belok kiri, dari Perth

lewat jam delapan malam waktu Australia Barat, atau lewat jam tujuh malam waktu Jakarta ketika lembaran customs —isian bea dan cukai sebelum memasuki negara tujuan— dibagikan oleh pramugari di kabin. tujuan Jakarta dalam waktu dua atau tiga jam ke depan, atau setidaknya demikian yang terakhir kuingat dari status penerbangan di layar di depan kursi. itu sebelum kumatikan layar, entah beberapa belas menit lalu atau beberapa puluh menit lalu.

tidak ada bedanya juga. tidak ada yang menjemputku di bandara, tidak akan ada telepon atau pesan pendek, tidak akan ada apa-apa menungguku setelah pendaratan sehingga aku jadi tak terlalu memperhatikan waktu.

aku membolak balik lembaran putih dengan tepian biru. deklarasi barang-barang, alkohol atau rokok, lain-lainnya terkait batas nilai semua tidak ada dalam bawaanku. kupikir-pikir, biasanya juga aku tidak pernah membawa banyak bawaan ke mana-mana saja, dengan demikian isian sederhana umumnya mencukupi.

kuperhatikan penumpang-penumpang lain di sekitar tampak asyik menonton pilihan film dalam penerbangan atau mendengarkan musik. sebagian mencoba tidur. tidak ada yang membaca.

pandanganku kembali ke layar di depan kursi yang masih kubiarkan gelap. memang sengaja tak ingin kunyalakan.

.

“maaf ibu, boleh pinjam bolpennya?”

demikian aku bertanya kepada seorang ibu yang tampak baru menyelesaikan formulirnya di sebelahku. kutaksir usianya limapuluhan tahun, warga Indonesia, mungkin keturunan suku di daerah Sumatra, tapi demikian itu kira-kiraku saja jadi aku tak yakin benar.

dia menoleh. aku tersenyum sopan, dia membalas sambil mempersilakan aku menggunakan alat tulisnya. kuucapkan terima kasih, sambil lalu kami  berkenalan dan mengobrol sekilas tentang isian bea cukai dan bagaimana seharusnya mengisinya.

aku permisi sebentar dari obrolan untuk mulai mengisi formulir, setelahnya kukeluarkan berkas-berkas identitas dan mulai menuliskan isian dari nama lengkap dan nomor paspor.

.

“di sini kuliah?”

demikian pertanyaannya yang kujawab dengan sedikit tertawa setelah mengembalikan alat tulisnya. bukan pertama kali juga aku menemukan pertanyaan seperti demikian dalam perjalanan. mungkin ada hubungannya dengan penampilan juga bahwa saat itu aku mengenakan kaos FILA dan celana panjang khaki serta sepatu kets.

“ahaha, enggak lah. saya sudah kerja,” aku menjawab. “cuma kebetulan lagi ke Perth saja.”

kotanya nyaman, kataku. tidak terlalu ramai tapi modern dan rapi juga. kukatakan bahwa kesanku warga kotanya tergolong ramah, terutama di daerah yang sempat kujelajahi.

Perth. kota di daerah muara sungai di bagian barat Australia. dilalui oleh sungai Swan, membelah kota yang pada dasarnya berupa dataran rendah. juga merupakan ibukota negara bagian Australia Barat, tempat di mana sebagian besar urusan pemerintah dan juga kegiatan bisnis terpusatkan untuk kawasan tersebut.

sama sekali bukan kota tersibuk atau paling ramai yang pernah kukunjungi. tapi ada kesederhanaan dan identitas kuno bertemu dengan tatakelola kota modern dari negara maju menghasilkan kombinasi yang memberikan kesan tersendiri.

“kalau saya di sini, izin saya permanent residence,” ujarnya. “jadi warga tetap. kerja di sini juga, tapi bukan di kota. suami saya orang Australia.”

sudah lebih dari 10 tahun, katanya, dan dia sendiri tak terlalu sering pulang ke Indonesia. kalaupun pas pulang biasanya menyesuaikan Natal, tapi kali ini memang sedang ada urusan jadi akan pulang selama tiga pekan. menurutnya kadang agak repot kalau di Indonesia, tetapi dia juga belum ingin beralih kewarganegaraan ke Australia.

“orangtua juga masih ada. kalau ada urusan waris-warisan, susah kalau sudah jadi warga asing. mungkin setelah semua beres baru pindah warganegara.”

kupahami maksudnya bahwa sekiranya nanti orangtua meninggal dunia dan urusan waris sudah selesai, dengan demikian putus juga urusannya sebagai warga negara Indonesia. mungkin sesekali masih akan bertemu keluarga, tapi tidak akan lebih dari itu.

bisa dipahami, sangat manusiawi sekaligus sangat pribadi. aku mendengarkan untuk beberapa saat, beberapa hal agak terlalu pribadi jadi kuputuskan untuk tidak menuliskannya di sini.

aku ingat ketika di sela-sela waktu aku memutuskan untuk berjalan-jalan sendirian di antara Hay dan Murray Street. kuperhatikan ada satu-dua restoran Indonesia, dan satu toko bahan makanan Asia memampangkan tulisan SELAMAT DATANG di atas pintu kaca. bukan hal yang aneh, tapi yang kupikirkan waktu itu adalah seberapa dekat —atau jauhnya— orang-orang Indonesia di sana merasakan hubungan diri terhadap rumah. itu juga bukan hal yang sepenuhnya sederhana.

pada kesempatan lain aku menyusuri Adelaide Terrace dari arah Hill Street, dan sekilas kuperhatikan bangunan Konsulat Jenderal Republik Indonesia. bangunannya tidak tampak terlalu besar. seperti bangunan kantor pada umumnya saja, dengan desain yang resik dan rapi serta bendera merah-putih terpasang pada tiang di halaman depan.

“kalau masih sendiri, bagus juga cari kerja di sini, menetap. sudah punya pacar?”

“sedang tidak ada sih,” kataku sambil tertawa. “baru lepas juga kemarin. aduh.”

“waaah… kalau begitu ya mungkin sudah saja coba cari visa kerja. malah enak, ketemu suasana baru, teman-teman baru,” ujarnya, entah sedikit menghibur. “mungkin ketemu jodoh juga. kalau enggak mau bule, di sini orang Indonesia juga banyak, lho.”

aku hanya tertawa. kukatakan bahwa dulu ada rekan yang mirip seperti itu, setelah putus dari pacarnya terdahulu kemudian memutuskan pergi sendirian untuk merantau dan bekerja di luar negeri. mungkin baik juga untuk membuktikan diri, kataku, itu juga sempat terlintas di pikiran.

“kalau masih muda, masih sendiri, kalau Tuhan beri kesempatan kenapa tidak.”

aku mengangguk mengiyakan. mungkin nanti ke mana Tuhan membukakan jalan, kataku.

Perth adalah kota yang tergolong modern, tetapi secara geografis lokasinya bisa dikatakan terisolasi. kota besar paling dekat adalah Adelaide, kira-kira dua ribu kilometer jauhnya. demikian pula secara jarak, masih lebih dekat Perth ke Jakarta daripada ke Sydney atau Brisbane.

kota modern yang cenderung terisolasi, bisa terhubung walaupun tidak selalu mudah. tempat di mana bangunan-bangunan dengan identitas klasik berdampingan dengan arsitektur baru dan tatakelola modern. kupikir pada akhirnya aku sedikit paham; memang ada hubungan-hubungan di situ.

di satu sisi, kurasa kota ini juga seperti jadi cermin buatku.

 

lampu sabuk pengaman sudah dinyalakan untuk beberapa lama. kemudian bunyi roda dan guncangan ringan dan kami sudah mendarat di Jakarta. pengumuman lebih lanjut dari awak kabin menyampaikan bahwa untuk kali ini tidak ada garbarata atau terowongan tembus ke terminal kedatangan internasional.

kupikir, ya sudahlah. dengan segala baik atau buruknya, selamat datang kembali di Indonesia.

aku mengecek ulang bawaan dalam kabin, memastikan paspor dan isian bea cukai, kemudian untuk terakhir kalinya pamit untuk berangkat duluan kepada beliau di sebelahku.

“saya duluan, ibu,” demikian kataku. “terima kasih.”

“iya, silakan. sama-sama.”

dia melambaikan tangan dan kami berpisah ketika aku melangkah ke tangga turun.

.

di atas aspal bandara, kurasakan Jakarta sedikit berangin. tidak ada hujan. bus ulang-alik ke terminal kedatangan berada dalam beberapa belas meter dari tempatku berdiri. lampu-lampu menara tampak berkelap-kelip di kejauhan.

setidaknya kali ini tidak hujan.

telepon genggam masih kubiarkan mati. entah mungkin nanti akan kunyalakan lagi.

americano dan hazelnut latte

dia duduk di dekat jendela, dengan secangkir kopi berada dalam genggamannya. anak muda, laki-laki, dua puluh tahunan awal. kacamata berbingkai setengah. rambutnya sedikit mencuat dan agak berantakan. dia mengenakan kaos dan celana kargo serta sepatu trekking, dengan ransel hitam diletakkan di dekat kakinya.

aku merapi-rapikan rambut dan kacamataku dalam gerakan tanpa sadar. masih agak berantakan, tapi kurasa terserah sajalah. banyak hal tidak berubah, ya.

kukatakan ‘hei’ singkat, berbasa-basi sekilas. kemudian mengambil tempat duduk, demikian kami sama-sama menghadap ke luar jendela kaca.

dalam genggamannya, Hazelnut Latte —kopi rasa kacang, kataku— dalam cangkir sekali pakai. di hadapanku, secangkir Americano —kopi sok Amerika, katanya— dalam wadah berbentuk serupa.

konon katanya, kopi adalah metafora kepribadian yang menyesapnya. kali ini agak terbalik, pikirku.

.

“kau sudah tahu, kan?”

“sudah.”

baguslah, kataku. aku menyeruput kopi. sepotong tuna cheese puff —roti tuna keju— masih hangat dengan aroma yang khas di atas meja. kukatakan padanya untuk mengambil sebagian dari piring kalau tertarik, tidak masalah jadi santai saja.

dia mengangkat sebelah alis, merapikan kacamatanya, kemudian bertanya sekilas. “kesukaannya dia dulu kan itu?”

“begitulah,” jawabku kalem. “kalau mau boleh lho. mungkin kau ada pendapat juga soal itu.”

“penakut,” dia berkata, dingin. “tak pantas buatmu.”

aku tak menyanggah. tapi kukatakan juga bahwa tak selalu harus seperti itu. ada juga hal-hal yang tak selalu bisa dipahami. dunia memang penuh orang-orang bingung, kataku, dan dalam kebingungan itu banyak orang mungkin menyakiti yang lain secara kurang atau tidak perlu. entah seberapa sukarelanya mereka soal itu.

“walaupun mungkin,” kataku, “kau benar soal itu.”

aku menyeruput kopi dari cangkir kertas. rasanya sedikit pahit.

.

aku memperhatikan minuman di hadapannya. Hazelnut Latte. masa lalu, pikirku. masih dalam genggamannya. sementara di hadapanku secangkir kopi konon cara Amerika… Americano, kalau mau menyebutnya dengan sedikit pretensius, dipersiapkan tanpa tambahan gula.

kopi di hadapannya itu mengingatkan pada seorang gadis yang pernah kutemui sekali dulu. atau gadis yang pernah dia temui, sama saja, terserahlah.

demikian itu aku ingat pada suatu hari di akhir pekan, pada tahun-tahun yang lalu. obrolan panjang dan Hazelnut Latte di meja. kemudian tiga kata sederhana dari seorang gadis, yang kemudian berakhir dengan ungkapan maaf dari sisiku serta sedikit-banyaknya luka hati dari sisinya.

“kopi rasa kacang itu,” kataku, “kau masih mengingatnya, ya?”

“dia lebih berani. dalam banyak hal. lebih daripada gadis yang kau kenal.”

“yang akan kau kenal juga, maksudnya.”

dia mendengus.

“tak ada bedanya. buatku nilai seseorang itu dari apa yang dia katakan dan apa yang dia lakukan.”

tak ingin terdengar menghakimi, katanya. tapi kalau orang tidak bisa jujur, tidak bisa menghadapi diri sendiri terlebih pula orang lain, dia tidak melihat banyak harganya. kalau kau hidup dengan terus membawa sesal, apa gunanya juga.

“buatmu juga begitu, kan. kau tak ingin hidup dengan penyesalan. makanya kau lakukan semua itu.”

tidak salah. demikian buatku juga, dan aku tahu dia benar. aku mengangkat cangkir ke sisinya. dia menyambut.

bersulang dengan kopi dalam cangkir sekali pakai. lucu juga, pikirku.

.

“itu tidak mengubah keadaan,” katanya. “yang dia lakukan itu jahat. oke, tidak secara harfiah. tapi aku mungkin akan sudah membencinya.”

“untuk ukuran anak muda sebelum waktunya, kau cukup tahu referensi  populer jaman sekarang, ya.”

“ya, ya, ya, terserahlah.”

“baiklah. omonganmu itu ya, mungkin,” jawabku. “tapi seperti kukatakan tadi, banyak orang juga bingung. hal-hal kompleks dan membingungkan, emosi tumpang tindih. kadang orang cuma mencari jalan keluar yang bisa mereka lihat. entah seberapa nyamannya itu buatmu, atau buatku.”

aku merasakan emosinya naik.

“justru itu kan?!” sergahnya, “tidak ada yang diselesaikan, pertanyaan-pertanyaan tidak terjawab, berharap semuanya beres, macam roti atau tapai ditinggal basi? kau merasa itu adil buatmu?”

berat buat dia mengeluarkan beban itu semua. aku menghela nafas. aku paham soal itu.

“aku tak bilang aku tak setuju. tapi kenyataannya, tidak semua orang bisa seberani kamu, atau aku.”

dia membuang pandang, melemparkan kata ‘payah’ dari mulutnya, dengan seberkas ekspresi muak yang kupahami dengan baik.

aku paham sekali maksudnya. benar-benar paham. bahwa kadang, dengan orang-orang bersikap bingung —atau meminjam kata-katanya, bodoh atau payah— seringnya menimbulkan luka yang tak selalu perlu. kadang mungkin lebih dalam dari yang seharusnya. dengan atau tanpa pertanyaan-pertanyaan tak terjawab yang mungkin menyertainya.

“kau masih ingat Putri? the 2nd Princess?”

“aku tidak ingat,” dia menjawab dingin. “apa urusannya dia dengan ini semua?”

“mungkin dia juga sama.”

dia membuang pandang. tapi aku juga tahu bahwa kekecewaan dan kata-kata pedasnya itu bukan tidak ada benarnya.

.

“yang ingin kukatakan adalah,” kataku, “bahwa mungkin kau tidak setuju dengan beberapa hal, tapi dalam banyak hal kebetulan aku sudah melangkah duluan, sementara kau belum sampai sana. ada hal-hal yang—”

“apanya? omong kosong.”

dia tersenyum tipis, hampir sinis malah. kemudian dia melanjutkan menjawab balik dengan telak.

“kau bilang hal-hal seperti itu, sok dewasa dan sebagainya. padahal kau juga mulai keropos. terlalu banyak pengalaman, terlalu banyak pertimbangan. kau jadi kehilangan sisi yang bisa melihat dengan jelas.”

dia terus memburu. “lagipula, menurutku kau jadi tidak jelas,” tetaknya. “maumu apa? kau tidak bisa mengatakan seolah hal-hal jadi baik karena kau mencoba memahami orang-orang bingung. buatku itu bodoh.”

sunyi, tidak terduga. kali ini aku tahu bahwa dia benar, dan aku tidak punya jawaban untuk itu. entah berapa lama kami hanya saling diam. tidak ada sahutan, tidak ada jawaban.

tapi kemudian aku tersenyum.

“. . . karena itu kau ada di sini, kan?”

“karena itu kita ada di sini.”

“terima kasih, ya.”

dia tampak tertegun. aku tahu ini juga bukan hal yang biasa buatnya. sekali lagi, untuk beberapa saat tidak ada kata-kata keluar di antara kami.

tapi aku tahu, dia benar. dan untuk itu pada akhirnya aku paham; langkah yang lebih jauh tak selalu berarti selamanya lebih bernas dan bijak. penanda tak terhalang waktu pada saatnya demikian berharga.

aku tersenyum. dia tampak sedikit bingung untuk beberapa saat, tapi pada akhirnya dia tampak paham.

“sudah, aku pergi dulu. suatu hari, suatu saat, mungkin kita akan ketemu lagi.” aku menepuk bahunya, sekali, kemudian mengangkat ransel siap melangkah pergi. “pokoknya, terima kasih. sampai ketemu lagi, bocah.”

tersenyum tipis, dia hanya memberikan jawaban singkat; “kapan saja. jangan sampai kau jadi karatan.”

aku melangkah pergi. dia masih sebentar lagi. di meja, roti tuna serta Hazelnut Latte dan Americano sama-sama sudah tinggal remah dan sisa.

jembatan

O/I

memasuki bulan Agustus banyak hal terasa seperti melangkah dalam lumpur dan sedikit berat, tapi kalau diteruskan toh bisa-bisa saja kita mengarahkan diri ke tempat manapun itu kita mau pergi. di luar itu matahari masih bersinar terang, kalau hujan jadi sedikit kelabu, tapi ketika kita memikirkannya lagi itu semua pada dasarnya hal yang biasa-biasa saja. sesekali kalau kita mendengarkan, ada juga suara burung-burung berkicau sampai jam sembilan-sepuluh pagi, setelahnya sepi dan suasananya jadi tenang sekali.

aku membaca surat-surat masuk yang kuambil dari kotak pos dan sambil lalu terhirup wangi kertas bercampur aroma lem yang rasanya khas. suara anak-anak kecil berlarian sambil bermain mobil-mobilan Tamiya terdengar sayup-sayup, sesekali ada juga tukang es krim lewat dan tiba-tiba jadi ramai sebentar lalu kemudian hening kembali.

aku membolak-balik lembar-lembar amplop. penawaran barang elektronik dikirimkan ke alamat ini. kartu pos dan telegram dari beberapa kenalan dan kerabat. satu amplop lainnya surat dari tempat yang jauh dengan nama yang kukenal.

surat itu dari Ina. aku menyandarkan diri ke sisi tempat tidur, memejamkan mata dan menarik nafas, membuka amplop dengan satu guntingan rapi dan mengeluarkan isinya.

terima kasih atas suratmu, katanya.

“senang rasanya kamu masih ingat waktu terakhir kita ketemu. waktu itu kamu bilang akan kirim surat dan waktu kamu benar mengirimkannya rasanya senang sekali. kupikir kamu lupa. atau salah perangko. rasanya cemas berlebihan sekali, ya. bagaimanapun aku ini perempuan jadi sedikitnya aku merasa malu juga.

“di sini sekarang musim panas, orang-orang memakai baju tipis tapi buatku tetap saja masih agak dingin. kemarin aku pergi ke kedutaan dan di sana ada acara pertemuan dan makan-makan. senang rasanya banyak dengar bahasa sendiri. ada bendera juga dan aku jadi ingat kamu, tapi rasanya aneh juga karena kamu dulu malas sekali ikut upacara. demikian itu membuat jadi kangen rumah juga.

“waktu aku baca suratmu waktu itu sore hari di kamarku rasanya senang sekali campur sedih sekali. aku ingat bapak dan ibu dan adik-adik, tapi waktu ingat kita makan bubur kacang hijau di warung malam-malam hari begitu rasanya sedikit nelangsa. aku kangen bubur kacang hijau juga, di sini tidak ada. tapi semakin lama terbiasa juga, jadi tidak separah waktu masih baru dulu.

“tapi pada umumnya aku senang. di sini waktu berlalu cepat, mungkin karena kami semua sibuk. tugas-tugas seperti biasa, tapi taman dan jalan-jalan di sini indah dan dirawat baik jadi kitapun nyaman. minggu lalu aku naik sepeda menyusuri jalan dan memperhatikan taman-taman bunga yang kutemui, kita bisa bersantai sambil berjemur atau baca buku atau mengobrol dan itu hal yang wajar. di sini menyenangkan, tapi rumah juga menyenangkan lagipula di sini tidak bisa ketemu kamu juga. ibuku tanya kabarmu, kalau sedang sempat kurasa baik juga kamu main ke rumah.

“ngomong-ngomong, keponakanmu yang kembar itu lucu sekali! nanti kalau pulang aku mau main ke sana. sekalian aku mau ketemu adik barunya. nanti antar aku, ya.”

 

“salam sayang,”
“Ina”

aku membacanya sekali lagi, lalu melipat halaman-halaman surat tersebut seperti bentuk aslinya. kemudian aku pergi ke dapur dan menjerang air untuk menyeduh kopi. pada masa demikian ini kopi hanya semacam tubruk atau Torabika yang cukup murah dan cukup enak dengan gula secukupnya. selesai demikian aku kembali duduk di lantai bersandar ke sisi tempat tidur.

kertas surat itu wangi. gadis itu menitipkan aroma parfum kesukaannya melintasi sebagian muka bumi.

 

I/O

“eh, Di. nama tante kita itu… bukan Ina, kan?” pemuda itu bertanya kepada saudaranya.

“bukanlah. pertanyaan apa itu.” pemuda satunya lagi menjawab.

bongkar-bongkaran dan tumpukan kardus tertata tidak rapi menunggu dikembalikan ke tempat seperti seharusnya. surat-surat dan album foto tertumpuk di satu sisi lemari. debu bertumpuk-tumpuk, mesin jahit lama dan pot keramik berwarna hitam-merahtua bersisian di pojok terhalang tangga.

“… penasaran tidak sih.”

“iya. sedikit.”

sinar matahari sore menerobos melalui kaso dan lubang angin dan pintu yang dibiarkan sedikit terbuka. gantungan kunci Donal Bebek yang berusia belasan tahun bergoyang-goyang tertiup angin siang hari pada akhir pekan.

di sisi lemari, lembar-lembar foto dua orang anak kecil berusia dua tahun tampak berhenti dititipkan waktu.

akhir

“maaf.”

bocah itu tercekat. suaranya keluar berat dan tersedak-sedak. genggamannya gemetar.

tapi, sunyi.

“maafkan aku. aku janji akan jadi anak baik. aku janji nggak akan marah-marah lagi. aku janji…”

tak ada jawaban.

si bocah mulai sesenggukan. rasanya mau pecah. matanya buram. basah.

“aku janji. tolong jangan pergi. tolong…”

sunyi. hanya genggaman yang semakin lama semakin kebas.

kemudian satu sentakan, dan sakit; bocah terjatuh berlutut. genggamannya terlepas.

bocah itu duduk tergugu.

“maafkan aku. maaf. maafkan aku, aku nggak mau…”

tolong jangan pergi.

“aku… aku…”

maafkan aku, kak. maafkan aku. maaf….

“HUAAAAAAA…”

suara itu terdengar perih. hanya suara bocah yang terdengar. perih.

dan bocah itu kemudian sendiri.

.

pemuda itu terbangun. bocah yang dulu kini kembali.

dan masih, seperti dulu-dulu lagi, kembali meninggalkan jejak basah dan pandangan yang lantas buram di sisi tempat tidur pada subuh dini hari.

ku

“we all do what we can. protecting little shards of innocence, in a grey grey world.”

_

. . . anak itu selalu bersikap seolah dia tidak punya banyak waktu.

dia menuntut tempat. dia menggedor-gedor. dia berlari sekencang yang dia bisa. dia tahu dia akan cepat habis. dia tidak peduli.

“masalahku adalah aku tak bisa terlalu sabar,” katanya, dengan pandangan muram sambil mengikat tali sepatu. “mungkin bakat keluarga. umur ayah dan kakek-kakekku tak pernah panjang.”

bukan berarti kau akan cepat mati juga kan itu, kataku.

“mungkin akan. aku tak peduli-peduli amat juga. aku cuma perlu melakukan semua yang aku bisa, semua yang aku perlu. semuanya sebelum itu.”

kalau waktunya tak cukup?

“itu masalahnya. sekarang kau paham, kan.”

.

kau tahu hal yang menyebalkan, katanya. kalau kita sadar tidak punya banyak waktu sementara orang-orang kelihatan seperti membuang-buangnya, rasanya menyebalkan betul.

“aku pernah punya sejarah buruk soalnya.” dia berkata. “paru-paruku. anggap saja mesinnya pernah rusak. rasanya tidak terlalu enak.”

kukatakan bahwa itu sepertinya bukan hal yang bisa mudah dipahami banyak orang. dia hanya angkat bahu.

aku menunggu dia melanjutkan.

“waktu itu aku masih kuliah. jadi anak kos. malam-malam, sendirian, mungkin dini hari. waktu itu aku terbangun, rasanya seperti setiap tarikan nafas itu sia-sia. kemudian kepala pusing. pandangan berkunang-kunang. kemudian aku terpikir: ya Tuhan, sepertinya aku kekurangan oksigen. ya sudahlah.”

“kurasa aku sedikit takut. waktu itu yang terpikir, ‘oh iya, sudah mau minggu UTS’. bodoh benar. waktu itu dini hari, dan aku sampai tertawa sendiri saking ironisnya.”

dua pekan dirawat, katanya, setelah menyeret diri (dan ternyata masih hidup) keesokan harinya. dua per tiga paru-paru ditemukan sudah terendam oleh produksi cairan berlebih atau apapun itu yang akhirnya harus dialirkan keluar lewat punggung.

ditusuk, katanya. dengan muka datar.

.

dia merapikan kacamatanya. belakangan ini dia beberapa kali mengatakan sisi kanannya agak buram. banyak tergurat, sepertinya. mungkin sudah waktunya diganti.

“sepatuku juga sudah mulai jebol lagi. kurasa aku juga belum ingin menggantinya. hal-hal seperti itu membuatku terpaksa berhenti, jadi memikirkan banyak hal. aku tak terlalu suka itu.”

sepatunya cuma sepasang, demikian juga kacamata hanya satu yang dipakainya. mungkin terkait kecenderungan untuk setia soal banyak hal, katanya. muram. entah itu hal yang baik atau buruk.

termasuk untuk hal-hal yang sedang dan akan dilakukannya.

“kalau aku bisa melakukan sesuatu yang sedikit bagus, mungkin meninggalkan sedikit sesuatu yang akan bertahan buat beberapa lama. buatku cukup.”

sebagian sudah. masih belum selesai. masih ada yang harus dilakukan. masih ada yang harus diselesaikan. entah seberapa banyaknya yang tersisa, dengan atau tanpa orang-orang lain di sisinya.

“kata mereka aku ini bocah idealis. kurasa aku cuma menemukan itu sebagai sarana untuk memberontak. mungkin bagus juga seperti itu.”

dia tak suka kalau tak melakukan sesuatu. dia ingin melakukan semua yang dia bisa selagi masih ada waktu. hal-hal yang, meskipun demikian, tidak selalu orang lain melihatnya seperti itu.

buat dia seperti itulah kenyataannya.

“dari dulu juga aku sering disalahpahami,” katanya sambil sekilas angkat bahu. “cuma sudah agak lebih terbiasa sekarang.”

.

kalau waktumu tak banyak, kau jadi tidak mau sembarangan. kalau bisa… kau ingin melakukan hal-hal yang berguna dan perlu. menyisihkan waktu untuk mereka yang berharga. menemukan cara untuk bisa bersama seseorang yang penting buatmu. kau tidak ingin lagi memikirkan batasan-batasan.

“setiap kali aku melihat orang-orang membuang waktu, menumpuk sesal sambil pelan-pelan kehilangan diri sendiri, rasanya sedikit sedih. aku tahu umurku tak akan panjang. aku tak mau seperti itu.”

“dengar. sekarang ini, untuk hidupku sendiri, aku bisa semuanya sendiri. dari dulu juga seperti itu. kalau tidak seperti itu, aku tidak akan bisa melakukan apa-apa.”

sekalipun harus semuanya sendiri. sekalipun mungkin akan kehabisan waktu.

“ada hal-hal yang harus kulakukan. ada tugas yang masih belum selesai. ada keinginan, tujuan… idealisme atau apapun itu kata mereka, yang masih harus kuselesaikan. kalau aku cuma diam saja, tak akan jadi apa-apa juga.”

dia terdiam sejenak, sebelum akhirnya mengakhiri dengan dua kalimat;

“batas itu, seperti teman lama. aku cuma harus melakukan semua yang aku bisa sebelum itu.”

kemudian hening, lama. sudah waktunya berangkat lagi.

dia tidak akan berlama-lama berhenti. dia akan harus pergi lagi, berlari lagi, entah ke mana nanti semua itu akan membawanya kembali.

seperti meteor jatuh, barangkali. kuat, pijar, barangkali brilian, tapi tak akan lama. lalu habis terbakar. mati.

mungkin buat dia memang lebih baik seperti itu.

wejangan pak Himura


no matter how great the skill of the Hiten Mitsurugi-ryuu, no matter how I tried to raise my own skill, one man can't hope to change an era alone.   and he certainly can't bear the burden of man's happiness alone... the only thing he can do is protect the happiness of the people he sees before him, one by one.

 

formative lesson learned in formative years.
10+ years on. still living it.

 

_

dikutip dari serial manga Rurouni Kenshin; konteks asli dulu terjemahan bahasa Indonesia oleh Elex Media. alur panel menyesuaikan format asli dari kanan ke kiri.

cerita pekan lalu, pada cerita tahun lalu

prolog /
2014, Juni . . . 2015, Juli

 

“pacarmu nggak marah?”

“oh, aku sudah bilang kok mau ketemu kamu.”

“terus kamu bilang apa ke dia?”

“aku bilang ada temanku, namanya—” dia menyebutkan namaku “—sudah lama nggak ketemu. terakhir cuma sempat dua kali.”

aku tidak menyanggah. memang benar seperti itu sih kenyataannya.

“tapi lucu juga sih ya,” aku menukas santai, “sejak terakhir kita ketemu, kamu baru putus. terus sendiri, terus sudah pacaran lagi, lalu sudah putus lagi, dan sekarang sudah jalan sama orang lain lagi…”

dia tampak cemberut seolah hal seperti ‘sudah punya pacar lagi’ itu semacam hal yang tidak ingin dia ungkit benar.

“…sementara aku masih belum juga pergi dari gadis yang sama. wah. kupikir apa aku ini setia banget ya.”

“bukan berarti aku nggak setia begitu juga sih ya,” dia menyanggah sedikit sebal. lalu melanjutkan; “kamu, masih yang dulu?”

“masih yang dulu.” aku menjawab.

 

1 /
matilda

 

2014:

“sudah di lokasi. kalau lihat ada cowok keren pakai kacamata, disapa saja, ya.”

demikian pesan pendek setengah bercanda yang kukirimkan lewat telepon genggam. waktu itu Sabtu siang. aku duduk pada undakan yang terbuat dari tegel keramik hitam di sisi kolam, membelakangi air mancur yang bergemericik ringan. orang-orang ramai, sebagian berbelanja, sebagian lain berjalan-jalan. beberapa yang lain tampak duduk-duduk di undakan serupa tak jauh dari tempatku.

aku menangkupkan telapak tangan, memandang ke lantai. menunggu. satu menit, dua menit, tiga menit…

“heiii.”

aku menengadah. seorang gadis dengan baju dan rok terusan putih berdiri di depanku. anaknya manis, dengan kulit sedikit gelap dan rambut sebahu yang dibuat potongan bob yang rapi. dia mengulurkan salam. aku menyambutnya.

“hei, cil. rapi bener.”

“baru dari gereja tadi,” dia tampak merapi-rapikan roknya, “ini jadi rapi banget sih.”

“bagus kok begitu.”

namanya Matilda. resminya dipanggil ‘Tilda’, tapi kalau orang-orang sedang iseng sering juga dipanggil ‘Mamat’. jangan tanya kenapa, aku juga bingung.

aku sendiri biasa memanggilnya dengan sepotong ‘cil’. sekali lagi, jangan tanya kenapa. aku juga bingung dulu bagaimana ceritanya. pokoknya begitu.

 

2015:

“temui aku di tempat kita pertama kali ketemu dulu. oh, dan bateraiku sudah mau habis. kalau sudah nggak ada jawaban, kamu sendirian, ya.”

“cih. oke.”

demikian rangkaian pesan pendek dan jawabannya yang kukirimkan dari tempat yang sama, setahun kemudian.

tempat ini tidak banyak berubah. lampu-lampu terang, air mancur di belakang sisi undakan dari tegel batu dan keramik, serta aku yang sekali lagi duduk di sana, sendirian. kadang hal-hal kecil dalam hidup rasanya seperti metafora sekali. maksudku, seperti sekarang ini. banyak hal-hal berubah, beberapa hal tetap.

aku menunduk, menyilangkan jari-jari di telapak tangan. menunggu.

“yuuuudd.”

aku menengadah. tersenyum. dia tersenyum balik dan melambaikan tangan. hari itu dia mengenakan jaket dan celana panjang berbahan jins. senyumnya tidak banyak berubah, walaupun kalau diperhatikan benar tampak dia sedikit letih. bukan hal yang tidak wajar, pikirku…

“J.Co?”

“boleh. kita ngobrol saja, ya. aku nggak ikut minum.”

pada Jumat siang di bulan Juli, masih dalam hari pada bulan puasa ketika kami bertemu. kira-kira lewat tengah menjelang sore hari. cuaca terbilang panas dalam perjalananku tadi, dan dengan keadaannya sekarang ini, kurasa demikian dia cepat bisa duduk dan beristirahat akan lebih baik.

“huah, panas. sekalian aku perlu minum obat. maaf ya.”

kukatakan santai saja, lagipula toh aku juga sedang puasa. masih cukup lama sampai waktu berbuka, dan kalau bisa sambil ngobrol santai sebelum kami berangkat lagi kurasa cukup.

tapi kata-kata terakhirnya itu, ada ceritanya sendiri.

 

2 /
lymphoma . . . and everything else

 

2014:

kami menghabiskan siang hari sambil membicarakan —di antara banyak hal lain— tentang rencana ke depannya terkait kepindahan kerja ke sebuah firma konsultansi internasional. pada dasarnya ini merupakan pengalaman baru buatnya. pendekatan empiris dan angka-angka untuk memetakan strategi bisnis, kira-kira demikian hal-hal yang sedang dan akan dihadapinya dalam pekerjaannya tersebut.

sejauh ini menyenangkan, katanya. tapi harus sering pergi dan kadang-kadang capek juga. pada saat kami mengobrol salah satu penugasannya meliputi banyak perjalanan dalam kota yang jaraknya lumayan jauh dan sering menghabiskan waktu tersendiri.

“kamu anak teknik sih, jadi seharusnya nggak susah buat pindah ke consulting,” demikian kataku. “buatku juga bidangnya menarik. kadang penasaran juga.”

aku lantas melanjutkan, “cuma ya sepengetahuanku sih pekerjaannya bakal menuntut sekali. kamu kalau mau menikah perlu dipikirin tuh, nggak semua cowok bisa paham cewek-cewek mengutamakan karir, kan.”

“aku baru putus kemarin.”

“eh?”

kemudian dia bercerita sedikit panjang tentang keadaannya saat itu. bukan persis ‘kemarin’ juga dari saat kami mengobrol, entah mungkin sudah beberapa minggu atau satu-dua bulan sudah berlalu. bukan tak ada juga yang mendekati setelahnya —ada seseorang, katanya— tapi kurasa mungkin dia juga merasa belum saatnya untuk memulai lagi.

beberapa saat dalam percakapan kemudian dia menanyakan tentang keadaanku. kujawab dengan kira-kira singkat dan jujur sesuai keingintahuannya.

ada seseorang, kataku. kuceritakan sekilas bahwa keadaan kami kira-kira tidak jauh berbeda.

 

2015:

“aku sempat cerita sedikit tentang kamu ke dia,” demikan kataku. “nggak sampai mendetail banget sih. aku cuma bilang, ada temanku,  diagnosis CA[1]. lymphoma[2].”

aku menyandarkan punggung di kursi, memejamkan mata, kemudian melanjutkan. “dipikir-pikir lagi, banyak hal berubah, ya.”

meja kayu dicat gelap. lampu kuning sedikit redup. sofa yang tidak terlalu empuk. gadis di depanku menggenggam gelas berisi teh dingin. di dekatnya sepotong donat terletak di sisi meja.

aku ingat bahwa dalam bulan-bulan sebelumnya dia mengabarkan bahwa kondisinya tidak begitu baik. dalam waktu singkat diketahui prognosis[3] berupa kemungkinan TB kelenjar atau lymphoma, dan dalam observasi lanjutan ditemukan diagnosis seperti yang kusebutkan barusan.

lymphoma malignum hodgkins. kanker getah bening.

tapi dia sendiri bukan tipe yang senang menderita atau tampak sedih juga. walaupun kalau dari ceritanya, rangkaian sesi kemoterapi itu jelas bukan sesuatu yang menyenangkan. apalagi ditambah patah hati pula, katanya sambil tertawa.

“aku sambil minum obat, maaf ya. kamu kan lagi puasa juga.”

“santai saja.”

aku memperhatikan kapsul dan tablet yang dikeluarkannya dari bungkusan. cukup banyak.

“hal-hal seperti ini bikin kepikiran ya…” kataku. “di depanku ada orang seperti kamu, lymphoma dan semuanya, problemku kayak gimana juga rasanya jadi kayak nggak pantes juga.”

“mana bisa begitu,” dia menyanggah. “masalah orang kan beda-beda. terus kalau aku sakit kamu jadi nggak boleh curhat, gitu?”

aku memandangnya. mencoba tersenyum. entah, ya…

 

3 /
indonesia mengajar

 

2014:

Lamdesar. demikian nama desa di Maluku yang kemudian kuketahui berada di sisi selatan dari bagian timur Indonesia. penugasannya dalam program Indonesia Mengajar[4] memberikan waktu cukup lama untuk tinggal di sana, mengajarkan banyak hal dan belajar banyak hal pula. kalau di sana dulu panggilannya ‘ibu Tilda’, tapi kurasa kalau kita mengajar anak-anak SD tentunya dipanggil ‘bapak’ atau ‘ibu’ itu sesuatu yang wajar saja.

“sekarang kamu tulis surat.”

“apa ini?”

“buat anak-anakku di sana,” katanya. “mereka kelas enam, mau lanjut ke SMP. aku mau mereka bisa semangat.”

dia menyebut anak-anak didiknya dengan kata benda kepemilikan seolah mereka itu benar anak-anaknya. mungkin tak masalah kalau seperti itu juga; seringnya tak selalu perlu banyak syarat untuk bisa jadi keluarga, bukan.

“jadi aku harus tulis apa?”

“apa saja. aku mau mereka punya cita-cita. kalau ada orang-orang seperti kamu bisa bilang ke mereka bahwa mereka juga bisa kalau berjuang dan berusaha. seperti itu saja nggak apa-apa.”

“hmm.”

aku berpikir. memutar-mutar bolpen di tangan, mengira-ngira apa yang akan kutuliskan pada lembar-lembar kertas surat yang diberikannya. cita-cita, ya… untuk seorang anak, itu juga sesuatu yang kurasa cukup penting. bagaimanapun menuliskan hal seperti ini juga tidak mudah; aku paham bahwa sebagai orang dewasa kita tidak selalu bisa berbicara dengan bahasa anak-anak. dan kalau seperti itu seringnya pesan kita tak akan tepat tersampaikan pula.

saat itu siang hari menjelang sore. di dekat konter satu-dua petugas toko berlalu-lalang, di sisi kananku dari dekat pintu dan jendela kaca sinar matahari pukul dua-tiga sore menyusup masuk sedikit hangat. aku memperhatikan gadis di depanku mengambil sepotong pizza yang dipanggang tipis dengan taburan daun basil di atasnya, sekilas mengatakan ‘ini enaaaakk’, sambil kemudian nyengir sendiri.

dunia yang jauh berbeda, pikirku. kutuliskan surat sebisaku, berharap bisa dipahami dari sisi dunia anak-anak yang tiba-tiba terasa jauh sekali dari tempat kami berada.

 

2015:

menjelang pukul lima sore. kira-kira satu jam menjelang waktu berbuka puasa, dia mengajakku untuk pindah ke tempat yang masih kuingat dengan baik dari terakhir kali setahun sebelumnya.

“ini kan tempat kita dulu,” katanya sambil berjalan melewati konter. kemudian sambil lewat dia memegang kursi di sisi salah satu meja. “tempat duduknya juga persis di sini. hehe.”

aku tersenyum. dia mengatakan pokoknya dia mau pizza, pokoknya yang enak dan pokoknya kami bisa mengobrol lama seperti dulu.

dia mengambil tempat duduk di sisi meja yang ditunjuknya, dan demikian aku mengambil tempat di seberangnya. dia benar; persis seperti terakhir kali, ya… bedanya kurasa waktu itu masih siang dan tentu saja saat itu kami tidak sedang menunggu waktu berbuka puasa.

“aku mau kamu tulis surat buat Lini.”

“hah?”

“iyaa, aku mau kamu tulis surat lagi. kayak dulu. di sini.”

pada saat itu aku sudah mendengar cerita tentang Lini darinya. Lini, demikian panggilannya, adalah seorang anak didiknya dari Maluku yang saat ini sedang berada di Jawa untuk melanjutkan pendidikan di sekolah menengah atas. demikian dengan semuanya itu tentunya bukan hal yang selalu mudah untuk seorang anak gadis berusia belasan tahun untuk pindah dan belajar di tempat yang baru dan berbeda, dan sedikitnya dia ingin bahwa anak itu tidak perlu merasa sendirian.

“kok lama banget?”

“eh, ini masalah serius, gimana sih.” aku menjawab dengan muka datar. “apa yang akan kukatakan ini kan bisa menentukan masa depan seorang anak. mana bisa sembarangan.”

“iya sih.”

“kok kamu langsung setuju sih?”

“zzz. udah cepetan.”

pada akhirnya aku menuliskan surat pada halaman-halaman buku catatan kecil untuk anak itu. aku berharap bahwa betapapun mungkin kecilnya, setidaknya ini bisa berguna untuk seorang anak yang sedang menuju dunia baru. aku berharap bahwa di tempat yang bisa jadi asing buatnya, setidaknya dia tahu bahwa ada orang-orang yang tidak ingin meninggalkannya begitu saja.

 

epilog /
plus ça change, plus c’est la même chose

 

kami berpisah di halaman depan kira-kira lewat jam tujuh malam. dia masih ada keperluan untuk menemui anak-anak didiknya yang sedang berada di bagian lain ibukota, dan aku mengantarnya sampai dia menemukan kendaraan untuk berangkat.

“rasanya seperti deja vu, ya,” demikian kataku menjelang akhir perjumpaan kami.

“iya. hari ini kan memang begitu semuanya. hehe. nanti kamu tulis, ya. bilang ke aku kalau sudah. janji, ya.”

kadang-kadang beberapa hal terasa lucu juga. banyak hal berubah, sebagian hal tetap, tapi kalau ada sedikit hal-hal tidak berubah seperti obrolan di resto sambil menulis surat sambil menghadapi lembaran-lembaran pizza yang dipanggang tipis, kurasa kalau seperti itu toh tidak apa-apa juga.

setelahnya dia pamit dan berangkat. aku mengangkat tangan membalas lambaiannya. sesaat pikiranku mengembara, sementara dia sudah berangkat dan dengan demikian sudah waktunya juga buatku untuk pergi.

“kamu baik-baiklah. sehat-sehat, cil.”

“kamu juga. semoga kalian juga baik-baik, ya.”

kira-kira demikian obrolan terakhir yang bisa kuingat dari sisi meja, yang saat itu sudah tinggal berisi piring kosong dan sisa-sisa remah roti serta serpihan daun ketumbar.

. . . untuk saat ini kurasa kami hanya bisa mengaminkan doa masing-masing saja.

 

___

[1] CA: kependekan medis untuk ‘cancer’. atau dalam bahasa Indonesia, ‘kanker’.

[2] lymphoma malignum hodgkins, atau Hodgkin’s Lymphoma. kira-kira bisa dianggap sebagai kanker di mana aktivitas kelenjar getah bening menghasilkan sel-sel darah putih berupa limfosit yang tidak normal.

[3] istilah medis untuk kemungkinan-kemungkinan dan perkiraan awal sebelum diagnosis suatu penyakit.

[4] salah satu program pendidikan berbasis sukarelawan yang bertujuan untuk mengembangkan pendidikan daerah terpencil di Indonesia.

mei

aku menuliskan ini pada tanggal 14 Mei, dan untuk orang-orang yang paham tentang atau kebetulan tinggal di Indonesia, kurasa tanggal tersebut seharusnya tidak terlalu asing. untuk alasan yang tidak selalu baik, kukira.

atau lebih persisnya: 13 dan 14 Mei.

kalau kuingat-ingat lagi, setahun sebelumnya pada 1997 Persemakmuran Inggris mengembalikan Hong Kong ke Republik Rakyat Cina, dan dengan kebingungan yang meliputinya beberapa golongan warga negara memutuskan untuk pindah —setidaknya sementara— ke negara-negara tetangga termasuk Indonesia.

setahun kemudian, demonstrasi dan kerusuhan massa memanas di Jakarta, diikuti beberapa kota di tanah air. lewat bulan Mei 1998, arus perpindahan sebaliknya terjadi: sebagian golongan warga negara Indonesia memutuskan untuk pindah, setidaknya sementara, ke beberapa negara. dalam salah satu perputaran peran yang unik, Hong Kong —selain Singapura— menjadi salah satu dari sedikit tempat tujuan yang bisa dicapai oleh sebagian mereka yang memutuskan pergi.

salah satunya gadis ini.

 

“orangtuaku tetap tinggal di sini —di Indonesia— jadi cuma aku yang disuruh berangkat ke sana. jadi aku pindah sekolah.”

“memangnya bisa langsung paham bahasanya?”

aku ingat aku bertanya sedikit penasaran. maksudku, aku paham bahwa beda bahasa dalam proses belajar-mengajar itu sesuatu yang bisa menghambat benar. kuperkirakan waktu itu baru lewat beberapa pekan dari ulang tahunnya di awal usia belasan tahun, dan dengan semuanya itu kurasa itu bukan hal yang mudah atau pula sederhana.

“enggak sih. sempat sulit. sekolah juga bukan tidak mau kasih dispensasi, tapi ya mau sampai berapa lama. sekali waktu aku ke ruang guru, diberitahu kira-kira seperti itu.”

ada saudaraku tinggal di sana, katanya. tapi kan harus sekolah juga. juga harus kerja sambil bantu-bantu. sambil lalu dia menyebutkan tentang kerja sambilan mengantar pesanan nasi dan makanan Indonesia. tidak banyak, tapi lumayan untuk ditabung, demikian kira-kira ceritanya.

“wah,” komentarku. “jadi gadis desa berangkat jadi TKW—”

“HEH!”

aku tahu dia tahu aku cuma bercanda, tapi ya tetap saja dia jadi mengomel panjang-pendek. tidak apa-apa juga sih. sudah marahi saja aku, kak! marahi saja! eh…

“tapi aku jadi bisa bahasa Kanton sama Mandarin,” katanya. “kalau di Hong Kong kan utamanya pakai Kanton, tapi kalau jalan sedikit ke Shenzen, banyak pakai Mandarin.”

aku ingat sekali waktu kukatakan sambil bercanda bahwa kalau aku pergi bareng dia ke Kowloon atau Shenzen, kurasa aku tinggal tenang-tenang saja sudah punya penerjemah. bukan apa-apa, dari pengalaman aku tahu bahwa bahasa Inggris orang-orang di sana memang agak… kurang bisa diandalkan, kalau mau dibilang dengan sopan sih.

dia hanya menanggapi dengan tertawa.

 

“ada contohnya tuh, baca sendiri deh.” kataku. pada waktu yang lain kami sedang membicarakan artikel dari Harvard Business Review, topiknya terkait hasil studi di mana pengalaman dan tempaan keras cenderung berkorelasi dengan kualitas kepemimpinan secara profesional.

“yah kira-kira kayak kamu dilempar ke HK begitulah,” aku melanjutkan. “kurasa kamu bisa bertahan dari sana, dikasih apa juga sudah tahan banting sih.”

“aku juga heran, lho. kalau sekarang ini dipikir, gila ya, dulu bisa kayak begitu. kalau disuruh lagi sih nggak janji deh.”

saat itu di Jakarta, beberapa belas tahun kemudian. kalau kita memandangnya kembali, katanya, hidup di sana juga bukan senang-senang. semua ya kerja keras juga. tapi di tempat yang jauh semua jadi seperti keluarga. kurasa itu hal yang wajar dan bisa dipahami.

tapi kupikir, apa harus sebagian orang-orang pergi seperti itu lagi? bukankah pada dasarnya itu semacam eksil, terasingkan dari rumah atau kampung halaman, meskipun pada dasarnya hal tersebut dilakukan atas dasar pilihan sendiri.

… walaupun entah seberapa ‘pilihan sendiri’-nya keputusan yang diambil dari keadaan-keadaan tersebut.

karena rumahmu sebenarnya di sini, kan.

aku memikirkannya sekilas, tapi kuputuskan untuk tidak mengangkatnya jadi topik pembicaraan.

 

“tapi, itu sesuatu yang aku bersyukur. walaupun waktu menjalani memang rasanya nggak enak banget.”

demikian katanya pada akhir hari yang sibuk, pada suatu waktu yang lain lagi. aku berpikir sekilas sebelum menanggapi kata-katanya.

“kalau bisa mengulang lagi, balik ke tahun dulu, akan tetap melakukan hal yang sama?”

“iya.”

“oh begitu,” aku berusaha menjawab dengan muka datar. “jadi kalau habis ini dilempar disuruh serba sendiri lagi, masih mau?”

“eh jangan dong!”

aku ingat aku tertawa melihat tampangnya sedikit kaget seperti itu. siapa juga yang mau meninggalkan kamu sendirian sih, pikirku. tapi toh tidak kukatakan, tidak untuk saat itu.

yang akhirnya kukatakan hanya ‘pulang yuk’ singkat, dan beberapa belas menit kemudian kami berpisah di halte Transjakarta.

 

Mei, 2015. kalau diperhitungkan dari saat ini, kira-kira sudah hampir dua puluh tahun berlalu dari dekade sembilanpuluh-akhir. waktu berlalu dan kita juga berubah, tempat kita tinggal tumbuh dan berkembang juga. dan dengan segala kekurangan dan perbaikan-perbaikan yang menyertainya —walaupun kadang bisa jadi terasa tidak cukup cepat— pada akhirnya kupikir tempat ini masih jadi rumahku. kurasa sama buat dia juga. kurasa sama buat cukup banyak orang lain juga.

mungkin aku cuma berharap bahwa tidak perlu ada orang-orang terpaksa pergi dari sini sendirian lagi.

lewat petang menuju malam ketika aku menuliskan ini, sambil lalu aku mengambil teh tarik instan dari lemari dan samar-samar aku teringat obrolan lama sekali dulu.

“itu nama panggilan kecilku,” katanya. “kok tahu sih?”

aku ingat waktu itu aku cuma senyum-senyum. mungkin suatu saat kamu akan tahu sendiri jawabannya, demikian pikirku. mungkin sih.

aku menyelesaikan beberapa kalimat pada papan ketik di komputer, setelahnya aku menyeruput teh tarik di sisi meja. pada akhirnya, kurasa, tulisan ini memang menjadi tentang sedikit tentang Mei.

kalaupun seperti itu kukira tidak masalah. barangkali bukan hal yang sepenuhnya buruk juga.

di dapur rumah ibu

/1

kalau ada saatnya di mana hal-hal kecil sederhana membuat kekacauan yang tidak seharusnya, inilah saatnya.

pagi hari libur pada akhir pekan panjang, aku sedang menuangkan adonan telur ke dalam lubang-lubang kecil di loyang yang sudah tertutup lembaran daging asap. kelebihan; campuran telur garam merica dan kecap inggris merembes, menyisakan tambahan pekerjaan lengkap dengan ekstra bau amis pada keramik dapur.

aku mengumpat pelan. ceroboh, pikirku. benar-benar tidak seperti biasanya.

 

 

“kamu kenapa?”

aku mendengar suara beliau —ibuku sudah berada di sisi pintu dapur— sementara aku masih setengah konsentrasi menjaga rembesan yang sudah semakin melebar.

“kok lesu begitu… haaah, ini telur ya? amis ini!”

demikian aku mendengar serunya. setelahnya aku mendengar beliau mengambil beberapa lembar tisu dan lembaran koran lama, menyiramnya dengan air, kemudian memberikannya kepadaku untuk membersihkan kekacauan yang pada dasarnya tidak sewajarnya tersebut. jangan lupa nanti cairan pembersih, katanya, lengkap dengan beberapa tambahan lain yang tidak terlalu bisa kudengarkan benar.

aku hanya mengangguk sambil membersihkan sisa-sisa adonan kuning encer dan lengket yang sekarang ini sudah mengalir jatuh ke lantai dapur.

 

/2

siangnya aku keluar sebentar, dan setelah sampai kembali di rumah aku menemukan bahwa panggangan tadi pagi ternyata sudah dikeluarkan dari oven. dua mangkok kaca tampak rapi di meja makan, ibu dan saudara-saudaraku sudah duduk berada di sana mengajak makan siang.

“ini aku bikin salad tadi,” kata beliau. “pas kamu keluar tadi. pakai brokoli sama bit yang kemarin. buat sayurnya, ya. lauknya kan sudah tadi sama kamu.”

aku tersenyum sebisaku, duduk di meja dan memperhatikan mangkok kaca besar yang —kalau kata adik perempuanku— tidak pernah diketahui ada mangkok seperti itu di rumah. tentu saja, kataku. kamu nggak pernah ke dapur sih. kami semua tertawa, kemudian menuangkan makanan ke piring masing-masing.

makanan hari itu omelet campur dalam mangkok daging asap (demikian yang membuat kerusuhan kecil di dapur pagi tadi), dengan tambahan berupa salad berisi campuran bit, brokoli, dan kentang buatan ibu yang tidak kuketahui bagaimana proses pembuatannya.

 

“kamu kok lesu begitu sih?” kali ini giliran adik perempuanku menanyakan hal serupa tadi pagi. aku mendengar ibu mengiyakan, sambil kembali beliau menanyakan hal yang sama.

“iya, kamu tuh sebenarnya kenapa sih? kayaknya kemarin masih baik-baik, kenapa sekarang begini…”

kayaknya ada sesuatu terjadi, katanya. entah apakah aku ada mendapatkan kabar atau telepon atau pesan pendek sehingga jadi seperti ini, atau barangkali apa sejenisnya, demikian kata beliau setengah bercanda setengah berspekulasi.

aku paham sekali, bahwa dari sekian banyak hal yang bisa dipelajari manusia, salah satunya adalah jangan pernah meremehkan intuisi ibunda.

tentu saja aku juga bukan terbiasa untuk langsung mengiyakan atau menyangkal seperti demikian juga. aku mencoba tersenyum, mengangkat bahu sekilas, mengatakan ‘ah, tidak apa-apa’. walaupun barangkali sia-sia juga; kurasa kita semua paham bahwa tidak akan ada seorangpun ibu di muka bumi yang akan dengan mudah mempercayai kata-kata semacam tersebut keluar dari mulut anaknya sendiri.

sekalipun apakah anaknya itu berusia dua tahun lewat sekian bulan atau dua puluh lewat sekian tahun, kurasa tetap; untuk seorang ibu, tidak banyak bedanya.

aku melihat adikku mengeluarkan senyuman pemberi-semangat —atau setidaknya katanya begitu— sambil mengatakan, “semangat kakaaaakk,” dan sambil nyengir kutanggapi sebisa dan sebaik mungkin bahwa aku baik-baik saja. tapi terima kasih, kataku.

ibu tampak mencoba cuek, tapi entah apakah dia semacam kepikiran juga tentang jawabanku atas pertanyaannya tadi.

 

/3

malamnya aku sudah menyelesaikan masakan untuk makan malam dan sedang membersihkan perabotan sisa kegiatan sebelumnya. tak lama kemudian aku melihat beliau main ke dapur, menyapa dan mengobrol sekilas sambil mencicipi hasil masakan yang sudah kutuangkan ke piring.

“…kamu tadi masak wortelnya bareng sama brokoli ya?”

aduh. iya benar. aku tahu itu kesalahan, walaupun kecil; wortel lebih lambat matang, seharusnya masuk duluan. baru brokoli, setelahnya kalau ada tambahan lain seperti pokcoy atau kapri baru ditambahkan belakangan ke wajan.

“hmm. kayaknya agak kurang bumbu deh. kutambah garam sama merica, ya?”

kesalahan kedua: proporsi bumbu terhadap sayur terlalu rendah. kalau sayurnya banyak, garam dan merica juga harus lebih banyak. jangan terpaku ukuran sendok, tapi juga jangan sembarang pakai perasaan. aku tahu itu. aku paham semuanya itu. berat, aku mengiyakan sarannya.

seperti sebelum-sebelumnya hari ini, itu juga sesuatu yang tidak biasanya dan tidak seharusnya terjadi.

aku menunduk. kemudian aku kembali mendengar suara yang kukenal baik.

“kamu itu kalau masak, nggak boleh sambil kemrungsung, punya beban seperti itu. rasanya bisa ke barat ke timur. padahal biasanya juga bagus. kamu lagi ada pikiran ya?”

aku merasakan bibirku berat, antara tak bisa atau tak ingin menjawab. atau mungkin cuma tak biasa, entahlah. pada akhirnya aku hanya mengeluarkan gumaman pelan, entah apa ada artinya yang bisa dipahami.

 

“eh, bu…” kataku pada akhirnya.

sedikit berat, aku terdiam sejenak. lalu melanjutkan;

“besok pagi, aku nggak masak ya? buat makan siang aku titip ibu dulu.”

beliau melirikku sekilas, kemudian —seperti biasanya— bersikap seolah cuek walaupun kurasa ada sekilas bahwa sedikit banyaknya beliau tampak paham.

“ya sudah, nggak apa-apa,” demikian aku mendengar jawabannya. “tapi besok kalau kamu mau belanja, aku titip ayam, ya. dada fillet dua lembar. sama daging giling, kalau ada.”

aku mengangguk, mengiyakan permintaannya. kemudian menyelesaikan sisa cucian di wastafel, lantas meletakkan wajan yang sudah dibersihkan di rak dan mengembalikan spatula ke sisi tempat masak.

setidaknya besok masih libur, pikirku. mungkin aku akan bangun lebih siang daripada biasanya.

bisa sendiri

kesalahanmu adalah kamu ingin dimengerti. yang sebenarnya, mana bisa begitu? bodoh.

kamu dikutuk peduli, tapi tak boleh punya melankoli. ceritamu jadi beban. keraguanmu jadi penghakiman.
beban buat mereka. penghakiman buat kamu.

makanya, diam.

kamu akan selalu punya kutukan. entah itu dari sisi meja kopi dan coklat panas, atau dari cerita-cerita tak penting yang kamu keluarkan untuk setidaknya cukup melepas seiris beban.

dan kamu mencoba tertawa, ha ha! ha ha ha!
dan mereka memandangmu; tidak wajar.

 

kamu dianggap:
(a) aneh, (b) melankolis, (c) manja, (d) high maintenance.
(e) semua atau kombinasi mana saja

 

omong kosong, pikirmu. tapi kamu juga tahu:
siapa suruh kamu ngomong hal-hal nggak perlu? siapa suruh kamu kelepasan omong nggak berguna begitu?

karena kamu bodoh.

sekarang dengar ini. dengar, karena kamu bodoh dan bebal dan entah kenapa masih saja berharap tidak disalahpahami.

karena kamu bodoh.

dan untuk semuanya itu; masalah kamu sendiri, tantangan kamu sendiri, selesaikan sendiri dengan cara kamu sendiri.

 

jangan. berharap. akan. dibantu.

… karena kamu laki-laki. harus bisa semua sendiri.

 

bangun, bocah!