superman (it’s not easy)

saya ingat, waktu kecil dulu saya sering menonton serialisasi Superman di salah satu televisi swasta. waktu itu Clark Kent masih muda, belum ketemu Lois Lane, dan masih dekat dengan Lana Lang.

waktu itu rasanya dunia sederhana sekali. sehabis pulang mengaji, sore hari, petang menjelang maghrib, duduk di depan televisi dan rasanya beban hilang beberapa saat sampai waktunya belajar dan barangkali mengerjakan PR. malamnya mempersiapkan daftar pelajaran ke dalam ransel kecil yang akan dibawa keesokan harinya.

entah kenapa. mungkin saya hanya sedang teringat sambil mendengarkan Superman (It’s Not Easy). Five for Fighting, demikian nama kelompok yang membawakan.

 

superman-child

“I’m only a boy, in a silly blue shirt, promised to protect you on this one way street…”  ♪♫

 

beberapa hari belakangan ini saya kena flu. bukan sesuatu yang benar-benar parah, tapi hal-hal seperti demikian membuat kita cenderung tidak bisa melakukan apa-apa, dan buat saya itu juga membuat pikiran menjadi berkelana. keadaan seperti demikian membuat sedikit senang sekaligus membuat sedikit sedih juga kadang-kadang.

misalnya begini. sebagai seorang anak kecil yang tumbuh untuk menjadi laki-laki, saya menerima tuntutan untuk menjadi sosok yang kuat dan setidaknya ‘enggak malu-maluin amat’. saya menerima tuntutan untuk bisa menjadi sosok yang bisa diandalkan, baik oleh diri sendiri maupun oleh orang-orang lain.

katanya bapak dulu, anak laki-laki itu harus kuat. dan berani. itu pesan yang saya ingat dengan baik.

I’m only a man, in a silly red sheet
digging for kryptonite on this one way street

walaupun kadang ya demikian itu, sekuat apapun kita sudah berusaha untuk menjadi —lebih— tangguh, sama seperti Superman juga, kadang kita tak berkutik juga di hadapan sesosok, eh, sekeping kriptonit. kita yang biasanya kuat dan berlagak bisa menahan banyak hal, tiba-tiba pain tolerance-nya jadi rendah sekali. kita yang sering sok memaksa diri untuk terlihat tegar tiba-tiba menemukan diri mendadak terasa berat sekali.

tapi, mungkin itu juga bukan hal yang sepenuhnya buruk. bukankah di satu sisi, kriptonit itu juga akhirnya membuat Superman menjadi lebih manusia daripada seharusnya. (walaupun ya, secara teknis sebenarnya dia itu bukan manusia juga sih…)

entah kenapa saya kepikiran bahwa mungkin, faktor kriptonit demikian itu juga membuat kita sedikit lebih dekat dengan sisi lain diri kita. bahwa kita mungkin tidak bisa setangguh yang kita harapkan, tidak bisa sekuat yang kita inginkan, tapi setidaknya kita menjadi sedikit lebih manusiawi daripada yang kita perkirakan.

.

padahal kalau dipikir-pikir lagi, kita hidup di dunia ini juga bukan buat jadi Superman. juga bahwa sesekali jatuh atau bertekuk lutut di hadapan sesosok atau sekeping kriptonit yang selalu mengingatkan diri, itu juga bukanlah sesuatu yang selalu sepenuhnya buruk.

tidak sederhana, tapi buat saya itu bukan pertukaran yang tidak adil.

tamu

“senang dan sedih itu kan seumpama tamu saja. kalau lagi datang kita urus, kalau mau pergi kita antar. sepatutnya saja.”

_

mungkin saya bertambah tua. atau mungkin saya cuma sedikit bertambah bijak. atau mungkin cuma sudah saatnya bahwa saya tidak lagi memandang hidup sebagai mencari kesenangan dan menghindari kesedihan.

lho, kok?

 

be-happy

kalau melihat orang lain sedih, kita buat bahagia! … eh, mungkin.

 

iya. terutama belakangan ini, saya menemukan bahwa ternyata bukan mencari kesenangan dan menghindari kesedihan seperti itu yang saya cari. bukan pergi jalan-jalan ke tempat jauh, bukan makan enak, bukan mencari pengalaman yang bisa dibanggakan.

bukan itu. sama sekali bukan itu.

demikian pula buat saya hidup itu bukan lagi soal mati-matian berusaha menghindari keinginan mentok tidak tercapai, kehilangan orang-orang terdekat, hal-hal lain yang mungkin bisa demikian tidak nyaman untuk banyak orang.

bukan itu. sama sekali bukan itu juga.

.

saya sering menganalogikan hidup itu seperti layaknya kita punya rumah. kita berusaha baik, kita buat rapi sebisa kita, senyaman mungkin sehingga kita juga betah. sambil sesekali ada tamu datang berkunjung, ngobrol-ngobrol sebentar, minum teh atau kopi. ketika urusan sudah selesai, pamit dan kemudian pergi lagi.

buat saya, berbagai hal dalam hidup itu ya seperti itu. senang dan sedih, ceria atau kecewa, semua itu ya seperti tamu saja. bukan berarti bahwa dengan demikian lantas ada tamu yang baik dan ada tamu yang buruk, bukan seperti itu juga.

cuma bahwa ada tamu datang ke rumah kita. bukan baik, bukan buruk. cuma ada. itu saja.

kalau ada tamu datang, ya kita urus. kadang perlu disediakan teh, kadang lebih suka kopi. tidak masalah, yang ada saja. sambil lalu kita mengobrol, kita jadi lebih mengenal tamu kita, dalam prosesnya juga jadi lebih mengenal diri sendiri. barangkali juga kemudian sadar ternyata rumah kita ada kurang-kurangnya sedikit. tidak apa-apa.

kalau waktunya pergi, ya kita antar. tamu menyenangkan, tamu kurang menyenangkan, pada waktunya akan pergi. kalau sudah waktunya tamu pergi tapi kita memaksakan untuk tinggal di rumah kan kurang elok juga. maka kita antarkan, sebaik dan semampu kita saja. jangan dipaksakan.

setelahnya kita bersih-bersih rumah. sesekali kita mengingat-ingat, oh ada juga tamu yang menyenangkan pernah datang, ada juga yang lain-lain pernah datang. sambil jalan kita buat rumah kita lebih rapi, sehingga bisa lebih nyaman untuk kita sendiri, juga buat ketemu dan ngobrol kalau misalnya ada tamu lagi.

kita tidak tahu juga tamu berikutnya akan seperti apa. tapi ya sudah, kalau datang ya kita urus. kalau mau pergi ya kita antar. sepatutnya saja.

.

buat saya, senang atau sedih itu ya kenyataan hidup. sama halnya seperti kalau lapar kita makan dan kalau kita masak ikan sering ada kucing tetangga. bukan sesuatu baik, bukan sesuatu buruk. cuma sesuatu saja.

bukan berarti bahwa segala sesuatu lantas cuma dilihat dan ditunggu saja. hidup itu ya dijalani sebaik kita bisa, semampu kita bisa, sekuat kita bisa. kalau kita berusaha baik, seringnya terjadi hal-hal baik. kadang-kadang tidak, ya sudah. kalau kita terlalu terikat kepada hal-hal seperti baik dan buruk atau senang dan sedih, jadinya ya susah juga.

oleh karena itu, yah, ketika cukup banyak rekan-rekan yang terlihat senang dan bahagia dengan pergi ke tempat yang jauh atau memiliki rumah serta mobil baru atau pekerjaan yang hebat dan mentereng, ya mungkin ada bagusnya juga.

walaupun buat saya sendiri, mungkin berhubung bukan demikian juga yang saya cari, jadi saya juga tidak terlalu memikirkannya benar. senang dan sedih, baik dan buruk, apapun itu pada dasarnya kan cuma tamu saja.

semua ada jalannya. demikian kalau bisa selarasnya saja, sepatutnya saja, buat saya cukup.

bicara di depan, bicara di belakang

pada pekan yang baru lalu, saya dan rekan-rekan di tempat kerja sedang mendiskusikan penugasan yang melibatkan cukup banyak komunikasi dengan pihak-pihak eksternal di luar tim. bukan hal yang aneh, seperti halnya penugasan lain yang biasa. masalahnya adalah bahwa kali ini dari tempat kami perlu berkomunikasi dengan pihak-pihak yang… apa ya, mungkin cenderung dianggap beberapa rekan sebagai ‘tidak selalu nyaman dalam komunikasi secara profesional’.

bukan hal yang luar biasa aneh juga. saya kira pada umumnya kita semua pernah mengalami keadaan seperti demikian di tempat kerja.

 


dana-scully-xfiles

(c) 20th Century Fox

“harusnya departemen kamu sudah komunikasi dengan tempat saya. kenapa baru sekarang?”
“eh…  siap bu… eh, mbak… Dana.” #plok

 

secara singkat, kira-kiranya diskusi waktu itu di departemen tempat saya sebagai berikut.

“aku suka takut sama mbak itu, kalau salah ngomong begini salah ngomong begitu gimana. kalau di sini kan enak, bisa santai ngomongnya…” demikian kata seorang gadis rekan kerja dalam diskusi. rekan yang lain, seorang pemuda sepantarannya, menyatakan persetujuan singkat.

saya berpikir sejenak. saya juga bukannya tidak paham, situasi seperti ini kadang seperti menavigasi ladang ranjau… eh itu agak berlebihan juga sih perumpamaannya, tapi kira-kira begitulah. akhirnya disepakati bahwa keadaan seperti ini tidak bisa terlalu sembarangan sehingga komunikasi antar departemen akan menjadi tanggung jawab saya.

“eh, hidup itu jangan dibikin susah lagi,” kata saya, menanggapi santai pertanyaan sekilas setelahnya. “hidup itu jadi lebih gampang kalau kita bisa ngomong di depan sama dengan di belakang orangnya.”

entah ada angin apa; kayaknya waktu itu saya sedang kesambet setan jadi sok bijaksana.

saya sering mengatakan bahwa sebagian besar konflik yang terjadi di sekitar kita seringnya berawal dari masalah komunikasi. misalnya ketika kita merasa tidak senang dengan sikap seorang teman atau sahabat, lantas kita diam saja. itu awal dari masalah. demikian juga ketika kita tidak setuju dengan atasan di tempat kerja, tapi kita sendiri juga tidak bicara apa-apa. itu juga awal dari masalah.

faktanya adalah, manusia tidak bisa membaca pikiran satu sama lain. sekarang ini saja Google Translate masih jauh sekali levelnya dari Konyaku Penerjemah punya Doraemon, bagaimana pula anda mau mengharapkan orang lain bisa paham tanpa anda sendiri yang mengungkapkan?

buruknya lagi, sering pula pada akhirnya kita malah menyampaikan ketidaknyamanan kita ke pihak lain. dengan segala keterbatasan sudut pandang kita, juga dengan keterlepasan konteks mereka yang mendengarkan dari keadaan yang sebenarnya kita alami.

pada akhirnya apa yang kita katakan di belakang seseorang menjadi berbeda dengan apa yang kita katakan di depan seseorang tersebut. keadaan seperti ini jarang berakhir baik.

 


karate-girl-istock

(c) iStock

“oh, jadi kamu malah curhat sama mantan kamu. oh… kebetulan aku lagi perlu ngelurusin kaki nih.”

 

saya tidak bilang bahwa kita harus selalu jujur keras-kerasan mengatakan segala sesuatu sesuai seenak perasaan kita. tidak harus seperti itu. kalau kita usahakan, seringnya ada cara untuk menyatakan ketidaknyamanan dan ketidaksetujuan tanpa harus kehilangan hubungan baik. sekalipun kadang konflik tidak terelakkan, masing-masing dengan resikonya.

secara pribadi, saya sendiri punya prinsip sederhana. kalau saya berani mengatakan sesuatu di belakang seseorang, maka saya juga punya kewajiban bahwa saya tidak takut mengakui hal yang sama di depan seseorang tersebut. harus adil, dong. di sisi lain saya juga harus berhati-hati karena saya punya tanggung jawab untuk mengatakan hal yang jujur, sebaik yang saya bisa, secukupnya saja. dengan atau tanpa kehadiran seseorang lain yang menjadi bagian dari pembicaraan saya.

saya sendiri lebih suka memandangnya seperti demikian. saya kira seharusnya cukup adil juga.

tentang tidak takut(-takut amat)

beberapa hari lalu, terjadi insiden terorisme di Jakarta. kota tempat saya bekerja, maksudnya. bagusnya tidak sampai banyak korban, demikian juga dalam beberapa jam situasi sudah kembali normal.

tentunya keadaan tersebut juga tidak bisa dibilang normal dalam beberapa jam sebelumnya. pesan-pesan pendek dan berita tidak jelas berseliweran, dan kalau ada orang mendengarkan kesannya seolah keadaannya semacam sudah gawat sekali dan kepanikan di mana-mana. padahal kenyataannya sendiri… ya memang rada gawat sih, tapi sungguh tidak separah kedengarannya.

ngomong-ngomong. cerita berlanjut bahwa, belakangan ini, akhirnya saya malah dengan bodohnya mengunjungi kembali laman media sosial, yang mana pada saat ini notabene sedang marak dengan tema ‘kami tidak takut’. eh salah ya. harusnya kan pakai tagar biar lebih seru dan kekinian. baiklah. #KamiTidakTakut.

. . . dan tertawalah saya.

serius, anda semua harus berhenti menggunakan media sosial. setidaknya sejenak. kemudian coba jalan-jalan di Jakarta. gunakan transportasi publik, atau jalan kaki juga boleh.

Jakarta tidak takut, karena sudah terbiasa untuk tidak takut menghadapi kekerasan.


theraid-iko2

(c) Merantau Films

tak lupa tagar #KamiNaksir buat kak Iko. polisi baik ramah rendah hati, rajin sholat jago berantem pula.

dulu, waktu masih kecil-baru-mulai-remaja, saya pernah berurusan dengan tukang palak. kira-kira mungkin setahun di atas saya. kena pukul tiga-empat kali, memasukkan balasan satu-dua kali. uang dan bawaan saya aman, tapi ya kena memar dan lebam juga. demikian di lain waktu, dulu masa sekolah saya pergi naik metro mini, eh kena juga digaplok preman. rasanya darah sudah panas betul… di sisi lain tidak sampai ada kerugian materi, sehingga, yah, daripada cari perkara di tempat orang malah bikin tambah masalah.

belum lagi masalah kecil lain-lain seperti melihat rombongan tiga-empat copet melompat keluar dari bus lantas terbirit-birit menyeberangi jalur cepat jalan searah (hebat, kok bisa ya), atau ketika jalan kaki sendirian melewati lokasi biasa tawuran antarkampung (yang bagusnya belakangan sudah lebih jarang). mau tidak mau hal-hal seperti ini memberikan perspektif tersendiri.

maksud saya begini: mengatakan bahwa ‘kami tidak takut’ terhadap teror dan kekerasan adalah satu hal. dan itu sungguh tidak susah. tapi jujur sih, kalau sudah terbiasa dengan hal-hal di atas, ketika melihat ada teror bom dan jumlah korban tewas malah lebih banyak teroris, anda mau takut apa lagi?

saya sendiri tidak terlalu antusias mengikuti pendapat orang-orang. pendapat sih tidak ada yang salah, walaupun seringnya banyak yang tidak berguna. dalam arti tidak ada rencana atau solusi, maksudnya. ampun deh. kalau cuma berkomentar saja sih (apalagi sambil marah-marah, asyik deh), saya kira semua orang juga bisa.

sehingga untuk pertanyaan pada beberapa hari lalu seperti ‘loh, memangnya kamu enggak takut’ atau ‘kenapa kamu kok bisa kayak cuek banget begitu’… saya hanya mengingatkan diri dua potong kalimat saja.

i. bukankah kami telah melapangkan untukmu dadamu dan mengangkat beban yang memberatkan punggungmu

ii. (maka) siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja jalan hidupnya.

Q.S. 94:1-3, feat. Mat 6:27.

berani hidup, tidak takut mati. walaupun sungguh tidak semudah kedengarannya, apalagi kalau anda sudah punya terlalu banyak keterikatan dengan dunia.

obat galau dan macam-macamnya

beberapa waktu yang lalu, seorang rekan tiba-tiba menyatakan pendapat —atau barangkali tepatnya melabeli dengan predikat— bahwa kelihatannya saya ini ‘mungkin sedang galau’.

hah. galau? GALAU? kalau ‘galak’ sih saya masih bisa terima. tapi kalau ada orang mengatakan seperti itu, kan mungkin ada benarnya. jadi baiklah karena saya ini orangnya sebisa mungkin terbuka untuk introspeksi diri, saya pun jadi memikirkannya dan dengan demikian jadilah bahan tulisan ini.

disclaimer: contoh bukan berdasarkan pengalaman pribadi!
… eh, mungkin.  anggap saja demikian.

 

di atas: contoh penyaluran kegalauan paling paripurna di seantero jagat raya. tidak ada sanggahan.

 

baiklah, jadi tulisan ini adalah kira-kira hasil kompilasi terkait berbagai opsi penyaluran kegalauan —wih lagaknya— yang bisa saya rangkum dari pengalaman dan perjalanan sejauh ini. tulisan ini adalah opini, dengan kemiripan terhadap dunia nyata… HEH, DIBILANGIN INI BUKAN PENGALAMAN PRIBADI!

 

1. ibadah/doa/meditasi (whatever applies)

ini cara paling basi —dalam arti sering disebutkan— tapi secara mengejutkan cukup efektif. terserah anda ini mau religius atau tidak, terserah anda mau ibadah atau doa harian atau meditasi sederhana. bebas.

jadi ketika …

(misal) kata mbaknya:
“kamu jangan aneh-aneh ah.”

maka kita berdoa! karena ada saatnya kan kita perlu mengambil jarak dari segala sesuatu dan rutinitas. jadi saat-saat seperti ini sebisa mungkin menjadi momen pribadi yang tidak boleh diganggu-gugat. anggap saja ini dialog. dengan Tuhan, kalau percaya sih. atau dengan diri sendiri, kalau anda kebetulan sedang merasa hebat.

doanya apa sih terserah konteks anda galaunya kenapa. contoh gampang misalnya begini: ya Allah, kalau dia memang jodohku, dekatkanlah. kalau dia bukan jodohku, jodohkanlah. eh…

yah pokoknya begitulah!

 

2. kerja, kerja, kerja!

kerja adalah cinta yang mewujud. katanya pak Kahlil Gibran. atau painkiller yang tidak kelihatan. katanya saya. tentunya akan baik kalau kita bisa mengambil kesenangan dari proses dan hasil karya kita, karena kalau tidak ya susah.

jadi ketika …

(misal) kata mbaknya:
“aku nggak nyaman kalau kamu seperti itu.”

mending kita kerja. ada deadline dua minggu lagi? selesaikan minggu ini! rencana kerja dibatalkan oleh pak bos? perbaiki dan buat sampai berhasil! pokoknya lempar diri anda sampai ke batas, dan buktikan bahwa anda lebih hebat daripada yang orang lain dan anda sendiri kira. kalau berhasil menyenangkan loh.

kalau sibuk kerja, kan jadi tak sempat juga memikirkan yang lain. lagipula kalau hasil kerja kita baik, kita juga senang. jadi untungnya banyak! kalau beruntung, mungkin juga gaji bisa bertambah. hehe.

 

3. latihan fisik

mungkin kedengaran aneh, tapi memang ada korelasi antara emosi positif dengan kebiasaan berolahraga. lagipula, endorfin! termasuk kenapa mereka yang berolahraga cenderung lebih cerah ceria menghadapi dunia.

jadi ketika …

(misal) kata mbaknya:
“… you are not that special.”

tengah malam, nggak bisa tidur, teringat kenangan suram? turun! push up dua seri! masih nggak enak? sit up satu seri! sampai antara anda sudah lebih tenang atau anda capek sendiri terus ketiduran. aktivitas fisik memicu produksi hormon endorfin dalam tubuh. yang pada gilirannya membuat kita cenderung lebih tenang dan santai.

jadi memang benar peribahasa jaman dulu; mens sana in corpore sano, di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat! bonusnya, mungkin massa otot anda akan bertambah seiring juga kegalauan berkurang.

 

kira-kira demikian. pada dasarnya saya ini orangnya praktis. daripada duduk termangu dan merutuk meratapi nasib, mending melakukan sesuatu. kalau bisa sambil menyelam minum air, kenapa tidak? asal nggak malah jadi tenggelam lalu mati sih. lalu sekiranya selepas ini saya jadi pemuda yang high quality taat dan tenang serta kaya dan pekerja keras demikian pula sehat dan kuat… yah anggap saja itu bonus.

yah, barangkali setelahnya saya bisa menjadi pahlawan bertopeng macam pakcik Batman yang keren itu. atau setidaknya menjadi pemuda kuat cerdas tampan dan kaya macam pakcik Bruce Wayne. atau setidaknya… eh yah pokoknya begitulah!

 

___

image credits:

  • hak cipta karakter Batman oleh DC Comics
  • Batman: The Dark Knight (2008), produksi dan distribusi oleh Warner Bros.

kutukan cuek dan peduli

konon katanya, saya ini orangnya cenderung cuek. saya sih setuju-setuju saja. sementara konon katanya lain lagi, pada dasarnya saya ini sungguh bukan tidak perhatian dengan keadaan orang lain. saya sih setuju… eh, tunggu. ini kenapa rasanya ada yang aneh, ya.

pokoknya kira-kira demikian. jadi sebenarnya saya ini makhluk apa, saya juga bingung.

tapi sudahlah, bukan itu inti masalahnya. masalahnya buat saya, cuma bahwa kadang ujung-ujung spektrum cuek-atau-perhatian ini bisa jadi membingungkan dan tak selamanya bisa nyaman. tentu saja kadang hal seperti ini bisa jadi pemicu situasi yang komikal betul, sementara di saat-saat lain… yah, bisa menjadi pemicu situasi yang tidak komikal betul.

makanya, jadi orang tuh jangan terlalu unik, eh, terlalu aneh. dasar bocah. nah sekarang bingung kan.

 

relevan: “emangnya siapa elu?”   😆

 

jadi, baiklah. buat saya, menavigasi batas antara cuek-dan-perhatian dalam hubungan yang sifatnya personal seperti ini seringnya gampang-gampang susah. kenapa begitu, karena dalam konteks ini, ada saatnya hal-hal sederhana harus dipahami tanpa perlu diberitahu. mau cuek atau perhatian sih boleh-boleh saja, tapi kembali lagi, tetap saja ada hal-hal tak-selalu sederhana; kapan harus bertanya, kapan boleh mendengarkan. kapan harus keras kepala, kapan tidak perlu mencari tahu…

seandainya hal-hal seperti ini ada rumusnya.

di satu sisi, saya paham bahwa selamanya manusia saling membutuhkan dengan yang lain. teman, pasangan, kerabat, apapun itu. terlepas dari apakah pada satu waktu kita bersedia mengakuinya atau tidak, bersedia memberikan ruang atau tidak. saya paham bahwa itu sesuatu yang sifatnya prerogatif dan tidak bisa dilanggar dengan seenaknya. orangtua atau saudara, pasangan atau sahabat, siapapun itu.

di sisi lain, saya juga paham bahwa saya harus menghormati ruang privasi dan bahwa tidak selalu semua orang merasa nyaman dengan saya. bagaimanapun, bahwa niat baik tidak selamanya akan tersampaikan dengan baik, itu juga sesuatu yang mau tidak mau harus dipahami. entah nyaman atau tidaknya, bagaimanapun tetap; siapa anda, siapa saya, batas-batas itu akan selalu ada.

seberapapun leluasa atau sempitnya batas yang diizinkan itu. dengan segala kenyamanan atau kekurangnyamanan yang melingkupinya.

sehingga saya juga seharusnya paham, bahwa ketika ada saatnya tidak selalu orang lain itu nyaman dengan kepikiran atau kekuatiran atau barangkali kebaikan yang kita inginkan, seharusnya ya sudah. bukankah ada waktu tepat untuk segala sesuatu; demikian ada waktu untuk merobek, ada waktu untuk menjahit. ada waktu untuk diam, ada waktu untuk berkata-kata. kan begitu?

seharusnya. walaupun, entahlah.

mungkin akan lebih mudah seandainya saya bisa agak lebih cuek terhadap beberapa hal. mungkin. tapi, yah, sudahlah.

 

___

image credits:

  • karakter Hermione Granger dan Ron Weasley dari serial novel Harry Potter oleh J.K. Rowling
  • Harry Potter and Philosopher’s Stone (2001), adaptasi dalam bentuk film oleh Warner Bros

liburan yang tidak perlu melarikan diri

saya sedang nongkrong minum kopi di depan televisi pada hari Minggu pagi sementara adik saya menonton acara jalan-jalan di salah satu stasiun. ada hal menarik yang dikatakan seorang pembawa acara di akhir acara. redaksinya kira-kira sebagai berikut seingat saya, maklum masih rada ngantuk. namanya juga Minggu pagi. hehe.

“enggak enaknya dari liburan itu pada akhirnya waktu kita sudah harus pulang. waktunya kembali ke kehidupan. rutinitas, kantor, ketemu orang-orang lagi seperti biasa…”

saya ingat tadi saya berhenti menyeruput kopi dan memandang ke layar televisi. kemudian kepikiran, bahwa ungkapan demikian mungkin memang ada benarnya untuk sebagian banyak pemirsa. bahwa termasuk hal tidak enak dari liburan itu adalah ketika harus kembali ke berbagai tanggung jawab dan konsekuensi yang sudah menunggu di kehidupan nyata.

tapi apa iya harus seperti itu?

 

liburan, liburaaaaannn~! …lalu? 

 

saya sering menemukan pendapat bahwa pergi liburan —dalam konteks berwisata, maksudnya— cenderung dimaknai sebagai upaya eskapisme atau setidaknya dalam konteks ‘melarikan diri sejenak’. kalau sambil iseng kita coba perhatikan kata-kata yang umum dalam konteks tersebut, istilah seperti ‘getaway’ atau ‘escapade’, keduanya dalam bahasa Inggris, juga memiliki nuansa yang serupa.

bukan hal yang aneh juga. saya kira adalah kesepahaman umum bahwa pergi liburan bisa dianggap sebagai upaya melarikan diri atau setidaknya mengambil jarak serta menjauhkan diri.

tapi, dari apa?

kalau seperti itu, kesannya kok seolah kehidupan yang biasa kita tinggali rasanya demikian kurang pas, sampai-sampai harus ditinggal pergi dan ketika kembali juga rasanya tidak ingin benar. sebagiannya ini menjadi hal yang agak sulit saya pahami; bukan masalah pergi liburannya, tetapi justru ketika pulang dengan hati yang enggan itu jadi sesuatu yang seolah dianggap wajar.

seorang teman baik saya pernah mengatakan bahwa hal menyenangkan itu kalau kita bisa pergi liburan ke tempat yang menyenangkan, dan ketika kembali pun kita berada di rutinitas yang sama menyenangkannya. apakah kita bekerja sebagai pengelola restoran atau karyawan kantoran, atau pegawai negeri maupun bisnis sendiri. tentu saja ini bukan hal yang mudah dilakukan, karena kalau demikian tentu dunia sekitar kita sudah menjadi tempat yang lebih baik dan cerah ceria. tapi baiklah, itu cerita lain untuk saat ini.

 

kembali ke acara televisi Minggu pagi. mendengar kata-kata tersebut jadi semacam menyalakan lampu di kepala saya: mungkin itu juga alasan kenapa saya tidak benar-benar sering memerlukan untuk banyak pergi berlibur.

karena, ya, saya sendiri tidak merasa ada sesuatu yang benar-benar ingin saya tinggalkan dari kehidupan dan kesibukan berikut semua tanggung jawab sekarang ini. jadi keinginan untuk pergi dan meninggalkan sejenak itu tidak benar-benar besar juga. walaupun bahwa pada dasarnya proses ganti suasana dari waktu ke waktu itu tetap merupakan hal yang perlu, saya sendiri tidak menafikan soal itu.

pada saatnya nanti mungkin saya akan pergi liburan lagi. belum tahu, belum ada rencana juga sih.

tapi kalau kita bisa pergi dengan senang, liburan dengan tenang, dan ketika pulang kita kembali siap untuk sesuatu yang kita karyakan, bukankah akan lebih menyenangkan, ya.

saya kira demikian. walaupun mungkin memang tidak semua bisa seberuntung itu.

 

___

image notes:

Gili Air, 2014. [→high resolution] · Nikon D5100 @ 18 mm; ISO-200, F/11, 1/500 s.
bebas pakai dengan lisensi Creative Commons, CC-BY-SA.

tentang tantangan tentang tautan

jadi ceritanya, saya bosan. belakangan ini rasa-rasanya linimasa dan media sosial atau apapun internet yang kebetulan saya jelajahi isinya membosankan benar. bukan karena sepi, tentu saja —kapan sih internet sepi? dasar gemblung— melainkan karena berisiknya kadang keterlaluan benar.

iya, terlalu berisik. dari hal tak penting semacam pakcik Prince di acara Grammy sampai hal tak penting lain macam polemik hari kasih sayang yang dituduhkan berasal dari tradisi agama tetangga… yang ternyata kalau diurut sejarahnya malah semacam apokrifa. makanya, ngaji agama sendiri, apalagi agama orang lain, jangan cuma lewat internet sama televisi. jadinya malah gemblung, kan.

aduh. pening awak. tapi kemudian terlintas ide. sebuah tantangan kecil-kecilan, atau minimal pengingat buat kita semua:

“bagaimana kalau kita membagi-tautan, atau sharing di media sosial, hanya untuk konten, atau opini, atau tulisan, yang kita buat sendiri?”

betul itu. saya kira menarik. jadi sekiranya ada topik yang sedang hangat (atau panas!) tak perlulah kita tergesa terburu demi berbagi cuit dan tautan pada berbagai linimasa. setidaknya sempatkan tuliskan barang 200-300 kata, opini serius atau jenaka, masukkan ke laman blog misalnya. tambahan pula tautan balik ke sumber, ibarat kata dimasak dulu lebih renyah, begitulah kira-kira.

tapi kemudian terpikir kembali: memangnya pada mau? lagipula, memangnya pada bisa?

 

“jadi, kalian tak nak buat tulisan sendiri? tak mampu? hahahahaha!”

 

sejujurnya, setelah kepikiran seperti itu kok saya malah jadi pesimis. bukan kenapa-kenapa, karena —maaf-maaf ini— sejujurnya saya ternyata tidak bisa memandang generasi pengguna media sosial belakangan ini sehebat itu. maksud saya, saya kok tidak bisa yakin bahwa cukup banyak yang bisa, mau, dan mampu untuk membagi sesuatu yang minimal hasil pikiran sendiri, hasil analisis sendiri, padahal toh ide dan sumbernya juga sudah tersedia.

iya, rasanya kok susah. walaupun sebenarnya seharusnya tidak berat benar: misalnya kita baca artikel bahwa pak presiden punya kebijakan mobil nasional yang layak dipertanyakan, mbok ya ditautkan saja dari media yang kredibel, kemudian buat tulisan singkat opini kita. berikan referensi balik ke sumber, baru kita bagi tautan di media sosial, misalnya.

jadi opininya bernas! lebih matang! dan tidak semata-mata kerbau dicucuk hidung joget-joget mengikuti apa kata media!

kalau seperti itu kan gampang. seharusnya.

tapi baiklah, saya kira saya harus tahu diri juga. saya juga harus bisa memahami bahwa tidak semua orang bisa, mau, dan mampu meluangkan waktu buat pekerjaan yang kelihatannya sederhana. saya kira itu sudah hukum alam. tentu saja demikian; kalau tidak, tentulah kaos kaki di seluruh dunia akan harum baunya, demikian juga piring-piring kotor tidak akan pernah tertumpuk di atas meja dan ibu-ibu rumah tangga akan selalu cerah ceria tersenyum berbahagia.

dengan demikian seperti biasa, kenyataan mengembalikan saya pada kata ‘seharusnya’. huh.

walaupun, ya, di sisi lain semacam penasaran juga sih. mungkin sekiranya rekan-rekan ada yang tertarik dengan tantangan ini. silakan dicoba dan diaplikasikan…

…kalau bisa, mau, dan mampu sih. haha!

 

___

image credits:

angkutan kota (di balik lima ribu rupiah saja)

“jangan biarkan orang baik gampang berbuat dosa, dek.”

_

saya adalah pengguna transportasi umum, dan saya merasa baik-baik saja dengan keadaan tersebut. sisi bagusnya setidaknya hal tersebut terjadi karena pilihan alih-alih keadaan —ngomong-ngomong saya sendiri tidak punya rencana mencicil mobil dalam waktu dekat— demikian juga bukan berarti saya jadi tidak pernah atau tidak biasa pergi dengan kendaraan pribadi.

sementara di sisi lain, saya kira mudah juga untuk merutuk-rutuk soal idealisme dan kenyataan bahwa agaknya semua orang ingin kota yang tidak macet dan jalanan lancar… walaupun apakah semua punya niat dan tekad untuk tidak sebatas ‘ingin’, yah, soal itu saya serahkan saja ke pembaca. baiknya kan tidak asal menghakimi, lagipula siapa sih saya.

baiklah, kembali ke lap— judul, terus apa hubungannya transportasi umum dengan selembar lima ribu rupiah?

gampang atuh, itu kan ongkos angkutan kota saya pulang ke rumah. hehe.

dulu bisa mengantar pulang. terus nggak bisa. terus bisa lagi. begini ceritanya.

 

anda pembaca mungkin ingat, beberapa waktu yang lalu sempat terjadi kenaikan harga bahan bakar minyak. yang mempengaruhi besaran ongkos angkutan kota. yang kemudian harganya diturunkan kembali. dan diturunkan lagi… tapi agaknya tidak benar-benar mempengaruhi turunnya ongkos yang harus dibayarkan pengguna angkutan kota.

lho kok bisa begitu? tanya kenapa.

padahal logikanya kan begini: sebelum harga bensin naik, ongkos saya lima ribu rupiah. setelah harga bensin naik, ongkos saya naik. setelah harga bensin kembali ke level sebelumnya, ongkos saya…

seharusnya. kembali. ke. lima. ribu. rupiah. kan begitu?

baiklah, beberapa pembaca mungkin akan mulai berpikir bahwa saya adalah kelas menengah ngehe[1] yang memasalahkan satu-dua ribu rupiah demi mereka yang —kalau bisa disebut seperti itu— adalah ‘wong cilik’. orang kecil[2]. bahwa seharusnya saya dengan ringan hati membantu mereka, baiknya saya bersedia membayar mahal karena kebetulan saya mungkin lebih berkecukupan.

seandainya sesederhana itu. tapi sayangnya tidak. karena buat saya, ada sesuatu yang mendalam di sini.

saya mengasumsikan ibunya pak kopaja mendoakan anaknya bisa baik bahagia
alih-alih berubah jadi robot raksasa. sorry, can’t resist. →

 

ketika ongkos angkutan kota tidak mau turun, bukan cuma saya yang kena imbas. ada orang-orang lain, dari kelas sosial yang mungkin tidak seberuntung saya, yang juga terkena dampaknya. mas-mas yang kerja di pusat elektronik dan mengurus stok toko, atau ibu-ibu yang mengurusi administrasi dan akuntansi, demikian juga yang lain-lain sejenisnya. orang-orang yang, setiap hari perjalanannya, apabila ditambah dua-tiga ribu rupiah untuk bolak-balik, kelebihannya jadi tidak bisa digunakan untuk membeli lebih banyak sayur atau daging ayam dan barangkali susu bubuk.

sementara beban operasional angkutan kota pada dasarnya sudah kembali turun seiring dengan turunnya harga bahan bakar minyak.

saya percaya bahwa pada umumnya pak supir, kenek, dan juragan angkot adalah orang-orang yang setidaknya berusaha baik. pada umumnya lho ya. tapi dengan membiarkan ongkos tidak turun, ada semacam pembiaran di situ. pembiaran untuk berbuat zalim kepada orang-orang yang tidak selalu bisa, mau, dan ingin membela kebutuhan mereka sendiri. orang-orang biasa —seperti saya dan anda— yang mungkin memilih diam karena tidak ingin ribut, mungkin dengan sedikit takut, atau mungkin untuk alasan-alasan lain.

tapi ya apa bagus begitu, saya juga bertanya-tanya. bukankah dengan demikian keuntungan penyedia jasa dan angkutan —yang notabene tidak selalu jelas manajemennya— dialihkan ke beban pengguna umum. yang pada gilirannya akan teraniaya juga dengan beban biaya angkutan yang terakumulasi setiap hari sementara beban biaya tersebut seharusnya bisa lebih rendah.

 

atau moda transportasi murah! landak, landak, naik balonn… #krik

 

‘jangan biarkan orang baik gampang berbuat dosa’. demikian pesan yang selalu saya ingat.

karena di balik tambahan dua-tiga ribu rupiah setiap harinya, ada upaya perbaikan kelas sosial yang menjadi lebih sulit untuk mereka yang mencoba bekerja baik dan jujur. karena ada sesuatu yang salah sekali kalau sampai lebih murah dan lebih efisien buat mereka yang pas-pasan untuk mencicil sepeda motor dan mengisi premium untuk transportasi sehari-hari. karena ketika semua orang ingin punya sepeda motor dan mobil sendiri, tidak ada yang untung dengan ruas-ruas jalan yang tak akan berkurang kemacetannya.

walaupun, sedihnya, agaknya keadaan di sekitar saya saat ini memang cenderung mengarah ke sana.

oleh karena itu, ketika perlu berurusan dengan angkutan kota di tempat saya, belakangan ini saya memutuskan untuk selalu membawa uang pas saja. lima ribu rupiah. kalaupun pak supir meminta lebih, saya katakan bahwa biasanya pun saya membayar sejumlah demikian untuk jarak yang serupa. apakah membantu juga bahwa saya termasuk warga yang sudah lewat dari dua puluh tahun lalu-lalang menggunakan angkutan kota di tempat saya, mungkin bisa jadi juga.

demikian juga ketika suatu saat, barangkali dalam salah satu perjalanan yang sesekali kita semua mengalami;

“kalau sampai ujung, ongkosnya berapa, dek?”

“saya sih biasanya lima ribu. tapi uang pas saja, bu. takutnya nggak ada kembalian.”

saya kira seperti itu.

tidak selalu harus semuanya dengan konfrontasi. walaupun mungkin sesekali perlu. di sisi lain kadang saya bertanya-tanya juga; ada tidak ya, sesuatu lain, yang lebih, yang bisa saya lakukan soal ini…

karena, bagaimana, ya. buat saya, soal transportasi dan angkutan kota ini memang bukan cuma soal dua, tiga, atau lima ribu rupiah saja.

 

 

___

[1] saya tidak suka argumen ini. ini argumen yang mungkin ingin terdengar cerdas, tapi sayangnya prematur dan punya sesat logika berupa straw man argument.

[2] kalau mau sama-sama jujur dan adil, argumentasi ‘wong cilik’ dan ‘kelas menengah ngehe’ ini sama-sama sesat logika ala straw man. kalau semua sama-sama mau benar, ya sulit.

[3] image credits:

tentang sama, tentang beda

“sudah tahu nggak bisa, kenapa masih diterusin?”
“bisa, kalau mau!”

_

hidup sebagai bagian dari budaya Indonesia, dengan segala kemajemukannya, sering menyimpan hal-hal kecil tidak terduga yang tidak selalu terpikirkan sampai kita berhadapan langsung dengannya.

seperti cabe rawit yang tergigit dalam piring nasi goreng, misalnya. atau jatuh cinta kepada gadis beda agama.

aduh.

BGM: love hurts~ love hurts~ loooove hurts~~ #plok

 

padahal, ya, kalau dipikir-pikir lagi, hal seperti sebenarnya semacam keniscayaan juga kalau kita hidup di Indonesia. contoh gampangnya, tetangga dekat rumah saya Manado-Kristen, di dekatnya lain Padang-Muslim, sementara anak-anak gadisnya sendiri tergolong… baiklah, tidak usah dibahas. belum lagi tetangga kelas sebelah, departemen sebelah… eh udah ah ini ngapain sih ngomongin tetangga. udah woy, udah.

begini. saya tidak ingin menulis tentang hal seperti ini dengan terpaku kepada dasar-dasar humanisme atau toleransi yang jamak pada media sosial belakangan ini. rasanya kurang adil juga kalau semua-semua hanya dari satu sisi. bagaimanapun, saya seorang muslim, dengan didikan yang —walaupun tidak sampai dikirim ke Kairo apalagi sampai ditaksir dua orang gadis semacam mbak Rianti dan mbak Carissa— setidaknya bukan kosong benar. hah, kalau saja saya bisa dapat beasiswa ke Kairo juga mungkin kaliber saya jadi cukup tinggi untuk jadi tokoh utama harem manga novel dakwah yang kelihatannya hebat benar, tapi baiklah, itu cerita lain untuk saat ini.

bicara soal hubung-hubungan antarumat beragama di Indonesia, dari dulu juga adalah hal yang gampang-gampang susah. dalam konteks kemasyarakatan, berhubungan baik antar anggota masyarakat, atau teman sekolah, atau rekan kerja yang berbeda keyakinan adalah hal yang memang pada dasarnya saling wajar dan kita semua saling membutuhkan.

lagipula, Bhinneka Tunggal Ika! berbeda-beda tetapi satu jua, kita mungkin berbeda tapi aku sayang kamu juga.

 


apalagi sekarang Natal. selamat merayakan Natal, kamu! 

 

masalahnya adalah ketika ranah hubungan sosial tetangga/sekolah/profesional ini beranjak ke tahap romansa, ini menjadi masalah yang berbeda. dan kompleks. repotnya pula kadang keadaan-keadaan yang ajaib ini malah menjauhkan yang satu agama lebih daripada mendekatkan yang berbeda keyakinan. kan susah.[1]

jadi, ya, saya paham bahwa hal seperti ini bukan sesuatu yang sepenuhnya sederhana.

“sebagai muslim, menikahi gadis ahli kitab bukan termasuk zina,” kata saya. “di masa sahabat dan Khulafaur Rasyidin[2] juga banyak yang seperti itu.”

“ya memang. tapi kamunya sendiri bisa nggak membimbing dan membawa dia syahadat?”

“aku nggak mau kayak begitu!”

waktu itu saya pikir, sedikitnya saya paham dasar-dasar hukum munakahat (= ‘pernikahan’), walaupun tidak sampai mendalam benar. tapi setidaknya saya kira-kira paham batas-batas mana yang masih dalam koridor.

walaupun memang ada sekat. kesadaran bahwa ada hal-hal yang pada dasarnya tidak sama benar. dan tidak bisa tidak, perbedaan itu akan selalu ada.

sementara hal seperti ini juga tidak bisa cuma dari satu sisi. ada banyak sisi, yang masing-masingnya juga tidak sederhana benar, dan mau tidak mau tidak bisa diabaikan juga.

demikian pula ada juga hal-hal yang juga tidak bisa disangkal: keluarga lama, calon keluarga baru, komunitas dan masyarakat, lengkap dengan berbagai sudut pandang dan penafsiran-penafsiran yang melingkupinya.

seorang rekan yang kebetulan juga tergolong ahli kitab[3] pernah menyodorkan sebuah pernyataan yang masih saya ingat dengan baik.

“sebagai Kristen, kalau seorang gadis ditanya, ‘bagaimana kamu akan bisa mencintai seseorang yang bahkan tidak mau mengenal Kristus?’ itu nggak sederhana.”

kemudian saya pikir, memang bukan hal yang sederhana. ada isu yang mendalam di sini. tentang iman, keberserahan, tentang ide-ide serupa namun dengan ketidakcocokan yang inheren.

“susah kalau beda. pengen bisa beribadah bareng. melayani Tuhan.”

demikian seorang rekan yang lain, seorang gadis sempat mengutarakan pemikiran yang lebih sederhana. dan, ya, apa yang bisa disangkal soal itu?

“waktu itu bapak bilang, ‘terserah kalau kamu mau lanjut. tapi bapak nggak bisa jadi wali buat kamu’. dia nggak kelihatan marah atau gimana, tapi ya memang susah, sih.”

demikian seorang gadis yang lain, kebetulan pernah menjalin hubungan cukup lama dengan pasangannya yang berbeda keyakinan. entah kenapa ketika mendengarnya saya membayangkan seorang ayah yang tidak bisa bersikap tidak setuju secara antagonis. mungkin dengan demikian sayang kepada anak gadisnya.

 

saya tidak akan mempertanyakan atau menggugat banyak hal sebagaimana banyak rekan-rekan lain yang masih senang berdebat di media sosial. misalnya bahwa penafsiran agama harus dikonstruksi ulang terhadap semangat zaman (saya tidak sepenuhnya setuju), atau bahwa agama mempersempit ruang gerak manusia dan menghasilkan kaum fanatik (ini pernyataan sama kurang masuk akalnya), atau bahwa konstruksi sosial masyarakat sekarang ini tidak masuk akal dan pada dasarnya orang-orang terlalu ikut campur atas hak individual (ide yang terlalu mentah untuk bisa saya terima).

kenyataannya isu seperti ini ada, dan valid. dan ini bukan cuma tentang keyakinan sebagai konsep spiritual.

 

kok jadi serius ya. baiklah, ini ada gambar kucing. biar santai. hehe.

 

jadi bagaimana?

seumur hidup saya (yang belum lama-lama amat ini), sejak kecil saya terbiasa dituntut membuat keputusan. dari soal ditanya ayah dan ibu tentang mau beli buah apa di swalayan sampai keputusan-keputusan setelah dewasa di tempat kerja, saya terbiasa untuk memutuskan dan menggunakan keputusan saya secara logis. maksudnya, kalau saya bilang ke ibu bahwa saya mau alpukat daripada pepaya, atau pilih dibelikan buku pengetahuan dua buah daripada komik satu eksemplar (karena dapatnya lebih banyak sih), itu kan keputusan juga.

di satu sisi, buat saya, spiritualitas adalah hal yang penting. demikian pentingnya sehingga buat saya ini adalah perjalanan yang sifatnya personal benar. bahwa saya sekarang ini adalah seorang muslim yang cukup taat, itu adalah konsekuensi dari spiritualitas yang menjadi pilihan saya. hal serupa juga berlaku untuk rekan-rekan yang lain, apapun keyakinan masing-masing. setiap kami punya perjalanan sendiri, dan tidak seorangpun berhak menuntut yang lain untuk bersedia dipilihkan jalan.

di sisi lain, dengan segala pengalaman tuntutan kepada saya untuk membuat keputusan-keputusan logis, ada satu hal yang tidak ingin saya korbankan benar. sehingga ketika ada saatnya saya memutuskan untuk mengikuti kata hati saya, dengan atau tanpa pertimbangan-pertimbangan logis yang menyertainya, saya tidak ingin tanggung-tanggung.

walaupun mungkin tidak mudah. atau mungkin malah susah. atau bahkan dengan segala komplikasinya. tapi memang, pada dasarnya ini sesuatu yang tidak pernah logis. tidak buat saya, tidak juga buat orang lain.

sesederhana dua kata yang tidak pernah terungkapkan:

“marry me.”

walaupun, ya, kadang ketika berjalan-jalan sendiri di pusat belanja, turun dari lift keluar tempat kerja dan melihat pohon Natal berkelip-kelip cantik, satu dan lain hal kemudian terpikir: “iya ya…”

agaknya akan selalu ada semacam keinginan yang tidak rela benar. tapi entahlah, mungkin saya cuma agak terlalu keras kepala.

 

 

___

footnote:

[1] ini sering jadi argumen ateisme modern bahwa agama tidak dibutuhkan dalam kehidupan bermasyarakat. saya tidak pernah setuju, tapi saya juga tidak tertarik debat kusir dengan dengan pemula yang baru belajar dari Dawkins atau Sagan. tambah ilmu dulu sana. :mrgreen:

[2] periode awal kepemimpinan muslim setelah Muhammad, sekitar abad ke-7 Masehi; secara berturut-turut Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib.

[3] dalam terminologi Islam, ‘ahli kitab’ adalah sebutan untuk penganut lain dari rumpun agama Abrahamik; Isa/Yesus dengan Alkitab, Musa/Moses dengan Taurat, keturunan penganutnya dikenal sebagai ahli kitab.

[4] image credits: