satu langkah

dalam banyak kehilangan, dalam banyak hal kita tak selalu bisa paham.

dari yang sederhana seperti kehilangan akses internet sepanjang hari sampai yang agak serius seperti kehilangan penghidupan di tengah pandemi.

sumpeh lu? sumpeeeehh!

sambil curcol bareng mas Duta: betapa hancurnyaaa~a~a~a~, aaaa~ a~ a~ a~ ūüėÜ

sesekali mungkin bagus juga dipakai bercanda: yah, setidaknya seorang mbak di sebelah sana mungkin jadi lebih tenang saya tidak lagi lewat atau nongkrong dekat-dekat sana. yah, setidaknya telepon genggam tidak lagi berbunyi dengan notifikasi dari tempat kerja. yah, setidaknya jadi agak lebih santai dan bisa bangun siang dan tidur sore…

kan kalau bisa menertawakan hal-hal itu bagus, katanya.

walaupun entah apakah di balik banyak tawa dan canda ada sedikit sedih dan kecewa, dengan atau tanpa air mata sambil kita sejenak menghilang setelahnya. dan kita bertanya-tanya apakah kalau seperti itu wajar dan tidak apa-apa.

.

tentang hidup orang sering bilang, ketika jatuh kita hanya perlu berdiri lagi. tidak salah. tersandung atau terbanting pada titik rendah, akan ada jalan naik. tidak salah juga. tapi semua itu kan perlu proses juga. kalau mau langsung berdiri terus berjalan langsung berlari, kalau seperti itu akan berat sekali.

tapi mungkin kita agak terlalu terbiasa dengan ingin bahagia dan tertawa, ya. padahal kan tidak selalu bisa seperti itu juga.

atau secara singkat: kadang-kadang susah, gila.

.

seorang rekan pernah mengungkapkan dengan rada kampret sambil menertawakan keadaan, bahwasanya konon kalau kita sedang waras merasa sehat, kita jadi cenderung suka memberi saran kepada orang-orang di sekitar kita. kalau sedang tidak merasa sehat justru malah tidak banyak kata-kata, katanya.

dipikir-pikir, ada benarnya juga. misalnya dalam keadaan kita terjaga pagi hari, kemudian banyak hal berlalu dan kita semacam tidak ingin bangun bahkan untuk bikin kopi, mau ngomong apa juga jadi tidak bunyi ke mana-mana.

saat-saat di mana konsep sederhana ‘bangun pagi dan memulai hari’ mendadak terasa seperti konsep intelektual yang aneh dan banal, dan memikirkannya saja membuat kita tidak ingin melakukan apa-apa. dan kemudian kita berpikir, ‘ini jam berapa’, sebatas angka-angka saja yang rasanya tidak bermakna.

tapi setidaknya, walaupun mungkin sebatas metafora, satu langkah saja dulu.

taruh satu kaki di depan. kemudian kaki yang lain di depannya.

kalau dibilang gampang sih bohong, ya. kadang sudah berdiri masih pula sedikit tersandung. jalan sedikit sesekali terjatuh dan lecet-lecet lagi. dengan semuanya itu, ada juga saatnya tersuruk dan masih ingin duduk sebentar dulu.

ya sudah, tidak apa-apa.

pelan-pelan, kalau sudah siap, coba bangun lagi. coba satu langkah lagi. kemudian selangkah lagi. lalu selangkah lagi.

apakah semua akan berakhir baik pada ujungnya, ya. mungkin. apakah semuanya itu akan membuat jadi lebih kuat dan tangguh, ya. bisa jadi. entah. mungkin nanti. tapi sekarang ini, satu langkah saja dulu.

taruh satu kaki di depan. kemudian kaki yang lain di depannya. istirahat sebentar kalau perlu.

kemudian berdiri lagi, mulai lagi, satu langkah lagi. seperti itu saja tidak apa-apa.

today I see many people

there are many things I learned by looking at people. for example, facades. so mundane, so ubiquitous, there were all facades of all kinds. enclosures. hearts hold secrets and uneasiness and pain. but, that’s okay too.

“you know, actually,” I remember someone saying, “most of the time, people are only trying their best in life.”

today I see many people. yesterday I met many people. none of them were perfect. nor am I. but that’s okay, too.

belakangan ini…

… saya sibuk. seperti biasa. atau mungkin lebih tepatnya menyibukkan diri. kadang-kadang bagus juga, jadi tidak sempat memikirkan hal-hal lain.

… entah kenapa pada suatu episode kesambet iseng menulis fiksi yang baru lalu. rasanya agak aneh; umumnya saya menulis sudut pandang pertama hanya terkait pengalaman pribadi.

… mengalami penurunan frekuensi latihan fisik dan teknik. kehilangan 200-250 push-up per hari kelihatannya berimbas juga badan jadi terasa berat.

… akhirnya bisa bertemu teman-teman lama yang datang dari berbagai tempat dan pulau Indonesia. menyenangkan. cukup banyak juga yang dibicarakan, cukup banyak juga waktu sudah berlalu.

… cenderung menarik diri dari media sosial dan diskusi grup. sisi buruknya, saya sempat ketinggalan beberapa berita. sisi baiknya, saya lebih bisa fokus ke banyak hal lain.

… jadi lebih suka minum kopi dan teh tanpa gula. rekan-rekan yang memperhatikan agaknya mafhum bahwa selera saya berubah. sekali waktu saya coba kembali menambahkan gula, kok jadi tidak enak, ya.

… mengurus perpanjangan domain dan hosting untuk situs ini. ternyata sudah sepuluh tahun saya menulis di sini, cukup panjang juga ya. beberapa orang mendapatkan tempat khusus dalam tulisan tersendiri.

.

.

.

… kemudian menyadari bahwa dalam waktu dekat akan sudah sampai bulan Oktober lagi. agaknya saya dan tempat ini sama-sama tumbuh tambah tua.

linimasa dan saya

belakangan ini, saya merasa sedikit jenuh. bukan dengan kehidupan atau karir atau keluarga atau hal-hal lain¬†pada umumnya —saya bersyukur saya masih bisa bangun pagi dengan tujuan dan bekerja keras untuk itu— tapi lebih ke arah hal remeh-temeh di sekitar saya. media sosial, misalnya.

beberapa pembaca mungkin paham bahwa saya cenderung memiliki hubungan benci-tapi-rindu [‚Üí] dengan media sosial [‚Üí]. memang seperti itu sih kenyataannya.

 

gunnersaurus-meme

I feel you, Gunnersaurus. I really do. (eh…)

 

kalau boleh jujur, saya sering merasa sedikit kehilangan sinyal dalam demikian banyak lalu-lalang informasi di sekitar saya. noise-to-signal ratio terlalu tinggi, demikian juga pendapat-pendapat yang demikian mudah berseliweran dan dibagi-bagi, entah seberapa valid atau matangnya fakta di baliknya.

kenyataannya, media sosial itu tidak representatif. mana mungkin anda bicara akar rumput, kalau naik angkutan kota [‚Üí] saja jarang sekali atau tidak pernah? mana mungkin anda bisa bicara Jakarta tidak takut [‚Üí], kalau berurusan dengan konflik di tengah kota saja masih nihil?

kenyataannya pula, banyak juga pendapat yang seringnya tidak didasari kemampuan atau proses belajar yang memadai pada bidangnya. bagaimana mungkin anda mau bicara ilmu agama tapi membaca kitab saja tidak lengkap? bagaimana mungkin anda mau bicara politik luar negeri kalau bacaan anda cuma media online? bagaimana mungkin anda mau bicara sains kalau pinjam jurnal dari perpustakaan saja cuma buat skripsi?

di dunia di mana suara-suara yang keras lebih didengar(kan), kita mungkin mulai kehilangan untuk mendengarkan hal-hal yang tidak dikatakan.

.

oleh karena itu, belakangan saya sendiri merasa semakin tidak antusias. Twitter sudah tidak pernah lagi saya gunakan, kecuali mungkin untuk tautan ke tulisan di sini. Facebook sudah jarang sekali saya scroll sampai ke ujung bawah halaman. Path dan Instagram praktis tidak pernah saya coba.

di luar itu, saya lebih banyak menghabiskan waktu dengan bekerja, entah apakah itu dengan tim di tempat kerja atau kegiatan sampingan atau hobi pribadi. membaca buku atau tulisan-tulisan panjang. latihan fisik dan teknik, kadang dengan beban, kadang dengan lantai dan tembok. hal-hal yang setidaknya ada hasil yang lebih bisa saya lihat, dengar, dan rasakan, setidaknya untuk diri saya sendiri.

yang sebenarnya mungkin ironis juga. di luar sesekali mengobrol santai dengan rekan-rekan dan menjalin komunikasi, hasil seperti demikian rasanya susah sekali saya temukan di sana.

kira-kira demikian

“terkadang aku berpikir, mengapa dia begitu kukuh bertahan menunggui satu hati?

…tapi mungkin dia juga berpikir, tidakkah melelahkan berpindah dari satu hati ke hati yang lain?”

 

(Zahra, dari ‘Grey dan Jingga’)

dari komik terbitan dua tahun lalu, yang sore ini terlihat tertumpuk pada sisi dalam lemari.

2015 (in pictures)

#1 /

awal tahun dan semangat tinggi: kira-kira setahun lalu. plus-minus 2-3 hari. bagaimana bisa bilang tidak ke makhluk ini?

 

#2 /

ide gila di tempat kerja? baiknya ditanggapi santai saja. dalam momen kira-kira mewakili rekan sesama profesional.

11020835_10206914798692291_5510674550099686516_n

 

#3 /

karena tidak ada menang atau kalah… sekalipun¬†kadang¬†saling marah, tetap¬†tak bisa¬†saling benci. eh apa gimana itu tadi?

lovecfea

 

#4 /

akhir pekan seperti biasa. seringnya disuruh ibu versi original, tidak keberatan juga kalau disuruh ibu versi lebih-seumuran.

mem-copy

 

#5 /

I’m getting (physically) stronger… I guess.¬†setidaknya dibandingkan tahun lalu. peralatan? terutama lantai dan tembok.

training

 

#6 /

belakangan ini, saya cenderung malas menggunakan media sosial. demikian salah satu alasannya…

wikipedian_protester

 

#7 /

mbaknya lagi sariawan. ceritanya sih begitu . . . okay. much better.

tumblr_lq9ivqlHIu1qfk6vyo1_400

 

#8 /

terakhir: sepanjang tahun ini, banyak hal-hal baik dari banyak orang, entah seberapa banyaknya saya yang begini ini bisa menyadari semuanya itu. demikian ini untuk anda semua: terima kasih!

thanksmom

 

_

2015: I think I’ve been a little bit happier… sort of.
2016: looking forward to it. right off the bat! 

on social media

we live in a world where people don’t always like us telling when we are a little happy and people don’t always like us saying when we are feeling sad.

but we sure don’t mind voicing our ‘anger’ and ‘wrath’, whatever, acting like self-proclaimed social justice warriors.

how complicated. =P

(un)surprisingly I don’t miss it all that much.

tentang kerja, cinta, dan idealisme

pada pekan belakangan ini, kebetulan saya beberapa kali mendapatkan tawaran pekerjaan penuh-waktu dari beberapa professional headhunter[1]. dalam konteks terkait saya ditawari pekerjaan, maksudnya. perkiraan rentang penghasilannya sendiri lebih dari cukup lumayan, demikian juga kualifikasi profesional saya pada dasarnya cukup memadai.

kalau secara pemikiran malas sih kira-kira sudah itu kriterianya relatif cocok, sudah tinggal dipilih, sehingga kalau mau dianggap sederhana, ya… kurang apa lagi?

 

good-great-manager

gambar tidak berhubungan … mungkin.

 

bukan pertama kali saya berada dalam situasi seperti ini. bukan pertama kali juga saya harus membuat keputusan terkait hal ini. demikian hingga saat ini, sehingga ketika harus memutuskan, jawaban saya masih tidak berbeda.

pada bulan-bulan yang sudah lama lalu, saya sempat bercerita kepada seorang gadis partner saya mengenai tawaran lain yang juga sampai ke saya. pada saat itu konteksnya terkait penawaran yang berbeda dari tempat yang berbeda, dengan rentang penghasilan yang lumayan pula.

dia tampak kaget dan terbingung-bingung ketika saya mengatakan bahwa saya tidak mengambil kesempatan tersebut.

“kenapa nggak diambil? itu kan lumayan banget, gimana sih.” ūüėģ

waktu itu saya cuma nyengir. saya ingat saya¬†mengatakan bahwa masih ada sesuatu yang harus saya… kami lakukan di sini, di tempat sekarang ini, dan belum waktunya buat saya untuk pergi.

dia tidak menyanggah. saya tahu bahwa kami saling paham.

kembali ke saat ini, ya… di satu sisi, ada kemungkinan tantangan baru, penghasilan baru yang lebih dari cukup lumayan, juga bakal¬†tim baru untuk melakukan hal-hal hebat dengan teknologi keren.

sementara di sisi lain, ada idealisme yang belum selesai. ada janji yang masih harus ditepati. ada perjalanan panjang, ada rekan-rekan yang bersama saya, dan kami sama-sama paham bahwa masih belum waktunya buat kami berhenti.

hal-hal seperti demikian juga menjadi pertimbangan dalam keputusan-keputusan yang saya buat.

karena ada juga hal-hal yang tidak selalu bisa dipahami dengan kalkulasi-kalkulasi pragmatis, entah itu terkait rentang penghasilan, model bisnis, atau apapun sejenisnya. buat saya ini juga sesuatu yang sifatnya di perbatasan personal dan profesional, sesuatu yang kalau mau dicari di mana batasnya juga bisa jadi malah bikin bingung sendiri.

“jangan terlalu idealis,” kata seorang kakak perempuan[2] kepada saya pada waktu yang lain. “kamu juga harus tahu kapan bisa, kapan enggak bisa. kalau enggak ya kamu juga enggak ke mana-mana.”

“aku tahu sih. tapi ini jangka panjang. pelan-pelan, kurasa bisa.”

saya ingat saya mengatakan demikian. ada sedikit optimisme di sana. ada perjalanan baru dimulai, dan ada seseorang yang sudah lebih dulu melangkah di hadapan saya.

“yah, kalau menurutku sih, kamu boleh idealis, kerja keras, lakukan yang kamu bisa. tapi jangan lupa, sisakan ruang untuk kecewa. serahkan sisanya sama Tuhan.”

doakan saja, kata saya. nyengir. dia cuma nyengir sambil sekilas mengatakan ‘dasar’ ke arah saya.

kembali ke soal idealisme. bukan berarti saya jadi serba kaku atau tidak fleksibel juga sih. tapi untuk saat ini, saya kira seperti itu saja dulu. kecuali mungkin…

iya, memang ada ‘kecuali’ di sana. eh, lho, kok?

sebenarnya begini, sih. untuk saat ini, satu-satunya hal yang bisa membuat saya berubah pikiran barangkali cuma kalau mendadak ada tawaran pada Kantor Staf Kepresidenan pada bidang Teknologi Informasi, misalnya. barangkali kalau¬†seperti demikian yang dilakukan di Gedung Putih[3]¬†bisa dilakukan untuk Indonesia —mungkin pula dengan kode terbuka dan data terbuka— saya kira akan jadi panggilan yang menantang dan seru sekali.

kalau ada seperti demikian, yah, agaknya akan jadi tawaran yang sungguh berat untuk saya tolak. saya sendiri berkeyakinan bahwa ada sesuatu yang pada dasarnya bisa dilakukan, bahwa kalau mau kita bisa, dan bahwa Indonesia punya lebih dari cukup modal untuk meraih itu semua.

tapi itu juga kalau ada yang menawarkan sih. lagipula geer amat sih saya. hehe.

mungkin soal idealisme juga. buat saya, untuk Indonesia saya kira adalah hal yang berbeda. tapi saya kira itu cerita lain untuk saat ini.

 

___

[1] individu-individu yang bekerja untuk perusahaan tertentu, bisa kalangan sendiri atau pihak ketiga, untuk menyaring kandidat profesional yang dianggap cocok untuk mengisi kebutuhan spesifik terkait managerial atau spesialisasi khusus.

[2] secara teknis bukan kakak beneran juga sih, walaupun secara praktis demikianlah kenyataannya. ceritanya agak panjang, pernah ditulis juga di sini sekali dulu.

[3] The White House’s Alpha Geeks [‚Üí] artikel menarik tentang wawancara CTO dan technical advisor di Gedung Putih. penugasan tim di sana meliputi implementasi teknologi sebagai jembatan lintas-disiplin untuk berbagai kebutuhan sektor publik di Amerika Serikat.

[4] image credits: