02.09.08
Posted in Scraps at 7:34 pm by yud1
1. I shalt blogwalketh to dost avail, be such in the realm haveth knowledge been offered, personal deeds been graced, ‘or thoughts been shared.
2. I shalt neither flame, nor asketh to dost bound to such attitude against ’tis creed; pertamax™, premium, avtur et cetera, to dost blogs I shalt visit; there shalt be no fire.
3. I shalt not asketh thee dost things beyond such I couldst comprehend, not either OOT, not either spam, not either shalt I say of thee kafir™, blasphemy™, konspirasi amerika™, kesesatan yang nyata™.
4. I shalt haveth my talks thru clearly and dear; all anime-ism, moe-ism, otaku-ism, haruhiism, yet shalt it let through - dost into divine truth shalt lead thee the way.
5. I shalt not expect thee wouldst replieth my talks; not would I say makan-makan™ ‘or hetrik™; for such as thee wouldst only will, then shalt I haveth thy reply.
6. I shalt come as thy wouldst summon™, as though thee haveth written ’tis deed of trekbek™ or ping™ to dost posts I haveth, I shalt be of thy side.
7. I shalt see thee as thee wouldst be; a fellow blogwalker o’ mine, no matter as if either thee a seleb blog™ or blogger nyubi™; I shalt haveth my talk thru, dear and polite.
by yud1 7:34 pm
02.03.08
Posted in Scraps at 1:08 am by yud1
…melihat rekan-rekan saya mulai menikah dan berkeluarga. kemudian, giliran saya ditanya-tanya soal ini.
…menyadari bahwa mahasiswi penghuni kampus sebagian besar masih anak kecil lebih muda daripada saya.
…melihat anak-anak SMU yang pecicilan, dan sebal sendiri karena mereka bisa begitu berisik di angkutan kota.
…mulai berpikir bahwa makanan di kota ‘tidak terlalu mahal’ dibandingkan beberapa tahun lalu… padahal harganya sama. doh.
…mulai terbiasa membuka spreadsheet dan word processor tanpa jeda main game untuk waktu yang lama.
…mulai bosan main RPG dan Action Adventure. masih Winning Eleven, tambahkan juga Counter Strike dan mini game yang gampang-gampang.
…melihat pemain muda di liga Inggris yang ternyata seumuran dengan saya. lihat Cristiano Ronaldo, Pato, Lionel Messi, dan Cesc Fabregas.
…menonton reality show dan memperhatikan bahwa pesertanya berusia 18-20 tahun.
…menonton anime dan memperhatikan bahwa tokoh utamanya biasanya masih SMU atau menjelang lulus.
…melihat kembali bahwa ternyata Squall Leonhart berusia 17 tahun, Athrun Zala 18 tahun, dan Suzumiya Haruhi 16 tahun. untungnya, Cloud Strife 22 tahun.
…menonton 24 dan berpikir bahwa ternyata umur saya tidak berbeda jauh dengan Kim Bauer.
…menonton Nanny 911 dan tiba-tiba diwanti-wanti soal ‘nanti kalau punya anak jangan begitu’. halah.
…mulai jarang men-download sesuatu dari internet, kecuali urusan pekerjaan. manga apalagi anime, hampir nggak pernah download lagi.
…bisa dengan tenang membiarkan satu season anime dan satu season j-drama di nongkrong di harddisk sampai berbulan-bulan tanpa alasan yang jelas.
…
…
…menuliskan ini di blog, dan berpikir: apa-apaan sih, kayak anak kecil aja!
by yud1 1:08 am
01.04.08
Posted in Scraps at 6:05 pm by yud1
seandainya kamu bisa membaca ini, mungkin akan cukup bagus; untukmu dan juga untukku, dan mungkin beberapa orang lain. tapi entahlah, kita tidak bisa memutar waktu banyak-banyak, dan mungkin kamu akan kaget sendiri menemukan bahwa kamu bisa menulis hal seperti ini di suatu masa yang jauh dari apa yang bisa kamu bayangkan di tempatmu berada sekarang.
aku bisa melihat bahwa kamu adalah seseorang yang agak keras-kepala dan sedikit menyebalkan, serta kadang sedikit cuek dan bisa menjadi begitu tidak-peduli, tapi itu urusanmu… yah, sebenarnya urusanku juga sih, tapi itu dulu. memperhitungkan sifat dan perasaanmu, aku tahu kamu akan mulai panas dengan tulisan ini. sabar saja, aku masih belum mulai, kok.
::
kamu yang saat ini adalah kamu yang memiliki kekecewaan terhadap banyak hal; kamu yang berpikir bahwa nilai bagus di sekolah adalah hampir semuanya, atau prestasi di lapangan olahraga adalah bagian yang lain dari segalanya. demikian juga kamu yang berpikir bahwa kamu tidak cukup diberkati dengan bakat yang berkilau, dan usaha keras tidak selalu membuahkan hasil dan berujung kekecewaan.
kamu yang saat ini adalah juga kamu yang berpikir bahwa dunia tidak adil; bahwa Tuhan mungkin ada dan hanya menonton, dan kamu tidak bisa mengharapkan keadilan di dunia dengan serta-merta. mungkin malah Tuhan itu tidak ada, pikirmu. mana kamu tahu, kamu tidak bisa membuktikan hal tersebut, kok.
dan kamu yang saat ini adalah kamu yang berpikir bahwa kamu telah melalui banyak hal, dan banyak hal lain lagi di mana kamu memahami bahwa ada banyak hal yang tidak bisa kamu raih. kamu yang kehilangan perasaan, kamu yang kehilangan cinta, dan kamu yang kehilangan rasa percaya dalam perjalananmu.
aku tahu, kamu tidak akan langsung bisa percaya dan memahami apa-apa yang akan kukatakan di sini. tapi harus kukatakan juga sih, sebab aku juga punya kepentingan terhadapmu. jadi, bertahanlah sebentar saja dan baca tulisan ini sampai habis.
::
meskipun begitu, aku yakin bahwa suatu saat kamu akan memahami, dan akan melakukan hal yang sama dengan yang kulakukan saat ini. menulis surat ini untuk kamu baca, maksudnya. dan tentu saja, aku mengerti sekali perasaan marah dan sebal yang sedang melanda pikiranmu saat membaca tulisan ini — wajar, aku kan juga pernah seperti itu.
sekarang kamu mungkin belum bisa memahami, tapi tidak selalu kebahagiaan dalam dirimu diatur dalam nilai ujian matematika atau jumlah minimal lay-up di atas lapangan basket. bukan juga oleh nilai ujian tengah semester rekan-rekanmu di suatu kuliah, atau nilai A atau B yang diberikan oleh staf pengajar di kampus yang hebat itu. kebahagiaan dalam dirimu adalah milikmu sendiri: sesuatu yang harus kamu raih dengan tanganmu sendiri, dengan jalanmu sendiri.
dan kamu mungkin belum bisa memahami, tapi tidak selalu apa-apa yang kamu anggap merugikan adalah hal-hal yang buruk untukmu. apa yang kamu anggap sebagai hal buruk yang menimpa mungkin adalah keberuntungan untukmu; kamu hanya tidak tahu, kamu hanya belum tahu. jalan kehidupanmu adalah labirin yang terlalu rumit untuk sekadar tebak-tebakan asal.
…ya, dan kalau kamu beruntung, kelak kamu akan duduk dan berpikir, bahwa sebenarnya ‘kesialan’ itu adalah keberuntunganmu. mungkin, kalau kamu cukup pintar dan beruntung.
percaya kepada dirimu sendiri. percaya kepada kekuatanmu sendiri. kebahagiaanmu tidak selalu bergantung kepada jalan yang sama dengan yang diambil oleh orang lain. lawan adalah dirimu sendiri, kebahagiaan adalah pilihanmu sendiri. dan sebelum kamu mulai berpikir bahwa ini ‘omong kosong’ atau ‘tidak masuk akal’, diam dan simpan saja dalam hati.
karena saat ini, kita tidak bisa berdebat soal ini. karena kamu tidak akan mengerti, dan aku memahami hal tersebut dengan baik. hanya saja, kamu bukannya tidak mengerti; kamu hanya belum memahami.
…kenapa? karena suatu saat, kamu akan mengerti. aku tahu kok, seperti halnya aku mengetahui bahwa kamu akan mengatakan ini ‘omong kosong’, sebelum sesaat kemudian ‘tidak masuk akal’.
tentu, kamu yang sekarang tidak akan percaya. aku sangat mengerti hal tersebut, lebih jauh dari yang bisa kamu bayangkan. tentu saja, pada saat ini kamu juga akan berpikir: ‘apa-apaan sih, yang diomongin orang sok-tahu ini?’
…apa, tebakanku sangat benar? haha. tanya kenapa.
::
terakhir, ini bonus. kamu yang sekarang mungkin tidak memahaminya, tapi ada seseorang di dekatmu yang mencoba untuk bisa memahamimu… dan kadang-kadang sepertinya agak frustrasi menghadapimu. silakan kalau kamu mau melakukan atau tidak melakukan sesuatu, yang penting jangan menyesali keputusanmu sendiri. terserah kamu sih, toh bukan urusanku juga untuk sekarang ini.
sampai di sini saja deh. kamu mungkin akan sedikit sebal membaca tulisan sok-tahu ini, tapi aku yakin bahwa kamu akan mengerti suatu saat nanti. mungkin beberapa tahun lagi atau sedikit lebih lama, tapi aku yakin bahwa kamu akan mengerti.
berdirilah di atas kakimu sendiri. jadilah seorang yang tangguh dan percaya diri. hiduplah dengan bahagia.
…karena aku tahu, kamu bisa melakukan itu.
___
—dirimu, beberapa tahun dari tempatmu sekarang.
by yud1 6:05 pm
11.10.07
Posted in Scraps at 3:04 pm by yud1
hujan bulan November ini,
di kepalaku jatuhnya
___
mungkin kamu ingat, hari itu juga hujan. mungkin agak cengeng dan sedikit melankolis, tapi hujan rintik-rintik selalu membawa akan suatu kenangan; yang terasa lama dan jauh untukku, tapi tetap ia berada di sana: di suatu tempat, di suatu saat, di suatu November yang berbeda.
entah, mungkin aku menjadi agak sentimentil dan sedikit bodoh. mungkin juga hujan bulan November membuat apa-apa yang seharusnya telah hilang seolah menyeruak kembali serta sedikit mengharu-biru: mungkin, layaknya akasia kering yang seolah segar dibelai titik hujan, atau aspal panas yang kini seolah lembut tersaput sisa-sisa air di udara.
tidak semua hal ada jawabannya. tidak selalu setiap tanya diikuti suatu jawab. mungkin benar begitu, dan aku tidak pernah menyukainya. lalu kemudian ada kosong yang diam, dan selalu begitu… entahlah, kurasa aku sudah tidak ingin peduli, dan kamu tidak perlu memikirkan itu.
hujan bulan November adalah melankoli: seperti halnya cappuccino dan crouton di sore hari, atau Canon serta Air di antara hari-hari yang sibuk. angin dingin yang menerpa wajah dan jalan-jalan yang basah adalah beberapa dari apa-apa yang tertinggal dari setiap hujan bulan November: selalu demikian, datang dan pergi seraya menarik-narik kenangan yang terpinggirkan dan angan yang seharusnya telah hilang.
kebaikan adalah kekuatan, atau setidaknya demikianlah aku belajar. benar atau salah, entahlah. kebaikan adalah apa-apa yang tersisa dari nurani manusia, dan kurasa tidak perlu terlalu banyak alasan untuk itu. seperti halnya hujan bulan November yang datang dan pergi, dan seperti halnya apa-apa yang lewat dan terlupakan: yang ternyata tidak hilang, dan tetap tidak kusukai — agak menyebalkan, kadang-kadang.
mungkin… tapi bahkan sampai sekarang, aku masih bertanya-tanya.
karena kebaikan kadang-kadang terasa begitu kejam, dan mungkin kamu juga mengerti. bahwa suatu kebaikan kadang bisa terasa begitu menyakitkan, dan kelembutan tidak selalu bisa meretas rasa nyaman.
karena itu, maaf…
karena hanya kepadamu saja, aku tidak ingin bersikap baik.
by yud1 3:04 pm
10.10.07
Posted in Scraps at 3:03 pm by yud1
“…to you it might have broken or shattered, but a wish is something that you hold dear in your heart — whether you aware or not.”
___
I have thrown away that wish long ago. a wish that I knew would never reach, as well as a wish I could never lean on. a wish I used to yearn about, and a wish I have seen being shattered away; painful as it was, and still it would never let go completely.
…yes, as I have thrown away that wish; about being understood and being cared, about being heard and being listened. about someone being by my side, to whom I would be able to be honest — where such would be the very least I could do.
…never completely, though. never completely, never enough.
perhaps, it’s just that I learned not to wish anymore. that only such wish is never enough; that I was only living in a dream for the wish to come true. a wish that sounds so childish as I look again, and how fragile it had been all along. cracked and shattered, and there it was; only remnants that were there to reminisce, blurred away as if deluded by distant memories.
that was the old story, though. not much have changed nonetheless.
such things doesn’t make you much stronger than before, nor does it make you much weaker. in some sort, maybe it does for a bit. yet it leaves a hole inside: some sort of emptiness that something used to be there, but then it’s no longer there. something that was missing, but not that of something you feel precious.
…at least, that’s what it was for me.
::
a wish is something that people rely on; sometimes it comes personal, yet sometimes it comes about other people as well. as for such, I decided not to look back again; to a wish that I have thrown away long ago. and for that, such wish is no longer there for me.
…or at least, that’s what I believe.
…
…
I’m (painfully) wrong this time.
by yud1 3:03 pm
09.28.07
Posted in Scraps at 11:16 am by yud1
PERHATIAN:
tulisan ini tidak untuk dimaknai apa-adanya. ketidakmampuan pikiran dalam memahami tulisan ini di luar tanggung jawab penulis. silakan menjernihkan pikiran sebelum membaca dan berkomentar.
anda sudah diperingatkan.
___
I. Interlude
konon katanya, kuliah di tempat saya ini[1] tidak terlalu baik untuk kesehatan mental. mungkin terkesan berlebihan sih, terserahlah. kalau tidak kuat mental, (katanya) mahasiswa di tempat saya mungkin saja akan mengalami stres sampai depresi ringan.
…apalah. tapi untuk bisa bertahan hidup di dunia yang kejam, kita harus bersikap kejam juga, bukan?
II. Prolog
ini adalah kampus di mana tugas-tugas yang ada bisa menjadi bagian dari hal-hal yang menyebalkan. laporan dan sesi lab, serta proyek dari mata kuliah yang ada. agak menyebalkan, kadang-kadang. empat sampai lima deadline bisa muncul dalam waktu satu minggu, sementara proyek-proyek kuliah bisa (dan sempat) membuat saya jarang pulang ke tempat kos.
ya, ya, beberapa rekan yang sudah ‘melewati’ tempat ini sebelum saya mungkin akan mengatakan bahwa ‘itu hal yang biasa’. mungkin saja demikian, dan saya saja yang terlalu melebih-lebihkan. tapi yang jelas sih paragraf di atas itu pengalaman pribadi saya.
dengan keadaan saya sekarang, saya cukup bersyukur bahwa saya memiliki mental yang cukup kuat (parameternya? saya tidak sampai terkena stres apalagi depresi
), walaupun kadang-kadang saya merasakan keinginan yang kuat untuk misuh-misuh terhadap kampus 25 juta rupiah ini[2].
kalau boleh saya mengatakan, saya cukup senang bahwa saya sempat tinggal di kampus ini sebagai mahasiswa… kecuali bagian mengenai tugas-tugas, proyek, serta laporan-laporan yang kadang bikin sepet.
III. Di Bawah Bendera Revolusi
ahem. mari sekarang kita masuk ke bagian seriusnya. saat ini, saya mempertimbangkan bahwa para mahasiswa perlu memiliki posisi tawar yang lebih tinggi agar beban tugas-tugas kuliah bisa dikurangi. tentu saja, sebab keadaan seperti ini tidak baik untuk kesehatan mental para mahasiswa!
tapi bagaimana caranya? mahasiswa jelas kalah berkuasa dibandingkan dosen-dosen, apalagi dekanat sebagai lembaga formalnya. mau diapakan ini? demonstrasi dan aksi unjuk rasa jelas akan jadi konyol sekali.
tanya kenapa? kenapa tanya! bayangkan kalau tiba-tiba dosen-dosen yang mengajar bersikap kompak, dan menyerukan kalimat berikut via loudspeaker kepada mahasiswa yang sedang berdemonstrasi dengan sepenuh hati.
“mahasiswa-mahasiswa yang berunjuk rasa mengenai topik tidak penting ini, harap segera bubar! kalau nama kalian yang ikut demo tidak ada dalam absen pada kelas jam 1 nanti, kalian semua akan dapat D!!“
saya berani jamin, sebagian besar mahasiswa akan langsung bubar dengan peringatan tersebut. dan tujuan kita tidak akan tercapai!
itu tidak efektif. kita perlu metode yang lebih masuk akal dan tepat sasaran. metode yang bisa meningkatkan posisi tawar kita sebagai mahasiswa, dan tidak terlalu kampungan.
saya mengusulkan, bahwa saat ini kita membutuhkan martir. ya! martir yang akan menjadi pahlawan revolusi kita!
…tapi bagaimana caranya? itu mudah. kita membutuhkan seorang calon martir kita: mahasiswa yang sudah terlalu lelah dengan segala pernak-pernik tugas dan proyek kuliah serta laporan ini. mahasiswa yang juga memiliki esprit de corps yang luar biasa tingginya, yang mudah dimanipulasi demi kepentingan teman-temannya!
nah. kemudian, kita harus mempersuasi calon martir ini, agar ia mau bunuh diri. harus kita yakinkan bahwa kematiannya akan membawa kemaslahatan umat, khususnya para mahasiswa di kampusnya yang tercinta. tambahkan juga bahwa ia akan mati syahid dan bertemu dengan minimal 72 bidadari di surga sana.
…sebentar. kok bunuh diri? yah… karena membunuh orang itu dosa, kan? lagipula kita tidak perlu mengotori tangan kita. jadi, marilah kita hanya memandang dari jauh saja.
dan akhirnya. pada satu malam. harapan kita terkabul. DOR, kita mendapatkan martir kita. berikan penghormatan tertinggi kepadanya. selanjutnya, gerakan politik akan kita mulai.
IV. Penemuan Kembali Revolusi Kita
selanjutnya, kita akan menggunakan elemen-elemen politik kampus. dengan rasa solidaritas yang mudah dimanfaatkan antara mahasiswa, kita akan melakukan lobi-lobi terhadap pihak-pihak yang berwenang, dengan posisi tawar yang jauh lebih tinggi daripada sebelumnya.
kita manfaatkan juga media. media kampus, dan media luar kampus tentunya. kita blow-up kejadian ini, tapi tidak perlu sampai terlalu heboh. jangan lupa dengan headline yang ‘jujur dan apa-adanya’:
SEORANG MAHASISWA FAKULTAS ILMU KOMPUTER BUNUH DIRI, DEPRESI KARENA KEBANYAKAN TUGAS
hmm. seharusnya cukup dengan judul tersebut. dan beberapa variasinya, tentu saja. dan tidak, kita tidak akan sampai ke televisi. terlalu jauh dan tidak perlu, walaupun mungkin tidak buruk juga.
apa mungkin, kata anda? saya mengatakan, ini mungkin! ya, hal ini bisa dilakukan. kenapa? karena kita punya martir, kamerad!
setelah itu, akan ada saat berkabung di kampus — tidak perlu lama-lama, paling setengah atau satu hari. setelah itu, memanfaatkan momentum ini, kita akan melanjutkan lobi. tidak dengan garang tentunya, tapi dengan empati akan kehilangan seorang anak didik dan seorang teman. manfaatkan solidaritas kita dan perasaan mereka seperlunya.
…dan setelah itu. perjuangan kita akan memperoleh hasilnya. demi kebaikan almamater kita tercinta, dan warga-warga di dalamnya. tugas-tugas akan dikurangi, dan tidak perlu lagi ada kejadian seperti yang dialami oleh martir kita. Hidup Mahasiswa!
V. Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah
tapi perjuangan tidak akan selesai. kita tidak akan melupakan semangat dan perjuangan dari kamerad kita, yang telah dengan berani melakukan langkah nyata bagi revolusi kita. untuk itu, mari kita kepalkan tangan, kita sebutkan namanya…
…dan kita teriakkan: “Hidup Mahasiswa!!” “Hidup Perjuangan Kita!!”
dengan teriakan yang membahana, yang membuat musuh-musuh perjuangan kita takut! karena kita yang benar! kita adalah pejuang-pejuang amanat penderitaan rakyat!
dan kita tidak akan melupakan sejarah kita, yang telah memakan korban yang akan selalu kita kenang. kenang, kenanglah martir kita. jadikan itu bagian kekuatan politik kita, bahan bakar untuk perjuangan kita!
VI. Epilog
ya, sebuah rencana, telah tersusun dengan matang. tapi, hanya saja. ada satu masalah yang menjadi batu sandungan kita sehingga revolusi ini tidak (akan?) pernah terjadi di kampus kita tercinta.
…ya. sangat disayangkan, tidak ada yang bersedia menjadi martir kita. itu saja kok masalahnya.
___
footnote:
[1] Fakultas Ilmu Komputer di sebuah Perguruan Tinggi Negeri yang berlokasi di daerah Depok. saya nggak sebut merek deh di sini.
[2] normalnya, untuk menjadi mahasiswa di kampus saya anda akan dikenai biaya uang pangkal sejumlah tersebut. ada proses untuk keringanan kok, jadi jangan takut masuk ke kampus ini. lebih baik takutnya setelah diterima saja. 
by yud1 11:16 am
06.19.07
Posted in Scraps at 2:02 pm by yud1
kakakku yang baik,
aku memperkirakan bahwa kamu sedang berada di tempat yang jauh ketika membaca surat ini. mungkin sedang bersama teman-teman dan orang-orang yang mendukungmu, atau mungkin dalam saat-saat senggang di antara hari-hari yang sibuk. apapun itu, aku senang bahwa kamu telah sekali lagi melangkah, pergi ke dunia yang jauh dan berbeda; dunia yang terasa jauh dari apa-apa yang kujalani saat ini.
kamu akan terus dan terus melangkah, mengembangkan sayap impian dan pergi menantang cakrawala. kamu mungkin akan bertemu banyak orang-orang hebat, dan dengan demikian kamu akan terus berkembang dan menjadi salah satu dari mereka. kamu yang saat ini mungkin akan berubah, tapi kurasa hal tersebut bukanlah masalah. kamu adalah orang yang akan terus dan terus berkembang, sejauh impian dan kemauanmu yang mungkin tak terbatas.
aku sangat senang melihat kamu yang seperti itu. kamu yang berusaha dan bekerja keras, pergi ke dunia yang berbeda dan terus berkembang. kamu yang selalu berada di depanku, dan mengajarkanku banyak hal tanpa banyak kata-kata. kamu yang tidak pernah menyerah, dan memiliki kemampuan untuk melakukan banyak hal dengan istimewa. dan kamu yang dengan demikian terlihat begitu mandiri sekaligus mempesona.
ada banyak hal yang membuatku harus mengucapkan terima kasih kepadamu. aku melihat kamu yang terus melangkah, dan untuk hal tersebut aku memutuskan untuk terus melangkah. aku melihat kamu yang selalu berada di depanku, dan untuk hal tersebut aku ingin bisa berdiri sejajar denganmu. dan aku melihat kamu yang telah mengajarkanku banyak hal, dan untuk hal tersebut aku menginginkan untuk setidaknya bisa menyamai dirimu.
tapi kadang, hal tersebut terasa menyakitkan untukku.
tidak peduli sekeras apapun aku melangkah, kamu selalu berada di depanku. kamu yang selalu lebih hebat dariku, dan kamu yang selalu membuktikan bahwa apa-apa yang kamu capai tidak bisa dengan mudah kulakukan. kamu yang dengan demikian menjadi alasanku untuk terus melangkah, dan di saat yang sama kamu terus melangkah lebih cepat dan meninggalkan langkahku. untukku, hal itu sedikit menyakitkan; bahwa aku tidak pernah bisa berdiri sejajar denganmu, dan bahwa kamu selalu berada di depanku.
tapi, kamu tahu? aku sangat menyukai kamu yang seperti itu.
aneh ya, bagaimana aku bisa mengatakan ini sementara menurutku itu adalah hal yang sedikit menyakitkan. dan aku tahu bahwa selama ini aku tidak pernah bisa berdiri sejajar denganmu… dan kamu berada di sana, menjadi ‘kakak’ yang selalu berada di depanku.
tapi kurasa, dulu dan sekarang adalah hal yang berbeda.
sekarang ini, kamu mungkin sedang berada di tempat yang jauh, dan menjalani dunia yang berbeda. mungkin setelah ini kamu akan melakukan hal yang lain di tempat yang hebat dan mungkin tidak terbayangkan olehku, tapi kamu akan bekerja keras seperti kamu yang biasanya kulihat. dan kamu tidak akan menyerah, persis seperti kamu yang biasanya kuperhatikan.
untuk mengajarkanku banyak hal, terima kasih. untuk selalu berada di depanku, terima kasih. untuk membuatku terus melangkah, terima kasih. dan untuk membaca surat ini, terima kasih. terima kasih untuk semuanya, dan maafkan aku untuk apa-apa yang tidak bisa kulakukan.
aku senang pernah bertemu denganmu. aku bangga akan kenangan tentangmu. dan aku bersyukur bahwa kamu pernah menjadi kakak untukku.
kurasa terlalu banyak kata-kata, tapi aku hanya akan mengatakan ini saja pada akhirnya.
selamat tinggal, kakak yang kusayangi. maaf karena pada akhirnya aku tidak bisa memberikan apa-apa. terima kasih untuk semua kenangan yang menyenangkan itu.
karena mulai dari sini, aku akan berjalan sendiri.
___
[1] FIKSI. tidak perlu repot-repot berspekulasi mengenai hal ini, pembaca 
[2] bukan pengalaman pribadi. setidaknya, bukan seluruhnya 
by yud1 2:02 pm
05.29.07
Posted in Scraps at 11:42 am by yud1
kepingan-kepingan beku yang dingin dan tak acuh adalah masa lalu yang hampir terlupakan; kenangan yang membeku dan sedikit-buram, tak berubah sejak adanya dan tetap demikian. dingin, dan sedikit absurd; teraih tapi tak tersentuh, ada tapi tak terlihat. masih dengan dingin yang tak peduli, dan tak pernah berubah adanya.
selalu demikian. kenangan yang membeku adalah asa di masa lalu; kini dingin, diam dan tak bergerak, terasa setengah-nyata dalam kesunyian. sepotong waktu yang diam dan dengan demikian membeku dalam kenangan. tak hendak cair atau meluruh, menyisakan terawang yang buram akan apa-apa di dalamnya. dan pelan menggigit, dengan kebekuan yang dingin dalam genggaman.
mungkin, memang begitulah adanya.
waktu berhenti dan membungkusnya, dengan tak hirau dan dengan demikian terjadilah ia: kenangan yang diam dan waktu yang berhenti, terbungkus dalam kebekuan yang dingin dan buram.
::
dingin, dan menggigit pelan dalam genggaman; perasaan yang tidak-nyata, dalam keacuhan yang datar. apa-apa yang terlihat dari luar kepingan beku hanyalah bayangan sedikit-samar dan berkabut; seolah kaca buram yang memperlihatkan sekaligus menyembunyikan. kebekuan yang membungkus keping kenangan yang samar, terjaga dan diam di dalamnya.
keinginan dan harapan yang tertidur di masa lalu, dan teriakan serta kebahagiaan yang hangat dan terasa jauh. dan samar-samar terlihat dari balik kepingan buram dalam genggamanku: pembicaraan hangat yang diam dalam kebekuan, dan mungkin senyum serta tawa yang kini diam dan terasa dingin.
::
hari itu, kukatakan selamat tinggal. dan waktu berhenti, membekukan kenangan yang kini terasa dingin; diam dan tak acuh, hanya menggigit pelan dalam genggamanku.
by yud1 11:42 am
04.27.07
Posted in Scraps at 1:21 pm by yud1
percuma merutuk untuk mengharapkan panas itu pergi; aku sudah lama belajar bahwa panas pukul satu-limabelas tidak akan sudi untuk sirna hanya dengan umpatan yang keluar seolah tersedak dari hati yang juga sepat.
di jalanan yang berdebu, kerumunan orang seolah tak hirau; bus-bus saling mendahului, kadang disela umpatan sopir atau kenek yang merasa dihalangi oleh mobil angkutan kota yang kurang ajar memotong jalan. di antara deru debu dan aspal yang seolah membara menembus sepatu, hanya melangkah dan — sama halnya dengan yang lain — tak terlalu hirau dengan keadaan: apa yang ada, dan adalah ia. tak tersentuh, tak terpedulikan.
aku heran akan dunia; pada suatu siang yang panas dan berdebu, beberapa orang-orang muda di gedung berpendingin-udara. membuka komputer jinjing di laboratorium komputer yang kadang terlalu-dingin, menikmati selapis tipis kemewahan singkat dari golongan — ah, begitulah dunia!
sementara di atas aspal membara yang seolah berniat menembus sepatu kets butut, di depanku mereka: pengamen muda naik ke bus kota, dengan gitar-seadanya dan suara kurang-mutu. klakson mobil angkutan kota dan bus menciptakan kegaduhan yang berisik; dan apa-apa yang tersisa dari apa yang bernama modernisme: spanduk yang kotor menantang waktu, dan papan nama yang belum rela diganti.
dunia yang bernama ‘kota’: membawa apa-apa yang baik dan yang buruk dari modernisme — orang-orang terpilih di kampus berpendingin-udara, para pemegang masa depan dengan komputer jinjing keluaran baru yang ringkas dan gaya. atau yang lain — yang terlupakan, yang tak terpedulikan. para preman dan pengemis; penipu dan pengamen; dan orang-orang, semua yang ada di sisi trotoar panas dan jalan yang berdebu.
bruk.
sebuah sepeda motor menantang arus di trotoar, menyentakkan rasa sakit di lengan dari belakangku.
“HATI-HATI KALAU JALAN!”
sang pengendara sialan itu berteriak, penuh emosi. seharusnya, aku yang berteriak seperti itu: menyemprotkan umpatan ke wajahnya, atau mendaratkan tendangan ke knalpot sepeda motor sialan itu.
seandainya bisa, aku ingin melihatnya terjatuh — sepeda motor yang selip, dan menggelincirkannya ke jalan, membiarkan sebuah bus yang tak-peduli melintas dan menghancurkan kepala dan helm yang terlepas itu. meninggalkan jejak darah dan mungkin sisa-sisa otak manusia di jalanan yang kering, kurasa itu sungguh layak kalau aku cukup hanya melihatnya terjadi.
debu jalan dan terik tengah-hari merupakan sebagian dari apa-apa yang meledakkan emosi; memancing ketidaksabaran dan menarik-narik keinginan yang brutal dari sekelebat kekejaman. dan mata kail bagi sisi gelap dari sebuah kekinian: kekejaman untuk mencurigai mereka yang mungkin berbahaya; paranoia adalah senjata, kecurigaan adalah makna.
ah, dunia! lihat mereka yang terpilih! para calon pemimpin bangsa — yang cerdas, yang hebat! di menara gading perjuangan, di ruangan berpendingin-udara, meributkan makna tugas kuliah atau konstitusi politik kampus? mereka, yang berangkat dengan mobil keluaran-baru atau motor yang penuh gaya? wujud menara gading intelektual senilai triliunan rupiah, lengkap dengan kemewahan seperlunya.
mobil-mobil bagus, apalah itu? meluncur dengan sedikit-sombong di antara simbol-simbol kapitalisme; tempat perputaran rupiah dan semua yang terlibat di dalamnya: uang, dan kebutuhan artifisial yang diciptakan oleh juru runding penguasa modal. mereka adalah ikon segregasi mutlak: pembatasan dan pemisahan harga diri dan status oleh selembar kaca mobil.
sementara sopir angkutan kota berteriak-teriak; bus kota dan kadang truk mengklakson; dan orang-orang tak hirau. di antara penipu dan mungkin copet atau rampok di atas bus kota, orang-orang tetap tak hirau; diam, kalau mau selamat. mati, kalau cari gara-gara.
pengemis menengadah — entah asli atau palsu, tulus atau memaksa. ribut peluit dan teriakan para tukang parkir menciptakan kontradiksi kecil-tidak-penting: simbol kemapanan yang tunduk pada produk sampingan kapitalisme. dan layaknya semut-semut di antara remah roti, para tukang ojek memperebutkan penumpang — yang sedikit dan tak banyak, dan yang tak hirau dan tetap melangkah.
pada siang yang berdebu, di atas aspal yang seolah membara sampai ke kaki. dunia seolah terbelah di kota yang memiliki dua wajah: frustrasi dan kegetiran, di balik kenyamanan dan kemapanan.
…apa, keadilan dunia?
mimpi!
by yud1 1:21 pm
03.23.07
Posted in Scraps at 1:17 pm by yud1
setiap helai daun yang gugur selalu memiliki cerita. di sini, di antara matahari sore dan angin semilir yang disapu jingga kemerahan. dan di antara pohon tua dan padang rumput di sisi kota. agak dingin dan tak terlalu-nyaman, dan tak ada yang peduli.
setiap helai daun yang gugur selalu memilki cerita: mengenai harap yang kandas dan hati yang mungkin sudah mengeras; mengulang sepi dan cerita lama, dan ditampik dengan setengah-hati; dan di antara senja dan daun-daun gugur, mencoba berdiri dengan sedikit-sombong di antara retak-retak hati yang ada di dalam apa-apa yang tak dapat disapa angin atau ditemui daun gugur.
kamu dulu sering tertawa. berada di sana dan tersenyum, di antara angin senja hari dan pemandangan kota di bawah sana. apakah kamu masih ingat?
aku sudah lupa. jawabku, dengan sedikit sinis menentang desau angin yang tiba-tiba menohok tenggorokanku.
setiap helai daun yang gugur adalah harapan; asa yang terjaga di pagi hari dan terbang menguap di senja hari. daun yang gugur dan angin yang meniupnya, dan itulah yang terjadi: begitu rapuh dan lemah, lalu meranggas dan jatuh. tak tertangkap, tak teraih. dan tak ada yang peduli.
kamu tidak percaya lagi, bukan?
aku hanya diam. sehelai daun yang gugur dan jatuh. begitu rapuh dan tidak berdaya.
kamu tahu, kataku. itu tidak ada bedanya dengan ini.
sehelai daun yang kering, entah sejak kapan telah gugur. tak teraih, tak terpedulikan. aku hanya memandangnya. lalu menginjaknya, merasakan patahnya tulang-tulang yang rentan di kakiku. begitu lemah dan tak berdaya. dan hancur di ujung kakiku, begitu mudah dan sekaligus sedikit-mengharukan. mungkin, tapi aku tak peduli.
kamu selalu mengharapkan hal-hal manis tidak berguna, kataku. pada akhirnya, yang kamu bicarakan itu sia-sia. hancur, seperti ini.
angin bertiup melewati sela-sela lengan dan rambutku, dan aku tetap berdiri di sana, seolah menggugat. keberadaannya yang menurutku impian kosong. apa yang dibicarakannya yang menurutku angan-angan muluk.
manusia bisa saling mengerti satu sama lain, katanya. seharusnya kamu juga mencoba. bukankah kamu dulu juga begitu?
ya, dan aku bodoh karena memikirkan hal tersebut. mimpi. manusia dengan mudah memusuhi; dengan atau tanpa alasan. mereka senang memusuhi, kalau kamu tidak cukup bebal untuk menyadarinya. siapa yang tahu? dari acara unjuk eksistensi dan sok-hebat, orang-orang teladan bisa saling berselisih. kamu bilang itu pengertian? menyedihkan.
lagipula, kamu tahu, manusia menyakiti yang lain, untuk alasan apa? mencari eksistensi? bagus. kalau manusia memiliki musuh, mereka merasa hidup. mereka merasa punya identitas. mereka memang membutuhkan itu, tahu. kamu mengerti? mungkin tidak. kamu, yang hidup terlalu tinggi di antara dunia idealisme tanpa-bukti itu?
sunyi lama. sedikit koak beberapa ekor camar dan desau angin meningkahi kesunyian. dan wangi rumput serta beberapa kerlip lampu jalan kota yang mulai menyala.
kamu tahu kata ’sahabat’? orang-orang kepada siapa kamu bisa membagi rahasiamu yang terdalam?
aku tertawa, sinis. dan menyergah. kamu bilang, ‘membagi rahasiamu yang terdalam’? oh, kamu bisa membagi rahasiamu dengan mereka, kamu bahkan bisa menyuruh mereka menodongkan pisau di punggungmu, dan kamu mungkin tidak kuatir bahwa mereka akan menikammu… tapi kamu tahu, sesungguhnya, itu harapan kosong. mereka mungkin akan menikammu atau membuang rahasia berhargamu ke lautan, atau lebih parah lagi, ke orang-orang lain.
ada juga orang-orang yang dengan mudahnya menggunakan sesuatu yang bernama ‘perasaan’ untuk bersenang-senang. sedikit main-main dan akhirnya puas, dan orang lain akan menderita. dan tak ada yang peduli. masih kurang? tambahkan bahwa kamu tidak merasa pernah menyakiti mereka.
…jadi apa alasan mereka untuk menyakitimu? jangan tanya! mereka senang melakukannya, kok. dan kamu tahu bahwa orang-orang brengsek seperti ini ada. lalu kenapa? memang seperti itulah keadaannya, bukan? aku menyergah.
daun-daun gugur menari di atas tanah. semburat jingga menyapaku dari samping, dengan angin yang mengacak-acak rambutku; lembut sekaligus sedikit kasar, dan kersak daun-daun yang mulai mengering jauh di atas kepalaku. dan terasa pedas di mataku, semilir angin sore yang kembali menohok tenggorokanku.
…kamu tidak menyukainya, bukan? ia bertanya, pelan.
aku hanya akan menjalaninya. aku menjawab singkat, dan kami tidak bicara lagi.
setiap helai daun yang gugur selalu memiliki cerita. mengenai harapan yang pergi dan asa yang tak kembali. seperti halnya helai-helai daun yang gugur, begitu rapuh dan tidak berdaya.
dan di antara helai-helai daun yang menari dan semilir angin sore, aku berada di sana: mencoba untuk berdiri dengan sedikit-sombong, dengan retak-retak hati yang tak tersentuh oleh sinar matahari senja dan tak terlalui oleh wangi angin padang rumput.
aku dan diriku, dan daun-daun pun gugur.
by yud1 1:17 pm
« Previous entries · Next entries »