janji

+ “…and unlike me, you always keep your promise. kudos.”

– “apparently in today’s society a promise is not really important. well not the first time, I’m getting used to it anyway.”

___

sejak dulu, saya diajarkan untuk selalu menepati apa yang sudah saya katakan kepada orang lain. saya dididik untuk menjadi orang yang jujur; kalau tidak bisa menepati, jangan berjanji. untuk saya, lebih baik tidak mengatakan apa-apa daripada menyebutkan janji yang tidak bisa dipenuhi.

oleh karena itu, saya selalu berusaha menepati setiap perkataan saya sampai setiap kata yang bisa saya ingat. kalau saya mengatakan bahwa saya akan menemui seseorang pada suatu akhir pekan di hari Sabtu, maka saya akan menemui seseorang tersebut pada hari Sabtu. kalau saya mengatakan bahwa saya akan datang pada pukul 12:30, saya akan mengusahakan untuk datang setepat mungkin pada pukul 12:30.

ya, itu hal yang wajar, kan? bagaimanapun, itu sesuatu yang sudah saya ucapkan sebagai sebuah janji, dan dengan demikian saya punya tanggung jawab untuk memastikan bahwa apa yang saya ucapkan itu jujur dan benar adanya.

.

tapi kelihatannya, hal ini tidak cukup penting untuk orang-orang lain di sekitar saya. janji yang dibatalkan tiba-tiba seolah jadi sesuatu yang wajar. keterlambatan dalam janji menjadi hal yang normal. penggantian dan ucapan maaf kemudian menjadi kebiasaan.

sejujurnya, kadang saya sendiri ingin memandangnya dengan sinis saja: omong kosong dengan itu semua. kalau tidak bisa menepati, jangan janji apa-apa! kalau tidak tahu apa yang harus dikatakan, tidak usah bilang apa-apa!

tapi toh keadaannya seperti itu, dan hal seperti ini meliputi banyak hal dari berbagai tempat yang saya ketahui: dari meeting di tempat kerja sampai acara jalan-jalan biasa, keterlambatan atau pembatalan seolah sudah menjadi hal yang berlaku umum saja. apakah tidak ada seorangpun yang keberatan soal itu, saya sendiri tidak paham.

kadang, hal seperti ini juga membuat saya cenderung tidak sabar: untuk apa membuat janji kalau bisa dibatalkan sesederhana itu? juga, sejak kapan ucapan ‘maaf’ dari telepon genggam bisa menjadi alat tukar dengan harga murah?

dan tidak, saya tidak menerima kata-kata seperti ‘kamu masih naif sekali’, atau ‘kamu perlu tumbuh dewasa’. untuk hal-hal seperti itu, saya selalu mengatakan bahwa itu cuma alasan yang dibuat dengan seenaknya sendiri oleh orang-orang yang merasa sudah lebih lama hidup daripada saya. masih kurang? iya, persetan dengan orang dewasa dan omong kosong mereka!

.

anehnya, saya masih saja keras kepala. saya masih saja berusaha menepati apa-apa yang sudah saya janjikan. saya masih saja datang tepat waktu, saya masih saja mengingat janji saya kepada orang lain — kadang sampai yang bersangkutan sendiri lupa, dan pada akhirnya cuma saya yang merasa sia-sia dengan semuanya itu.

entahlah, saya tidak paham. mungkin yang disebut dengan ‘janji’ itu tidak cukup penting untuk orang lain, mungkin itu cuma sesuatu yang tidak ada artinya, mungkin saya cuma berpegang kepada sesuatu yang pada dasarnya tidak ada untungnya sama sekali untuk saya.

atau mungkin, saya cuma agak terlalu keras kepala. atau mungkin sedikit salah didik, entah apakah itu hal yang baik atau buruk.

utilitas kebutuhan dan financial sustainability

saya adalah orang yang sederhana. pas-pasan. kalau kata seorang kerabat, saya ini orang yang hidupnya ‘kayak nggak butuh duit’. kebutuhannya nggak banyak, katanya. dan katanya lagi, saya ini tipe manusia yang uangnya ‘masuk tabungan dan entah akan dipakai apa nanti’.

katanya beliau sih begitu, jadi bukan omongan saya lho ya. :mrgreen:

tapi saya jadi kepikiran hal yang menarik gara-gara omongan beliau tersebut. hal ini terkait tak lain dan tak bukan adalah model financial sustainability saya yang, kata beliau, ‘serba nggak butuh’ itu. dan bicara soal sustainability model, teorinya sih sudah banyak disinggung di mana-mana, jadi tak perlulah didiskusikan panjang lebar lagi soal teori terkaitnya ini.

.

ketika Arsene Wenger memulai karir kepelatihannya di Arsenal FC, ada dua hal menarik yang mendasari filosofi yang diterapkan beliau dalam tim sepakbola yang sampai sekarang menjadi favorit saya tersebut. pertama adalah filosofi di atas lapangan yang mengutamakan pass-pass pendek yang mengalir, sementara yang kedua adalah filosofi di luar lapangan tentang manajemen finansial terhadap klub sepakbola asal London tersebut.

it’s all about the money, it’s all about dum dum dumdumdum dum~

tentunya saya tidak akan membicarakan yang pertama, karena topik tersebut akan bisa jadi tulisan panjang sendiri. lagipula off-topic juga sih, kita kan sedang membicarakan sustainability model? jadi mari kita membicarakan bahasan yang terakhir saja.

jadi, inti dari filosofi manajemen yang dibawa oleh Pak Wenger adalah bahwa klub harus bisa bertahan hidup hanya dengan mengandalkan aset yang dimilikinya. living within own means, kalau ungkapannya beliau sih. jadi secara umum, pengeluaran klub harus selalu merupakan variabel terikat terhadap pendapatan klub. gaji pemain harus menyesuaikan dengan pendapatan sponsor dan tiket, sementara transfer pemain harus memperhatikan anggaran yang berimbang.

pendekatan ini agak berbeda dengan sebuah klub tetangganya di London yang kebetulan memiliki talangan dana pengusaha minyak kaya raya dari Eropa Timur sana. berbeda pula dengan tetangganya di Manchester yang hobi mengeluarkan uang dalam jumlah besar untuk membeli pemain mahal, yang notabene dananya berasal dari kantong pemilik klub yang kemudian dimasukkan sebagai sumber dana operasional klub alih-alih dari semata-mata perputaran pendapatan dari hak siar, transfer pemain, serta penjualan tiket dan merchandise.

jadi, dalam kamus Pak Wenger, arus keuangan didasarkan kepada dua hal: pertama adalah revenue dan profit yang diperoleh, dan kedua adalah kebutuhan dan skala prioritas. kalau cash flow tidak memadai, ya tidak bisa transfer pemain mahal. kalau cash flow ternyata memadai, uang pun bisa dikeluarkan… hanya kalau memang perlu.

tentu saja, hal ini bukan berarti ‘pelit’; pemain-pemain bukan tidak mungkin ditransfer dengan harga tidak-murah, tapi toh pertimbangannya tetap financial sustainability dari klub: kalau misalnya Andrey Arshavin dihargai terlalu mahal dari Zenit St Petersburg –35 juta pound, misalnya– hampir bisa dipastikan bahwa transaksi tersebut tidak akan terjadi, karena akan melanggar constraint finansial!

.

kembali ke masalah awal tadi tentang saya. sebenarnya, secara umum pandangan saya tidak jauh-jauh dari prinsipnya Pak Wenger; saya ini menghabiskan hanya dari apa yang saya hasilkan, bukan dari sesuatu yang masih belum saya dapatkan. jadi misalnya gaji saya X rupiah, saya hanya akan menghabiskan Y rupiah, di mana Y lebih kecil dari X.

secara umum, hal ini mengakibatkan tendensi saya untuk memiliki kartu kredit menjadi jauh lebih rendah daripada kebanyakan orang yang saya kenal. soal tendensi ini, alasannya sudah cukup jelas: tentu saja bukan karena saya paranoid, tapi karena pada prinsipnya saya tidak bisa mengeluarkan uang kalau uangnya belum ada!

saya sendiri cenderung berpikir bahwa sustainability model ala kartu kredit itu relatif tidak koheren. pertama, dengan memakai kartu kredit, ada kewajiban, liabilities yang menjadi tanggung jawab anda. anda berhutang, sederhananya sih. dan hal yang tidak menyenangkan dari berhutang adalah, suatu saat hutang tersebut akan harus dikembalikan.

masalahnya, bagaimana kalau dengan liabilities tersebut anda tiba-tiba tidak bisa mengembalikan dengan aset yang anda miliki? misalkan ada pengeluaran tak terduga dalam jumlah besar. anggota keluarga meninggal, atau anda kena penyakit parah, atau rumah anda dirampok… ini misalnya lho ya, semoga tidak sampai terjadi dan menimpa anda. dalam konteks ini, kalau anda tidak punya dana cadangan berupa tabungan atau deposito, misalnya, financial sustainability anda hampir dapat dipastikan kolaps. aset tidak mencukupi, sementara liabilities anda masih harus dipenuhi. sisanya, ya silakan dipikirkan sendiri.

.

tentu saja, kalau bicara sustainability, yang harus diperhatikan adalah bahwa saya membutuhkan liabilities yang seminimal mungkin di pihak saya. di sisi lain, sebisa mungkin saya ingin memiliki aset yang bisa di-convert untuk menutupi pengeluaran saya, sementara sisanya untuk sebagai equity alias modal.

misalnya begini. sekarang ini, sebagai seorang profesional, maka saya menerima gaji sebagai sumber revenue –pendapatan– untuk saya. dan secara umum, saya punya expense –pengeluaran– yang harus dipenuhi: pangan, sandang, papan, misalnya, di level kebutuhan primer. lalu di level kebutuhan sekunder ada listrik, internet, telepon, dan lain sebagainya.

normalnya, kalau berpikir secara sederhana, financial sustainability saya untuk keadaan tersebut bergantung kepada rumus sederhana berikut.

equity = revenueexpense

anda pembaca yang belajar akuntansi mungkin akan dengan cepat meralat saya bahwa rumus tersebut tidak tepat — seharusnya equity = (assetliabilities), atau profit = (revenueexpense). lho, kok bisa begitu?

sebenarnya ini cuma pendekatan sederhana saja, karena kita berbicara mengenai keuangan individu alih-alih korporat. sebenarnya sih dalam perhitungan profit and loss beneran, toh akhirnya keuntungan tahun buku dialihkan sebagai modal tahun buku berikutnya.[1]

nah, karena keuangan individu (baca: kasus saya) lebih sederhana dan tidak perlu hitung-hitungan yang ajaib, untuk konteks ini saya bisa langsung menyederhanakan bahwa setiap selisih pengeluaran-pendapatan saya dijadikan sebagai modal untuk bulan berikutnya.

OK, lanjut. secara umum, saya harus memiliki equity dalam jumlah yang cukup besar untuk memiliki keadaan finansial yang sustainable. tentu saja, equity ini harus bisa di-convert kalau saya membutuhkannya, dong. secara sederhana, sifatnya harus lancar, atau relatif bisa dicairkan ketika dibutuhkan. jadi kalau misalnya saya mendadak membutuhkan 10 juta rupiah, saya harus bisa menarik 10 juta rupiah dari equity yang saya miliki, kira-kira seperti itulah.

jadi untuk memperoleh equity yang besar, saya punya dua pilihan: pertama saya melakukan ekstensifikasi (baca: menaikkan revenue setinggi-tingginya, entah bagaimana caranya), atau melakukan intensifikasi (baca: menurunkan expense serendah-rendahnya, sampai sedekat mungkin ke batas minimal yang bisa ditoleransi).

karena ekstensifikasi cash flow dengan peningkatan penghasilan bukanlah hal yang bisa dilakukan dengan mudah tanpa bergantung kepada faktor eksternal, maka di sini pilihan yang sederhana untuk saya adalah menekan expense sampai ke level yang cukup rendah. bukan hal yang susah, karena pada dasarnya saya memang tidak punya terlalu banyak kebutuhan.

.

saya makan dua kali sehari (ngomong-ngomong, saya tidak merasa ini pola yang tidak sehat). saya tidak terlalu sering pergi ke luar dan makan di tempat mahal (walaupun bukannya sama sekali tidak pernah juga sih). saya cenderung membeli barang-barang dengan durabilitas tinggi (sepatu kets terakhir saya berusia 4 tahun sebelum diganti, ransel saya saat ini setidaknya berusia 5 tahun dan masih menghitung).

jadi, secara praktis kebutuhan saya tidak banyak. pengeluaran bulanan selain pangan sandang papan relatif selaras dengan anggaran senang-senang, jadi kira-kira seperti itulah.

tentu saja, saya kira hal ini juga sedikit banyak dipengaruhi oleh kecenderungan sikap saya untuk tidak terlalu memikirkan keberadaan uang secara khusus.[2] karena ya, untuk saya, selama tidak ada kebocoran di cash flow saya, tidak ada masalah. saya tahu arus masuk ke rekening saya sekian, saya tahu kira-kira arus keluar rekening saya sekian, dan sisanya tidak terlalu saya pikirkan. ada pendapatan, ya, masuk rekening. ada pengeluaran yang sudah diproyeksi, ya keluar dari rekening. ada pengeluaran lain-lain, tunggu, kita pikirkan dulu. kalau skala kebutuhan dan skala sustainability constraint masih sejalan, keluarkan. kalau tidak, nanti dulu.

pada dasarnya prinsip dasar saya sederhana saja: kalau saya tidak punya uang, saya tidak bisa mengeluarkan uang. karena itu, hal ini menjadi penting: apa-apa yang tidak dibutuhkan, ya tidak usah.

saya tidak suka naik ojek, misalnya. lebih baik jalan kaki beberapa ratus meter, apa masalahnya sih. saya hampir tidak pernah pergi dengan menggunakan taksi. menurut saya selagi moda transportasi kereta listrik atau bus kota bisa mengantar saya ke tujuan seharusnya tidak ada masalah. saya tidak merokok. selain pertimbangan fisiologis, rokok adalah juga pos pengeluaran yang signifikan jadi saya tidak paham kenapa orang memutuskan untuk mulai merokok.

pada dasarnya, efisiensi dimulai dari hal-hal kecil di lantai produksi. kalau dianalogikan dengan cash flow individu, efisiensi dimulai dari pengeluaran-pengeluaran kecil. makan siang, jalan-jalan akhir pekan, lembar-lembar kemeja dan celana panjang, ongkos taksi dan bensin mobil untuk setiap perjalanan dalam dan luar kota.

…walaupun soal yang terakhir ini, saya punya sedikit catatan pribadi; saya cenderung memilih jalan kaki dan naik bus bukan karena saya ingin berhemat, tapi karena saya memang lebih suka seperti itu! :mrgreen:

___

note:

[1] saya tidak mempelajari akuntansi secara khusus. kemungkinan akan ada poin-poin yang meleset dari teori aslinya, mohon koreksi.

[2] entah karena kelewat sibuk atau apa, saya sering merasa sedikit terkaget-kaget bahwa ternyata sudah masuk periode payroll di tempat kerja. entah apakah ini hal yang baik atau buruk.

[3] gambar diambil dari Amazon UK. ini bukan promosi, sumpah!

restraint

(n) restraint: the act of controlling by restraining someone or something; discipline in personal and social activities; the state of being physically constrained; a rule or condition that limits freedom.

___

pekan-pekan belakangan ini, saya sibuk. mungkin bisa dikatakan agak lebih sibuk daripada biasanya, dengan load yang agak lebih tinggi daripada biasanya, juga dengan tekanan yang –kalau bisa dibilang begitu, sih– agak lebih tinggi daripada biasanya. dari aspek saya sebagai profesional seperti itu, sementara dari aspek saya sebagai personal ada hal-hal lain, jadi kira-kira seperti itulah.

bukan masalah yang gawat benar juga, sih. lagipula manusia hidup kan tidak mungkin selalu tenang dan damai. tapi satu hal yang saya perhatikan adalah, bahwa dalam periode tersebut, saya mengalami sedikit keterlepasan terhadap kontrol diri saya. dan imbasnya sedikit banyak juga ke aspek-aspek lain dalam kehidupan saya.

saya jadi cenderung mengungkapkan hal-hal yang tidak perlu diungkapkan, saya jadi cenderung melakukan hal-hal yang tidak perlu dilakukan, dan saya jadi cenderung mengharapkan hal-hal yang tidak perlu diharapkan.

intinya, saya merasa bahwa dalam penggunaan sumber daya dalam diri saya untuk menetralisir suatu keadaan, kontrol saya terhadap diri saya untuk keadaan lain menjadi jauh berkurang.

.

membicarakan hal ini, mau tidak mau saya jadi teringat referensi kultur populer; Arcueid Brunestud dalam serial Tsukihime, misalnya, diceritakan harus menggunakan sebagian besar dari kekuatannya untuk menahan impuls brutal dalam dirinya. Son Goku dalam Gensomaden Saiyuki (ngomong-ngomong, konteks ini serupa juga dengan versi asli Perjalanan ke Barat) aslinya memiliki kekuatan luar biasa, tapi terpaksa harus menggunakan ikat yang diberikan Sanzo untuk menjaga dirinya tetap waras dan tidak membahayakan orang lain.

Arcueid Brunestud, salah satu True Ancestor di Tsukihime. atau, manifestasi trade-off antara kebrutalan dan kewarasan.

dalam konteks ini, baik Goku maupun Arcueid sama-sama memiliki sumber daya berupa kekuatan fisik dan magis yang luar biasa besar, dengan ongkos kewarasan mereka pada suatu saat tertentu.

percaya tidak, saya kira manusia pada umumnya juga tidak jauh berbeda dari mereka.

.

kenyataannya trade-off seperti itu memang ada. saya bisa memutuskan dan melakukan banyak hal untuk keadaan-keadaan yang menekan, tapi sebagai bayarannya adalah saya kehilangan sebagian kontrol diri saya. saya bisa melemparkan diri saya mendekati batas kemampuan saya, tapi di sisi lain saya bisa jadi akan melakukan/mengungkapkan/menginginkan sesuatu yang, pada akhirnya, saya menjadi tidak lagi seperti saya yang biasanya.

kadang juga saya berpikir bahwa ada hal-hal yang tidak terelakkan, tapi sejujurnya saya sendiri berpendapat bahwa ada batas yang tidak boleh dilanggar. karena, ya, pada dasarnya nilai seseorang adalah apa yang dia katakan dan dia lakukan, bukan seperti apa sebenarnya seseorang itu di dalam dirinya. demikian juga terlepas dari keadaan-keadaan lain yang mungkin meliputi seseorang, sesuatu yang mungkin bisa dipahami tidak selalu berarti adalah sesuatu yang bisa diterima.

kesalahan saya adalah bahwa saya membiarkan kontrol diri saya sedikit terlepas. bukan hal yang akan saya biarkan untuk terjadi di masa depan.

bicara profesionalisme

“professionalism? it means that you act accordingly regarding your assigned duties, and you have your rights properly granted. nothing more and nothing less.”

___

ini adalah pertanyaan terkait-definisi yang jawabannya bisa macam-macam. tergantung kepada siapa anda menanyakan, jawabannya mungkin bisa berbeda-beda, pembaca.

sekali waktu anda mungkin bisa menanyakan kepada seorang manajer semangat-tinggi di tempat kerja, dan jawabannya bisa berbeda dengan seorang rekan kelihatannya-menikmati-hidup. bukannya saya pernah menanyakan soal ini juga sih lagipula kurang kerjaan amat, cari muka dengan pertanyaan nggak mutu, tapi definisi kayak begini memang seringkali tidak jelas. atau tidak dijelaskan dengan baik, atau begitulah kira-kira.

tapi, memangnya ‘profesional’ itu apa sih?

::

sejujurnya, saya sering berpikir bahwa cukup banyak orang seringkali mengartikan kata ‘profesionalisme’ ini secara sesukanya saja.

kalau saya bertanya, apa itu profesionalisme? maka jawabannya kemungkinan (besar) akan terkait sesuatu bernama ‘kewajiban’: target harus selesai, datang ke kantor tepat waktu, bertindak sesuai prosedur operasional standar, dan lain sebagainya.

tapi saya tidak bisa tidak berpikir, bahwa definisi ‘profesional’ seperti ini akan sangat gampang di-abuse untuk menjadi ‘siap diperbudak oleh pekerjaan’.

sekarang bayangkan kasus ini. misalkan anda dan tim anda, dengan target sekian-sekian-sekian permintaan dari seorang Direktur Yang Namanya Tak Boleh Disebut. dengan keadaan tersebut, maka anda dan tim terpaksa pulang jam 9 malam dan masuk jam 8 pagi, setiap hari! kalau beruntung, mungkin anda akan juga dapat bekerja di akhir pekan.

mungkin anda akan mengatakan hal tersebut sebagai ‘dedikasi’. tapi saya lebih suka mengutip istilah yang diungkapkan seorang rekan; menurut saya, itu seperti enrolled in a new form of slavery! :mrgreen:

::

untuk saya, profesionalisme adalah tentang hak dan kewajiban yang saling disepakati. tidak lebih dan tidak kurang. saya dituntut untuk bekerja sesuai job description yang disetujui, itu kewajiban saya. saya memiliki bayaran sesuai standar yang disepahami, itu hak saya. selain itu, ya saya tidak punya kewajiban apa-apa.

tentu saja, saya juga punya hak untuk menolak bekerja ketika saya sedang cuti, misalnya. dan tidak seorangpun berhak memaksa saya sebaliknya, kecuali saya memang bersedia untuk itu. kalau misalnya jam kerja saya cuma sampai jam lima, pekerjaan saya di luar jam tersebut ya sifatnya optional. dan sebagaimana halnya apapun yang sifatnya optional, tidak ada kewajiban khusus untuk itu, kecuali saya yang bersedia memberikannya dengan sukarela.

dan, ya, saya berpendapat bahwa pekerjaan pada umumnya seharusnya dapat dibagi-bagi ke dalam slot waktu delapan jam per hari atau empat puluh jam per minggu. kalau tidak seperti itu, ada dua kemungkinan: (1) sedang terjadi keadaan gawat darurat, atau (2) pekerjaan tersebut tidak direncanakan dengan baik. tentu saja di luar keadaan tersebut, normalnya suatu pekerjaan bisa dibagi ke dalam slot waktu yang sewajarnya. iya, kan?

mungkin pak direktur sedikit-galak akan berbicara tentang semangat atau passion, tapi lupakan saja deh. omongan seperti itu cuma dipakai untuk menawar dengan harga murah. dengan atau tanpa semangat, ada harga untuk segala sesuatu. dan, ya, saya juga berpendapat bahwa planning yang buruk tidak bisa digantikan oleh semangat yang hebat!

jadi, ya, saya memutuskan untuk tidak tanggung-tanggung dalam bekerja terkait lingkup kewajiban saya. saya bekerja sebaik dan seoptimal mungkin yang bisa saya lakukan pada jam kerja, tapi jangan berharap saya akan mengangkat telepon pada jam makan siang. saya bisa saja bersedia mengecek status terkait pekerjaan ketika saya cuti, tapi jangan memaksa saya membatalkan cuti yang sudah direncanakan tiga minggu sebelumnya.

tentu saja, saya juga bukan tipe yang akan dengan senang hati memberontak di tempat kerja (tidak seekstrem kedengarannya, sumpah!), toh saya juga tidak punya alasan khusus untuk itu. lagipula dalam suasana kerja itu ada keterikatan yang saling membutuhkan. dan dengan keterikatan tersebut, selama kebutuhan masing-masing bisa terpenuhi dengan baik dan masing-masing pihak bisa sama-sama merasa nyaman, menurut saya itu juga bukan hal yang buruk.

karena profesionalisme itu cuma tentang hak dan kewajiban yang saling disepakati. tidak lebih, dan tidak kurang.

sudut pandang dari luas lingkaran

dua hari lalu, saya mendadak dihadapkan kepada sebuah pertanyaan sederhana. pertanyaan yang, sebenarnya, memiliki implikasi yang agak luar biasa terhadap sudut pandang saya selama ini.

untuk setiap lingkaran L dengan radius r, maka luas L adalah πr2. buktikan.

iya, ini pertanyaan sederhana. tentang geometri yang dulu sempat saya (dan seharusnya sebagian besar dari kita) pelajari dalam pelajaran matematika di SD. tapi pertanyaan ini jadi penting; kenapa begitu, karena pada saat saya menemukan pertanyaan tersebut saya sadar bahwa saya tidak benar-benar tahu jawabannya, pembaca.

lingkaran. dan persegi. ini kan pelajaran SD. lalu kenapa? 😕

jadi begini. untuk pencarian terhadap luas bangun datar, kita bisa berpedoman pada satuan berupa kotak-kotak di kertas. misalkan sebuah persegi dengan masing-masing sisi 4 kotak, kita bisa dengan mudah mengatakan bahwa luasnya adalah 16 kotak. lihat saja gambarnya, bisa dihitung, benar 16 satuan kok! :mrgreen:

demikian juga luas persegi panjang (panjang x lebar) atau luas segitiga (1/2 x alas x tinggi). untuk sembarang segitiga, kita bisa membaginya ke dalam dua segi empat yang sama besar, bukan? coba lihat gambar deh.

gambar ini… untuk sembarang dua segitiga identik, bisa diperoleh dua segi empat yang jumlah luasnya sama dengan dua segitiga tersebut.

…tapi, bagaimana dengan lingkaran? ini masalah besar!

::

anda pembaca mungkin (dan seharusnya masih) ingat dengan rumus luas lingkaran: πr2. tapi masalahnya adalah, bagaimana anda bisa yakin bahwa rumus tersebut menyatakan luas sembarang lingkaran dengan jari-jari r?

ada hal yang menarik pikiran saya sini. hal yang menohok saya tersebut adalah bahwa selama bertahun-tahun saya memiliki pengetahuan tersebut, saya tidak benar-benar tahu bagaimana membuktikan bahwa luas sembarang lingkaran adalah πr2!

okelah, sejak dulu saya bisa membuktikan bahwa rumus luas untuk bangun datar lain bisa diekstrapolasi seperti pada gambar. itu pendekatan yang umum, toh hasilnya bisa diterima oleh nalar anak-kecil saya waktu itu.

tapi lingkaran? ternyata saya tidak benar-benar tahu, sampai saya membuktikannya dua hari lalu. jadi selama dua puluh tahun lebih saya hidup, saya cuma mendasarkan pemahaman saya tentang luas lingkaran sebagai sesuatu yang dogmatis!

bapak dan ibu guru mengatakan bahwa rumus luas lingkaran adalah πr2. saya hanya menerimanya, menganggapnya sebagai common sense. saya menggunakan rumus tersebut untuk menghitung volume tabung, luas permukaan bangun ruang, dan sebagainya…

…sementara ada yang keropos dalam pemahaman saya. ada pertanyaan-pertanyaan yang seharusnya saya ajukan, dan yang lebih parah lagi: saya tidak merasa bahwa rumus yang terdiri atas lambang-lambang tersebut pada dasarnya tidak makes sense!

tentu saja tidak makes sense, karena tanpa jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang seharusnya saya ajukan tersebut, rumus tersebut cuma rangkaian simbol yang tidak ada artinya — kecuali, ya tentu saja, karena saya meyakininya sebagai rumus luas lingkaran.

pertanyaannya itu sebagai berikut:

  1. apa artinya sebuah bilangan π? saya cuma menerimanya sebagai 22/7 atau 3.1415…? absurd!
  2. apa pula hubungannya sehingga jari-jari kuadrat bisa menjadi faktor luas lingkaran? tunggu. mungkin seperti persegi, tapi kenapa perlu π?

sekarang lihat, dan saya menanyakan kepada anda. pernahkah anda terpikir bahwa ini adalah hal yang aneh? anda tidak bisa mengekstrapolasi luas lingkaran dari kotak-kotak satuan (seperti contoh pada gambar), tapi kenapa bisa anda percaya bahwa rumus dengan lambang dan angka tidak jelas itu pasti adalah luas lingkaran?

…saya sedikit tersentak bahwa kesimpulan saya adalah bahwa saya telah menjadi ‘korban’ dari dogma yang tidak benar-benar saya pahami tentang luas lingkaran ini selama dua puluh tahun terakhir.

dibilang begitu juga, memang akhirnya saya bisa menelaah dan membuktikan ‘ketidakmasukakalan’ itu sendiri. tapi sudah agak terlambat: bukan masalah pembuktiannya, tapi karena saya bahkan tidak pernah mempertanyakan ‘ketidakmasukakalan’ itu sejak belajar geometri dulu!

::

hal yang membingungkan saya adalah, bagaimana bisa selama bertahun-tahun saya cuma menerima suatu rumus ini sebagai sesuatu yang saya yakini kebenarannya, tanpa pernah mempertanyakannya, padahal bisa dibuktikan?

dan ujung-ujungnya, ini berpengaruh ke banyak hal dalam kehidupan. berapa banyak saya menerima hal-hal yang kita jalani dalam hidup sebagai sesuatu yang dogmatis bahkan tanpa saya ingin mempertanyakannya?

hidup urut-urutannya sekolah, kuliah, kerja, menikah, punya anak. tulisan di papan tulis di sekolah itu harus disalin ke buku tulis. datang ke kantor itu harus pakai kemeja, celana panjang bahan, dan pantofel. dan lain-lain yang daftarnya bisa panjang sekali.

tentu saja, bukan berarti saya lalu jadi anti-kemapanan dan menolak segala tatanan (ngomong-ngomong, itu ide yang menarik juga sih :mrgreen: ), tapi memangnya apa masalahnya kalau ide seperti itu dipertanyakan dan didebat?

tentu saja tidak selalu akhirnya sistem yang sudah established itu pasti tidak sesuai, bisa saja memang ada alasan yang baik untuk itu. saya harus pakai kemeja ke kantor karena saya mungkin akan terlibat dalam pertemuan formal, atau saya harus menyalin isi papan tulis karena pasal-pasal konstitusi tidak boleh diringkas seenaknya.

tapi setidaknya saya punya alasan bagus untuk mengikuti nilai-nilai yang sudah terstruktur itu, dan saya tidak asal mengikuti secara buta. tentu saja ini juga berarti bahwa saya bisa dan boleh tidak setuju dengan sesuatu kalau saya tidak punya alasan bagus untuk setuju dengan hal tersebut!

toh pada akhirnya, bukan hanya jawabannya yang sesungguhnya penting. bukan kata-kata sakti bahwa rumus lingkaran adalah πr2 itulah yang bermakna, tapi pencarian atas alasan itu yang jadi penting.

kalau tidak, ya sia-sia saja. karena kalau tidak seperti itu, pada akhirnya kita cuma akan berjalan di tempat, kan? 😉

___

P.S.: saya sengaja menyisakan pembuktian rumus luas lingkaran untuk kesenangan berpikir anda. silakan dicoba kalau tertarik. 😉

Mrs. Doubtfire, dan perspektif yang berubah

“and sometimes they get back together, and sometimes they don’t, dear. and if they don’t, don’t blame yourself. just because they don’t love each other anymore, doesn’t mean that they don’t love you…”

Mrs. Doubtfire

___

sore ini, saya sedang duduk di depan TV ketika menemukan tayang ulang Mrs. Doubtfire sedang mengudara di salah satu stasiun TV. film lama, dan dirilisnya juga sudah bertahun-tahun lalu — 1993, kurang lebih 17 tahun lalu. ternyata sudah belasan tahun, lama juga, ya.

pertama kali saya menonton film ini dulu, saya masih sebagai seorang anak SD. waktu itu saya sudah agak paham tentang beberapa hal; bahwa beberapa keluarga tidak selalu punya orang tua yang lengkap, atau bahwa kata ‘perceraian’ secara sederhana berarti ‘di rumah tidak ada ayah, tapi kita bisa ketemu sekali-sekali’.

dan dibilang seperti itu juga, saya yang waktu SD menontonnya dengan sudut pandang yang sederhana pula; ayah dan ibu bertengkar, dan akhirnya salah satu tidak bisa bertemu anak-anaknya setiap kali mereka ingin. tapi akhirnya semua baik-baik saja, karena kalau mereka adalah ayah dan ibu, tentu mereka adalah orang-orang baik, kan?

dengan demikian, saya yang sebagai anak SD menonton film tersebut dengan sudut pandang yang sederhana. ayah ingin bersama anak-anaknya, dan ibu yang juga ingin anak-anaknya bahagia. untuk saya pada saat itu, saya hanya memikirkannya secara sederhana saja; kenapa ayah dan ibu bisa seperti itu? bukankah seharusnya mereka saling menyayangi, karena itu mereka menikah?

tentu saja dengan sudut pandang yang sederhana, karena sebagai anak SD saya hanya mencerna konsep ‘perceraian’ itu sebagai sesuatu yang sederhana. lagipula toh semua senang pada akhir film tersebut. setidaknya, lebih senang daripada sebelumnya.

.

hari ini, secara kebetulan saya menonton lagi film tersebut. dan sejujurnya, saya tidak lagi bisa memandang film tersebut dari perspektif yang sama dengan perspektif saya ketika pertama kali menontonnya. ada hal-hal yang dulu tidak terlihat, atau mungkin subtil, yang sebelumnya tidak saya pahami.

apa ya… agak susah menjelaskannya, sih. tapi mungkin, salah satu yang saya ingat adalah ketika Daniel dan Miranda Hillard (yang diceritakan sudah bercerai) saling bertengkar kembali setelah Miranda mengetahui bahwa Mrs. Doubtfire ternyata adalah mantan suaminya sendiri. tentu saja, dengan premis bahwa mereka pernah saling mencintai, pernah menikah, punya anak-anak yang sama-sama mereka sayangi…

but it’s not working. tidak ada yang berhasil, dan mereka dulu bercerai, dan pada akhirnya tidak ada yang kembali. hanya ada sedikit kompromi, yang toh masih juga berat untuk masing-masing, tapi setidaknya kini sang ayah bisa menemui anak-anaknya tanpa pengawasan hukum.

.

tapi yang menarik adalah, bahwa dengan perspektif tersebut saya bisa memandang ke balik film tersebut secara lebih nyata dan membumi. bahwa sebenarnya masing-masing dari kita -sebagai orang dewasa- juga tidak sempurna, dan pada akhirnya mungkin kita tidak bisa benar-benar mendapatkan akhir yang benar-benar membahagiakan.

apakah Daniel memutuskan untuk dan menjalani peran sebagai Mrs. Doubtfire dengan berbahagia dalam prosesnya? mungkin tidak. apakah Miranda juga awalnya memutuskan untuk memberlakukan pengawasan dengan senang hati? mungkin juga tidak. apakah Lydia, Chris, dan Natalie dengan mudah menerima kenyataan bahwa walaupun mereka kini punya waktu lebih banyak dengan ayah mereka, semuanya tetap tidak bisa kembali? mungkin juga tidak.

tapi setidaknya ada hal-hal yang dicoba untuk dilakukan, dengan kesalahan-kesalahan yang juga tidak lepas. dan walaupun tidak semuanya berhasil, dan tidak ada akhir yang benar-benar membahagiakan, tapi setidaknya ada arah yang dituju, walaupun mungkin tak bisa benar-benar sampai.

di akhir film, saya masih berpikir; mungkin tidak banyak bedanya antara Mrs. Doubtfire dengan masing-masing dari kita. ada keinginan-keinginan, ada kekecewaan-kekecewaan, tapi ada harapan yang dicoba untuk diraih. dan mungkin juga tidak jauh berbeda dari Mrs. Doubtfire, kita seringkali harus bersedia menukar sedikit harapan dengan ketidaknyamanan yang tidak selalu mudah diterima — entah untuk hal-hal yang penting bagi kita, entah mungkin untuk hal-hal lain dengan alasan-alasan yang lain.

entah apakah ada yang menang atau kalah, atau berhasil atau gagal. untuk hal ini saya tidak bisa benar-benar menjawab.

tentang menjadi pemimpin

saya tidak pernah berpikir, apalagi mengatakan, bahwa menjadi pemimpin yang baik itu perkara gampang. menjadi pemimpin itu amanat, katanya. dan untuk saya (entah orang lain ya), bicara urusan amanat memimpin orang lain adalah perkara yang sungguh tidak sederhana; lebih berharga daripada barang titipan, lebih berat daripada kewajiban hutang.

dan bicara soal tanggung jawab dan kepemimpinan, tak usah pula langsung jauh-jauh soal memimpin kota atau negara. masing-masing dari kita mungkin pernah berhubungan dengan soal tanggung jawab ini; manajer toko adalah pemimpin yang membawahi pegawai tokonya. komandan kompi adalah pemimpin yang membawahi para prajuritnya, dan anda yang pernah bekerja dan membawahi staf anda adalah pemimpin untuk masing-masing dari mereka.

contoh lain? arsitek dan tukang, system analyst dan programmer, account executive dan sales admin, dan masih banyak lagi yang lain. tidak selalu harus hirarkis, yang jelas ada yang memutuskan perintah dan ada yang melaksanakan pekerjaan.

masalahnya, untuk anda yang kebetulan mendapatkan amanat sebagai seorang pemimpin: sebenarnya, seberapa bagusnya sih anda ini?

saya tidak ingin mulai dengan hal-hal klise nan kaku seperti ‘menghormati bawahan’ atau ‘tetapkan target’ atau ‘buat rencana dan timeline‘. saya ingin membicarakan hal yang lebih sederhana dan lebih mendasar daripada hal-hal tersebut.

::

menurut saya, kualitas pertama dari seorang pemimpin adalah kejujuran. jujur dalam arti pikiran dan kata-kata yang sejalan dengan tindakan. kalau anda sebagai seorang pemimpin mengatakan kepada anggota tim anda bahwa suatu pekerjaan bisa diselesaikan dalam dua bulan, anda harus jujur dan yakin dengan perkataan anda. tunjukkan bahwa anda bisa dipercaya; bahwa anda tidak memberikan jadwal yang sudah ditekan di sana-sini, dan bahwa anda tidak akan mengorbankan tim anda demi keinginan pihak lain.

anda harus jujur. ungkapkan keputusan dan dasar pemikiran anda secara gamblang dan apa adanya. jangan membohongi anggota tim anda dengan harapan palsu. tunjukkan bahwa tidak ada hal yang anda sembunyikan dari maksud perkataan anda.

karena ketika perkataan anda tidak lagi sesuai dengan tindakan anda, hati-hati; ketika bawahan anda sudah kehilangan legitimasi untuk bekerja bersama anda, semuanya akan sudah terlambat.

kualitas kedua: dengarkan setiap ‘tidak’ yang disampaikan oleh rekan kerja anda. setiap ketidaksetujuan, setiap kekurangsepahaman, dengarkan. kalau anggota tim anda mengatakan ‘ini mungkin sulit’, dengarkan. jangan berikan omong kosong ‘optimis, semangat, pasti bisa’. omong kosonglah itu, anda tidak memberikan solusi terhadap kekuatiran mereka.

dengarkan, diskusikan. kalau anda membangun rumah dan tukang anda mengatakan membutuhkan satu sak tambahan semen jenis A, jangan langsung berpikir untuk membeli setengah sak dan sisanya cukup diisi pasir dan oplosan yang lain. memangnya anda tahu apa tentang membangun rumah?

tidak selalu anda harus mengikuti kekuatiran anak buah anda. pikirkan, bicarakan, diskusikan. sisanya, serahkan ke pikiran dan nurani anda.

kualitas ketiga, adalah kemampuan untuk mengatakan ‘tidak’. kalau anda sebagai manajer pemasaran dan anda diberikan target key performance indicator yang tidak masuk akal oleh manajer divisi, diskusikan. kalau tidak memungkinkan, katakan tidak. anda tidak dipilih sebagai manajer untuk selalu mengatakan ‘ya’ kepada semua orang.

dengan kata lain; lindungi tim anda. lindungi bawahan anda. jangan berikan tugas yang tidak mungkin diselesaikan kepada anak buah anda demi menyenangkan target atasan anda. tidak berarti anda harus terlalu protektif; karena jujur saja, orang yang tidak punya keberanian untuk tidak mengatakan ‘ya’ tidak pantas menjadi pemimpin.

kualitas terakhir, yang mungkin paling sering terlupakan: sadarlah bahwa anda dan tim anda itu berada di perahu yang sama! di tengah laut, kalau perahunya rusak dan bocor, anda semua akan sama-sama tenggelam. tidak perlu ngomong manis-manis ke anak buah anda, mereka akan berpikir bahwa anda bullshit, tong kosong nyaring bunyinya. tunjukkan dengan sikap; we are in this together.

perjuangkan kepentingan anda. perjuangkan kepentingan tim anda. tidak ada yang membutuhkan pemimpin tukang-suruh bermulut-manis, dan setidaknya anda semua memiliki tujuan yang sama. ego itu kadang-kadang perlu, tapi kalau terlalu banyak, lupakan saja.

dan jangan pernah meninggalkan tim anda. jangan lari dan meninggalkan perahu anda tenggelam. karena kalau sampai terjadi, mohon maaf, anda adalah seburuk-buruknya pemimpin.

kenapa begitu? karena seorang komandan tidak meninggalkan pasukannya berantakan dan mati begitu saja dalam pertempuran. karena anda sebagai pemimpin tidak meninggalkan tim anda dan membiarkannya rusak tercerai berai begitu saja.

::

sungguh, saya bukanlah orang yang benar-benar paham mengenai ‘menjadi pemimpin’. jangankan menjadi pemimpin yang baik, menjadi manusia yang baik saja adalah hal yang susah kok. saya hanya kebetulan pernah bekerja sebagai pihak yang dipimpin, dan kadang-kadang juga sebaliknya. beberapa pemimpin yang pernah saya lihat lebih baik dari yang lain, dan beberapa lebih buruk dari yang pernah saya temui.

karena menjadi seorang pemimpin adalah tugas yang berat. karena menjadi pemimpin adalah juga amanat yang, sayangnya, banyak yang cenderung melupakan bahwa di baliknya ada hak-hak yang harus dilindungi di antara kewajiban yang harus ditegakkan.

tidak sederhana. bukan hal yang mustahil juga sih… tapi masalahnya, memangnya anda sebagus itu? 😉

dewasa, di dunia kerja

“yud1, I hate life as an adult. why can’t we have our ideals? where do optimism and good things we had back at school go? well… please reply when you are not busy.”

—F, a friend of mine; through text message

__

(beberapa hari yang lalu, saya menerima pesan pendek di atas dari seorang rekan -cewek, FYI- yang sudah lulus kuliah dan saat ini sudah memasuki dunia kerja. pesan pendek ini akhirnya berlanjut menjadi diskusi sedikit-panjang di suatu hari yang agak santai. dipikir-pikir, mungkin ada baiknya kalau saya sedikit berbagi soal ini… jadi, yah, anggap saja ini adalah jawaban saya untuk pertanyaan tersebut yang saya tuliskan di sini) 😉

::

dear F,

sejujurnya, saya sendiri bingung bagaimana menjawab pertanyaan ini. beneran, soalnya saya nggak merasa punya kapasitas untuk memberikan jawaban yang ‘benar’… tapi untuk kasus ini, mari kita coba saja, ya.

jadi begini. ada hal yang membedakan antara kita sebagai anak sekolah, kita sebagai mahasiswa, dan kita sebagai orang dewasa yang bertanggungjawab terhadap kepentingan orang lain; dalam kasus ini, tentu saja maksudnya kita dan apa yang kita lakukan di dunia kerja. hal yang membedakan itu adalah bahwa kita yang saat ini adalah kita yang dituntut untuk mengakomodasi kepentingan pihak lain: apakah itu atasan, atau klien, atau mungkin yang lain sesuai dengan bidang pekerjaan kita.

ah, iya. jangan pula berpikir bahwa ini hanya berlaku untuk orang kantoran; tidak ada pekerjaan yang lepas dari hal ini, entah apakah itu wirausahawan, pemilik restoran, kasir supermarket, penulis, petugas satpam, desainer… semua sama, karena pada dasarnya kita sebagai manusia hidup dengan bekerja untuk melayani kepentingan pihak lain.

dari apa yang saya pahami, ada dua hal yang saya kira menjadi concern tersendiri untuk kamu; pertama adalah ‘kenapa kita tidak bisa ideal’, dan kedua adalah ke mana perginya ‘optimisme dan hal-hal baik’ yang dulu kita pelajari di sekolah dan kuliah. walaupun kalau kamu tanya ke orang-orang dewasa kebanyakan, mungkin jawaban standarnya adalah ‘ah, kamu ini memang masih hijau!’. :mrgreen:

tapi karena saya bukan orang dewasa biasa (haha), jadi mari kita muter-muter sedikit untuk menelaah hal yang menjadi concern kamu ini. sesungguhnya membahas hal ini, kalau terkait dunia kerja, bisa menjadi sesuatu yang cukup rumit. bukan karena kita tidak bisa ideal makanya keadaan jadi salah, dan bukan pula karena banyak hal yang ‘tidak sebaik yang kita pelajari dulu’ jadi semuanya seolah tidak benar. ada hal yang sedikit rumit di sini.

pertama, hal yang perlu kita pahami adalah bahwa definisi ‘benar’ dan ‘salah’ tidak bisa benar-benar jelas di sini. tentu saja, mengecualikan apa-apa yang dapat ditemukan di peraturan tertulis (misalnya kebijakan umum perusahaan atau hukum positif pidana/perdata), tidak banyak yang bisa kita anggap ‘benar’ atau ‘salah’; yang ada hanya kepentingan-kepentingan yang kadang saling bertentangan.

dalam banyak kasus, seringkali kita harus mengambil keputusan-keputusan. yang seringkali pula, akan membuat orang lain tidak terlalu-senang dengan apa yang kita lakukan — ujungnya bisa banyak; dari hubungan profesional yang sedikit terguncang atau bahkan sampai ke hubungan interpersonal yang jadi rusak. dan dalam (terlalu) banyak kasus, keputusan-keputusan yang kita buat ini tidak ada parameter benar-atau-salahnya, mengakibatkan konsekuensi yang mungkin membingungkan.

menurut kamu, bagaimana yang ideal? karena setiap keputusan yang kita ambil, kemungkinan (besar) akan ada pihak yang tidak senang. setiap hal yang ideal, seharusnya akan membawa kebahagiaan semua orang — yang sayangnya, tidak bisa kita peroleh di dunia yang seperti ini.

oleh karena itu, ada yang namanya trade-off. atau prinsip lesser of two evils. ya, seperti yang kamu mungkin tahu, hal tersebut adalah false dilemma; dilema yang, seharusnya, tidak terjadi karena kita (seharusnya selalu bisa) berharap bahwa ada jalan lain, yang sayangnya tidak selalu ada. dan rumitnya lagi, masing-masing pilihan kita seringkali sama-sama ‘benar’, sekaligus sama-sama ‘salah’.

saya paham bahwa ini mungkin membingungkan. kenapa bisa sama-sama ‘salah’ sekaligus sama-sama ‘benar’? karena dari sudut pandang kita, mungkin itu ‘salah’ karena kurang sesuai dengan apa yang kita anggap ideal. tapi di sisi lain, itu hal yang ‘benar’, karena tindakan tersebut diperlukan (dengan berbagai kepentingan yang mengiringinya), dan tidak ada hukum atau peraturan yang dilanggar dengan keputusan tersebut.

sekarang, bagaimana kalau kamu harus mengambil satu keputusan dari dua atau tiga kemungkinan yang sama-sama seperti itu?

sejujurnya ini hal yang sulit. apalagi untuk saya, yang notabene tidak punya kapasitas untuk menjawab pertanyaan yang sungguh melibatkan banyak hal rumit ini.

::

jadi, dengan segala resiko membuat keputusan yang salah, menerima peer pressure dari pihak-pihak yang mungkin kurang senang, dan performance appraisal yang mungkin akan jadi buruk, saya tidak bisa menyarankan banyak hal untuk keadaan yang seolah bisa serba-membingungkan ini.

tapi, saya ingin menyarankan untuk selalu jujur. jujur pada diri sendiri, jujur pada orang lain, dan jujur terhadap segala konsekuensi keputusan dan tindakan kamu. kamu tidak perlu selalu bisa mengambil keputusan yang terbaik, tapi kamu harus selalu bisa mengembangkan proses untuk pengambilan keputusan yang lebih baik.

kalau kamu tahu Karl Popper, salah satu konsepnya yang saya suka adalah bahwa ia tidak menginginkan utopia atau dunia yang ideal; fokus dari pemikiran ala Popper adalah, dengan keadaan yang tidak sempurna manusia harus ‘mengeliminasi kesalahan’ alih-alih ‘mengejar keadaan ideal’.

kita sebagai manusia hidup dengan saling melayani pihak lain. semua orang yang bekerja hidup dengan hal ini, dan hal ini bukan monopoli pekerja kantoran seperti kita. kadang tidak bisa diapa-apakan lagi, dan kita terpaksa mengambil keputusan yang seolah serba-membingungkan, dan akhirnya mungkin ada distribusi ketidakbahagiaan sebagai konsekuensinya.

tapi menurut saya itu bukan masalah. kalau boleh saya mengatakan, saya tidak ingin membuat keputusan yang menyenangkan semua orang; itu mustahil. tapi kalau saya bisa mengembangkan kemampuan untuk meminimalkan distribusi ketidakbahagiaan tersebut, menurut saya itu cukup.

apakah dengan demikian semua orang akan praktis merasa nyaman dengan kita? sayangnya tidak. apakah dengan demikian orang-orang akan berusaha memahami kita? sayangnya juga tidak. apakah dengan demikian keadaan akan menjadi ideal? lagi-lagi, sayangnya juga tidak.

::

kadang-kadang, hal seperti ini memang tidak bisa diapa-apakan. ada orang-orang yang kurang senang, dan kita tidak bisa melakukan apa-apa soal itu. ada orang-orang yang mungkin akan tidak menyukai kita, dan begitulah adanya. sayangnya ini kenyataan; yang mungkin agak menyedihkan, dan sama-sama tidak kita inginkan, tapi toh terjadi dan tidak ada yang benar-benar bisa kita lakukan soal itu.

tapi, kamu tahu? kita sama-sama manusia. mereka juga manusia, sama-sama makan nasi (eh, kecuali kalau orang asing, sih), dan sama-sama punya perasaan. mungkin mereka berbuat tidak-menyenangkan, tapi saya percaya bahwa tidak ada manusia yang ingin dibenci.

ya, saya percaya bahwa tidak ada manusia yang ingin dibenci. jadi walaupun optimisme kamu mungkin babak belur, dan kamu mungkin dianggap naif atau ‘anak bawang di dunia kerja’ dan ada orang-orang yang bersikap menyebalkan, tapi tidak ada dari mereka yang ingin dibenci oleh kamu.

mungkin kamu tanya, kenapa saya yakin? ya, tentu saja! karena walaupun mereka mungkin membenci (dan siap dibenci oleh) kamu, sesungguhnya kemungkinan besar mereka hanya ‘bisa menerima dibenci oleh kamu’, bukannya ‘ingin dibenci oleh kamu’! :mrgreen:

jadi ini terkait concern kedua dari pertanyaan kamu; optimisme, hal-hal baik, dan yang lain-lain yang kita pelajari di sekolah dulu. ke mana perginya mereka? menurut saya, mereka tidak pergi kemana-mana. mereka tetap ada, walaupun mungkin kecil, dan hanya tinggal sedikit, tapi saya percaya (dan mungkin sedikit berharap, haha) bahwa sebagian besar orang yang pernah dan akan saya temui masih memiliki hal-hal tersebut.

tapi ini hal yang susah. sangat susah, bahkan saya tidak bisa mengatakan bahwa saya bisa melakukan hal ini dengan baik. tapi kalau boleh, saya ingin menyarankan untuk mencobanya sejauh yang kamu bisa saja.

karena manusia pada umumnya ingin dipahami, dan tidak ingin dibenci. mungkin kelihatannya tidak begitu, tapi saya berusaha mempercayai bahwa walaupun kecil, sedikit, dan mungkin hampir hilang, hal seperti ini ada pada diri setiap manusia.

kamu mungkin berpikir ini agak terlalu manis dan kurang-membumi, tapi sesungguhnya ini cukup jauh dari itu — ini hal yang susah, mungkin bikin makan hati, dan kamu seringkali akan membutuhkan kesabaran ekstra besar. kamu harus bisa benar-benar melihat di balik ucapan dan tindakan manusia; karena manusia tidak benar-benar bisa mengutarakan isi hatinya, dan karena jauh lebih mudah mengutarakan ketidakpuasan dan kemarahan daripada mengungkapkan perhatian dan penghargaan.

dan ya, tidak akan ada keberhasilan mutlak soal ini. setelah mencoba memahami, mungkin setelah rasa lelah dan makan hati yang memuncak, dan mungkin akhirnya kita tetap tidak bisa melakukan apa-apa; dan akan selalu ada orang-orang yang mungkin kurang bisa menghargai dan dihargai oleh kita. tambahkan pula tekanan yang mungkin cukup tinggi di dunia kerja: entah klien yang rewel, supervisor yang menyebalkan, dan mungkin juga yang lain-lain, pada akhirnya mungkin tidak banyak yang bisa kita harapkan soal ini.

sedih? mungkin kamu akan merasa begitu. tidak bisa menerima? mungkin kamu juga berpikir begitu. tapi kadang-kadang hal seperti ini sudah tidak bisa diapa-apakan lagi, dan seperti yang saya katakan di awal tadi, tidak ada hal yang benar-benar ‘benar’ atau ‘salah’ soal ini.

::

entahlah, tapi sebagai orang dewasa kita memang tidak bisa lagi menjalani kehidupan seperti anak sekolah atau mahasiswa kuliah. kita tidak selalu punya keleluasaan untuk memilih yang ‘terbaik’, dan dalam banyak kasus kita berhadapan dengan keadaan yang ‘sama-sama benar’ sekaligus ‘sama-sama salah’.

tapi menurut saya, inilah hidup; dan entah ketidakpastian, entah kebingungan, entah ketidakbiasaan — itu semua adalah bagian dari perjalanan kita untuk bisa diakui di dunia, suka atau tidak.

invisibility insecurity

belakangan ini, saya sering memperhatikan aplikasi instant messaging di komputer saya — desktop, notebook, atau apalah yang sedang terhubung ke internet. dan sebagaimana lazimnya banyak tulisan yang muncul di tempat ini, ada pertanyaan sederhana yang membuat saya kepikiran.

kenapa ya, para developer IM client ini menambahkan fasilitas invisible di messenger? bahkan kalaupun tidak ada (ala Google Talk, misalnya), orang-orang akan meminta kepada developernya untuk menambahkan!

jadi, sebenarnya inti permasalahannya adalah alasan kenapa orang ingin bisa invisible. bukan kenapa-kenapa, saya sendiri juga sangat-jarang-nyaris-tidak-pernah invisible soal online di messenger. kalau online, ya online. kalau offline, ya offline. tidak peduli rekan satu SMA, satu angkatan kuliah, atau bahkan rekan kerja dan supervisor di kantor yang namanya ada di messenger saya, pokoknya saya tidak invisible, lengkap dengan status yang jujur dan apa-adanya.

…dipikir-pikir sebentar, ternyata tidak membutuhkan waktu lama untuk menemukan jawabannya.

seseorang itu memilih untuk invisible, karena dia merasa tidak aman!

dipikir-pikir, ya memang begitu, kan? misalnya anda dan saya saling terhubung via messenger, karena suatu hal sehingga saya meng-add anda (atau sebaliknya). kalau anda merasa aman bersama saya, anda tentu tidak akan keberatan untuk memperlihatkan bahwa anda online ketika saya online, bahkan mungkin akan mengajak saya ngobrol terlebih dahulu!

tapi seandainya salah satu kontak anda adalah supervisor menyebalkan di kantor (disclaimer: bukan curhat colongan :mrgreen: ) atau cowok yang PDKT dengan menyebalkan (mengasumsikan anda cewek lho ya), apakah anda akan merasa cukup aman untuk tidak invisible?

mungkin tidak. supervisor anda mungkin akan menanyakan progress report segera setelah melihat anda online di malam hari (omaigat, semoga hal ini tidak sampai terjadi kepada kita semua), atau cowok gencar-PDKT tersebut akan menanyakan apakah anda ‘sudah makan atau belum’ (sumpah, ini contoh yang basi banget), tapi yang jelas itu menyebalkan. dan kita tidak ingin hal itu terjadi, maka kita pun invisible.

jadi, kalau dipikir-pikir mungkin sebenarnya sederhana saja: soal invisible ini ternyata terkait dengan rasa aman anda (dan saya) terhadap orang lain… atau seberapa besar self-esteem anda dalam berhadapan dengan orang lain.

lho, kok self-esteem? tentu saja, soalnya anda mungkin berhadapan dengan orang yang tidak terlalu ingin anda dekati secara personal (tapi toh ‘terpaksa’ di-add di messenger). contohnya? banyak. supervisor kerja praktek anda mungkin masuk daftar. dosen yang membawahi tugas akhir anda mungkin juga bisa dimasukkan. orang sedikit-menyebalkan di kantor yang sering berhubungan dengan anda (yang dengan tidak rela, tapi toh di-add juga) juga masuk ke kelompok ini.

maka akhirnya saya tiba pada kesimpulan bahwa sebenarnya sikap invisible itu pada akhirnya merefleksikan diri saya sendiri di mata rekan-rekan di instant messaging. kenapa begitu? sebab dengan demikian ada kemungkinan bahwa mereka merasa tidak aman dengan keberadaan saya, dan mungkin ada sesuatu yang salah dengan saya.

…tapi ini cuma ‘mungkin’, lho. bisa juga sebenarnya tidak ada yang salah dengan saya, tapi setidaknya saya baru bisa bilang begitu setelah introspeksi diri, kan?

____

[1] tidak ada curhat colongan di tulisan ini. sumpah! :mrgreen:

[2] ngomong-ngomong, saya agak bingung dengan keberadaan invisible scanner. bukankah kalau ada orang offline sebaiknya diasumsikan offline saja? 🙄

asou

“either way it would be your call — I don’t really know what would be the best for you, but make sure that you have no regret.”

___

hari-hari ini, saya kembali teringat Asou. dan sebuah pertanyaan mengenai suatu hal dari perjalanan hidup manusia, yang mungkin tidak sederhana benar: adakah sebuah keputusan itu harus selalu diambil berdasarkan apa-apa yang dianggap sebagai yang ‘terbaik’?

[asou-00]

“things that you say… are always right.”

saya teringat Asou, bukan karena sosoknya sebagai seorang pemuda yang serba sempurna atau bahwa ia memiliki keterpanggilan sebagai hero. senyatanya, ia adalah seorang pemuda yang mungkin tidak jauh beda dari lazimnya yang lain; kadang salah, jauh dari sempurna, tapi toh tetap berusaha jujur kepada dirinya sendiri.

mungkin, dan tidak seperti lazimnya kisah dongeng putri raja atau sinema elektronik yang kini tampak mudah benar ditemukan di televisi, yang membedakannya adalah bahwa ia tidak bersikap dengan keputusan yang dipertimbangkan dengan matang, dan keuntungan yang pasti didapatkan — mungkin malah cenderung tidak cerdas; tapi toh dengan demikian ia tampil sebagai lebih ‘manusia’ dari kebanyakan karakter pada drama umumnya.

yang dilakukannya adalah mencoba jujur, serta membuat keputusan dan melangkah –keputusan yang mungkin tidak terlalu cerdas, dan mungkin juga absurd– yang pada akhirnya mungkin agak tragis.

::

saya bertanya-tanya adakah setiap keputusan harus selalu diambil dengan meminimalkan kerugian dari apa-apa yang mungkin akan kita peroleh. setiap kali kita memutuskan untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu, karena kita tahu tidak ada untungnya untuk kita — mungkin akan merugikan, mungkin akan menyakitkan, atau malah tragis. dan kita menganggap bahwa keputusan yang tidak akan membawa keuntungan sebagai hal yang ‘absurd, dan mungkin tidak bermakna’.

tapi bukankah adanya perhitungan akan yang ‘absurd’ dan ‘mungkin tidak bermakna’ itu malah mengecilkan dan menyederhanakan (dengan konsepsi-konsepsi yang cenderung memukul-rata) apa-apa yang tidak selalu dapat kita formulasikan dalam perjalanan yang disebut ‘kehidupan’ ini?

mungkin, tapi saya tidak benar-benar paham adakah hal ini memang memiliki jawabannya sendiri.

::

saya teringat kepada Asou, justru bukan ketika ia memutuskan untuk melangkah pada jalannya sendiri; saya justru mengingatnya ketika ia berhadapan dengan sang ayah yang mencoba memperdebatkan keputusannya (walaupun dengan sikap dan sifat yang, layaknya seorang ayah, tidak bisa benar-benar disalahpahami sebagai antagonisme berlebih), dalam sebuah dialog yang tidak banyak kata-kata, tapi toh tetap tersampaikan; pada akhirnya, ia memang tidak kemana-mana. mungkin semuanya memang sia-sia, dan pada akhirnya malah terasa tragis.

pada akhirnya, tidak ada yang diperoleh; mungkin hanya perasaan yang remuk-redam (walaupun ya, tetap tanpa banyak air mata), dan pemirsa mungkin memandangnya sebagai suatu keadaan yang ‘terpaksa terkalahkan dengan tragis’. yang menarik adalah bahwa keadaan ini sama sekali jauh dari sempurna, tapi toh tampil sebagai ironi dalam bentuknya yang paling kena; manusia, yang bisa memutuskan untuk memilih yang ‘lebih baik’, justru mengambil jalan yang berbeda.

mungkin benar, apa-apa yang diinginkan manusia kadang terkalahkan oleh apa yang dikenalnya sebagai kenyataan; mungkin dalam kasus ini ia terasa (atau terpaksa) tragis, tapi setidaknya ia jujur, dan memutuskan untuk dirinya sendiri.

::

hari ini, saya bertanya-tanya, adakah setiap keputusan harus selalu diambil berdasarkan apa-apa yang ‘terbaik’, atau ‘menguntungkan’ bagi sebanyak mungkin pihak. mungkin tidak, atau setidaknya tidak selalu; mungkin pada akhirnya kita tidak akan mendapatkan apa-apa, atau malah akan terpaksa dihadapkan dengan suatu tragik, yang mungkin bisa tidak perlu terjadi.

mungkin, pada akhirnya memang ada banyak hal yang tidak bisa diraih, dan pada akhirnya seolah sia-sia. mungkin pada akhirnya hal seperti ini akan menjadi sesuatu yang absurd dan sama sekali tidak bermakna, dan dengan demikian akhirnya tidak membawa kita kemana-mana.

tapi entah kenapa, saya tidak bisa tidak sepaham dengan Asou. entahlah, mungkin saya memang agak terlalu keras kepala.

___

catatan:

[1] dari serial 1 LITRE no Namida (aka: 1 Litre of Tears).

[2] serial ini dirilis pada 2005, dilisensi dan ditayangkan di Indonesia pada 2007.