11.30.07
Posted in Opinion at 4:44 pm by yud1
dulu, sewaktu masih sering main sepakbola (atau futsal, atau apalah variannya yang lain), saya sempat cukup sering kebagian tugas sebagai penjaga gawang. sepertinya sih bukan karena saya jago atau sejenisnya (haha ^^”) tapi entahlah, pokoknya saya cukup sering menjalani peran yang satu ini kalau sedang masuk ke lapangan untuk main sepakbola.

bicara tentang penjaga gawang, tentu ingat Genzo Wakabayashi. SGGK yang super-sakti ini, konon katanya, gawangnya tidak bisa dibobol oleh Hercules atau bahkan Chuck Norris sekalipun.
nah. sebagaimana lazimnya banyak hal lain dalam kehidupan ini, saya juga belajar bahwa menjadi penjaga gawang alias kiper juga ada filosofinya. tentu saja, kita harus bisa melihat makna yang lebih dalam dari segala sesuatu, bukan?
1. tidak perlu dikejar, tunggu saja…
untuk beberapa kasus, tidak selalu harus kita yang berusaha dalam mengejar sesuatu di dunia ini. kadang-kadang, kalau menggunakan filosofi seorang penjaga gawang, justru apa-apa yang tidak (perlu) dikejar akan datang sendiri kepada kita. saya dan seorang rekan pernah ‘berdebat’ soal ini.
“nggak perlu begitu,” kata saya. “tunggu saja, hal kayak begitu bakal datang sendiri, kok.”
“yud, perumpamaannya begini, nih. kalau main bola tuh ya, bolanya satu, yang ngejar dua puluh dua! kalau nggak ngejar, gak bakal dapet bolanya!” rekan saya menukas.
…
“gak masalah. bolanya bakal dateng sendiri, kok… karena gw kipernya.”
seorang penjaga gawang tidak perlu sampai berkorban semangat (apalagi sampai rela di-tackle oleh pemain lawan) untuk sekadar merebut bola. itu sih kerjaan rekan-rekan anda yang jadi DF, MF, atau FW! sudah, biarkan saja, itu urusan mereka. seorang penjaga gawang punya cara sendiri soal merebut bola.
tidak perlu susah payah merebutnya, akan ada saatnya ia datang ke hadapan anda: pada saat tersebut, anda hanya perlu melakukan hal yang tepat di tempat yang tepat pada saat yang tepat; dan tahu-tahu, jatuh deh ke pelukan anda…
…bolanya, maksudnya.
2. sendirian, tidak, sendirian…
seorang penjaga gawang bisa berharap kepada rekan-rekannya, terutama di barisan DF. mereka seharusnya akan bahu-membahu dengan anda dalam menjaga gawang tim… kalau mereka tidak sedang keasyikan membantu serangan, sih. lho, Lothar Matthaeus yang dulu jadi libero di tim nasional Jerman saja sering sekali naik ke daerah pertahanan lawan, kok.
kadang-kadang, ada juga saat-saat di mana ada seorang striker lawan laknat yang mencoba dan berhasil melewati rekan-rekan DF anda. pada saat-saat paling kritis tersebut, anda sendirian. jangan berharap dibantu orang lain, sebab anda adalah orang terakhir yang diharapkan oleh tim!
pesan moralnya? anda mungkin memang tidak pernah benar-benar sendirian. ada rekan-rekan satu tim, atau mungkin teman-teman yang anda miliki. tapi dalam saat-saat paling kritis? anda sebenarnya sendirian, dan semua tergantung kepada keputusan anda.
tidak selalu sih, kadang-kadang ada juga rekan satu tim yang dengan tiba-tiba berada di belakang anda dan mencegah gawang anda kebobolan. sayangnya, hal ini jarang terjadi, dan orang-orang seperti ini biasanya langka… baik di atas lapangan sepakbola maupun dalam kehidupan nyata.
3. orang penting yang tidak populer
coba, ya, berapa banyaknya pemain terkenal yang menghiasi headline surat kabar setelah piala dunia atau liga champions? berapa banyaknya pemain yang dibicarakan oleh para penonton menjelang pertandingan? dan apa posisi mereka?
biasanya, FW. paling bagus, MF. kadang-kadang DF, tapi ini jarang. tapi, mana ada yang membicarakan GK alias penjaga gawang?
’sedihnya’ lagi, walaupun (biasanya) menggunakan kostum dengan nomor ‘1′ di punggung, tetap saja seorang penjaga gawang cenderung susah sekali untuk jadi terkenal. bandingkan, misalnya, dengan ‘orang populer yang tidak penting’ semacamnya MF atau FW yang mabuk-mabukan dan punya pacar seorang model dan disorot media ke mana-mana.
tapi, begitu masuk ke starting line-up, seorang penjaga gawang biasanya tidak tergantikan… kecuali kalau cedera atau terkena kartu merah. kalau dihitung dari rata-rata waktu main, anda akan menemukan bahwa penjaga gawang adalah posisi dengan rata-rata waktu main yang paling panjang - jarang sekali ada yang menggantikan mereka di tengah pertandingan.
see, tidak selalu bahwa ‘terkenal’ berarti ‘penting’. anda tidak perlu terkenal kok untuk jadi orang penting. anda tidak perlu tampang ganteng atau jago membuat sensasi atau sejenisnya, untuk menjadi seseorang yang penting dan bisa diandalkan oleh seseorang di sisi anda… atau lebih banyak lagi orang, terserah anda.
4. kekerasan tidak menyelesaikan masalah
berani mencoba melanggar pemain lawan di kotak penalti? tim anda akan diganjar hukuman tembakan penalti. tambahan, anda mungkin akan dicela-cela oleh penonton untuk itu. berani mencoba melanggar pemain lawan di luar kotak penalti? anda akan langsung diganjar kartu merah untuk itu, tanpa kecuali.
yang manapun, tidak ada yang bagus untuk anda. kekerasan tidak pernah menyelesaikan masalah, baik di atas lapangan maupun di dunia nyata. di dunia ini, orang yang pertama kali mengeluarkan tinjunya adalah orang yang kalah, dalam hampir segala hal… yah, kecuali untuk pertandingan tinju, sih.
tidak percaya? bisa dicoba, tapi sebaiknya jangan. anda sedang berdebat dengan atasan anda… atau dosen anda, misalnya. lalu anda naik darah, dan secara emosional tiba-tiba menggebrak meja seiring emosi yang memuncak. setelah itu, anda pergi dengan rasa sombong-yang-menyebalkan dari ruangannya…
…anda merasa menang? salah besar, anak muda.
5. kalau kebobolan, ya sudah!
dan ini hal yang sangat penting. setelah berusaha sekuat tenaga-dan-pikiran-dan-teknik, mungkin saja bahwa ternyata anda masih saja dikerjai oleh striker lawan. dan gawang anda pun kebobolan.
pengalaman saya: lupakan saja. dan ternyata, demikian juga yang dikatakan oleh David Seaman.
mau striker lawan anda goyang-goyang samba ala Kaka atau malah flamenco gaya Raul Gonzales sebelum membobol gawang anda, lupakan saja. tidak ada lagi yang bisa dilakukan soal itu, kan? jangan dipikirkan. sekalipun gol itu hasil blunder yang memalukan dari anda, jangan pikirkan sampai pertandingan selesai.
gampangnya begini. kalau mau hidup bahagia, jangan memikirkan sesuatu yang tidak menyenangkan DAN sudah lewat DAN tidak bisa diapa-apakan lagi. kalau sudah terjadi, ya sudah. mungkin salah teknik, atau salah keputusan, atau apalah-itu, tapi tidak banyak gunanya tenggelam dalam depresi soal itu.
contohnya? banyak. ujian jelek? ngapain dipikirin! sudah lewat, kok. ditolak cewek? ya, ya, boleh sedih, tapi jangan lama-lama. pasangan anda selingkuh? sudah, putusin aja! tapi jangan depresi lama-lama. hidup harus jalan terus. kalau di atas lapangan sepakbola, minimal sampai pertandingan berakhir.
karena, yah, untuk seorang penjaga gawang, itu berbahaya. sekali seorang penjaga gawang tidak bisa melepaskan kejadian akan sebuah gol, maka habislah tim tersebut. mau berapa gol lagi yang tercipta? pada saat itu, mungkin sudah sangat terlambat.
6. dunia tidak sempurna, mungkin anda dikerjai
ya, ini mungkin saja. mungkin saja anda sudah latihan dengan sebaik-baiknya, lalu percaya diri dengan kemampuan anda… dan tahu-tahu, seorang striker anak bawang bisa mengerjai anda dan mencetak sebuah gol yang cantik gak mutu ke gawang anda. menyebalkan, dan kadang terjadi.
mungkin juga tiba-tiba rekan-rekan DF anda tidak bertindak seperti perintah anda saat membuat pagar betis, dan sebagai akibatnya bola hasil tendangan bebas menerobos masuk dengan gampangnya ke gawang anda. mungkin juga kadang-kadang anda melihat FW lawan ‘mendadak jatuh dengan mulus’ dan tiba-tiba anda harus berhadapan dengan tendangan bebas atau malah penalti.
ya, ya. dunia tidak sempurna, mungkin anda dikerjai. bahkan di dunia nyata, setelah semua yang anda lakukan, anda masih saja bisa dikerjai oleh keadaan, kan?
oh-oh, sometimes you just got punk’d
___
UPDATE:
ada tembusaaann…
untuk orang-orang yang ikut serta dalam obrolan yang turut menginspirasi (wih, lagaknya
) ditulisnya post ini.
[1] masterofwind aka master yang komen di sini
[2] FamP aka Fabio Castellini yang komen di sini
by yud1 4:44 pm
11.27.07
Posted in Opinion at 12:33 pm by yud1
“…but, isn’t it okay to learn to love someone who loves me as a girl?”
___
a friend of mine -a girl- said that once. while unknowingly understanding the deeper meaning of that line, I could not argue with that. while I could not say that I agreed, and while deep inside I could feel my heart breaking; not because of the person saying that, but rather because of the deeper meaning that lied within the words.
isn’t it okay to learn to love someone who loves me as a girl?
that’s the million dollar question. at the time I couldn’t argue, while at the time I also couldn’t agree. and still, I never liked that: why is it that a girl has to decide to learn to love a guy back? why is it that at times, a girl has to start a relationship while not really knowing about her feeling?
somehow, it pains me. not because I care about their feelings whatsoever (that’s their business, not mine), but how I see that I don’t like being treated that way. I have no business with the prince-charming who will act-all-the-way to approach the loving-in-progress princess, but it breaks my heart so that I could never accept such kind of relationship.
unfortunately, girls are the same.
I’m not to say that it’s entirely wrong; I did see relationships that went and had been working well that way. and nothing is wrong when it comes to this matter; as long as none of the sides being hurt, there should be no problem.
…still, I don’t want to accept that.
sometimes I wonder if girls do have their feelings right. considering the situations and circumstances I encountered, I found that more girls tend to act that way: commitment first, learn to love later. going out in the first place, while taking care of their feelings later.
it can’t be generalized, though. I did happen to see girls with different approach towards that matter, in much less significant cases. but mostly, cases aforementioned is quite common… perhaps, or I haven’t seen enough. anyone help me on that, if there are any mistakes.
put aside people’s matter now, assuming that they are happy with that. but as for me, I could never accept being treated that way. still, I would prefer being rejected in the first place rather than undergoing such relationship. ‘odd’ as it seems, perhaps. but that’s the way it is.
now that I think of it, to me it comes like a cheap symphathy: I don’t want to be loved back with such reasons. I don’t want to engage in a relationship in which the affection doesn’t begin from both sides. I don’t want a girl learning to love me back while undergoing an established relationship.
I don’t want to trade my feeling for cheap reasons. if I have to entrust my feeling and trust to someone else, then it has to be a person who is able to accept that - and is prepared to entrust her feeling as well. perhaps quite much that I ask, yet so much that it takes.
perhaps I’m dreaming. perhaps I’m being idealistic. I don’t really mind, though. I have decided on that particular matter, and I’m not going to hold it back. could be hard as it seems, but I don’t mind.
I don’t need such (fakingly true) one-sided romance, perhaps that’s it.
someday, maybe I will find that particular person. someone to whom I can entrust my feeling, and someone to whom I can be honest. maybe I will not, and if that’s the way it has to happen, then so be it.
…
…perhaps, I’ll still be alone for a long time.
by yud1 12:33 pm
11.19.07
Posted in Opinion at 7:04 pm by yud1
manusia itu aneh.
di satu sisi, mereka tidak suka tampil seragam. beberapa malah bisa malu berat kalau sampai ada orang yang memakai baju yang sama dengan yang mereka pakai… kadang, bisa seolah rela ditelan bumi kalau sampai seperti itu.
di sisi lain, mereka senang tampil seragam. mereka bisa senang sekali memakai benda yang sama dengan yang dipakai oleh ratusan orang lainnya, kadang-kadang malah sampai rela ribut-ribut soal itu.
tanya kenapa? kenapa tanya. saya juga bingung, kok.
…
emm…
ehh…
err…
…ah, iya, ya.
jaket itu identitas, tauk! 
by yud1 7:04 pm
11.16.07
Posted in Opinion at 11:33 am by yud1
saya adalah orang yang taat peraturan.
…mungkin. sebenarnya tidak selalu sih, tapi secara sederhana mungkin bisa dikatakan bahwa saya adalah orang yang akan bersikap konsekuen terhadap peraturan yang telah saya sepakati sebelumnya. apalah, yang jelas sih saya sudah memutuskan untuk bersikap fair soal ini.
misalnya begini. kalau seorang dosen sudah memutuskan dan menyatakan bahwa seorang mahasiswa tidak boleh terlambat masuk ke kelas menjelang kuliah, maka saya akan konsekuen dengan hal tersebut. saya tidak akan datang terlambat, dan kalaupun seandainya saya terlambat, saya tidak akan datang ke kelas pada hari tersebut.
…dengan demikian, saya tidak melanggar peraturan yang telah saya sepakati, dan masing-masing pihak merasa adil soal ini.
kenapa? jelas, kan. peraturan sudah dibuat: saya tidak boleh terlambat sekalipun hanya satu menit, dan saya sudah menyetujui hal tersebut. kalau saya datang terlambat DAN masih (dengan beraninya) meminta untuk bisa masuk ke kelas dan kuliah, itu memalukan.
jelas, lebih baik saya tidak masuk sekalian ke kelas. mau dianggap absen atau ketinggalan materi, itu sudah resiko. memangnya mau diapain lagi? salah saya sendiri, kok.
hmm. sayangnya, masalahnya tidak sesederhana itu. di kampus saya, ada variabel lain bernama ‘kuota absensi minimal’ pada setiap mata kuliah. secara sederhana, mahasiswa dituntut untuk hadir minimal sebanyak 75% dari jumlah seluruh pertemuan dalam kuliah. jadi kalau misalnya ada 14 minggu kuliah dengan kelas dua kali seminggu, maka kehadiran minimal seorang mahasiswa adalah 75% x 14 x 2 = 21 kehadiran, dengan maksimal 7 kali absen.
kalau kurang dari kuota tersebut? sederhana saja, mahasiswa tersebut tidak akan diizinkan untuk mengikuti ujian akhir semester. atau secara singkat, hampir dipastikan tidak lulus pada kuliah bersangkutan.
…bagaimana dengan kuliah satu kali seminggu? gampang saja, untuk kasus seperti itu, seorang mahasiswa bisa memiliki maksimal 3 kali absen. apa, tipis? you got the point there.
(FYI, dua kuliah yang saya ambil semester ini memiliki jadwal satu kali seminggu: keduanya sama sekali tidak mengizinkan keterlambatan soal masuk ke kelas. untuk salah satunya, saya sudah dua kali absen termasuk hari ini)
yah, saya sempat mendengar kabar bahwa sistem ini tidak lagi diberlakukan[1], namun hal ini masih belum bisa dikonfirmasi. entahlah, saya sendiri tidak terlalu menyukai peraturan ini. tapi berhubung saya tidak punya kekuasaan untuk mengubahnya, mau diapain lagi?
dan dengan demikian, sistem yang konon juga tidak terlalu disukai beberapa dosen ini[2] menjadi variabel yang perlu diperhitungkan untuk setiap kemungkinan ketidakhadiran mahasiswa dalam kuliah. tentu saja, soalnya kebanyakan absen tanpa perencanaan hampir sama dengan bunuh diri untuk kuliah-kuliah tersebut!
duh. entah kenapa, tiba-tiba saya merasa bahwa peraturan mengenai kuota absensi ini ‘menghalangi’ idealisme saya. jujur saja deh, berapa lama sih idealisme bisa bertahan, kalau dihadapkan dengan hal-hal pragmatis seperti ‘kemungkinan tidak lulus kuliah’?
tapi entah kenapa, dengan bodoh keras-kepalanya, saya tetap tidak ingin memohon agar diizinkan untuk masuk ke kelas, sekadar agar jumlah absen saya tidak terus bertambah. absurd? entahlah. anggap saja itu sisa-sisa idealisme saya yang masih tertinggal… walaupun dihadapkan dengan ‘kemungkinan tidak bisa ikut UAS’, ‘idealisme’ tiba-tiba jadi terasa tidak terlalu berharga.
(FYI -lagi- walaupun di kelas yang saya sebutkan tadi tidak ada toleransi keterlambatan, tapi saya cukup ‘heran’ bahwa dalam beberapa kesempatan saya bisa menyaksikan beberapa mahasiswa bisa dengan santainya memasuki kelas setelah terlambat lebih dari 10 menit. entah bagaimana isi hati dosen tersebut, saya rasa beliau dan Tuhan lebih tahu. oh iya, no offense intended.
)
…
…yah, tapi, masih ada jalan lain, kok.
kalau saya bisa datang tepat waktu tanpa kecuali untuk seluruh sisa kelas selanjutnya, tidak ada masalah, bukan?
___
[1] sewaktu mengurus kesalahan perhitungan absensi saya semester lalu, saya mendengar bahwa peraturan ini tidak lagi valid. meskipun demikian, sampai saat ini saya tidak mendengar rilis berita yang mengkonfirmasi hal tersebut.
[2] terdengar kabar bahwa konsep ini tidak terlalu populer di antara para dosen yang mengajar. dalam salah satu kuliah, saya sempat mendengar dosen saya di kuliah lain menyatakan ketidaksetujuannya terhadap hal ini.
by yud1 11:33 am
10.12.07
Posted in Opinion at 9:59 pm by yud1
hari-hari ini, saya kembali melihat apa-apa yang datang dan kembali dari setiap tahun yang ada; televisi yang sibuk, pemudik yang menumpuk dan lalu-lalang, serta keriuhan akan ‘kemenangan’ yang datang bagi mereka yang memaknainya.
sesuatu yang berulang, setiap tahun, tapi toh tak kunjung terasa hampa dan usang; kebahagiaan kultural-spiritual, tapi toh tetap pada saatnya yang menyenangkan bahwa ia ‘ada, dan karena itu kita mensyukurinya’. sebuah perayaan untuk ‘mereka yang menang’ dan ‘kembali ke fitrah’, dan dengan demikian ampunan dan maaf terbuka lebar, dan apa-apa yang ‘dosa’ dan ‘kotor’ dilepaskan dari diri yang daif dan serba kekurangan.
…mungkin, tidak selalu demikian adanya.
toh kita melihat juga, apa-apa yang fitri tidak selalu berarti terlepas dari apa-apa yang ‘kotor’ dan ‘dosa’; kita (mau atau tidak mau) terpaksa maklum bahwa tak jauh sebelumnya di terminal calo-calo tiket kadang saling pukul, atau pemudik-pemudik dirampok, atau mereka yang lain yang diperas di pelabuhan. entah, dan mungkin juga yang lain-lain — yang tidak terharapkan, tapi sekaligus juga tidak terlepaskan.
tapi apa-apa yang bersih timbul dari ketidakpuasan akan yang kotor, dan apa-apa yang putih terlihat ketika ada yang ‘tidak putih’. dengan demikian yang ‘kotor’ dan ‘dosa’ bisa dengan mudah kita pisahkan dan kita buang; apa yang ‘bersih’ tidak bisa berdiri sendiri, dan yang ‘kotor’ adalah apa yang harus dinistakan; apa yang hilang pada saatnya ‘hari kemenangan’, dan entah niscaya kembalinya.
fitrah adalah asal: apa yang diajarkan kepada kita adalah bahwa dalam diri setiap kita adalah apa-apa yang baik dan bersih. apa-apa yang tidak dan belum tercemar, dan apa-apa yang tidak tersentuh oleh yang kotor. apa-apa yang tidak korup, tidak licik, dan tidak jahat; dan dengan demikian begitulah kita seharusnya.
toh kita maklum bahwa di hadapan yang daif dan lemah, apa yang fitrah bisa dengan mudah menjadi apa yang tercemar: mungkin dalam politik buruk rupa atau permusuhan diam-diam atau proyek sekian rupiah, kita menemukan bahwa yang fitrah tidak lagi fitrah — dengan atau tanpa persetujuan, dan kita terpaksa maklum.
kita juga maklum bahwa di hadapan yang daif dan lemah, apa yang terlihat ‘kembali fitrah’ bukan musykil untuk menjadi sekadar topeng, dan apa yang terlihat sebagai ‘kemenangan’ hanya menjadi fasade. di dunia yang mungkin tidak pernah sempurna dan tidak sesuai kehendak kita, kita mungkin bertanya-tanya: adakah ‘fitrah’ adalah keniscayaan, ataukah ia adalah sebuah pilihan yang berat?
hari-hari ini, beberapa dari kita mungkin menyambutnya dengan sukacita; kemenangan atas nafsu, dan kembalinya apa-apa yang fitrah dari diri mereka yang memaknainya. kembali dengan ampunan dan maaf, serta uluran tangan dan persahabatan, serta apapun yang terharapkan dari sebuah hari kemenangan yang fitri.
terasa indah dan kadang sedikit ironi, tapi itulah kita: yang daif dan serba kekurangan, yang bimbang dan banyak kesalahan, tapi toh kita masih mengharapkan untuk kembali ke fitrah — yang menyayangi, yang menghormati, dan yang memaafkan.
___
selamat Idul Fitri bagi yang merayakan. semoga kita bisa sama-sama menjadi manusia yang lebih baik selepas Idul Fitri kali ini.
teriring juga permohonan maaf dari saya untuk para pembaca, khususnya apabila terdapat tulisan atau kata-kata yang mungkin kurang berkenan dari tulisan-tulisan saya di sini. 
by yud1 9:59 pm
09.26.07
Posted in Opinion at 12:03 pm by yud1
ketika kamu memutuskan untuk menikah, kepercayaan itu penting. jangan menaruh ketidakpercayaan terlalu banyak terhadap pasanganmu, apalagi menunjukkannya terang-terangan.
saya sih diberitahu seperti itu. mungkin benar sih, tapi bukan —belum— urusan saya amat. saya belum memasukkan ‘menikah’ dalam rencana jangka panjang saya, kok.
…yah, tapi kepikiran juga soal ‘percaya pada pasangan’ ini, sih. anggap saja ini tulisan hasil pikiran iseng sambil lalu.
::
pada suatu ketika, ibu saya menceritakan mengenai salah satu obrolannya dengan ayah saya di awal pernikahan mereka, dulu. diceritakan ulang kepada saya dua puluh satu tahun kemudian, tapi intinya kira-kira seperti ini.
“pokoknya, aku percaya sama kamu lho,” kata ibu saya. “…tapi 90% aja, ya.”
ayah saya (katanya) agak kaget dan bingung.
“lho, kok cuma 90%? kenapa nggak 100%?”
“laah, udah bagus, kan? kalau di sekolah, 90 itu nilai yang bagus, lho…”
“…”
“…”
“iya sih…”
saya tidak tahu kelanjutannya seperti apa. tapi yang jelas sih, sebenarnya ada alasan lain kenapa ibu saya mengatakan seperti itu… namun agak disayangkan bahwa alasan ini tidak pernah bisa benar-benar tersampaikan kepada ayah saya[1].
…
…ahh, sudahlah. urusan romantika orang tua itu!
::
intinya sih, kira-kira begini. sedekat apapun kita kepada orang lain — dalam kasus ini, mari kita batasi pada pasangan saja — hal tersebut tidak berarti bahwa kita benar-benar bisa menduga dan membaca setiap gerak pasangan kita. dengan kata lain, kita cuma percaya bahwa dia tidak akan begini atau dia tidak akan begitu.
got the point? jadi selalu ada kemungkinan, sekecil apapun, bahwa hal-hal yang tidak diinginkan mungkin akan terjadi.
nah. sekarang mari kita mengasumsikan bahwa hal terburuk terjadi. pasangan anda selingkuh, misalnya. sial. padahal anda sudah mempercayai dengan segenap hati anda. anda sudah memberikan kepercayaan sepenuhnya, tapi kenapa anda malah dikhianati seperti ini?
…itu salah anda. tanya kenapa? kenapa tanya!
kalau kita sudah memutuskan untuk percaya, maka kita juga harus siap dikhianati. itu kan hal yang wajar? seperti halnya kalau kita memutuskan untuk melakukan sesuatu, kita juga harus siap untuk gagal.
nah. kembali ke masalah, soal ‘percaya 100%’ ini.
percaya atau tidak, salah satu hal yang bisa membuat saya merasa bahwa ‘darah saya mendidih’ adalah bahwa beberapa (banyak?) cewek yang baik-dan-percaya-dan-pengertian mendapatkan suami yang cukup brengsek. anehnya, mereka memutuskan untuk percaya terlalu lama kepada sang-suami-brengsek…
…dan akhirnya mengalami sakit hati yang amat sangat, tentu saja.
kepercayaan terhadap pasangan itu perlu. katanya sih, jadi jangan mengkonfrontasi saya dengan hal ini… walaupun saya juga tidak bisa tidak setuju, sih. masalahnya, seberapa banyak?
…jangan tanya saya. tapi saya jadi teringat, seorang kenalan saya —cewek— pernah mengatakan dengan jelas bahwa ‘cewek itu pada dasarnya senang ditipu’[2]… tapi entahlah, saya tidak punya dasar atau bukti untuk menyanggah atau mendukung pernyataan ini.
::
kembali ke cerita di awal tadi. hmm… ayah saya mungkin tidak akan pernah mengetahui alasannya, tapi tidak demikian halnya dengan saya, kan?
“lah, terus kenapa juga ibu bilang begitu?”
“begini… coba, kalau aku bilang aku percaya 100% sama ayahmu. kalau dia macem-macem, aku pasti bakal percaya sama dia, kan?”
“ya iyalah, katanya kan 100%…”
“lho, terus kalau aku tiba-tiba tahu dari tetangga, misalnya, apa nggak ampun-ampun sakit hatinya?”
saya masih menunggu lanjutannya.
“tapi kalau 90%, aku masih bisa percaya banyak sama ayahmu. tapi aku juga punya alarm, kalau misalnya dia kayaknya mulai nggak bener atau gimana,” katanya.
“haha. tapi bagusnya kan dia nggak pernah selingkuh tuh,” saya menjawab asal. memang benar begitu kok kenyataannya.
“iya sih, bagus begitu. tapi aku nggak pernah ngomong soal alasannya sih sama dia…”
…agak disayangkan, sih. tapi kayaknya tidak akan banyak bedanya untuk ayah saya, tuh.[3]
tapi entah ya. kalau saya sih, saya akan agak senang kalau pasangan saya ngomong seperti itu. menurut saya, itu seperti sebuah pengingat bahwa saya tidak bisa semaunya, dan bahwa sebenarnya kedudukan kami sejajar. juga pengingat bahwa sebenarnya saya tidak lebih di atas atau lebih di bawah daripada pasangan saya [4], dan ia juga berhak untuk menyisakan sedikit ketidakpercayaannya terhadap saya.
…yah, saya sih tidak masalah dengan sedikit ketidakpercayaan dari pasangan saya… asal nggak kebanyakan aja, sih. lho, memangnya dia itu barang milik saya?
___
[1] karena suatu hal, ayah saya mungkin tidak akan pernah mengetahui hal tersebut. meskipun demikian, 90% tersebut dijaga dengan sangat baik oleh beliau. penasaran juga, sih.
[2] omongan ini keluar dari mulut seorang kenalan saya yang (self-proclaimedly
) telah mengalami asam garam kehidupan cinta dan komitmen.
[3] konon, ayah saya dengan cepat ‘terbiasa’ dengan istrinya yang kadang-kadang ‘nggak nurut’ dan punya prinsip sendiri. entah kenapa, ke-’terbiasa’-an tersebut kayaknya menurun ke saya
[4] dalam banyak kasus, saya lebih suka memandang hal tersebut seperti demikian. entahlah, mungkin beberapa rekan punya pendapat lain soal ini?
by yud1 12:03 pm
09.14.07
Posted in Opinion at 8:51 pm by yud1
apa yang membuat Cinderella terkenal?
jawabannya bisa banyak. pertama, karena ia (akhirnya) menjadi tuan putri. kedua, karena ia baik hati. ketiga, karena ia tabah. keempat, karena ia suka menolong. dan seterusnya, dan seterusnya.
…ya, memang begitu, kan? lalu kenapa?
ahem. begini, begini. saya bukannya anti dengan dongeng-dongeng klasik mengenai para tuan putri. sejujurnya, ada banyak hal dari cerita para tuan putri ini: kebaikan hati, ketabahan, dan hal-hal mulia sejenis itu.
yaah, dunia tidak seindah itu, sih. tapi untuk anak-anak, ini hal yang cukup bagus. dan mengena, serta sederhana.
tapi, ada satu pertanyaan: apa sih yang dilakukan oleh Cinderella untuk mengubah nasibnya sendiri?
::
kalau dipikir-pikir, sebenarnya dongeng-dongeng klasik mengenai para tuan putri ini hampir selalu berawal dari suatu titik yang sama: mereka (katanya) cantik, mereka (katanya) baik, dan mereka (katanya) menderita.
contohnya? ada beberapa, sih. tapi untuk gampangnya, mari kita pakai Cinderella saja. ada juga yang lain sih, misalnya Snow White atau Sleeping Beauty. terserahlah.
nah. jadi, Cinderella adalah seorang cewek yang (kebetulan dengan sialnya) tinggal bersama keluarga angkat yang galak dan tidak menyenangkan. disuruh kerja berat, kurang makan, dan nggak boleh pergi ke pesta untuk cari pacar. duh.
iya sih, akhirnya dia menikah dengan pangeran. tapi itu nanti dulu.
tapi, apa yang dilakukan Cinderella? dia cuma secara kebetulan ketemu Ibu Peri, lalu secara kebetulan ketemu Pangeran di pesta, dan secara kebetulan kejatuhan cinta Pangeran.
jadi? semuanya kebetulan. tidak ada campur tangan maupun sikap mental dari Cinderella sendiri untuk mengubah nasibnya. demikian juga dalam kisah tuan putri yang lain: Sleeping Beauty dan Snow White hanya menunggu sang pangeran tampan datang untuk kemudian hidup bahagia selamanya.
secara umum, para tuan putri ini tidak berdiri dan menyatakan sikap. mereka hanya menunggu keberuntungan datang dan mengubah nasib. dalam cerita, Cinderella hanya menunggu nasibnya berubah, bukan menuntut nasibnya berubah.
sekarang, saya jadi tertarik membayangkan versi lain dari kisah Cinderella.
::
saya membayangkan, Cinderella adalah seorang cewek yang cerdas dan sedikit-galak, dan dengan demikian tidak menjadi tokoh yang tertindas banget-banget. oh, oke, mari kita buat keluarganya tetap galak, demi kelangsungan kisah Cinderella kita.
Cinderella tidak lagi diam dan menurut disuruh-suruh kakak-kakaknya (yang katanya galak itu), dan menjadi tokoh yang agak penggerutu serta sedikit pendendam. Setelah melakukan acara balas-dendam yang sedikit manis, akhirnya dia kabur dari rumah.
anggap saja dia kemudian bekerja di toko roti, dan berhasil menghidupi dirinya sendiri — serta membeli beberapa pakaian yang cukup bagus. tentu saja, setelah beberapa tahun, dia juga punya tabungan. namanya juga orang kerja, kan?
akhirnya, undangan dari istana datang, bahwa Pangeran akan mengadakan pesta dansa untuk mencari calon istri. karena tidak ada yang melarang, Cinderella pun pergi ke pesta. btw, di sini nggak ada Ibu Peri, yah.
oke, lanjut ke pada pesta dansa. Pangeran mengajak Cinderella mengobrol sampai larut malam, dan terpesona dengan kepribadian Cinderella yang cerdas dan tidak sekadar cantik. obrolan berlanjut sampai tengah malam, ketika lonceng jam akhirnya berbunyi.
nah. mari kita buang Cinderella yang lari ketakutan karena mantra Ibu Peri habis. di bagian ini, ia mengatakan kepada Pangeran bahwa ia harus pulang, karena harus bekerja keesokan paginya. oke, akhirnya Cinderella pulang ke rumahnya.
…tunggu. bagaimana dengan insiden sepatu kaca? tidak bagus kalau dibuang, mari kita buat saja bahwa sepatu kaca itu rusak dan Pangeran mengatakan akan memperbaikinya. oh, oke, akhirnya Cinderella pun pulang.
*apa, memperbaiki? halah, ini alasan saja buat pangeran biar bisa ketemu lagi!*
yep, yep. akhirnya Pangeran bertemu lagi dengan Cinderella, dan hubungan mereka akhirnya berlanjut. mereka tidak hidup bahagia selamanya sih, karena adakalanya mereka terlibat couple quarrel… tapi secara umum, hubungan Pangeran dengan tuan putri yang cerdas masih berjalan dengan lancar.
…nah. kalau anda masih membaca sampai sini, ini akhir ceritanya. THE END.
::
…aneh? biarin. yang jelas sih saya nggak terlalu suka cerita aslinya. suka-suka saya saja, kan? 
by yud1 8:51 pm
09.04.07
Posted in Opinion at 8:52 pm by yud1
“nilai pendidikan itu, ya apa yang tertinggal setelah anda menyelesaikan pendidikan. kalau setelah kuliah ini selesai, anda mendapatkan nilai, lalu anda melupakan semuanya, ya berarti nilai pendidikannya tidak ada bagi anda.”
___
kutipan di atas adalah ungkapan seorang dosen yang pernah mengajar saya dalam salah satu mata kuliah dulu. tidak persis amat sih, mengingat sudah cukup lama sejak saat itu, dan saya sendiri sudah agak lupa redaksinya. yah, tapi intinya kira-kira seperti itu.
…dan sebuah pertanyaan: sebenarnya, kita menjalani pendidikan (baca: sekolah dan kuliah) itu ngapain sih?
kalau mau pragmatis sih, jawabannya gampang. tentu saja, supaya kita bisa hidup! kalau kita sekolah, lalu kuliah, lalu lulus dan bekerja, maka kita bisa hidup enak. lulus kuliah (apalagi dengan nilai bagus
) lebih bisa menjamin bahwa kita bisa mendapatkan pekerjaan yang layak.
jadi, kita menjalani pendidikan hanya untuk bekerja. persetan dengan segala nilai A, B, C, D, atau E yang mungkin akan kita dapatkan, pokoknya kita harus kuliah supaya bisa mendapatkan pekerjaan yang enak.
wow. pragmatis sekali. tapi kenyataannya, sepertinya cukup banyak yang berpikir seperti itu.
hmm. dan saya bertanya-tanya: apa iya, serendah itukah harga pendidikan? sebatas menjadi pabrik sarjana untuk menyumbang sumber daya dan tenaga ahli untuk industri?
…entah kenapa, saya tidak bersedia setuju dengan hal tersebut.
apa yang kita dapat dari pendidikan, kalau seperti itu? kalau dari sisi mahasiswa Computer Science, mungkin sebagai berikut: skill untuk programming dan database, mungkin. project management, mungkin. software engineering, mungkin. dan sebagainya, mungkin saja.
dan selain itu? banyak yang hilang. Matematika Diskret dan Kalkulus mungkin tidak terpakai. Kriptografi dan Pemrosesan Teks mungkin dipakai sedikit saja. Analisis Numerik dan Pengolahan Citra sangat jarang dipakai kecuali dalam bidang kerja yang tidak terlalu umum.
kalau sudah begitu, berapa besarnya nilai pendidikan yang kita jalani? bukan karena sistem pendidikannya kurang sempurna (walaupun bukan berarti ini tidak terjadi), tapi karena hampir tidak ada yang tertinggal setelah kita menyelesaikan pendidikan.
kenapa? karena setelah kuliah selesai dan kita mendapatkan nilai, mungkin sebagian (cukup besar) dari kita melupakan apa-apa yang kita dapatkan. yang diingat dan agak terlatih, mungkin sebatas hal-hal praktis dan seringkali dibutuhkan — terutama, dalam dunia kerja.
jadi, sebenarnya pendidikan itu untuk apa, sih?
mungkin, bagi sebagian (besar) orang, sebatas jembatan untuk melangkah ke dunia kerja, untuk kemudian menjalani pekerjaan yang layak, dan seterusnya.
…salah? tidak. memang kenyataannya seperti itu, kok.
mungkin, dengan demikian pendidikan hanyalah sebatas ‘tempat numpang lewat’ sebelum mendapatkan ijazah, dan kemudian menjadi ‘pabrik sarjana’; produksi massal dalam jumlah besar, untuk kemudian ditampung oleh industri.
…tapi entah kenapa, saya tidak bersedia setuju dengan hal tersebut.
by yud1 8:52 pm
09.01.07
Posted in Opinion at 4:16 pm by yud1
ini cerita beberapa waktu yang lalu, sih. penting-nggak-penting, dan lumrah terjadi dalam kehidupan dan pergaulan saya — setidaknya, yang saya amati.
ini berhubungan dengan fenomena di mana ‘cowok-cowok ternyata senang sekali membicarakan cewek’. apalagi, kalau cewek ini, menurut mereka, cantik. halah. terserah saja sih, yang jelas saya nggak ikutan.
saya sedang nongkrong bersama beberapa orang rekan — yang kebetulan, semuanya cowok. halah, jelaslah! topik ini biasanya muncul hanya kalau semua peserta ‘konferensi’ adalah cowok.
“menurut lo, di angkatan X[1], yang cakep siapa?” seseorang memulai pembicaraan.
tentu saja, maksudnya cewek. apa lagi yang bisa dibicarakan cowok soal ‘makhluk cakep’? yang jelas sih mereka tidak mungkin membicarakan cowok ganteng atau model dengan perut six-pack
beberapa langsung memberi jawaban. kemudian obrolan lanjut terus… yah, terserahlah. bagian ini saya nggak ikutan deh.
saya menguap. bakal lama, nih.
ah, begini, begini. saya bukanlah seorang cowok yang senang membicarakan seorang cewek, apalagi hanya karena seorang cewek itu cantik. menurut saya, itu hal yang tidak-terlalu-penting untuk dipikirkan, apalagi dibicarakan.
bukannya salah, sih. itu kan hal yang wajar? mungkin lebih tepat bahwa itu ‘bukan termasuk hal-hal yang menjadi interest saya untuk menjadi bahan pembicaraan’. yah, begitulah kira-kira.
hmm. entah ya, jangan-jangan saya ini cowok yang agak ‘kurang normal’. entah kenapa, saya tidak terlalu tertarik untuk membicarakan makhluk berjenis ‘cewek’ yang berada di sekitar saya. mana saya tahu? menurut saya sih, kalau ada cewek cantik, ya biarkan saja. nggak diomongin juga, kalau memang cantik ya cantik saja. iya kan?
itu masih normal. kalau cowok-cowok ini lagi ‘kumat’ atau ‘keluar sakitnya’, topiknya bakal lebih aneh lagi. percaya deh, anda kaum hawa tidak ingin mendengar pembicaraan mereka. apalagi, kalau anda yang sedang dibicarakan. percayalah, anda tidak ingin tahu.
…entah, ya. saya sendiri tidak pernah ingin berlama-lama nongkrong dalam pembicaraan seperti itu[2]. bukan kenapa-kenapa, saya memang tidak tertarik, sih. mau diapain lagi? kalau sudah begitu sih paling saya cuma bisa mendengarkan saja.
menurut saya, cewek itu kalau cantik ya cantik saja. ada banyak hal yang membuat seorang cewek kelihatan cantik. maksud saya, hal yang meliputi sikap, kepribadian, kecerdasan, dan sebagainya. tapi tetap saja, topik ini bukan komoditi yang akan dengan mudah jadi bahan pembicaraan untuk saya.
mungkin, (mungkin lho
) sebagian hal tersebut adalah karena saya sendiri tidak punya ketertarikan terhadap hal tersebut. dalam konteks membina hubungan dengan seorang cewek, maksudnya.
jujur deh, sebenarnya saya ini tidak tertarik untuk berhubungan secara serius dengan seorang cewek, sampai saat ini. entah dalam konteks ‘pacaran’ (atau ‘taaruf’, atau sebutan yang lain
), tunangan (ini kan lazim juga yah), atau ‘pernikahan’, tapi yang jelas untuk saat ini saya tidak tertarik. entah nanti, yah. siapa yang tahu?
…aneh? mungkin. bodo amat ah, suka-suka saya saja, kan?
kali ini, kesempatan lain lagi. saya sedang nongkrong dan menikmati suasana ketika beberapa ‘rekan seperngobrolan’ di sebelah saya memulai topik tersebut.
“eh, siapa tuh itu cewek? lumayan manis tuh…”
“tauk, nggak pernah lihat. anak mana ya? bukan anak sini, tuh.”
[bla-bla-bla]
saya hanya memandang sambil geleng-geleng.
“kenapa, yud? ”
saya nyengir.
“duuh, dasar cowok.” saya ‘mengumpat’ dengan cengiran sepenuh-hati.
*siiiinggg*
“…yud1, lo nggak homo, kan?”
…aaargh.
oh, well… setidaknya (untuk topik tersebut) saya masih menjadi pendengar yang baik saja, sampai saat ini. setidaknya, ada hal-hal yang saya pelajari; sesuatu tidak pernah sia-sia, bukan?
___
[1] classified by author. nggak penting juga, sebenarnya
[2] beneran. saya tidak suka membicarakan orang lain, apalagi cewek yang (katanya) cantik.
by yud1 4:16 pm
08.29.07
Posted in Opinion at 7:13 pm by yud1
“…tapi lima atau sepuluh tahun lagi, apakah kamu akan tetap bisa menjadi seperti kamu yang sekarang; kamu yang jujur dan apa adanya, yang bisa mengatakan ‘tidak’ dengan idealisme kamu?”
___
saya tahu, bahwa dalam setiap langkah perjalanan kehidupan saya, akan selalu ada hal-hal yang hilang dari diri saya. selalu demikian; untuk apa-apa yang saya dapatkan selama perjalanan ini, ada hal-hal yang juga hilang dari diri saya.
selama ini, saya tidak keberatan dengan hal tersebut. saya tidak keberatan kehilangan sebagian sudut pandang saya akan dunia yang ternyata tidak selalu indah. saya tidak keberatan kehilangan sebagian harapan dan kepercayaan saya terhadap orang lain yang tidak selalu baik untuk saya. saya tidak keberatan untuk beberapa hal lain yang terjadi dalam perjalanan saya sejauh ini.
…tapi mungkin, tidak kali ini. saya takut, bahwa saat ini saya sedang kehilangan idealisme saya. saya takut bahwa saya mungkin tidak akan lagi bisa berkata ‘tidak’ untuk hal-hal di luar nurani saya. saya takut, bahwa suatu saat saya akan menjadi terlalu pragmatis dan materialistis; bahwa saya tidak lagi bisa jujur kepada diri saya sendiri.
saya takut, suatu saat saya akan menjadi orang yang tidak pernah puas; dengan demikian menjadi korban materialisme, sebelum akhirnya kehilangan prinsip dan kebersahajaan saya.
::
saya tahu, saya tidak selalu bisa menjalani hidup dengan seratus persen bersandar kepada idealisme; kita hidup di dunia yang tidak sempurna, di mana kita tidak bisa selalu jujur dalam setiap hal. dan saya tahu, bahwa adalah sangat naif kalau saya berharap bisa selalu bertindak sesuai hati nurani saya.
sekarang mungkin saya masih bisa mendengarkan kata hati saya; saya bisa menolak apa-apa yang tidak sesuai dengan apa yang saya sebut sebagai nurani saya, dan saya bisa bersikap kritis serta kalau perlu mengatakan ‘tidak’ untuk hal-hal di luar idealisme saya.
…tapi, sampai kapan? mungkin tidak akan cukup lama.
setelah ini, di tempat yang disebut oleh orang-orang yang menjalaninya sebagai ‘dunia nyata’, saya mungkin akan berhadapan dengan berbagai macam kepentingan; mungkin, lengkap dengan beberapa lobi-lobi. dan uang dalam jumlah besar, serta ketidakpuasan diri yang bisa tak berujung.
lalu apa? sedikit demi sedikit, idealisme saya mungkin akan terpaksa saya tanggalkan. saya yang saat ini bisa memutuskan untuk tidak mengambil hal-hal yang ‘abu-abu’ apalagi ‘mendekati hitam’, mungkin akan berubah; mungkin dengan sedikit lobi dan hasrat produk kapitalisme, pendirian saya akan berubah.
tidak, saya tidak takut akan kenyataan bahwa idealisme saya mungkin akan bertentangan dengan realita; yang saya takutkan adalah, bahwa saya akan kehilangan pendirian yang saya miliki sekarang. bahwa idealisme saya tidak akan sempat bertentangan dengan kenyataan, karena telah terlebih dahulu luntur dalam perjalanan saya. entah terlena oleh mimpi produk kapitalisme, atau kebutuhan diri yang tidak pernah puas.
sekarang mungkin saya masih bisa mendengarkan kata hati saya; tapi apa yang akan terjadi nanti, saya tidak tahu.
sekarang ini saya, sendirian, mungkin bisa memilih dan bersikap. saya bisa berpegang kepada apa-apa yang saya anggap ‘ideal’. tapi saya tidak yakin saya akan bisa tetap bersikap demikian nanti; ketika saya memiliki tanggung jawab lain yang mungkin harus saya tanggung, ketika saya tidak bisa lagi hidup hanya untuk diri saya sendiri.
juga ketika saya nanti mungkin harus berada sebagai bagian dari suatu hal yang lain, atau ketika saya berada di tempat di mana apa-apa yang saya anggap ‘ideal’ tidak bisa hidup berdampingan dengan kenyatan; dan sayangnya, hampir tidak ada tempat yang tidak seperti ini.
::
saya takut, bahwa pertanyaannya bukanlah ‘apakah saya akan…’, tapi ‘berapa lama sebelum saya…’
berapa lama waktu yang saya butuhkan, sebelum saya akan mulai bersikap tidak jujur dalam menjalani kehidupan saya, dan mulai memberikan laporan ‘asal bapak senang’ ke atasan saya?
berapa lama waktu yang saya butuhkan, sebelum saya mungkin akan memberikan tanda tangan saya untuk penggunaan dana di luar aturan atas tekanan lingkungan saya?
berapa lama waktu yang saya butuhkan, sebelum saya mungkin akan mencari ’sabetan halal’ dari proyek-proyek di berbagai kesempatan?
berapa lama waktu yang saya butuhkan, sebelum saya mungkin akan melobi para ‘petinggi-petinggi perusahaan’ dengan ‘hadiah halal’ agar sebuah proyek bisa goal dan berjalan?
berapa lama waktu yang saya butuhkan, sebelum saya mungkin akan ‘melakukan lobi-lobi legal’ demi mengantarkan diri saya ke jabatan yang lebih tinggi?
berapa lama waktu yang saya butuhkan, sebelum saya mungkin akan kehilangan independensi saya, demi sejumlah besar uang yang ‘halal’?
…apakah hal tersebut salah sama sekali? mungkin tidak. abu-abu, mungkin. tidak melanggar peraturan, mungkin. tapi berapa lama sebelum saya mulai melakukan hal tersebut? lima tahun? sepuluh tahun? atau lebih cepat lagi?
…karena sejujurnya, saya tidak ingin menjadi seperti itu.
::
saya tahu, bahwa saya tidak bisa selalu berpegang kepada idealisme. saya juga tahu, bahwa harus ada bagian-bagian dari idealisme yang harus saya korbankan dalam perjalanan saya nanti. saya juga tahu, bahwa tidak banyak hal yang bisa diraih dalam hidup ini, dengan seratus persen berpegang kepada idealisme.
…tapi masihkah saya akan bisa mengatakan ‘tidak’ untuk hal-hal yang saya anggap tidak sesuai dengan apa yang saya sebut sebagai ‘nurani’ saya? atau, mungkinkah saya akan terlena dan menjadi orang yang tidak lagi bisa jujur kepada diri saya sendiri?
di titik ini, saya berharap bahwa saya tidak akan kehilangan jati diri dan idealisme saya; bahwa sekalipun idealisme saya mungkin akan terpaksa saya tanggalkan sedikit demi sedikit, sedapat mungkin saya tidak ingin kehilangan hal tersebut.
karena saya tahu, bahwa mungkin saat ini saya sedang berubah ke arah yang tidak saya inginkan; sesuatu yang sangat saya benci, dan saya tidak ingin membiarkannya terjadi kepada saya.
saya rasa, saya hanya ingin bisa menjalani kehidupan; dengan idealisme dan kebersahajaan, serta rasa syukur yang apa adanya.
by yud1 7:13 pm
« Previous entries · Next entries »