Category Archives: Personal

belakangan ini…

… saya sibuk. seperti biasa. atau mungkin lebih tepatnya menyibukkan diri. kadang-kadang bagus juga, jadi tidak sempat memikirkan hal-hal lain. … entah kenapa pada suatu episode kesambet iseng menulis fiksi yang baru lalu. rasanya agak aneh; umumnya saya menulis sudut pandang pertama hanya terkait pengalaman pribadi. … mengalami penurunan frekuensi latihan fisik dan teknik. kehilangan […]

linimasa dan saya

belakangan ini, saya merasa sedikit jenuh. bukan dengan kehidupan atau karir atau keluarga atau hal-hal lain pada umumnya —saya bersyukur saya masih bisa bangun pagi dengan tujuan dan bekerja keras untuk itu— tapi lebih ke arah hal remeh-temeh di sekitar saya. media sosial, misalnya. beberapa pembaca mungkin paham bahwa saya cenderung memiliki hubungan benci-tapi-rindu [→] dengan […]

kepikiran. iya.

“mau nangis boleh enggak? . . . ya enggak lah. anak laki-laki kok nangis. bego.” (LOL) i. because boys don’t cry and men only bleed. ii. it helps when it is raining.

kira-kira demikian

“terkadang aku berpikir, mengapa dia begitu kukuh bertahan menunggui satu hati? …tapi mungkin dia juga berpikir, tidakkah melelahkan berpindah dari satu hati ke hati yang lain?”   (Zahra, dari ‘Grey dan Jingga’) dari komik terbitan dua tahun lalu, yang sore ini terlihat tertumpuk pada sisi dalam lemari.

2015 (in pictures)

#1 / awal tahun dan semangat tinggi: kira-kira setahun lalu. plus-minus 2-3 hari. bagaimana bisa bilang tidak ke makhluk ini?   #2 / ide gila di tempat kerja? baiknya ditanggapi santai saja. dalam momen kira-kira mewakili rekan sesama profesional.   #3 / karena tidak ada menang atau kalah… sekalipun kadang saling marah, tetap tak bisa saling benci. eh apa gimana […]

on social media

we live in a world where people don’t always like us telling when we are a little happy and people don’t always like us saying when we are feeling sad. but we sure don’t mind voicing our ‘anger’ and ‘wrath’, whatever, acting like self-proclaimed social justice warriors. how complicated. =P (un)surprisingly I don’t miss it […]

tentang kerja, cinta, dan idealisme

pada pekan belakangan ini, kebetulan saya beberapa kali mendapatkan tawaran pekerjaan penuh-waktu dari beberapa professional headhunter[1]. dalam konteks terkait saya ditawari pekerjaan, maksudnya. perkiraan rentang penghasilannya sendiri lebih dari cukup lumayan, demikian juga kualifikasi profesional saya pada dasarnya cukup memadai. kalau secara pemikiran malas sih kira-kira sudah itu kriterianya relatif cocok, sudah tinggal dipilih, sehingga kalau mau dianggap […]

to kill a …

“how do you kill a good guy? feed him prolonged, deafening silence until good’s very last end. it f**king works actually.” girls only; bonus point when you are not his (traumatizing) first.

tak harus hilang, tak harus lepas

hari-hari ini, saya tak sengaja menonton lagi cuplikan adegan lama di film Ada Apa Dengan Cinta yang dirilis belasan tahun lalu dulu. menjelang akhir filmnya, kedua tokoh utama… yah, kecuali anda tinggal di dalam gua selama 15 tahun terakhir, sepertinya anda semua sudah tahu akhir ceritanya. nggak perlu dijelaskan, ya? nggak sih. saya cuma kepikiran […]

waktu tersisa

“dari dulu aku merasa, umurku nggak akan panjang. bapak dulu 46 (tahun), dan kalau bisa sampai lewat segitu saja buatku sudah bonus. apa lagi sih yang kucari? aku tahu waktuku nggak banyak. sudah nggak waktunya aku nggak bisa ikut kata hati sendiri.” Juni 2015; antara Halim dan Cinere, obrolan lintas generasi dalam perjalanan yang sesekali […]