Category Archives: Scraps

belok kiri, dari Perth

lewat jam delapan malam waktu Australia Barat, atau lewat jam tujuh malam waktu Jakarta ketika lembaran customs —isian bea dan cukai sebelum memasuki negara tujuan— dibagikan oleh pramugari di kabin. tujuan Jakarta dalam waktu dua atau tiga jam ke depan, atau setidaknya demikian yang terakhir kuingat dari status penerbangan di layar di depan kursi. itu […]

americano dan hazelnut latte

dia duduk di dekat jendela, dengan secangkir kopi berada dalam genggamannya. anak muda, laki-laki, dua puluh tahunan awal. kacamata berbingkai setengah. rambutnya sedikit mencuat dan agak berantakan. dia mengenakan kaos dan celana kargo serta sepatu trekking, dengan ransel hitam diletakkan di dekat kakinya. aku merapi-rapikan rambut dan kacamataku dalam gerakan tanpa sadar. masih agak berantakan, […]

jembatan

O/I memasuki bulan Agustus¬†banyak hal terasa seperti melangkah dalam lumpur dan sedikit berat, tapi kalau diteruskan toh bisa-bisa saja kita mengarahkan diri ke tempat manapun itu kita mau pergi. di luar itu matahari masih bersinar terang, kalau hujan jadi sedikit kelabu, tapi ketika kita memikirkannya lagi itu semua pada dasarnya hal yang biasa-biasa saja. sesekali […]

akhir

“maaf.” bocah itu tercekat. suaranya keluar berat dan tersedak-sedak. genggamannya gemetar. tapi, sunyi. “maafkan aku. aku janji akan jadi anak baik. aku janji nggak akan marah-marah lagi. aku janji…” tak ada jawaban. si bocah mulai sesenggukan. rasanya mau pecah. matanya buram. basah. “aku janji. tolong jangan pergi. tolong…” sunyi. hanya genggaman yang semakin lama semakin […]

ku

“we all do what we can. protecting little shards of innocence, in a grey grey world.” _ . . . anak itu selalu bersikap seolah dia tidak punya banyak waktu. dia menuntut tempat. dia menggedor-gedor. dia berlari sekencang yang dia bisa. dia tahu dia akan cepat habis. dia tidak peduli. “masalahku adalah aku tak bisa […]

wejangan pak Himura

  formative lesson learned in formative years. 10+ years on. still living it.   _ dikutip dari serial manga Rurouni Kenshin; konteks asli dulu terjemahan bahasa Indonesia oleh Elex Media. alur panel menyesuaikan format asli dari kanan ke kiri.

cerita pekan lalu, pada cerita tahun lalu

prolog / 2014, Juni . . . 2015, Juli   “pacarmu nggak marah?” “oh, aku sudah bilang kok mau ketemu kamu.” “terus kamu bilang apa ke dia?” “aku bilang ada temanku, namanya—” dia menyebutkan namaku “—sudah lama nggak ketemu. terakhir cuma sempat dua kali.” aku tidak menyanggah. memang benar seperti itu sih kenyataannya. “tapi lucu […]

mei

aku menuliskan ini pada tanggal 14 Mei, dan untuk orang-orang yang paham tentang atau kebetulan tinggal di Indonesia, kurasa tanggal tersebut seharusnya tidak terlalu asing. untuk alasan yang tidak selalu baik, kukira. atau lebih persisnya: 13 dan 14 Mei. kalau kuingat-ingat lagi, setahun sebelumnya pada 1997 Persemakmuran Inggris mengembalikan Hong Kong ke Republik Rakyat Cina, […]

di dapur rumah ibu

/1 kalau ada saatnya di mana hal-hal kecil sederhana membuat kekacauan yang tidak seharusnya, inilah saatnya. pagi hari libur pada¬†akhir pekan panjang, aku sedang menuangkan adonan telur ke dalam lubang-lubang kecil di loyang yang sudah tertutup lembaran daging asap. kelebihan; campuran telur garam merica dan kecap inggris merembes, menyisakan tambahan pekerjaan lengkap dengan ekstra bau […]

bisa sendiri

kesalahanmu adalah kamu ingin dimengerti. yang sebenarnya, mana bisa begitu? bodoh. kamu dikutuk peduli, tapi tak boleh punya melankoli. ceritamu jadi beban. keraguanmu jadi penghakiman. beban buat mereka. penghakiman buat kamu. makanya, diam. kamu akan selalu punya kutukan. entah itu dari sisi meja kopi dan coklat panas, atau dari cerita-cerita tak penting yang kamu keluarkan […]