sepotong kartu natal, edisi 2009

jadi ceritanya, saya sibuk. pekerjaan ini, pekerjaan itu, pertemuan ini, pertemuan itu… sampai menjelang Natal tahun ini, sejujurnya waktu luang saya tidak sebanyak biasanya. dan bicara tentang waktu luang, ternyata waktu luang saya kali ini juga masih lebih sedikit dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya… btw ini kok saya jadi curhat ya tapi biarkan sajalah.

langsung saja deh. hari ini tanggal 24 Desember. jam 22:24 ketika saya menulis ini. besok sudah Natal, dan sejujurnya saya sendiri menyukai suasana Natal; ada pohon yang dihias cantik, kue-kue kering, dan konon katanya cukup banyak gadis terlihat lebih manis daripada biasanya seusai misa dan kebaktian di gereja.

di akhir 2009 kali ini, saya memutuskan untuk kembali mendesain kartu ucapan digital edisi Natal 2009. materialnya kali ini adalah boneka penguin yang ada di rumah dan diculik tanpa sepengetahuan ibu dan adik perempuan saya untuk sesi foto-foto, tentu saja lengkap dengan topi Santa Klaus milik pribadi yang dengan senang hati saya bajak untuk keperluan ini. :mrgreen:

jadi, perkenankanlah saya menyampaikan ungkapan selamat hari raya Natal untuk anda pembaca yang merayakan, teriring dengan kartu digital edisi Natal 2009 kali ini.

[2009-christmas]

Pipo si Bijaksana mengucapkan selamat Natal untuk anda pembaca yang merayakan. selamat Natal juga dari saya, pembaca. ;)

selamat Natal untuk anda yang merayakan. salam sejahtera untuk anda semua dalam kasih Tuhan untuk seluruh umat manusia. wishing you a blessed and joyful Christmas…

…Merry Christmas! ;)

tentang menjadi pemimpin

saya tidak pernah berpikir, apalagi mengatakan, bahwa menjadi pemimpin yang baik itu perkara gampang. menjadi pemimpin itu amanat, katanya. dan untuk saya (entah orang lain ya), bicara urusan amanat memimpin orang lain adalah perkara yang sungguh tidak sederhana; lebih berharga daripada barang titipan, lebih berat daripada kewajiban hutang.

dan bicara soal tanggung jawab dan kepemimpinan, tak usah pula langsung jauh-jauh soal memimpin kota atau negara. masing-masing dari kita mungkin pernah berhubungan dengan soal tanggung jawab ini; manajer toko adalah pemimpin yang membawahi pegawai tokonya. komandan kompi adalah pemimpin yang membawahi para prajuritnya, dan anda yang pernah bekerja dan membawahi staf anda adalah pemimpin untuk masing-masing dari mereka.

contoh lain? arsitek dan tukang, system analyst dan programmer, account executive dan sales admin, dan masih banyak lagi yang lain. tidak selalu harus hirarkis, yang jelas ada yang memutuskan perintah dan ada yang melaksanakan pekerjaan.

masalahnya, untuk anda yang kebetulan mendapatkan amanat sebagai seorang pemimpin: sebenarnya, seberapa bagusnya sih anda ini?

saya tidak ingin mulai dengan hal-hal klise nan kaku seperti ‘menghormati bawahan’ atau ‘tetapkan target’ atau ‘buat rencana dan timeline‘. saya ingin membicarakan hal yang lebih sederhana dan lebih mendasar daripada hal-hal tersebut.

::

menurut saya, kualitas pertama dari seorang pemimpin adalah kejujuran. jujur dalam arti pikiran dan kata-kata yang sejalan dengan tindakan. kalau anda sebagai seorang pemimpin mengatakan kepada anggota tim anda bahwa suatu pekerjaan bisa diselesaikan dalam dua bulan, anda harus jujur dan yakin dengan perkataan anda. tunjukkan bahwa anda bisa dipercaya; bahwa anda tidak memberikan jadwal yang sudah ditekan di sana-sini, dan bahwa anda tidak akan mengorbankan tim anda demi keinginan pihak lain.

anda harus jujur. ungkapkan keputusan dan dasar pemikiran anda secara gamblang dan apa adanya. jangan membohongi anggota tim anda dengan harapan palsu. tunjukkan bahwa tidak ada hal yang anda sembunyikan dari maksud perkataan anda.

karena ketika perkataan anda tidak lagi sesuai dengan tindakan anda, hati-hati; ketika bawahan anda sudah kehilangan legitimasi untuk bekerja bersama anda, semuanya akan sudah terlambat.

kualitas kedua: dengarkan setiap ‘tidak’ yang disampaikan oleh rekan kerja anda. setiap ketidaksetujuan, setiap kekurangsepahaman, dengarkan. kalau anggota tim anda mengatakan ‘ini mungkin sulit’, dengarkan. jangan berikan omong kosong ‘optimis, semangat, pasti bisa’. omong kosonglah itu, anda tidak memberikan solusi terhadap kekuatiran mereka.

dengarkan, diskusikan. kalau anda membangun rumah dan tukang anda mengatakan membutuhkan satu sak tambahan semen jenis A, jangan langsung berpikir untuk membeli setengah sak dan sisanya cukup diisi pasir dan oplosan yang lain. memangnya anda tahu apa tentang membangun rumah?

tidak selalu anda harus mengikuti kekuatiran anak buah anda. pikirkan, bicarakan, diskusikan. sisanya, serahkan ke pikiran dan nurani anda.

kualitas ketiga, adalah kemampuan untuk mengatakan ‘tidak’. kalau anda sebagai manajer pemasaran dan anda diberikan target key performance indicator yang tidak masuk akal oleh manajer divisi, diskusikan. kalau tidak memungkinkan, katakan tidak. anda tidak dipilih sebagai manajer untuk selalu mengatakan ‘ya’ kepada semua orang.

dengan kata lain; lindungi tim anda. lindungi bawahan anda. jangan berikan tugas yang tidak mungkin diselesaikan kepada anak buah anda demi menyenangkan target atasan anda. tidak berarti anda harus terlalu protektif; karena jujur saja, orang yang tidak punya keberanian untuk tidak mengatakan ‘ya’ tidak pantas menjadi pemimpin.

kualitas terakhir, yang mungkin paling sering terlupakan: sadarlah bahwa anda dan tim anda itu berada di perahu yang sama! di tengah laut, kalau perahunya rusak dan bocor, anda semua akan sama-sama tenggelam. tidak perlu ngomong manis-manis ke anak buah anda, mereka akan berpikir bahwa anda bullshit, tong kosong nyaring bunyinya. tunjukkan dengan sikap; we are in this together.

perjuangkan kepentingan anda. perjuangkan kepentingan tim anda. tidak ada yang membutuhkan pemimpin tukang-suruh bermulut-manis, dan setidaknya anda semua memiliki tujuan yang sama. ego itu kadang-kadang perlu, tapi kalau terlalu banyak, lupakan saja.

dan jangan pernah meninggalkan tim anda. jangan lari dan meninggalkan perahu anda tenggelam. karena kalau sampai terjadi, mohon maaf, anda adalah seburuk-buruknya pemimpin.

kenapa begitu? karena seorang komandan tidak meninggalkan pasukannya berantakan dan mati begitu saja dalam pertempuran. karena anda sebagai pemimpin tidak meninggalkan tim anda dan membiarkannya rusak tercerai berai begitu saja.

::

sungguh, saya bukanlah orang yang benar-benar paham mengenai ‘menjadi pemimpin’. jangankan menjadi pemimpin yang baik, menjadi manusia yang baik saja adalah hal yang susah kok. saya hanya kebetulan pernah bekerja sebagai pihak yang dipimpin, dan kadang-kadang juga sebaliknya. beberapa pemimpin yang pernah saya lihat lebih baik dari yang lain, dan beberapa lebih buruk dari yang pernah saya temui.

karena menjadi seorang pemimpin adalah tugas yang berat. karena menjadi pemimpin adalah juga amanat yang, sayangnya, banyak yang cenderung melupakan bahwa di baliknya ada hak-hak yang harus dilindungi di antara kewajiban yang harus ditegakkan.

tidak sederhana. bukan hal yang mustahil juga sih… tapi masalahnya, memangnya anda sebagus itu? ;)

kara no kyoukai #5: paradox spiral

tadinya, saya kira tidak banyak lagi yang bisa diharapkan lebih dari bagian kelima dari rangkaian cerita Kara no Kyoukai (= ‘Boundary of Emptiness’) ini. setelah empat film yang dieksekusi dengan sangat baik, saya berpikir bahwa akan sulit sekali bagi film ini untuk melampaui standar tinggi yang sudah ditetapkan sejak installment pertama.

…okay, saya harus mengatakan bahwa saya salah. Kara no Kyoukai: Paradox Spiral benar-benar mematahkan anggapan bahwa serial ini tidak bisa lebih baik lagi; kalau empat film sebelumnya layak mendapatkan penilaian sangat baik, maka film ini lebih dari cukup untuk dikatakan sebagai taken to the next level.

tidak, saya tidak melebih-lebihkan, pembaca. silakan melanjutkan membaca untuk lebih detailnya. :mrgreen:

[knk5-01.jpg]

cerita dalam Paradox Spiral berlangsung pada November 1998 atau tiga bulan setelah akhir cerita pada film pertama, yaitu Kara no Kyoukai: Overlooking View. pada saat ini pula empat bulan sudah berlalu sejak akhir cerita tentang Asagami Fujino dalam Kara no Kyoukai: Remaining Sense of Pain.

perkenalkan Enjou Tomoe, seorang pemuda berusia 16 tahun dengan keluarga yang berantakan. pada suatu malam, ia melarikan diri dari apartemen tempat keluarganya karena telah membunuh ibunya yang disangkanya hendak membunuhnya.

Tomoe bertemu dengan Ryougi Shiki dalam pelariannya, dalam keadaan babak belur setelah dihajar oleh para berandalan di tengah kota. berhadapan dengan Shiki, ia memohon kepada Shiki untuk membantunya menyembunyikan diri karena perbuatan yang telah dilakukannya…

…sebuah perbuatan yang, sebenarnya, hanya merupakan bagian kecil dari misteri yang jauh lebih besar yang melingkupi keluarga Enjou.

[knk5-02.jpg]

secara umum, Paradox Spiral berangkat dari banyak premis yang sudah ditetapkan dari empat installment sebelumnya: ada Eyes of Death Perception, ada elemen-elemen supranatural dan peranan para magi, serta lain-lain yang juga sudah disajikan di bagian-bagian sebelumnya. dengan demikian, film berdurasi 114 menit ini langsung tancap gas dengan gaya yang langsung tergambarkan dalam beberapa menit pertama: suspense dan thriller, dipadukan dengan elemen supranatural yang menjadi ciri khas Kara no Kyoukai sejak installment pertamanya.

film ini tampil dengan storytelling yang unik. gaya penceritaan disajikan secara tidak linear, dengan sepotong-demi-sepotong adegan yang ditampilkan dalam satu waktu, dalam kerangka yang seolah tidak berhubungan antar adegannya. di satu adegan kita melihat Enjou Tomoe di satu waktu, di adegan berikutnya Kokutou Mikiya dan Aozaki Tohko di latar waktu yang berbeda, dan adegan berikutnya lagi latar waktu kembali dilemparkan ke depan dan ke belakang seiring perjalanan cerita.

membingungkan? dijamin, setidaknya sampai pertengahan film anda masih akan bertanya-tanya apa maksud adegan dan simbol-simbol yang ditampilkan dalam film ini. barulah mendekati akhir film, rangkaian simbolisasi dan dialog dalam adegan-adegan yang seolah puzzle ini direkatkan menjadi kesatuan yang kohesif, memberikan sebuah mindscrew yang lebih dari cukup efektif untuk memaksa pemirsa terus duduk di depan layar.

[knk5-03.jpg]

secara teknis, eksekusi film ini luar biasa. storyline yang lebih dari cukup kompleks dieksekusi dengan storytelling yang edan-edanan memang berkontribusi besar untuk film ini… tapi yang tidak bisa dan tidak boleh dilupakan adalah visual yang dieksekusi dengan tidak kalah baiknya. detail untuk background serta lighting dan coloring memberikan atmosfer khas Kara no Kyoukai: visualisasi yang ‘gelap’, pemilihan warna untuk nuansa dengan kadar angst yang tinggi, dan secara umum menghasilkan visual yang… apa ya? disturbingly beautiful, kalau bisa dikatakan begitu sih. eksekusi yang sangat baik ini dapat diperhatikan dengan jelas untuk adegan-adegan di tempat Aozaki Tohko dan Cornelius Alba, selain tentu saja ruang bawah tanah di Ogawa Mansion.

scores, sound effects, dan soundtrack tampil prima… kalau bisa dikatakan, mungkin salah satu puncak dari pencapaian audio Kara no Kyoukai ada di film ini. scores untuk film ini masih ditangani oleh Kajiura Yuki, tampil dengan nuansa gothic dan lebih gelap dibandingkan sebelumnya. beberapa elemen scores tampak mengadaptasi dari pendekatan film noir, dipadukan dengan sedikit kanon di beberapa bagian lain film ini.

dan soundtrack, tentu saja tidak boleh ketinggalan; Kalafina Project besutan Kajiura Yuki tampil dengan sprinter, yang tidak seperti biasa kali ini tampil dengan paduan unik elemen rock dan gothic. buruk? sama sekali jauh, untuk lagu yang tampil sangat pas sebagai representasi terhadap keseluruhan storyline dari film ini.

[knk5-04.jpg]

dengan full mark untuk visual dan audio, serta setelah segala twist dan mindscrew yang gila-gilaan, klimaks film ini ditutup dengan adegan pertempuran yang… kalau ada satu kata yang dapat menggambarkannya, epic. tentu saja, dengan pendekatan khas Kara no Kyoukai: adegan eksplisit berupa gore dan darah berhamburan bisa diharapkan, tak ketinggalan dengan eksekusi visual yang benar-benar top-notch diiringi dengan scores yang tak kurang berkelasnya.

apa lagi ya… mungkin sedikit catatan pinggir, sih. selain storyline yang pada dasarnya memang sudah kompleks, film ini ternyata juga menyelipkan tema tambahan yang agak berbau filosofis. menyinggung predeterminasi dan eksistensialisme sebagai food for thought, elemen tambahan ini disajikan dalam kerangka berupa drama yang diselipkan dengan baik sebagai bagian integral dari pengembangan cerita. adalah hal yang perlu diperhatikan juga bahwa muatan tersebut tidak sampai jatuh menjadi sekadar tempelan; sebaliknya, pendekatan tersebut tampil maksimal dalam mendukung karakterisasi dalam film ini.

[knk5-05.jpg]

secara umum, Kara no Kyoukai: Paradox Spiral adalah tontonan dengan kelas tersendiri. kalau empat installment sebelumnya telah menetapkan standar tinggi untuk sebuah film dalam format animasi, maka film ini adalah puncak pencapaian dari perjalanan Kara no Kyoukai; semua departemen dieksekusi dengan manis, nyaris tanpa cacat yang benar-benar bisa dikeluhkan. dan sejujurnya, tanpa pretensi untuk melebih-lebihkan, film ini berhasil melampaui standar tinggi yang telah ditetapkannya sendiri — simply said, definitely taken to the next level.

tentu saja, akan menjadi tugas yang sulit, sangat-sangat sulit bagi dua installment terakhir dari Kara no Kyoukai untuk melampaui standar sangat tinggi yang ditorehkan oleh film ini. entah apa yang akan disajikan oleh ufotable dalam installment terakhirnya di bagian ketujuh nanti, tapi untuk saat ini Paradox Spiral adalah masterpiece tersendiri di kelasnya.

if tomorrow never comes…

“well, sometimes it’s painful. sometimes it’s troublesome, and it’s probably meaningless as well… but not even once I have my regret.”

___

hari ini, saya kembali mendengar(kan) salah satu lagunya Ronan Keating, dan akhirnya kepikiran ide untuk tulisan kali ini. untuk lagunya sendiri, judulnya… nggak usah ditanya kan ya? tentu saja, maksudnya adalah lagu dengan judul yang sama dengan judul tulisan kali ini, pembaca. :mrgreen:

halah. ribet. jadi, langsung ke masalahnya saja deh.

sekali dulu — sebenarnya sampai sekarang pun masih — saya berpikir bahwa hidup ini tidak banyak artinya. maksudnya, ya hidup ini memang seperti itu saja; sebentar, sementara, lalu selesai. seperti orang datang bertamu, duduk sebentar, mengobrol sedikit, lalu pergi lagi… setelah itu, ya sudah. tidak banyak hal yang layak dibanggakan apalagi disombongkan dari menjalani kehidupan yang sebenarnya tidak istimewa ini.

tapi entahlah, mungkin saya juga bertambah dewasa, dan mungkin saya juga sedikit berubah (duh lagaknya), tapi saya kira sedikit demi sedikit saya mulai belajar menghargai perjalanan saya yang mungkin tidak terlalu panjang ini. lagipula, bukankah konon katanya menikmati perjalanan adalah menikmati proses? dengan demikian yang terpenting bukanlah ketika kita sampai tujuan, melainkan apa-apa yang kita alami dalam perjalanan tersebut.

katanya sih, lagipula saya sendiri tidak bisa tidak setuju juga. memang begitu toh kenyataannya?

di titik ini, saya teringat lagu tersebut. seandainya ‘besok’ itu tidak ada lagi, dan saya tidak punya banyak waktu lagi, apakah saya akan sudah cukup siap untuk mengatakan ‘okay, let’s call it a day’?

hari-hari ini, saya kembali memikirkan apa-apa yang telah saya jalani selama lebih dari dua puluh tahun terakhir perjalanan saya. keputusan-keputusan yang saya ambil, pilihan-pilihan yang saya lakukan, serta arti dari masing-masing keputusan dan pilihan berikut konsekuensinya. tentu saja, tidak semuanya menyenangkan. ada hal-hal yang absurd, bodoh, dan mungkin tidak bermakna. ada keputusan-keputusan yang seolah agak egois, dan akhirnya mungkin tidak akan menguntungkan siapa-siapa termasuk saya sendiri.

tapi saya kira, saya tidak ingin membuat keputusan dan mengambil tindakan yang akan saya sesali kemudian. walaupun ada hal-hal yang tidak menyenangkan, kadang menyakitkan, kadang bodoh dan mungkin naif, kadang sedikit egois, kadang malah seolah tidak bermakna… tapi saya tidak menyesal; saya memutuskan untuk melalui perjalanan ini dengan jujur dan apa adanya, itu saja.

walaupun, yah… saya sendiri juga tidak tahu, sih. mungkin nanti, ketika ‘besok’ sudah tidak ada lagi untuk saya, ketika waktu saya sudah habis, saya ingin bisa mengatakan bahwa saya tidak menyesal, walaupun dengan sakit dan sedih yang tidak selalu bisa tergantikan oleh banyak suka dan senang.

saya kira, pada saatnya nanti saya hanya ingin bisa mengatakan; “I was here, and I have no regret”. setidaknya, perjalanan ini tidak akan sia-sia, kan? ;)

___

[1] sebenarnya lagu If Tomorrow Never Comes pertama kali dibawakan bukan oleh Ronan Keating. tapi berhubung yang saya dengar adalah versi remake-nya, jadi begitulah.

[2] ngomong-ngomong, umur saya dua puluh tiga. tapi sambil korupsi umur supaya lebih enak menulisnya, saya bilang saja ‘lebih dari dua puluh tahun lalu’. gak apa-apa, kan? :mrgreen:

kartu lebaran, 1430 H

kembali meneruskan ‘tradisi’ iseng-iseng setiap kali menjelang Idul Fitri, maka kali ini pun saya kembali terlibat dalam proses desain-sambil-iseng untuk kartu lebaran edisi 1430 H. yup, di antara kesibukan dan pekerjaan dan suasana menjelang lebaran, bagusnya saya masih bisa menyempatkan diri untuk kembali utak-atik di depan Photoshop setelah sekian lama.

bicara tentang lebaran kali ini… yah, sebenarnya ini adalah tahun kedua menjalani Idul Fitri setelah saya tidak lagi berstatus sebagai mahasiswa. yang kadang agak menyebalkan, karena saya tidak bisa lagi menggambar dan menulis sesering dulu. namanya juga profesional muda (wih lagaknya =P ), praktis waktu senggang juga semakin berkurang… tapi itu cerita lain untuk saat ini.

bagusnya, dengan segala hal tersebut saya bersyukur bahwa setidaknya masih ada hadiah kecil yang bisa saya sajikan untuk anda pembaca yang sedang membaca halaman ini.

[2009-eid.jpg]

mohon maafkan salah dan khilaf, yang mungkin jauh dari berkenan. selamat Idul Fitri bagi anda yang merayakan, pembaca.

sepotong kartu lebaran, kali ini dengan vector imaging. seperti biasa pula, teriring ungkapan selamat Idul Fitri bagi anda pembaca yang merayakannya. teriring pula permohonan maaf dari saya atas hal-hal yang mungkin menyakitkan dan kurang berkenan di hati; entah secara langsung, atau mungkin lewat telepon dan pesan pendek, atau mungkin juga lewat instant messaging via Yahoo! Messenger dan Google Talk… oh, dan tak ketinggalan, mungkin juga lewat microblogging via Plurk.

akhirnya, selamat Idul Fitri bagi anda yang merayakan. mohon maaf lahir batin untuk anda semua, semoga kita bisa sama-sama menjadi manusia yang lebih baik selepas Idul Fitri kali ini.

Eid Mubarak. wishing you a blessed Eid-ul-Fitr wherever you are.

5 centimeters per second

Byousoku 5 Centimeter, atau dikenal juga dengan 5 Centimeters per Second, adalah sebuah film dalam format animasi yang disutradarai oleh Makoto Shinkai. film ini pertama kali dirilis pada Februari 2007 untuk konsumsi pemirsa via streaming di Yahoo! Japan, sebelum akhirnya dirilis untuk konsumsi bioskop dan DVD.

film ini memiliki judul lengkap 5 Centimeters per Second: a chain of short stories about their distance. tagline-nya sendiri cukup menjelaskan; film ini memang dibagi ke dalam tiga bagian cerita pendek sebagai bagian dari keseluruhan jalan cerita dari film dengan genre drama dan slice of life ini.

b5cm-03.jpg

cerita dalam film ini terdiri atas tiga buah cerita pendek — atau episode, tergantung bagaimana anda memandangnya sih. masing-masing bagian mengisahkan perjalanan Takaki Tohno dalam latar waktu yang berbeda, dengan karakter-karakter lain yang tampil dalam masing-masing periode yang bersesuaian.

bagian pertama (‘The Chosen Cherry Blossom’) mengisahkan tentang Takaki Tohno dan Akari Shinohara kecil ketika mereka pertama kali berteman sampai setelah keduanya lulus dari sekolah dasar; pada saat ini Akari mengikuti keluarganya pindah ke Tochigi, sementara Takaki tetap tinggal di Tokyo.

bagian kedua (‘Cosmonaut’) menceritakan perjalanan Takaki sebagai siswa SMA setelah pindah dari Tokyo ke Kagoshima, sementara bagian terakhir (’5 centimeters per second’) mengambil latar waktu beberapa tahun kemudian di mana Takaki dewasa kini sudah bekerja sebagai seorang programmer di Tokyo.

b5cm-00.jpg

secara sederhana, film ini mengeksplorasi tema mengenai ‘jarak’ dan ‘perasaan’ dalam sebuah hubungan. tampil dengan tidak perlu terlalu banyak dialog dan tidak sampai terlalu-manis, storytelling menjadi salah satu highlight dari film ini. kalau boleh dibilang sih, film ini mengutamakan realisme yang dieksekusi dengan baik. melodramatik? bagusnya tidak, dan film ini cukup berhasil membangun jalan cerita yang solid dan efisien.

sisi lain dari film ini adalah penceritaan yang unik, dengan cukup banyak muatan yang disajikan secara subtle. cukup banyak elemen-elemen cerita yang dibiarkan tersirat dan membutuhkan interpretasi tersendiri dari masing-masing pemirsa, khususnya pada detail-detail tertentu dari jalan cerita.

tentu saja, hal yang perlu diperhatikan dari segi storyline adalah bahwa bagian awal film ini mengambil latar waktu pada periode di mana teknologi telepon selular masih belum banyak digunakan, sementara surat masih menjadi sarana yang dominan untuk komunikasi jarak jauh. hal yang menarik adalah bahwa film ini mengeksplorasi aspek tersebut dalam penceritaannya, dan dengan demikian menjelaskan berbagai konsekuensi terhadap keadaan dan hubungan dari masing-masing karakter pada film ini.

b5cm-07.jpg

secara teknis, film ini sama sekali jauh dari buruk. desain karakter tidak benar-benar flashy, tapi toh karakter yang ada tetap tampil manusiawi dan likeable. visual tampil mendukung, dengan musik yang tampil manis terutama dengan aransemen piano yang sukses membangun suasana dengan baik di beberapa adegan.

khusus soal visual, film ini layak mendapatkan highlight tersendiri. coloring dan penggambaran latar menyumbang nilai tersendiri untuk departemen visual. satu hal yang layak diperhatikan juga adalah eksekusi komposisi warna untuk mood-dalam-adegan yang berhasil dengan baik dalam banyak adegan dari film ini.

dan bicara tentang visual atau musik, satu hal yang tidak boleh dilupakan adalah klip yang dirancang dan disajikan dengan manis sebagai konklusi dari cerita di akhir film. soundtrack yang diisi oleh Masayoshi Yamazaki dengan One More Time, One More Chance didukung dengan visual dan screenplay yang dieksekusi dengan rapi, berhasil dengan baik dalam memberikan penutup yang manis untuk film ini.

b5cm-02.jpg

film ini… adalah film yang realistis. tema yang membumi dengan storytelling yang solid menjadi nilai tambah dari film ini, didukung dengan dialog yang tampil apa-adanya dan cukup pas tanpa sampai menjadi terlalu manis.

secara umum, film ini tampil memikat. pendekatan artistik yang diekseskusi dengan baik sepanjang film ditutup dengan klip yang tampil manis di akhir cerita, memberikan pengalaman tersendiri dari sebuah film animasi dengan genre drama.

jadi… yah. highly recommended, khususnya untuk anda yang yang berencana menghabiskan waktu dengan tontonan yang menyentuh di akhir minggu.

dewasa, di dunia kerja

“yud1, I hate life as an adult. why can’t we have our ideals? where do optimism and good things we had back at school go? well… please reply when you are not busy.”

—F, a friend of mine; through text message

__

(beberapa hari yang lalu, saya menerima pesan pendek di atas dari seorang rekan -cewek, FYI- yang sudah lulus kuliah dan saat ini sudah memasuki dunia kerja. pesan pendek ini akhirnya berlanjut menjadi diskusi sedikit-panjang di suatu hari yang agak santai. dipikir-pikir, mungkin ada baiknya kalau saya sedikit berbagi soal ini… jadi, yah, anggap saja ini adalah jawaban saya untuk pertanyaan tersebut yang saya tuliskan di sini) ;)

::

dear F,

sejujurnya, saya sendiri bingung bagaimana menjawab pertanyaan ini. beneran, soalnya saya nggak merasa punya kapasitas untuk memberikan jawaban yang ‘benar’… tapi untuk kasus ini, mari kita coba saja, ya.

jadi begini. ada hal yang membedakan antara kita sebagai anak sekolah, kita sebagai mahasiswa, dan kita sebagai orang dewasa yang bertanggungjawab terhadap kepentingan orang lain; dalam kasus ini, tentu saja maksudnya kita dan apa yang kita lakukan di dunia kerja. hal yang membedakan itu adalah bahwa kita yang saat ini adalah kita yang dituntut untuk mengakomodasi kepentingan pihak lain: apakah itu atasan, atau klien, atau mungkin yang lain sesuai dengan bidang pekerjaan kita.

ah, iya. jangan pula berpikir bahwa ini hanya berlaku untuk orang kantoran; tidak ada pekerjaan yang lepas dari hal ini, entah apakah itu wirausahawan, pemilik restoran, kasir supermarket, penulis, petugas satpam, desainer… semua sama, karena pada dasarnya kita sebagai manusia hidup dengan bekerja untuk melayani kepentingan pihak lain.

dari apa yang saya pahami, ada dua hal yang saya kira menjadi concern tersendiri untuk kamu; pertama adalah ‘kenapa kita tidak bisa ideal’, dan kedua adalah ke mana perginya ‘optimisme dan hal-hal baik’ yang dulu kita pelajari di sekolah dan kuliah. walaupun kalau kamu tanya ke orang-orang dewasa kebanyakan, mungkin jawaban standarnya adalah ‘ah, kamu ini memang masih hijau!’. :mrgreen:

tapi karena saya bukan orang dewasa biasa (haha), jadi mari kita muter-muter sedikit untuk menelaah hal yang menjadi concern kamu ini. sesungguhnya membahas hal ini, kalau terkait dunia kerja, bisa menjadi sesuatu yang cukup rumit. bukan karena kita tidak bisa ideal makanya keadaan jadi salah, dan bukan pula karena banyak hal yang ‘tidak sebaik yang kita pelajari dulu’ jadi semuanya seolah tidak benar. ada hal yang sedikit rumit di sini.

pertama, hal yang perlu kita pahami adalah bahwa definisi ‘benar’ dan ‘salah’ tidak bisa benar-benar jelas di sini. tentu saja, mengecualikan apa-apa yang dapat ditemukan di peraturan tertulis (misalnya kebijakan umum perusahaan atau hukum positif pidana/perdata), tidak banyak yang bisa kita anggap ‘benar’ atau ‘salah’; yang ada hanya kepentingan-kepentingan yang kadang saling bertentangan.

dalam banyak kasus, seringkali kita harus mengambil keputusan-keputusan. yang seringkali pula, akan membuat orang lain tidak terlalu-senang dengan apa yang kita lakukan — ujungnya bisa banyak; dari hubungan profesional yang sedikit terguncang atau bahkan sampai ke hubungan interpersonal yang jadi rusak. dan dalam (terlalu) banyak kasus, keputusan-keputusan yang kita buat ini tidak ada parameter benar-atau-salahnya, mengakibatkan konsekuensi yang mungkin membingungkan.

menurut kamu, bagaimana yang ideal? karena setiap keputusan yang kita ambil, kemungkinan (besar) akan ada pihak yang tidak senang. setiap hal yang ideal, seharusnya akan membawa kebahagiaan semua orang — yang sayangnya, tidak bisa kita peroleh di dunia yang seperti ini.

oleh karena itu, ada yang namanya trade-off. atau prinsip lesser of two evils. ya, seperti yang kamu mungkin tahu, hal tersebut adalah false dilemma; dilema yang, seharusnya, tidak terjadi karena kita (seharusnya selalu bisa) berharap bahwa ada jalan lain, yang sayangnya tidak selalu ada. dan rumitnya lagi, masing-masing pilihan kita seringkali sama-sama ‘benar’, sekaligus sama-sama ‘salah’.

saya paham bahwa ini mungkin membingungkan. kenapa bisa sama-sama ‘salah’ sekaligus sama-sama ‘benar’? karena dari sudut pandang kita, mungkin itu ‘salah’ karena kurang sesuai dengan apa yang kita anggap ideal. tapi di sisi lain, itu hal yang ‘benar’, karena tindakan tersebut diperlukan (dengan berbagai kepentingan yang mengiringinya), dan tidak ada hukum atau peraturan yang dilanggar dengan keputusan tersebut.

sekarang, bagaimana kalau kamu harus mengambil satu keputusan dari dua atau tiga kemungkinan yang sama-sama seperti itu?

sejujurnya ini hal yang sulit. apalagi untuk saya, yang notabene tidak punya kapasitas untuk menjawab pertanyaan yang sungguh melibatkan banyak hal rumit ini.

::

jadi, dengan segala resiko membuat keputusan yang salah, menerima peer pressure dari pihak-pihak yang mungkin kurang senang, dan performance appraisal yang mungkin akan jadi buruk, saya tidak bisa menyarankan banyak hal untuk keadaan yang seolah bisa serba-membingungkan ini.

tapi, saya ingin menyarankan untuk selalu jujur. jujur pada diri sendiri, jujur pada orang lain, dan jujur terhadap segala konsekuensi keputusan dan tindakan kamu. kamu tidak perlu selalu bisa mengambil keputusan yang terbaik, tapi kamu harus selalu bisa mengembangkan proses untuk pengambilan keputusan yang lebih baik.

kalau kamu tahu Karl Popper, salah satu konsepnya yang saya suka adalah bahwa ia tidak menginginkan utopia atau dunia yang ideal; fokus dari pemikiran ala Popper adalah, dengan keadaan yang tidak sempurna manusia harus ‘mengeliminasi kesalahan’ alih-alih ‘mengejar keadaan ideal’.

kita sebagai manusia hidup dengan saling melayani pihak lain. semua orang yang bekerja hidup dengan hal ini, dan hal ini bukan monopoli pekerja kantoran seperti kita. kadang tidak bisa diapa-apakan lagi, dan kita terpaksa mengambil keputusan yang seolah serba-membingungkan, dan akhirnya mungkin ada distribusi ketidakbahagiaan sebagai konsekuensinya.

tapi menurut saya itu bukan masalah. kalau boleh saya mengatakan, saya tidak ingin membuat keputusan yang menyenangkan semua orang; itu mustahil. tapi kalau saya bisa mengembangkan kemampuan untuk meminimalkan distribusi ketidakbahagiaan tersebut, menurut saya itu cukup.

apakah dengan demikian semua orang akan praktis merasa nyaman dengan kita? sayangnya tidak. apakah dengan demikian orang-orang akan berusaha memahami kita? sayangnya juga tidak. apakah dengan demikian keadaan akan menjadi ideal? lagi-lagi, sayangnya juga tidak.

::

kadang-kadang, hal seperti ini memang tidak bisa diapa-apakan. ada orang-orang yang kurang senang, dan kita tidak bisa melakukan apa-apa soal itu. ada orang-orang yang mungkin akan tidak menyukai kita, dan begitulah adanya. sayangnya ini kenyataan; yang mungkin agak menyedihkan, dan sama-sama tidak kita inginkan, tapi toh terjadi dan tidak ada yang benar-benar bisa kita lakukan soal itu.

tapi, kamu tahu? kita sama-sama manusia. mereka juga manusia, sama-sama makan nasi (eh, kecuali kalau orang asing, sih), dan sama-sama punya perasaan. mungkin mereka berbuat tidak-menyenangkan, tapi saya percaya bahwa tidak ada manusia yang ingin dibenci.

ya, saya percaya bahwa tidak ada manusia yang ingin dibenci. jadi walaupun optimisme kamu mungkin babak belur, dan kamu mungkin dianggap naif atau ‘anak bawang di dunia kerja’ dan ada orang-orang yang bersikap menyebalkan, tapi tidak ada dari mereka yang ingin dibenci oleh kamu.

mungkin kamu tanya, kenapa saya yakin? ya, tentu saja! karena walaupun mereka mungkin membenci (dan siap dibenci oleh) kamu, sesungguhnya kemungkinan besar mereka hanya ‘bisa menerima dibenci oleh kamu’, bukannya ‘ingin dibenci oleh kamu’! :mrgreen:

jadi ini terkait concern kedua dari pertanyaan kamu; optimisme, hal-hal baik, dan yang lain-lain yang kita pelajari di sekolah dulu. ke mana perginya mereka? menurut saya, mereka tidak pergi kemana-mana. mereka tetap ada, walaupun mungkin kecil, dan hanya tinggal sedikit, tapi saya percaya (dan mungkin sedikit berharap, haha) bahwa sebagian besar orang yang pernah dan akan saya temui masih memiliki hal-hal tersebut.

tapi ini hal yang susah. sangat susah, bahkan saya tidak bisa mengatakan bahwa saya bisa melakukan hal ini dengan baik. tapi kalau boleh, saya ingin menyarankan untuk mencobanya sejauh yang kamu bisa saja.

karena manusia pada umumnya ingin dipahami, dan tidak ingin dibenci. mungkin kelihatannya tidak begitu, tapi saya berusaha mempercayai bahwa walaupun kecil, sedikit, dan mungkin hampir hilang, hal seperti ini ada pada diri setiap manusia.

kamu mungkin berpikir ini agak terlalu manis dan kurang-membumi, tapi sesungguhnya ini cukup jauh dari itu — ini hal yang susah, mungkin bikin makan hati, dan kamu seringkali akan membutuhkan kesabaran ekstra besar. kamu harus bisa benar-benar melihat di balik ucapan dan tindakan manusia; karena manusia tidak benar-benar bisa mengutarakan isi hatinya, dan karena jauh lebih mudah mengutarakan ketidakpuasan dan kemarahan daripada mengungkapkan perhatian dan penghargaan.

dan ya, tidak akan ada keberhasilan mutlak soal ini. setelah mencoba memahami, mungkin setelah rasa lelah dan makan hati yang memuncak, dan mungkin akhirnya kita tetap tidak bisa melakukan apa-apa; dan akan selalu ada orang-orang yang mungkin kurang bisa menghargai dan dihargai oleh kita. tambahkan pula tekanan yang mungkin cukup tinggi di dunia kerja: entah klien yang rewel, supervisor yang menyebalkan, dan mungkin juga yang lain-lain, pada akhirnya mungkin tidak banyak yang bisa kita harapkan soal ini.

sedih? mungkin kamu akan merasa begitu. tidak bisa menerima? mungkin kamu juga berpikir begitu. tapi kadang-kadang hal seperti ini sudah tidak bisa diapa-apakan lagi, dan seperti yang saya katakan di awal tadi, tidak ada hal yang benar-benar ‘benar’ atau ‘salah’ soal ini.

::

entahlah, tapi sebagai orang dewasa kita memang tidak bisa lagi menjalani kehidupan seperti anak sekolah atau mahasiswa kuliah. kita tidak selalu punya keleluasaan untuk memilih yang ‘terbaik’, dan dalam banyak kasus kita berhadapan dengan keadaan yang ‘sama-sama benar’ sekaligus ‘sama-sama salah’.

tapi menurut saya, inilah hidup; dan entah ketidakpastian, entah kebingungan, entah ketidakbiasaan — itu semua adalah bagian dari perjalanan kita untuk bisa diakui di dunia, suka atau tidak.

invisibility insecurity

belakangan ini, saya sering memperhatikan aplikasi instant messaging di komputer saya — desktop, notebook, atau apalah yang sedang terhubung ke internet. dan sebagaimana lazimnya banyak tulisan yang muncul di tempat ini, ada pertanyaan sederhana yang membuat saya kepikiran.

kenapa ya, para developer IM client ini menambahkan fasilitas invisible di messenger? bahkan kalaupun tidak ada (ala Google Talk, misalnya), orang-orang akan meminta kepada developernya untuk menambahkan!

jadi, sebenarnya inti permasalahannya adalah alasan kenapa orang ingin bisa invisible. bukan kenapa-kenapa, saya sendiri juga sangat-jarang-nyaris-tidak-pernah invisible soal online di messenger. kalau online, ya online. kalau offline, ya offline. tidak peduli rekan satu SMA, satu angkatan kuliah, atau bahkan rekan kerja dan supervisor di kantor yang namanya ada di messenger saya, pokoknya saya tidak invisible, lengkap dengan status yang jujur dan apa-adanya.

…dipikir-pikir sebentar, ternyata tidak membutuhkan waktu lama untuk menemukan jawabannya.

seseorang itu memilih untuk invisible, karena dia merasa tidak aman!

dipikir-pikir, ya memang begitu, kan? misalnya anda dan saya saling terhubung via messenger, karena suatu hal sehingga saya meng-add anda (atau sebaliknya). kalau anda merasa aman bersama saya, anda tentu tidak akan keberatan untuk memperlihatkan bahwa anda online ketika saya online, bahkan mungkin akan mengajak saya ngobrol terlebih dahulu!

tapi seandainya salah satu kontak anda adalah supervisor menyebalkan di kantor (disclaimer: bukan curhat colongan :mrgreen: ) atau cowok yang PDKT dengan menyebalkan (mengasumsikan anda cewek lho ya), apakah anda akan merasa cukup aman untuk tidak invisible?

mungkin tidak. supervisor anda mungkin akan menanyakan progress report segera setelah melihat anda online di malam hari (omaigat, semoga hal ini tidak sampai terjadi kepada kita semua), atau cowok gencar-PDKT tersebut akan menanyakan apakah anda ‘sudah makan atau belum’ (sumpah, ini contoh yang basi banget), tapi yang jelas itu menyebalkan. dan kita tidak ingin hal itu terjadi, maka kita pun invisible.

jadi, kalau dipikir-pikir mungkin sebenarnya sederhana saja: soal invisible ini ternyata terkait dengan rasa aman anda (dan saya) terhadap orang lain… atau seberapa besar self-esteem anda dalam berhadapan dengan orang lain.

lho, kok self-esteem? tentu saja, soalnya anda mungkin berhadapan dengan orang yang tidak terlalu ingin anda dekati secara personal (tapi toh ‘terpaksa’ di-add di messenger). contohnya? banyak. supervisor kerja praktek anda mungkin masuk daftar. dosen yang membawahi tugas akhir anda mungkin juga bisa dimasukkan. orang sedikit-menyebalkan di kantor yang sering berhubungan dengan anda (yang dengan tidak rela, tapi toh di-add juga) juga masuk ke kelompok ini.

maka akhirnya saya tiba pada kesimpulan bahwa sebenarnya sikap invisible itu pada akhirnya merefleksikan diri saya sendiri di mata rekan-rekan di instant messaging. kenapa begitu? sebab dengan demikian ada kemungkinan bahwa mereka merasa tidak aman dengan keberadaan saya, dan mungkin ada sesuatu yang salah dengan saya.

…tapi ini cuma ‘mungkin’, lho. bisa juga sebenarnya tidak ada yang salah dengan saya, tapi setidaknya saya baru bisa bilang begitu setelah introspeksi diri, kan?

____

[1] tidak ada curhat colongan di tulisan ini. sumpah! :mrgreen:

[2] ngomong-ngomong, saya agak bingung dengan keberadaan invisible scanner. bukankah kalau ada orang offline sebaiknya diasumsikan offline saja? :roll:

three years, and some miscellanea

as some of the readers are probably concerned, there have been no news as well as no recent updates on this website. to some extent this had even set a new record on vacant weeks without updates — as to what might have been known, the latest entry was dated back on March 27, 2009.

it is by no coincidence that shards of memories has passed a milestone on being up and running for 3 years by April 2009. and while one might find it was ironic that there has been significant lag of update around this 3rd anniversary, apparently there have been reasons that the author might have spent less time writing than ever.

yud1 shares his view on how things have been going ever since, about the lag of updates, and some miscellanea. feel free to leave questions to be answered in the comments section — representable questions, if any, would be added (and replied) in this post as further update.

 

on what you have been doing…

actually, no [there is nothing special]. although if I were to say that, it would not be honest enough anyway. (laughing)

no, seriously. as you might have known already, I graduated from university a while back, around August 2008. back then I had been able to manage at least some (sort of) regular updates, albeit with dropped posting rate. some readers even pointed out that there had been lag of updates back then, and I guess it couldn’t be helped given the situation.

and then I started working, with only week-in week-out schedule of available time to write. [while I thought] it wasn’t a problem, it emerged to be taking more than what I was prepared for. practically, with at least 9 hours taken away in weekdays and [trying to take] adequate rest at weekend, I had less time than I initially imagined. this contributed to the situation, as well as other things I had been working to sort out back then.

no, [the work I'm on] has been comfortable — at least it’s not one hell of situation I’d love to hate. so far I have never taken matters at work when I go home, and the situation has been nice enough as to what I’ve been going through.

on vacant weeks on this website…

truth is, I would have liked to write here as soon as I have the idea and the time to write. however [these] don’t always come hand in hand. there are times when I want to write yet I don’t have the time, while there are also times when I have the time but I just don’t know what to write.

[what I said] might as well be taken as sour grapes though, but I guess that’s the way it is. I’m trying to be honest here. (laughing)

on three years of writing here…

this place [where I write] is important to me. there have been moments I had been unable to work on it, like what happened lately. it’s a shame that there has been over three vacant weeks I was unable to write, but in the end there are times that we can’t have everything as we wished.

of course, [that it has been] three years is an important milestone. although given that when I look back, it seems that I have not been writing as much as I used to be in the first and second years — I can only say about quantities though, since I’m in no position to judge whether the quality of my writing has improved over these years.

on memorable entries you remember…

well… I don’t really know whether it is to be said ‘memorable’ or not, but I do remember some entries better than others. I guess it’s only fair that there are pieces I like among things I have written, but I don’t know if ‘memorable’ is an exact term.

there was an entry I wrote back on August 2008, and I guess I just wrote it the way it was — I wasn’t thinking much about anything else when I started writing. it was on August 24 that I wrote ‘only a memory, only mine‘, one week prior the graduation ceremony of my class in university.

I read it again a while back, and [my reaction was] “aw— did I *really* write this back then?”. not like it’s embarrassing to me, though I guess I have no regret [about writing the entry] on the first place.

on your plan regarding further writing…

no [I can't say anything], not yet. while I would like to write more, currently there are things to be sorted out on the first place. for now I’ve started to get things on grip, so it’s probably more to a matter of adaptation.

 

tsundere 101: are you a tsundere?

(1) in case you are non-native to this term, google `tsundere`. wikipedia and tvtropes may help as well.

(2) see and match the distinctive traits — match with AND operator unless stated otherwise. you may find somewhat striking resemblance to your traits… or not.

(3) ask moderate-level otaku friend of yours whether you might be tsundere or not. if they (a) have a moderately-hard laugh or (b) aggresively nod in agreement or (c) give somewhat an evil smirk, then you are probably one.

(4) you know, you are actually person of kind heart… but you don’t show too much of such anyway. feels familiar? add one point to your mark.

(5) you are almost certainly one if you have no problem (a) acting cool and tough, (b) being ‘brutally honest’, and (c) speaking your mind bluntly…

(6) …except when it comes to that someone being your love interest, which you have damn hard time admitting. it’s primary characteristics.

(7) anyway. if you happen to be a girl who is (a) good-looking, or (b) unusually rich, or (c) cleverly beyond-average, or (d) any compound of those mentioned, it’s supporting characteristics.

(8) and after going through (1) to (7), almost spewing a ‘wha—?!’, and you are still (frantically) denying that you are a tsundere, you are definitely one.

 

___

note:

[1] I once tried taking on this test (with some adjustments). turned out that I’m almost a tsundere. almost.

[2] despite the situation, a friend of mine (a girl, FYI) vehemently denied the statement in [1], saying I’m definitely a tsundere. duh.