it

dare mo inai jikuu hitori shinkashiteku
mitaiken AREA de hajimaru REAL
zettai jibun dake ga kono jidai wo
kaete yukeru

there is no one, I’m alone in this silent space
this area is beginning to become real
you are absolutely the only one in this era
who is changing it

saikyou no LEGEND minogasu na
tsuite koreru nara

don’t miss the ultimate legend
if you can follow it

check this for the file:

Yu-Ki - NEXT LEVEL
(MP3, 320 kbps, 44 KHz - 4:20)

___

footnote:

[1] bisa juga diartikan ’speed up the clock in your heart’, tapi gw lebih suka menuliskan arti harfiahnya saja di sini.

[2] saki artinya ‘destination’, jadi seharusnya ‘go to tomorrow’s destination’ tapi supaya lebih enak gw tulis sebagai ‘go past tomorrow’. sama saja, sih.

[3] souzu artinya ‘illustration’. di sini gw menuliskannya sebagai ‘figure’. seperti halnya [2], konteksnya tidak jauh berbeda.

[4] sempat bingung mau mengartikannya sebagai ’strongest’ (ini arti harfiah dari saikyou) atau ‘ultimate’. berdasarkan pertimbangan penerjemahan bahasa Inggris yang enak, akhirnya jadi seperti itu.

___

dedicated to: those who seek the lyrics and translation
message: go check it (and tell me if you find any mistake) =)

11.27.06

current music — yucca

Posted in J-Stuff at 10:53 am by yud1

kalau ada lagu yang betul-betul pas menggambarkan apa yang terjadi pada gw beberapa hari terakhir ini, maka lagu ini adalah salah satunya. tadinya gw tidak terlalu memperhatikan, tapi setelah beberapa lama tidak memasang lagu ini (dulu gw masih nggak ngerti lagu ini ngomongin apa =P), gw memasangnya kembali sambil mendengarkan lyrics-nya.

lagunya sendiri bernuansa mild, dan dirilis sebagai salah satu track dari album DIVE yang dibawakan oleh Maaya Sakamoto, yang merupakan salah seorang penyanyi dan voice actress yang sudah cukup lama dikenal di J-Music dengan berbagai album dan single sejak 1996. perannya sebagai pengisi OST antara lain dilakukan untuk serial Escaflowne, Cardcaptor Sakura, Wolf’s Rain dan Tsubasa Reservoir Chronicle.

oh, iya. kalau anda pernah menonton Final Fantasy VII: Advent Children, ia juga berperan sebagai voice actress untuk karakter Aerith Gainsborough. demikian juga kalau anda masih ingat dengan karakter Lunamaria Hawke di Gundam SEED: Destiny, dan masih ada beberapa lagi yang lain.

dan walaupun sudah agak lama sejak DIVE dirilis (masih ada beberapa album setelah itu, dengan yang terakhir adalah Yunagi Loop yang dirilis pada 2005), menurut gw lagu ini masih cukup enak untuk didengar… walaupun ini sifatnya subjektif, sih.

jadi lagunya bercerita mengenai… sudahlah. silakan baca sendiri translation-nya, dan mohon koreksi kalau ada salah translate berhubung gw mencoba menerjemahkannya sendiri.

Yucca
Maaya Sakamoto

nakushita mono bakari itsumo mochi aruiteita
omoide wa egao ya nukumori ya shiawase made motteru
hoshii mono subete ga nemuru kinou no hibi ni
tada hitotsu tarinai mono ga aru
boku wa yatto kidzuita

keep on losing things, but I keep on walking
smiles, warmth and happiness were fading memories
things that I want lay asleep back on those days
there is only one thing, still it’s not enough
but finally, I realized

mirai wa yatte wa konai
kono mama ja yatte konai
jibun no chiisana kara nukedasa nakucha ikenai

future will not come
at this rate, it just won’t come
I have to go out from this small shell of mine

futatsu no me wo hiraite
futatsu no te wo hirogete
sorikaeru SHINBARU no you ni

open my own two eyes
spread my own two hands
throw it out like cymbals [1]

kokoro wo yusaburu you na nani ka
sakebi dashita kunaru you na
jibun no naka no jibun ga toki wo matteru

something feels like shaking my heart
makes me want to shout it out
the one inside myself is waiting for the time [2]

sutesaru koto de mou ichido hajimari wo shiru
shukufuku wo shiteru you ni mabushii ame ga mado wo tataku yo

by leaving things behind, I learn to start once again [3]
I learn a blessing as the dazzling rain strikes upon the window

dou ni mo naranai koto ya
doushi you mo nai kimochi
sonna mono ga kitto michi wo kimete yuku
LOVE IS GLOWING

nothing can be done about it
nothing can be done about this feeling
such things will surely go on its own path[4]
love is glowing

tewatasareta kanashimi
sore wa nori koeru tame ni aru to
sora miage omou

the sorrow of surrender, [5]
that is the reason for keep on going
and that’s what I think as I look up to the sky

daremo hitori de shinde yuku kedo
hitori de ikite yukenai
itsuka dare ka to boku mo aishiau darou

everyone goes dying only by their own, but
no one goes living only by their own
someday, someone, maybe I will fall in love again

ooki na hitomi ga sekai no doko ka no hate de
mitsumete kureteru

somewhere in the end of the world, those eyes
are watching over me

SHINBARU no you ni
kokoro wo yusaburu you na nani ka
sakebi dashita kunaru you na
jibun no naka no jibun ga toki wo matteru

just like cymbals
something feels like shaking my heart
makes me want to shout it out
the one inside myself is waiting for the time

tewata sareta kanashimi
sore wa nori koeru tame ni aru to
sora miage omou

the sorrow of surrender,
that is the reason for keep on going
and that’s what I think as I look up the sky

daremo hitori de shinde yuku kedo
hitori de ikite yukenai
itsuka dare ka to boku mo aishiau darou

everyone goes dying only by their own, but
no one goes living only by their own
someday, someone, maybe I will fall in love again

hitori de shinde yuku kedo
hitori de ikite yukenai
itsuka dare ka to boku mo aishiau darou

goes dying only by their own, but
no one goes living only by their own
someday, someone, maybe I will fall in love again

check this for the file:

Maaya Sakamoto - Yucca
(MP3, 128 kbps, 44 KHz - 4:55)

___

footnote:

[1] SHINBARU ini sebenarnya kata serapan dari bahasa inggris ‘cymbals’, dan ditulis dengan huruf katakana. seharusnya ditulis ‘…CYMBALS no youni…‘ tapi untuk menghindari kebingungan karena nadanya nggak masuk, jadinya seperti itu.

[2] jibun no naka no jibun ga… secara harfiah berarti ‘myself inside myself…‘. berhubung jadinya nanti aneh dan membingungkan, gw menuliskannya sebagai ‘the one inside myself…’

[3] sutesaru secara harfiah berarti ‘to abandon’. di sini gw menuliskannya sebagai ‘leaving things behind’. walaupun konteksnya tidak jauh berbeda, di sini gw menambahkan kata-kata tersebut supaya lebih pas.

[4] michi wo kimete yuku (michi = ‘path’, kimeru = ‘to decide’, yuku = ‘to go’), jadi bisa juga dikatakan ‘…go on the decided path’, atau bisa juga ‘decide its path’. daripada bingung-bingung, gw menuliskan ‘go on its own path’.

[5] tewatasareta ini agak membingungkan, tapi ternyata asal katanya dari tewatasu (=’to surrender’). kanashimi adalah bentuk kata benda dari kanashii (=’sorrowful’), jadi akhirnya seperti itu.

___

someday, someone, maybe I will fall in love again.

…maybe.

11.15.06

kamen rider kabuto

Posted in J-Stuff at 5:29 pm by yud1

Shibuya, 7 tahun lalu. sebuah meteor jatuh, dan mengakibatkan kerusakan dan korban jiwa yang luar biasa. sejak saat itu pula serangan makhluk-makhluk yang disebut sebagai Worm terhadap manusia semakin ganas, dengan kemampuan untuk me-mimic manusia yang menjadi korbannya. sebuah organisasi rahasia yang dinamakan ZECT dibentuk untuk menanggulangi akibat dari serangan Worm terhadap manusia.

Tokyo, 7 tahun setelah insiden Shibuya. Tendou Souji adalah seorang pemuda yang hidup bersama adiknya, Juka, di pusat kota Tokyo. tampaknya memiliki hubungan erat dengan insiden Shibuya 7 tahun lalu, Tendou dan adiknya hidup normal di kota tersebut… dengan keyakinan dalam dirinya bahwa ia adalah orang yang ‘terpilih’.

di saat yang sama, Kagami Arata adalah seorang anggota baru ZECT, yang merangkap sebagai pekerja sambilan di sebuah restoran yang sama dengan Kusakabe Hiyori, seorang gadis introvert dan tidak banyak bicara yang kehilangan orangtuanya dalam insiden Shibuya.

di tengah semakin gencarnya serangan para Worm, cerita berjalan di seputar kehidupan ketiga orang ini. Kagami yang bekerja untuk ZECT, sementara di sisi lain tampaknya Tendou dan Hiyori memiliki hubungan yang misterius sehubungan dengan insiden Shibuya 7 tahun lalu…

dibuat sebagai peringatan 35 tahun pembuatan Kamen Rider, TOEI tampaknya tidak ingin tanggung-tanggung dalam membuat kelanjutan franchise yang melegenda ini. dan hasilnya adalah serial yang sejauh ini masih running di negara asalnya. bagus? nanti dulu.

masih mengusung konsep dasar Kamen Rider yang sudah dirilis dalam berbagai versi selama 35 tahun, TOEI tidak menghadirkan perubahan yang radikal dalam serial ini. masih ada konsep henshin yang biasa, dengan sedikit penyesuaian. desain Rider masih mempertahankan bentuk serangga, hanya saja kali ini diberi tambahan kemampuan Clock-Up untuk memperlambat waktu dalam pertarungan dan dua bentuk dasar: Masked Form dan Rider Form.

hal yang agak menarik perhatian adalah pengolahan adegan battle-nya. dalam serial ini, penggunaan slow-motion lebih banyak dieksplorasi untuk menghasilkan efek-efek battle yang cukup enak dilihat. koreografi battle-nya sendiri tidak terlalu istimewa, kecuali mungkin beberapa teknik yang cukup unik… tapi tidak terlalu banyak. meskipun demikian, adegan battle-nya secara keseluruhan digarap dengan cukup baik.

hal yang juga menarik di sini adalah penyajian storyline-nya bisa dibilang ‘tidak biasa’ dibandingkan serial dengan genre sejenis. konspirasi dan rahasia menjadi salah satu menu yang disajikan dalam serial ini, terutama setelah episode 25+… dipadukan dengan pendekatan bergaya humor. demikian juga banyak pertanyaan seperti asal mula keberadaan Worm atau Masked Rider Project tampaknya sengaja belum dibiarkan terjawab sampai episode-episode lanjut sebagai bagian dari plot-twisting yang dilakukan oleh serial ini.

tapi itu belum semuanya. kalau anda berpikir bahwa serial ini menggunakan pendekatan yang berat-dan-serius dalam storytelling-nya, anda salah besar. bisa dikatakan, porsi humor dan ‘omong-omongan nggak serius’ mendapatkan porsi yang cukup besar dalam serial ini. meskipun demikian, serial ini cukup mampu menyajikan tema yang cukup berat tanpa meninggalkan sisi humornya.

kalau ada yang istimewa dari serial ini, hal tersebut adalah desain karakternya. setiap karakter dibuat dengan khas dengan desain yang istimewa pula. karakter Tendou Souji, misalnya, dibuat dengan gaya yang semau-gue dan ego yang sangat tinggi. atau karakter Kagami Arata yang berkembang dari seorang yang sedikit lugu-dan-naif menjadi lebih decisive dalam perkembangan cerita. demikian juga karakter seperti Daisuke Kazama dan Kamishiro Tsurugi juga didesain dengan… yah, silakan nonton sendiri, deh. nanti juga mengerti kok apa maksudnya =)

desain karakter yang ‘istimewa’ tersebut didukung pula oleh cast yang bisa dibilang cukup baik dalam membawakan perannya. dan bisa dibilang, karakter yang ada memang cukup pas… misalnya kalau anda mengatakan bahwa Tendou itu ‘pas sengak-nya’, atau mungkin anda akan sedikit-sebal melihat Shun Kageyama, atau merasa speechless kalau melihat Daisuke Kazama… yah, itu wajar, kok. cast-nya memang cukup mendukung soal ini.

oh, iya. kalau anda memperhatikan perkembangan j-drama dan tokusatsu, anda mungkin familiar dengan Tendou Souji yang tampangnya pernah terlihat di Gokusen 2. demikian juga Kagami Arata pernah ‘nongol’ di 1 LITRE no Namida sebagai Keisuke Asou. Shun Kageyama juga pernah main di Ultraman Nexus… dan sebagainya.

nah. sekarang soal musik. opening theme-nya yang dibawakan oleh Yu-Ki dengan lagu NEXT LEVEL dengan sentuhan upbeat dan tempo yang tinggi dirasakan cukup pas sebagai intro sebuah serial Kamen Rider. sementara itu, insert song dalam battle diisi oleh The Rider Chips dengan lagu Full Force untuk episode-episode awal. belakangan, The Rider Chips juga mengisi dengan lagu Lord of The Speed dengan nuansa yang tidak jauh berbeda.

selain itu, kalau anda perhatikan lebih lanjut, beberapa karakter juga memiliki theme sendiri. sebagai contoh, theme yang selalu muncul setiap kali Tendou mengatakan ‘obaa-chan ga itteta…’ (= ‘grandma said…’), atau theme dari Hiyori yang sedikit sendu. meskipun demikian, sayangnya scores dalam serial ini tidak bisa dikatakan sangat istimewa. dalam banyak kesempatan, adegan-adegan yang potensial menjadi memorable malah terasa kurang greget dengan score yang ada.

kalau anda memperhatikan juga, anda akan menemukan bahwa scores dalam serial ini juga disisipi beberapa nomor musik klasik dalam beberapa episode. ada Air dari Bach, Lohengrin-nya Wagner, dan juga beberapa yang lain dalam beberapa episode yang berbeda. meskipun demikian, masalah scores ini tampaknya memang agak kurang maksimal dalam serial ini, walaupun tidak bisa dikatakan buruk juga.

sebenarnya, ada cukup banyak kelebihan dari serial ini. dan bisa dibilang, aspek-aspek tersebut berperan besar dalam serial yang mendapatkan sambutan sangat baik di negara asalnya ini. walaupun dengan sedikit kekurangan (yang tidak terlalu signifikan, sebenarnya), serial ini bisa dikatakan cukup enak dinikmati dan menghibur, walaupun tidak benar-benar luar biasa juga… kecuali mungkin bagi para penggemar Kamen Rider yang memang selalu menunggu perkembangan terbaru dari franchise yang satu ini.

…well, it’s a fun ride, after all.

11.10.06

current music — life goes on

Posted in J-Stuff at 3:32 pm by yud1

kali ini, gw akan menuliskan mengenai lagu Life Goes On yang dibawakan oleh Arisaka Mika. tadinya, gw tidak terlalu tahu (baca: tidak pernah mendengar =P ) mengenai penyanyi yang satu ini, kecuali sebagai salah satu pengisi OST dari serial Gundam SEED: Destiny yang merupakan sekuel dari Gundam SEED yang fenomenal itu.

nonetheless, walaupun serial SEED: Destiny dianggap tidak se-fenomenal pendahulunya, tapi tetap saja OST dari serial ini banyak yang cukup enak didengar, termasuk yang satu ini =).

sebagai informasi, lagu ini langsung menempati #4 di Oricon Weekly Chart di minggu pertama rilisnya. lagunya lumayan enak, dan intronya sedikit khas. selidik punya selidik, ternyata composer-nya itu Yuki Kajiura… (sialan, pantesan bagus!).

nah. seperti biasa, liriknya dengan huruf italic, translations-nya dengan huruf plain. mohon koreksi kalau ada salah translate =)

Life Goes On
Arisaka Mika

namida de nijinda kono sora wo miageru tabi
hakanai aosa ga mune wo shimedzuketeku

blurred by tears everytime I look up the sky,
a fleeting blue feeling so tight in my chest [1]

sadame nara kanashimi no hate made
tatakaitsudzuketa hibi wo ato ni

if this is fate, then until the end of this sadness
I will leave the days of fighting behind

LIFE GOES ON moeagaru
inochi ga aru kagiri
shinjitsu no jibun sae
miushinaisou soredemo

life goes on, keep on flaring
as long as there is life
even if my own self
is to be lost, even so

LIFE GOES ON mamoritakute
kokoro wa kudakarete
hontou no kanashimi wo shita hitomi wa
ai ni afurete

life goes on, the will to protect
shattered this heart
the eyes that have known real sorrow
now overflowing with love

fuyu ni saku hana ga kasumu keshiki irodoru
tsuyosa wa yasashisa, sou utaikaketeru

winter-blooming flowers paint the hazy scene [2]
strength is kindness, that’s what I sang

nan no tame dare no tame ni kimi wa
tatakaitsudzukeru no darou ima

for what sake, for whose sake, are you
keep on fighting until now?

LIFE GOES ON umarekawari
itsushika deaeru nara
kore ijou mou nido to ushinaitaku wa nai demo

life goes on, and rebirth
if we are to meet again,
i don’t want to lose for the second time

LIFE GOES ON kono toki ni
umaretekita kagiri
kono ude de kono mune de ima uketomeyou
ai wo shinjite

life goes on, at this time
as long as I’m reborn
i will accept it in this arm and chest,
believe in this love

LIFE GOES ON moeagaru
inochi ga aru kagiri
itsu no hi ka mou ichidou
hikari wo wakachiaitai

life goes on, keep on flaring
as long as there is life
on that day, once again
I want to share that light

LIFE GOES ON mamoritakute
inori wo sora ni hasete
hontou no kanashimi wo shitta hitomi wa
ai ni afurete…

life goes on, the will to protect
send this prayer to the sky [3]
the eyes that have known real sorrow
now overflowing with love…

check this for the file:

Arisaka Mika - Life Goes On
(MP3, 128 kbps, 44 KHz - 4:03)

___

footnote:

[1] hakanai aosa ini gw rada bingung juga mengartikannya. kalau kata aoi artinya kan ‘blue’, dan bentuk -sa itu menyatakan kata benda… jadi gw terjemahkan sebagai ‘fleeting blue feeling’. kalau melihat konteksnya sih pas. tapi, setelah gw melihat fansub-nya SEED: Destiny, ternyata translation-nya tidak jauh beda. sudahlah =)

[2] fuyu ni saku hana itu artinya ‘flower blooming in winter’. supaya pas dan nyambung dengan kalimat selanjutnya, gw tulis seperti itu.

[3] haseru arti harfiahnya ‘to drive’ atau ‘to ride’. tapi di sini digunakan sebagai ungkapan ‘the will to protect drives the prayer to the sky’ (menyambung ke baris sebelumnya). supaya gampang, gw tulis sebagai ’send this prayer to the sky’.

10.17.06

current music — alone

Posted in J-Stuff at 3:33 pm by yud1

kalau mau jujur, ada saat-saat dalam perjalanan hidup gw yang digambarkan dengan baik oleh lagu ini. dan kalau mau jujur lagi, sebagian karena hal seperti itu juga lagu ini menjadi salah satu favorit gw sampai sekarang, walaupun sudah agak lama sejak lagu ini dirilis beberapa waktu yang lalu.

lagu ini dibawakan oleh Shimokawa Mikuni, yang pertama kali dikenal di J-Music dengan single believer ~tabidachi no uta (jp: believer ~a song of departure). dan untuk anda yang mengikuti serial Full Metal Panic! dan Grenadier, mungkin masih ingat dan familiar dengan suaranya yang memang mengisi OST di kedua serial tersebut.

dan saat ini (di tengah suasana hati yang sedang agak ‘tidak biasa’), gw sedang menulis sambil mendengarkan lagu ini. dan entah kenapa, lagu ini jadi terasa telak banget mengena ke gw -_-’.

lyrics-nya dengan huruf italic, translations-nya dengan huruf plain. seperti biasa, mohon koreksi kalau ada salah translate.

Alone
Shimokawa Mikuni

kawaita kaze ga fuku
machi wa kogoeteiru
ikutsu no kisetsu ga sotto oto mo naku
sugisatta no darou

as the dry wind is blowing,
the city is getting colder
how many seasons has silently
passed, I wonder

yukikau hito wa minna
omoi nimotsu seotte
tooku ni yureru kagerou no naka ni
ashita wo mitsukeru

people are coming back and forth,
carrying heavy burdens on their backs [1]
within the wavering distant heat haze
searching for tomorrow [2]

kono te wo koboreochiru
suna no you na kanjou
ano toki mune ni sasatta
kotoba ga fui ni uzuku kedo

falling through my hand,
such feelings like a sand
what stabbed my heart back then [3]
words that now bring sudden pain, but

hatenai yoru wo kazoe nagara
jibun no kakera sagashiteita
ushinau hodo ni kono omoi ga
tashika ni natte ku

all the while over the endless nights,
I’ve been searching the fragments of myself
and when I nearly lost, this feeling
has become so certain

ima nara kitto aruhite yukeru
doko made mo

right now, I will keep walking
no matter how far [4]

doushite kono sora wa
konna ni hiroi no darou
sakende mite mo
koe ni naranakute

namida ga afureta

why is the sky
so wide, I wonder
although I tried to shout,
my voice wouldn’t come
and these tears started to fall

jiyuu ni kaze kitte
tori-tachi wa doko e yuku no
sugoshita jikan no you ni
onaji basho ni modorenai

cutting freely through the wind,
I wonder where the birds are going
just like the time that has passed,
they can’t go back to the same place

kono mama yume wo akiramete mo
takanaru kodou osae kirenai
itsuka wa kitto chikadzukitai
ano kumo no takasa

even if I give up my dreams like this,
it won’t be able to suppress my heartbeat
someday, surely, i want to get closer
to the height of that cloud

mou ichido kokoro ni tsubasa hiroge tabidatou
kanarazu tadoritsukeru hazu

spread the wings in my heart and leaving once again
I will reach it, definitely

hatenai yoru wo kazoe nagara
jibun no kakera sagashiteita
ushinau hodo ni kono omoi ga
tashika ni natte ku

all the while over the endless nights,
I’ve been searching the fragments of myself
and when I nearly lost, this feeling
has become so certain

ima nara kitto aruhite yukeru
doko made mo

right now, I will keep walking
no matter how far

check this for the file:

Shimokawa Mikuni - Alone
(MP3, 160 kbps, 44 khz - 4:44)

___

footnote:

[1] secara harfiah, nimotsu artinya ‘baggage’ atau ‘luggage’. seou artinya ‘carry on back’. di sini, supaya lebih pas, gw menuliskan ‘carrying heavy burdens on their backs’. (omoi = ‘heavy’, tapi secara umum juga digunakan sebagai padanan kata ‘burden’)

[2] bahasa jepang sering menggunakan bentuk terbalik dalam menyatakan kalimat pekerjaan. konteks seharusnya ’searching for tomorrow within the distant heat haze’, tapi karena gw menerjemahkan baris-per-baris, jadinya seperti itu.

[3] mune secara harfiah artinya ‘chest’. meskipun demikian, umum juga digunakan untuk konteks ‘heart’. tahu, kan, misalnya kalau di bahasa indonesia ada kalimat ‘di dalam dada’ padahal konteksnya ‘di dalam hati’

[4] doko made mo artinya ‘to anywhere’. bisa juga diterjemahkan ‘no matter how far’, maka gw menuliskannya seperti itu.

09.06.06

dragon sakura

Posted in J-Stuff at 9:22 am by yud1

kali ini, gw akan menulis mengenai sebuah drama (atau lebih tepatnya: j-drama) yang berjudul Dragon Sakura. jangan terlalu memikirkan mengenai nama yang ‘aneh’, sebab memang begitulah adanya. mungkin beberapa rekan yang paham bahasa inggris dan jepang akan sedikit mengernyitkan dahi mendengar judul ini… tapi untuk saat ini, mari kita biarkan saja apa adanya =)

Dragon Sakura (aka: Dragon Zakura) adalah sebuah drama yang memfokuskan ceritanya pada perjuangan sekelompok anak SMU untuk pergi ke Tokyo Daigaku atau Universitas Tokyo, yang juga dikenal dengan sebutan ‘Todai’. temanya cukup menarik, walaupun sebenarnya tidak terlalu baru juga. meskipun demikian, serial ini cukup mampu menjadikan tema tersebut sebagai dasar untuk sebuah tontonan yang cukup menghibur, dengan sedikit unsur komedi dalam kemasannya.

cerita berawal dari perjalanan Sakuragi Kenji, seorang pengacara yang hidup sederhana — kalau tidak bisa dibilang sangat pas-pasan — ke SMU Ryuzan yang terkenal sebagai sekolah ‘buangan’ di daerahnya. sehubungan dengan pekerjaannya yang berlokasi di wilayah hukum Tokyo, ia ditugaskan untuk menyelesaikan urusan hukum mengenai sekolah yang terancam bangkrut tersebut.

Sakuragi yang merasa bahwa SMU Ryuzan sebenarnya masih memiliki harapan, mengajukan proposal kepada para kreditor untuk mengizinkan agar SMU Ryuzan tetap berdiri. dengan catatan, SMU Ryuzan akan membentuk sebuah kelas khusus, dengan sebuah target: memasukkan 5 orang dari Ryuzan ke Todai dalam penerimaan mahasiswa baru tahun ini.

target yang nyaris mustahil, dengan pertaruhan kelangsungan hidup SMU Ryuzan. apalagi dengan fakta bahwa SMU Ryuzan adalah sekolah ‘buangan’ yang menduduki peringkat paling bawah di daerah tersebut…

kalau anda cukup familiar dengan konsep ‘guru gaul yang pernah jadi berandalan’ dalam drama, mungkin anda akan merasa sedikit familiar dengan konsep awal drama ini. karakter Sakuragi Kenji digambarkan sebagai pengacara yang di masa mudanya menjadi anggota geng balap motor… dan akhirnya menjadi ‘guru’ di kelas khusus yang dibentuk di SMU Ryuzan, lengkap dengan gaya mengajar yang ‘tidak biasa’. tapi meskipun demikian, ia tetap memiliki wibawa sebagai seorang ‘guru’, termasuk dengan sikapnya yang kadang agak keras terhadap murid-muridnya.

sebenarnya, cerita yang dibawakan sepanjang serial ini cukup baik… kalau anda bisa mengabaikan beberapa poin yang mungkin agak kurang masuk akal dalam cerita ini. sebagai contoh, sikap menentang guru-guru di sekolah yang ditampilkan tampak kurang realistis, demikian juga sikap dari orangtua dari beberapa murid yang duduk di kelas khusus. beberapa konflik yang ditampilkan memang berhasil memaksimalkan efek dramatisasi, namun sayangnya hal tersebut malah mengakibatkan penyampaiannya menjadi seolah mengabaikan realitas.

meskipun demikian, karakter-karakter yang ada di serial ini dieksplorasi dengan cukup baik, khususnya karakter dari murid-murid di kelas khusus. latar belakang keluarga masing-masing dijelaskan dengan cukup baik, lengkap dengan permasalahan pribadi masing-masing individu yang juga turut dieksplorasi — walaupun beberapa konflik yang ditampilkan tampak kurang realistis dalam penyampaiannya.

dari segi cast, serial ini bisa dikatakan cukup baik, walaupun tidak terlalu istimewa. karakter Sakuragi Kenji dibawakan dengan lumayan baik. karakter Mamako Ino yang menjadi rekan Sakuragi sebagai guru justru tampak lebih sebagai karakter sekunder. di sisi lain, peranan para aktor dan aktris muda yang memang cukup mendominasi cerita tampak tidak buruk… walaupun tidak terlalu istimewa juga.

well, tapi kemungkinan besar sih cewek-cewek akan cukup senang dan antusias mengikuti serial ini, karena ada cowok-cowok seperti Yajima Yuusuke dan Ogata Hideki dalam serial ini =). (Yama dan Teppei? terserah deh kalau cewek-cewek bilang mereka keren… *eh, gw gak ikutan lho*)

nah. sekarang soal musical scores-nya. aransemen yang jadi main theme-nya cukup catchy, dan lumayan baik dalam membawakan citra sebuah drama dengan genre school-life dan komedi. demikian juga insert song-nya yang berjudul Colorful yang dibawakan oleh Yamashita Tomohisa bisa dikatakan lumayan pas dalam beberapa adegan di beberapa episode. sementara itu, opening theme-nya yang berjudul Realize dibawakan oleh Melody, dengan kemasan yang mengajak kepala sedikit bergoyang selama opening. well, OST yang disajikan dalam serial ini memang cukup memorable.

overall, serial ini cukup enjoyable. walaupun ada beberapa kekurangan di bagian storyline, tapi kemasan yang baik bisa dikatakan cukup sukses menghasilkan tontonan yang menghibur. demikian juga OST yang cukup memorable dan lumayan enak didengar, turut menjadi nilai tambah bagi serial ini.

dan mungkin, untuk anda yang ingin sedikit bernostalgia dengan mengenang masa-masa SMU serta suasana menjelang SPMB, serial ini bisa menjadi pilihan yang baik. tentu saja, lengkap dengan pesan moral yang tersirat, dan trik-trik belajar yang mungkin akan kembali mengingatkan anda mengenai masa-masa sekolah dulu.

08.29.06

school rumble nigakki

Posted in J-Stuff at 6:56 pm by yud1

masih dari anime School Rumble Nigakki (aka: School Rumble 2nd Term) yang sempat gw preview secara singkat beberapa waktu yang lalu, kali ini gw akan kembali menulis mengenai School Rumble Nigakki, yang saat ini direncanakan akan berjalan dalam 26 episode seperti halnya School Rumble season pertama.

diangkat dari serial komik shounen dengan judul yang sama, School Rumble adalah anime yang berangkat dari ide dan konsep dasar komiknya. nah, School Rumble Nigakki ini adalah lanjutan dari School Rumble season pertama, dengan tetap membawa konsep anime konyol-dan-menghibur. gaya parodi dari berbagai anime dan film yang sudah ada dipadukan dengan humor yang orisinil, dan ditampilkan dengan sangat baik oleh anime yang diproduksi oleh Comet Studio ini.

cerita masih melanjutkan season pertama di mana Harima Kenji masih memendam perasaannya terhadap Tsukamoto Tenma, dan masih dengan segala kesalahpahaman dan pengakuan cinta yang gagal total… sementara di sisi lain, Tenma tampaknya masih memiliki perasaan khusus terhadap Karasuma Ooji, rekan sekelasnya yang tidak banyak bicara dan sedikit ‘aneh’, namun (meskipun demikian!) tampaknya memiliki pesona tersendiri di mata Tenma. selain itu, berbagai intrik dan kekonyolan di sekolah, termasuk kisah murid-murid SMU tempat mereka bersekolah menjadi fokus cerita dalam serial ini.

untuk anda yang menikmati School Rumble season pertama (dan kemungkinan besar masih ingat dengan baik adegan-adegan yang ‘konyol dan nggak jelas’ dalam serial ini), kemungkinan besar akan menikmati dengan baik season keduanya. dengan genre school-life, komedi dan parodi berhasil menjadi daya tarik utama serial yang sangat populer di Jepang ini. tentu saja, masih dengan kemasan seperti season pertamanya yang memang cukup sukses menarik perhatian pemirsa.

jangan berharap terlalu banyak mengenai adegan yang serius (sumpah, anda tidak akan menemukannya di serial ini!), kecuali mungkin gaya parodi dari anime atau film yang ada. silakan sebutkan. Battle Royale? Saint Seiya? Cardcaptor Sakura? semua ada… dengan gaya parodi, tentunya. dan masih dengan resep yang cukup mampu membuat anda tertawa di depan TV atau komputer.

dari segi karakter, ada beberapa karakter dari season pertama yang kembali ditampilkan, di luar karakter-karakter yang memang cukup banyak dieksplorasi di season pertama. peranan empat sekawan Tsukamoto Tenma - Sawachika Eri - Suou Mikoto - Takano Akira memang masih memegang porsi yang cukup besar dalam serial ini, namun kali ini berbagi tempat dengan beberapa karakter yang sebelumnya tidak terlalu dominan. sebagai contoh, misalnya karakter Sagano Megumi dan Ichijou Karen diberikan porsi yang lebih besar dibandingkan sebelumnya. demikian juga karakter seperti Hiroyoshi Asou dan Ryuhei Suga tampak lebih banyak dieksplorasi dalam serial ini.

musical scores yang ditampilkan bisa dikatakan lumayan pas. beberapa aransemen berhasil dengan baik membawakan image beberapa karakter. kalau anda memperhatikan, karakter Hanai Haruki memiliki theme yang sebenarnya cukup catchy… demikian juga karakter Harima Kenji memiliki theme yang merupakan aransemen dari lagu Kaze ni Nosete dari season pertama yang dibawakan dalam versi instrumental. dan kalau anda memperhatikan lebih lanjut, anda akan menemukan bahwa Tsukamoto Yakumo memiliki theme yang diadaptasi dari lagu Yuugao dari season pertama, juga dalam versi instrumental.

dari segi OST, musik yang ada bisa dikatakan pas… meskipun season pertama sebenarnya masih sedikit lebih baik. di season pertama, lagu Scramble! dan Onna no Ko Otoko no Ko berhasil dengan baik dalam membawakan ciri khas School Rumble. sementara di season kedua, OP-theme diisi oleh lagu Sentimental Generation yang dibawakan oleh Tokitou Ami dengan tempo yang agak menghentak. ED-nya berjudul Kono Namida ga Aru Kara Tsugi no Ippo to Naru, yang kembali dibawakan oleh Tokitou Ami. lagunya bernuansa agak mild, dan walaupun agak kurang terasa ‘School Rumble’, bisa dikatakan cukup enak didengar. belakangan, sejak episode 17, ED-nya diisi oleh lagu Futari wa Wasurechau yang dibawakan oleh Koshimizu Ami, dengan kemasan yang lebih upbeat dan bernuansa ceria.

bila anda termasuk orang yang menonton anime-untuk-senang-senang, serial ini sangat layak jadi pilihan. berbagai adegan konyol menjadi keunggulan dari serial ini… lengkap dengan OST dan scores yang juga lumayan catchy. demikian juga adegan-adegan parodi yang memang bertebaran sepanjang serial ini, bisa dikatakan berkontribusi sangat besar dalam menghasilkan tontonan yang menghibur.

well, namanya juga School Rumble… jadi, silakan bersiap-siap untuk tertawa (atau minimal nyengir) di depan TV atau komputer. oh, iya. jangan lupa untuk memperhatikan keadaan sekitar. mungkin anda akan menarik perhatian orang-orang di sekitar kalau anda tertawa terlalu keras (hiperbola… mungkin. mungkin, lho).

08.25.06

kamen rider: the first

Posted in J-Stuff at 7:47 am by yud1

untuk anda yang sempat mengagumi aksi dari Takeshi Hongo dan Hayato Ichimonji dari seri pertama Kamen Rider, atau anda penggemar Kamen Rider generasi baru yang mungkin tidak sempat menyaksikan seri pertama dari franchise TOEI yang melegenda ini, Kamen Rider: The First (aka: Masked Rider: The First) mungkin layak untuk anda simak.

dirilis pada November 2005, kali ini TOEI merilis sebuah remake dari Kamen Rider original, yang serialnya pertama kali dirilis 35 tahun lalu. untuk fans Kamen Rider, bisa dikatakan bahwa film ini adalah Kamen Rider ‘lama rasa baru’. dengan ide cerita dan konsep yang semirip mungkin dari serial aslinya, Kamen Rider tertua dalam sejarah ini dicoba untuk ditampilkan dalam versi baru yang lebih gres.

cerita berjalan di seputar kehidupan Takeshi Hongo, seorang mahasiswa yang merangkap peneliti di Universitas Jounan. dikenal sebagai mahasiswa yang brilian, penelitiannya memperoleh perhatian dari Asuka Midorikawa, seorang wartawan yang akhirnya meliput penelitian Hongo di kampusnya.

di saat yang sama, sebuah organisasi teroris yang bernama Shocker ternyata tengah mengincar Hongo untuk dijadikan sampel dalam eksperimen human remodelling. Hongo diculik dalam perjalanan dari kampus, dan akhirnya dijadikan cyborg untuk bekerja sebagai prajurit organisasi tersebut. meskipun demikian, Hongo yang ternyata masih memiliki kesadaran akan dirinya akhirnya memutuskan untuk memberontak dari organisasi tersebut. hal ini mengakibatkan direkrutnya seorang Rider baru yang bernama Hayato Ichimonji, dengan kemampuan tempur yang setingkat dengan Hongo.

Hongo yang frustrasi akan keadaan dirinya sebagai cyborg, kini menghadapi masalah: di satu sisi, Asuka menganggapnya telah membunuh tunangan yang akan segera dinikahinya, sementara di sisi lain, ia sendiri dikejar oleh Ichimonji akibat perbuatannya memberontak dari organisasi…

dibuat sebagai remake dari serial Kamen Rider original, bisa dikatakan bahwa film ini adalah upaya TOEI untuk menyegarkan kembali kenangan mengenai Rider Ichigo (Number One) dan Rider Nigo (Number Two). dengan jalan cerita yang tidak jauh berbeda dari versi serialnya yang dirilis dulu, film ini mencoba ‘menghidupkan’ kembali Kamen Rider original dengan tampilan baru.

dari segi visual, bisa dikatakan bahwa film ini merupakan versi ‘canggih’ dari Kamen Rider original. desain Rider dan monster yang ada dimodifikasi, disesuaikan dengan masa kini. masih dengan bentuk Rider Number One dan Number Two yang asli, namun sedikit dimodifikasi sehingga tampak lebih pas untuk masa kini. demikian juga desain karakter antagonis, disesuaikan dan dimodifikasi dari versi aslinya. dan bisa dikatakan, bahwa hal tersebut berhasil dengan baik.

kelebihan lain ada di adegan pertempuran yang lumayan enak dilihat. koreografi dan martial-arts digarap dengan serius, walaupun ada beberapa bagian yang agak kurang masuk akal. VFX mengalir mulus, dan cukup sukses mengantarkan pertempuran yang lumayan seru. bisa dikatakan adegan-adegan pertempuran digarap dengan baik, walaupun tidak terlalu luar biasa juga.

namun sayangnya, kelebihan yang cukup baik di bagian VFX dan battle tidak diimbangi dengan akting yang memadai dari para pemain. karakter Takeshi Hongo tampak kurang pas sebagai seorang pemuda frustrasi sebelum akhirnya menemukan jalannya sendiri. demikian juga, karakter Asuka Midorikawa tampak kurang hidup dalam film ini. yang agak lumayan, mungkin cuma karakter Hayato Ichimonji yang bisa dibilang dibawakan dengan cukup baik.

dari segi storytelling, film ini juga tidak istimewa. cerita yang cukup panjang dan kompleks untuk konsumsi satu season terpaksa di-’padat’-kan dalam sebuah film sepanjang 90 menit. dengan demikian, cerita yang ada terkesan mengalir secara kurang pas, dan cenderung agak terlalu cepat. demikian juga, side-story antara karakter Haruhiko dan Miyoko dalam film ini tampak kurang dieksplorasi, padahal side-story ini potensial menjadi poin yang menunjang kompleksitas cerita… namun sayangnya tidak berhasil dikembangkan dengan baik, dan akhirnya lebih terasa sebagai sekedar ‘tempelan’ saja.

akhirnya, sebagai remake dari dari Kamen Rider original, mungkin film ini bisa dikatakan cukup mampu memuaskan para penggemar setia Kamen Rider. meskipun demikian, bila anda mengharapkan sesuatu yang lebih, mungkin anda akan sedikit kecewa. termasuk, bila anda mengharapkan storyline yang kompleks, atau momen-momen yang akan tertinggal dalam ingatan setelah selesai menonton film ini.

well, tapi setidaknya, untuk sebuah edisi nostalgia (dalam format baru yang lebih canggih dan lebih ‘wah’ tentunya), Kamen Rider: The First bisa dikatakan cukup memuaskan bagi para penggemar Kamen Rider. tentu saja, lengkap dengan segala pernak-pernik Kamen Rider klasik, yang kembali ditampilkan dengan gaya baru.

« Previous entries · Next entries »