04.08.08

in my dorm there was a kitchen

Posted in Opinion at 6:33 pm by yud1

in my dorm there was a kitchen
me and the kids used it accordingly, faithfully
to the others not we care much,
me and the kids baked and ate our cakes.

in my dorm there was a kitchen
me and the kids made our food, shared our food
to the others not we care much,
me and the kids would dine accordingly, faithfully

in my dorm there was a kitchen
me and the kids found a rat, we ditched it
was it to others threat,
small kitchen went bazooka boom

in my dorm there was a kitchen
me and the kids used it accordingly, faithfully
no longer our small kitchen still be,
leaving be remnant because of damn rat

in my dorm there was a kitchen
never me and the kids would forget
pizzas and pancakes were past days,
so long covenants of dormitory rights

___

[1] International Covenants on Civil Dormitory Rights, ratified by our dormitory with #28F amendment of Dormitory Constitutions.

[2] access for using kitchen and making foods are internationally accepted ideas as part of dormitory students’ rights worldwide.

04.02.08

information flow

Posted in Opinion at 4:56 pm by yud1

sewaktu kuliah Kriptografi dan Sekuriti dulu, saya sempat mempelajari soal information flow. detailnya bisa panjang sendiri, jadi mari kita tidak membicarakan hal tersebut di sini. (siapa juga yang mau, haha. :mrgreen: )

ah, anyway. intinya adalah, bahwa dalam suatu sistem yang dirancang dengan (maunya sih) aman, tidak boleh ada information flow yang mengalir kepada pihak yang tidak memiliki kewenangan akan informasi tersebut. dengan kata lain, jalannya informasi yang ada harus benar-benar diperhatikan agar jangan sampai ada yang bocor tanpa diketahui.

susah kalau diomongin seperti itu. mendingan pakai contoh, deh.

misalkan saja begini; andaikan saya lima buah jeruk. kemudian, ada tiga orang bocah anak kecil yang akan saya bagi jeruk tersebut… tapi ini rahasia! tidak boleh ada orang lain yang tahu berapa banyak jeruk yang saya punya.

setelah dibagi jeruk masing-masing satu (secara terpisah biar aman, saya ini rada paranoid ceritanya), anak-anak ini disuruh pulang. tapi (sialnya), secara tidak sengaja saya nyeletuk ke anak kedua bahwa jeruk saya tinggal tiga. tidak apa-apa, kan mereka semua tidak mungkin tahu dari satu hal itu saja.

saya pun tenang saja bahwa tidak ada seorangpun yang akan tahu jumlah jeruk saya…

…tapi sesungguhnya, informasi saya tidak aman! kalau satu orang anak ini ngomong ke rekan-rekan mereka, tentu akan ketahuan bahwa saya punya lima buah jeruk.

dari kasus tersebut, sebuah information flow sederhana (bahkan implisit) bisa mengungkap fakta yang tidak sederhana. kadang-kadang, bisa tidak terduga. siapa yang mengira kalau rahasia saya bisa ketahuan gara-gara salah omong yang bahkan kelihatannya nyaris tidak berhubungan dengan rahasia saya?

nah. sampai di sini… ada yang sudah menduga ke mana arahnya tulisan ini? :mrgreen:

manusia hidup dengan informasi. segala tindak-tanduk manusia adalah informasi. dan segala sisa-sisa perbuatan manusia juga meninggalkan informasi… kalau anda bisa menemukannya. tapi ini tidak selalu gampang dilakukan juga, sih.

kalau beruntung (dan cukup pintar), anda bisa membangun model dari informasi yang kebetulan berserakan di sekitar anda.

contoh lain. anda sedang mengerjakan tugas akhir di lab tesis kampus anda, ketika anda secara kebetulan melihat salah satu layar monitor yang sedang ditinggal pergi pemiliknya. komputer tersebut diberi label pemakaian selama satu semester untuk seorang mahasiswa — rekan satu lab anda, tentunya anda kenal dia.

di komputernya ada sebuah tab di taskbar dengan judul ‘Analysis of Java-Based…’ dari sebuah word processor. di program yang terbuka adalah sebuah browser bermerek Firefox yang sedang mengakses ke halaman sebuah forum game 2D fighting. terdapat dua tab browser lain, masing-masing bertuliskan ‘Gmail: Email from G…’ dan ‘CLANNAD - Anime Ne…’. sebagai tambahannya, di isian search pada browser tersebut terdapat dua kata ’sakagami tomoyo’.

kesimpulannya? rekan anda yang sedang mengerjakan tugas akhir terkait Java ternyata doyan main game 2D fighting, dan sepertinya ngefans kepada Sakagami Tomoyo dari serial CLANNAD. profit. :mrgreen:

…anda bahkan tidak perlu menyentuh komputer tersebut untuk memperoleh informasi yang anda butuhkan tentang rekan anda!

apa, information flow? itu berbahaya, pembaca. apalagi kalau informasi tersebut menurut anda rahasia! anda mungkin akan berhati-hati dengan informasi yang bersifat eksplisit. tapi secara implisit? ini yang harus diperhatikan, pembaca.

secara nggak niat, ada banyak hal lain yang bisa diperoleh. anda bisa menebak dengan mudah siapa yang ada di seberang telepon rekan anda ketika rekan tersebut menerima telepon dari ibunya (atau pasangannya) hanya dengan mendengar beberapa patah kata (dan intonasi) pertama. anda bisa menduga bahwa mobil yang datang sebelum anda di pom bensin sepi mungkin adalah angkutan umum dengan melihat meteran rupiah dan liter dikeluarkan. anda bahkan bisa dengan mudah mengatakan bahwa seorang rekan anda di lab sebelah baru pulang kampung ke daerah Jawa Timur hanya dengan melihat tong sampah yang ada di sana!

manusia hidup dengan informasi, dan seringkali menjatuhkan banyak informasi tentang mereka; secara sengaja atau tidak sengaja. di banyak tempat, dan dari mana-mana.

…tidak percaya? :mrgreen:

di suatu tempat, dalam angkutan umum. seseorang duduk di hadapan saya. contoh diangkat dari pengalaman pribadi dengan modifikasi.

cewek. masih muda. nggak pakai seragam, membaca diktat fotokopian; oh, mahasiswi. beberapa kata yang tertangkap dari kertas yang dibawa: teori, ekonomi, Keynes, Smith. kemungkinan mahasiswi ekonomi tingkat awal.

ada ringtone telepon genggam, di dalam tas. dibuka, sekilas bungkusan kain putih. oh, mukena. ternyata muslim. buku hijau tebal, logo universitas hitam di sampul depan: buku kuliah untuk mata kuliah wajib tingkat pertama di kampus.

mahasiswi satu kampus, fakultas ekonomi, muslim, tingkat pertama. hanya dengan beberapa detik yang beruntung. dan tidak; saya sama sekali nggak naksir cewek itu, pembaca. :mrgreen:

tentu saja, walaupun sebagian besar information flow terjadi pada kasus-kasus yang memang tidak rahasia, sebagian yang lain juga bisa terjadi. anda bisa menduga password yang digunakan rekan anda ketika login sebagai administrator forum ketika dengan tidak sengaja melirik keyboard-nya (jangan ditiru :mrgreen: ), atau anda bahkan bisa mengira-kira keadaan sosial-ekonomi seseorang hanya dengan melihat isi tong sampahnya.

ah. jadi begini, pembaca. saya bukannya mengajarkan anda bahwa hal ini bisa dilakukan semaunya atau etis adanya. dalam banyak hal memang, tapi tidak selalu. ada juga beberapa hal yang mungkin tidak perlu (dan tidak dimaksudkan untuk) anda ketahui, dan anda sendiri yang bisa memutuskan mengenai apa yang akan anda lakukan dengan informasi yang anda miliki.

kalau sudah begitu, yang menyisakan anda di sini cuma etika; apakah anda akan terus melongok ke tempat yang tidak seharusnya anda lihat? apakah anda akan terus mengawasi mengenai masalah orang lain yang sudah masuk area pribadi? apakah anda kemudian akan menjadi tidak cukup tahu diri (dan keadaan) dengan menyebarluaskan informasi (yang mungkin tidak dimaksudkan untuk anda ketahui) tersebut?

itu pilihan anda. seperti halnya segala sesuatu, informasi juga bermata dua; satu mungkin akan menguntungkan anda, satu lagi mungkin akan menghancurkan anda. di antara keduanya, yang membedakan seringkali hanyalah pilihan anda, pembaca. :wink:

…nah. jadi?

sederhana saja. berhati-hatilah dengan information flow, pembaca. apalagi, untuk hal-hal yang anda rasa tidak perlu diketahui oleh sembarang orang! :mrgreen:

03.15.08

emansipasi yang salah arah?

Posted in Opinion at 1:10 am by yud1

“anak laki-laki itu, jangan sering-sering ke dapur. nanti bisa jadi kemayu, lho.”

___

dulu sekali, seorang kerabat yang waktu itu jauh lebih senior (dibandingkan saya yang tingginya baru sedikit lewat dari satu meter itu) pernah mengatakan hal tersebut kepada saya. agak lupa detailnya sih, tapi kira-kira begitulah.

dan berhubung waktu itu saya adalah anak kecil yang baik…

…saya tidak pernah mempercayai kata-kata tersebut, pembaca. :mrgreen:

::

sejak dulu, saya tidak pernah benar-benar suka menerima pembatasan peran berdasarkan stereotipe yang terkenal itu: laki-laki bekerja mencari nafkah, perempuan di rumah mengurusi rumah tangga. stereotipe yang, entah kenapa, diperparah oleh material pelajaran yang saya terima di sekolah bahwa ‘ayah membaca koran dan ibu memasak di dapur’. dan entah kenapa, sepertinya masih laku saja sampai sekarang, pembaca.

tentu saja, pada saat itu ada juga yang namanya ‘emansipasi wanita’ dan ‘feminisme’ yang menjadi counterbalance dari stereotipe tersebut… dan dengan demikian, saya cukup senang bahwa saya tidak perlu sampai berlama-lama ‘terjebak’ dalam cara pandang seperti itu.

…nah. emansipasi. ini dia kata kuncinya, pembaca. :mrgreen:

::

belakangan, saya jadi tertarik memikirkan soal si makhluk ‘emansipasi’ ini. atau secara lebih spesifik, ‘emansipasi wanita’ (dan untuk selanjutnya disebut sebagai ‘emansipasi’ saja, capek nulisnya :P ). dan tiba-tiba, saya jadi kepikiran bahwa konsep ‘emansipasi’ ini sendiri mulai salah arah. kacau, pembaca.

tenang dulu, pembaca. silakan membaca kembali dari awal kalau anda tiba-tiba merasa ingin menuduh bahwa saya tidak peduli akan hak-hak wanita. :mrgreen:

jadi, pembaca. sekarang ini, dalam banyak hal perempuan sudah mendapatkan kesempatan yang (hampir) setara dengan laki-laki di banyak bidang. dari profesi seperti guru dan dokter sampai menteri dan presiden. dan lebih banyak lagi para perempuan tangguh yang menjalankan peran ganda: menjadi wanita karir di kantor sekaligus menjadi istri mengurus rumah tangga. dan ini hal yang hebat. sangat hebat, kalau menurut saya.

tapi, ada sesuatu yang menarik perhatian di antara fenomena yang lazim ini, pembaca. tak lain dan tak bukan adalah sebuah pertanyaan sederhana:

kalau emansipasi berarti bahwa perempuan bisa masuk ke sebagian wilayah yang dulunya hanya dihuni oleh laki-laki, bukankah seharusnya laki-laki juga bisa masuk ke sebagian wilayah yang dulunya hanya dihuni oleh perempuan?

hmm. apa iya? :mrgreen:

sekarang, saya jadi kepikiran bahwa masalah emansipasi ini mulai salah arah. kita bisa melihat banyak perempuan berprestasi di banyak bidang (sambil tetap menjalankan tugas mengelola rumah tangga), tapi berapa banyak kita bisa melihat laki-laki yang memiliki kecakapan untuk melakukan hal-hal kerumahtanggaan (sambil tetap menjalankan tugas mencari nafkah)?

dan sayangnya, tampaknya tidak cukup banyak yang bisa seperti itu. perlu tanya kenapa? :mrgreen:

::

ketika masih kecil dulu, banyak dari kita dicekoki tumbuh dengan sudut pandang mengenai ‘dikotomi tugas dan kewajiban’ yang sebagian sebagai berikut:

laki-laki: mengemudi, bertukang, bekerja di luar, …

perempuan: memasak, menjahit, mengurus anak, …

tentu saja, belakangan (baca: kemudian sampai sekarang) para perempuan juga mulai mengambil alih bagian tugas laki-laki. anak perempuan yang bisa mengemudi dianggap mandiri, dan kemampuan berkarir diberi nilai tinggi untuk dimiliki seorang perempuan.

tapi, anak laki-laki yang bisa memasak dan menjahit? anda tentu tahu, bahwa anak seperti ini biasanya dianggap ‘kurang cowok’ dan sejenisnya. dan apa yang terjadi, anda tahu sendiri. skill ‘memasak’ dan ‘menjahit’ dianggap sebagai ‘culun’ untuk dimiliki oleh anak laki-laki.

dampak emansipasi yang sama sekali tidak bisa dibilang buruk bagi perempuan, namun malah berujung pada terbatasnya kapabilitas yang dimiliki laki-laki. dan akhirnya, ini malah tidak adil bagi para perempuan tangguh itu: mereka bisa sepadan soal karir dengan laki-laki, tapi soal rumah tangga hampir seluruhnya dipegang perempuan.

salah arah? tampaknya begitu. tapi ironisnya, masalah bukan berada di sisi perempuan sebagaimana keadaan pra-emansipasi, namun pada mindset kolot yang tertanam di pihak sebagian (besar?) laki-laki!

::

oke, sekarang mari kita tinggalkan soal emansipasi dari sisi wanita yang akhirnya melahirkan para perempuan hebat itu. dari sini, mari kita memandangnya dari sisi laki-laki berikut hal terkait konteks tersebut.

sekarang, ini yang fatal: para perempuan itu tiba-tiba menikah dan harus menjalani teamwork dengan laki-laki yang kapabilitasnya diragukan soal urusan rumah tangga! (ya karena tidak pernah dilatih itu, duh :P ). jadi, di sini kita memiliki perempuan yang bisa berkarir dan mampu mengurus rumah tangga, dan seorang laki-laki yang hanya bisa berkarir dan tidak bisa mengurus rumah tangga…

…dan mungkin sebagai tambahannya, masih pula minta dilayani oleh sang istri. apa itu bukan tidak adil namanya? :evil:

::

kalau kita mencoba memandangnya dari konteks skill, memangnya apa sih yang salah dengan seorang laki-laki yang bisa mengurus rumah tangga — menjahit, misalnya? adakah yang salah dengan seorang laki-laki yang bisa mencuci piring dan menyapu dan mengepel rumah? dan adakah yang salah dengan seorang laki-laki yang bisa memasak untuk makanannya sendiri?

menurut saya, itu hal yang bagus — terlepas dari keberadaan para perempuan yang ‘diberi kewajiban’ soal hal tersebut. saya sendiri memandangnya sebagai skill set yang berguna… misalnya, kalau saya hidup di apartemen sendiri, masa saya harus membayar orang untuk membersihkan apartemen atau pergi ke laundry (yang cukup mahal itu) untuk mencuci pakaian sehari-hari? sungguh tidak efisien.

atau kalau misalnya tiba-tiba kancing baju saya lepas, apa perlu saya pergi ke tempat penjahit cuma untuk memasang kancing? demi Tuhan, itu salah satu hal paling tidak efisien yang bisa saya bayangkan. dan kalau saya bisa memasak, setidaknya saya bisa memakan sesuatu yang lebih enak daripada sekadar mie instan ketika warung makan sudah tutup semua… kalau ada bahannya, sih.

…apa, tidak berguna? itu skill untuk survive secara efisien, pembaca. :mrgreen:

::

tapi, entahlah. saya sendiri lebih suka memandang teamwork tersebut secara fleksibel. kalau para perempuan bisa (dan mau) bekerja dan men-support apa-apa yang biasanya menjadi tanggung jawab laki-laki, para laki-laki juga harus bisa dong, men-support apa-apa yang biasanya menjadi tanggung jawab perempuan? itu kan hal yang sederhana saja… dan tentu saja, kurang adil kalau tidak seperti itu!

dan tiba-tiba, saya jadi kepikiran sebuah ide agak liar; bisa nggak ya, kita mengembangkan topik emansipasi laki-laki sebagai counterbalance untuk emansipasi perempuan? saya rasa, dengan demikian para perempuan juga tidak akan merasa dirugikan banget-banget…

…tapi, mungkin nggak ya?

soalnya cowok-cowok, mana ada yang mau kayak begitu! :mrgreen:

02.06.08

seleb, lalu…

Posted in Opinion at 4:38 pm by yud1

orang Indonesia, mudah terpaku kepada seleb. dan segala sesuatu terkait seleb. dan segala sesuatu terkait sesuatu milik seleb. dan segala sesuatu terkait sesuatu mirip seleb.

bingung? jangan tanya saya. pokoknya, orang Indonesia gampang tertarik soal seleb.

ada seleb mau menikah, orang heboh. ada seleb ikut lomba menyanyi, ratingnya tinggi. ada seleb punya ibu, bisa jadi tontonan berjam-jam. ada seleb joget-joget, jadi acara satu slot. ada seleb punya anak, masih pula disuruh menyanyi dan masuk TV. bingung saya.

::

sekali waktu, saya nongkrong di depan TV. biasanya saya hanya memasang stasiun TV yang mengutamakan segmen berita sebagai sajian utamanya dengan anchor yang berbeda kelas dari cewek pecicilan atau gadis penderita di sinetron milik TV sebelah tentunya, tapi tidak kali itu.

kenapa, tanya anda? haha, pertanyaan apa itu?! tentu saja karena remote control-nya sudah dikuasai penghuni rumah yang lain, pembaca. :lol:

maka saya pun duduk.

di dekat saya, ada televisi.[1]

SHARP.

channel-nya dipindahkan.

klik.

selanjutnya, neraka.

ada lomba seleb bernyanyi, dengan suara pas-pasan. tidak semua sih, ada juga yang di bawah pas-pasan. ada komentatornya, ngomong soal busana dan gaya. ada serombongan juri, tidak jelas siapa. ada omong-omongan ringan tanpa-mikir, kalau mau mendengarkan. ada juga ibu-ibu dengan gaya bermacam rupa.

demi Tuhan, kenapa seleb-seleb ini? bahkan saya kenal pun tidak dengan mereka, tapi kenapa mereka sampai jadi korban eksploitasi media? dan saya terpaksa mendengarkan mereka menyanyi. dan saya terpaksa mendengarkan mereka menyanyi. dan saya terpaksa mendengarkan mereka menyanyi.

sungguh, ini siksaan untuk saya.

saya terjebak. tidak ada jalan keluar. semua orang menonton dengan seksama. dan saya terkepung.

::

iya, iya. tentu saja, orang Indonesia adalah orang-orang yang ketergantungan seleb, dan media massa Indonesia adalah media yang (hampir semuanya) ketergantungan seleb. selebritas itu komoditi! mana ada orang yang mau mendengarkan soal hasil primary di New Hampshire atau Nevada, atau sekadar analisis mengenai kenaikan harga kedelai dan terigu?

gak musim, tahu. itu gak keren. lebih penting juga masalah Ahmad Dhani yang katanya mau cerai atau Luna Maya yang belum juga punya pacar, betuul? :lol:

hebat. sungguh hebat dampak selebritas ini. sekarang saya berpikir, bahwa seandainya ada seorang seleb-whatsoever menulis sebuah blog sambil mengekspos identitasnya, tentu akan laku bak kacang goreng. apa, mutu tulisan? siapa peduli, pokoknya seleb![2]

::

sekarang, saya jadi penasaran. benarkah bahwa selebritas ini adalah kebutuhan manusia Indonesia?

jangan-jangan, iya! bayangkan, kalau misalnya anda dengan rela menyalakan TV dan menonton seleb joget-joget di satu stasiun TV, lalu kemudian menonton seleb menyanyi-dengan-ibu di stasiun TV tetangga, maka anda tentu bisa mengatakan bahwa anda (kemungkinan) memiliki kebutuhan khusus mengenai selebritas.

lebih jauh lagi, kalau anda mengikuti pemberitaan mengenai para seleb pada acara infotainment, anda mungkin bisa melihat bahwa banyak penonton yang berkomentar mengenai siapa naksir siapa atau seleb yang menjelang cerai. ini, tentu menunjukkan bahwa orang Indonesia memiliki kebutuhan khusus terkait selebritas!

mungkin memang, ini merupakan salah satu kebutuhan manusia. bahkan manusia mungkin tidak bisa hidup tanpa selebriti. dan jangan-jangan, saya juga demikian.

saya bangun pagi dan memanggang roti untuk sarapan, dan di TV ada acara infotainment. saya makan siang dan melongok ke arah TV, tiba-tiba ada acara dansa ala seleb. dan ketika saya makan malam, mendadak ada seleb menyanyi-dengan-ibu di TV.

saya bisa bilang apa? coba, kalau saya begitu antipati dengan acara sejenis itu, maka saya tidak akan bisa makan di depan TV! ini berbahaya, sebab pada taraf yang ekstrem saya bisa pusing dan batuk-batuk dari hidung, mulut, dan bahkan telinga ketika berhadapan dengan acara seleb-all-the way macam itu!

ah, maaf. saya ralat. tidak sampai separah itu, kok. paling parah, saya cuma pusing dan batuk-batuk dari hidung dan mulut saja. tidak lebih, pembaca.

::

jadi, kalau begitu. kenapa juga orang Indonesia begitu terpaku oleh selebritas?

wacana aktualisasi diri? mungkin. manusia memang senang mikir yang gampang-gampang, kok. lupakan hal yang susah-susah, melihat dan ngomongin seleb saja cukup kok.

wujud keadaan manusia yang kurang kerjaan? bisa juga. daripada coding atau baca paper atau mengerjakan tugas akhir, lebih seru nonton infotainment, bukan?

bentuk kekurangan konsep diri sebagai individu? mungkin juga. dengan demikian sesosok ’seleb’ menjadi suatu pelampiasan untuk mengatasi konsep diri yang tidak cukup tinggi, tampaknya bisa diperhitungkan.

…ya, ya, hidup pop-culture deh. ngapain juga sih mikir yang susah-susah? daripada begitu, mendingan kita bikin tim investigasi[3] khusus buat menyelidiki Rossa atau Ahmad Dhani!

___

[1] terinspirasi dari puisi-bukan-puisi milik Kopral Geddoe. :mrgreen:

[2] ada nggak ya? kalau ada sih, paling isi komentarnya gak jauh-jauh dari sekadar pengen kenalan atau jual mutu. :roll:

[3] sebuah program dengan hebatnya menyertakan embel-embel ‘investigasi’ demi menyelidiki kemungkinan pasangan seleb yang mau cerai… ampun, deh.

01.17.08

tuhan yang hanya menonton

Posted in Opinion at 3:12 pm by yud1

ini adalah dunia yang tidak sempurna; yang katanya diciptakan oleh yang Maha Sempurna, untuk makhlukNya yang konon katanya paling sempurna daripada yang lain.

apa, kamu bilang Tuhan itu Maha Kuasa? mungkin benar, tapi kalau begitu dia cuma tidak rela menunjukkan kekuasaanNya tersebut di dunia — terlepas dari makhluk ciptaanNya yang penurut sedang mencoba menebar kebaikan, atau makhlukNya yang bejat sedang berbuat kerusakan dan aniaya.

kalau begitu bagaimana kamu bisa mengatakan bahwa Tuhan itu bisa begitu adil, hanya dengan apa yang kamu lihat di dunia? mungkin benar bahwa dia memang adil, tapi kalau begitu dia cuma tidak rela menunjukkan keadilanNya itu di dunia.

kamu bisa bilang apa? Tuhan itu memang cuma menonton, kok.

kalau kamu tidak pernah mengalami kerasnya dunia atau dikerjai orang brengsek atau melihat bangsat-bangsat bebas berkeliaran di dunia, kamu tentu akan langsung menyanggah. kamu akan mengatakan bahwa dia bekerja dengan caranya sendiri, bahwa dia punya rencana lain, dan apalah yang lain sebagainya.

tapi kalau kamu lihat, dia hanya menonton. apa, kamu mau mengharapkan dia mengintervensi permufakatan jahat dengan mengirimkan bencana alam, begitu? haha.

::

coba, buka mata kamu sedikit. kamu bisa lihat orang-orang yang memulai penjajahan di atas dunia (bahkan tanpa peduli Konvensi Jenewa) masih hidup dengan aman sentosa sampai sekarang. kamu juga bisa lihat orang-orang yang melakukan pembunuhan dan pembantaian sambil membawa-bawa namaNya yang hebat itu di mana-mana: Bali, Poso, Jakarta… sampai ke New York dan Tepi Barat.

kamu bilang, itu adil? memang tidak. tapi toh dia diam saja.

sekarang, kamu lihat bagian yang lain lagi. kamu tahu, orang-orang baik bisa jadi apa di sini? whistleblower dianggap kawanan penjahat, pemberantas korupsi sampai dibekali senjata dan kevlar anti peluru, dan pegawai negeri jujur tidak dapat promosi.

dan apa yang dia lakukan?

toh kamu bisa lihat bahwa para koruptor masih duduk dengan nyaman di gedung DPR laknat itu, atau di kantor polisi yang juga sama busuknya, atau bahkan di ruangan-ruangan pengurus partai politik yang setia bagi-bagi uang lima tahun sekali.

toh kamu juga bisa lihat bahwa masih ada penipu dan perampok dan penculik berkeliaran di kota-kota, dan preman-preman terminal yang bisa jadi tukang palak dengan pisau di tangan. kalau kamu sial, kamu juga bisa melihat seseorang malang yang tiba-tiba ditusuk, atau orang lain yang ditabrak sebelum ditinggal kabur tanpa permisi.

dan apa yang dia lakukan?

::

sekarang, coba kamu bayangkan. coba kamu bayangkan ketika dia marah, dan sekali ini memperlihatkan keadilannya di dunia.

bayangkan gedung DPR disambar petir, terjadi kebakaran hebat, dan wakil-wakil rakyat yang datang dengan ongkos politik supermahal itu gosong semua bersama lembaga tempat cari suap itu. kamu bisa bayangkan itu? sayangnya, dia tidak akan melakukan itu.

kamu bisa bayangkan, polisi-polisi gendut di perempatan jalan yang suka main tilang itu tiba-tiba mati keracunan, atau tiba-tiba mendapatkan penurunan pangkat atau diberhentikan secara tidak hormat? sayangnya, dia juga tidak melakukan itu.

apa, mimpi? memang. kamu tidak bisa mengharapkan dia ikut campur dengan keadilan di dunia, kok. kamu bisa bilang dengan mudah soal keadilan di akhirat-dan-sejenisnya (dan dengan demikian masalah ini kita anggap selesai), tapi sayangnya, dia tetap hanya menonton saja di dunia.

::

karena di dunia ini ada orang-orang brengsek, dan banyak bangsat-bangsat penganiaya orang lain. toh kamu tidak bisa mengharapkan dia memberikan keadilanNya dengan serta-merta di dunia. dan kamu juga tidak bisa asal berdoa dan tahu-tahu para koruptor itu sadar dan mengembalikan uang negara, misalnya.

sedih? mungkin, terserah kamu, sih. mungkin memang manusia harus membuat jalannya sendiri di dunia ini; campur tanganNya tidak bisa terlalu diharapkan di dunia ini, dan akhirnya manusia mungkin akan kecewa.

…karena Tuhan hanya menonton, sayangnya.

01.16.08

confusion in maturity

Posted in Opinion at 5:09 pm by yud1

saya adalah seorang cowok sederhana yang cukup bahagia dan tidak meminta banyak hal dari hidup saya.

…yah, kalau dibilang begitu juga sebenarnya tidak seratus persen benar, sih. saya juga punya pernah mengalami hal-hal kurang-menyenangkan atau apa-apa yang mungkin bisa disebut sebagai ‘masalah’… tapi (bagusnya) sejauh ini saya masih merasa enjoy dengan kehidupan saya.

jadi masalahnya adalah…

…apa? memangnya ada masalah? :mrgreen:

ah, bukan apa-apa. masalahnya sederhana saja, pembaca. ini menyangkut suatu hal yang sederhana saja. menyangkut masa depan, namun juga tidak saya pedulikan banget-banget… tapi (sialnya) mau tidak mau saya jadi kepikiran juga soal ini.

masalah sederhana-dan-kadang-menyebalkan: tak lain tak bukan dan tentu saja, soal berkeluarga alias menikah.

::

jadi begini, pembaca. beberapa waktu terakhir ini, banyak sekali kenalan saya yang menjalani pernikahan. dari rekan seumuran sampai jajaran keluarga di sekitar kota, dari rekan SMU sampai rekan kuliah satu kampus.

ya, ya, bukan itu masalahnya. saya sendiri cukup senang kalau ada kenalan saya yang menikah. tentu saja, kebahagiaan seorang rekan adalah kebahagiaan saya juga, selain karena bisa makan gratis tentunya bukan?

hmm. masalahnya adalah, saya sudah harus siap-siap menghadapi pertanyaan yang susah dijawab ini: kapan mau menikah?

sumpah, ini pertanyaan yang (walaupun maksudnya baik) kadang terasa membingungkan-agak-menyebalkan untuk saya.

::

seorang rekan pernah ngobrol soal hal ini dengan saya.

“enak ya, si A itu sudah mau menikah… gw kapan ya?”

“apa iya…” ungkap saya, setengah-asal.

“ya iyalah! memangnya lo nggak kepengen menikah, yud?”

“…”

“…entah kenapa, gw nggak terlalu kepengen, tuh.” akhirnya saya ngomong.

entah, ya. saya sendiri tidak terlalu tertarik soal berhubungan dengan komitmen — entah itu pacaran (atau istilah yang lain: penjajakan, ta’aruf, sama saja) atau tunangan atau pernikahan. dan alih-alih menganggapnya sebagai suatu hal yang ‘penting’ seperti halnya beberapa rekan saya, saya malah tidak terlalu menginginkannya… apa ya? rasanya ya biasa saja… mungkin secara sederhana, ‘nggak merasa perlu’.

::

kalau dipikir-pikir, mungkin juga hal seperti itu terjadi bukan karena saya merasa ‘masih ada yang harus dikejar’ atau ‘ingin memikirkan yang lain dulu’. itu alasan yang wajar untuk sebagian orang, kan? tadinya saya pikir begitu, sih. tapi belakangan, setelah mikir-mikir lagi, saya menemukan bahwa ternyata memang bukan itu alasannya.

entah ya, tapi saya merasa bahwa saya sudah mendapatkan apa-apa yang saya inginkan. ah, tidak. tolong jangan berpikir bahwa saya adalah tipe-tipe anak orang kaya yang tidak pernah mengalami kesulitan hidup dan keinginan saya selalu terpenuhi. tidak. jangan berpikir seperti itu. soalnya itu tidak benar, dan sangat menyebalkan. jangan cari gara-gara dengan berpikir seperti itu, pembaca. :mrgreen:

nah. kembali ke masalah. lantas apa? saya juga sudah cukup puas kalau bisa seperti ini saja. jujur saja, tidak banyak yang saya minta dari hidup yang cuma sekali (dan sebentar) ini. dan untuk saat ini, saya tidak merasa memiliki sesuatu yang kurang dalam hidup saya.

…dan entah kenapa, saya masih juga tidak tertarik untuk mengurusi masalah ini. berhubungan dengan komitmen, maksudnya. menikah? ya, ya, itu kan sejenisnya. :mrgreen:

::

sekarang, ini bagian yang agak menyebalkan. tentu saja, kalau menyangkut orang lain yang (mencoba) menghakimi kebahagiaan seseorang, ini akan menyebalkan.

“apa, mau sampai umur segitu belum menikah? kasihan bener…”

“kamu tuh sebaiknya menikah lho, supaya kamu bahagia…”

nah. apa-apaan ini? memangnya kebahagiaan seseorang (baca: saya) bisa diukur dengan pernikahan? memangnya seseorang yang menikah praktis akan lebih berbahagia daripada seseorang yang tidak menikah? memangnya kalau seseorang tidak menikah, maka dia tidak akan berbahagia seumur hidup?

mungkin? memang. pasti? kata siapa. dan ini menyebalkan. masih mending kalau saya adalah seorang cowok desperate-untuk-cari-cewek, tapi saya kan tidak! enak saja, saya masih menjalani hidup dengan cukup bahagia, kok. terlepas dari kenyataan bahwa saya masih sendirian saja sampai sekarang, saya menikmati hidup saya.

…lagipula kok bisa-bisanya, ada orang lain yang (dengan seenaknya) menghakimi kebahagiaan saya?

::

ah, jadi begini. saya bukanlah tipe-tipe cowok yang antipati terhadap pernikahan (ada ya? :roll: ), tapi juga bukan tipe-tipe yang ingin menjalani komitmen seperti itu no-matter-what.

tentu saja, mungkin nanti saya akan menemukan seseorang yang tepat dan bisa mencintai saya (dan sebaliknya) apa adanya (tanpa perlu susah-susah untuk belajar mencintai terlebih dahulu), saya tidak keberatan untuk menjalani hubungan dengan komitmen seperti itu.

…tapi kalau tidak ada? ya sudah. mungkin saya akan sendirian saja untuk waktu yang lama.

apa, memangnya kamu harus menikah dulu supaya bahagia? :mrgreen:

___

[1] judul post ini berasal dari ungkapan yang pernah disebutkan oleh rekan saya Rado di blog-nya dulu. sayangnya, sekarang blog tersebut tidak lagi online.

[2] konon katanya, cara berpikir dan bersikap saya agak susah dimengerti oleh seorang cewek. seorang rekan pernah mengatakan bahwa saya bukan tipe yang akan gampang mendapatkan pasangan… whatever.

[3] pembaca, ada yang merasa pernah ngomong seperti yang saya kutip? jangan ke-GR-an, bukan anda kok. mohon maaf kalau ada yang merasa tersinggung atau terkena. :wink:

___

baca juga:

11.27.07 | learning to love?

01.10.08

kalau nanti saya mati…

Posted in Opinion at 1:57 am by yud1

mati di Jakarta itu, ternyata mahal. apalagi kalau anda tinggal di tengah kota, dan berharap bisa meninggalkan sisa-sisa jasad anda di kota mahal yang paling dikenal seantero republik ini.

iya, saya membicarakan mengenai hal yang sederhana saja, pembaca. kuburan. makam. tempat ziarah. apalah namanya. hal yang mungkin bisa begitu penting di mata sebagian (besar?) orang… tapi entahlah, mungkin orang lain punya sudut pandang berbeda soal ini.

tentu saja, mati di Jakarta itu mahal. di kota lain juga sih, tapi siapa yang peduli… selama ada uang, mau mati di mana juga tidak masalah, kan? keluarga yang ditinggalkan cukup menyediakan uang kontrak untuk satu kapling tanah yang jelas-jelas tidak dibutuhkan oleh yang bersangkutan.

hmm. mari kita urutkan. uang kontrak tanah. bayar per bulan atau per tahun, terserahlah. lalu uang kebersihan. lalu pengecoran dan batu nisan yang bagus, kalau berminat. lalu pengeluaran untuk petugas pemakaman yang dibayarkan rutin…

…ada lagi? entahlah. yang jelas, mati itu mahal. tentu saja, bukan urusan yang mati. yang mati sudah pergi menunggu keputusan ke surga atau ke neraka dan tidak kembali, dan seluruh haknya sudah dipenuhi sampai prosesi pemakaman selesai.

dan yang ketiban pulung mengurusi peninggalannya, tentu saja keluarga —atau siapapun— yang ditinggalkan, bukan? bayar ini, bayar itu, demi sebuah makam yang tiba-tiba seolah tidak ada gunanya. tidak ada gunanya bagi yang hidup, dan tidak ada gunanya bagi yang mati.

::

sebentar. sekarang, sebelum anda pembaca mungkin ada yang mulai emosi mempertanyakan akan pernyataan saya yang terakhir, mari kita perjelas dulu. sebuah makam, memangnya ada gunanya?

sebuah makam adalah tempat ziarah. tempat kenangan akan seseorang. tempat istirahat seseorang. dan seterusnya, demikian mungkin kata anda. lalu kenapa? toh kita tidak membutuhkannya. kita cuma menipu diri sendiri dengan pergi ke makam setiap kalinya, dengan dalih untuk mempertahankan kenangan dan mengingatkan diri akan kematian.

tapi toh itu semu. sebuah makam hanyalah makam. kenangan akan seseorang adalah jauh lebih berharga daripada seonggok tanah dan batu di atasnya. dan tanah dan batu hanya akan menjadi sia-sia, tanpa kenangan yang hidup atasnya.

…apa, sia-sia? benar sekali. apa, anda bersedia membayar mahal demi sebuah tempat yang cuma anda kunjungi setahun sekali atau dua kali, untuk sesuatu di mana yang mati sendiri sudah tidak berkepentingan?

absurdnya dunia. absurdnya melankoli akan sebuah kenangan. dan manusia terjebak di dalam sebuah kapitalisme tanah-dan-bangunan demi perasaan dan melankoli semata? absurd.

::

hak seseorang yang mati adalah dimakamkan dengan layak, dan sampai di situ. tergantung keyakinan, tapi intinya sama. ada juga sih yang tidak melakukan pemakaman, tapi itu di luar konteks. setelah itu, haruskah yang ditinggalkan memikirkan biaya macam-macam demi sebuah makam yang tiba-tiba seolah kelihatan sia-sia, kecuali untuk dalih nostalgia dan pengingat akan kematian?

mati di Jakarta itu mahal. dan orang-orang bersedia membuang uang untuk hal yang tidak ada untungnya bagi mereka — tidak bagi yang mati, dan tidak juga bagi yang hidup.

mungkin, sekadar pengingat? entahlah. bahkan orang-orang yang meninggal di Tanah Suci sewaktu haji juga tidak memiliki makam sendiri. semua rata, semua sama. dan tidak meninggalkan beban bagi yang hidup, yang jelas.

…tapi entahlah, ada banyak hal yang tidak bisa saya pahami di dunia ini.

::

ya, mati di Jakarta itu mahal. mungkin demikian juga di tempat lain. bahkan setelah mati, yang hidup pun masih harus mengurusi — terlepas bahwa yang mati sudah tidak mengurusi apalagi sampai kembali ke tempat yang hidup.

entahlah, saya tidak mengerti. mungkin akan dianggap aneh sih, tapi tiba-tiba saya jadi kepikiran untuk menyampaikan pesan ini.

suatu saat nanti saya akan mati. kita semua juga sih, terserahlah. untuk hal ini, saya tidak meminta banyak-banyak: kalau anda kebetulan nanti mengurusi kematian saya, biarkan saya mati apa-adanya. penuhi hak saya sampai di pemakaman saja.

saya tidak menginginkan makam yang bagus atau atap kubah yang indah, apalagi mengharapkan orang-orang yang saya tinggalkan membayar mahal-mahal untuk mengurusi kuburan saya.

sekalipun nanti kuburan saya akan dibongkar karena tidak ada yang mau membayari tanahnya, biarkan saja. toh pada saat itu saya sudah tidak akan punya kepentingan lagi di dunia ini, selagi berharap bahwa saya bisa menjalani kehidupan yang menyenangkan setelahnya.

…ya, karena mati di Jakarta itu mahal. siapa yang peduli dengan makam yang bagus dan ‘layak’? saya sih tidak.

12.26.07

apa, demokrasi?

Posted in Opinion at 5:20 pm by yud1

cerita (agak) lama, sih. tapi saya jadi teringat soal ini ketika membaca salah satu rubrik di edisi khusus majalah TEMPO di akhir 2007 ini. tebak apa? tentu saja, soal Asian Idol yang sangat fenomenal itu, pembaca. :mrgreen:

cg-0001-1.jpg

kamu mau menafikan keinginan banyak orang yang ditawarkan oleh demokrasi? hati-hati, mungkin kita akan punya oligarki atau malah diktatorisme.

nah, nah. sebelum anda pembaca mungkin ada yang akan misuh-misuh lagi karena merasa bahwa Asian Idol pertama kita ini kontroversial (…kita? ah, maaf. bukan saya :mrgreen: ), mari kita pastikan dulu bahwa saya tidak akan repot-repot membahas masalah idola apalagi gosip ala infotainment yang kayaknya tidak ada untungnya untuk kemaslahatan bangsa ini.

jadi, masalahnya apa, sih?

pembaca, sejujurnya saya agak bingung melihat fenomena yang terjadi bahwa cukup banyak pemirsa acara tersebut yang agak kurang senang mengenai idola baru hasil pilihan peserta. yah, bukan urusan saya juga sih, selain bahwa saya cukup yakin bahwa banyak di antara pemirsa yang sebal ternyata tidak mengirimkan SMS dukungan tapi jadi kepikiran juga, soal ini.

…jadi, mari kita membahas sedikit konsep demokrasi dalam tataran yang lebih ringan daripada buku-buku tebal dan mata pelajaran PPKn di sekolah dulu.[1]

jadi keadaannya adalah, kita kini tahu bahwa demokrasi tidak selalu menguntungkan untuk kita. kadang-kadang, menyebalkan untuk kita. lho, memang masalahnya apa? kita kan sudah melalui proses yang (seharusnya) jujur dan adil?[2]

“tapi idol baru itu suaranya biasa-biasa aja, dia itu cuma menang ganteng sama gaya doang!”

–komentar dari salah seorang pemirsa

itu hal yang biasa sih. memang demokrasi tidak selalu bisa menguntungkan semua pihak. dalam setiap pemilihan umum, pasti akan ada calon yang menang dan calon yang kalah, kan? tentu saja, mustahil memuaskan semua pihak yang ikut serta dalam suatu proses demokrasi.

ya, ya, demokrasi memang tidak sempurna, kok.

…jadi?

“seharusnya acara kayak begini jangan diserahin ke penonton! harusnya juri aja yang menilai!”

–komentar lain yang saya dengar

…walah, ini bisa berbahaya.

begini, pembaca. menurut saya, ini bisa berbahaya. menurut saya, ini bisa berbahaya. menurut saya, ini bisa berbahaya![3]

kenapa berbahaya? karena ini akan melahirkan oligarki, atau salah-salah malah diktator! memangnya anda rela kalau pilihan anda bisa di-veto oleh segelintir orang saja? sadar dong, anda mungkin akan kehilangan hak pilih anda untuk calon idola yang anda dukung! lah, Amerika Serikat saja sering bikin gondok warga dunia kok dengan macam-macam veto di Dewan Keamanan PBB? :evil:

tapi, yah, ini relatif sih. katanya sih, tidak ada revolusi yang lahir dari rakyat yang kenyang. kalau rakyat senang (dan perut mereka kenyang terus), mau pemerintahannya monarki absolut atau malah diktator sekalipun, tidak ada masalah, kan?

…apalagi, ini cuma sekadar kontes idol!

___

[1] manusia memang suka segala sesuatu yang ringan-ringan. tidak perlu banyak mikir, apalagi kalau bahasannya nggak seru. lagipula, kayaknya masih lebih banyak orang yang hafal pemenang-pemenang Indonesian Idol daripada isi Bali Roadmap :roll:

[2] mengasumsikan bahwa polling ala SMS itu cukup fair… tapi siapa yang peduli soal fair, kalau operator seluler bisa untung besar dengan volume SMS dukungan yang supermasif itu? :mrgreen:

[3] kok tiga kali? biarin aja. saya lagi suka angka ‘3′ waktu nulis itu. :mrgreen:

11.30.07

filosofi penjaga gawang

Posted in Opinion at 4:44 pm by yud1

dulu, sewaktu masih sering main sepakbola (atau futsal, atau apalah variannya yang lain), saya sempat cukup sering kebagian tugas sebagai penjaga gawang. sepertinya sih bukan karena saya jago atau sejenisnya (haha ^^”) tapi entahlah, pokoknya saya cukup sering menjalani peran yang satu ini kalau sedang masuk ke lapangan untuk main sepakbola.

vlcsnap26337kv1.jpg

bicara tentang penjaga gawang, tentu ingat Genzo Wakabayashi. SGGK yang super-sakti ini, konon katanya, gawangnya tidak bisa dibobol oleh Hercules atau bahkan Chuck Norris sekalipun. :mrgreen:

nah. sebagaimana lazimnya banyak hal lain dalam kehidupan ini, saya juga belajar bahwa menjadi penjaga gawang alias kiper juga ada filosofinya. tentu saja, kita harus bisa melihat makna yang lebih dalam dari segala sesuatu, bukan?

1. tidak perlu dikejar, tunggu saja…

untuk beberapa kasus, tidak selalu harus kita yang berusaha dalam mengejar sesuatu di dunia ini. kadang-kadang, kalau menggunakan filosofi seorang penjaga gawang, justru apa-apa yang tidak (perlu) dikejar akan datang sendiri kepada kita. saya dan seorang rekan pernah ‘berdebat’ soal ini.

“nggak perlu begitu,” kata saya. “tunggu saja, hal kayak begitu bakal datang sendiri, kok.”

“yud, perumpamaannya begini, nih. kalau main bola tuh ya, bolanya satu, yang ngejar dua puluh dua! kalau nggak ngejar, gak bakal dapet bolanya!” rekan saya menukas.

“gak masalah. bolanya bakal dateng sendiri, kok… karena gw kipernya.”

seorang penjaga gawang tidak perlu sampai berkorban semangat (apalagi sampai rela di-tackle oleh pemain lawan) untuk sekadar merebut bola. itu sih kerjaan rekan-rekan anda yang jadi DF, MF, atau FW! sudah, biarkan saja, itu urusan mereka. seorang penjaga gawang punya cara sendiri soal merebut bola.

tidak perlu susah payah merebutnya, akan ada saatnya ia datang ke hadapan anda: pada saat tersebut, anda hanya perlu melakukan hal yang tepat di tempat yang tepat pada saat yang tepat; dan tahu-tahu, jatuh deh ke pelukan anda…

…bolanya, maksudnya. :mrgreen:

2. sendirian, tidak, sendirian…

seorang penjaga gawang bisa berharap kepada rekan-rekannya, terutama di barisan DF. mereka seharusnya akan bahu-membahu dengan anda dalam menjaga gawang tim… kalau mereka tidak sedang keasyikan membantu serangan, sih. lho, Lothar Matthaeus yang dulu jadi libero di tim nasional Jerman saja sering sekali naik ke daerah pertahanan lawan, kok.

kadang-kadang, ada juga saat-saat di mana ada seorang striker lawan laknat yang mencoba dan berhasil melewati rekan-rekan DF anda. pada saat-saat paling kritis tersebut, anda sendirian. jangan berharap dibantu orang lain, sebab anda adalah orang terakhir yang diharapkan oleh tim!

pesan moralnya? anda mungkin memang tidak pernah benar-benar sendirian. ada rekan-rekan satu tim, atau mungkin teman-teman yang anda miliki. tapi dalam saat-saat paling kritis? anda sebenarnya sendirian, dan semua tergantung kepada keputusan anda.

tidak selalu sih, kadang-kadang ada juga rekan satu tim yang dengan tiba-tiba berada di belakang anda dan mencegah gawang anda kebobolan. sayangnya, hal ini jarang terjadi, dan orang-orang seperti ini biasanya langka… baik di atas lapangan sepakbola maupun dalam kehidupan nyata.

3. orang penting yang tidak populer

coba, ya, berapa banyaknya pemain terkenal yang menghiasi headline surat kabar setelah piala dunia atau liga champions? berapa banyaknya pemain yang dibicarakan oleh para penonton menjelang pertandingan? dan apa posisi mereka?

biasanya, FW. paling bagus, MF. kadang-kadang DF, tapi ini jarang. tapi, mana ada yang membicarakan GK alias penjaga gawang?

’sedihnya’ lagi, walaupun (biasanya) menggunakan kostum dengan nomor ‘1′ di punggung, tetap saja seorang penjaga gawang cenderung susah sekali untuk jadi terkenal. bandingkan, misalnya, dengan ‘orang populer yang tidak penting’ semacamnya MF atau FW yang mabuk-mabukan dan punya pacar seorang model dan disorot media ke mana-mana.

tapi, begitu masuk ke starting line-up, seorang penjaga gawang biasanya tidak tergantikan… kecuali kalau cedera atau terkena kartu merah. kalau dihitung dari rata-rata waktu main, anda akan menemukan bahwa penjaga gawang adalah posisi dengan rata-rata waktu main yang paling panjang - jarang sekali ada yang menggantikan mereka di tengah pertandingan.

see, tidak selalu bahwa ‘terkenal’ berarti ‘penting’. anda tidak perlu terkenal kok untuk jadi orang penting. anda tidak perlu tampang ganteng atau jago membuat sensasi atau sejenisnya, untuk menjadi seseorang yang penting dan bisa diandalkan oleh seseorang di sisi anda… atau lebih banyak lagi orang, terserah anda.

4. kekerasan tidak menyelesaikan masalah

berani mencoba melanggar pemain lawan di kotak penalti? tim anda akan diganjar hukuman tembakan penalti. tambahan, anda mungkin akan dicela-cela oleh penonton untuk itu. berani mencoba melanggar pemain lawan di luar kotak penalti? anda akan langsung diganjar kartu merah untuk itu, tanpa kecuali.

yang manapun, tidak ada yang bagus untuk anda. kekerasan tidak pernah menyelesaikan masalah, baik di atas lapangan maupun di dunia nyata. di dunia ini, orang yang pertama kali mengeluarkan tinjunya adalah orang yang kalah, dalam hampir segala hal… yah, kecuali untuk pertandingan tinju, sih. :wink:

tidak percaya? bisa dicoba, tapi sebaiknya jangan. anda sedang berdebat dengan atasan anda… atau dosen anda, misalnya. lalu anda naik darah, dan secara emosional tiba-tiba menggebrak meja seiring emosi yang memuncak. setelah itu, anda pergi dengan rasa sombong-yang-menyebalkan dari ruangannya…

…anda merasa menang? salah besar, anak muda. :cool:

5. kalau kebobolan, ya sudah!

dan ini hal yang sangat penting. setelah berusaha sekuat tenaga-dan-pikiran-dan-teknik, mungkin saja bahwa ternyata anda masih saja dikerjai oleh striker lawan. dan gawang anda pun kebobolan.

pengalaman saya: lupakan saja. dan ternyata, demikian juga yang dikatakan oleh David Seaman. :mrgreen:

mau striker lawan anda goyang-goyang samba ala Kaka atau malah flamenco gaya Raul Gonzales sebelum membobol gawang anda, lupakan saja. tidak ada lagi yang bisa dilakukan soal itu, kan? jangan dipikirkan. sekalipun gol itu hasil blunder yang memalukan dari anda, jangan pikirkan sampai pertandingan selesai.

gampangnya begini. kalau mau hidup bahagia, jangan memikirkan sesuatu yang tidak menyenangkan DAN sudah lewat DAN tidak bisa diapa-apakan lagi. kalau sudah terjadi, ya sudah. mungkin salah teknik, atau salah keputusan, atau apalah-itu, tapi tidak banyak gunanya tenggelam dalam depresi soal itu.

contohnya? banyak. ujian jelek? ngapain dipikirin! sudah lewat, kok. ditolak cewek? ya, ya, boleh sedih, tapi jangan lama-lama. pasangan anda selingkuh? sudah, putusin aja! tapi jangan depresi lama-lama. hidup harus jalan terus. kalau di atas lapangan sepakbola, minimal sampai pertandingan berakhir.

karena, yah, untuk seorang penjaga gawang, itu berbahaya. sekali seorang penjaga gawang tidak bisa melepaskan kejadian akan sebuah gol, maka habislah tim tersebut. mau berapa gol lagi yang tercipta? pada saat itu, mungkin sudah sangat terlambat.

6. dunia tidak sempurna, mungkin anda dikerjai

ya, ini mungkin saja. mungkin saja anda sudah latihan dengan sebaik-baiknya, lalu percaya diri dengan kemampuan anda… dan tahu-tahu, seorang striker anak bawang bisa mengerjai anda dan mencetak sebuah gol yang cantik gak mutu ke gawang anda. menyebalkan, dan kadang terjadi.

mungkin juga tiba-tiba rekan-rekan DF anda tidak bertindak seperti perintah anda saat membuat pagar betis, dan sebagai akibatnya bola hasil tendangan bebas menerobos masuk dengan gampangnya ke gawang anda. mungkin juga kadang-kadang anda melihat FW lawan ‘mendadak jatuh dengan mulus’ dan tiba-tiba anda harus berhadapan dengan tendangan bebas atau malah penalti.

ya, ya. dunia tidak sempurna, mungkin anda dikerjai. bahkan di dunia nyata, setelah semua yang anda lakukan, anda masih saja bisa dikerjai oleh keadaan, kan?

oh-oh, sometimes you just got punk’d :wink:

___

UPDATE:

ada tembusaaann… :o

untuk orang-orang yang ikut serta dalam obrolan yang turut menginspirasi (wih, lagaknya :P )  ditulisnya post ini.

[1] masterofwind aka master yang komen di sini

[2] FamP aka Fabio Castellini yang komen di sini

11.27.07

learning to love?

Posted in Opinion at 12:33 pm by yud1

“…but, isn’t it okay to learn to love someone who loves me as a girl?”

___

a friend of mine -a girl- said that once. while unknowingly understanding the deeper meaning of that line, I could not argue with that. while I could not say that I agreed, and while deep inside I could feel my heart breaking; not because of the person saying that, but rather because of the deeper meaning that lied within the words.

isn’t it okay to learn to love someone who loves me as a girl?

that’s the million dollar question. at the time I couldn’t argue, while at the time I also couldn’t agree. and still, I never liked that: why is it that a girl has to decide to learn to love a guy back? why is it that at times, a girl has to start a relationship while not really knowing about her feeling?

somehow, it pains me. not because I care about their feelings whatsoever (that’s their business, not mine), but how I see that I don’t like being treated that way. I have no business with the prince-charming who will act-all-the-way to approach the loving-in-progress princess, but it breaks my heart so that I could never accept such kind of relationship.

unfortunately, girls are the same.

I’m not to say that it’s entirely wrong; I did see relationships that went and had been working well that way. and nothing is wrong when it comes to this matter; as long as none of the sides being hurt, there should be no problem.

…still, I don’t want to accept that.

sometimes I wonder if girls do have their feelings right. considering the situations and circumstances I encountered, I found that more girls tend to act that way: commitment first, learn to love later. going out in the first place, while taking care of their feelings later.

it can’t be generalized, though. I did happen to see girls with different approach towards that matter, in much less significant cases. but mostly, cases aforementioned is quite common… perhaps, or I haven’t seen enough. anyone help me on that, if there are any mistakes.

put aside people’s matter now, assuming that they are happy with that. but as for me, I could never accept being treated that way. still, I would prefer being rejected in the first place rather than undergoing such relationship. ‘odd’ as it seems, perhaps. but that’s the way it is.

now that I think of it, to me it comes like a cheap symphathy: I don’t want to be loved back with such reasons. I don’t want to engage in a relationship in which the affection doesn’t begin from both sides. I don’t want a girl learning to love me back while undergoing an established relationship.

I don’t want to trade my feeling for cheap reasons. if I have to entrust my feeling and trust to someone else, then it has to be a person who is able to accept that - and is prepared to entrust her feeling as well. perhaps quite much that I ask, yet so much that it takes.

perhaps I’m dreaming. perhaps I’m being idealistic. I don’t really mind, though. I have decided on that particular matter, and I’m not going to hold it back. could be hard as it seems, but I don’t mind.

I don’t need such (fakingly true) one-sided romance, perhaps that’s it.

someday, maybe I will find that particular person. someone to whom I can entrust my feeling, and someone to whom I can be honest. maybe I will not, and if that’s the way it has to happen, then so be it.

…perhaps, I’ll still be alone for a long time.

« Previous entries · Next entries »