Category Archives: Personal

sampul belakang

“cinta sejati adalah kenyamanan, kepercayaan, dan dukungan. kalau kamu tidak setuju, aku tidak peduli.” (Milea, 1990) dari sampul belakang novel di toko buku, siang ini. aku cuma geleng-geleng —bukan karena itu tak tepat, sungguh.

janji dan harga diri

“kadang takut ketemu orang kayak kamu. kamu nggak pernah kompromi kalau kamu sudah bilang janji. bikin takut. takut kalau suatu saat malah aku yang lupa atau ingkar janji.” “yah. kalau aku sudah nggak bisa percaya sama omonganku sendiri, aku mau percaya sama siapa lagi?” maaf, kelas dan didikan saya beda. tolong jangan dibandingkan dengan rata-rata […]

#qotd

“argh uah bledug jger duarrr” “arrgghh duarrrr kletuk kletuk” two people after two different meetings. just another adorably chaotic not-so-average day at work.

three years ago today

ed. note: today I stumbled upon an old note I wrote elsewhere on FB three years ago. it was in a hard day’s night with someone I remember. not exactly tender moments I’d say, but for sure it’s not something I have forgotten. Feb 22, 2012, 8:50 PM. thanks to Timehop. I ended up going […]

bittersweet

“iiih, jadi inget waktu jaman dulu kita bikin proyek ini, proyek itu… masih inget nggak? do you still remember?” “…how can I not?” pekan-pekan lalu, tentang tahun-tahun lalu. how can I not, indeed.

2014

seperti biasa, akhir tahun adalah waktunya refleksi. apa-apa yang sudah lewat kan perlu kita review kembali, soalnya kalau tidak bisa-bisa kita cuma terpenjara dalam peristiwa-peristiwa. sebenarnya ada sih istilahnya, ‘prisoner of events’, tapi┬ámungkin kapan-kapan saya menulis soal itu. ngomong-ngomong, berhubung konon katanya saya ini berkarakter teknis-kontemplatif, jadi baiklah! secara singkat tahun 2014 buat saya sebagai […]

saya dan jalan kaki

saya suka jalan kaki. sendirian. kalau orang-orang senang pergi dan berkumpul untuk ngobrol-ngobrol dengan teman-teman dan keluarga —piknik di taman atau kebun raya, misalnya— seringnya saya lebih suka jalan kaki, ditemani ransel di punggung dan sepatu kets yang kebetulan masih ada sisa umurnya. iya, jalan kaki. sendirian saja. kalau memungkinkan bisa juga berdua, tapi seringnya […]

ouch

“eh… nggak marah, kan?” ­čśÉ “…” silence is a girl’s deadliest weapon. ouch.

dari suatu sore menjelang akhir pekan

sore hari menjelang akhir pekan di tempat kerja, suasana seharusnya santai menjelang dua hari libur Sabtu dan Minggu ketika seorang partner dari departemen tetangga —seorang gadis yang usianya kira-kira sepantaran saya— menghubungi via telepon di meja kerja. “hei. kemarin aku ketemu Pak…” katanya sambil menyebut nama seorang direksi, kalau di tempat saya kira-kira termasuk top-level […]

a year restarted

“so, how is the Princess doing?” “the First is looking at me right now.” “and the Second?” “parted in the past suffice it to say.” we have a relationship so much mature beyond what may seem to be.